MOANA
.
.
.
Semenjak di dianogsa tak bisa sembuh, Maui memberi perhatian lebih pada Moana.
Maui sudah meminta maaf pada Veui atas tindakan bodohnya karena telah memarahi si tabib yang sudah sepuh tersebut. tapi Veui adalah orang yang ramah, dia tetap memaafkan Maui karena ia tahu alasan mengapa sang dewa angin dan laut itu emosi.
Perasaan sayang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu, sekalipun harus marah.
Veui memang tidak menjamin Moana bisa sembuh, tapi Veui selalu percaya keajaiban
Semua berlangsung baik-baik saja hingga tiga hari kemudian...
"Dimana Moana!?"
"Dia tidak disini!"
"Kemana perginya anak itu!?"
"Cepat! cari dia!"
Pagi-pagi sudah di buat panik karena Moana mendadak hilang di dalam kamarnya. Sina dan Tui baru menyadarinya saat mereka ingin memberi obat untuk putrinya, namun entah kemana Moana justru tidak ada. Maui ikut panik, dia sudah bertanya pada warga kesana-kemari, tapi tak satupun ada yang mengetahui keberadaannya.
Maui ketakutan. kalau Moana hilang, bisa-bisa dia tambah sakit. itu yang paling di cemaskan.
Kemana Moana?
"Kalian tidak menyadarinya kalau dia pergi?" tanya Veui.
"Ugghh anak itu terkadang keras kepala" Tui menggeleng heran. "Aku akan mencarinya, Alelo, tolong bantu aku"
"Baiklah, Tui"
"Biar aku akan mencarinya" kata Maui.
"Tolong, Maui..." Pinta Sina, sama cemasnya. Maui pun mengangguk cepat.
"Ya" dia langsung mengubah dirinya menjadi elang dan terbang keliling pulau.
Mata elangnya melihat seisi pulau, berharap dia bisa menemukan Moana dari atas sini, pasti anak itu pergi ke suatu tempat. ah, Moana, apa yang kau lakukan? kau sedang sakit dan kau malah lenyap dari kamarmu sendiri? yang benar saja!
Maui pun mengepakkan sayapnya lebih lebar lagi, dia pun langsung meluncur kebawah. melewati pohon-pohon tinggi, kemudian meluncur lagi ke tepian pantai dan pergi ke puncak gunung, Moana tidak ada disana.
Dan itu berlangsung hampir 3 jam, Maui berkali-kali mengelilingi pulau namun tak ada hasil.
Tidak mungkin Moana pergi berlayar, dia pasti sadar kalau dirinya sedang sakit!
"Ugghh!"
Frustasi tidak bisa menemukannya, Maui langsung mengubah dirinya lagi menjadi normal. dia pun berjalan melangkah ke sebuah bukit dengan tanah berbatuan ke atas sana.
"Moana! DIMANA KAU!?" teriak Maui.
Tapi tak ada sahutan sama sekali.
"Moana! hentikan sikap nekatmu! aku sangat mengkhawatirkanmu, tahu!" teriak Maui lagi.
Ugghh, anak itu...
Kemudian, mata Maui menangkap sesuatu di depannya. sebuah lubang besar yang nampaknya jalan masuk ke suatu tempat. Maui penasaran, makanya dia memutuskan untuk masuk ke lubang tersebut dan mengikuti jalannya sampai masuk kedalam.
Tempat apa ini?
Maui bergumam, dia baru sadar kalau Motunui punya jalan 'Rahasia' di pulau ini. Ketika Maui melangkah semakin ke dalam, pemandangan pertama yang membuatnya sangat takjub adalah : Kumpulan perahu besar didalam Gua.
"Waah..."
Perahu-perahu itu, sangat kokoh. layar lebar, dengan banyak musik genderang yang tersimpan disana, benar-benar perahu yang luar biasa.
"Jadi... apa Gua ini tempat menyimpan perahu?" gumam Maui.
Uhukk!
Moana!?
Suara batuk itu, pasti Moana disini.
"Moana!" Maui memanggil, dia segera mencari Moana didalam Gua ini.
Uhukk! Ugghh!?
"Moana! kau dimana!?" tanya Maui. kemudian, dia mendengar suara batuknya lagi dan Maui mengasumsikan bahwa Moana ada di atas perahu yang paling besar.
"Moana!"
