Chapter 13 : Natsume dan Natori

"Natsume masuk rumah sakit?!" pekik Sasada begitu Taki menceritakan kejadian tempo hari.

Semua teman-teman sekelas pagi itu menggerumbungi meja Taki. Mendengarkan kronologis alasan Natsume koma dirumah sakit sekarang. Mereka semua memasang wajah cemas, sebagian dari mereka terlihat begitu simpati dan bahkan berencana untuk menjenguk kerumah sakit. Senyum gadis itu mengambang.

"Lihat Natsume-kun, begitu banyak yang peduli denganmu" batinnya.

Jam pulang sekolah. Semua teman-temannya sudah menghambur keluar kelas. Hari ini udaranya terasa cukup dingin. Sebagian dari mereka berencana pergi ke cafe terdekat untuk meminum cokelat hangat. Sebagian lagi langsung pulang untuk mengerjakan PR. Sedangkan Taki tentu saja berencana pergi ke rumah sakit hari ini. Ia sudah meminta izin pada ibunya pagi tadi.

"Taki, kau mau ke rumah sakit bukan? Ayo pergi bersama"

Gadis itu menoleh kearah pria bersurai hitam yang berdiri diambang pintu. Taki mengangguk, "Tunggu sebentar Tanuma-kun"

"Aku juga ingin menjenguk tapi hari ini aku ada les" ucap Nishimura mendengus.

"Aku juga harus membantu ayahku merenovasi dapur" gumam Kitamoto dengan wajah masam.

Taki tertawa kecil, "Tidak apa, saat Natsume-kun sudah sadar. Aku akan mengabari kalian" ucap Taki dan segera menggendong ranselnya dan berlari kearah Tanuma yang menunggu didepan pintu. "Kami berangkat" ucap Taki kemudian melambaikan tangan kearah dua pria itu.

************
Renggang. Dentum lantai dan suara samar dencitan rel kereta. Taki menghela nafas panjang, iris matanya menatap kosong keluar jendela kereta. Menyorot hamparan persawahan dan hutan Yatsuhara. Hanya sebentar, gadis itu kembali membuang nafas.

Tanuma yang menyadari ada yang tidak beres dari gadis disampingnya segera bertanya, "Kau terlihat gusar Taki, ada apa?" tanya Tanuma membuat Taki menoleh.

Gadis itu menyeringai bersalah, "Terlihat jelas ya?"

Tanuma mengangguk.

"Kau pasti menyadarinya Tanuma-kun, Natsume-kun pasti melalui hidup yang berat selama ini. Saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dia terlihat menjauh dari siapapun, padahal dia orang yang baik. Saat aku bertanya alasannya. Dia selalu menjawab 'Aku tidak ingin menyakiti mereka' itu jawaban yang sering kudengar"

Tanuma mengangguk. Mengerti dengan semua ucapan Taki. Sebagai seseorang yang cukup dekat dengan Natsume. Dia merasakan hal yang sama.

"Aku merasa dia pasti punya banyak alasan sehingga menjadi tak percaya diri seperti itu. Dia bilang dia tak punya keluarga. Dia juga tidak pernah mengatakan apapun tentang Natori-san pada kita. Natori-san bilang, Natsume tidak mengakuinya sebagai kakaknya. Namun, entah kenapa aku merasa mungkin Natsume bukannya tidak mengakui. Melainkan ia tidak berani." sambung Taki dengan nafas tertahan.

Iris Tanuma melebar. Yang diucapkan Taki memang benar. Sifat Natsume dan karakter pria itu. Dia tipe orang yang mendahulukan orang lain dibanding dirinya sendiri. Begitu juga tentang hubungan saudara antara dirinya dengan Natori, "Jadi apa yang membuatmu resah?" tanya Tanuma menyelidik.

"Natori-san berjanji akan menceritakan tentang dirinya dan Nagsume hari ini"

Tanuma tercekat.

