All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto

"PEMAKAN HATI YANG MEMAR"

By Kohan44


PERINGATAN

"Mengandung OOC, AU, dan Pair sesuka author. No BL."

"GROSTESQUE ROMANCE"

10 Petal : Memar


Riuh penonton tak berhenti meski pertandingan sudah lama berakhir. Naruto tak mengira pertandingan kualifikasi tersebut bisa memenuhi hampir semua kursi penonton. Mungkin, seluruh siswa di sekolahnya hadir, dan begitupun sekolah lawannya. Di antara mereka ada yang membawa pemandu sorak dan bendera sekolah. Para pemenang bersorak sorai mengibas-ngibaskan topi ke arah penonton. Para pemain dan tim sukses beremuk, melempar satu per satu pemain ke udara sambil menyerukan 'Hei-ho! Tsubasa! Hei-ho! Waseda Academy!' diikuti teriakan penonton. Naruto kira orang pertama yang akan mereka lempar adalah seseorang yang menjadi pusat perhatian hari ini, tapi tidak. Orang itu berlari keluar lapang dan menghilang.

Sakura yang sedari tadi paling bersemangat berteriak, berlari meninggalkan kursi penonton. Naruto yakin, Sakura juga melihat apa yang Naruto lihat. Kendati enggan, Naruto menjejakkan kaki mengikuti Sakura, karena Sakura adalah alasan yang Naruto punya untuk menghadiri pertandingan ini.

Di antara desakan penonton yang berbondong-bondong mencari pintu keluar, Naruto mengimbangi kegesitan Sakura melesat dalam cela kecil. Beberapa orang berseru, mengeluh, mengumpat dan berucap sumpah serapah kepada Naruto dan Sakura yang tanpa rasa maaf menabrak mereka, membuat barang bawaan dan beberapa makanan di tangan mereka jatuh. Tapi Naruto tetap mengikuti Sakura, menuruni tangga, memasuki lorong yang jelas di sana tertera peringatan dilarang masuk, berbelok ke sana, ke sini, menyusuri lorong berlumut, dan setelah menempuh perjalanan yang jauh itu, mereka harus berbalik kembali ke arah semula, ke titik pertama mereka memulai perjalanan ini, karena di sana mereka menemukan jalan buntu. Di pertigaan di dalam gedung stadion, mereka menaiki tangga, keluar dari stadion, berlarian, dan itu tentu saja mengeluarkan banyak helaan nafas dan keringat. Mereka tiba di bagian belakang stadion, bagian paling hening karena jauh dari pintu utama, bagian yang hanya dipakai oleh para pemain, bagian yang memiliki peringatan keras 'penonton dilarang masuk'. Sakura melompati peringatan tersebut dan kaki Naruto menabrak di papan peringatan sampai papan tersebut terlepas dari tiang penyangga. Sakura tak menoleh ketika Naruto mengerang keSakitan.

Sakura, yang seolah tak tahu apa itu arti 'peraturan', melesat melewati segalanya tanpa batas, mengikuti keinginan dan melebarkan sayapnya, seakan Naruto melihat sayap itu berkata, "kebebasan!" dan menarik Naruto untuk mengikutinya tanpa bertanya, "kemana? Untuk apa? Bagaimana caranya?"

"Sakura!" Naruto mengambil langkah lebar, tangannya terbentang meraih Sakura, namun gadis itu terlalu jauh dari jangkauan. "Sakura!"

BRAK! Sakura terpeleset dari pagar yang dia panjat. Naruto yang masih berada di sisi pagar yang lain hanya menonton bagaimana Sakura mengaduh mengusap pantat dan kepalanya terbanting ke sana-ke sini sebelum akhirnya membentur tanah. Astaga, pasti sakit, Naruto menggumam, mukanya mengerut seolah merasakan sakit yang sama. Kakinya hendak memanjat dan melompat turun dengan cepat ke seberang untuk merangkul Sakura, tapi pikirannya memberontak. Melakukan itu akan nampak... mencurigakan. Jadi, Naruto...

"BAHAHAHAHA CEWEK BODOH!" Naruto berseru, tertawa lantang memegangi perut. "Wajahmu seperti es krim leleh…." Naruto menuruni pagar pembatas satu per satu hati-hati dan santai sambil terus bertingkah seolah-olah kejadian barusan sangat lucu ketimbang mengkhawatirkan. Sebelum Naruto mendekatinya, Sakura sudah bangkit berlari menyelesaikan satu belokan lalu... berhenti dan mematung.

