.

.


Chapter 11: Field Trip part 2


.

.

Field trip hari ketiga

Pada jam 9 pagi di ruang lobby penginapan. Tampaklah grup anak-anak kelas satu, spesifiknya grup Kagami tengah bercakap-cakap. Tinggal satu jam lagi sebelum mereka berangkat menuju situs field trip yang selanjutnya yaitu kuil Kiyomizudera.

"Oi, apa kalian yakin ini ide bagus?" Furihata menyilangkan tangannya sambil memberikan tatapan khawatir pada Kagami dan Kuroko. Dia masih agak tidak yakin untuk menyetujui ide pasangan cahaya dan bayangan Seirin untuk membolos dari kegiatan field trip hari ini.

"Hari ini adalah kesempatan terakhir bagi kami untuk mengunjungi Rakuzan! Tidak ada waktu lagi karena besok kita akan pulang ke Tokyo!" Kagami bersikeras untuk tetap pergi ke akademi tersebut apapun yang terjadi.

"Bakal jadi masalah besar kalau sampai ketahuan para guru…" Meskipun Furihata sempat membut lelucon tentang skenario bagaimana Kagami membolos, ia tetap merasa khawatir kalau sampai mereka berdua ketahuan dan dihukum karena membolos.

"Karena itu aku butuh kerja sama kalian!" Desis Kagami, dia sudah merencanakan hal ini semenjak sebelum tur dimulai, tidak mungkin dia pulang begitu saja dan melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Rakuzan.

"Kyoto itu luas lho, bagaimana kalian akan menemukan akademi Rakuzan?" Kawahara mengangkat alisnya dengan keheranan. Mereka sama sekali tidak familiar dengan jalanan kota Kyoto, bisa-bisa mereka tersesat saat mencari sekolah tersebut.

"Jangan khawatir," Sela Kuroko. "Momoi-san telah mengirimku detail lokasi akademi Rakuzan, tenang saja kami pasti takkan tersesat. Tempatnya di Imadegawa, kami bisa pergi kesana lewat jalur subway Karasuma."

"Kami pasti akan kembali ke penginapan sebelum kegiatan darma wisata berakhir." Pemuda bersurai biru langit itu menambahkan, mencoba meyakinkan teman mereka.

"Kita ada di Higashiyama lho! Jaraknya terlalu jauh!" Protes Furihata, dia tidak percaya mereka berdua serius mau mengunjungi akademi Rakuzan. Resikonya terlalu besar!

Kagami memandang kearah Fukuda, meminta bantuannya.

Si rambut hitam itu menghela nafas sebelum menepuk bahu Furihata. "Yah, apa boleh buat, kita takkan bisa menghentikan Kagami kalau tekadnya sudah sekuta itu bukan?" Guraunya, mencoba membuat si rambut cokelat lebih rileks. Furihata memang selalu menjadi yang paling khawatir dan ragu-ragu diantara mereka para kelas satu.

"Tapi…"Furihata tampaknya masih bimbang dengan ide Kagami.

"Tidak apa-apa, setidaknya tolong rahasiakan hal ini sampai kami kembali." Kuroko juga mencoba meyakinkannya.

"…Baiklah…" Desah Furihata, pasrah menerima kekalahannya dalam perdebatan tersebut.

Fukuda lalu menarik Furihata keluar ruangan sambil berujar. "Kalau begitu ayo siap-siap, kita akan berangkat tepat jam 10 setelah makan pagi."

.

.

Jam 10:30 di Kuil Kiyomizudera

"Apa menurutmu mereka berdua akan baik-baik saja?" Furihata bertanya, masih khawatir dengan rencana Kagami dan Kuroko.

"Yang kita bicarakan ini Kagami dan Kuroko, tentu saja mereka akan baik-baik saja." Fukuda menjawab santai seraya mereka berjalan memasuki gerbang depan.

"Ayo cepat kesana! Aku ingin segera mengambil foto gerbang Deva, panggung Kiyomizu dan sumber air Otowa!" Kawahara sudah mempersiapkan kameranya. Dia sudah beberapa langkah didepan kedua temannya, memimpin jalan menuju kuil Kiyomizudera.

Secara literal, nama kuil Kiyomizudera berarti 'kuil air jernih' Didirikan pada tahun 778 dan terletak bagian timur daerah Kyoto. Lokasi wisata yang populer akan panggung Kiyomizu dan sumber air Otowa.

Mereka menelusuri jalan yang menuju puncak hingga akhirnya mereka mencapai gerbang deva yang mereupakan gerbang utama kompleks kuil Kiyomizudera. Dari tempat mereka berdiri mereka dapat melihat menara bel kuil yang terkenal dan bangunan pagoda dibelakang gerbang tersebut.

"Rasanya mengerikan…" Gumam Furihata yang menelan ludahnya dengan gugup melihat dua patung penjaga yang berada di sisi kanan dan kiri gerbang deva. Patung tersebut berwujud manusia namun dengan ekspresi yang mirip iblis, taring yang mencuat keluar menambah aura mengerikan yang mengintimidasi si rambut cokelat.

"Rasanya seperti mereka menatap kita dengan penuh intens…" Fukuda menganguk, dia sendiri merasa sedikit terintimidasi walaupun ia tahu patung tersebut hanyalah benda mati.

Setelah Kawahara selesai mengambil foto didaerah tersebut mereka melanjutkan perjalanan menuju bangunan utama kuil Kiyomizudera.

"Waaaah! Tingginya!" Kawahara berseru girang saat ia berdiri diatas panggung Kiyomizu. Struktur bangunan berdasar bahan kayu setinggi 14 meter tersebut tampak menonjol dari rimbunan pohon dan bangunan di sekelilingnya. Panggung Kiyomizu dibangun diatas susunan balok kayu berjumlah 139 batang. Tempat tersebut merupakan tempat sempurna bagi para turis yang ingin melihat pemandangan kota Kyoto bagian utara.

Sementara Kawahara sibuk mengambil foto, kedua teman satu tim-nya mengekplorasi bangunan tersebut. Mereka mengamati beberapa turis yang tengah menunggu giliran berdoa di altar besar dalam ruangan utama kuil tersebut.

"Jadi kuil ini dinamakan 'Kiyomizu' apa karena sumber mata air otowa yang terkenal itu?" Fukuda bertanya sambil menaruh jari didagunya saat melayangkan pandangan ke sekeliling ruangan.

"Ada kisah dibaliknya sih…" Furihata berdehem dan kemudian tersenyum bangga sebelum menjelaskan informasi pada sahabatnya yang kebingungan itu. "Dikisahkan dalam legenda, pendeta Enchin yang mendapat pencerahan dalam mimpinya memutuskan untuk berkelana hingga tiba di sumber air di kaki gunung Otowa. Disanalah ia bertemu dengan sorang Budhist Gyoei Koji yang memberikannya sebuah balok kayu yang disucikan. Pendeta Enchin kemudian memahat patung dewi Kannon Bosatsu[1] dari balok kayu tersebut."

"Lalu mereka mendirikan kuil ini untuk menempatkan patung itu disini?" Fukuda manggut-manggut mengerti.

"Tepat!" Si rambut cokelat menjentikkan jarinya. "Walaupun patung tersebut disembunyikan dan hanya diperlihatkan pada publik setiap 33 tahun sekali."

"Uwaa! Lama sekali! Itu berarti kita hanya memiliki dua hingga tiga kali kesempatan saja seumur hidup untuk melihatnya!" Fukuda membalas dengan nada kaget. Apapun alasannya, siapapun yang dapat melihat patung tersebut pada kunjungan pertama mereka pastilah amat beruntung.

"Yah, kalau kau yakin kita bisa hidup selama itu." Furihata membalas dengan tawa kecil.

Mereka dikejutkan oleh kemunculan Kawahara yang tiba-tiba dari belakang.

"Hei, hei! Bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke kuil Jishu? Kita bisa berdoa disana agar kita mendapatkan pacar tahun depan!" Seru Kawahara dengan bersemangat mencoba meyakinkan kedua temannya untuk pergi ke tempat tujuan yang selanjutnya.

