CWCTH

Chapter 13

Jung Yunho and Shim Changmin

Hello everyone, this is YOUR daily dose of HOMIN XD

semua warning dan saudara-saudaranya masih sama. Typos everywhere XD

Love You, and..

Enjoy!

.

.

.

"Hey! Kau mengambil brokoliku!" pekik Changmin melotot pada Yunho.

"Wae-yo? Kau tidak memakannya, sedari tadi kau hanya melamun, atau menatap sayuran ini, kau gulir ke kanan dan kekiri, tapi samasekali tak kau cicipi." jawab Yunho, datar. Akan tetapi ia membuat senyuman, senyuman tipis namun tampak berat.

"Aku makan! Aku hanya belum saja. Kembalikan! Itu makan malamku." timpal Changmin setelah ia mendengus berat.

"Kau pulang saja." Ucap Yunho kemudian tanpa membuat pandangan.

"Apa?"

"Kau pulang saja!" ulang Yunho, meletakkan badan sendok disamping mangkuk.

"Oh!" Changmin tertawa kesal. "setelah tadi kau mengundangku, sekarang kau menyuruhku pulang seenakmu? Apa-apaan kau Hyung?" Changmin mendadak marah.

"Kau tidak menyukai tempat ini, kau tidak suka berada denganku disini."

"Andwe-yo! Bukan seperti itu. Aku tadi hanya…

.

.

.

.

Siang menjelang datang, Jung Yunho telah tampak rapi dalam balutan kemeja putih berlengan panjang, celana jeans rompang pada bagian lutut kanan dan sepasang sepatu merah kecokelatan pada dua kakinya. Ia telah siap melangkah meninggkan rumah, lain dengan Shim Changmin yang masih menelungkup dibawah selimut tebal yang membungkus tubuhnya.

"Kutunggu kau ditempat biasa untuk makan malam. Cepat bangun, Changminie! Jangan terlambat. Aku pergi sekarang." Bisik Yunho pada telinga kanan Changmin.

Seperti biasa, membisikkan pesan kecil pada Changmin sebelum Yunho pergi sudah menjadi rutinitas Yunho sebelum ia meninggalkan rumah dipagi hari. Sebenarnya tidak terlalu pagi, Yunho selalu melangkah keluar tiap akan pukul Sembilan, namun hal itu kerap membuat Changmin uring-uringan. Terlalu pagi, menggangu tidurnya, berisik, dan semacamnya adalah omelan yang Changmin keluarkan untuk Yunho, padahal bagi Yunho sendiri, keluar pagi tiap hari bukanlah keinginannya sendiri atau karena ingin bermain dengan orang lain.

"Ne, Hyung? Uh! Aku baru saja keluar rumah, kita bertemu dimana?" ucap Yunho, menjawab panggilan telephone dari managernya. "Oh, arraseo. Nee.. setengah jam lagi aku sampai disana. Oh, Bye!"

Yunho berjalan memasuki elevator untuk berjalan menuruni gedung, setelah dia menyempatkan diri untuk kembali menoleh pada pintu apartemen Changmin yang telah tapat terkunci. Beberapa saat kemudian setelah sampai ia di basement, Yunho berjalan cepat menuju letak mobil Soo Jin terparkir.

"Apa kau sudah menunggu lama?" serbu Yunho menempatkan tubuhnya didepan kemudi mobil.

Sudah biasa bagi Yunho untuk mengendalikan mobil Soo Jin, dan sudah bukan hal baru lagi bagi Soo Jin untuk memberikan kedali mobilnya pada Yunho jika mereka berdua bepergian menggunakan Swift merah milik Soo Jin. Terkesan aneh jika wanita yang menjadi nahkoda, menurut Soo Jin, maka dengan senang hati wanita ayu tersebut selalu berpindah tempat duduk dan memberikan kursi kendali untuk Yunho, tiap mereka berkendara bersama menggunakan kendaraanya.

"Belum lama." jawab Soo Jin, sembari mengeratkan tutup botol air mineral ditangannya. "jadi kita langsung ke rumahku?" tanyannya.

