Halfway To The Grave

(Sang Pemburu Vampir)


Original Story

Novel Halfway To The Grave by Jeaniene Frost

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Novel ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca~

Muahh :)


Byun Baekhyun perempuan berdarah separuh vampir separuh manusia yang pemarah dan bermasalah dengan orangtua.

Park Chanyeol si vampir kuno seksi sekaligus pembunuh bayaran yang sudah berusia ratusan tahun. Di tengah-tengah pertarungan antara perasaan dan akal sehatnya.

Sanggupkah Phoenix meluluhkan hati Bek?


.

.

BAB 12

.

.

Kami berhenti dalam perjalanan menuju ke gua. Phoenix menelepon menggunakan ponselnya, kemudian menepi ke samping jalan di dekat bagian hutan yang paling gelap dan lebat. Baru lima menit kemudian sebuah mobil berhenti di belakang kami.

"Hei, Sobat!" seru Chen.

"Cepat seperti biasanya, Kawan." sapa Phoenix pada Chen, sambil keluar dari dalam trukku. Phoenix menuju ke bagian belakang truk dan aku mendengar motornya dipindahkan. Phoenix meletakkan motornya di belakang trukku untuk menahan tubuh Yeri. Mayat itu tidak akan bergeser ke mana-mana dengan adanya penahan.

Aku tetap berada di dalam trukku, sama sekali tidak berminat mengobrol basa-basi.

"Apa yang kau bawakan untukku?" tanya Chen, melambaikan tangan dari atas bahu Phoenix.

"Makan malam untuk ghoul yang kau kenal, tapi pastikan mereka membersihkan piring mereka. Aku tidak mau ada bagian tubuhnya yang tersisa," jawab Phoenix.

Perutku bergolak. Oh Tuhan, mereka membicarakan cara melenyapkan jasad Yeri! Aku pikir mereka hanya akan menguburnya. Tidak pernah terpikir olehku bahwa mereka akan menjadikannya santapan para ghoul.

Chen sama sekali tidak merasakan kecemasan yang sama denganku. "Pasti, Sobat. Ada hal lain yang harus kuperingatkan pada mereka?"

"Iya." Phoenix menyerahkan buntelan seprai itu dan Chen memasukkannya ke bagasi mobil. "Katakan pada mereka untuk tidak memakan pelurunya."

Sudah cukup. Aku membuka pintu truk tepat pada waktunya, angin malam menerpaku dan membuatku mengeluarkan semua isi perutku.

"Apa dia baik-baik saja?" aku dengar Chen menanyakannya saat aku terbatuk dan menarik napas panjang. Phoenix mengeluarkan suara yang terdengar seperti helaan napas. "Dia akan baik-baik saja. Aku harus pergi, Kawan. Terima kasih."

"Tidak masalah, Sobat. Kapan saja."

Aku menutup pintu persis saat Phoenix masuk lagi ke dalam truk. Lampu mobil Chen menyorot ke arah kami, saat mobil itu bergerak mundur dan pergi menjauh.

Phoenix merogoh bagian dalam jaketnya dan mengarahkan botol padaku. "Wiski. Memang bukan minuman kesukaanmu, tapi hanya itu yang kupunya."

Aku mengambil botol itu dengan penuh syukur dan menenggak isinya sampai habis. Cairan hangat itu mulai mencairkan bongkahan es di tungkai kakiku.

"Sudah baikan?"

"Iya."

Suaraku terdengar serak akibat sensasi terbakar yang disebabkan oleh alkohol, tapi hal itu justru membantuku. Syokku sudah memudar, digantikan oleh serentetan pertanyaan.

"Jangan lagi ada teka-teki, Phoenix. Siapa sebenarnya Cho Kyuhyun, dan apa hubungannya dengan gadis gila dari kelas fisikaku itu?"

Phoenix menatapku sekilas saat mulai menyetir. "Fisika? Kau bertemu dengannya di kelas fisika?"

"Aku pikir sebaiknya kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu, karena akulah orang yang nyaris ditembak," tukasku.

"Bee, aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi kumohon… katakan padaku bagaimana kau bertemu dengannya dan apa yang terjadi malam ini."

Rahangku menegang. "Dia ikut kelas fisika yang sama denganku, seperti yang kubilang tadi. Dari hari pertama, dia selalu menungguku setelah selesai kuliah. Dia memulainya dengan mengajukan pertanyaan seputar kuliah, setiap kali dia tidak masuk, dan lain sebagainya, kemudian dia mulai membicarakan dirinya sendiri. Pertanyaan sepele, hal-hal lucu, seperti para pria yang pernah dikencani atau kisah lain… dia sangat ramah dan baik padaku. Kemudian dia bertanya tentang diriku, dan aku mengatakan yang sebenarnya. Bahkan fakta bahwa aku pindahan dari kampus lokal di kotaku, dan tidak kenal siapa-siapa di sini… bahwa aku berasal dari sebuah kota kecil… Wanita jalang itu sudah mengincarku!" cetusku tiba-tiba. "Dia bilang dia mencari seseorang yang bisa dilenyapkan tanpa ada yang mencari, dan dengan santainya aku masuk ke dalam perangkapnya!"

"Bagaimana dengan malam ini?" desak Phoenix.

"Oh, malam ini dia menggali latar belakangku lebih dalam lagi." Aku menjelaskan tentang ajakan yang kuterima dari Yeri dan desakannya agar aku mengenakan pakaiannya, kemudian mengakhirinya dengan, "Lalu tiba-tiba saja dia menodongkan pistolnya padaku."

"Apa ia menyebut nama?"

Aku mencoba mengingat kembali percakapan dengan Yeri. "Tidak. Dia mengatakan sesuatu tentang harus membayar uang sewa apartemen dan aku adalah mangsa favorit bosnya, kemudian dia bilang semua gadis kuliah bodoh dan dia harus merekam perkataannya sendiri agar tidak mengatakannya berulang kali… tapi tidak ada satu pun nama yang disebutkannya."

Phoenix tidak mengatakan apa pun. Aku menunggu sambil mengetuk-ngetukkan jariku. "Bagaimana semua ini bisa berkaitan dengan Kyuhyun? Kau bilang kau mencium baunya dan vampir lain di sana. Apa menurutmu dia berhasil mengetahui siapa diriku dari kejadian pada malam sebelumnya? Itu sebabnya dia ingin menyelesaikan apa yang sudah dimulainya?"

