Hello!

Balik lagi nih bawa fic HNJP, hahaha

Udah ah gak usah basa-basi lagi, langsung ke bagian cerita aja ya.

Let's read!

Disclaimer : Masashi Kishimoto-sama desu ne! d(0_^)b

Rate : M (Khusus untuk umur 18+ 'Naik setahun')

Pairing : Karena permintaan para readers kebanyakan tidak mau Naru-chan jadi murahan... Shisui akan membuat pairing hanya untuk SasufemNaru saja, yang lain hanya sekedar ecchi standart. Okeh ^^d

Hareem No Jutsu Permanent

Chapter 12

By : Shisui Namikaze Deandress Chan

OOC, OC, typo(s), Gaje, Lime/Lemon and many more...

Ini Lime/Lemon pertama Shisui jadi gomen yah kalau tidak terlalu memuaskan dan hot

DLDR!

Enjoy it!

Previous Chapter: "Hehehe, akhirnya aku bisa berubah menjadi pria lagi-ttebayo! Aku akan menjadi Rokudaime-ttebayo, wuahahaha"

"Na-naru-naruto-chan...kore..." seru Shima sambil menunjuk-nunjuk jemari selaputnya kearah Naruto, sedangkan Naruto hanya mengerutkan keningnya tak mengerti.

"Ada apa Nenek Shima? Kau seperti melihat hantu" balas Naruto masih mengerutkan keningnya.

"Apa itu...Naruto...?" ikut Fukasaku sampai-sampai menumpahkan teh hijaunya.

"'Apa itu' apanya? Kalian kenapa sih-ttebayo!" tanya Naruto mulai tak sabaran.

"PERUTMU MENGEMBUNG NARUTO!" seru mereka bersamaan dengan keringat mengkujuri seluruh wajahnya karena ketakutan.

Naruto mengerutkan keningnya sejenak, dan kemudian ia tersentak terkejut saat ia merasakan ada sesuatu yang menendang perutnya. Dengan menelan ludah, Naruto secara perlahan-lahan menundukkan kepalanya bermaksud ingin melihat perutnya, dan setelahnya ia melihat perut tersebut, tiba-tiba saja seluruh urat sarafnya menjadi tegang saat melihat perutnya tersebut mengembung sangat besar seolah-olah ia seperti wanita yang sedang 'hamil' 9 bulan.

"Na...NANI KOOOORRREEEE?!"

Chapter 12

Merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar, Naruto hanya bisa berteriak sekeras-kerasnya didalam rumah tersebut. Rumah yang kelihatan sangat damai itu dalam sekejap dibuat ramai oleh suaranya. Bahkan penghuni rumah yang juga berada disana ikut terkejut saat mendengar Naruto berteriak demikian.

Naruto ingin sekali mencoba untuk tenang, namun meskipun ia mempunyai niat seperti itu, rasa kagetnya terus saja mengalahkan niatnya itu. Semua itu terjadi karena Naruto tak mampu menghilangkan rasa takut dan kekhawatiran perutnya yang membesar secara tiba-tiba tersebut. Naruto tidak mengerti kenapa perutnya menjadi membesar seperti itu, yang pasti kejadian aneh itu terjadi tepat setelah ia memasukki rumah dua pertapa katak tua ini. Sehingga Ia hampir sempat menuduh kalau rumah inilah yang membuat perutnya membuncit. Tetapi setelah itu ia kembali mengurungkan niatnya itu, karena ia berfikir kalau hal itu pasti tak dimasuk akal. Rumah yang ia datangi itu hanyalah rumah biasa saja, yang sama dengan rumah di desanya. Hanya saja bedanya rumah itu agak kecil. Jadi jika ia menuduh rumah ini, sama saja kalau dia itu dianggap aneh bukan? Mana ada rumah yang bisa membuat perut membuncit?

Lalu jika bukan hal itu lalu apa?! pikir Naruto masih depresi dan berteriak diluar maupun didalam hati. Rasa berat yang tertampung diperutnya itu membuat Naruto sulit berfikir dan terus-terusan memandangi perut buncit itu. Dan kemudian sebuah kata-kata Sasuke beberapa jam yang lalu tiba-tiba saja langsung terlintas di fikirannya dan membuat Naruto terdiam sejenak dengan mata membulat.

"Lalu siapa yang merawat anak kita yang berada di perutmu itu? Kau sendiri? Jangan bercanda"

Kata-kata itu membuat otak Naruto berputar, apalagi saat berfikir kalau perut membuncit yang ia alami ini karena efek dari kehamilan bayi Sasuke. Tetapi bagaimana bisa? Bukankah proses perut mengembung sebesar ini karena mengandung bayi itu minimal harus menjalani waktu selama 7/8 bulan? Tetapi kenapa perut buncit yang ia alami ini hanya terjadi dalam hitungan hari? Sebenarnya apa yang terjadi? Dan lagi seharusnya saat dia sudah berubah menjadi pria, janin itu otomatis pasti menghilang dari perutnya, mengetahui kalau seorang pria tak memiliki rahim, tetapi kenapa yang ia alami ini berbeda dengan apa yang ia tahu.

Karena tak percaya, Naruto mulai menyentuh perut buncitnya tersebut bermaksud untuk merasakan seorang janin yang berada didalam perutnya. Jika memang benar kalau perut membuncit ini dikarenakan janin tersebut, pasti janin tersebut akan membalas belaian singkat yang ia berikan di perutnya itu. Lalu beberapa detik kemudian, hal yang ditunggu Naruto pun terjadi, janin itu menendang pelan perutnya dan tentu saja Naruto tersentak dibuatnya.

Dan pada saat itu juga, Naruto pun memeluk perutnya sendiri dengan mata membelalak sambil menarik nafasnya terkejut. Jika belaian singkatnya dibalas, berarti hal ini bukan tidak mungkin lagi, bayi yang terkandung di perutnya tersebut memang benar-benar masih ada, bahkan nalurinya mengatakan kalau bayi itu sudah agak sedikit membesar.

Naruto mengerutkan keningnya dan kemudian menatap perutnya yang dilapisi jaketnya tersebut dalam diam, lalu ia bergumam dalam hati 'Kenapa kau masih berada didalam?' dengan nada tidak percaya dan pada saat itu juga janin tersebut kembali menendang perutnya, tetapi kali ini agak sedikit kencang seakan-akan janin tersebut tak menerima perkataan Naruto itu. Naruto ingin sekali tertawa saat merasakan respon dari bayi tersebut, apalagi kalau tahu si janin itu mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Memikirkan hal itu, Naruto tiba-tiba saja tersenyum, senyuman lembut yang kelihatan keibu-ibuan. Entah kenapa ia bisa tersenyum seperti itu? yang pasti Naruto sedikit merasa senang saat direspon oleh janin yang berada diperutnya. Rasa bingung dan khawatir tersebut tiba-tiba saja berubah menjadi ketenangan yang tak bisa ia jelaskan, yang pasti ia merasakan sesuatu yang berbeda dan terasa hangat di perutnya tersebut.

