Disclaimer: Masashi Kishimoto
Naruto
Penjaga Hati Dari Masa Depan
By Hikari Syarahmia
Pairing: Naruto x Hinata
Genre: Scifi/romance/humor/mystery/adventure
Cerita ini terinspirasi dari lagu believe by Arashi
Selasa, 14 April 2015
.
.
.
Chapter 13: The future of secret unpack
.
.
.
Di sebuah rumah minimalis bergaya eropa dengan warna putih dan ungu. Ada dua pilar penyanggah yang menopang atap bagian teras rumah dengan ukiran yang klasik. Dua pilar tersebut terbuat dari batu marmar. Ada kesan rumah minimalis ini terkesan mewah.
Di halaman yang cukup luas. Dipagari dengan tanaman bonsai yang ditata rapi. Lalu banyak rumput-rumput hijau yang sengaja dipelihara untuk menambah kesan alami dan segar. Dipadu dengan banyaknya pepohonan rimbun di dekat rumah tersebut. Juga pemandangan indah dengan banyaknya macam-macam bunga ditanam dekat tanaman bonsai tersebut.
Itulah rumah Hinata.
Sejenak berdirilah dua manusia berjenis kelamin laki-laki di tengah halaman rumah Hinata tersebut.
"Jadi, si Dobe tinggal di sini selama di zaman ini," ujar Sasuke menatap lama ke arah rumah Hinata.
"I-iya," kata Menma mengangguk cepat."Ini adalah rumahnya Hyuga Hinata."
Sejenak Sasuke memperhatikan keadaan sekeliling rumah Hinata. Keadaan sangat sepi. Hanya terasa desiran angin yang bertiup lembut sehingga membuat semua tanaman di sekitar rumah melambai-lambai karena ditiup angin.
Lalu Sasuke beranjak menuju pintu rumah. Menma mengikutinya dari belakang.
Begitu sudah di dekat pintu, Sasuke hendak mengetuk pintu tersebut. Mendadak pintu rumah pun terbuka.
CKLEK!
Pintu terbuka. Muncul seorang laki-laki berambut hitam panjang di balik pintu tersebut. Ia sudah berdiri dengan kedua tangan yang melipat di dada.
Menma kaget setengah mati. Sasuke tidak kaget sedikitpun.
"Heh? K-kau, kan?!" seru Menma membelalakkan kedua matanya sambil memasang wajah panik. Ia hendak memutar otaknya untuk mengingat siapa orang yang telah berdiri di ambang pintu ini.
Orang yang tak lain adalah Neji, lalu ia melirik Menma dengan tatapan yang melotot. Cukup membuat wajah Menma pucat seketika.
"Namikaze Naruto ...," sahut Neji dengan tatapan yang sangat mengerikan.
"I-iya!" kata Menma gugup.
Sesaat Neji berbalik badan dan mengambil sesuatu di balik pintu. Menma dan Sasuke memperhatikannya dengan bingung.
Tiba-tiba ...
SYUUT! DHUAAAK!
Kepala Menma sukses dihantam oleh benda yang keras akibat lemparan Neji yang tiba-tiba.
BRUUK! GEDUBRAAAK!
Menma terjatuh dan menghempas tanah yang dipenuhi rumput. Ditambah dengan ditimpa sebuah koper berukuran besar yang barusan dilempar oleh Neji dan sempat menghantam kepala Menma itu. Sehingga Menma merasakan sakit di seluruh tubuhnya akibat jatuh tadi.
"Aduh!" seru Menma mengeluh kesakitan.
Sasuke pun melongo karena melihat adegan ini dengan sweatdrop besar hinggap di kepalanya.
SIING!
Sesaat suasana sepi. Sasuke yang terpaku berdiri dan melihat Menma yang terkapar dengan kepala yang benjol-benjol. Si Neji yang innocent itupun tersenyum senang penuh kemenangan.
Menma menyingkirkan koper besar itu dari tubuhnya. Muncul perempatan di kepalanya. Ia pun meledak seketika.
"HEI, APA-APAAN KAU? SEENAKNYA TIBA-TIBA BEGITU KAU MELEMPAR AKU DENGAN KOPER BESAR INI! DASAR, KAU ITU SIAPA SIH?!" sembur Menma mencak-mencak sendiri setelah ia bangkit berdiri.
Seketika sweatdrop muncul di kepala Neji dan Sasuke. Mereka berdua speechless di tempat.
Neji menatap Menma dengan tidak percaya.
"Hei, memangnya kau tidak ingat denganku, hah?" kata Neji dengan suara keras.
Menma sejenak meredakan emosinya. Wajahnya merah padam. Keluar asap mengepul dari dalam hidungnya.
"A-aku memang tidak tahu siapa kau."
"A-APA?"