"Tidak," Phoenix menjawab dengan cepat. "Kau bilang gadis itu sudah mendekatimu sepanjang minggu. Jika Kyuhyun mengetahui siapa kau sebenarnya, percayalah padaku, dia bukan orang sabar yang akan memilih jalur pendekatan secara halus. Dia akan langsung mendatangimu dan siapa pun yang sedang sial karena berada di dekatmu. Itu sebabnya aku bertanya apa saja yang sudah kau sentuh dan membersihkan apartemen gadis itu. Meskipun aku ragu kau meninggalkan banyak sidik jari di sana, tapi aku tidak mau ada sedikit saja jejakmu yang bisa diikutinya."

"Jika bukan karena kasus akhir pekan lalu, kenapa Yeri bisa terlibat dengannya dan berusaha untuk menculikku? Semua itu sama sekali tidak masuk akal!"

Phoenix memberiku tatapan tajam. "Kita selesaikan masalah ini di dalam. Dengan begitu aku bisa memeriksa barang-barangnya saat kita bicara."

Dengan mantap aku mengikuti Phoenix ke dalam gua. Tidak mungkin aku akan membiarkan dia mengelak tanpa menjelaskan semuanya padaku. Cho Kyuhyun mungkin hanya menganggapku sebagai mangsa, tapi jelas sekali ada sesuatu di balik semua itu. Aku tidak akan pergi sebelum mengetahui apa itu.

Aku dan Phoenix memasuki pintu masuk gua yang sempit dan menuju ke bagian yang dijadikan tempat tinggal Phoenix. Phoenix mengeluarkan isi kantong sampah dan aku duduk di sofa di depannya, sambil mengamatinya terlebih dulu membuka laptop Yeri.

"Apa kau pernah mendengar tentang Segitiga Bennington?" tanya Phoenix, sambil menyalakan laptop Yeri.

Aku mengerutkan kening. "Tidak. Aku hanya pernah mendengar tentang Segitiga Bermuda."

Jari-jari Phoenix menari di atas keyboard. Wow, cekatan sekali tangan Phoenix. Setelah beberapa saat, Phoenix mendengus jengkel.

"Gadis bodoh itu bahkan tidak membuat kata kunci untuk mengamankan data di dalam laptop-nya. Sungguh arogan, tapi menjadi keuntungan buat kita. Dengar, aku menemukan namamu, Bee. Kau masuk ke daftar 'potensial'. Seharusnya kau merasa tersanjung. Kau ada di urutan pertama daftarnya."

Aku melongo di atas bahu Phoenix dan melihat "Baekie… berambut merah… dua puluh tahun" bersama dengan nama lain dan penjabaran yang serupa di bawahnya.

"Apa kau bercanda? Siapa gadis-gadis lain itu? Potensi untuk apa?"

Phoenix bekerja dengan cepat di depan laptop Yeri, kemudian bersandar sambil tersenyum. "Wah, apa yang kita dapatkan di sini? Hyunbin, dan Klub Flame di Fourty-Second Street. Kedengarannya itu seperti nama seorang penghubung. Semoga saja gadis itu cukup bodoh untuk mencatat nama dan alamat yang sebenarnya, bukan sekedar kode."

"Phoenix!"

Ketajaman suaraku membuat Phoenix mengesampingkan laptop di depannya dan bertemu pandang denganku.

"Segitiga Bennington merujuk pada sebuah area di Maine, di mana beberapa orang diketahui menghilang pada tahun lima puluhan. Sampai hari ini, tidak ada jejak mereka yang ditemukan. Beberapa tahun yang lalu, ada kejadian serupa di Meksiko. Putri dari seorang temanku menghilang. Yang tersisa darinya ditemukan beberapa bulan setelahnya di sebuah padang pasir, dan saat mengatakan yang tersisa, maksudku adalah mereka hanya menemukan potongan tubuhnya. Dia bisa diidentifikasi berdasarkan catatan giginya. Saat proses autopsi, ditemukan bahwa dia hidup selama beberapa bulan sebelum dibunuh, dan saat aku menyelidiki lebih lanjut, ternyata fakta yang kutemukan sama sekali tidak mengejutkan."

"Apa maksudmu?"

Phoenix bersandar. "Pada waktu itu, ada ratusan wanita dibunuh atau menghilang di kota-kota perbatasan Meksiko. Sampai hari ini, masih belum ada sedikit pun petunjuk siapa yang melakukannya. Kemudian, beberapa tahun yang lalu, sejumlah gadis juga menghilang di sekitar area Great Lakes. Sebagian besar dari mereka diduga kabur, menjadi pelacur, pecandu narkoba, atau sekadar gadis biasa yang menghilang tanpa ada tanda-tanda kekerasan. Karena sebagian besar dari mereka masuk kategori berisiko tinggi, tidak ada banyak pemberitaan di media. Aku pikir Cho Kyuhyun terlibat dalam semua kejadian tersebut. Itu sebabnya aku datang ke sini. Dia berada di sekitar ketiga tempat tersebut saat kejadian orang-orang yang menghilang secara misterius itu bermula."

"Kau pikir Cho Kyuhyun yang melakukan semua iti?" Jumlah korbannya yang membuatku tercengang. "Dia tidak bisa memakan sebanyak itu, sekalipun dia menginginkannya! Memangnya dia siapa, semacam… Ted Bundy yang tak bisa mati?"

"Oh, aku pikir dia merupakan pemimpin komplotan, aku sama sekali tidak ragu soal itu, tapi bukan pembunuh berantai biasa," ujar Phoenix dengan santai. "Pembunuh berantai biasanya memiliki motif yang lebih posesif. Dari potongan informasi yang aku kumpulkan selama beberapa tahun ini, aku tidak yakin dia menyimpan orang-orang itu untuk dirinya sendiri… aku pikir dia menjadikannya sebagai bisnis."