"Aku tidak percaya dengan takhayul sih…" Meski Fukuda dengan jelas mengutarakan pendapatnya, ia tampaknya tidak keberatan membiarkan Kawahara menarik mereka kearah kuil kecil diarah utara kuil Kiyomizudera tersebut.

Kuil Jishu sering juga disebut sebagai 'The cupid of Japan' pada saat mereka tiba disana, mereka akhirnya paham mengapa tempat tersebut dinamakan demikian. Mayoritas pengunjung tempat tersebut adalah anak-anak muda dan kebanyakan diantara mereka adalah remaja perempuan. Mereka bahkan dapat melihat wajah-wajah familiar teman sekelas mereka disana.

"Kurasa ini tempat yang pasti menjadi tempat pertama yang dikunjung para cewek." Fukuda berkomentar sambil tersenyum, tampak terkesan dengan jumlah wanita yang mengunjungi kuil tersebut.

"Yah, wajar saja banyak gadis yang mengharapkan kisah cinta yang terwujud." Furihata menambahkan sambil tertawa kecil. "Tampaknya mereka yang berdoa dikuil ini memiliki peruntungan yang lebih besar dalam percintaan, tentu saja banyak yang ingin membuktikannya."

Furihata berkata sambil mengamati papan pengunguman didepan kuil tersebut. Kebanyakan diantaranya merupakan ucapan terima kasih yang ditinggalkan para pasangan yang sekarang telah menikah.

Terdapat patung Okunushi Mikoto di depan pintu masuk kuil dengan patung kelinci disampingnya.

"Ah, itu Tanimura-san dan teman-temannya." Kawahara menunjuk kearah sekelompok cewek, tidak jauh dari mereka yang tengah berdiri didekat sebuah batu.

Mereka tengah memberi semangat pada Tanimura yang hendak berjalan dari sebuah batu menuju ke batu yang lain dengan mata tertutup dan melangkah dengan hati-hati. Salah seorang temannya membantunya dengan menuntunnya berjalan.

Banyak takhayul yang sering dikaitkan dengan tempat-tempat obyek wisata yang sakral. Salah satunya adalah kedua batu jodoh yang terletak didepan kuil jishu tersebut. Konon bila seseorang berhasil berjalan dari satu batu mencapai batu yang lain maka cintanya akan terbalaskan.

"Hei, itu batu jodoh kuil Jishu yang terkenal, mau coba?" Fukuda bertanya pada Furihata saat mereka berjalan mendekati batu keramat tersebut.

"Tidak mau, aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri kalau sampai aku terpeleset dan jatuh." Furihata menjawab dengan gelengan kepala menolak menjadi korban karena kecerobohannya sendiri.

"Berhasil!" Perhatian mereka bertiga teralihkan saat mendengar suara Tanimura. Gadis berambut cokelat itu berteriak kegirangan begitu ia mencapai batu tersebut. Teman-temannya langsung berkumpul disekitarnya untuk memberikan selamat.

"Padahal dia sebenarnya tidak perlu melakukan hal itu, dengan wajah dan personaliti seperti itu ia pasti bisa memenangkan hati semua cowok dengan mudah." Kawahara berujar dengan nada simpatik sebelum melirik tajam kearah Furihata. "Yah…hampir semua cowok."

"He-hei, bagaimana kalau kita pergi ke sumber mata air Otowa setelah ini?" Furihata yang gugup menyadari pandangan kedua temannya padanya menyarankan tempat tujuan mereka selanjutnya sambil berkeringat dingin.

"Ah! Itu Furihata dan kawan-kawannya! Hei, sini, sini!" Gadis paling riang dan cerewet dalam grup Tanimura, Rie dengan antusias langsung memanggil ketiga cowok tersebut.

Mereka hanya dapat diam dan menunggu sementara grup cewek SMA itu berjalan mendekati mereka.

"Heh? Dimana anggota grup kalian yang lain?" tanya Rie saat ia menyadari beberapa anggota yang absen hari itu. "Mereka namanya…Kagami dan Kuroko, kan?"

"Yah…mereka tidak dapat bergabung dengan kami hari ini." Furihata menjawab seraya berusaha tidak membuat kontak mata dengan para gadis-gadis itu.

"Apa kalian akan pergi ke mata air Otowa setelah ini? Kebetulan sekali, kami juga mau pergi kesana!" Rie bertepuk tangan saat sebuah ide brilian terlintas dalam kepalanya. "Bagaimana kalau kita pergi kesana bersama-sama?"

Furihata menelan ludah menatap mata bulat berwarna kehijauan yang menatapnya penuh harapan. Dia sangat lemah bila berhadapan dengan cewek yang memberikannya pandangan seperti itu, membuatnya sulit menolak permintaan/ perintah mereka.

"Kami…"

"Sangat senang bila bisa pergi kesana bersama kalian!" Fukuda sudah terlebih dahulu menjawab sebelum Furihata dapat menyelesaikan kata-katanya. "Semakin banyak orang, semakin meriah bukan?" Kawahara menambahkan dengan penuh antusias.

"Fukuda! Kawahara!" Furihata hendak protes namun langsung menutup mulutnya saat melihat pandangan tajam Fukuda dan Kawahara yang tertuju padanya.

"Biarkan saja mereka mengikuti kita! Jarang sekali tahu kita mendapatkan kesempatan seperti ini!" Fukuda menggeram dengan nada pelan dan berkata setengah berbisik. Dia tidak ingin Furihata mengacaukan rencana tersebut, kapan lagi ada gerombolan cewek yang ingin berjalan bersama mereka?

Entah kenapa…aku punya firasat buruk… Furihata berujar dalam hati saat ia memperhatikan salah satu teman Tanimura membisikkan sesuatu di telinga gadis itu dan membuat wajahnya merah merona seperti tomat. Ia merasa amat canggung memikirkan bagaimana ia bisa menghabiskan waktu bersama gadis yang pasti akan ditolaknya.

Furihata tidak ingin Tanimura berharap terlalu tinggi namun ia juga tidak ingin menyakitinya, pilihan yang dimilikinya hanyalah menghindarinya! Benar-benar sulit! Ini terlalu sulit bagi remaja berumur 16 tahun yang tidak punya pengalaman dalam soal cinta!

.


.

Stasiun Imadegawa, stasiun Imadegawa

Terdengar pemberitahuan saat kereta tersebut tiba di stasiun yang dituju. Banyak penumpang turun di stasiun tersebut, beberapa naik dan ada beberapa yang tetap sabar menunggu hingga mereka tiba di stasiun tujuan yang selanjutnya.

Salah seorang diantara penumpang yang turun itu adalah sang ace berambut merah dari Seirin.

"Aaah! Akhirnya kita sampai!" Kagami merenggangkan tubuhnya setelah ia berjalan keluar diikuti oleh partner berambut birunya yang setia dari kereta yang penuh sesak dengan penumpang tersebut. Ia lega, akhirnya bisa keluar dari kerumunan penumpang yang menghimpit gerakannya dalam gerbong sempit tersebut.

Kuroko mengecek jam tangannya sebelum menoleh kearah Kagami. "Waktu kita terbatas, kita harus segera menuju ke akademi Rakuzan."

Begitu mereka melangkah keluar stasiun, Kagami langsung mendapati sebuah kompleks di penuhi beberapa stall berjejer yang menjual makanan-makanan ringan.

"Baunya enak…aku jadi ingin membelinya…" Kagami berujar dan matanya sudah terpaut pada salah satu stand yang menjual takoyaki.

"Kagami-kun, kita harus segera mencari sekolah Rakuzan kalau kau ingin memiliki cukup waktu untuk setidaknya melawan mereka dalam satu permainan." Kuroko mengingatkannya sambil menarik lengan baju partner berambut merahnya.

"Tsk, iya! aku tahu, aku tahu!" Gerutu Kagami, walau dengan berat hati ia menuruti saran Kuroko.

30 menit kemudian…

"Oi…kita sudah berjalan cukup lama nih…apa kau yakin kita tidak tersesat?" Kagami bertanya dengan nada curiga. Kesabarannya semakin menipis, ia lapar dan haus dan tidak menemukan satupun mesin penjual minuman otomatis disepanjang jalan.