Mereka bertemu seseorang yang seharusnya masih di tengah lapang, dielu-elukan namanya karena telah memberi mereka banyak pukulan sekaligus skor yang memenangkan permainan. Uchiha Sasuke lengkap dengan seragam pertandingannya berdiri di depan Isamine Karin, keduanya saling tersenyum menyampaikan binar. Itu pemandangan hangat yang pernah Naruto lihat. Tapi Naruto tak bisa tak terkejut melihat Karin duduk di kursi roda. Kedua orangtuanya menjaga jarak di belakang Karin, berpura-pura tak menonton apapun yang putrinya sedang bicarakan.

"Sasuke!"

Dengan langkah tak gentar, Sakura menghampiri mereka, merubuhkan apapun yang tengah mereka bangun. Entah mengapa Naruto bergerak gusar. Naruto tidak pernah mencegah Sakura ketika dia ingin melompati pagar dan membuat resiko melukai dirinya sendiri. Naruto selalu membiarkan Sakura berpetualang dimana pun sekalipun dia berakhir mendapat pukulan rotan dari guru. Namun kali ini, ada dorongan yang menekan dirinya untuk bergerak menahan Sakura. Dorongan yang dia cari-cari alasannya kenapa.

"PERGILAH PEREMPUAN JALANG!"

Naruto terkesiap mendengar penolakan yang jelas keluar dari mulut Karin. Gadis yang belum muncul lagi di sekolah setelah tak seorang pun tahu apa yang sebenarnya membuat Karin berdarah-darah dilarikan keluar sekolah.

Langkah Sakura terhenti.

"Kau monster. Pergi!"

Isamine Karin, adik kelas mereka yang amat lucu dan imut, paling mudah dikenali karena dia yang rambutnya paling unik di sekolah. Anak yang mudah ditemukan di taman biologi. Anak periang yang pernah menyapa Naruto dan mengatakan hal-hal indah seperti, "Kak Naruto, bagaimana caranya supaya menjadi seperti Kak Naruto?", yang tidak pernah menolak ketika dimintai tolong sekalipun itu membuatnya repot, dan Naruto tahu dari mata anak itu, dia bukan seorang tandingan bagi Sakura. Keduaya adalah hal bertolak belakang. Dalam sekali tatap, Naruto tahu Karin bahkan tak pernah telat satu menit pun ke sekolah, atau mengabaikan PR sekalipun PR itu membuat otaknya seperti dijepit kawat listrik, atau berdiri di depan kelas mengangkat dua ember air dengan betis memar gara-gara menentang guru, atau menjadi bahan gosip di sekolah. Karin bahkan tak nampak seperti seseorang yang bisa membunuh seekor semut. Mendengarnya menyerukan kata-kata pengusiran, membuat Naruto berkata pada dirinya sendiri, apa yang telah dilakukan Sakura?

Sasuke menarik pegangan kursi Karin, membuatnya memutar membelakangi Sakura dan Naruto. Tanpa kata, keduanya menjauh. Nyonya Isamine menghadap Sakura seolah hendak berlari menerkamnya, ditahan Tuan Isamine dan dipaksa mengikuti kemana Sasuke membawa putri mereka.

Setelah mereka pergi dan stadion pun berangsur-angsur hening, Sakura masih diam terpaku. Ada jarak di antara Naruto dan Sakura. Jarak yang dekat namun terasa begitu jauh dan dingin.

"Sakura..."

Naruto meraih lengannya. Dingin. Naruto menggenggamnya kuat. Sekuat keinginannya membawa Sakura pergi. Sakura mengangkat kepala, membuat Naruto tercengang melepas genggaman.

Naruto menyeka air yang menderai di sudut mata. "Sakura," panggilnya panik. Sesuatu pasti telah melukai Sakura. Tak peduli seberapa sering Naruto menghapusnya, air itu datang seperti aliran sungai, membuat kedua tangan Naruto bergetar salah tingkah. Rasa panik telah menghapus banyak kata, dan hanya menyisikan satu kelompok kata dipayungi kata memar. Luka tanpa darah, berwarna gelap dan semakin gelap ketika waktu membawanya bersemayam lama. Memar tidak Sakit jika kau tidak menyentuhnya.

"Sakura,"

Air mata itu surut ketika sebuah pelukan menenangkannya.

Rotan telah mencambuk kaki Sakura sampai memar, tapi dicampakkan yang tak meninggalkan memar ternyata jauh lebih menyakitkan.