Aku hampir bertanya bisnis macam apa, tapi kemudian aku teringat apa yang dikatakan Phoenix pada Hyukjae minggu lalu. Aku tahu kau tidak pernah melewatkan wanita cantik, dasar bajingan tak berguna… Dari apa yang kudengar, kau adalah klien terbaiknya… Apa tumpukan uangmu sudah menipis, sehingga kau harus pergi keluar untuk mencari makan, dan bukannya memesan makanan untuk diantarkan kepadamu?Dan kemudian kata-kata Yeri malam ini. Hanya berusaha untuk membayar uang sewa apartemenku, dan kau, Sayang, adalah mangsa yang disukai oleh bosku… Gadis-gadis kampus, kalian semua sama saja…

"Menurutmu dia menjalani bisnis jasa penyedia mangsa," ujarku terkesiap. "Membuat orang-orang itu menjadi santapan para vampir! Ya Tuhan, Phoenix, bagaimana selama ini dia bisa lolos?"

"Cho Kyuhyun bertindak ceroboh di Maine dan Meksiko, tapi semakin lama dia semakin cerdas. Sekarang, dia memilih wanita dari lingkungan yang tidak dikenal, dan jika mereka tidak masuk dalam kategori itu, maka dia akan mengirimkan vampir untuk mencegah mereka diberitakan sebagai orang hilang. Kau ingat gadis-gadis yang diceritakan Siwon? Dia tidak salah, Luv, mereka semua memang sudah mati. Aku hanya menginginkan penegasan bahwa ada lebih banyak gadis yang hilang daripada yang dilaporkan, jadi itu sebabnya aku mengirimmu untuk mengorek keterangan dari Siwon. Hantu tahu siapa yang mati, bahkan sekalipun keluarga gadis-gadis itu sendiri tidak mengetahuinya. Aku pergi untuk menemui mereka, dan mereka semua sudah dihipnotis agar percaya bahwa putri mereka sedang pergi untuk mengejar karir sebagai artis, seperti yang mereka katakan padamu, atau pergi jalan-jalan ke Eropa, atau tinggal bersama dengan pacar mereka, atau alasan yang lain lagi. Mereka sudah diprogram agar tidak mempertanyakan ketidakhadiran putri-putri mereka. Belakangan ini, Kyuhyun menyebar anak buahnya untuk mengumpulkan lebih banyak gadis. Di sudut jalan, di bar, klub, atau di gang-gang sempit. Bagaimana dia bisa lolos begitu saja? Apa kau pernah benar-benar melihat wajah orang-orang yang diumumkan hilang di kardus susumu? Orang-orang menghilang setiap saat. Polisi? Ada cukup banyak kejahatan yang melibatkan orang kaya, terkenal dan berkuasa, sehingga mudah saja bagi mereka untuk mengesampingkan kasus menghilangnya orang-orang itu, dan mereka tidak pernah mengetahui keterlibatan Kyuhyun. Di dalam dunia manusia, Kyuhyun bisa menutupi jejaknya dengan sangat baik. Yang ada hanyalah kecurigaan, tapi tanpa bukti."

Sekarang, setelah aku tahu apa yang terjadi di Negara bagianku sendiri, apa yang dilakukan oleh Yeri mulai terasa masuk akal. Kampus yang besar dan penuh adalah all-you-can-eat; hanya saja bukan Yeri yang makan di sana. Tidak, Yeri hanyalah orang yang dibayar untuk memasok persediaan Kyuhyun. Dan aku, dengan latar belakangku, adalah hidangan yang sempurna. Itu sebabnya Yeri sudah mengincarku sejak awal. Aku bisa menghilang dengan mudah, hanya ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan, dan semua akan berjalan seperti yang direncanakan. Tapi, ada sesuatu tentang diriku yang tidak diperhitungkannya.

"Sudah berapa lama kau mencurigai hal ini? Sebelumnya kau bilang sudah mengejar Cho Kyuhyun selama delapan tahun. Selama itu kau sudah tahu apa yang dia lakukan?"

"Tidak. Baru dua tahun terakhir ini aku mendapatkan informasi spesifik. Kau tahu, pada awalnya aku tidak tahu siapa dan apa yang kukejar. Butuh berpuluh-puluh vampir sampai aku mendengar bisik-bisik tentang apa yang terjadi. Berberapa puluh vampir lain untuk mendapatkan nama siapa yang menjalankan bisnis itu. Seperti yang kubilang, Cho Kyuhyun menutupi jejaknya dengan baik. Kemudian, aku menyelidiki siapa yang terkait dengan Kyuhyun, mencari siapa saja yang kepalanya dihargai tinggi. Misalnya saja Hyukjae, yang merupakan salah satunya. Aku sudah menghabisi orang-orang Cho Kyuhyun selama bertahun-tahun, tapi hanya mereka yang kepalanya diincar oleh seseorang. Dengan begitu Cho Kyuhyun tidak tahu aku sedang mengincarnya. Dia hanya berpikir aku mengejar uang. Tapi sekarang dia tahu aku mengincarnya, dan kenapa. Begitu pula dengan semua orang yang terlibat, karena Kyuhyun tidak mungkin melakukan semua itu sendirian."

Aku mencerna informasi itu selama beberapa menit. "Jadi, sekalipun kau sudah menghabisi Cho Kyuhyun, itu bukanlah akhir dari urusan ini. Rekannya bisa memulai kembali apa yang ditinggalkannya. Kau tidak tahu siapa saja rekannya?"

"Beberapa kali aku nyaris mengetahuinya, tapi… yah… ada banyak hal yang terjadi."

"Contohnya?"

"Sebenarnya, contohnya adalah dirimu. Jika aku tidak tahu yang sebenarnya, aku berani menyimpulkan kau pasti salah satu orang Cho Kyuhyun. Kau punya kebiasaan buruk suka membunuhi orang, sebelum aku bisa mengorek informasi dari mereka. Kau ingat Lee Min Ho, vampir yang kau bunuh pada malam kita bertemu? Aku sudah melacak keberadaanya selama enam bulan. Dia adalah akuntan Cho Kyuhyun, tahu segala hal tentang Kyuhyun, tapi kau sudah menikam jantungnya dengan perak sebelum aku bisa mengorek keterangan darinya. Aku pikir Kyuhyun tahu aku sudah semakin dekat dengannya dan dia mengirimmu untuk membungkam mulut Min Ho. Kemudian, malam selanjutnya aku mengincarmu. Kau pikir kenapa aku terus bertanya untuk siapa kau bekerja? Dan malam ini…"

"Aku tidak bermaksud membunuh Yeri!" teriakku, menegaskan pada diriku sendiri bahwa aku melakukannya karena alasan yang berbeda. Informasi apa yang dibawa Yeri ke dalam kuburnya? Kita tidak akan pernah tahu.