"Aku yakin kita sudah tiba ditempat yang tepat jadi seharusnya kita sudah menemukan gerbang depannya sekarang. Momoi-san bilang tempatnya amat luas jadi tidak mungkin kita takkan menemukannya." Kuroko menjawab sambil mendesah lelah. Ia sendiri juga sudah capek berjalan sedari tadi.

"Omong-omong, rasanya sedari tadi kita berjalan melewati dinding yang sama, aku penasaran sebesar apa properti bangunan didalamnya." Kagami berkedip saat ia akhirnya menyadari sesuatu. "Tunggu, jangan bilang…"

"Ah, akhirnya gerbang depannya kelihatan." Mereka mempercepat langkah mereka saat melihat gerbang depan sekolah Rakuzan didepan mata.

Mereka diam-diam menyusup melewati gerbang yang setengah tertutup itu, menghindari pos penjaga yang untungnya tengah kosong saat itu dan menelusuri jalanan lurus hingga mereka akhirnya tiba di gedung utama.

"Hebat! Sekolah privat memang luas ya~" Kagami bersiul saat melihat lingkungan sekolah yang beberapa kali lipat lebih luas dari sekolah mereka.

"Memang luas sekali, semoga saja kita bisa menemukan Akashi-kun sebelum hari menjelang sore." Kuroko bergumam dan mengikuti Kagami dari belakang.

"Sudah pasti, tujuan pertama kita adalah gym! Ayo kita mulai mencari dari sana!" Kagami mengusulkan dan hendak melangkah dengan penuh semangat.

"Lalu lewat mana? Kita tidak tahu jalan sama sekali di sekolah ini." Kuroko dengan tenang menjelaskan. Kalau dia mengikuti saran Kagami, mereka bakalan tersesat dan tentu akan sia-sia menguras waktu dan tenaga.

"Hei! Kau! Apa yang kau lakukan berkeliaran disini?!"

Kagami berbalik dan melihat seorang pria tua berkacamata berjalan kearah mereka. Mereka tidak melihatnya sedari tadi, pria itu pasti tidak sengaja melihat mereka lewat jendela dalam bangunan. Memang mencurigakan melihat orang asing berkeliaran apalagi pada jam sekolah, bisa-bisa mereka dianggap maling atau orang mesum.

"Uwaa! Kita ketahuan!" Kagami melangkah mundur, bersiap untuk lari secepatnya bila pria itu memutuskan untuk memanggil security untuk mengusir mereka.

"Kalau begitu, semoga beruntung Kagami-kun. Pastikan kau menemukan alasan yang tepat mengapa kau berkeliaran disini." Kuroko berujar seolah hendak meninggalkan Kagami disana.

"Eh?! Lalu bagaimana denganmu?!" Kagami membalas dengan panik.

"Aku bisa dengan mudah melarikan diri menggunakan misdirection." Kuroko mengingatkan, ia sudah menyusun rencana agar tidak tertangkap bersama Kagami.

"Sialan kau!" Kagami tidak sempat kabur saat pria berkacamata tersebut mendekatinya. Pria itu tampak berada di usia 50-an namun masih tampak tajam untuk usianya. Dia menatap Kagami tanpa rasa takut sedikitpun padahal normalnya banyak yang merasa terintimidasi saat berhadapan dengan sosok tinggi dan besar seperti si rambut merah itu.

"Siapa kau, kenapa berkeliaran disini?! Ini bukan properti umum, tidak ada yang boleh masuk kemari tanpa pemberitahuan!" Pria tua itu menegurnya dengan tegas sambil melipat tangan.

"Uhh…aku…" Kagami berusaha mencari alasan, apapun juga bisa asalkan ia bisa terbebas dari tatapan tajam pria tersebut. Kalau dia bisa membunuh orang lewat tatapannya, Kagami tidak yakin dia akan selamat.

"Maaf, permisi Sensei. Mereka adalah kenalanku." Sang staff pengajar itu berbalik dan berhadapan dengan Mibuchi Reo yang tengah tersenyum.

"Akulah yang mengundang mereka kemari." Pemuda berambut hitam itu dengan mudah menemukan alasan yang tepat dan masuk akal untuk menjelaskan alasan keberadaan mereka disana.

Meskipun berbohong, setidaknya mereka dapat terbebas dari situasi ini dan untuk kali ini mereka berhutang pada Mibuchi yang membantu mereka dengan sukarela.

"Yah…apa boleh buat karena kau bilang begitu…tapi, Mibuchi! Lain kali kau harus memberikan pemberitahuan terlebih dahulu bila ingin mengundang tamu dari luar! Terutama saat jam sekolah!" Meski masih tampak sulit mempercayai alasan Mibuchi, pengajar itu memutuskan untuk menerimanya.

"Baik, maafkan aku atas kecerobohan ini. Aku jamin takkan terulang lagi." Mibuchi membungkuk meminta maaf namun nadanya tidak terdengar seolah ia merasa bersalah. Pria itu hanya mendengus sebelum berjalan ke arah gedung sekolah meninggalkan mereka bertiga.

"Terima kasih Mibuchi-san." Kuroko yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuat Mibuchi terkejut, namun ia sudah mulai terbiasa dengan orang dengan hawa keberadaan setipis Kuroko, karena itulah ia dengan cepat kembali mempertahankan ketenangannya.

"Yah, yang barusan memang gawat. Kalau aku tidak melihat kalian tadi, kalian pasti akan diusir karena masuk tanpa izin." Mibuchi tertawa kecil menanggapinya. "Omong-omong apa yang membawa kalian kemari? Aku sama sekali tidak menduga akan bertemu dengan kalian hari ini."

"Sebenarnya…kami bermaksud untuk memberikan kejutan dengan mengunjungi kalian hari ini, tapi seperti yang kau lihat kami hampir tertangkap basah oleh staff pengajar." Kuroko tetap tenang saat menjelaskan bagaimana mereka berakhir dalam situasi tersebut sementara Kagami menggaruk bagian belakang kepalanya, wajahnya sedikit merona karena malu akan kecerobohannya.

Mata Mibuchi memancarkan kegirangan saat mendengar penjelasan Kuroko. "Begitu ya? Ini kejutan yang menyenangkan! Aku yakin yang lain akan senang untuk bertemu dengan kalian."

Namun mereka bertiga menyadari tatapan murid-murid lain yang terarah kepada mereka. Mereka pasti penasaran saat melihat sosok Kagami yang asing. Bagaimanapun, Kagami memang selalu terlihat mencolok dan menarik perhatian kemanapun ia pergi.

"Ayo kita pergi ketempat yang lebih tenang. Bisa gawat kalau sampai kita menarik perhatian lebih dari ini." Mibuchi menyarankan dan meminta mereka mengikutinya memasuki gedung sekolah.

.


.

Air jernih mengalir turun dari tiga sumber mata air yang berbeda.

Mata air Otowa terkenal luas di khayalak masyarakat yang mempercayai dengan meminum air dari sumber mata air tersebut maka mereka akan mendapatkan berkat yang melipah seperti panjang umur, kesuksesan di bidang akademik dan pekerjaan dan juga mendapatkan jodoh dan kehidupan pernikahan yang bahagia. Walaupun begitu bila seseorang meminum air dari tiga mata air sekaligus maka orang tersebut dianggap sebagai orang yang serakah.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dari orang-orang yang meminum air dari mata air tersebut yaitu agar keinginan mereka terkabul sepenuhnya maka mereka harus meminum seluruh air yang ditimba dalam sendok kayu dalam satu tegukan dan mereka hanya boleh menimbanya sekali. Bila mereka menghabiskannya dalam dua atau tiga kali tegukan maka mereka hanya menerima setengah atau kurang dari berkat yang seharusnya mereka terima.

Meski bagi sebagian besar masyarakat modern menganggap khasiat air mata Otowa hanyalah legenda belaka, namun banyak orang yang ingin mencobanya karena penasaran. Para turis terutama dari luar daerah atau negeri membentuk barisan panjang, mereka terlihat seperti barisan antrian orang-orang yang berebutan di toko terkenal yang tengah diskon atau menu makanan terbatas di restoran terkenal.

