The joke is on you

(The Joke – Lifehouse)


Previous Chapter: Sungmin bercerita pada Shinhye tentang syarat dan taruhan yang sudah disepakati antara dirinya dan Kyuhyun.


Kyuhyun menambah kecepatannya. Ia tidak ingin terlambat. Karena itulah yang dijanjikannya pada Sungmin. Menjadi siswa yang baik, tidak membolos, tidak terlambat, dan juga mengerjakan tugas yang diberikan.

Hari ini sudah tepat satu minggu semenjak perjanjian sore itu. Sejauh ini Kyuhyun sudah melaksanakan apa yang disyaratkan Sungmin. Perubahan itu membuat kegemparan di SMA Suju. Guru-guru, murid kelas 2D, bahkan satu sekolah membicarakan perubahan yang dialami Kyuhyun.

Itu yang dialami Kyuhyun. Bagaimana dengan Sungmin? Sungmin nyaris gila karena ulah Kyuhyun. Setiap ada kesempatan, Kyuhyun selalu mendatanginya. Alasannya beragam, tapi kebanyakan tentang pelajaran, yang Sungmin yakini bahwa itu hanya alasan Kyuhyun saja. Mengingat bagaimana kemampuan Kyuhyun, bisa dipastikan ia hanya mencari-cari alasan untuk bertemu Sungmin.

Seperti pagi ini, Kyuhyun membawa langkahnya cepat setelah memarkirkan motornya. Setengah berlari Kyuhyun melintasi lapangan olahraga agar lebih cepat bertemu dengan orang yang ingin ditemuinya, siapa lagi kalau bukan Sungmin.

BRUK.

"Aw!" Pekik seseorang yang tidak sengaja ditabrak Kyuhyun.

Senyum Kyuhyun mengembang saat melihat siapa yang ditabraknya. Ia berjongkok di depan Sungmin yang sedang meringis. "Pagi-pagi kita sudah bertabrakan. Tentu bukan kebetulan. Aku yakin kita berjodoh," gumam Kyuhyun sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Sungmin berdiri.

Kesenangan Kyuhyun teralihkan saat dilihatnya Sungmin masih terduduk sambil mengaduh kesakitan.

"Kau baik-baik saja?" tanya Kyuhyun yang berubah khawatir.

Sungmin menjawab hanya dengan rintihan kecil. Tangannya menunjuk pada bagian kakinya. Mata Kyuhyun melebar melihat posisi kaki Sungmin yang tidak wajar. Sepatu sebelah kanannya lepas dengan heels yang nyaris lepas.

"Ka... Kakimu sakit?" tanya Kyuhyun tidak tega melihat Sungmin kesakitan.

"Aaa!" Pekik Sungmin saat Kyuhyun menekan tepat di bagian kakinya yang sakit.

Tanpa basa-basi Kyuhyun langsung menggendong Sungmin. Membuat Sungmin meronta minta diturunkan. "Apa yang kau lakukan?! Turunkan saya!"

"Kakimu pasti patah. Aku akan membawamu ke rumah sakit," Kyuhyun mulai berjalan.
Sungmin sekali lagi menggerak-gerakkan tubuhnya agar Kyuhyun mau menurunkannya. Sungmin yakin, sekarang dirinya sudah menjadi pusat perhatian, terlebih saat mereka melintasi lapangan.

"Tidak perlu ke rumah sakit. Aku hanya terkilir, sebaiknya ke klinik saja," ujar Sungmin akhirnya, sekeras apapun ia meronta Kyuhyun akan tetap menggendongnya.


"Sepertinya tidak parah. Aku juga sudah memijat bagian kakinya yang terkilir. Aku akan memberinya salep dan pereda nyerinya. Dia akan baik-baik saja," ujar Sunny, calon dokter yang sedang berjaga di klink SMA Suju, untuk menggantikan Dokter Henry yang sedang ke luar kota.

Kyuhyun menghela napasnya. "Syukurlah," gumam Kyuhyun pelan.

Sunny mengambil obat untuk Sungmin tepat di saat bel masuk berbunyi.