Yunho memutar lehernya, saat sabuk pengaman telah terpasang dengan benar, Yunho membuat wajah aneh, kemudian. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit dan kedua tangannya menelangkup membentuk sudut runcing didepan dada. "Mianhe-yo Soo Jin, o nae sarang. Aku sungguh sudah sangat siap untuk berangkat kerumahmu, tapi manager mendadak menghubugiku dan menyuruhku untuk datang kekantor, baru saja."

"Oppaa!" Suara Soo Jin melengking, ia membuang wajahnya. "kau sudah berjanji kita akan kesana pagi-pagi, kemudian siangnnya kita…"

"Tidak akan lama!" Yunho menyela. "aku janji tidak akan lama." Yakinnya.

"So what, now?" Soo Jin mengulum lidah. "untuk apa aku menjemputmu kesini jika kita tidak berjalan bersama ke tempat tujuan kita?"

Yunho mengembuskan nafasnya, ia mengulurkan tangan meraih pipi tirus Soo Jin dihadapan. Yunho perlahan kembali membuat kata, kalimat lumayan panjang yang tampak membuat Soo Jin jengah menggerak-gerakkan bola mata. Yunho seperti sedang membuat permohonan, ia bahkan terlihat menggoyang-goyangkan dua bahu Soo Jin agar gadis itu segera mengabulkan. Selanjutnya tak berselang lama setelah beberapa pukulan dan cubitan kecil tangan Soo Jin pada hidung Yunho, Soo Jin menganggukkan kepala, dan kemudian mesin mobil menyala. Yunho dan Soo Jin berkendara bersama menuju tempat yang Yunho pinta.

Selesai dengan lelaguan milik artis jepang yang Yunho suka, Million Reasons milik Lady Gaga favorite Soo Jin, menemani perjalanan Yunho dan Soo Jin menuju gedung agency ternama yang menaungi Yunho. Belum selesai lantunan suara merdu milik American singer tersebut berkumadang, Yunho telah mematikan stereo mobil Soo Jin bersamaan dengan berhentinya roda. Yunho telah sampai pada tujuannya, ia menepi.

"Terima kasih banyak, Noona." Ucap Yunho penuh canda.

"Aish! Menyebalkan sekali kau ini." Gerutu Soo Jin yang telah kembali berpindah dihadapan kendali mobil. "pastikan kau akan datang, atau sesuatu dari badanmu akan hilang!" ancamnya, menyipitkan mata.

"Aku pasti akan datang. Akan menyusulmu kesana!" tegas Yunho sembari ia memutar badan.

Setelah lambaian tangan Yunho tinggal, Yunho berlari memasuki gedung berpintu kaca, sementara Soo Jin kembali meroda menuju tempat yang ia sebut dengan rumah.

"Ah, tepat waktu sekali. Dimana beradal kecil itu?" suara manager menyerbu, sesaat ketika Yunho membuka pintu kayu ruang pribadi TVXQ.

"Aku datang untuk mewakilkan kami berdua," suara Yunho menggema, ia menunjukkan tatapan mata tak mau dibantah. "apa yang akan kita bahas hari ini?"

"Oh, itu.. tentang next show yang akan kita ikuti bersama semua SM artis. Kalian sudah tahu bukan?"

Yunho mengangguk, "Tahu." Ia merendahkan diri, duduk diatas kursi berputar didepan meja berbentuk bujur sangkar. "lalu?"

"Akan ada banyak kegiatan sebelum hari jadi, kalian berdua kompaklah seperti biasa. Jangan membuat group kalian berantakan. Jangan menyendiri-menyendiri seperti akhir-akhir ini. Coba katakan padaku kenapa hari ini kau tak datang berdua dengan Changmin lagi?"