Furihata mendesah puas saat meminum air dalam sendok kayu itu dalam satu tegukan. Ia cukup haus dan lelah setelah berjalan mengitari daerah kuil tersebut jadi tentu saja tegukan air jernih itu memberikan sensasi menyegarkan bagi tenggorokannya yang kering.

Setelah ia mendapatkan bagiannya, Furihata memutuskan untuk duduk disalah satu bangku yang diperuntukkan untuk para pengunjung beristirahat untuk menunggu yang lainnya yang masih tengah mengantri di barisan turis yang super panjang itu.

Pemuda berambut cokelat itu bertanya-tanya dari mana orang-orang mendapatkan asumsi mereka dapat memperoleh berkat kesuksesan yang besar hanya dari meminum air dari mata air tersebut. Informasi yang didapatkannya saat membaca papan batu informasi didepan tempat tersebut adalah ' ketiga mata air ini berasal dari sumber yang sama.'

"Furihata-kun, disana kau rupanya." Furihata menoleh kearah suara dan melihat sosok Tanimura Kyoko sendirian berjalan kearahnya. Ia membalas menyapa dan mempersilahkannya untuk duduk disampingnya.

"Dimana yang lain? Apa kau melihat mereka?" Furihata melihat kesekelilingnya mencoba mencari letak keberadaan yang lainnya namun sia-sia, terlalu banyak orang. Di saat seperti ini kemampuan pandangan mata elang/rajawali yang dimiliki Takao dan Izuki pasti sangat berguna.

"Aku tidak tahu, Rie-chan dan Aya-chan juga menghilang…" Tanimura mendesah. "Kemana kira-kira mereka pergi…" Ujarnya dengan bingung.

Butuh beberapa menit bagi Furihata untuk menyadari maksud sebenarnya dari alasan Fukuda dan Kawahara untuk berbaris bersama teman-teman Tanimura.

Mereka berdua! Jadi mereka memang berencana untuk meninggalkan kami berdua?! Geramnya dalam hati. Mereka pasti merencanakan ini dengan teman-teman Tanimura dan langsung pergi begitu mereka selesai minum dari mata air.

"Furihata-kun?"

"I-iya?" Ia menoleh kearah Tanimura yang memanggilnya dengan nada gugup.

"Bagaimana kalau kita mencari mereka bersama?"

"Y-ya, ayo kita pergi. Mereka pasti belum jauh dari sini…"

.

.

Kawahara dengan setengah hati mengikuti rencana Fukuda saat mereka meninggalkan sumber mata air Otowa bersama dengan teman-teman Tanimura.

Awalnya itu adalah ide dari Rie. Dia ingin meninggalkan Tanimura agar ia mendapatkan kesempatan untuk berduaan dengan Furihata. Fukuda langsung menyetujui rencana tersebut dan Kawahara tidak punya pilihan lain selain mengikutinya meski tidak menyetujui cara tersebut. Dia mungkin merasa bersalah karena rasanya seperti menipu Furihata dengan cara seperti ini.

Dia bahkan tidak berminat mengambil foto lagi dan hanya berjalan tanpa suara mengikuti Fukuda dari belakang.

"Fukuda, apa menurutmu tidak apa-apa membiarkan mereka begitu saja? Maksudku ada kemungkinan Tanimura-san akan mencoba menyatakan perasaannya lagi…"

Fukuda mempercepat langkahnya tanpa membalas.

Kawahara juga mempercepat langkahnya, mengikuti kecepatan Fukuda. "Apa kau mendengarkanku?!" Ia sedikit menaikkan nada suaranya, mengira Fukuda mengabaikannya.

"Biarkan saja," Fukuda menjawab singkat, jelas tidak ingin memperdebatkan topik itu lebih lanjut.

Namun, Kawahara tidak bisa membiarkannya begitu saja. "Fukuda!" serunya dengan sedikit marah dan tidak sabar.

Ia terdiam sejenak saat Fukuda didepannya tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Sejujurnya," Fukuda menarik nafas panjang. "Aku tidak bisa mengatakan aku tidak berpikir Furihata membuat keputusan yang bodoh dengan menolak Tanimura-san."

"Dia memang mengatakan dia tidak ingin menyakiti Tanimura-san tapi dia juga memutuskan untuk tidak akan mengatakan apa-apa pada Akashi. Itu berarti Tanimura-san masih memiliki kesempatan bukan?" Kalau saja Furihata memberikan Tanimura kesempatan, semua masalah ini akan berakhir bahagia.

"Tapi, apa menurutmu mereka berdua akan berbahagia dengan situasi seperti itu?" Kawahara berusaha melanjutkan. Ia tidak berniat berhenti sekarang, tidak sebelum ia mendengar seluruh alasan Fukuda. "Kita tidak pada tempatnya untuk menentukan hal seperti itu!"

"Aku tahu ini keputusan yang konyol!" Fukuda membentak. Untuk pertama kalinya Kawahara melihatnya kehilangan kontrol seperti itu. Ia terdengar frustasi,saat itulah Kawahara menyadari Fukuda sudah mengetahui dia tidak dalam posisi untuk mencampuri urusan Furihata.

"Tapi...Tanimura-san gadis yang baik, aku ingin memberinya kesempatan untuk bersama dengan Furihata." Fukuda berkata lirih. "Dan juga, Furihata adalah sahabat kita, menurutku tidak adil untuknya hanya dapat memandang orang yang dicintainya dari jauh tanpa memiliki kesempatan untuk berbahagia dengan orang yang mencintainya."

Remaja berambut hitam itu menarik nafas panjang sekali lagi sebelum melanjutkan.

"Akashi…memiliki kedudukan yang berbeda jauh dengan kita. Kalaupun ada secercah harapan perasaan Furihata terbalaskan, kurasa dia takkan bahagia hidup dalam tekanan dari berbagai pihak. Mereka mungkin bisa merahasiakan hubungan mereka, namun itu takkan bertahan lama. Akashi berasal dari keluarga tersohor, mereka tidak akan membiarkan perkara tersebut begitu saja." Banyak permasalah yang dihadapi oleh orang-orang yang terlibat dalam hubungan seperti itu. Ketidak setujuan dari pihak keluarga, diskriminasi oleh masyarakat dan berbagai macam persoalan lain.

"Lagipula…memikirkan kemungkinan 10 atau 20 tahun yang akan datang. Furihata juga pasti ingin memiliki keluarga kan?" Itu bukan sesuatu yang dapat diwujudkan dalam hubungan sesama jenis.

"Fukuda…"

"Aku hanya ingin…memberi kesempatan bagi mereka berdua…" Fukuda menambahkan dengan nada pelan.

Fukuda adalah orang yang baik. Satu-satunya hal yang diharapkannya hanyalah kebahagiaan sahabatnya dan agar hubungan mereka tidak berubah apapun yang terjadi.

.


.

Di atap gedung sekolah Rakuzan bagian utara. Tempat yang secara khusus menjadi area pribadi bagi sang penyendiri Mayuzumi Chihiro selama jam istirahat siang, tempat yang sempurna baginya untuk membaca dan bebas dari segala macam gangguan. Walaupun ia tak pernah mengakuinya terang-terangan, atap sekolah merupakan tempat yang penting dikebanyakan sci-fi light novel yang dibacanya. Seperti pertemuan yang ditakdirkan atau mennemukan benda yang aneh. Singkatnya, Mayuzumi adalah pemimpi dengan imajinasi tingkat tinggi.

Walau begitu, ia memang bertemu dengan alien[2] di atap gedung sekolah jadi mungkin tidak sepenuhnya salah untuk percaya atap gedung sekolah memang tempat sakral terjadi hal-hal yang aneh dan tak dapat dijelaskan dengan akal sehat.

"Maafkan karena sudah menginterupsimu,"

Mayuzumi menutup light novel yang tengah dibacanya dan matanya terarah keapada dua figur asing yang berjalan memasuki atap sekolah. Ia langsung megenali mereka berdua. Pasangan kombinasi yang menjadi anggota inti Seirin. Pemain nomor punggung 10 Kagami Taiga dan 11, Kuroko Tetsuya.