Lalu beberapa menit kemudian, ia menoleh kearah kedua katak pertapa tua yang berada didepannya. Wajah kedua pertapa itu kelihatan seperti kebingungan serta khawatir dengan apa yang ia lihat. Apalagi wajah salah satu katak pria yang berada di sebelah kanan katak pertapa wanita. Ekspresinya memancarkan kebingungan dan kaget yang menjadi-jadi, apalagi sekarang keringatnya sudah mulai menjulur keluar di wajah kataknya saat melihat perut Naruto yang membuncit tersebut. Ia adalah Fukasaku.

Melihat mereka berdua, Naruto jadi melupakan hal yang ia rasakan barusan dan kemudian bertanya kepada Fukasaku dengan nada panik.

"Fukasaku Ojii-san, apa yang terjadi padaku?!"

"Naruto... apakah sebelum ini kau sudah hamil?" tanya Fukasaku dengan mata membelalak, sedangkan pertapa katak wanita disebelahnya malah menatap Fukasaku bingung. Pertapa katak wanita tersebut bernama Shima.

"Oh iya, aku memang sedang hamil saat i..."

"APAAAAA!" potong Fukasaku kaget.

"Eekk!"

Melihat tingkah laku Fukasaku dan Naruto yang aneh tersebut, Shima pun mulai ikut bergabung dalam permbicaraan yang tak ia mengerti tersebut.

"Kenapa kau sekaget itu kakek tua?"

"Karena kukira Naruto tak memiliki rahim, setahuku jurus Hareem no jutsu hanya sekedar merubah si pengguna untuk menjadi wanita saja, tidak untuk organ dalam tubuhnya. Meskipun ia melakukan jurus tersebut secara berkali-kali, hal itu mustahil terjadi pada si pengguna. Yah walaupun si pengguna jutsu itu harus berubah menjadi wanita secara permanent...er... hal itu masih belum terlalu kuyakini sih...kurasa aku harus mencari tahu lebih banyak tentang jurus itu."

"Lalu apa yang membuatmu sekaget itu kakek tua?"

"Hal yang membuatku kaget itu karena ramuan itu kubuat dengan tumbuhan langka yang tumbuh di bagian sudut gunung Myoboku, tumbuhan itu diceritakan bisa menangkal kutukkan apapun termasuk jurus Hareem No Jutsu tetapi efek samping dari ramuan tersebut adalah bisa menetralisir perut si konsumen terutama bagian rahim, tetapi ramuan itu memiliki pengecualian jika rahim si konsumen memiliki isi atau bisa disebut juga seorang janin maka akan terjadi sebaliknya, hal yang seharusnya dinetralkan oleh si ramuan akan menjadi dipenuhi dengan banyak chakra dan cadangan makanan yang akan memasukki tubuh si janin tersebut dan hasilnya maka si janin akan tumbuh lebih cepat dan kelahiran pun otomatis akan semakin dekat."

"Sou ka, lalu seandainya jika Naruto tak memerlukan ramuan tersebut, untuk apa ramuan itu kau buat?" Tanya Shima agak curiga dengan penjelasan Fukasaku. Apalagi dengan penjelasannya yang berkaitan dengan 'Rahim' dan 'Netralisir'. Bagaimana pun penjelasan Fukasaku tersebut terdengar mesum dan aneh, dan ia merasa ramuan yang Fukasaku buat itu adalah untuk melakukan eksperimen yang tidak-tidak. Ia berfikir demikian karena menurutnya Fukasaku itu rada mesum sama halnya seperti muridnya yang sebelumnya, Jiraiya.

"Sebenarnya jika Naruto tidak meminum ramuan tersebut, maka ramuan tersebut kuberikan untukmu-hmmp!" Fukasaku langsung menghentikan perkataannya saat mengetahui kalau ia telah keceplosan, ia tak sadar kalau ia telah terpancing dengan pertanyaan singkat istrinya tersebut. Dengan penuh keringat, Fukasaku menolehkan kepalanya kearah si istri dengan ekspresi ketakutan, dan ketika sepenuhnya ia melihat si istri, Fukasaku menarik nafasnya sedalam mungkin dan kemudian ia menelan ludahnya saat melihat aura membunuh yang begitu menyeramkan timbul dibalik punggung Shima.

"Jadi menurutmu aku ini terlihat seperti terkena kutukkan hah!"

"Tidak-tidak-tidak, aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya...apa ya...eto...ingin membuatmu lebih sedikit lemah lembut saja, yah meskipun mungkin mustahil," Di perkataan terakhirnya, Fukasaku mengatakannya sepelan mungkin berharap kalau Shima tidak mendengarnya, tetapi sayangnya perkataannya itu dapat didengar oleh Shima dan akhirnya memukul Fukasaku sekeras mungkin dengan kepalan tangan selaputnya.

10 menit pun berlalu, sekarang suasana di ruangan tersebut sudah agak sedikit bisa dijinakkan, yah walaupun terkadang Shima dan Fukasaku sering bertengkar, namun hal itu tak lebih dari dimulainya sifat mesum Fukasaku. Naruto, Shima dan Fukasaku sekarang duduk santai di meja bundar yang berada disana,dilengkapi dengan teh hijau di depan mereka masing-masing.

"Jadi bagaimana caranya kau bisa mempunyai rahim, Naruto?" tanya Fukasaku memulai permbicaraan.

"Aku tak tahu Ojii-san, yang kutahu hanyalah bahwa aku telah menghamili anak yang membuat hubungan seks denganku."

"Uchiha Sasuke," sahut Fukasaku santai.

"Are...bagaimana kau bisa tahu Ojii-san?" balas Naruto dengan wajah memerah

"Bagaimana aku bisa tidak tahu, saat kau tiba kesini kau datang dengan tubuh tanpa pakaian sambil menyerukan nama 'SUUUKEEEEEEHHH' dengan nada suara yang erotis. Hal itu sudah membuktikan kalau kau habis melakukan hubungan intim dengan si manusia es itu."

"A...e...etto..." sahut Naruto seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan ekspresi yang malu-malu serta diikuti dengan pipi yang merah merona. Bagaimana pun semua itu tak bisa ia jelaskan secara terbuka kepada Fukasaku, hal itu sudah menjadi privat baginya, yah walaupun awalnya ia tak suka melakukan hubungan tersebut dengan Sasuke, tetapi meskipun begitu, Naruto tetap harus menyembunyikannya, soalnya hal itu berkaitan dengan dirinya juga.

"Fukasaku, apa kau mau memulai pertengkaran lagi?" seru Shima dipenuhi dengan emosi.

"Sabar dulu Shima, aku hanya mencoba mencari kebenaran saja, tidak lebih," balas Fukasaku mencoba membela diri.

"Jika seperti ini, mau tidak mau kau akan hamil dalam wujud seorang pria," lanjut Fukasaku dengan nada menentukan.

"Sou naaaa, aku tak mau. Coba fikirkan Ojii-san, dari mana bayi ini akan keluar kalau wujudku ini tetaplah pria. Bantulah aku Ojii-san!"

"Hmmm, memang sih. Tetapi bisa saja bayi yang ada dalam perutmu akan keluar dari lubang anus mu, bukan?"

"Ojii-saaaannnn!"

"Fukasaku! Fikirkanlah dengan serius, mungkin saja ada cara lain untuk membuat perut Naruto kembali seperti semula."

"Sebenarnya ada satu hal..."

"Apa itu?"

"Katakan padaku Ojii-san?"