Yunho berdehem kecil, diletakkannya Ukulele biru yang sempat dimainkannya, kembali keatas meja "Kami berdua sudah sangat paham dengan apa dan bagaimana hal yang akan kami hadapi didepan. Anyway, itu bukan hal baru untuk kami berdua. Dan tolong percaya saja pada Aku dan Changmin, jangan terlalu mendikte atau membatasi kami berdua, kami .." Yunho memuat jeda, ia memberdirikan tubuh, menggulung lengan kemeja sebatas sikunya. ".. saya tahu dengan apa yang akan dan sedang saya lakukan. Tidak ada niatan untuk membuat berantakan, jika kami tak sepaham tentang group yang kami besarkan, tentu kau sendiri tak akan ada didalam gedung ini, sebab tak akan ada yang kau kerjakan." Yunho menghadap pada managernya, ia menatap dekat. "I can handle things, like I wish that you would. Tolong kerjakan dan atur segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan saja, jangan menyentuh yang tidak perlu."

"Maksudku.." Manager gagu, ia mengatur kalimatnya sembari memperhatikan gerakan tubuh Yunho memutari meja, berhenti ia dihadapan jendela kaca. Yunho berdiri disana menunjukkan punggungnya.

"Dan.." Yunho berputar, memberi tatapan. Memotong kalimat sang manager yang bahkan belum mengeluarkan seluruh suaranya. "seharusnya kau bisa menggoreksi dirimu sendiri pula, mengapa aku dan Changmin telah cukup lama tak menghabiskan waktu berdua, tak tampak kompak, bahkan terlihat tak akrab seperti kami sebelumnya," Yunho kembali berjalan mendekat. "kau terlalu mencampuri pribadi kami berdua.. tolong jangan!" Yunho samar menggelengkan kepala, suaranya sama sekali tak terdengar kejam, ataupun menyeramkan, suaranya ringan dan lembut, bahkan ia tampak membuat senyuman, namun memberat dan penuh penekatan ketika kalimat panjangnya memasuki gendang telinga dari manager yang tampak gagap, menjilat bibirnya.

"B..ba.. baiklah, kita lanjutkan saja apa yang akan kita lanjutkan sekarang. Sebaiknya kau sampaikan hal ini nanti pada Changmin secara mendetail agar dia paham."

Yunho menganggukkan mata saat manager selesai berbicara, selebihnya setelah udara didalam ruangan yang sempat memanas perlahan kembali menyejukkan kepala, Yunho dan sang manager menghabiskan waktu hampir dua jam untuk meeting kecil membahas next show yang akan mereka selenggarakan.

Hampir pukul satu siang hari Yunho menunjukkan senyum lebar, menyapa pada junior yang sedang menyantap makan siang, sembari ia sendiri berjalan mantap menuju pintu keluar. Langkah panjangnya berhenti dihadapan pintu mobil, tempat yang akan ditujunya kemudian ialah sahabat.

"Ne, Ho Joon-ah? Kau dimana?" ucapnya pada sambungan telephone yang dia buat. "uhmm.. gwenchana-yo. Aku bisa menemuinya lebih dulu," Yunho mengayunkan tangan, dibukannya pintu tebal, lantas ia mendudukkan tubuh dibelakang kursi kemudi. "ne.. pastikan saja kau akan datang. Jangan buat aku lelah sendirian, oh, arrachi?" omelnya sembari menutup keras pintu mobil. "Ok.. Uhm! Ok. Sampai jumpa disana." tutupnya. "ke, Winsle County Town House, Pak." Ucap Yunho kemudian pada pengemudi taxi.

Perjalanan menuju rumah mewah milik Soo Jin tak membutuhkan waktu yang lama, setelah menghabiskan beberapa menit didalam taxi dengan bermain ponsel memperhatikan beberapa potret dirinya bersama dengan Changmin, Yunho mengulurkan dua lembar uang kepada sang pengemudi taxi, tanpa meminta sisa uang kembali.

Setelah mengucapkan salam dan terima kasih ringan, Yunho melangkah meniti anak tangga menuju pintu rumah bercatkan putih hampir keseluruhan.

"Aku belum sarapan." Serbunya tiba-tiba ketika wajah Soo Jin menyembul dari balik pintu yang terbuka, sesaat setelah Yunho menekan bell pintu rumah.