Meski hanya sesaat, Kuroko dapat melihat dengan jelas sampul depan light novel di tangan Mayuzumi. Tokei-jikake no ringo to hachimitsu to imōto[3] dengan warna hangat dan cerah menghiasi halaman depan sampul dengan gambar gadis berambut merah magenta dan mata biru tengan tersenyum. Ditulis oleh author Taiyaki Anko dan ilustrasi oleh Uchimi Aza.

Fantasi sci-fi light novel? Kuroko mengangkat alisnya, tampak tertarik dengan pilihan bacaan Mayuzumi.

"Oh, dia senior yang juga menggunakan misdirection di winter cup. Orang dengan pandangan mirip mata ikan mati." Alis Mayuzumi berkedut mendengar sebutan yang diberikan Kagami padanya. Apa mayoritas junior-junior yang dikenalnya tidak punya sopan santun memperlakukan senior mereka?

"Selamat siang Mayuzumi-san. Mibuchi-san menyuruh kami untuk datang kemari dan bersembunyi untuk sementara waktu." Kuroko menjelaskan saat ia merasakan tatapan menusuk Mayuzumi kearah mereka. Tampaknya ia amat kesal karena waktu istirahatnya dalam ketenangan diinterupsi. "Dia dalam perjalanan kemari untuk memanggil Hayama-san dan Nebuya-san."

Bagus! Lebih banyak lagi orang yang akan datang untuk menginterupsi waktu istirahatnya. Tidak bisakah mereka meninggalkannya untuk menikmati waktunya membaca light novel? Dia sudah pensiun dari klub basket, apapun masalah mereka tidak ada kaitannya dengannya lagi.

"…Apa yang kalian lakukan disini?" Pertanyaan itu yang pertama keluar dari mulut Mayuzumi sebagai pengganti kata sapaan. Ia benar-benar tidak menyangka akan melihat hari dimana kedua pemain Seirin menginjakkan kaki dalam teritorinya. Bukannya melanggar peraturan sekolah untuk membawa orang asing masuk tanpa pemberitahuan? Terutama saat jam sekolah?

Apa yang dipikirkan oleh si Mibuchi itu sih?!

"Yah, Mibuchi-san bilang kami tidak boleh menarik perhatian lebih dari ini. Dan menyuruh kami kemari, dia bilang tidak ada seorangpun selain Mayuzumi-san yang datang kemari." Remaja berambut biru itu menjelaskan.

Tentu saja, kalau dilihat dari sudut pandang mereka, tentu saja tempat ini yang paling aman untuk bersembunyi karena hampir tak pernah ada orang yang datang ke atap sekolah ini.

"Maaf, sudah bersedia menunggu." Begitu sosok berambut hitam itu memasuki atap sekolah dia langsung menyadari tatapan tajam Mayuzumi yang diarahkan padanya, meminta penjelasan atas kejadian ini.

Namun ia dengan tenang tidak mengabaikan tatapan tersebut dan berjalan kearah Kagami dan Kuroko diikuti oleh Hayama dan Nebuya dibelakangnya. Dia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan Mayuzumi yang diam namun mematikan.

"Uwaa! Dia serius! Saat aku mendengarnya dari Reo-nee kalau kalian datang kemari kukira dia cuma bercanda!" Hayam berseru riang disaat ia menyapa kedua kelas satu anggota regular Seirin tersebut.

"Kalian beruntung karena kalian datang tepat pada jam istirahat siang. Minumlah ini kalian pasti kehausan." Mibuchi memberikan dua minuman kaleng yang langsung diterima dengan senang hati oleh Kagami dan Kuroko.

"Ou, Thanks." Kagami menarik penutup kaleng itu secepatnya dan langsung meminumnya hingga tandas. Ia sudah kehausan sedari tadi.

"Terima kasih banyak Mibuchi-san." Kuroko menganguk menunjukan rasa terima kasihnya dan perlahan menyesap miliknya.

"Padahal aku berharap kalian juga bisa membawakan makanan untuk kami, aku kelaparan nih." Kagami mulai mengeluh setelah menghabiskan minuman kalengnya.

"Kagami-kun sudah cukup beruntung karena tidak diusir setelah masuk tanpa ijin, jangan berharap terlalu tinggi." Kuroko memperingatkannya.

Kagami mendecih dan menjawab sambil menggerutu. "Iya, aku tahu, aku tahu."

"Aku hanya punya satu roti Yakisoba sisa makan siang, apa kau mau?" Nebuya menawarkan sebuah roti yang dikeluarkannya dari saku jas sekolahnya.

"Serius?! Kau orang yang baik! Terima kasih banyak!" Kagami menerima makanan itu dengan penuh suka cita dan dengan cepat menghabiskannya.

"Sekali lagi terima kasih atas bantuan kalian." Kuroko kembali berkata dan menambahkan sambil melirik sekilas kearah Mayuzumi. "Dan maafkan karena kami sudah merepotkan kalian dengan kedatangan kami yang tiba-tiba." Senior berambut abu-abu itu hanya memutar bola matanya sambil mendengus seolah mengatakan 'benar sekali!'

Remaja berambut biru itu lalu melanjutkan penjelasannya. "Kami tengah dalam perjalanan darma wisata sekolah kemari dan ingin menemui kalian dan juga, Kagami ingin bertanding melawan kalian dalam permainan basket meski hanya sekali saja."

"Hmm…kau harus menunggu sampai sekolah selesai kalau begitu."

"Begitu ya? Kalau begitu rasanya kami tidak bisa, kami harus pulang ke penginapan sebelum matahari terbenam." Kuroko terdengar sedikit kecewa.

"Tidak apa-apa kan kalau cuma satu pertandingan saja? Terlambat sebentar juga tidak akan ada yang menyadarinya!" Kagami bersikukuh agar bisa setidaknya main dalam satu pertandingan. Apalagi mereka berhasil sampai ke Rakuzan, sayang bila harus melewatkan kesempatan ini.

"Kagami-kun, kita tidak boleh merepotkan yang lainnya lebih dari ini. Kalau sampai kita ketahuan membolos, Furihata-kun dan yang lainnya akan terkena imbasnya." Kuroko mengingatkan, dia harus memikirkan yang lainnya juga.

"Omong-omong, dimana Akashi-kun?" Kuroko menoleh kearah ketiga uncrowned king dihadapannya. Keheningan langsung menyelimuti atmosfer yang tadinya cerah ceria di sekeliling mereka karena pertanyaan tersebut, membuat pemuda berambut biru langit itu menyadari ada sesuatu yang salah.

Mibuchi hanya dia dan memalingkan wajahnya sementara Hayama dan Nebuya saling melirik satu sama lain, seolah memberikan isyarat salah satu dari mereka harus menjelaskan.

Pikiran akan sesuatu yang buruk terjadi pada mantan kapten berambut merahnya itu membuat Kuroko khawatir. Ada apa ini? Apa ini sesuatu yang tidak seharusnya mereka ketahui?

Terakhir kali ia bertemu dengan Akashi, dia tampak baik-baik saja. Walaupun begitu sulit bagi siapapun untuk mengetahui bila ada sesuatu yang terjadi pada pemuda berambut merah cerah itu. Mungkinkah…ada sesuatu yang tidak disadari oleh Kuroko?

"Aku mendengar pembicaraan antara kelas satu pagi ini. Katanya Akashi pergi untuk menemui klien ayahnya jadi dia tidak masuk sekolah hari ini." Hayama akhirnya memutuskan untuk menjawab. Ia berusaha memecah atmosfir berat tersebut dengan tawa kecil namun kedengarannya malah canggung dan terlalu dipaksakan.

"Jadi kita tidak bisa bertemu dengannya? Sayang sekali, padahal aku ingin melawannya sekali lagi!" Kagami tampak tidak menyadari perubahan atmosfir tersebut, dikarenakan dia terlalu fokus ingin bermain basket.

"Dia belum memberitahukannya padamu rupanya." Nada suara dingin dari Mibuchi membuat Kagami dan Kuroko terkejut. Pasalnya dari semua anggota Rakuzan, Mibuchi-lah yang paling dekat dengan dan dia selalu menunjukan rasa sayang yang berlebihan pada adik kelas merangkap kaptennya tersebut.

"Apa ada sesuatu yang salah dengan Akashi-kun?" tidak sanggup membendung rasa penasarannya lebih lama lagi, Kuroko memutuskan untuk bertanya.