"Bayi yang ada didalam perutmu harus digugurkan."

"EEHHHH, bukankah itu berarti aku harus membunuh bayi yang ada dalam perutku?" tanya Naruto kaget dan dibalas anggukkan antusias Fukasaku.

"Iya, hanya itu cara satu-satunya untuk bisa membuat perutmu kembali normal. Bagaimanapun, kau pasti bisa memikirkan hal itu Naruto. Jika kau siap, maka aku akan menggugurkan bayi itu."

"E...ett...oo..." gumam Naruto ragu-ragu, ia menundukkan kepalanya memandangi perut membuncitnya tersebut, ia bisa merasakan kehangatan itu lagi, kehangatan yang sebelumnya ia rasakan tadi. Sekarang Naruto diberikan dua pilihan yang menyulitkan yaitu melahirkan si bayi atau menggugurkannya. Dari kedua pilihan itu, Naruto bisa menyimpulkan kalau keduanya sangat berkaitan besar dalam kehidupan masa depannya. Karena jika ia salah pilih, maka kehidupan di masa depannya akan menjadi yang terburuk dalam hidupnya. Dan mungkin akan membuatnya terbunuh secara perlahan-lahan.

Dalam diam ia mencoba memikirkan keputusan yang tepat, dan pada saat kesulitan melandanya, dia pun membuat sebuah kerutan di alisnya. Sambil memandangi perutnya, Naruto meremas perutnya tersebut dan kemudian menutup kedua matanya seraya bergumam dalam hati 'Gomen' dan kemudian menatap kedua katak tua di depannya dengan wajah penuh antusias.

"Baiklah, aku siap!"

-x-x-x-x-

POOOFFTTT!

Setelah perbincangan yang cukup lama dengan Shima dan Fukasaku, Naruto akhirnya kembali ke rumahnya lagi. Ia kembali kerumah 'Naruko' bersama dengan asap tebal yang mengelilingi dirinya. Dan sekarang posisinya adalah terbaring di tempat tidurnya yang sudah sangat acak-acakkan serta berbau anyir bekas hasil 'Cinta'nya bersama Sasuke.

Naruto melesat bangun dan melihat sekitar. Dilihat darimanapun ia tak bisa menemukan Sasuke, sepertinya Sasuke sudah pulang. Membayangkan hal demikian, Naruto jadi berfikiran negatif, terutama melihat Sasuke yang marah karena telah secara tiba-tiba dirinya pergi saat melakukan hal 'itu'. Ia ketakutan, khawatir dan juga gemetaran, semua perasaan itu tercampur aduk didalam hatinya, dan ia merasa tak mau bertemu dengan Sasuke dalam jangka waktu yang lama, karena ia takut kalau 'kejadian' itu terulang kembali.

Tak lama setelah itu, fikiran Naruto teralih kearah perutnya. Perutnya masih buncit dan bahkan buncitnya agak terlihat lebih besar dari sebelumnya, sepertinya perutnya itu akan terus membesar bersama dengan berjalannya waktu. Tetapi ia tak memikirkan hal itu, ia hanya memikirkan dirinya yang seakan seperti bukan dirinya. Keputusannya kepada Fukasaku tadi membuat dirinya terus kepikiran hal itu, dan ia merasa sangat sedih. Tetapi ia tak bisa menarik ludahnya kembali, meskipun ia merasa sedih, namun ia merasa keputusannya itu adalah yang terbaik. Dengan senyuman lembut itu, Naruto menghusap-husap perutnya tersebut penuh kasih sayang dan kemudian bergumam,

"Aku harap aku bisa melahirkanmu dengan selamat. Tolong jangan malu ya kalau tahu kau memiliki seorang ibu laki-laki-ttebayo."

Gumaman itu terdengar sangat hangat dan lembut, dan bayi yang mendengar gumaman Naruto tersebut langsung membalasnya dengan tendangan sangat pelan seakan-akan tendangan itu memberikan respon kalau bayi itu menyayanginya. Naruto tak tahu sudah berapa kali bayi didalam perutnya itu menendangnya, yang pasti ia sangat bahagia karena gumamannya dibalas oleh bayi tersebut.

"Hahaha, jadi begini ya cara berkomunikasi dengan bayi yang ada diperut-ttebayo. Kau pasti akan menjadi Shinobi/Kunoichi yang kuat."

-Gunung Myouboku-

Slurrppp...

"Mattaku, anak itu memang sangat sulit sekali ditebak," gumam Fukasaku seraya meminum teh hijaunya hikmat.

"Yah, kurasa hal itu memang jalan yang benar. Naruto tak mengambil pilihan yang salah. Mungkin ia bisa memutuskan hal itu karena ia sudah banyak belajar dalam perubahan wujudnya menjadi seorang wanita sehingga naluri pria yang berada dalam dirinya menghilang secara tiba-tiba," balas Shima sambil melukiskan senyuman kagum.

"Yah, kurasa juga begitu. Mendengar keputusannya tadi, dia seperti bukan dirinya yang kukenal sebelumnya. Dia terlihat seperti seorang ibu. Yah meskipun aku masih tak percaya dengan keputusannya tadi."

Flashback

"Baiklah, aku siap!"

"Jadi kau mau menggugurkannya?"

"Tidak."

"Eh?"

"Aku siap menerima beban ini, aku rela kehilangan gelar Rokudaime demi melahirkan anak ini. Bagaimanapun, gelar itu tak selevel dengan nyawa seorang anak yang berada di perutku ini. Aku siap! Aku siap menerima semua ini, walaupun aku tak tahu bagaimana cara melahirkannya tetapi aku akan berusaha melahirkannya dengan kekuatanku-ttebayo!" balas Naruto antusias dengan bola mata sapphire yang memancarkan keseriusan yang menjadi-jadi. Fukasaku dan Shima yang melihatnya tersebut dibuat tersenyum olehnya dan kemudian mereka berdua menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, jika itu keputusanmu aku tak akan menggugurkannya."

"Sepertinya sifat keibuanmu telah keluar Naruto."

"Ah! Benarkah? Tetapi aku ini laki-laki-ttebayo," sahut Naruto saat mendengar pendapat Shima.

"Casing itu bukanlah suatu hal yang tepat untuk menilai orang, yang benar itu adalah hatinya. Dan Yang pasti kau harus bisa memegang perkataanmu itu."

"Ha'i! Wakatta –ttebayo!"

Flashback end

Keesokan harinya Naruto terbangun pagi sekali, ia terbangun sekitar jam setengah 6 pagi. Mengetahui kalau kemarin ia tidur agak cepat 5 jam dari waktu jam tidurnya. Saat ia bangun, ia menghabiskan waktunya untuk membereskan rumah, lalu selesainya membersihkan rumah, ia melesat menuju kulkas bermaksud untuk mengambil pop ramen yang ia beli lusa lalu.

Ramen itu ia bawa ke dapur untuk ia masak, lalu ketikanya matang, tiba-tiba saja rasa inginnya untuk makan ramen tersebut langsung menghilang. Bukan berarti ia bermaksud ingin berhenti makan ramen karena makanan tersebut tak baik oleh janin, ia hanya merasa menginginkan sesuatu yang lain yang sangat sekali ingin ia coba. Ingat Naruto tak tahu apa-apa tentang kehamilan dan makanan sehat apa yang harus ia makan untuk bayi, ia hanya tahu kalau ia sedang hamil dan sekarang ia telah melakukan aktifitasnya seperti biasa seakan merasa tak pernah terjadi apa-apa.