"Aiigoo.." Soo Jin mengerucutkan bibirnya. "ini sudah pukul satu lewat, bukan lagi jam sarapan, Oppa."

Yunho meringis, menunjukkan wajah lapar, setelah Soo Jin mempersilahkan, Yunho melangkah masuk sembari memegangi perut dan menggigit bibir bawah.

"Menurutmu bagaimana rumah ini?" tanya Soo Jin sembari sibuk tangannya menyiapkan makanan kecil untuk Yunho.

"Mewah." Sahut Yunho, mengedarkan mata. "Kau pintar sekali memilih hunian untuk keluarga." Sanjungnya.

"Tentu sajaaa!" bangga Soo Jin, tersenyum lebar. "Oppa akan menyesal jika tidak menikah denganku."

Yunho berdecih kecil, ia tertawa remeh. "Aku akan menyesal jika tidak melakukannya."

"Arraseo! Kau memang selalu teguh pada pendirianmu. Anyway, dimana Ho Joon Oppa? Dia belum datang juga?"

"Ah, iya dia akan telat, tapi tidak akan tidak datang. Omong-omong orang itu juga belum datang."

"Orang itu hari ini memang tidak akan datang, Dan dia itu punya nama, Oppa!" pekik Soo Jin, mendekat membawa seafood ramyeon dalam mangkuk besar untuk Yunho.

"Aish. Mengerikan sekali kau. Bagaimana akan betah aku menjadi suamimu." Candanya, disusul pukulan mantap Soo Jin pada lengan kanannya. "Kau punya charger? Ponselku sudah akan mati."

"Ah, kemarikan. Aku malas ke lantai dua, sepertinya didalam tasku ada mini powerbank." Soo Jin mengulurkan tangan, menyambut ponsel tipis yang Yunho berikan.

Siang yang tak lagi sedingin beberapa bulan terbelakang, membuat Yunho melucuti jacketnya lantas menyantap Ramyeon merah buatan Soo Jin dengan lahap. Tak lama kemudian disela Yunho menunduk mengunyah seafood, bell rumah Soo Jin kembali melengking. Ho Joon muncul dengan memeluk vas kaca bening, pesanan Soo Jin.

Beriringan dengan semakin teriknya matahari diatas kepala, Yunho Soo Jin, serta Ho Joon didalam rumah, duduk hampir berhimpitan berunding tentang segalam macam hal yang Soo Jin inginkan ada didalam pernikahan. Please Tell Me Why milik Freestyle menemani lempar kata antar mereka bertiga, lagu lawas original version dari Bu DE Bu Ai ini pun nyaris membuat Yunho mengantuk sebab suara dan melody yang ia dengar begitu menenangkan.

Berakhir pada pukul tiga sore, Yunho dan Ho Joon beriringan melangkah keluar dari rumah Soo Jin setelah mereka meninggalkan tawa dan salam yang tak biasa. Terlalu membosankan jika hanya lambaian tangan, maka tarik menarik pipi pun Yunho dan Ho Joon lakukan pada masing-masing pipi Soo Jin sebelum meraka keluar. Sebab sahabat tak sama dari sekedar teman, itu yang Ho Joon katakan, sebelum ia melesak kedalam kendaraan.

.

.

.

"Kau tidak pulang?"

"Mwo-ya?" Yunho mengangkat dagunya. "kau pikir aku sekarang sedang berada dirumah siapa?"

"Maksudku kerumah-mu biasanya. Changmin." kata Ho Joon seraya mengangkat bingkai photo minimalis kecil berisi wajah Yunho dan Changmin.

"Berikan!" dengus Yunho setelah berdecak keras. "jangan sentuh barang-barangku. Aku tahu kau tidak pernah mencuci tanganmu setelah kau dari kamar mandi." Desis Yunho, meruncingkan bibir.