"Aku merasa, cerita itu bisa menjawab segala pertanyaanku tentang Natsume-kun selama ini. Tentang alasan kenapa dia menjalani hidupnya yang seperti ini" Taki mengepalkan tangannya, "Aku gelisah. Sanggupkah aku mendengarnya? Namun disisi lain, aku ingin mengetahui lebih dalam tentang Natsume-kun."

"Aku juga ingin mendengarnya" sela Tanuma membuat Taki mendongak, menatap iris hitam pria itu. "Natsume adalah teman baikku, aku juga ingin mendengarnya. Dan jika kita mengetahui lebih dalam tentangnya. Mungkin kita bisa sedikit-demi sedikit membantunya. Membawakan matahari untuknya, mengurangi cahaya redup dalam hidupnya selama ini"

Seulas senyum mengambang di wajah gadis itu. Ia mengangguk yakin. "Eum.. Ayo tolong Natsume-kun"

Tembok putih. Aroma obat-obatan menguar di udara, orang-orang dengan jas putih serta wanita bertajuk berlalu lalang dilorong. Denting lift diiringi pintu yang terbuka. Tanuma dan Taki berjalan menuju ruang 101. Ruang rawat VIP yang sengaja dipesan Natori untuk Natsume. Walau mereka berdua yakin, alasan utama pria itu adalah agar ia bisa tidur sedikit lebih nyaman saat menjaga Natsume.

"Yoo kalian datang ternyata" sambut Natori dan melipat koran yang tadi ia baca.

Taki berjalan kearah brankar. Mata Natsume masih terpejam, selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Gadis itu bisa mendengar deru nafas Natsume-kun dari tempat ia berdiri. Taki tersenyum, menyentuh pelan surai pirang pria didepannya, "Cepatlah sadar Natsume-kun"

Taki membalikan badan, menghadap Natori yang sibuk menyesap kopi kaleng nya, "sesuai janji, bisakah anda menceritakan padaku Natori-san?"

Natori tersenyum. Diletakannya kaleng kopi diatas meja. Pria itu mengangguk.

"Baiklah, sesuai janji, mau sambil kutaktir makanan di kanti-"

"Bisa anda menceritakannya disini saja Natori-san" sela Tanuma membuat kedua alis Natori tertaut, "Aku sudah menganggap Natsume sebagai sahabat baikku. Natsume juga pernah menceritakan sedikit tentang dirinya padaku. Namun, aku ingin mendengar yang lebih detil. Sebagai temannya, aku ingin menolong Natsume"

Air muka Natori berubah, ia tercekat, iris hitam Tanuma dan iris cokelat Taki menyorotnya dalam. Bibir pria itu getir sejenak hingga seulas senyum terukir disana, "Begitu ya.." gumamnya. Natori melangkah mendekati tubuh Natsume, mengusap pelan rambutnya. "Kau punya banyak teman baik ya, Natsume. Syukurlah"

"Baiklah.. Kalian berdua. Dengarlah"

[Flashback]
Natori Shuuichi POV

Tokyo. 25 Desember 2013

Hidup dalam keluarga terhormat yang dipandang tinggi orang-orang sekitar, harta melimpah dan wajah yang rupawan. Mungkin itulah yang semua orang pikirkan tentangku, tentang Natori Shuuichi. Mereka pikir aku hidup dengan nyaman, tidak ada kekurangan satupun. Terlahir sebagai seseorang yang sempurna.

Andai itu bukan suatu pelanggaran hukum kekerasan, aku bisa saja menjahit mulut mereka. Memang benar, dalam segi finansial aku tak punya kekurangan satu pun. Semua kebutuhan ku terpenuhi, rumah besar lengkap dengan pelayan. Hanya satu yang tidak kupunya. Sesuatu yang sangat penting dan menyangkut harga diriku sendiri. Yaitu,

Pengakuan

Aku tidak pernah merasa kurang dalam berusaha. Keluarga Natori terkenal memiliki keturunan dengan kecerdasan ilmu dan intelektual tinggi. Sebagai seorang kepala keluarga, hal itu adalah salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki. Sebagai anak tunggal keluarga Natori. Aku sudah berusaha. Mewujudkan semua itu, belajar dengan baik disekolah. Namun, paling bagus aku hanya berhasil meraih peringkat lima besar.