"Are-re, kenapa aku jadi tak ingin makan ramen?" gumamnya tak mengerti sambil meletakkan pop ramen yang baru saja ia masak tersebut ke meja dapur lagi.

Wajahnya memancarkan kebingungan yang luar biasa, bahkan karena saking bingungnya ia sampai-sampai bertanya kepada Kyuubi kenapa ia sampai seperti itu. Namun sayangnya pertanyaan itu juga tak dimengerti oleh Kyuubi. Lagi-lagi Naruto dibuat bingung, padahal sebelumnya ia ingin sekali memakan ramen, tetapi kenapa tiba-tiba ia jadi mengurungkan niatnya tersebut. Dan malahan sekarang ia malah ingin sesuatu yang manis dan segar di tenggorokkannya.

"S-u-i-k-a."

Membayangkan buah semangka didalam fikirannya, tiba-tiba saja niat untuk memakan buah tersebut tak bisa tertahan lagi, dan karena rasa inginnya yang besar tersebut, air liur pun sedikit mengucur keluar dari sudut bibirnya.

Naruto menghusap-husap sisa air liurnya tersebut dan kemudian melesat mengambil dopet kodoknya yang ia letakkan di saku celana orange-nya. Ia tak perduli dengan keanehan yang ia alami tersebut, yang ada dalam fikirannya sekarang adalah cepat-cepat membeli semangka untuk dimakan. Karena jika ia tak mengikuti keinginannya tersebut, ia merasa dirinya tak bisa melakukan apapun.

"Eh?"

Desah Naruto kecewa saat melihat isi dompetnya yang hanya tinggal 30 ryo, uang segitu mana cukup untuk membeli semangka?. Melihat sisa uang tersebut, bola mata sapphire yang awalnya membulat semangat, sekarang berubah menjadi layu dan kehilangan semangat. Ini semua karena ia terlalu mementingkan prioritasnya menjadi pria, waktu itu ia hanya terus-terusan menghabiskan uangnya untuk barang-barang tak perlu seperti bedak, lipstick, eye shadow, lips gloss, eye liner, dan blush on demi suksesnya ia memancing seorang pria sehingga ia jadi lupa mencari uang untuk makan sehari-hari. Mengingat hal demikian, Naruto jadi merasa kecewa dengan perbuatan yang ia lakukan sebelumnya. Dengan menghela nafas, ia kembali memasukkan dompet tersebut kedalam sakunya dan kemudian melesat berjalan menuju ruangan tamu bermaksud untuk duduk-duduk santai sambil meratapi rasa kecewa nya.

Namun sebelum ia tiba diruangan tamu, lagi-lagi perasaan aneh itu datang lagi, bahkan sekarang terasa lebih kuat dari sebelumnya sehingga tanpa fikir panjang lagi ia melesat keluar rumah sambil bergumam 'Masalah uang itu belakangan-ttebayo'.

-x-x-x-x-

"Ittekimasu!"

Bersama dengan nada suara itu, Sakura pun berjalan keluar dari rumah sederhananya. Dengan sekali geser, pintu rumahnya pun terbuka lebar bersama dengan cahaya matahari pagi yang memaksa masuk dalam ruangan itu.

Lalu tak lama setelah itu, Sakura menoleh kebelakang dan mendapatkan seorang wanita paruh baya berambut kuning dan bergaya ponytail menyahuti perkataannya, ia adalah ibu Sakura. Sedangkan Sakura hanya membalas dengan anggukkan kepala hingga kemudian melesat keluar sambil menutup pintu rumahnya.

Pagi ini Sakura mengambil rute jalan yang berbeda dari sebelumnya yaitu berjalan melewati pasar, karena rute tersebut adalah jalan alternatif yang agak lebih cepat menuju rumah sakit. Ia mengambil rute itu karena ia hanya ingin datang lebih cepat dari sebelumnya, soalnya di rumah sakit tempat ia bertugas sedang lagi banyak-banyaknya pasien, jadi ia harus pintar mengolah waktunya yang dimulai dari tidur, bersantai, mengerjakan misi, serta bekerja. Ia tahu jadwalnya beberapa hari ini sangat padat, sehingga harus membela-belakan untuk tak bermain selama beberapa hari. Yah walaupun terkadang ia bisa meluangkan waktu bermainnya untuk beberapa saat, seperti keluar sejenak untuk menghilangkan rasa suntuk dan sebagainya. Namun hal itu masih belum memungkinkan kalau ia bisa sepenuhnya sesantai itu.

Sesampainya ia di pasar, ia dikagetkan oleh sesosok pemuda tampan berkulit karamel dan berambut kuning jabrik sedang berdebat dengan si penjual semangka yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Pemuda itu bernama Naruto, sahabatnya sejak kecil, yang dianggapnya sangat konyol, lucu, ramah, periang dan murah senyum. Dan bersama dengan berjalannya waktu, pemuda itu telah ditentukan sebagai seorang pemimpin desa Konoha ke-6 yaitu Hokage Rokudaime. Dan sekarang pemuda itu telah kembali dari tugas misi khusus yang diberikan Godaime (Tsunade) kepadanya. Tetapi sejak kapan ia berada di desa? Dan kenapa ia sampai harus berdebat seperti itu dengan penjual semangka? Karena penasaran, Sakura pun berjalan mendekati Naruto bermaksud untuk mencari tahu kenapa Naruto sampai segitunya ingin sekali membeli semangka.

"Onegai! Berikan semangka itu, aku sudah tak tahan lagi-ttebayo. Aku pasti akan bayar nanti, uangku sekarang sedang tiris, kumohon mengertilah keadaanku Jii-san," seru Naruto memohon kepada si penjual sambil melukiskan wajah polos yang seakan tak berdosa.

"Maaf Naruto, hari ini penjualanku agak menurun jadi aku tak bisa seenaknya saja memberi buahku tanpa dibayar dahulu. Aku tahu kau itu penyelamat desa ini, tetapi mengertilah juga diriku yang saat ini dagangannya sedang sulit sekali dijual. Sebenarnya aku sulit sekali mengucapkan ini, jadi maafkan aku Naruto."

"Ya ampun Jii-san, apakah kau tak percaya padaku? Aku pasti akan membayarnya, aku hanya perlu memakan semangka itu-ttebayo!"

"Iya aku tahu, tetapi tetap saja aku tak bisa Naruto. Maafkan aku."

"Haah mou~"

"Naruto."

Mendengar suara wanita yang terdengar familiar tersebut, Naruto berhenti merengek-rengek kepada si penjual dan kemudian menoleh kearah sumber suara tersebut bermaksud untuk melihat wanita tersebut. Dan ketika ia sepenuhnya melihat wanita yang memanggilnya itu, ia langsung melesat mendekati wanit itu sambil berkata 'Sakura, pinjamkan aku uang' seraya memegang kedua tangannya, seakan-akan seperti anak kecil yang merengek meminta mainan kepada ibunya. Melihat tingkah laku Naruto yang demikian, Sakura jadi sweatdrop dengan senyuman pahit memaksa hingga kemudian mematuhi permintaan Naruto.