"Geez! Kau saja! Tanganku selalu bersih, gila!" sungut Ho Joon menunjukkan telapak tangannya. Sementara itu, Yunho tetap diam, dia berkutat dengan Macbook merah dipangkuannya. "sudahlah maafkan saja dia, kau kan sudah sangat paham bagaimana sifatnya. Mungkin dia memang tidak berniat datang untuk makan malam denganmu karena memiliki alasannya sendiri."

"Iya! Dan alasannya karena dia tidak suka makan malam denganku. Padahal aku melakukan itu hanya karena aku tidak mau dia kelelahan masak untuk makan malam kami berdua."

"Kurasa bukan hanya itu alasanmu." Ho Joon tersenyum licik.

"Aish!" Yunho memutar kepala, diletakkannya Macbook merah ke atas meja. "kau tahu, aku lelah, Joon-ah! aku tidak mau selalu berpura-pura menjadi bantal untuknya. Aku bisa gila."

"Ayo kita keluar, kuantar kau kerumahmu itu!" tantang Ho Joon, menyambar jacketnya dari tangan sofa

"Tapi aku ingin dia sendiri menyadarinya, maka kulakukan ini semua. Aku malas dengan kata kasar dan segunung ego diatas kepalanya itu. Aku sakit dengan semua kekakuan pada dirinya." Namun Yunho tertahan, enggan memberdirikan badan.

"Kau juga malas dengan wajah sedihnya saat kau membentak dia?" Ho Joon kembali menghempaskan punggung pada sandaran sofa. "kau tidak lihat betapa lucu sekaligus menyedihkan lengkungan bibir kecewa Changmin? Dia pasti sangat sedih dan menangis setelahnya. Kau tidak ingat, sebab belati saja meleleh air matanya, apa lagi karena kau bentak, mungkin dia akan diet selama berbulan-bulan sampai dia kekurangan gizi lalu meninggal."

"Fuck off!" sungut Yunho seraya menyambar kepala Ho Joon dengan telapak tangan. "kalau kau mau mari, silahkan. Jangan ajak dia. Atau kau mau aku mencekikmu sekarang juga?"

Ho Joon tertawa-tawa, menepuk-nepuk punggung Yunho, sementara Yunho sendiri mengembusakn nafas berat kemudian melenggang kedalam kamar, lantas kembali keluar dengan casual jacket telah rapi membungkus badan.

Didepan wajah Ho Joon, Yunho menggerakkan kepala, tak membutuhkan kalimat panjang lagi Ho Joon sendiri telah dapat tenangkap arti gerakan yang Yunho buat. Mereka berdua beriringan keluar rumah, membuat langkah seirama sampai lift terbuka pada basement satu, tempat Yunho memarkirkan kendaraannya.

Mereka berdua berpisah disana, Son Ho Joon menuju mobil putihnya, sementara Jung Yunho akan berkendara menuju Rumah.

Belum sepenuhnya siang saat Yunho telah berdiri dihadapan pintu abu-abu apartemen Shim Changmin. Samar terdengar ocehan serta gugukan kecil Cheeto yang mungkin sedang meminta sarapan pada manusianya. Yunho perlahan menekan satu persatu kode pintu rumah, lantas ia buka tanpa menimbulkan suara, tampak Changmin tengah memunggungi pintu duduk di kursi makan memegang tinggi kalender bergambar wajahnya. Sementara Cheeto menunduk menikmati Tuna kalengan yang terlihat menggunung didalam mangkuknya.

"…Aish! Sebegitu telitinya kau menghitungku, tapi kau tidak menganggapku saat aku bilang aku benar-benar suka makan malam denganmu. Aku sungguh suka, hanya bagian didalam sini serasa malas sekali menemuimu sebab…"

Yunho menarik kembali kakinya, suara Changmin tak dapat ia dengar sepenuhnya sebab Cheeto yang telah menyadari kedatangan Yunho sudah menggongong keras hendak menyerbu kakinya yang sempat terantuk bilah pintu.

"Wae-yo Cheeto-yah? Apa ada orang diluar?" suara Changmin terdengar menderu dari balik pintu. Sementara Yunho yang memutuskan urung memasuki rumah, seketika ia membuat langkah panjang meninggalkan pintu yang kembali akan terbuka dari dalam.