Aku tak punya prestasi menonjol yang mampu dibanggakan. Walau aku sudah berusaha. Ayah tidak senang akan hal itu. Menurutnya aku masih jauh dibawah standar. Saat berada didepanku, ayah tak pernah sekalipun tersenyum. Ia memandangku seperti seekor merpati cacat yang terkurung didalam sangkar.

Hingga suatu hari ayah memberikan sebuah pengumuman kecil saat makan malam. Dia bilang ingin mengadopsi seorang anak laki-laki putera temannya yang telah meninggal. Jujur, aku menyambut baik akan hal itu. Memiliki saudara adalah suatu yang diimpikan anak tunggal sepertiku. Aku berharap kami bisa saling berbagi suatu saat. Saling mengerti. Dia bisa mengurangi beban ku saat berada di rumah karena kekangan ayah.

Tepat di hari natal. Ayah membawa anak laki-laki berwajah imut itu kerumah. Anak itu terlihat malu-malu. Pipinya memerah dan ia menunduk karena kami menatapnya.

"Nah Takashi, mulai sekarang rumah ini adalah rumahmu" ucap ayah dengan 'senyum' ramah yang tak pernah kudapatkan sebelumnya, "Natori, nama anak ini adalah Natsume Takashi. Ayah ingin kau menjaganya, anggap dia sebagai adik kandungmu sendiri. Mengerti" ucap ayah dan aku mengangguk.

'are'

Anak itu berjalan kearahku. Memberikan sepasang kaos tangan berwarna hijau tosca kepadaku, "Natori-san, ini hadiah natal. Di panti, aku belajar merajut dari ibu guru. Mereka bilang aku akan dijemput keluarga baruku saat natal tiba. Jadi aku membuatkan ini, untuk keluarga baruku"ucapnya malu-malu.

Aku menatap sarung tangan itu, terlihat kecil dan ada beberapa bagian yang tidak dirajut dengan rapi. Gawat. Aku ingin menangis, aku mengusap kepala anak itu. "Arigatou! Panggil saja aku Shuuichi ya Takashi"

Anak laki-laki itu mendongak. Ia tersenyum lebar dan mengangguk. Membuatku dan beberapa pelayan tertawa kecil. Aku melihat wajah ayah yang duduk di sofa. Seulas senyum tipis terukir disana, aku menghela nafas. Jika dengan bersama Takashi bisa membuat ayah sering tersenyum. Maka akan kulakukan.

Aku menghabiskan liburan musim dinginku bersama Takashi. Dia anak yang pintar, mudah belajar. Aku mengajarinya bermain sepak bola, dan kami sering bermain oper mengoper bola di halaman belakang. Dia sering tertawa dan ceria. Dan jujur itu membuatku bahagia.

Malam itu aku terbangun, dan berjalan menuju toilet. Terdengar suara isakan kecil, aku menoleh kearah kiri. Itu pintu kamar Natsume. Aku menggeser pintu kamarnya, sedikit. Meninggalkan celah sempit. Aku mengintip dibalik celah itu, mataku menangkap sosoknya disana. Ia memeluk sebuah buku, yang setahuku Takashi bilang ia menyelipkan foto orangtuanya disana. Anak itu menangis.

"Ayah..Ibu" lirihnya disertai isakan kecil.

Suaranya menyayat hati. Membuatku ingin ikut menangis bersamanya. Dia yang selalu tertawa didepanku pastinya sebenarnya menyimpan luka di hatinya. Dia masih sangat kecil, umurnya kurang dari sepuluh tahun. Namun beban yang ia tanggung sangat berat. Kehilangan kedua orangtua dan tempat tinggal. Aku mengalihkan pandangan, merutuki diriku sendiri yang selama ini tidak bersyukur atas apa yang kudapat.

Aku selalu saja kesal dan mengeluarkan sumpah serapah hanya karena ayah tak pernah mengakuiku. Lalu, bagaimana jika aku berada di posisi Takashi? Sanggupkah aku bertahan.

Bersambung..