Pertanyaannya sekali lagi disambut oleh keheningan. Mibuchi tampaknya tidak mau menjelaskan soal itu dan Hayama dan Nebuya tampak berpikir keras bagaimana menjawab pertanyaan tersebut. Mereka berdua berusaha tidak mengungkit topik tersebut selama dua bulan terakhir.

"Akashi berhenti dari klub basket semenjak dua bulan yang lalu." Seluruh mata tertuju kearah pemuda berambut abu-abu yang kini sudah melanjutkan membaca light novel. "Dia sudah menyerahkan surat pengunduran diri pada pelatih." Lanjutnya dengan ekspresi cuek.

Meskipun Mayuzumi terdengar menyatakannya secara terang-terangan, sesungguhnya Hayama dan Nebuya berterima kasih bukan mereka yang harus mengatakan hal tersebut.

Mata Kagami dan Kuroko membelalak mendengar infromasi yang tak pernah mereka sangka akan dengar tersebut.

Masih tidak percaya, Kuroko memulai. "Akashi-kun…melakukan…"

"Apa katamu?!" Kagami mengakhiri, sedikit menaikkan nada suaranya.

.


.

Sudah 30 menit berlalu semenjak mereka meninggalkan tempat mata air Otowa. Kedua pasangan muda mudi itu melanjutkan perjalanan mereka dalam keheningan, sesekali berkomentar akan sesuatu yang menarik perhatian mereka.

Mereka berdua sama-sama tipe pendiam dan biasanya tidak pernah menjadi pembicara utama dalam grup mereka. Kurangnya rasa percaya diri dikombinasikan dengan kurangnya pengalaman mereka menghadapi lawan jenis memperpanjang keheningan diantara mereka.

Disaat seperti ini Furihata benar-benar iri akan kemampuan natural Kiyoshi. Seniornya itu dapat dengan mudah membaca situasi, memulai topik dan mengangkat mood semudah membalikkan telapak tangannya.

Mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang sepi dekat jalanan utama. Tempat itu amat sepi, dikarenakan kebanyakan pengunjung berkumpul di tempat-tempat yang menarik perhatian sehingga tempat itu jadi terbengkalai.

Furihata dapat melihat beberapa kendaraan melintas di jalanan luar dari tempatnya berjalan.

"Aku berharap kita bisa datang pada musim semi, mereka bilang pemandangan sakura mekar disini amat indah, cocok untuk Hanami." Tanimura merenggangkan badannya dan berjalan lurus kedepan, mendahului Furihata.

"Hanami ya? Kedengarannya menyenangkan." Furihata menjawab dan melihat ke sekelilingnya. Memang benar, banyak pohon-pohon Sakura yang tidak mekar pada musim ini tapi pasti terlihat amat cantik pada musim semi.

Mereka benar-benar kelihatan seperti pasangan yang tengah pacaran saat jalan berdua di tempat ini..sayangnya, tidak ada Happy ending yang menanti diakhir kencan romantis dan singkat ini.

Tidak ada cara yang mudah untuk menolak pernyataan cinta seseorang, apalagi seorang gadis. Namun Furihata sudah merencanakan hal ini sejak awal. Ia dengan sengaja mengajak Tanimura ketempat sepi, dimana hanya ada mereka berdua. Memang sulit, namun harus dilakukan karena ini satu-satunya kesempatan ia dapat melakukannya tanpa campur tangan yang lainnya.

"Tanimura-san, ada sesuatu…yang ingin kukatakan padamu…"

Pandangan lembut dan sabar yang diarahkan padanya membuat Furihata semakin sulit untuk melanjutkan.

"Aku tahu…kau bermaksud menolakku bukan?" Kata-kata itu membuat Furihata amat terkejut. Sepertinya Tanimura tidak sepolos dan senaif yang diduganya sebelumnya.

"Aku bisa menduganya, dari sifatmu akhir-akhir ini." Bahu Tanimura sedikit menurun dan ia menundukan kepalanya. Meski Furihata tidak dapat melihat ekspresinya ia yakin gadis itu pasti amat sedih.

Furihata merasa amat bersalah, Ia mempertanyakan dirinya sendiri, kenapa dia tega menolak seorang gadis seperti ini?!

Dia mengelus bagian belakang kepalanya. Mati-matian mencari kata-kata yang tepat namun sekeras apapun ia berpikir ia tetap tidak menemukan kata yang tepat untuk dikatakan dalam situasi seperti itu. Apa yang bisa dikatakannya untuk mengurangi rasa sakit Tanimura?

Dia tentu tidak bisa mengatakan kata-kata seperti 'Kita masih bisa menjadi teman kan?' dari semua orang, dia seharusnya tahu sesakit apa rasanya menghadapi penolakan. Walau begitu, menolaknya masih merupakan keputusan yang lebih baik daripada berpacarannya dengannya tanpa rasa cinta. Itu tidak adil baginya dan takkan ada yang bahagia dengan keputusan seperti itu.

Setelah terdiam cukup lama, Furihata akhirnya berbicara. "Maafkan aku…aku…"

Sebelum Ia sempat melanjutkan kata-katanya mendadak Tanimura menoleh kearahnya dengan ekspresi marah. Ini pertama kalinya Furihata melihatnya dengan wajah kesal seperti itu. "Jangan minta maaf!" seru gadis itu dengan marah. "Kau hanya akan membuatku mengasihani diriku sendiri!"

Tanimura kemudian menoleh ke bawah dan mengecilkan volume suaranya. "…Tapi…kenapa? Apa…aku?" Bibirnya gemetar saat kata-kata itu keluar dari mulutnya. Matanya tampak basah oleh air mata di pelupuk matanya. "Apa ada sesuatu yang kurang dariku?"

Ini adalah cinta pertamanya, pernyataan cinta pertama dan dia tentu saja takut akan penolakan. Masa-masa SMA adalah masa dimana kisah cinta berkembang seperti bunga pada musim semi. Penolakan tentu saja skenario paling buruk yang bisa dialami oleh gadis yang tengah jatuh cinta.

"Ti-tidak! Tentu saja tidak!" Sejauh yang dilihatnya. Menurut Furihata, Tanimura adalah sosok yang sempurna! Dia gadis yang manis, ramah, baik hati, sopan dan feminin. Dia memiliki semua kriteria sebagai pacar idaman cowok-cowok seusianya. Dia bahkan masih berpikir, sangat disayangkan gadis seperti Tanimura menyukai orang yang biasa-biasa saja sepertinya.

"Hanya saja…aku menyukai seseorang…" Furihata menghela nafas. Tanimura berhak untuk mengetahuinya.

"Apakah perasaanmu mutual ataukah bertepuk sebelah tangan?"

Ugh! Pertanyaan Tanimura tepat sasaran! Meski Furihata sendiri masih tidak yakin kalau perasaannya cukup kuat untuk disebut cinta tapi yang jelas ia menyukai Akashi lebih dari sekadar teman.

"Itu…" Remaja berambut cokelat itu mendadak berhenti sesaat. Dia menutup mulutnya, menyakitkan memang namun ia harus mengakui fakta itu, pada Tanimura dan pada dirinya sendiri. "…bertepuk sebelah tangan…kurasa orang itu bahkan tidak menyadari perasaanku…" Dia berkata dengan senyum pedih.

"Kalau begitu, itu artinya aku masih punya kesempatan bukan?" Untuk sesaat sinar harapan kembali terlihat dimatanya mendengar pernyataan Furihata. Namun saat pemuda berambut cokelat itu memalingkan wajahnya menghindari tatapannya, Tanimura tahu jawabannya sudah jelas.

"Tidak adil…kenapa kau harus jatuh cinta pada orang lain? Kenapa aku tidak bisa menjadi orang itu?" Suara Tanimura menjadi serak karena tangisan yang tertahan. Ia terdengar amat frustasi dan putus asa.

"Maafkan aku…"

"Sudah kubilang jangan minta maaf!"

Furihata tertunduk, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan Tanimura waktu untuk mengontrol emosinya.

"Aku benar-benar berpikir kau gadis yang baik. Aku yakin kau pasti akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku." Orang yang dapat melindunginya dan membahagiakannya dan memberikannya hal yang tidak dapat di berikan olehnya.