Tak beberapa lama kemudian, saat pintu terdengar kembali menderam, Yunho pun kembali keluar dari persembunyian. Ia tersenyum semu menatap pintu yang telah kembali rapat. "Sebab apa? kenapa kau tak melanjutkan ucapamu?" kata Yunho pada bilah pintu. Ditatapnya sebentar, sebelum ia kembali memutar badan.

Pukul dua belas siang kurang lima belas menit, tidak berselang lama dari Yunho yang urung menemui Changmin. Gedung SME, Yunho berjalan beriringan dengan manager hendak menuju ruang pribadi TVXQ. Tempat dimana ia dan Changmin , manager dan juga beberapa staff inti tertentu akan mengadakan pertemuan-pertemuan penting membahas banyak hal berkaitan dengan semua kegiatan band.

Saat tengah menunggu lift terbuka, perhatian manager tetiba menyudut pada Changmin, Siwon dan Donghae yang tampak sedang bergurau keterlaluan dilobi ruangan.

"Ada apa ini? Kalian berisik sekali!" Kata manager menegur, berjalan mendekat pada tiga pria tinggi disudut lobi. Membuat Yunho terpaksa mengikuti langkah kakinya, mengekor manager berhenti dihadapan Siwon, Donghae dan Changmin.

Yunho tampak sedikit terperanga mendapati betapa rusaknya dandanan Changmin hari ini. Wajah Changmin tak berseri seperti ia biasanya, Changmin juga tak biasa memakai celana yang sama lebih dari satu hari, namun hari ini ia tetap memakai celana dari kemarin hari. Bibirnya pucat, rambutnya tampak basah, dan Changmin pun menundukkan kepala. Seperti tak ingin melihat Yunho dihadapannya.

Tak bohong jika sesungguhnya tawa Donghae, Siwon dan manager pada Changmin turut membuat Yunho sedikit geram. Namun sayang, Yunho telah banyak belajar dari Changmin yang biasanya akan biasa saja, atau bahkan akan turut tertawa keras bila manager atau orang lain menertawakan dirinya. Yunho diam, tak memberi banyak perhatian. Ia turut melenggang setelah sang menager menepuk ujung bahunya, menghendaki Yunho untuk mengikuti langkahnya.

Menjelang sore setelah meeting kecil yang tak berjalan sesuai jadual sebab Changmin yang datang dengan berantakan, Yunho menyesap ice cream bersama dengan Soo Jin ditengah taman kota.

"Dia berantakan sekali hari ini." ujar Yunho bercerita pada Soo Jin. "dia bilang Cheeto merindukanku.. haha .. bisa kau bayangkan itu?"

"Ish! Kenapa kau harus tertawa dengan itu? Mungkin dia mengucapkan itu sebab dia tidak bisa mnegatakan langsung betapa dia merindukanmu. Kau tahu, beberapa pria jika telah jatuh cinta bisa menjadi lebih sensitive dari pada wanita."

"Jatuh cinta, kau bilang?" Yunho membulatkan mata.

"Oops, maaf," Soo Jin meringis, "tidak bisa. Dia hanya adikmu." Soo Jin mempermainkan suaranya, menggerak-gerakkan dua garis alisnya. "yah, begitulah. Anyway! Tidakkah kau merasa keterlaluan dengan tetap membiarkannya sendirian, Changmin bahkan sudah kembali meminta maaf."

"Lalu kau mau aku seperti apa? aku berlari padanya, kemudian aku memeluk dan menciumnya, begitu? Apa kau yakin tidak akan cemburu?" Yunho tertawa nakal, sontak Soo Jin bertingkah lebih liar menekan ujung ice cream pada rahang kiri Yunho. "Hey.. kau mengotori wajahku." Protes Yunho pada Soo Jin yang telah lebih dulu berlari pergi.