"Uhuk! Uhukk!?"
Moana meringkuk di lantai perahu, dia tidak membawa selimut untuk merangkup tubuh pucatnya.
"Moana! apa yang kau lakukan disini!?" tanya Maui, langsung memeluknya erat-erat, memastikan Moana mendapatkan kehangatan dari dirinya.
"M-Maui..."
"Kenapa kau menghilang dari kamarmu? ayo kita pulang" ujarnya, langsung menggendong Moana.
"Ti-tidak... Uhuk!... Maui... tidak"
"Jangan keras kepala, Princess... kau ingin penyakitmu tambah parah?" kata Maui, bersitegas.
"Aku ingin disini... uhuk! uhukk!"
"Kenapa kau ingin disini?"
"Karena... aku ingin... berlayar..."
"..."
Dan jawaban itu membuat Maui diam.
Ah ya, sudah berapa lama Moana tidak berlayar lagi? pasti lautan sedang merindukannya. Maui sendiri sampai tak menyadari bagaimana rindunya Moana pada samudra biru di luar sana.
"..."
"Uhukk! Maui..." Moana memanggil, hampir serak. "Aku ingin berlayar lagi... seperti dulu..."
Maui menatap sedih pada Moana. andai saja Moana lebih kuat lagi...
"Aku tahu, kau ingin berlayar, tapi kondisimu tidak mendukung, Mo. maafkan aku" ucapnya.
"Veui bilang... a-aku tidak bisa sembuh kan? b-ba-bagaimana... aku bisa berlayar? apa... a-aku akan berhenti menjadi pelayar selamanya?" tanya Moana.
Maui tidak menjawab.
Jika sebuah penyakit telah menghentikan keinginan Moana untuk berlayar. maka berakhirlah masa depan Motunui untuk berlayar ke pulau baru.
Berhenti menjadi pelayar selamanya? kalimat itu seolah seperti prediksi yang sulit ditebak. dan.. seolah Moana sudah mengetahui apa yang terjadi. Moana tidak bisa semudah itu berhenti menjadi ahli pelayar, warganya masih membutuhkannya. mereka butuh hidup di pulau baru suatu hari nanti.
"..."
"Maui?" Moana memanggil lagi.
"Aku janji, meskipun kau tidak sembuh... setidaknya, aku akan membawamu berlayar lagi" jawabnya.
"Ka-kau janji...?" tanya Moana lagi, pasang mata coklatnya penuh harap.
Maui mengangguk. "Iya..."
"Uhukk! Uhukk!"
Maui menyentuh dahinya lagi, panasnya naik. pasti karena Moana kedinginan didalam Gua ini.
"Ayo, kita pulang"
Moana mengangguk lemas, Maui segera membawanya kembali ke desa.
Aku janji, Mo. aku janji...
Maui membawa Moana ke fale, membuat semua orang yang mencarinya panik sekaligus lega karena Kepala suku mereka telah ditemukan.
Veui dan Alelo juga beberapa tabib lain langsung memeriksa kondisinya. Maui hanya menjelaskan bahwa dia menemukan Moana di Gua leluhur, tempat dimana mereka menyimpan perahu-perahu kokohnya untuk berlayar.
Mungkin, Maui akan menunggu di luar sampai mereka selesai memeriksa Moana.
"Maui?" Tui memanggil.
"Ya?"
"Kau tidak keberatan kalau kita hanya mengobrol berdua?" tanya Tui lagi.
Maui sampai berkedip, tak biasanya Tui mengajaknya berbincang. mungkin ada sesuatu yang penting untuk di bicarakan.
"Baiklah" Maui mengangguk.
Dua pria yang sangat berarti dalam hidupnya Moana tersebut pun memilih pantai sebagai tempat berbincang mereka.
"Jadi... ada apa?" tanya Maui.
Tui belum menjawab, matanya masih memandangi laut.
"Tui?" Maui memanggil lagi.
Tui sedikit tersenyum "Yah, maaf... aku terlalu melamun"
"Tidak apa"
Keduanya hening lagi.
"Kupikir... Moana akan tetap menjadi Moana yang seharusnya" Maui bergumam pelan.
Tui menghela nafas, ikut mengangguk. "Yah, kupikir juga begitu"
"Kohi itu virus paru-paru yang mengerikan, sulit untuk menemukan obatnya. Veui pun mengatakan kalau Moana tidak akan sembuh" jawab Maui lagi.