Seketika itu juga pupil kecil Furihata membelalak saat merasakan rasa hangat oleh Tanimura yang tiba-tiba menghambur ke dadanya. Memeluknya dengan sangat erat.

"Ta-Tanimura-san?" Semuanya terjadi begitu cepat, Furihata bahkan tidak memiliki waktu untuk bereaksi akan perlakuan yang sangat tiba-tiba itu.

"Setidaknya biarkan aku memelukmu…walau hanya sekali ini saja." Gadis itu berujar lirih.

Furihata terdiam saat merasakan sesuatu yang lembab dan hangat dipundaknya saat Tanimura membenamkan wajahnya di sana. Dia menyadari tangisan yang sedari tadi ditahan oleh gadis itu akhirnya pecah dan ia tidak ingin Furihata melihatnya menangis.

Mengikuti instingnya, Furihata mengangkat tangannya dan mengusap pundak gadis itu dengan lembut dan tangan yang lain memeluk pinggang Tanimura dengan erat. Dia merasa ini satu-satunya hal yang dapat dilakukannya.

Tidak ada kata-kata yang dapat meringankan kesedihan Tanimura jadi ia memutuskan untuk menutup mulutnya.

Meskipun menyakitkan, pengalaman patah hati dapat membantu pertumbuhan seseorang. Itu artinya mereka berhasil menaiki satu langkah lagi menuju puncak tangga kedewasaan. Furihata yakin, pengalaman ini dapat membantu membuat mereka lebih kuat dimasa depan.

.

.

Di luar area kuil tampaklah sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan. Beberapa pejalan kaki disekitarnya menunjukan ketertarikan akan mobil tersebut. Beberapa bersiul dan melontarkan komentar kagum akan mobil tersebut. Kendaraan mahal seperti itu tentu akan menarik perhatian banyak orang.

Didalam mobil tersebut, tampak sesosok remaja berambut merah yang bersandar dikursi penumpang. Wajahnya datar, sama sekali tanpa ekspresi sementara mata merahnya mengamati pemandangan diluar kaca jendela mobilnya namun pandangannya terfokus pada satu figur yang familiar.

Keintimannya sudah jelas terlihat dari bagaimana Furihata mengelus punggung gadis dalam dekapannya dengan lembut, penuh dengan kasih sayang sementara tangannya yang lain memeluk erat pinggang gadis tersebut.

Apalagi suasana yang mendukung, tempat yang sepi dan teduh dimana tidak ada pengunjung lain disekitar mereka membuat mereka terlihat seperti satu-satunya pasangan didunia. Dari segi manapun, pemandangan itu benar-benar seperti cerita romantis yang sempurna.

Akashi paham dia tidak seharusnya menginterupsi keadaan itu. Keberadaannya hanya membuat situasi menjadi canggung, dia seharushnya pergi dari sini secepatnya dan membuat alasan pada Furihata bahwa ia tidak dapat bertemu dengannya karena urusan mendadak atau semacamnya.

Namun, dia tidak bisa memalingkan pandangannya dari pemandangan dihadapannya. Seakan-akan suatu energi yang kasat mata membuatnya mustahil untuk mengalihkan pandangannya.

Kenapa? Bahkan Akashi mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri.

Secara tidak sadar Akashi mengeratkan kepalan tangannya. Dia dapat merasakan kuku-kukunya menancap dalam telapak tangannya. Perasaan marah dan benci bercampur dalam dadanya. Perasaan yang sama yang dirasakannya saat ia menyangka Furihata berpacaran dengan seorang cewek.

Sekarang, melihatnya secara langsung seperti ini membuat rasa sakitnya menjadi berkali-kali lipat.

Tidak…ini salah…tidak seharusnya seperti ini…dia seharusnya senang temannya sudah mendapatkan pacar. Dia seharusnya menyelamatinya dan ikut berbahagia. Dia sudah memberikan Furihata dorongan yang dibutuhkannya dan pemuda berambut cokelat itu akhirnya mendapatkan apa yang didam-idamkannya, seorang pacar. Pacar perempuan.

Namun…kenapa rasanya jauh lebih sulit dari sebelumnya?

Sudah berakhir

Akashi terkejut akan pemikirannya sendiri. Yang barusan itu terdengar seolah ia menerima kekalahan, tapi pada siapa? Gadis itu?

Meskipun ia mengakui ia memiliki perasaan yang menyerupai rasa suka secara romantis pada Furihata bukan berarti dia adalah miliknya kan? Furihata bebas untuk memilih siapa saja sebagai pasangannya karena mereka bahkan tidak terikat dalam hubungan apapun.

Semua ini terdengar salah, rasanya seolah Akashi bersaing dengan gadis yang tidak dikenalnya untuk memenangkan Furihata.

Lalu kenapa…Kenapa…dia merasa dikalahkan?

Bila ia berpikir seperti itu, seolah itu terdengar seperti…

Aku ingin berada di sisinya

Mata merah Akashi sedikit melebar saat ia menyadari perasaan aneh tersebut. Rasa cemburu, amarah, keinginan untuk memonopoli, perasaan posesif ini…

"Begitu rupanya…" kata-kata tanpa emosi itu meluncur keluar dari mulutnya.

Bukannya dia tidak menyadari perasaannya sendiri. Dia telah mengetahuinya sejak awal, hanya saja ia memutuskan untuk mengabaikannya. Dia tidak bisa menaruh kepercayaan akan perasaan yang tidak mungkin terbalaskan.

"Tuan muda, dimana anda ingin saya menurunkan anda?" Terdengar pertanyaan dari supir pribadi keluarga Akashi. Pria itu tampak bingung mengapa tuan mudanya tidak memberi perintah apa-apa setelah mereka sampai ketempat tujuan.

"Tidak." Akashi menjawab singkat dengan nada paling tenang dan kalem yang bisa dibuatnya.

"Maaf, bisa tolong diulangi?" Pria itu bertanya kembali, tidak sepenuhnya memahami arti kata tuan mudanya.

"Aku ingin kau mengantarku kembali ke mansion." Keputusannya jelas dan tegas.

"Dimengerti, kita akan kembali ke mansion." Menyadari perubahan yang tiba-tiba, supir pribadi itu memutuskan tidak mempertanyakan keputusan tuan muda keluarga Akashi dan melaksanakan permintaannya.

.


.

Di masa mudanya banyak orang yang sering membuat kesalahan, terutama pada puncak masa remaja yang tengah mengalami pubertas. Mereka sering mensalah artikan akan rasa hormat dengan afeksi romantis dan rasa kagum sebagai cinta, bahkan hubungan persahabatan mejadi sesuatu yang samar dan dipertanyakan. Kebanyakan diantara mereka akan melupakannya begitu mereka beranjak dewasa. Mengingatnya sebagai kesalahan anak-anak.

Meski Akashi tidak yakin apakah hal itu juga berlaku untuknya. Semenjak dari kecil ia dibesarkan dengan tata krama yang sempurna seperti yang diharapkan sebagai penerus kepala keluarga Akashi. Dari usia yang sangat muda Akashi sudah menunjukan kematangan dan perilaku layaknya orang dewasa dari sifat dan cara berpikirnya sesuai dengan ekspetasi orang-orang disekitarnya.

Sebagai gantinya ia mengorbankan sebagian besar masa kecilnya.

Meskipun perasaannya terbukti memang tulus dan bukan hanya kesalahan persepsi masa muda, Akashi tidak yakin hubungan itu dapat bertahan lama. Melihat dari sudut pandangnya, ia tidak yakin bisa memiliki hubungan romantis yang normal apalagi melibatkan sesama jenis.

Terlibat dalam hubungan homoseksual bikan sesuatu yang akan diterima oleh ayahnya. Bahkan ia yakin orang tuanya akan membencinya setengah mati.

Ayahnya, Akashi Masaomi adalah orang yang mengharapkan kesempurnaan yang sejati dari penerus keluarganya. Ia pasti akan memilihkan calon pasangan hidup yang sesuai untuknya. Dia benci untuk mengakui semuanya sudah diatur baginya dimasa depan. Selama ia memenuhi ekspetasi ayahnya semuanya akan berjalan mulus baginya.