Setelah melakukan pembayaran semangka tersebut, Sakura meluangkan waktunya sejenak ditaman terdekat disana bersama dengan Naruto. Ia tahu sekarang ia sedang terburu-buru, tetapi rasa rindu nya kepada sahabatnya yang satu ini mampu membuat keinginannya untuk menuju rumah sakit ditunda sejenak. Setelah sesampainya di kursi taman kosong disana, mereka berdua duduk bersampingan di kursi taman itu dan kemudian Naruto meletakkan semangka yang Sakura beli di tengah-tengah dirinya dan Sakura. Dengan bermodalkan kunai yang Sakura simpan dalam kantung senjatanya, ia membelah semangka yang ia beli itu dalam beberapa potongan dan hingga kemudian dimakan oleh mereka berdua.

Sakura sempat menolehkan kepalanya untuk memandangi wajah Naruto yang telah lama ia rindukan tersebut. Ia tak tahu kenapa ia sampai serindu itu kepadanya, tetapi yang pasti ia sangat senang saat mengetahui kalau Naruto pulang dengan aman setelah misi khusus yang ia lakukan beberapa bulan lalu. Dengan tersenyum, Sakura pun memulai pembicaraannya bersama Naruto.

"Sejak kapan kamu pulang dari misimu Naruto?"

"Eh? sejak kemarin."

"Hah? tetapi aku tak mendengar kabar apapun tentang kembalinya dirimu? Seharusnya jika kau sudah kembali, semua warga serta Shinobi disini pasti dibuat heboh dan menyebarkan kabar ini ke seluruh desa, tetapi kenapa dengan kembalinya dirimu, semua orang disini terlihat tak tahu apa-apa?"

"Ah? Ano...eto...ini 'kan karena misi rahasia, jadi kepulanganku pun harus dirahasiakan agar tak memberikan kesan berlebihan, coba fikirkan saja apa arti misi rahasia kalau semuanya tahu?" dusta Naruto sebisanya.

"Oh, begitu. Benar juga sih, masa iya misi rahasia harus disebarkan ke semua orang...tetapi...kenapa Kakashi-sensei memberitahukan misimu itu padaku serta Shinobi seangkatan dengan kita?"

"Ah! Eto, itu karena mungkin Kakashi-sensei percaya dengan kalian, begitulah. Hehehe."

"Heehh?" gumam Sakura merasa sedikit tak percaya. Naruto menelan ludah saat Sakura terus-terusan melihatnya dengan mata menyipit, lalu keringat dingin pun mulai mengucur keluar dari sekujur tubuhnya bersama dengan kerasnya berfikir untuk mencari topik baru. Dengan suara gumaman yang aneh, Naruto pun akhirnya menyerukan topik barunya.

"Ano sa, Sakura bagaimana keadaan Konoha ketika aku tak ada disini?"

"Hm? Baik. Kau tahu, selama kau tak ada didesa, ada seorang gadis cantik yang menghuni Konoha. Sifatnya sama persis sekali denganmu. Ceria, ramah dan lucu. Karena sifatnya itu, dia sangat disukai oleh teman-teman kita. Oh iya, jika kau mau kau bisa bertemu dengannya? Rumah kost-annya itu tak jauh dari rumahmu kok, mungkin hanya terpisah satu blok dari rumahmu saja. Kalau kau mau, kita bisa menemuinya sekarang."

"Ah, tidak usah-ttebayo. Mungkin lain kali saja, hehehe," tolak Naruto sambil menggelengkan kepala dan mengayun-ayunkan kedua tangannya. Bagaimanapun caranya ia harus menolak ajakkan Sakura tersebut, soalnya ia tahu siapa wanita yang Sakura jelaskan tersebut.

"Baiklah, tetapi lain kali kau mau 'kan?" ajak Sakura lagi sambil tersenyum.

"Iya, aku pasti mau, hehehe."

"Oh iya, ngomong-ngomong perutmu itu kenapa Naruto?"

"HAH! ini etto..."

"Perutmu sangat besar dan terlihat tidak nomal. Dan jika dilihat dari samping...er...kau seperti wanita yang sedang hamil."

Naruto menarik nafasnya saat mendengar penjelasan singkat Sakura tersebut, meskipun singkat tetapi penjelasannya itu benar tepat adanya. Sekarang ia harus apa? Sakura itu seorang perawat dan ia yakin Sakura pasti tahu persis bagaimana bentuk perut orang hamil. Jika ia menjelaskannya secara asal-asalan kepada Sakura, maka tamatlah sudah. Ia pasti akan dianggap aneh dan akhirnya diasingkan oleh Sakura serta teman-temannya yang lain.

"Ano...ettoo..." gumam Naruto mencoba menjawab.

"Apakah kau terlalu banyak makan saat misi?" tanya Sakura sambil memiringkan kepala dan mengerutkan keningnya.

Naruto tersentak saat mendengarnya. Benar juga! Perkataannya itu bisa kujadikan alasan kenapa perutku membuncit seperti ini, pikirnya. Lalu tanpa fikir panjang lagi Naruto pun menganggukkan kepalanya antusias dan menyahuti pertanyaan tersebut dengan perkataan 'Iya' seolah-olah hal itu memang benar-benar terjadi dan berharap kalau Sakura akan percaya.

"Naruto, dengarkan aku. Sedikit lagi kau akan menjadi Hokage jadi bersikaplah sedikit dewasa, jangan terus-terusan bersikap seperti anak kecil seperti ini. Nanti apa kata orang kalau Rokudaime masih mempunyai sifat yang kekanak-kanakan. Kecilkan perutmu itu sebelum pelantikan, jangan buat desa malu dengan sifatmu itu." omel Sakura menjelaskan. Ia mengomelinya seperti itu karena ia tak mau melihat sahabatnya yang akan menjadi Hokage itu dicemooh oleh orang-orang desa. Meskipun ia tahu Naruto adalah seorang pahlawan Konoha, namun sikap para penduduk desa kepadanya tetap tak ada yang berubah, mungkin hanya sedikit menghormatinya karena Naruto telah berhasil menyelamatkan desa Konoha dari serangan gerilya Pain. Tetapi jika hal itu dirusak dengan sikap Naruto yang terlalu teledor seperti itu, maka para penduduk desa pasti akan mencemoohinya. Jadi Sakura harus sebisa mungkin membuat Naruto meninggalkan sikap kekanakannya tersebut dan membuat para penduduk lebih menghormati dirinya sebagai seorang calon Hokage.

"Ha'i, wakarimashita."

"Jaa, kalau begitu aku tinggal dulu ya. Aku sudah telat, jadi jaga dirimu baik-baik sampai pelantikan tiba ya. Matta ne," pamit Sakura seraya beranjak bangun dan melambaikan tangan kanannya kearah Naruto.

"Hmm, matta ashita," balas Naruto saat Sakura mulai bersiap berjalan meninggalkannya.