Phoenix bangun, berbicara padaku sambil menghilang ke balik salah satu dinding alami di dalam gua.

"Percayalah padaku, Luv, aku tahu ini. Kau tidak akan membunuh manusia, kecuali jika tidak sengaja atau mereka menjadi antek-antek vampir. Sepertinya kau tidak tahu Yeri memiliki koneksi semacam itu… dan dari apa yang terlihat di lokasi kejadian, dugaanku kau bergumul dengannya sebelum pistol itu meletus. Mungkin dia yang menekan pelatuknya. Dari aroma tubuhnya, aku tahu dia juga meminum darah vampir. Itulah yang membuatnya lebih kuat secara fisik, dan tentang itu yang dibutuhkannya untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik."

Itu menjelaskan kenapa Yeri memiliki kekuatan seorang pesumo di dalam tubuhnya yang mungil dan feminin. Sejak awal aku terlalu meremehkannya.

"Kenapa kau tidak mengatakan semua ini padaku sebelumnya? Kau melatihku bertarung, tapi setelah itu kau merahasiakan pertarungan yang sesungguhnya."

Phoenix menjawabku saat masih berada di luar jangkauan pandanganku. "Aku tidak mau kau terlibat. Astaga, sejak awal aku tidak mau kau membahayakan nyawamu dengan mengejar vampir, tapi itulah yang ingin kau lakukan, jadi aku melatihmu agar kau bisa mempertahankan diri secara lebih baik. Toh, kau juga tidak akan mendengarkan aku jika aku memintamu untuk tetap tinggal di rumah, iya kan? Meskipun begitu, Kyuhyun dan para anak buahnya berbeda. Hubunganmu dengan mereka seharusnya berakhir setelah kita menghabisi Hyukjae, tapi malam ini teman kelas fisikamu telah mengacaukannya. Seharusnya kau membanggakan dirimu sendiri karena telah membunuhnya. Yang pasti korban 'potensial' lain akan merasa bersyukur karenanya, jika saja mereka tahu apa yang direncanakannya untuk mereka."

"Apa kali ini kau menyembunyikan semuanya hanya karena alasan keamanan atau ada hal lain yang tidak kuketahui?"

Terdengar suara air yang dituang. "Memang ada satu lagi alasan kenapa aku menyembunyikannya darimu. Aku tidak mau memberimu alasan lain untuk membenci vampir. Toh, selama ini kau sudah terlalu membenci kaumku. Kau cenderung menilai orang dari apa mereka, dan bukannya apa yang mereka lakukan, terlebih jika mereka tidak memiliki detak jantung."

Aku terdiam sejenak, karena aku tidak bisa melontarkan pembelaan diri dalam hal itu. Setidaknya pembelaan diri yang jujur.

"Kau harus tahu sesuatu, Phoenix. Aku berbohong padamu saat kita membuat kesepakatan. Aku berniat untuk membunuhmu pada kesempatan pertama yang bisa kudapatkan."

Aku mendengar suara gelak tawa kering. "Aku sudah tahu itu, luv."

"Tentang Kyuhyun… aku ingin membantu. Aku harusmembantu. Ya Tuhan, aku hampir menjadi salah satu gadis yang tidak terdengar lagi kabarnya! Aku tahu ini berbahaya, tapi jika kau menemukan di mana Klub Flame ini, jika kau mendapatkan petunjuk aku ingin berada di sana. Kyuhyun harus dihentikan."

Phoenix tidak menjawab.

"Aku serius," ujarku berkeras. "Ayolah, aku serigala berbulu domba yang sempurna! Coba katakan padaku, apa kau tahu ada gadis setengah vampir lain yang tinggal di sekitar sini? Kau tidak bisa menyingkirkan aku dari rencana ini!"

"Aku bisa lihat itu. Ini." Phoenix kembali dengan membawa sebaskom air dan kain lap, meletakannya di dekatku, kemudian menyerahkan salah satu kemejanya padaku. "Ada noda darah di seluruh bagian depan bajumu. Jika kau pulang dalam kondisi seperti itu, ibumu pasti akan berpikir kau terluka."

Aku menunduk melihat melihat diriku sendiri. Noda merah dari darah Yeri membentuk lingkaran besar di perutku. Aku melepaskan blusku dan langsung menggosok kulitku yang terkena percikan darah.

Baru setelah aku membersihkan noda darah terakhir, aku bisa merasakan tatapan tajam Phoenix. Saat aku mengangkat wajah, mata Phoenix yang menatapku sudah berkilat hijau.

"Hei." Aku bergeser menjauh. "Aku bukanmakan malammu. Jangan terlihat bernafsu melihat darah yang berceceran di tubuhku."

"Apa kau pikir darah ada hubungannya dengan caraku menatapmu sekarang?" suara Phoenix terdengar aneh. Kental dengan hal-hal yang tak terucapkan.

Aku berusaha untuk tidak menunjukkan reaksi, tapi jantungku berdetak semakin cepat, dan itu bukan karena takut. "Mata berubah hijau, taringmu keluar… menurutku, itu tanda yang sangat jelas."

"Benarkah?" Phoenix duduk, menggeser baskom berisi air. "Sepertinya aku lupa mengatakan padamu apa lagi yang bisa memancing reaksi itu, tapi aku akan memberimu petunjuk… itu tidak ada hubungannya dengan darah."

Oh. Aku menarik napas. "Mengingat apa yang terjadi minggu kemarin, tidak ada tubuhku yang belum kau lihat, dan aku ragu kau bisa dikuasai oleh gairah hanya karena melihatku mengenakan bra."

"Bee, lihat aku." kata Phoenix dengan suara datar.

Aku mengerjapkan mata. "Aku sedang melihatmu."

