Wah~ Lamanya saya gak update… Lagi writer's block...
Arisin dan Kelas VI B
Valentine
"Uhuk… Uhuk…" Banjarmasin memberikan Surabaya sapu tangan. " Enak?" Banjarmasin mengangkat alisnya bingung dengan pertanyaan Medan. " Gak ada gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir pun jarang…" Surabaya tersenyum lemah.
" Tapi mengurus semua sungai itu, flyover baru, dan mengurus pembagian wilayah… Aku bahkan harus mempertahankan tanah Tara!" Banjarmasin memijat-mijat jidatnya. " Tapi, iya… Aku jarang bencana. Terima kasih kepada suku Adat yang tidak serakah."
" Kau mengatakan banyak orang di tempat kami serakah?" Medan dan Surabaya bertanya kesal. " Ngak!" Banjarmasin langsung teriak ketakutan dengan aura yang dikeluarkan oeh keduanya.
" Kemana yang lainnya?" Semarang bertanya-tanya dengan ketidak hadiran para personifikasi perempuan.
" Iya, Kak Tiana tadi langsung menarik Kak Araya, Arinda dan Tara dengannya tadi…" Banjarmasin berkata, kebingungan dengan sikap mereka.
" Bandung juga tadi gak terima di antar pakai mobilku…" Jakarta ikutan pembicaraan mereka.
" Mungkin takut di serang kamu!" canda Ambon sambil nyengir, diikuti dengan tawaan yang lainnya dan Jakarta yang menyangkal setiap perkataan mereka.
' Mereka dangkal sekali… Mungkin karena terlalu banyak benda harus diurus…' Indo yang tampak waspada berkata di hati.
" Oh iya! Ada orang ingin ketemu kakak." Semarang mendekati kakaknya.
" Siapa?"
" Kerajaan Sriwijaya." Para state-tan laki-laki Indonesia langsung tegang mendengar nama kerajaan kuat yang paling lama masa hidupnya daripada kerajaan lainnya.
" Oh… Ikutan peringatan PETA?" Surabay bertanya.
" Orang yang lagi sakit gak usah ikutan masalah orang dewasa! Makinnya yang kakek-kakek." Indo tidak menjawab.
" Baiklah…?"
" Dimana?" Indo berdiri, Semarang mundur sedikit membiarkan si personifikasi laki-laki Indonesia lewat.
" Di kantor."
Setelah Indo pergi, semuanya lega pertemuan anak dan ayah itu tidak akan di tempat mereka berkumpul. Yogyakarta masuk kebingungan dengan sikap mereka " Apa yang aku lewatkan…?"
" Uwah! Kakak bikin banyak amat!" Pontianak dan Bali melihat hasil karya coklat Nesia dengan nafsu untuk memakannya habis.
" Tara, bisa tidak?" Samarinda mengurus adiknya yang penuh dengan cipratan coklat.
" B-bisa…"
"Ehehehe! Siapa yang mau makan coklat buatanku kalau mirip dengan ikan!" Makassar dengan senyuman jahil menunjukkan coklat buatannya yang mirip ikan.
" Siapa mau makan itu?" Palangkaraya merasa mual melihatnya.
" Aku buat coklat mirip organ ikan di dalamnya loh!" Palangkaraya mundur sedikit demi sedikit, takut dengan karya si pengurus Taman Laut Bunaken.
Bandung mencicip satu coklat kakaknya dan langsung berlari keluar untuk air, yang lainnya menatap Nesia yang sedang tersenyum polos " Itu untuk Padang dan Palembang."
" Kak, seberapa pun mereka suka pedas, mereka tidak akan suka coklat yang pedas." Akhirnya Nesia terpaksa mengulang kedua coklat itu.
" Pontianak!" si state-tan yang dipanggil tidak menghiraukan " Pontianak yang personifikasi bukan hantu!" Pontianak mengalihkan perhatiannya pada orang yang memanggilnya.
" Kamu 'kan yang habisin gulanya!" Kendari menunjukkan stoples yang asalnya berisi gula.
" 'Kan masih ada si Bandung yang bikin untuk Jakarta~ Yah, setengahnya memang aku~" Pontianak mengaku.
" Arisin coklatnya perlu banyak gula, bahkan Jakarta…" mereka berpikir lagi, kedua state-tan itu memang paling anti-pedas, manis pokoknya! [1]
" Mereka rentan diabetes…" Bengkulu sweat-drop dan yang lainnya harus mengangguk, karena itu memang kenyataanya.
" Tapi, kita personifikasi~"
" Betul juga…"
" Jadi?"
" Iya, kalau untuk yang luar negeri sudah dibuatnya…" Indo menunjukkan kotak-kotak yang diam-diam diambilnya dari kotak pos(Gimana muat!?O.o)
" Ini Nether, ini England, ini Japan, ini Spain, ini Portugal…" Sriwijaya dengan mata serius menginspeksi kotak-kotak yang diberikan Indo.