Dua menit setelah Sakura meninggalkannya, Naruto terduduk termenung sendirian di taman tersebut, sambil memikirkan pelantikan Hokage yang sudah hampir didepan mata. Ia tersenyum senang saat mengetahui kalau pelantikan Hokage tersebut sudah hampir tiba, dan pada saat itu juga ia berjalan pulang kerumah dengan senyuman senang terlukis di bibirnya. Ia merasa tak sabar menunggu hari spesial itu sehingga rasa senang itu terus saja melandanya sampai akhirnya tiba di rumah dan melesat mandi. Tetapi sebelum mandi, ia sempat melihat kalender yang tergantung di dinding rumahnya dengan wajah berseri-seri dan kemudian ia melingkari hari/tanggal dimana acara pelantikan tersebut dimulai dengan tinta pulpen berwarna merah yang diletakkan tak jauh dari kalender itu, hingga kemudian ia melesat mandi sambil bersiul-siul senang.

Mungkin hal itu yang akan dilakukan oleh dirinya yang dulu, berteriak tak jelas, menyerukan kesenangan yang berlebihan dan membayangkan kalau dirinya sudah menjadi Hokage. Tetapi dirinya yang sekarang tidaklah seperti itu, mau bagaimana pun semua yang ia bayangkan benar-benar terbalik dengan kenyataan. Karena semua yang ia bayangkan tersebut tak bisa ia lakukan dalam keadaan seperti ini. Jadi sekarang ia hanya bisa menghela nafas dan beranjak bangun perlahan-lahan bermaksud untuk pulang kerumah, atau lebih tepatnya pulang kerumah kost-an 'Naruko', yang pada saat itu juga dirinya berniat untuk segera pindah dan kembali ke rumah lamanya.

Saat ia hampir sampai di rumah kost-an 'Naruko', Naruto berhenti sejenak ketika melihat seseorang yang ia kenali berdiri tepat didepan pintu rumahnya. Pemuda itu berambut merah bata, memakai pakaian yang sedikit terlihat jadul dan tebal, dan ia juga selalu membawa tong besar berisi pasir di punggungnya, orang itu adalah Gaara, sahabat Naruto dari desa Sunagakure.

Lalu ketika ia berniat untuk menyapa Gaara dari tempatnya berada, ia melihat sesosok lain yang tak dikenal berdiri tak jauh disebelah kanan Gaara. Ia tak menyadari kehadiran pemuda asing disana saat itu, karena dari awal ia hanya memfokuskan pandangannya kearah si pemuda berambut merah bata itu.

Ia mengerutkan keningnya ketika si pemuda asing tersebut menunjukkan wajah sampingnya ketika pemuda itu menoleh kearah Gaara. Pemuda itu benar-benar tidak ia kenali, dan ia rasa pemuda itu bukanlah penduduk desa sini. Apakah mungkin pemuda asing itu adalah teman Gaara? Pikir Naruto dalam hati. Karena penasaran, Naruto pun mulai melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua, mengurungkan niatnya yang tadinya ingin menyapa Gaara dari jauh.

"Yo Gaara," seru Naruto seraya mengangkat tangannya menyapa Gaara.

"Naruto?" sahut Gaara refleks tepat ketika Naruto menyapanya.

"Tumben sekali kau datang kesini. Sepertinya ada suatu hal yang penting sehingga kau datang sepagi ini kerumahku? Ada apa?" tanya Naruto sambil memiringkan kepala, tetapi Gaara tak membalas pertanyaan Naruto tersebut, melainkan ia malah mengerutkan keningnya keheranan sambil melihat Naruto dari ujung bawah kaki sampai ke ujung kepala.

"Naruto? Kau?" gumam Gaara pelan seraya memperdalam kerutannya.

"Apa?" balas Naruto sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Bagaimana kau bisa kembali ke wujud pria-mu lagi?" tanya Gaara langsung to the point.

"Oh, aku kembali ke tubuhku semula karena Fukasaku-Ojii-san."

"Fukasaku-Ojiisan?"

"Sou, guru sennin mode ku."

"Bagaimana dia bisa tahu?"

"Ano... sebenarnya..."

Sebelum Naruto menyelesaikan penjelasannya, pemuda asing yang sejak awal tidak ikut bicara dengan mereka pun mulai memotong pembicaraan mereka berdua, tetapi dengan nada yang sedikit sok dan berlebihan. Pemuda itu agak pendek dari Gaara dan Naruto, namun parasnya terlihat lebih dewasa dari mereka. Ia memiliki rambut panjang sebahu berwarna perak dan badannya lumayan bagus, mungkin jika dilihat dari fisik, pemuda asing ini adalah seorang pekerja keras di kotanya.

"Gaara-san, jadi ini yang namanya 'Naruto'?. Kau bilang Naruto itu adalah perempuan yang manis, kenapa Naruto yang ada didepanku ini adalah seorang pria. Apa kau bermaksud ingin mengorbankan keperjakaanku kepada pria ini? Jangan bercanda!"

Mendengar perkataan pemuda itu, Naruto jadi merasa sangat kesal padanya. Bahkan karena saking kesalnya, kedua tangannya ia kepalkan kuat-kuat sampai-sampai terdengar suara retakkan antar tulang-tulang jemarinya. Pemuda asing didepan ini benar-benar sombong dan kelihatan sok keren, padahal wajahnya itu sangat pas-pasan tak sebanding dengan wajah Sasuke yang memang sejak dulu sudah keren meskipun bersikap dingin. Jika dilihat dari pandangan Naruto, pemuda ini sangat tak pantas sama sekali bersikap sombong seperti itu, menurut Naruto pemuda ini lebih cocok kalau dirinya bersikap sama halnya dengan wajah yang ia milikki. Naruto ingin sekali memukul pemuda itu sekeras mungkin, mengetahui kalau sikapnya itu membuatnya kesal, namun meskipun begitu Naruto mencoba untuk tetap menahannya dengan tersenyum palsu kepadanya dan menanyakan apa yang ia maksud.

"Gomen, tetapi aku tak mengerti apa yang kau maksud?"

Sebenarnya ia bertanya demikian karena ingin mendengar jawaban pemuda asing itu, tetapi sayangnya sebelum si pemuda menjawab, Gaara sudah memotongnya terlebih dahulu, dengan awalan menghela nafas dan mulai berkata

"Naruto, gomen. Sebenarnya pria yang bersamaku ini awalnya ingin kuberikan padamu."

"Hah? Untuk apa?"

"Untuk melakukan ritual 'itu'. Kau 'kan pernah bilang padaku kalau kau bisa berubah menjadi pria lagi kalau kau bisa melakukan hal 'itu' kepada seorang perjaka, jadi... aku membawanya sebagai 'korban' mu."

"EEEHHH? Usooo!" sahut Naruto singkat dengan pipi merona merah seraya mundur beberapa langkah dari jarak awalnya karena kaget mendengar penjelasan Gaara tersebut. Ia tak menyangka bahwa Gaara sampai bertindak berlebihan seperti ini, padahal waktu itu ia hanya mencoba bercerita saja padanya, karena pada saat itu tak ada orang yang bisa ia curahkan hatinya untuk menceritakan kejadian 'menyakitkan' yang ia alami tersebut. Lalu saat detik-detik keterkejutannya, Gaara mulai melanjutkan perkataannya, mengetahui kalau ia tak terlalu peka dengan ekspresi maupun sikap seseorang yang sedang berbicara dengannya.