"Tidak, kau tidak melihatku." Phoenix bergeser mendekat, sekarang matanya sudah benar-benar berwarna hijau. "Kau menatapku seolah aku tidak ada di sini. Kau menatapku… tapi yang kau lihat bukanlah seorang pria. Kau melihat vampir, itu sebabnya kau tidak pernah menganggapku ada. Salah satu pengecualian terjadi pada akhir pekan kemarin. Aku memelukmu dan menciummu, aku mengamati mata-mu berkilau oleh gairah, dan untuk pertama kalinya aku tahu kau melihatku sebagai seorang pria. Bukan sekedar makhluk yang tidak punya detak jantung. Aku menantangmu untuk menatapku seperti itu lagi, sekarang, tanpa ada alasan pengaruh obat bius untuk menyangkal perasaanmu. Aku menginginkanmu." Secercah senyuman tersungging di bibir Phoenix saat membuat pernyataan itu. "Aku sudah menginginkanmu sejak kita pertama kali bertemu, dan jika kau berpikir saat kau duduk di sebelahku hanya dengan mengenakan bra tidak membuatku diliputi gairah, kau sangat keliru. Hanya saja aku tidak pernah memaksakan kehendakku, jika aku tidak menerima undangan."

Selama beberapa saat yang mencengangkan, aku tidak bisa bicara. Ada banyak sekali yang terjadi dalam satu malam, otakku mengalami kesulitan untuk menyerap semuanya. Aku menatap Phoenix dan rasanya seperti ada selubung yang jatuh dari mataku, karena tiba-tiba aku benar-benar melihatnya sebagai seorang pria. Tulang pipi yang tinggi, alis yang gelap, membingkai mata yang kini berubah menjadi seperti zamrud, mulut yang melengkung, hidung yang lurus, dan garis rahang yang persegi. Kulit yang sejernih kristal terbentang di sekujur tubuh yang ramping dan gagah. Tangan yang elegan dengan jari-jari yang panjang dan lentik. Oh Tuhan, Phoenix sangat tampan. Sungguh luar biasa tampan, dan sekarang, setelah akhirnya aku membiarkan diriku sendiri menyadarinya, aku tidak bisa berhenti menatapnya.

"Cium aku."

Kata-kata itu terlontar dari mulutku tanpa dipikirkan lagi, dan aku menyadari bahwa diam-diam aku memang ingin mengatakannya. Phoenix menunduk dan bibirnya menyapu bibirku dengan perlahan. Dengan lembut. Memberiku kesempatan untuk berubah pikiran dan mendorongnya menjauh, tapi aku tidak melakukannya. Aku melingkarkan lenganku di seputar lehernya dan menariknya mendekat.

Lidah Phoenix menyentuh lidahku selama beberapa saat, lalu dia menarik lidahnya dengan gaya menggoda. Sentuhan ringan dan lembut dilakukannya berkali-kali. Menggodaku, membujukku. Akhirnya, lidahku ikut menyusuri bibir Phoenix, merasakan gesekan jawaban, dan kemudian sensualitas yang luar biasa, saat Phoenix mengisapnya.

Aku mengerang, tanpa bisa ditahan. Gesekan taring Phoenix seharusnya membuatku takut, tapi ternyata tidak. Sepertinya, taring itu juga tidak menjadi halangan baginya, karena ia menciumku dengan gairah yang sama seperti akhir pekan lalu. Gairahku bangkit, dan aku menggerakan tanganku dari leher Phoenix untuk beralih ke bagian depan kemejanya. Aku membuka kancing kemeja itu satu per satu. Setelah terbuka sepenuhnya, tanganku menyusuri kulit dada Phoenix, dan… oh, rasanya sama luarnya bisa seperti kelihatannya. Seperti sutra yang dibentangkan di atas baja. Phoenix mengulurkan tangan ke belakang kerah kemejanya dan menariknya hingga lepas. Kemeja itu jatuh ke lantai. Sementara itu, ia tetap menciumku sampai napasku teregah-engah.

Tanganku, yang sepertinya memiliki pikiran sendiri bergeser dari dada Phoenix ke punggungnya, jari-jariku meraba setiap tonjolan ototnya. Kulit Phoenix memancarkan kekuatan, membuatku merasa seperti sedang membelai petir yang menempel di kulit. Phoenix mengerang pelan saat aku menyentuhnya, bergeser semakin dekat sampai tubuh kami menempel.

Bibir Phoenix menyusuri leherku, menemukan nadiku yang berdenyut cepat. Phoenix menghisapnya, menggoda urat nadiku dengan lidah dan bibirnya. Itu adalah posisi yang paling berbahaya dengan seorang vampir, tapi aku tidak merasa takut. Aku justru menganggap isapan Phoenix di leherku terasa luar biasa menggairahkan. Gelombang hangat menyapuku dan membuatku merasa bergetar.

Bibir Phoenix beralih ke telingaku, dan ia menjilat daun telingaku sebelum berbisik di sana.

"Aku sangat menginginkanmu. Katakan kau menginginkan aku. Katakan iya."

Menyangkal bahwa aku menginginkan Phoenix hanya akan menjadi kebohongan yang terbaca jelas. Hanya ada satu hal yang masih menahanku, kenanganku tentang Daehyun.

"Phoenix … aku tidak menyukai ini sebelumnya. Aku pikir… ada sesuatu yang salah denganku."

"Tidak ada yang salah denganmu, dan jika kau berubah pikiran atau meminta berhenti, tidak peduli kapan, aku pasti akan berhenti. Kau bisa percaya padaku, Sayang. Katakan iya. Katakan iya..."

Phoenix menggeser mulutnya dan melumat mulutku dengan rasa lapar. Lengannya menopangku, dan aku melepaskan ciuman kami hanya cukup lama untuk mengucapkan satu kata.

"Iya..."

Kata itu belum terlontar sepenuhnya saat Phoenix menciumku lagi, mengangkatku dan menggendongku ke kamar. Phoenix membaringkan aku di atas kasur. Dengan satu tarikan, ia membuka kaitan braku dan menariknya lepas.

Sengatan gairah murni muncul di pangkal pahaku. Dengan lembut Phoenix mulai beraksi. Punggungku melengkung dan aku memegangi kepalanya. Sensasinya teramat besar–isapan mulut Phoenix, gesekan giginya, sampai aku pikir aku akan pingsan.

