Remake dari AliaZalea "Dirty Little Secret".

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Jika ada kesamaan cerita di FF lain dengan pairing berbeda adalah hal yang wajar karena ini adalah sebuah 'remake' :)

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Age of the cast:

-Park Jimin (m) : 30 tahun

-Min Yoongi (m) : 27 tahun

-Kim Seokjin (m), Kim Namjoon (m) : 34 tahun

-Min Taehyung (m), Min Jungkook (m) : 7 tahun.

-Kim Hoseok (m) : 4 tahun.

Rate M!

Romance, Drama, Family

Yaoi, boyXboy, !MPreg!

!Warn! Bahasa non baku, typo, beberapa dialog inggris.

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 12

Cause I've relied on my illusions

To keep me warm at night

But I denied in my capacity to love

I am willing, to give up this fight

Kepala Yoongi berkecambuk dengan segala sumpah serapah kepada dirinya sendiri, yang selama seminggu ini sudah merasa bersalah terhadap Jimin. Dia sudah bertekad memperbaiki kesalahannya yang telah menyembunyikan Taehyung dan Jungkook dari Jimin dengan memberikan Jimin kesempatan untuk betul-betul mengenal anak-anaknya kalau dia mau. Membayangkan ekspresi Taehyung dan Jungkook ketika mereka tahu bahwa mereka memiliki seorang ayah yang mau bertemu dengan mereka sempat membuatnya terharu.

Meskipun dia merasa sedikit takut bahwa dia tidak lagi jadi orang nomor satu yang paling disayangi oleh anak-anaknya dengan kehadiran Jimin, tapi dia rela melakukannya dengan harapan anak-anaknya akan menjadi seperti anak-anak lain yang memiliki ibu dan ayah. Dia bahkan sudah mempertimbangkan untuk suatu hari menjalin rumah tangga dengan Jimin kalau pilihan ini dipersembahkan padanya. Tapi apa yang dia dapatkan? Laki-laki itu bahkan nggak tinggal di benua yang sama dengan mereka.

Dengan keterangan pekerjaannya, Yoongi tahu Jimin sudah cukup mapan di Chicago, bahkan ada kemungkinan dia sudah punya green card, atau lebih parah lagi kewarganegaraan Amerika. Itu berarti dia di Seoul hanya untuk liburan, yang mengindikasikan bahwa cepat atau lambat dia akan harus kembali ke Amerika. Lalu apa yang akan terjadi dengan anak-anaknya setelah Jimin pergi?

Dia tidak meragukan kemampuan Jimin untuk membuat anak-anaknya menyayanginya kalau diberikan kesempatan. Sumpah, Jimin adalah tipe orang dengan aura dan personality yang mudah disukai siapa saja. Tapi seingatnya, Jimin nggak pernah punya teman baik. Dia lebih senang loncat dari satu teman ke teman yang lain. Sesuatu yang sepertinya tidak pernah dipermasalahkan oleh orang-orang yang mengira diri mereka tanpa Jimin, karena Yoongi tidak pernah bertemu orang yang tidak akan tersenyum lebar kalau bertemu dengannya. Nggak peduli mereka laki-laki atau perempuan.

Tapi anak-anaknya bukanlah teman-teman sementara Jimin yang bisa ditinggalkan begitu saja kalau dia sudah menemukan teman baru. Mereka nggak akan bisa mengerti kenapa seorang laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai ayah mereka tiba-tiba menghilang begitu saja. Kunjungan setiap beberapa bulan atau kapan saja Jimin ada waktu tidak akan cukup bagi mereka.

Anak-anaknya berhak memiliki ayah full-time yang bisa mereka telepon kalau mereka memerlukannya dan dia akan datang dalam hitungan menit, bukannya dua puluh jam. Mereka berhak memiliki ayah yang menghabiskan setiap hari Sabtu-nya mengajari mereka berenang, dan setiap malamnya menyelimuti mereka. Dan kalau Jimin tidak bisa memberikan ini semua, lebih baik nggak usah sama sekali.

Yoongi tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di depan gerbang sekolah anak-anak, tapi tanpa dia sadari dia sudah mendorong persneling dari 'D' ke 'P', dan menunggu hingga Taehyung dan Jungkook muncul. Merasa terlalu resah untuk duduk, Yoongi turun dari mobil dan ketika matanya terkunci pada Taehyung dan Jungkook, dia langsung berlari menyambut dan memeluk mereka seerateratnya.