Kebersamaan Soo Jin dan Yunho berakhir sebelum malam menyelimuti alam. Bahkan Yunho yang sudah mengatakan akan menemani Soo Jin belanja pun ia urungkan, sakit dan nyeri yang tiba-tiba bagai meremas isi kepalanya membuat Yunho berpamitan lebih awal. Yunho berkendara amat pelan menuju pulang, dan sesampainya ia dirumah tak menunggu lama lantas hilang kesadarannya. Yunho tertidur diatas sofa, masih lengkap dengan jacket dan sepatu pada kakinya.

Teramat nyenyak sebab tak ada satupun suara yang menyentak. Tak hingar layaknya rumah Changmin yang beberapa hari ini ia tinggalkan. Yunho lelep, dengus lelah keluar bergantian dari bibirnya yang sedikit terbuka. Semua teramat menenangkan, hingga dering ponselnya tetiba membuat buyar semua impian.

"Yu….Hyungie?" suara Changmin yang terdengar sedikit terisak membuat Yunho seketika melebarkan mata.

"Wae-yo? Changminie gwenchana? Kau tidak apa-apa? katakan ada apa?" Yunho bergerak menegakkan tubuhnya. Tetiba kantuk enyah dari badan. "Changmin? Kau dimana?" khawatir Yunho, kunci mobil diatas meja serta merta kembali digenggamnya.

"Cheeto.." ucap Changmin pendek. Ucapan pendek yang seketika membuat Yunho menciptakan langkah panjang. Yunho melupakan sakit kepala yang sebelumnya datang, masih dengan pakaian lengkap pada badan, Yunho kembali berlari meninggalkan rumah.

Sudah menggelap langit Korea, entah sudah berapa jam Yunho terlelap sejak ia merasa kepalanya teramat berat. Yang ia paham kali ini hanya Changmin yang sedang sendirian menungguinya datang.

Tengah malam membuat jalanan renggang dari pengguna kendaraan, Yunho memacu cepat ke empat roda berjalan lurus menuju alamat klinik yang telah Changmin sebutkan. Saat telah sampai ia di pelataran klinik hewan tempat Cheeto mendapat perawatan, Yunho berjalan panjang setengah berlari meninggalkan mobilnya yang tak terparkir dengan benar dibelakang badan.

"Maafkan aku, ini salahku." Ucap Changmin menyambut saat Yunho baru saja melewati pintu kaca.

Changmin menjelaskan semua hal tentang Cheeto pada Yunho, suara Changmin bergetar, tampak ia sangat khawatir dan ketakutan.

Sementara bagi Yunho, bukan pada Cheeto satu-satunya Yunho nekat menerjang malam, dan tak menghiraukan sakit kepalanya yang belum sembuh benar, namun pada pria tinggi menyedihkan yang masih tampak mengenakan setelan baju dari kemarin malam. Bahkan kaki Changmin masih telanjang, kali ini ditambah dengan noda merah melumuri hampir kelima jemari kaki kanannya.

Ingin sekali Yunho membuat dekapan, menarik Changmin yang berwajah muram mendekat pada badan. Ingin Yunho mengayunkan tangan, membelai pipi kusam dan bibir pucat, memberi kenyamanan. Namun detik sebelum ia hendak melakukan niatnya, dokter muda berkaca mata tetiba muncul dari balik pintu kaca.

Ia menjelaskan perihal kondisi Cheeto yang mendadak tak sadar, berakhir dengan terungkapnya kesalahan Changmin yang memberi anjing kecil itu makanan lebih banyak dari porsi dia biasanya.

Berakhirnya ucapan dari dokter, menjadi detik berakhirnya pula kaki Yunho dan Changmin bercokol diatas lantai putih clinik hewan. Hampir pukul dua dini hari, mereka berdua berurutan keluar melewati pintu kaca, berjalan pada lapangan parkir tempat mobil mereka masing-masing terparkir. Yunho tampak lebih dulu memasuki mobil setelah meninggalklan beberapa kata untuk Changmin. Sementara Changmin masih bergeming ditempatnya memperhatikan Yunho yang terlihat tersenyum dengan ponsel tipis menempel pada telinga kanan.