Phoenix membuka celana jinsku, menariknya turun sampai terlepas sepenuhnya dan hanya tinggal celana dalamku yang menjadi satu-satunya penutup tubuhku. Phoenix menyusurinya dengan tangan, menekannya dengan lembut. Syarafku terlonjak. Erangan terlontar dari mulut Phoenix saat ia melepaskan celana dalamku, dan menelanjangiku untuk dipandanginya.

"Oh Bee, kau sangat cantik. Mengagumkan," desah Phoenix, lalu menciumku dengan penuh gairah hingga membuat kepalaku berputar. Tangan Phoenix bergerak ke inti diriku. Jari-jari Phoenix membelaiku dengan lihai, seolah aku sudah mengatakan padanya semua rahasiaku, dan aku menggigit bibirku untuk menahan teriakanku. Aku bergetar oleh kebutuhan yang tak tertahankan.

Suara protes serak terlontar dari bibirku saat Phoenix berhenti. Phoenix menjauhkan tangannya, mulutnya beranjak turun ke perutku. Baru setelah Phoenix melewati pusarku, aku menyadari niatnya.

"Phoenix, berhenti!" ujarku terkesiap karena syok.

Phoenix langsung berhenti, mulutnya masih berada di atas perutku. "Berhenti?" tanyanya.

Pipiku langsung merona dan aku tidak bisa mengungkapkan keberatanku. "Emm, bukan sama sekali berhenti, hanya saja… emm, aku tidak yakin itu perlu…"

Sesuatu yang terdengar seperti dengusan meluncur dari mulut Phoenix. "Aku yakinini perlu," gumam Phoenix dan kembali menurunkan mulutnya.

Pada awalnya, sentuhan lidah Phoenix membuat pikiranku kosong. Jilatan panjang dan pelan menggodaku, membuat seluruh kulitku hidup. Belaian basah lagi, diikuti dengan belaian basah selanjutnya, kali ini dengan lebih dalam, dan kesopananku langsung lenyap tak bersisa tersapu oleh gelombang panas. Phoenix membuka kakiku lebih lebar, mengangkatnya sampai kedua kakiku bertengger di bahunya, sementara itu ia terus menggoda dan membelai kulitku yang paling sensitif.

Aku tidak lagi mengatakan pada Phoenix untuk berhenti, karena aku tidak bisa bicara. Erangan yang tidak kukenali terlontar dari bibirku, dengan gelombang gairah yang semakin besar dan kuat bergulung di dalam diriku. Aku menggeliat di bawah Phoenix, merasakannya mengeksplorasi setiap kulit sensitifku dengan keintiman yang mengejutkan. Pinggulku terangkat tanpa bisa dicegah, dan kekosongan di dalam diriku terbuka dengan setiap belaian lidah Phoenix. Aku didorong hingga ke jurang kenikmatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, dan dengan cepat aku semakin mendekati tepinya. Phoenix meningkatkan tekanan tangannya, mempercepat gerakannya, dan ketika akhirnya mulutnya beranjak ke bagian yang paling sensitif, aku berteriak.

Gelombang kenikmatan meledak di dalam diriku, menjalar ke sekujur tubuhku dengan kecepatan kilat. Jantungku, yang aku pikir sudah meledak, mulai berdetak sedikit lambat dan napasku sudah mulai kembali normal. Api yang tadi berkobar di dalam diriku sudah digantikan dengan sesuatu yang hangat dan menyebar ke seluruh tubuhku, menyebabkan mataku terbuka dengan takjub.

Phoenix beranjak naik ke perutku, membingkai wajahku dengan kedua tangannya. "Kau tidak pernah terlihat lebih cantik lagi," ujar Phoenix, suaranya bergetar oleh gairah.

Tubuhku masih bergetar setelah klimaks yang dahsyat, tapi inilah bagian yang paling aku takuti. Aku menegang saat Phoenix bergerak ke antara kakiku.

"Jangan takut," bisik Phoenix, lalu ia menciumku.

Selama sepersekian detik, aku merasa malu mengingat apa yang baru saja dilakukan oleh Phoenix. Kemudian, saat aku merasakan sesuatu yang asin di mulutnya, dengan cepat gairahku bangkit kembali. Lidah Phoenix membelai lidahku, saat bagian tubuhnya yang mengeras menyentuh selubungku yang basah. Aku bergetar. Phoenix menyesuaikan gerakan lidahnya dengan tubuhnya saat membelaiku dan membawa kembali rasa mendamba yang sebelumnya kurasakan, tapi kali ini dengan kekuatan yang berlipat ganda.

"Kau yang bilang kapan waktunya," gumam Phoenix beberapa lama kemudian. "Atau tidak sama sekali. Kita tidak harus melanjutkannya. Aku akan menghabiskan sepanjang malam dengan merasakanmu, Bee, aku menyukainya. Biarkan aku menunjukkan padamu seberapa besar aku menyukainya."

Dengan sengaja Phoenix menggeser mulutnya ke bawah, tapi aku menahannya agar tetap berada di tempatnya.

"Katakan padaku," desah Phoenix, saat goyangan pinggulnya membuatku berteriak.

Jantungku berdetak keras, tapi hanya ada satu jawaban.

"Sekarang."

Phoenix memberiku ciuman yang membuat kepalaku berputar, kemudian ia mengangkat tubuhnya dan menopangnya dengan lengan. Merasakan Phoenix yang memasukiku membuatku terkesiap. Tubuhku bergetar hebat saat Phoenix menghujam perlahan, dan aku menguburkan wajahku di lehernya. Phoenix bergerak semakin dalam, dan sensasi dengan kekuatan dahsyat menyebar ke sekujur tubuhku. Phoenix berhenti setelah masuk sepenuhnya ke selubung hangatku, ia memejamkan matanya sebentar sebelum menunduk untuk menatapku.

"Kau baik-baik saja, Luv?"

Itu adalah keintiman dengan cara yang tidak pernah kualami, menatap ke dalam mata satu sama lain, saat Phoenix berada di dalam diriku. Aku hanya bisa mengangguk, karena aku sudah tidak sanggup bicara.