"Eomma, Taetae nggak bisa napas," protes Taehyung dengan suara agak terendam.

Yoongi tertawa dan melonggarkan pelukannya, tapi dia menolak melepaskan mereka. Yang dia inginkan adalah satu menit saja lagi dengan anak-anaknya, di mana nggak ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, lalu lintas padat yang harus dia lalui untuk mengantar mereka ke rumah Mama, dan monster besar dan menakutkan bernama Jimin. Beberapa menit kemudian Yoongi melepaskan pelukannya. Dia menatap anak-anaknya dalam-dalam dan berkata,

"Eomma sayaaa…ng sekali sama kalian."

"Kookie juga sayang sama Eomma," balas Jungkook.

"Taetae yang paling sayang sama Eomma," timpal Taehyung nggak mau kalah, yang menerima pelototan dari Jungkook, membuat Yoongi tertawa terbahak-bahak.

.

.

.

Ketika Yoongi sampai di rumah Mama, beliau sedang berdiri di halaman depan, mengenakan blus dan celana panjang putih katun dan topi lebar, sibuk menyirami tanamannya. Yoongi baru saja turun dari mobil dan melambaikan tangannya kepada Mama sambil meneriakkan,

"Hai, Eomma," ketika sadar bahwa perhatian Mama tidak tertuju padanya.

Dia belum sempat menoleh untuk mencari tahu apa yang menarik perhatian Mama ketika mendengar seseorang berteriak,

"Hei, kita belum selesai bicara!"

Terkejut, dia segera menoleh dan menemukan Jimin sedang bergegas ke arahnya dengan wajah merah padam. Untuk beberapa detik dia hanya bisa menganga. Otaknya tidak bisa memproses apa yang sedang dilihatnya. Samar-samar dia mendengar pintu mobil dibuka dan ditutup, diikuti suara Taehyung dan Jungkook sedang membicarakan sesuatu, meskipun dia tidak tahu tentang apa. Kalau bukan karena Taehyung yang mengatakan,

"Halo, Jimin ahjussi," dia mungkin menyangka bahwa dia sedang berkhayal.

Beberapa pertanyaan yang berkelebatan di dalam kepalanya adalah:

Bagaimana Jimin bisa ada di sini? Bagaimana dia bisa tahu alamat rumah orangtuanya? Apa dia mengikuti dari restoran tadi?

Tapi saking kagetnya, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya untuk mengemukakan semua pertanyaan ini. Jimin yang kelihatan terkejut oleh sapaan Taehyung berhenti melangkah dan menatap Taehyung dengan sesuatu yang mirip seperti kebanggaan, ketakutan, dan kebingungan. Yoongi menunggu detik ketika Jimin akan lari pontang-panting, tapi yang dia dapatkan justru Jimin melangkah mendekat dan berjongkok di depan Taehyung.

"Halo," sapa Jimin.

"Kamu pasti... Taehyung."

Taehyung yang memang nggak pernah mengenal kata malu-malu langsung membalas dengan antusias.

"Iya, kok Ahjussi tahu?"

"Tahu dong," balas Jimin dan mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut Taehyung yang Oh my God menatap Jimin seakan laki-laki itu dewa.

Jimin membalasnya dengan tertawa sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Jungkook, yang berdiri ragu di belakang Taehyung.

"Dan kamu pasti Jungkook. Kembaran Taehyung," ucapnya.

Dan sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya selama tujuh tahun Yoongi membesarkan Jungkook, kejadian. Jungkook mendekati Jimin dengan langkah pasti. Berhenti sekitar setengah meter darinya untuk mengulurkan tangannya dan mengatakan,

"Min Jungkook."

Hilang sudah jejak anaknya yang pemalu dan susahnya setengah mampus kalau diminta berkenalan dengan orang baru. Yang ada dihadapannya adalah... Yoongi bahkan nggak tahu apa yang ada di hadapannya sekarang.

Rasa bangga di taburi sedikit kekecewaan karena Jimin, tanpa harus berusaha berhasil menarik perhatian Jungkook, menyelimutinya. Jimin yang tidak kelihatan kaget sama sekali segera meraih tangan Jungkook.

"Park Jimin," ucapnya.