" Antar yang satu ini dengan kotak kosong dan surat GaJe!" Sriwijaya menunjuk pada kotak Netherlands.
" Oke! Ini untuk Ivan!" Indo mengangkat sebuah kotak yang lumayan besar. " Kelihatannya besar kotak tergantung dengan hubungan diplomatik negara…"
" Dan Ivan personifikasi Rusia ini membuat Majap… maksudku kalian ditakuti… Baiklah boleh!" Sriwijaya mengacungkan jempol dan Indo mengangguk.
" Indo! Ini! Ini! Ini! Ini! Dan seterusnya…"
" Kak~ Ada kiriman dari Nesia~" Belgium memberikan kakaknya kotak yang berpita dan diterima oleh si personifikasi Belanda.
Betapa geramnya ia saat membukanya dan ternyata kosong dan hanya ada surat. Netherlands membuka surat itu, hampir merobeknya.
Netherlands,
Ini Indo. Kalau bertanya tentang coklatmu, aku makan setengah walau diperintah habiskan semua. Tapi aku simpati dengan kamu~
Setiap tahun pasti seperti ini~ Hahahaha! Jera mencoba untuk mendapatkan kembali adikku? Sebaiknya iya! Sekarang kami bertambah lagi satu state-tan! Memang menyusahkan tapi pasti keamanan kami lebih mantap! Setelah Noto Nogoro lengkap, kami akan menjatuhkan kamu! *insert maniac laugh here*
Indo dan Sriwijaya
" Sriwijaya… Bentar… SRIWIJAYA AYAH MEREKA YANG KUAT ITU!?" Netherlands berteriak,Belgium langsung berlari ke arah kakaknya bersama Luxemburg, dan ketawa setelah membaca surat dari Indo sedangkan Luxemburg hanya bisa menghelakan napas lega karena mengira kakaknya diserang atau sejenisnya.
" Eh? Ada lagi~"
Netherlands,
Kamu yang menjajah anakku sampai 350 tahun ya? Kalau saja aku masih hidup, anakku tidak akan babak belur dibuat oleh para penjajah, justru kalian yang lari dari armadaku yang kuat bukan main. Maj… Maksudku Nesia memang perempuan polos seperti kakek Kutai! Mudah sekali terpengaruh! Padahal sudah kuberitahu bahwa Bang Ryuk… Maksudku Bang Japan itu orangnya licik! Dan orang-orang di luar sana itu berbahaya dan perlu dia harus memperluaskan wilayahnya sampai menguasai seluruh dunia!
Sriwijaya
Ketiga bersaudara it sweatdrop dengan surat tersebut. Yang paling mengganggu adalah kalimat terakhir…
" Buah jatuh tak jauh dari pohonnya…" Nesia dengan mata yang disipitkan, hanya berdiam diri sementara ayahnya dan Indo ketawa seperti orang sakit jiwa yang sedang sakit jiwa.
" Kak Melati, bukankah Sriwijaya sudah mati?" Jakarta berbisik ke telinga Nesia, tiba-tiba Sriwijaya menoleh dan berteriak " SIAPA YANG SUDAH MATI!?"
" Ayah. Kerajaan ayah sudah lama hancur, ngapain gentayangan?" Nesia dengan nada datar berkata, sedangkan Sriwijaya hanya jalan santai.
" Untuk melihat anakku yang imut! Cantik! Pintar! Polos ini!" dengan pelukan maut yang tiba-tiba para state-tan langsung panik.
" Ayah…" dengan nada berbisa ia menyambung " Pergi sekarang sebelum aku panggil setiap penunggu tanah Indonesia…"
" Iiih! Takut! Udah deh sampai sini aja lawatanku! Tahun depan lagi ya!" seru Sriwijaya yyang sedikit demi sedikit menghilang.
" Samarinda, kau penerus Kutai, jangan berubah menjadi dia…" Samarinda menunjuk dirinya sendiri dengan muka polos tidak paham situasi.
" Oke! Waktunya bagi coklat!"
~OMAKE~
" Kak Tiana… Kak Araya… Arinda… Tara…" mukanya semakin pucat. " Aku berterima kasih atas coklat-coklat ini… Aku memang anti-pedas tapi… GAK SEMANIS INI KALI COKLATNYA!" teriakan Arisin membahana di seluruh mansion miliknya, yang di telepon hanya ketawa terbahak-bahak mendengar teriakan Arisin.
" Bisa mabuk gula ni besok~" Arinda ketawa paling keras.
[1] Adik saya yang memiliki lidah Banjar, sama sekali tidak tahan pedas! Sedikit pun! Kalau Jakarta, tehnya itu manis-manis 'kan?