"Aku tahu, tapi... anakku adalah orang yang tangguh. dia keras kepala, seperti aku" kata Tui.
"..."
Maui mulai melamun, sepertinya alasan Moana menatap di dalam Gua itu karena dia rindu laut. Moana bisa mendengar suara laut, mungkin mereka menginginkan si Kepala suku itu berlayar kembali dengan perahu kecilnya mengarungi derasnya aliran lautan.
"Dulu, aku sama seperti Moana. aku juga suka berlayar, aku pernah melewati karang di masa mudaku" kata Tui.
"Benarkah?"
"Ya"
"..."
"Sejak Moana masih kecil, dia sudah dekat dengan lautan. aku berkali-kali menjauhkan dia dari mereka karena kupikir, lautan berbahaya. tapi Moana tetap Moana, dia masih saja bersikeras pergi ke laut dan bermain-main dengan mereka"
"..."
"Jangan heran mengapa aku menamai putriku 'Moana', itu artinya lautan" jawab Tui.
"Lalu?"
"Tapi, semua langsung berubah ketika lautan menenggelamkan sahabatku. dan disaat itulah, aku menjadi orang yang egois. aku melarang wargaku berlayar ke luar karang, termasuk anakku sendiri"
Maui masih mendengarkan.
"Tapi Moana mematahkan peraturanku, atas berkah neneknya untuk pergi ke Te Fiti, dia langsung berlayar kesana, meninggalkan ku... meninggalkan pulauku demi menyelamatkan kami semua"
"Jadi..."
"Aku yakin, Moana pasti melewati banyak hal di laut. aku khawatir, laut akan menenggelamkannya... sama seperti yang mereka lakukan pada sahabatku"
Maui jadi diam
Dia masih ingat waktu dia meninggalkan Moana sendirian di tengah laut karena bersikeras tidak mau berputar balik ketika Te Ka nyaris membunuh mereka. Maui jadi membayangkan, andai waktu itu dia tidak kembali menyelamatkan Moana, pasti Moana sudah mati dan perasaan orang tuanya akan sangat ambruk.
"Maui?" Tui memanggil lagi.
"Ya?"
Tui sedikit tersenyum, langsung menepuk bahu besarnya Maui.
"Kau sayang Moana ya?"
"eeh?"
Maui langsung blush.
"A-aku... heehehe! aku... ti-tidak kok, ma-maksudku... aku-"
"Sudah, tidak apa-apa. aku bisa melihat itu semua dari caramu melihat Moana. seperti tidak ada perempuan lain selain dia di dunia ini" kata Tui.
"Maaf, sepertinya, aku membuat kesalahan" Maui jadi malu sendiri.
"Kau tidak membuat kesalahan. semuanya sudah terbukti didepan mataku sendiri, kau memang menyayanginya"
Maui terdiam, tidak tahu dia harus berkata apa lagi.
"Maui, jika kau memang menyayanginya, tolong... jaga dia baik-baik ya?" pinta Tui padanya.
Maui agak terkejut, ini permohonan ayahnya untuk menjaga Moana. atau jangan-jangan...
Tui merestui hubungannya dengan Moana.
"Tui..."
"Aku juga menyayangimu, seperti anak laki-laki ku sendiri, Maui. Moana punya tempat yang spesial untukmu di hatinya, makanya... aku minta, tolong jaga dia ya" kata Tui lagi, beranjak dari pasir pantai dan hendak pergi.
Maui menggigit bibirnya, dia tidak menoleh pada Tui. tapi ia merasakan kedua matanya hampir blur karena air mata.
Selama hidup ribuan tahun, akhirnya Maui di akui oleh manusia biasa sebagai anaknya sendiri.
"Terima kasih" jawab Maui, membuat Tui menghentikan langkahnya untuk pergi.
"Terima kasih untuk?"
"Untuk segalanya, karena pulaumu menerimaku" ucap Maui, pelan-pelan.
Tui tersenyum.
"Ya, sama-sama Maui" jawabnya lagi, kemudian dia pergi.
Maui tetap duduk di tempat, akhirnya air matanya jatuh karena rasa haru.
Terima kasih...
TO BE CONTINUED
AN : Bonus 2 chapter 12-13!
Stay Tune!