Dia kemudian memutar tangan kanan Jungkook dan mengomentari,

"Jam tangan kamu keren. Optimus Prime kan ya?"

Senyum lebar menghiasi wajah Jungkook dan dia mengangguk antusias. Satu lagi hal yang Yoongi tahu disukai anak-anaknya selain berenang adalah Transformers. Mulai dari kartunnya, filmnya, hingga segala tetek-bengek yang berhubungan dengannya. Pada ulang tahun mereka yang ke-6, mereka menolak memakai selimut Spiderman lagi dan meminta dibelikan selimut bergambar tokoh-tokoh robot Transformers.

"Taetae punya Bumblebee," ucap Jungkook kepada Jimin.

Taehyung langsung mengulurkan lengan kanannya untuk memamerkan jamnya. Dan untuk beberapa menit Jimin menginspeksi jam tangan Optimus Prime dan Bumblebee dengan keantusiasan luar biasa.

Don't freak out, don't freak out, don't freak out, Yoongi mengucapkan mantra ini dalam diam sementara menyaksikan kejadian di hadapannya. Dan dia masih merasa cukup oke, sampai Taehyung dan Jungkook menyandarkan tubuh mereka ke Jimin dengan kepercayaan penuh bahwa tubuh Jimin akan mampu menahan tubuh mereka.

Sekilas mata Jimin melirik Yoongi, bukan dengan penuh kemenangan karena dia bisa membuat Taehyung dan Jungkook ngobrol dengannya, tapi seperti menanyakan: 'Is this okay?'

Tentu aja nggak oke. Yoongi tidak mau mengakuinya, tapi dia seriously freaking out. Apa dia oke dengan semua ini? Dengan anak-anaknya yang langsung lengket pada Jimin?

Bagi orang yang tidak mengenal mereka dan melihat interaksi mereka sekarang, mereka akan berpikir bahwa Jimin adalah ayah Taehyung dan Jungkook. Dan mereka tidak salah karena connection yang dimiliki Jimin dengan Taehyung dan Jungkook adalah pertalian yang hanya dimiliki orangtua dengan anak mereka. Pertalian darah yang lebih daripada hanya DNA.

Melihat betapa nyamannya Taehyung dan Jungkook dengan Jimin, dan Jimin dengan mereka, membuatnya bertanya-tanya bagaimana dia pernah berpikir untuk memisahkan mereka. Tiga laki-laki terpenting di dalam hidupnya. Ya, dia tahu apa yang baru saja dia pikirkan. Dan betapa pun sulit baginya untuk mengakuinya, tapi tidak bisa dipungkiri lagi, Jimin adalah orang penting di dalam hidupnya.

Yoongi mendapati Jimin masih menatapnya dan tanpa dia sadari, dia sudah mengangguk dan Jimin dengan luwesnya langsung mendudukkan mereka pada kedua pahanya dan melingkari pinggang mereka supaya tidak jatuh.

Yoongi melihat Jimin menarik napas sambil menutup matanya selama beberapa detik, seakan mencoba mengingat aroma anak-anaknya, sementara mereka ngomong ngalor-ngidul tentang Transformers. Apa Jimin sadar bahwa Taehyung dan Jungkook memiliki aroma yang sama dengannya?

Yoongi meloncat kaget ketika ada tangan menyentuh bahunya dan menemukan Mama sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Oh shit! Dia lupa sama sekali bahwa mereka sedang berada di perkarangan rumah Mama.

"Eomma," ucap Yoongi, sambil memutar otak mencoba menjelaskan keadaan ini.

Beberapa hari yang lalu ketika Mama dan Papa menginterogasinya tentang siapa Jimin, dia berkata Jimin hanyalah teman lamanya. Ketika Mama bertanya kenapa dia tidak pernah dikenalkan ke keluarga, Yoongi berkata itu baru pertama kalinya dia bertemu lagi setelah bertahun-tahun ini, yang tentunya membuat Mama bertanya-tanya kenapa kalau dia baru saja bertemu lagi kok dia sudah ciuman dengannya di tempat umum.

Yoongi harus berbohong dengan mengatakan bahwa ciuman Jimin hanya kecelakaan. Dia hanya mau mencium pipinya tapi mendarat di bibirnya. Ya, dia tahu alasannya ini banyak bolongnya, tapi Mama sepertinya cukup puas untuk melepaskan topik itu.