"Tetapi ternyata kau sudah berubah menjadi pria lagi, jadi kurasa semua ini sia-sia."

"Hah! jadi kau mempermainkanku Gaara-san. Kalau saja aku tahu bahwa hasilnya sudah begini, lebih baik tadinya aku tak mau menerima tawaranmu. Hah! chikuso, lebih baik aku pergi saja dari sini."

Setelah pemuda itu berkata demikian, ia pun melangkahkan kakinya secepat mungkin, menjauhi Gaara dan Naruto yang masih berada disana. Dan Gaara yang melihatnya hanya bisa menghela nafas panjang tanpa menghentikan langkah si pemuda tersebut yang semakin lama semakin jauh meninggalkan mereka.

"Jadi, siapa dia Gaara?" tanya Naruto memulai pembicaraan ketika si pemuda asing itu sudah puluhan meter jauhnya.

"Dia adalah pemuda yang baru saja kutemui."

"Eh?"

"Aku bertemu dengannya tepat ketika aku sudah merasa putus asa mencari seorang perjaka untukmu. Pada saat itu, pada awal aku bertemu dengannya adalah waktu aku beristirahat sejenak di kedai takoyaki yang terletak di desa yang tak jauh dari sini. Pemuda itu adalah anak dari pemilik kedai takoyaki yang kudatangi tersebut. Sebenarnya aku heran, kenapa ia bersikap seperti demikian padamu dan padaku. Padahal ketika dia masih berada di kedai takoyaki, sikapnya itu benar-benar berbeda dengan sikap yang baru saja kulihat, sikapnya ketika di kedai sangat ramah dan murah senyum kepada pengunjung, bahkan karena saking ramahnya aku sampai hampir tak bisa melihat bola matanya saat tersenyum."

"Lalu bagaimana kau bisa membawanya kemari? Bukankah ia adalah orang yang tak dikenal?"

"Yah, waktu itu aku tanpa sadar langsung menawarkannya untuk ikut denganku. Kau tahu ketika aku bilang ingin mengenalkannya dengan wanita cantik dan manis, ia pun menyetujuiku dan ikut denganku."

"Sepertinya ia bodoh. Lalu bagaimana kau bisa mengetahui kalau pemuda itu masih perjaka."

"Karena waktu itu aku yang bertanya."

"Yah, sama seperti Gaara yang kukenal. Langsung ke inti pembicaraan tanpa fikir panjang lagi. Hahaha," balas Naruto mengejek sambil tertawa pelan. Membayangkan Gaara yang bertanya 'Apa kamu masih perjaka?' dengan polosnya membuat Naruto hampir tertawa terbahak-bahak. Kalau saja ia tak tahu etika, mungkin Naruto sudah berguling-guling kesenangan di lantai tanpa berfikir apa-apa lagi.

"Ngomong-ngomong Naruto... kenapa perutmu membuncit?"

"Eeto... ini, sebenarnya... ah, lebih baik kita masuk kedalam dulu. Tak enak kalau aku menceritakannya disini. Ayo masuk, aku akan menceritakan semuanya padamu," jawab Naruto sambil menarik Gaara masuk kedalam rumah.

-x-x-x-x-

"Apa?!" teriak Gaara saat Naruto telah meyelesaikan ceritanya mulai dari perubahannya menjadi pria serta penyebab perutnya yang mulai membuncit tersebut. Gaara masih belum percaya dengan apa yang ia ceritakan, jadi ia hanya bisa menyerukan kata 'Mustahil' dengan gumaman yang sangat pelan seakan suaranya itu tak mau didengar oleh Naruto. Iya tentu saja, bagaimanapun semua yang Naruto ceritakan benar-benar tak bisa dimasuk akal, hanya karena meminum ramuan yang tak terlalu jelas masa Naruto sudah menjadi pria, dan juga tak sampai disitu saja masa karena efek dari ramuan tersebut, tingkat kelahiran janin yang ada di dalam perutnya malah meningkat lebih cepat dari tingkat normal, dan karena hal itu perutnya jadi mengembung sangat besar seakan-akan umur janin di perutnya sudah seperti dikandung selama 9 bulan oleh Naruto.

Memikirkan hal tersebut Gaara jadi bersandar lemas di sofanya seraya menghusap dahinya yang merasa sangat pusing. Naruto yang melihatnya hanya memiringkan kepalanya bingung, tetapi hal itu tak berlangsung lama, tubuh Naruto berubah tegang ketika ia merasakan perasaan aneh itu muncul lagi. Dengan menelan ludah pun, Naruto beranjak berdiri dan menyerukan sebuah kata singkat yang membuatnya benar-benar menginginkan hal itu.

"T-o-m-a-t."

"Naruto ada apa?" tanya Gaara bingung saat melihat Naruto yang berada di seberangnya tiba-tiba saja berdiri.

"Tomat, aku sangat ingin makan tomat."

"To...Naruto! jangan bilang kau sedang..."

"Aku harus mencari tomat-ttebayo. Gaara, kau tunggu saja disini ya, aku ingin mengambil tomat dulu di kulkas."

Belum Gaara menyelesaikan perkataanya, Naruto sudah berjalan kearah dapur secepat yang a bisa dan Gaara yang melihatnya malah menghela nafas pendek merasa kalau prediksinya tadi itu benar. Lalu sesampainya Naruto di dapur, Naruto langsung membuka pintu kulkas dan melihat isi yang berada didalam kulkas bermaksud untuk mengambil buah tomat yang benar-benar ia inginkan tersebut, tetapi sayangnya ia tak menemukan apa yang ia cari karena di kulkas hanya tersisa beberapa ramen cup yang ia beli beberapa hari yang lalu. Ia lupa kalau di kulkas tersebut hanya berisi ramen cup saja, padahal tadi pagi ia sudah mengecek kulkasnya, tetapi kenapa ia bisa lupa begini? Mungkinkah ini karena efek dari keinginan tertingginya untuk memakan sesuatu? Memikirkan hal itu, Naruto menghela nafas kecewa dan kemudian menutup kembali pintu kulkasnya tersebut dengan perasaan yang masih menginginkan buah tomat.

"Aku butuh buah tomat... bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkannya tanpa membeli, mungkinkah tetangga ada yang masih memilikinya?"

"Kau tak perlu memintanya kepada tetangga. Biar aku saja yang membelikanmu," kata Gaara yang sudah berada di belakang Naruto.

"Eh? Gaara?"

"Kau sedang ngidam Naruto, orang yang sedang hamil harus mengikuti apa yang ia inginkan. Tunggu disini, biar aku yang membelikannya untukmu."

"A...ano...arigatou, aku pasti akan menggantinya-ttebayo," balas Naruto sambil menundukkan kepalanya merasa malu karena ia harus ditolong oleh sahabatnya tersebut. Padahal ia tak mau merepotkan pemuda bermata panda tersebut, karena selama ia berteman dengannya, baru kali ini Naruto terlihat lemah dihadapannya. Tetapi apa boleh buat, karena keinginannya akan tomat yang sudah melebihi batas, Naruto malah menganggukkan kepalanya dan menyetujui tawaran yang diberikan oleh Gaara, yah walaupun dengan sedikit malu-malu dan merasa tidak enak.

"Ya. Kau tunggu saja disini, biar aku belikan tomatnya dahulu."