Phoenix bergerak di dalam diriku, menarik diri sedikit, kemudian menghujam lagi. Kenikmatan yang tak terduga membuat napasku tertahan. Phoenix mengulang gerakan itu, tapi kali ini dengan lebih dalam. Sebelum aku bisa mengendalikan napasku, Phoenix kembali menarik diri nyaris sepenuhnya dan menghujam masuk kembali sambil mengangkat pinggulnya, yang memancing desahan nikmat dari tenggorokanku. Keringat mengucur di sekujur tubuhku, dan gairah yang sangat kuat dan liar menyebar dengan cepat.

Phoenix mengulurkan tangan ke bawah dan menempelkan telapak tangannya di punggungku, bergerak turun sampai tangan itu menangkup pinggulku. Phoenix menarikku mendekat, menggesekkan tubuhku ke tubuhnya untuk menyesuaikan dengan gerakannya. Dengan cepat aku bisa mengikuti irama gerakannya, dan kontak itu membuat kepalaku berputar dengan antusiasme besar. Cengkeraman di dalam diriku yang tadi kurasakan kini kembali lagi, terasa semakin kuat dengan setiap gerakan Phoenix, sampai tubuhku terbakar oleh satu pikiran.

"Lagi…"

Ini bukanlah erangan menuntut yang menurut pikiran rasionalku tidak mungkin kuucapkan. Phoenix tergelak serak, hampir seperti geraman, dan ia bergerak semakin cepat.

Tanganku, yang sebelumnya tidak pernah bergerak lebih rendah dari pinggul Phoenix, kini bergerak dengan liar untuk mencengkeram bokongnya. Jari-jariku mencakar bokong Phoenix yang kencang tanpa sedikit pun memdulikan kesopanan. Sepertinya aku tidak pernah merasa puas menyentuh Phoenix atau berada semakin dekat dengannya. Setiap hujaman Phoenix membuatnya semakin kuat, dan aku jauh lebih mendambakan kekuatan tubuhnya yang memasuki diriku daripada apa pun dalam hidupku. Aku mencium Phoenix dengan penuh gairah, menekankan bibir bawahku ke taringnya, dan mendengarnya mengerang saat ia mengisap darah yang menetes.

"Sangat tajam dan manis," gumam Phoenix dengan suara parau.

"Kau tidak boleh lagi… melakukan itu." Kata-kataku terputus karena napasku yang terengah-engah.

Phoenix menjilat bibirnya, merasakan setiap tetes darahku. "Sudah cukup. Sekarang, aku juga berada di dalam diriku." Dan Phoenix memeluk semakin erat, jika memang masih mungkin.

Aku terkesiap tanpa bisa dikendalikan, saat gerakan Phoenix semakin kuat. Keraguan-keraguan yang sebelumnya kurasakan sudah terlupakan, aku terhempas ke bawah Phoenix, kuku jariku mencakar sepanjang punggungnya. Gigiku tertancap di bahunya, untuk meredam teriakan nikmatku, dan aku menggigitnya sampai aku bisa merasakan darahnya.

Phoenix menarik kepalaku ke belakang, lidahnya menjelajahi mulutku. "Lebih kuat?"

"Ya," erangku, sekarang tidak peduli seperti apa aku terdengar.

Phoenix melepaskan kendali yang sebelumnya ditahan. Ia menghujam ke dalam diriku dengan kekuatan yang dahsyat, membangkitkan kenikmatan paling luar biasa yang pernah kurasakan. Teriakan yang sejak tadi kutahan terlontar menjadi jeritan nikmat, yang membuat Phoenix semakin bersemangat. Saat aku tidak bisa menahan yang lebih kuat lagi, Phoenix bergerak semakin cepat, menghujam dengan kekuatan yang tak terbayangkan.

Entah mengapa, hal itu mengingatkanku pada efek obat bius. Sepertinya segalanya berputar dan kehilangan bentuk, kecuali Phoenix. Dengungan kembali terdengar di telingaku, tapi suara itu berasal dari detak jantungku yang terlalu cepat. Ketegangan di tubuhku semakin tak tertahankan. Semua ototku saling terkait, mencengkeram dan melepas dengan sangat kuat, menunggu sampai tercipta ledakan yang dahsyat.

Seketika itu aku merasa terlepas dari tubuhku. Makhluk yang sedang menggelinjang dan terengah-engah di atas tempat tidur itu tidak mungkin diriku. Sebelumnya aku tidak pernah merasa begitu sensitive terhadap kulitku, setiap tarikan napasku, dan darah yang mengalir di nadiku. Sebelum daya tahan tubuhku yang terakhir terlepas, Phoenix memegangi kepalaku dan menatap mataku. Teriakan nikmat terlontar mulutku, saat bendungan itu pecah dan gelombang kenikmatan yang dahsyat menyapuku. Rasanya lebih kuat daripada yang pertama, dan lebih dalam, hingga meninggalkan gelitik berdenyut di bawah kulitku.

Di atasku, Phoenix mengerang, wajahnya dipenuhi kenikmatan saat ia menghujam semakin cepat, dengan mata terkunci dengan mataku. Aku tidak bisa mengalihkan mataku, saat melihat kendali Phoenix menguap dalam mata yang hijau itu. Phoenix memelukku saat ia menyerah pada gairah yang sudah tak tertahankan lagi, menciumku dengan lembut dan bergetar selama beberapa saat.

Saat aku melepaskan ciuman kami untuk bernapas, Phoenix bergeser sampai kami berbaring bersisian. Lengannya melingkari tubuhku, menjaga tubuh kami agar terus bersentuhan. Sepertinya tidak ada cukup oksigen di dalam paru-paruku, bahkan Phoenix bernapas satu atau dua kali–sungguh sebuah rekor, dari yang pernah kulihat sebelumnya. Dengan sekuat tenaga aku mengendalikan napasku, dan jantungku berdetak dengan kecepatan yang sudah tidak lagi membahayakan. Phoenix mengulurkan tangan dan membelai rambut basah dari wajahku, ia tersenyum dan sebelum mencium keningku.

"Dan kau benar-benar berpikir ada sesuatu yang salah dengan dirimu."

"Memang ada sesuatu yang salah dengan diriku, aku tidak bisa bergerak."