"Oh, Ho Joon-ah. Kuhubungi lagi kau besok. Ada sesuatu yang harus kukerjakan." Kata Yunho pada Ho Joon didalam sambungan. Sesaat setelah nada putus terdengar, Yunho kembali menyembul keluar dari dalam mobilnya. "Kenapa masih disini?" tanyanya pada Changmin yang menatap dalam diantara kegelapan.

"Apakah itu Soo Jin?" tanya Changmin, kalimatnya terulur lincah tanpa ia rencana.

"Iya." Dusta Yunho, setelah ia menghela nafas, tersenyum kecil dan menganggukkan kepala.

Detik dimana Yunho memperhatikan wajah kecil Changmin yang kehilangan senyuman, detik itu pula Yunho lantas menyesali ucapannya yang mengatakan Changmin adalah adiknya seperti biasa. Jika ia bisa mengambil kembali ucapannya, atau bila ia tak sekeras kepala menginginkan Changmin untuk mengungkapkan sendiri perasaannya, mungkin Yunho telah mengangkat tubuh Changmin untuk memasuki mobilnya, menenangkannya, membalut luka pada hati dan ujung kakinya.

Dan ketika Changmin telah menyerah pada perasaanya, bibir Yunho yang tertekan oleh ciuman ringan yang Changmin berikan, membuat darah dalam badan Yunho menggelanyar menghipnotis dua tangan untuk menyambut pelukan.

"Aku mencintaimu." Pengakuan Changmin sumbang, tak jelas sebab ia terbekap, wajahnya ia sembunyikan.

Sementara Yunho tersenyum samar, ia mengecup ujung bahu Changmin yang bergetar. Yunho membelai, ia menenangkan.

Changmin sungguh berakhir dibawanya pulang, menggunakan mobilnya, dan tertidur diatas ranjangnya. Sepanjang malam setelah rengkuhan, cumbuan dan belaian liar yang Yunho berikan, Changmin tertidur tanpa busana memeluk tubuh Yunho yang sama polos tak berbalut pakaian. Changmin menenggelamkan wajah dalam ceruk leher Yunho, mengembuskan nafas hangat meninabobokan Yunho untuk turut terlelap. Sementara Yunho mendekap, tak henti memberikan kecupan-kecupan ringan pada dahi, ubun-ubun kepala, serta jemari tangan Changmin. Bisikan-bisikan kecil pun turut Yunho lantunkan, kalimat penuh cinta yang sempat membuat Changmin bersemu merah sebelum ia jatuh terlelap.

"Maaf telah banyak melukaimu, meninggalkanmu sendirian, dan berpolah tak peduli padamu. Jika saja kau tahu semua itu berat untukku. Aku tak tahu jika kau mendengar ini atau tidak. Changminie? Aku sangat menyanyangimu, sangat mencintaimu. Aku juga membencimu, benci pada bagian dari dirimu yang kerap menjadikan perasaanku bualan tak masuk akal bagimu. Andai kau tahu semua perasaan yang telah lama aku tahan, tak ku ungkap sebab aku tahu kau akan malu pada orang yang menatap. Betapa aku ingin bisa seegois dirimu. Mengungkap perasaanmu lalu kau memelukku, mengendalikanku, menyuruhku hanya untuk denganmu saja. Jika aku demikian padamu, maukah kamu?"

Yunho perlahan merenggangkan pelukan, ia merosot membuat tubuhnya sejajar dan berhadapan dengan Changmin. Ditatapnya wajah ayu yang terlelap syahdu, dibelainya rahang dingin yang sedikit menunduk, Yunho perlahan mengecup bibir Changmin lembut. Teramat lembut nan lama, tetap seperti itu hingga Yunho turut terlelap dengan Changmin dalam dekapannya.

.

.

To Be Continued..

Heheh aduh, enceh yang Hot, ya? jangan, ini sipenulis masih virgin, deh. wkwkkwk belum expert dia, nanti deh bisa diatur. Butt! bukan janji, ya! XDXDXD

Thank you for comin'

See you again, or.. later!

With Love

Ino Cassio.