Itu adalah rencana yang telah disusun baginya semenjak ia lahir. Akan sangat egois baginya bila mengharapkan akhir bahagia seperti dalam dongeng.

Wajah Furihata yang tersenyum lebar terlintas dalam pikirannya saat Akashi menutup matanya.

Sesungguhnya Akashi merasa takut. Dia takut bergantung pada kebaikan yang ditawarkan Furihata dan terikat padanya. Itu sama saja dengan kelemahan, sesuatu yang tidak diijinkan sebagai penerus keluarga Akashi!

Sebelum ia mengenal Furihata, ia tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang sanggup menarik begitu banyak perasaan dalam dirinya yang sudah lama tertutup rapat seperti ini. Ia jadi teringat pembicaraannya dengan Kuroko di atap pada acara festival kebudayaan sekolah Seirin.

Saat jatuh cinta dia tidak bisa tidak merasa egois, bisa dibilang rasa cinta menentang logika.

"Pemandangan yang langka, mendapatimu terganggu oleh sesuatu yang amat sepele." Akashi mengangkat wajahnya dan melihat refleksi bayangannya di kaca. Mata merahnya bertemu pandang dengan mata dwiwarna emas dan merah di hadapannya, personalitinya yang lain. Bagian dirinya yang lain yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri.

"Apa dia begitu penting bagimu?" personaliti yang lain itu kembali bertanya, kali ini disertai tawa renyah dan nada mengejek dalam suaranya. "Menarik, aku tak pernah menyangka kau bisa tertarik pada seseorang sepertinya. Seseorang yang amat biasa-biasa saja. Beban yang tidak berharga."

Dia masih mengingat pemuda berambut cokelat itu, Furihata Kōki. Pemain dengan kemampuan dibawah rata-rata yang menghadapinya di pertandingan Winter cup dan pengganggu yang menginterupsi reuni anggota Kiseki no sedai.

Akashi menggiggit bagian bawah bibirnya mendengar komentar tajam tersebut.

"Setidaknya…dia orang yang baik." Ujarnya.

"Baik? Jangan membuatku tertawa, tidakkah kau berpikir kau menilainya terlalu tinggi?" Nada suaranya dipenuhi rasa kesal dan merendahkan.

"Sejak kapan kau jadi orang yang selemah ini?" Akashi meringis mendengar pertanyaan itu.

"Sejak kapan kau lupa?"

"Tidak peduli seperti apa kau menyayangi dan menjaga mereka, orang-orag yang berharga bagimu akan meninggalkanmu." Kata-kata personaliti yang lain itu menetes seperti racun, rasanya seperti ratusan belati menembus tubuhnya mendengar kebenaran yang menyakitkan itu.

Seperti waktu itu

Di saat ia menyalahkan takdir yang kejam yang merenggut ibunya tercinta dari sisinya untuk selamanya.

Disaat ia tidak dapat melakukan apa-apa saat ia melihat anggota Kiseki no sedai perlahan-lahan berubah dan pergi meninggalkannya satu demi satu.

Dia mengingat saat dimana ia memutuskan untuk berhenti mempercayai orang lain dan mengandalkan dirinya sendiri untuk mencapai segala sesuatu.

"Kau seharusnya memahaminya lebih dari siapapun. Itulah alasan kenapa aku diciptakan." Akashi ingin melarikan diri dari kenyataan, dari masa lalunya yang menyakitkan. Dia ingin memalingkan wajahnya dari kenyataan meski hanya sesaat.

"Kau takut ditinggal sendirian." Pemuda berambut merah itu menutup matanya.

"Biar bagaimanapun…manusia adalah makhluk yang lemah," Akashi dapat mendengar suara personalitinya yang lain berbisik ditelinganya. "Jangan takut, tutuplah matamu dan serahkan semuanya padaku seperti waktu itu."

Dia bisa merasakan jari-jari kasat mata menyentuh bagian belakang lehernya.

Tanpa mengatakan apapun, Akashi mengarahkan kepalan tangannya dengan keras kearah kaca dihadapannya dengan cepat. Benturan keras itu mengakibatkan kaca tersebut pecah dan ia mengamati bagaimana serpihan kaca berbentuk seperti permata kecil itu jatuh kelantai bersama dengan tetesan darah yang berasal dari kepalannya yang terluka karena pecahan kaca yang meggores kulit putihnya.

Menorehkan luka baru pada kepalan tangan kanannya.

Ekspresinya kosong dan menakutkan namun juga dipenuhi kesedihan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Dia mendengar suara keras benda yang terjatuh dibelakangnya. Akashi tidak perlu berbalik untuk mengetahui yang membuat suara tersebut adalah sang gadis pelayan yang ditugaskan untuk membawakan baju ganti untuknya. Pelayan muda itu tampak ketakutan; tubuhnya gemetar saat ia menyaksikan kejadian didepan matanya.

Setelah ia sedikit tenang, pelayan itu berlari keluar menelusuri lorong mansion tersebut sambil meneriakkan "Tuan muda, tuan muda melukai dirinya sendiri!"

Beberapa detik kemudian, Akashi dapat mendengar suara langkah kaki berlari menuju arah ruangannya. Dia dapat merasakan rasa sakit di kepalan tangannya namun memutuskan untuk mengabaikannya.

Pada tahap ini, ia tidak yakin akan dirinya sendiri.

.

.

Dibagian belakang kuil Kiyomizudera.

Matahari sudah hampir terbenam dan para murid-murid sudah puas melihat-lihat disekitar kuil dan akan segera kembali ke penginapan dengan bus. Bersiap-siap untuk kembali ke Tokyo besok.

Dia tidak datang…kurasa dia mungkin sibuk sekali hari ini… Furihata berpikir sambil menarik nafas kecewa. Ini sudah ketiga kalinya ia mencoba menelepon Akashi dan semuanya berakhir dijawab oleh mesin penjawab otomatis. Salahnya juga sih, Akashi sudah mengatakan kalau dia sibuk sekali dia mungkin tidak punya waktu untuk menjawab telepon darinya.

"Apa boleh buat…" Furihata berbisik pada dirinya sendiri dan menutup ponselnya.

"Oi, Furihata, ayo pulang!" Pemuda berambut cokelat itu mendengar Kawahara memanggilnya dari kejauhan dan memutuskan untuk menuju kearah temannya.

Dia ingin bertanya kemana saja Kawahara dan Fukuda pergi seharian itu. Kenapa mereka meninggalkannya dengan Tanimura seperti tadi. Dia harus menginterogasi mereka habis-habisan malam ini.

Namun, ia merasa puas bisa memberikan Tanimura Kyoko jawabannya.

Dia berharap Kagami dan Kuroko berhasil kembali ke penginapan sebelum mereka tiba agar para guru tidak curiga.

.


End of chapter 12


.

A/N:

Rasanya sedikit kurang karena Kuroko ga ada sama mereka waktu mereka pergi ke kuil utama Kiyomizudera. Dia bisa berkomentar soal prakter bungee jump dari panggung Kiyomizu yang bisa mengambulkan permintaan orang.

Praktek ini sering dilakukan di masa Edo. Yang selamat setelah melakukan bungee jumping katanya keinginan mereka akan dikabulkan. Selama masa Edo terhitung 234 orang yang melakukan bungee jumping dan 85 persen selamat setelah itu prakteknya jadi ilegal.

[1] Kannon Bosats dikenal sebagai dewi murah hati yang terkenal dengan kemampuannya mengabulkan keinginan orang-orang. Membantu manusia-manusia yang kesusahan di dunia. Di Kiyomizudera gambarannya adalah patung wanita dengan 11 wajah dan seribu tangan dan mereka hanya menunjukkan patung itu setiap 33 tahun. (Sejauh yang aq tahu)

[2] Disaat pertama Mayuzumi bertemu dengan Akashi dia menyebutnya alien. (Ada di Knb replace novel)

[3] Tokeijikake no ringo to Hachimitsu to Imōto. ( tran. Englishnya adalah A clockwork apple and honey and little sister dan indonesia berarti mesin jam, apel dan madu dan adik perempuan, kira-kira bergitulah) seri light novel yang dibaca Mayuzumi