Kedua mata Neji melotot sedikit. Tapi, dengan cepat, ia menguasai wajahnya agar kembali datar seperti semula.
Hening lagi. Mereka bertiga terdiam.
Lalu muncul Hinata dari dalam rumah. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Menma.
"Na-Naru-chan!" seru Hinata berlari kecil untuk segera keluar menghampiri Menma.
Neji berbalik badan dan mencegat langkah Hinata.
"JANGAN, HINATA-CHAN!"
"Ta-tapi, Ne-Neji-nii ..."
"Nii-san sudah bilang padamu agar tidak mendekati cowok asing itu. Identitasnya sangat meragukan. Kau malah mengizinkan dia tinggal di sini. Apalagi kalian berlainan jenis. Nii-san takut dia berbuat macam-macam padamu. Lebih baik dia pergi dari sini," kata Neji panjang lebar dengan suara yang keras."Tidak baik jika kalian tinggal berdua tinggal dalam satu rumah. Kau mengerti, Hinata-chan?"
Hinata terperanjat mendengar kemarahan kakaknya. Ia membulatkan matanya sebentar. Lalu ia menunduk dengan muka yang kusut.
"I-iya, Neji-nii."
Neji menatap lama wajah Hinata. Wajah Hinata yang suram. Ia pun menghelakan napasnya. Kemudian ia menoleh ke arah Menma. Kini Menma menatap Neji dengan tajam. Begitu juga dengan Neji.
"Oh, aku baru ingat kalau kau adalah Hyuga Neji. Kita bertemu pada saat di UKS itu."
"Oh, jadi sekarang kau telah mengingatku."
Neji dan Menma tersenyum sinis bersama-sama. Sasuke yang sedari tadi menonton adegan ini, hanya diam terpaku berdiri. Ia speechless melihat Hinata, Neji dan Menma yang sedang terlibat dalam suasana yang memanas.
Rasanya seperti menonton pertunjukan drama panggung. Begitulah suasana yang dirasakan Sasuke saat ini.
Neji pun secara langsung bersiul keras.
SUUIIT!
Tiba-tiba muncul seekor anjing berbulu putih berukuran raksasa dari arah atas rumah dan melompat serta mendarat tepat ke arah Menma.
SYUUUT!
Menma kaget bukan main. Ia membulatkan kedua matanya ketika seekor anjing bermata tajam melompat dan menerkam ke arahnya.
"WUAAAH!" teriak Menma sekeras mungkin. Ia tidak sempat menghindar.
BRAAAK!
Anjing putih raksasa yang berukuran 2 meter itu mendarat dengan mulusnya dan menimbulkan efek gempa bumi yang sangat dahsyat.
GREGEK! GREGEK!
Halaman rumah Hinata pun dipenuhi kabut debu. Sesaat suasana menjadi kacau balau.
Di antara kepulan kabut debu akibat terjangan tanah saat pendaratan anjing putih raksasa tersebut, tergeletak Menma dalam posisi terlentang sambil menutup mulutnya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Menma terbatuk-batuk.
"Menma, kau tidak apa-apa?"
Terdengar suara berat dari samping Menma. Menma menoleh.
"Sa-Sasuke !"
Terlihat Sasuke memasang wajah garang. Posisi tubuh Sasuke saat ini dalam keadaan berlutut ala seorang pangeran. Tangan kanannya sedang menekuk ke dada. Time Broce di pergelangan tangan kanannya bercahaya biru terang.
Menma memperhatikan keadaan sekelilingnya. Membulat kedua mata saffir biru miliknya.
"I-ini adalah pelindung kubah gravitasi."
Tampak hamparan energi biru yang membentuk hologram kubah berbentuk empat dimensi. Pelindung kubah gravitasi itu melindungi Menma dari serangan anjing putih raksasa tersebut.
Lantas Sasuke menekan Time Broce miliknya.
KLIK!
Sekejap mata hamparan energi biru pelindung kubah gravitasi menghilang bersamaan dengan Menma dan Sasuke menghilang dari tempat tersebut.
PYAASH!
Sebelum kepulan kabut debu menipis, si anjing putih raksasa menajamkan kedua mata merahnya untuk mencari sosok yang telah ia injak.
Tapi, sosok itu tidak ada di mana-mana. Si anjing putih raksasa kehilangan jejaknya.
"Bagaimana Akamaru? Apakah cowok itu telah mati?" tanya seorang laki-laki berambut hitam pendek dengan tato segitiga merah di kedua pipinya. Ia tiba-tiba muncul di dekat anjing putih raksasa tersebut.
Anjing putih raksasa yang bernama Akamaru itu menoleh.
"Guk! Guk! Guk!"
Sepertinya si Akamaru ingin mengatakan sesuatu kepada tuannya. Hanya tuannya yang mengerti dengan semua ucapannya. "Hm, begitu. Rupanya ia kabur."