Tapi dari ekspresi wajah Mama sekarang, yang jelas-jelas bisa melihat kesamaan wajah Jimin dengan Taehyung dan Jungkook, Yoongi tahu bahwa rahasia kecilnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Satu-satunya hal yang dia syukuri adalah bahwa Mama tidak berteriak-teriak memarahinya seperti orang gila, atau lebih parah lagi mencekik Jimin dengan selang kebun.

.

.

.

Jimin tidak tahu berapa lama dia sudah berjongkok dengan anak-anaknya di pangkuannya. Yang dia tahu adalah bahwa kakinya sudah mati rasa, tapi dia menolak bangun dan kehilangan kehangatan mereka. Dan dia bukan membicarakan tentang suhu tubuh.

Rasa sayang yang dia rasakan untuk mereka minggu lalu tidak ada bandingannya dengan apa yang dia rasakan sekarang. Bahkan jauh melewati rasa sayangnya terhadap Jin, Hoseok, Mama, Papa, dan Yoongi. Dia menyayangi Taehyung dan Jungkook lebih daripada apa pun juga di muka bumi ini. Rasa proktektif yang tidak tergambarkan meremas hatinya. Dia bersumpah akan melindungi dan menjauhkan mereka dari segala hal buruk di dunia ini.

Dia tersadar kembali dari segala rasa haru yang sedang menyergapnya ketika mendengar Yoongi menyebut namanya. Perlahan-lahan dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk memfokuskannya pada wajah Yoongi yang sekarang sedang tersenyum padanya. Inilah pertama kalinya Jimin melihatnya tersenyum dan efeknya hampir membuatnya jatuh terduduk.

"Aku harus balik ke kantor," kata Yoongi.

Oke, dia tidak tahu maksud Yoongi dengan kata-kata ini. Melihat kebingungannya, Yoongi menambahkan,

"Aku harus ninggalin Taehyung dan Jungkook sama Eomma-ku."

Pada saat itulah dia melihat wanita setengah baya yang berdiri di sebelah Yoongi, yang kini sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Apa ini… No way. Ini ibunya Yoongi? Tidak salah lagi, ini ibunya Yoongi. Dia kelihatan seperti Yoongi versi wanita dan berusia lima puluh tahun, dan orang Jepang.

Jimin jatuh terduduk membawa Taehyung dan Jungkook bersamanya. Jimin berusaha bangun untuk memeriksa apakah anak-anaknya sudah cedera karena keteledorannya, tapi yang ada mereka malah tertawa-tawa dan bergantian menindihnya seperti WWF SmackDown.

Samar-samar dia mendengar suara Yoongi meminta Taehyung dan Jungkook untuk berhenti, yang tidak dihiraukan sama sekali oleh mereka. Lima menit kemudian dan dia masih mendapati dirinya ditindihi anak-anaknya, dia sadar bahwa kemeja dua ratus dolarnya kemungkinan sudah kotor kena tanah dan rumput dan nggak akan bisa dipakai lagi setelah ini. Tapi dia having too much fun untuk memedulikan hal sepele seperti itu. Kemejanya bisa dia beli lagi, tapi main dengan anak-anaknya seperti ini kemungkinan tidak akan pernah terjadi lagi.

Dia membalas serangan Taehyung dan Jungkook dengan memiting mereka, membuat mereka guling-guling nggak karuan di atas rumput, mencoba menghindari serangannya. Anak-anaknya memang berukuran besar untuk anak seumuran mereka, tapi tidak sebanding dengan dirinya. Dengan mudahnya dia menarik mereka ke dalam pelukannya dan terus memiting mereka.

"Stop… Stop Ahjussi… Hihihi," teriak Jungkook.

"Ampun… Jimin ahjussi ampun… Arrrgh… Nggak lagi… nggak lagi," teriak Taehyung.

Jimin mengasihani mereka yang sudah minta ampun dan melepaskan pitingannya. Dia baru saja akan menarik napas panjang ketika ditabrak dengan ganas oleh dua tubuh kecil yang meneriakkan,

"Seraaa…ng!" dan membuatnya jatuh telentang di rumput.

Lain dari sebelumnya, di mana mereka akan menindihnya seperti pyramid, kini mereka menggabungkan serangan untuk balik memitingnya. Alhasil selama semenit ke depan mereka sibuk saling memiting sampai dia merasakan semburan air cukup kencang yang diarahkan pada wajahnya, membuatnya berteriak,

"Aaaaggghhh!"