"Kau harus masuk ke kelaaw…!" Sungmin memekik di ujung kalimatnya saat Sunny menekan-nekan kakinya. Pekikan Sungmin membuat Kyuhyun ikut mengaduh, seolah-olah ikut merasakan sakit.

Kyuhyun menggeleng keras. "Aku akan menemanimu di sini," ujar Kyuhyun tegas.

"Kalau kau membolos..."

Rahang Kyuhyun sedikit mengeras. "Oke, oke. Aku akan ke kelas," ujar Kyuhyun akhirnya.

"Dokter, bisakah aku minta tolong untuk menjaganya?" tanya Kyuhyun pada Sunny yang sedang mengoleskan krim di kaki Sungmin. "Jika sesuatu padanya, tolong panggil aku di kelas 2D."

"Uhm.. Ya."

Kyuhyun menatap Sungmin sebentar sebelum akhirnya keluar dari klinik, untuk kembali ke kelas.

"Murid yang 'baik' ya?" tanya Sunny dengan senyum tulus yang tidak dimengerti Sungmin.


Ini sudah ketiga kalinya Kyuhyun datang ke klinik. Setiap pergantian jam pelajaran, Kyuhyun datang untuk mengecek Sungmin. Sunny sampai geleng-geleng kepala dan berusaha meyakinkan Kyuhyun bahwa Sungmin aman di bawah pengawasannya. Tapi Kyuhyun tetap cuek dan tetap datang.

"Untukmu," kata Kyuhyun pada Sungmin.

Sungmin menatap kotak bekal di pangkuannya. Belum sempat Sungmin mengucapkan apa-apa, Kyuhyun sudah berlalu karena harus mengikuti pelajaran berikutnya.

Sungmin membuka kotak bekal itu. Roti isi yang dibentuk hati. Kemudian Sungmin menatap pintu klinik yang tertutup rapat, tanpa sadar Sungmin tersenyum.

'Tidak, tidak. Sepertinya bukan hanya kakiku yang terkilir, tapi juga otakku.' Gumam Sungmin dalam hati untuk mengusir senyum yang tidak diundang sama sekali kehadirannya itu.

Sungmin menatap roti itu dengan pandangan aneh, seolah-olah ia baru pertama kali melihat sebuah roti isi.

"Bukankah dia Cho Kyuhyun?" tanya Sunny tiba-tiba dari ruang penyimpanan obat.

Sungmin buru-buru menutup kotak makan itu dan menganggukkan kepalanya. Sunny yang baru sebenarnya baru tugas beberapa hari untuk menggantikan ternyata sudah mengenal Kyuhyun.

"Kau mengenalnya?" Sungmin balik bertanya.

Sunny menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya mendengar namanya disebut saat beberapa hari yang lalu saat seorang siswa datang ke klinik dengan wajah babak belur."

'Ah, pasti pertistiwa perkelahian antara Donghae dan Kyuhyun yang Dokter Sunny maksud,' ujar Sungmin dalam hati.

"Dia sepertinya bukan murid yang biasa-biasa saja ya?" tanya Sunny kemudian.

"Dia sama seperti yang lain," jawab Sungmin sekenanya.

"Dia begitu perhatian padamu," lanjut Sunny. "Mungkin kalau kukatakan padanya bahwa kakimu harus diamputasi, dia akan gila," canda Sunny disertai tawa kecil.

Sungmin tidak menanggapi candaan Sunny. Entah kenapa hatinya merasa terusik mendengar ucapan Sunny.

"Bisa aku minta tolong? Seharusnya aku mengisi kelas, tapi karena aku kesulitan berjalan, aku minta tolong untuk menyerahkan ini ke bagian piket," pinta Sungmin untuk sekalian untuk mengalihkan topik pembicaraan Sunny.

Sunny menerima buku dan catatan dari Sungmin, lalu keluar untuk membantu Sungmin menyerahkan tugas-tugas mengajarnya. Setelah pintu tertutup, Sungmin kembali membuka kotak bekal pemberian Kyuhyun. Sungmin membagi roti itu menjadi dua, kemudian tersenyum.


"Selai kacang? Aku kan alergi," ujar Sungmin sambil geleng-geleng kepala.


TBC