Itu memang benar. Saat berbaring di samping Phoenix, lengan dan kakiku tidak mau merespons perintah yang kuberikan. Tampaknya, di otakku tergantung papan bertuliskan: KEMBALI LIMA MENIT LAGI.

Phoenix menyeringai.

Sesuatu menarik perhatianku saat aku menunduk.

"Apa aku mengalami pendarahan?" tanyaku dengan terkejut.

Itu tidak terlihat seperti darah, dan jadwal haidku masih seminggu lagi. Meskipun begitu, ada cairan berwarna pink di bagian dalam pahaku.

"Tidak, Luv. Itu berasal dari diriku."

"Apa itu…? Oh." Pertanyaan bodoh. Sebelumnya Phoenix pernah mengatakan padaku bahwa air mata vampir berwarna pink. Aku rasa cairan lain juga ikut berwarna pink.

"Biarkan aku bangun, aku akan membersihkan diri."

"Aku tidak keberatan." Phoenix mendesahkan kata-kata itu dikulitku. "Toh, itu dariku. Aku akan membersihkannya untukmu."

"Memangnya kau tidak akan berguling menjauh dan tidur?" Bukankah biasanya itu yang terjadi? Kecuali jika Phoenix benar-benarsuka bergelung setelah bercinta, dan niat Phoenix semakin terbaca jelas saat tangannya bergerak turun ke pangkal pahaku.

Phoenix menghentikan gerakannya untuk tertawa.

"Bee"–Phoenix tersenyum–"aku tidak sedikit pun mengantuk." Tatapan mata Phoenix mengirimkan getaran nikmat ke sekujur tubuhku. "Kau sama sekali tidak tahu seberapa sering aku membayangkanmu seperti ini. Selama latihan kita, pertarungan kita, dan malam-malam saat aku melihatmu mengenakan pakaian seksi dan diraba oleh pria lain…" Phoenix berhenti bicara untuk menciumku dengan sangat dalam, sehingga membuatku nyaris lupa dengan apa yang sedang kami bicarakan. "Dan selama itu kau selalu melihatku dengan rasa takut setiap kali aku menyentuhmu. Tidak, aku tidak mengantuk. Aku tidak akan tidur sampai aku merasakan setiap senti kulitmu dan membuatmu berteriak nikmat berulang kali."

Sekali lagi Phoenix menunduk dan beraksi kembali.

"Suatu hari nanti aku akan menemukan bajingan tengikmu dan membunuhnya," gumam Phoenix, sangat pelan sehingga aku hampir tidak mendengarnya.

"Apa?" Apakah Phoenix baru saja mengatakannya?

Isapan kuat mulut Phoenix mengalihkan perhatianku, kemudian isapan lagi dan lagi, sampai kekhawatiranku melumer oleh serangan sensual Phoenix pada tubuhku. Setelah beberapa saat, Phoenix memandangiku dan tersenyum puas.

"Persis seperti yang pernah aku janjikan padamu. Lihat, kan? Aku ini pria yang selalu menepati janji."

Selama sejenak kebingungan menyelimuti pikiranku. Kemudian aku teringat sore itu, ketika Phoenix berusaha mengenyahkan rasa maluku dengan melontarkan perkataan mesum selama berjam-jam, dan tiba-tiba saja wajahku menjadi merah padam.

"Kau tidak benar-benar serius dengan semua yang kau katakan itu, kan?" Pikiranku menolak ide itu, tapi tubuhku berdenyut semakin cepat, yang menyatakan harapan yang bertolak belakang.

Phoenix tertawa lagi, dengan suara pelan dan serak. Alisnya terangkat dengan gaya yang menyatakan janji mesum, matanya berubah hijau lagi, dan mulutnya bergeser semakin turun melewati perutku.

"Oh, Bee, aku bersungguh-sungguh dengan setiap kata yang kuucapkan."

.

.

.

Aku terbangun karena merasakan ada sesuatu yang menggelitik punggungku. Rasanya seperti kepakan kupu-kupu. Saat membuka mata, hal pertama yang kuingat adalah sebuah lengan yang melingkari tubuhku, warna kulitnya yang pucat hampir sama dengan kulitku. Phoenix bergelung di sepanjang punggungku, pinggulnya menempel dengan pinggulku. Phoenix-lah kupu-kupu yang mencium kulitku.

Pikiran pertamaku adalah, Phoenix memilih profesi yang salah. Seharusnya dia tetap menjadi gigolo. Dia bisa menghasilkan uang jutaan dolar.Pikiran yang kedua sama sekali tidak menyenangkan, dan membuat tubuhku kaku. Jika ibuku bisa melihatku sekarang, dia pasti akan membunuhku.

"Penyesalan setelah bercinta?" Phoenix berhenti menciumiku dengan dengusan kecewa. "Aku takut saat bangun kau akan bereaksi persis seperti ini."

Semetara Phoenix bicara, aku melompat bangun dari tempat tidur seperti peluru meriam yang ditembakkan. Aku harus memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya, dan aku tidak bisa melakukannya saat masih berada di satu ruangan yang sama dengan Phoenix. Aku bahkan tidak berhenti untuk mencari bra dan celana dalamku, aku hanya memakai kemeja dan menarik jinsku. Oh Tuhan, kunciku, di mana aku meletakkan kunciku?

Phoenix duduk. "Kau tidak bisa pergi begitu saja dan berpura-pura semua ini tidak pernah terjadi."

"Jangan sekarang," ujarku dengan putus asa, berusaha untuk tidak melihat ke arahnya. Aha, kunciku! Setelah mengambil dan mencengkeramnya dengan kuat, aku berlari keluar kamar.

"Bee..."

Aku tidak berhenti.

tbc...


makasih buat follow, favoritenya, dan reviewnya.

KimAnn23/zenbaek/ennoo96/parkbyundie/Dini695/realvina/GENDUT/keenz/SusuPisang/khspark/baeqtpie/ChanBMine/abcbcbcd/pepepe/rly/Byun/choi96/gisaniya/ChanNhye/phantom.d'esprit/katsumi99/rizypau16/Delightfull61/Namenifbaek/ByunJaehyunee/nifbaek/Park Beichan/yousee/chankyoung/Latifanh/Ahn naemi/keysha/Nanik755/Ricon65