Dan sepertinya bukan dia saja yang terkena semburan air itu karena dia mendengar Jungkook dan Taehyung berteriak,

"Ujaaan, ujaaan," pada saat bersamaan.

Jimin mencoba bangun dari posisinya agar bisa menarik Taehyung dan Jungkook untuk berteduh. Dia bingung sesaat ketika melihat langit masih cerah, tidak ada setitik hujan pun. Baru pada saat itu dia melihat ibu Yoongi memegang selang dengan moncong menghadap mereka, siap menyemprot lagi bila perlu.

Jimin tahu dia seharusnya takut melihat wanita itu bertolak pinggang dan melemparkan tatapan siap membunuhnya, tapi yang ada dia malah mulai cekikikan. Dan cekikikannya ini membuat Taehyung dan Jungkook cekikikan juga. Cekikikan Jimin berubah menjadi tawa lepas ketika dia mendengar Taehyung bertanya,

"Ayo, Halmeonni, semprot lagi."

"Iya, Halmeonni. Lebih kenceng ya," timpal Jungkook.

Ya Tuhan. Kalau ada orang pernah meragukan bahwa Taehyung dan Jungkook adalah anak-anaknya, mereka tidak akan meragukannya setelah ini. Anak-anaknya adalah dia seratus persen, berikut dengan keiblisannya juga.

God, he loves them to death.

Di antara tawanya, dia melirik Yoongi yang sekarang terkekeh sambil memegangi perutnya. Hal ini membawa kehangatan tersendiri pada hatinya. Setidak-tidaknya dia tahu Yoongi masih memiliki sense of humor seperti dulu.

Mata mereka bertemu dan sebuah pengertian muncul. Apa pun yang telah atau akan terjadi diantara mereka berdua, pada detik ini, dia, Taehyung, Jungkook, dan Yoongi adalah satu kesatuan.

.

.

.

Tiba-tiba gugup oleh tatapan Jimin yang penuh arti itu, Yoongi berhenti tertawa dan mengalihkan perhatiannya ke anak-anaknya.

"Taehyung, Jungkook, ayo masuk. Seragam kalian kotor penuh tanah dan perlu dicuci. Kalian juga perlu mandi, ada tanah di rambut kalian," perintah Yoongi.

"Tapi, Eomma…," rengek Taehyung.

"Nggak pakai tapi-tapi," potong Yoongi.

Taehyung dan Jungkook langsung bangun dari posisi mereka yang sudah menggunakan tubuh Jimin sebagai bantal.

"Jimin ahjussi gimana?" tanya Jungkook.

"Jimin ahjussi gimana apa?"

"Jimin ahjussi bajunya kotor. Rambutnya juga. Apa Jimin ahjussi harus mandi juga?"

"Ya, Jimin ahjussi juga harus mandi."

Jawaban ini membuat Jimin menaikkan alisnya penuh pertanyaan dan Yoongi menambahkan,

"Di rumahnya sendiri."

Dan laki-laki itu berani-beraninya memampangkan wajah cemberut, membuatnya ingin ketawa. Damn him.

"Apa Jimin ahjussi nggak bisa mandi di sini?" timbrung Taehyung.

Ketika pertanyaannya ini tidak menerima jawaban, Taehyung mengalihkan tatapannya ke Mama dan bertanya dengan nada memohon,

"Halmeonni, Jimin ahjussi bisa kan mandi di sini?"

Menyadari bahwa Mama kemungkinan akan mengatakan 'iya, bisa, boleh', Yoongi langsung memotong.

"Taehyungie, Eomma yakin Jimin ahjussi lebih suka mandi di rumahnya sendiri. Udah, ayo say goodbye sama Jimin ahjussi dan masuk ke dalam rumah. Eomma masih harus balik ke kantor."

Yoongi mengucapkan syukur ketika Taehyung tidak berdebat lagi dengannya. Tapi sedetik kemudian ketika dia melihat Taehyung memutar tubuhnya untuk memeluk Jimin, lebih tepatnya kaki kanan Jimin, satu-satunya tempat yang bisa dicapai Taehyung ketika Jimin sudah berdiri tegak, Yoongi ingin menendang dirinya sendiri.