Gaara memutar tubuhnya ketika mengatakan hal demikian dan kemudian ia pun melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.

Setelah Naruto selesai memakan buah tomatnya, ia pun mulai mengemaskan barang-barang miliknya di rumah kost-an tersebut dibantu dengan Gaara. Sebenarnya ia tak mau dibantu oleh Gaara karena ia takut merepotkannya lagi, yah mengetahui kalau beberapa menit yang lalu ia telah merepotkan Gaara. Tetapi meskipun begitu Gaara tetap memaksakan dirinya untuk membantu Naruto, karena ia bilang bahwa orang hamil itu tak boleh diajak terlalu lelah. Dan Naruto yang mendengarnya hanya bisa menutup mata merasa pasrah karena harus dipandang lemah lagi oleh temannya tersebut.

Lalu setengah jam kemudian, tepatnya ketika Naruto dan Gaara hampir merapihkan setengah barang di rumah tersebut, tiba-tiba saja suara yang memekikkan telinga pun terdengar dari luar pintu rumahnya. Suara tersebut terdengar sangat menakutkan dan nadanya terasa seperti ingin membunuh seseorang, dan kesan membunuh tersebut semakin menjadi-jadi ketika suara itu menyerukan nama 'Naruto' dengan penuh penekanan.

Gubrak!

Dua menit setelah suara itu menyerukan nama 'Naruto', suara dobrakkan pintu pun terdengar dan pada saat yang sama muncullah sesosok wanita berambut kuning pucat, berpakaian berwarna hijau dan berdada besar berjalan secepat kilat mendekati Naruto. Ekspresinya memancarkan ekspresi kemarahan yang luar biasa, dan kemarahannya tersebut mengarah kepada Naruto yang pada saat itu juga merinding ketakutan.

"Naruto!" teriak orang itu sambil mencengkram kerah Naruto ketikanya ia tepat berada didepan Naruto.

"Eeekk, Tsunade Baa-san!"

"Jelaskan padaku! Kenapa perutmu itu bisa mengembung sebesar itu? Katakan padaku kalau penyebab perutmu mengembung seperti itu karena gara-gara kebanyakan makan!"

"Eh?"

"Katakan padaku, yarou!"

"Tidak...ini bukan karena kebanyakan makan tetapi karena..."

"Jangan bilang kalau perutmu mengembung karena janin itu!"

"Ah! E-eto..."

"Katakan sialan!"

"Ha'i! Itu benar, ini semua karena janin ini! perutku membuncit karena efek dari ramuan yang diberikan oleh Fukasaku Ojii-san."

"Ramuan?"

"Iya, karena ramuan yang diberikan oleh Fukasaku Ojii-san, aku akhirnya sudah bisa jadi pria lagi, tetapi efek dari ramuan tersebut adalah membuat orang yang sedang hamil jadi mempercepat masa kelahirannya."

"Apa katamu?! Jika memang seperti itu kenapa kau menerimanya?!"

"Waktu itu aku tak tahu apa-apa, Fukasaku Ojii-san tak menjelaskannya padaku ketika aku meminumnya karena waktu itu beliau telah lupa menjelaskan efek dari ramuan tersebut. Dan sebenarnya, awalnya ia tak tahu kalau aku sedang mengandung, jadi..."

"Kenapa kau tak menceritakannya, yarou!"

"Karena aku juga lupa menceritakannya."

Tsunade terdiam sambil menahan rahangnya yang sejak tadi ia tahan kuat-kuat ketika mendengar penjelasan singkat Naruto tersebut. Hingga kemudian ia melepaskan cengkraman tangannya yang meremas kerah jaket Naruto dan akhirnya mundur beberapa langkah seraya menahan rasa kesal yang masih terus melandanya.

"Mattaku, kenapa kau bisa sebodoh itu. Cobalah untuk lebih sedikit dewasa Naruto, kau akan menjadi Hokage! Mana ada Hokage yang sikapnya seperti itu?" kata Tsunade tegas ketika ia melesat duduk di sofa terdekat.

"Gomen..." balas Naruto pelan sambil menundukkan kepala.

"Saat Sakura mengabarkanku soal kembalinya dirimu dari Konoha, aku sangat senang sekali mendengarnya karena jika Sakura bisa mengenalimu, berarti kau sudah berubah kembali menjadi pria lagi, tetapi rasa senang itu langsung pergi begitu saja ketika aku mendengar hal yang lain didalam cerita Sakura. Dia bilang kau terlalu kebanyakan makan sehingga membuat perutmu menjadi membuncit. Awalnya aku heran kenapa perutmu bisa membuncit, tetapi ketika aku mengingat kalau kau sedang hamil aku pun langsung berhambur keluar dari istana untuk memastikan kalau apa yang kubayangkan tidak benar-benar terjadi. Tetapi saat aku melihatmu...semua yang kubayangkan..."

"Gomen."

Mendengar balasan maaf terus menerus dari Naruto, rasa kesal itu mulai muncul kembali didalam diri Tsunade, ia menutup kedua matanya mencoba menetralkan rasa kesalnya tersebut dan kemudian beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan mendekati Naruto yang masih menundukkan kepala.

"Naruto, ikut denganku," bisik Tsunade sambil menepuk kedua bahu Naruto. Sedangkan Naruto yang bahunya di tepuk mulai mendongahkan kepalanya memandangi Tsunade yang pada saat itu sedang menatapnya penuh ketegasan.

"Kemana?" tanya Naruto

"Ke rumah sakit, kita akan melakukan aborsi untuk anak yang ada di perutmu. Dan keputusanku ini sudah mutlak, jadi tak bisa kau tolak."

"!"

Naruto membelalakan kedua matanya saat mendengar keputusan Tsunade tersebut. Ia bilang ia ingin melakukan aborsi kepada anak yang berada di perutnya? Dan ia bilang juga kalau keputusan ini adalah mutlak. Apakah Hokage ke-5 ini tak punya hati? Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan semua itu dengan mudahnya seperti itu? karena Naruto merasa keberatan, ia pun mulai mengerutkan keningnya karena merasa kesal dan kemudian membalas perkataan Tsunade bermaksud untuk menolak keputusan sepihaknya tersebut.

"Ta-tapi..."

"Jika kau mencoba menolakku, maka kau tak akan pernah bisa menjadi Rokudaime."

TBC

A/N: Chapter 12 selesai!, bagaimana menurut Minna? Semakin gaje kah? Gomen ne, disini aku tak meletakkan Sasuke, soalnya aku sedang fokus dengan Naruto yang sedang menjalani kehidupannya yang sedang mengandung seorang bayi di dalam perutnya, hahaha^^

Oh iya, chapter depan adalah chapter yang menentukan nasib Naruto jadi tunggu chapter berikutnya ya!

Oh iya Minna, bolehkah aku bertanya? Ada yang tahu anime Kuroshitsuji gak? Itu anime Yaoi bukan sih, soalnya pas aku membaca manganya di "mangachapterdotnet", manga tersebut menceritakan tentang hubungan Ciel dan Sebastian yang notabene adalah sama-sama cowok. Kalau ada yang tahu, mohon kasih tahu lewat review ya! atau lewat PM juga boleh^^

Arigatou Minna!

Jaa-ne!