"Bye, Jimin ahjussi," ucap Taehyung.

Jimin menunduk untuk mengangkat Taehyung dan memeluknya erat, seolah tidak akan mau melepaskannya lagi. Beberapa menit kemudian, menyadari dia kemungkinan meremukkan tulang rusuk Taehyung, dia melonggarkan pelukannya.

"Bye, buddy," ucapnya pelan dan mencium pipi Taehyung dengan bunyi 'cup'.

"Kapan-kapan ke sini lagi ya, Ahjussi. Kita bisa main tindih-tindihan lagi."

"Oke," ucap Jimin sambil tersenyum lebar dan menurunkan Taehyung.

Seakan tahu Jungkook sedikit lebih sensitive daripada kembarannya, Jimin tidak langsung memeluknya, meskipun dari matanya Yoongi bisa melihat itulah yang ingin dia lakukan. Jimin memilih menunggu sinyal dari Jungkook yang perlahan-lahan berjalan ke arahnya.

"Bye, Jungkook," ucap Jimin pelan.

"Bye, Ahjussi," balas Jungkook dengan wajah serius.

Dan tanpa memberikan pelukan atau ciuman kepada Jimin, Jungkook berlalu memasuki rumah. Taehyung kelihatan ragu sesaat, sebelum mengikutinya.

Yoongi betul-betul ingin menangis melihat wajah perih kehilangan yang dipaparkan Jimin sekarang. Dia baru saja akan berkata-kata ketika didahului oleh Mama.

"Jadi kamu Appa-nya Taehyungie dan Jungkookie?"

Yoongi langsung menggigit bibirnya. Uh oh. Dia tidak tahu bagaimana percakapan antara Mama dan Jimin ini akan berakhir. Pada detik itu Yoongi betul-betul mengasihani Jimin. Mana berlepotan lumpur, dipelototin seperti seorang pemerkosa pula. Oleh sebab itu dia cukup terkejut ketika Jimin justru melangkah pasti mendekati Mama dan mengulurkan tangannya.

"Ya, Ahjummeoni. Saya Jimin. Park Jimin."

Wow, Jimin ternyata jauh lebih bernyali daripada yang yang dia pikir. Sejujurnya, kalau dia jadi Jimin, dia mungkin sudah ngibrit. Mama menyipitkan mata, seakan mencoba menilai Jimin, sebelum berkata,

"Apa kamu punya hubungan dengan Park Ji Ho?"

Oh, crap!

Yoongi tahu betapa Jimin tidak suka kalau orang menilainya hanya karena nama papanya. Itu sebabnya dia suka kuliah di Amerika, di mana tidak ada orang yang mengenal atau peduli dengan itu dan memperlakukannya biasa-biasa saja. As if orang yang mengenal Jimin memperlakukannya seperti itu. Entah kapan Jimin sadar bahwa yang membuat orang menempel padanya adalah karena dia, bukan papanya.

Yoongi melihat Jimin meringis dan dia berpikir Jimin akan menolak menjawab pertanyaan itu ketika mendengarnya menjawab,

"Itu Appa saya,"

Mata mama langsung melebar bak piringan hitam, membuat Yoongi takut beliau sedang mengalami serangan jantung. Setitik pengenalan muncul pada matanya, disusul sesuatu yang mirip... kebanggaan?

What the hell?

Ketika Yoongi melihat Mama tersenyum, kebingungannya berubah menjadi was-was. Dan ketika detik selanjutnya Mama berjalan mendekati Jimin dan memeluknya, menempelkan blus putih bersihnya dengan kemeja Jimin yang super kotor, jantung Yoongi sudah hampir meloncat keluar.

"Welcome to the family, son," ucap Mama.

Dan segala sumpah serapah terlintas di kepala Yoongi, sesuatu yang dia sadari semakin sering dia lakukan semenjak Jimin muncul lagi di dalam kehidupannya.


-TBC-

[Important Note: - FF ini sesuai warn di tiap chapter menggunakan bahasa non baku, n typo (sebisa mungkin diminimalisir) jadi tolong 'dimaklumi' ya.]

[- Berlaku untuk semua ongoing ff-ku, aku ijin slow update… hopefully soon aku update lagi. n tenang semua ff-ku gak akan discontinue... Lagi mau chilling dulu bentar, & please don't bash me :')]