Orang itu mengangguk-angguk sambil memegang dagunya.
Sementara Neji yang masih berdiri di ambang pintu bersama Hinata. Mereka menyaksikan semuanya dengan perasaan yang berbeda. Terutama Hinata. Seketika raut wajahnya menjadi kesal.
"Nii-san, apa-apaan ini? Apa yang Nii-san lakukan kepada Naruto?" bentak Hinata dengan wajah merah padam.
Neji menoleh ke arah Hinata dengan tatapan sinis.
"Jadi, Hinata-chan. Imouto-ku tercinta selama ini telah menyembunyikan seorang penjelajah waktu !"
Mendengar perkataan Neji tersebut, membulatlah kedua mata Hinata.
"A-apa maksud Nii-Nii-san se-sebenarnya?" tanya Hinata dengan wajah pucat dan keringat dingin mengucur.
"Hinata-sama, kami ingin tahu lebih lanjut tentang Namikaze Naruto itu," kata orang yang memiliki tato segitiga merah terbalik di kedua pipinya. Ia tengah menggendong Akamaru yang telah berubah menjadi anjing berukuran kecil. Sekarang ia berdiri tepat di samping Hinata.
Neji dan orang yang tak lain adalah Kiba. Kiba menatap Hinata dengan tajam. Berharap Hinata memberikan jawaban yang jujur tentang sebenarnya Namikaze Naruto itu.
'Ga-gawat, rahasia Naruto-san telah terbongkar oleh orang di masa sekarang ini.'
Itulah suara hati Hinata yang merupakan jelmaan dari Naruko, si Android 02.
.
.
.
Untung saja Sasuke menggunakan sistem teleportasi untuk menyelamatkan Menma dari serangan anjing raksasa. Mereka pun mendarat tepat di dalam apartemen milik Sasuke.
Kini mereka berdua sudah terduduk lesu di sofa yang lembut, tepat di ruang keluarga yang bersatu dengan ruang tamu. Terutama Menma yang benar-benar sangat terengah-engah.
"Syukurlah, kita selamat!" seru Sasuke menghelakan napasnya berkali-kali."Untung aku cepat melindungimu dengan sistem program pelindung kubah gravitasi. Sehingga kita bisa kabur dari anjing genetika itu."
Menma melirik ke arah Sasuke yang duduk di sampingnya.
"Ya, kau benar, Sasuke. Kalau begitu, aku mengucapkan terima kasih."
"Ya, kembali," jawab Sasuke dengan tersenyum lebar.
Sesaat mereka terdiam. Mereka sedang berusaha menenangkan diri akibat insiden tadi.
Kalau dipikir-pikir, anjing putih raksasa yang menyerang Menma tadi. Sebenarnya makhluk apa itu? Mana ada anjing bisa berukuran raksasa sekitar 2 meter begitu di tahun 2014 ini. Kecuali dia dibuat menjadi anjing super dengan disuntik bahan-bahan kimia.
Lalu Neji yang terus berbicara kepada Menma. Ia tidak menyadari kehadiran Sasuke yang berdiri di samping Menma. Seolah-olah Sasuke tidak tampak alias hanya Menma saja yang dilihat oleh Neji.
Suatu kejanggalan yang berhubungan dengan masa depan. Sejenak mereka berdua memikirkannya.
Setelah lama terdiam, Menma yang memecah kebisuan di antara mereka berdua.
"Hei, Sasuke!"
"Hn."
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa itu?"
"Kenapa Hyuga Neji itu tidak menyadari kehadiranmu yang berada di sampingku?" tanya Menma mengerutkan keningnya."Seolah-olah dirimu tidak terlihat olehnya."
Sasuke menatap serius wajah Menma. Dia pun tersenyum simpul.
"Ehm, tentu saja aku tidak terlihat oleh Hyuga Neji saat itu. Karena aku menggunakan program Transparent sehingga aku menjadi seperti hantu yang tidak kasat mata," jawab Sasuke menjelaskan.
Menma terpana melihat Sasuke. Sedetik kemudian, ia jawdrop sendiri.
"Ja-ja-jadi, ka-kapan kau menggunakan program Transparent itu?"
Menma menunjuk-nunjuk ke arah muka Sasuke. Tentu saja membuat Sasuke sewot karena wajah tampannya ditunjuk-tunjuk tidak jelas oleh kloning Naruto itu.
"Apa-apaan kau menunjuk wajahku seperti itu?" ucap Sasuke menepis tangan kanan Menma yang menunjuk wajahnya.
"Tentu saja aku menggunakannya pada saat sebelum aku mengetuk pintu rumah Hinata tadi," lanjut Sasuke.
Menma mengangkat kedua alisnya.
"Oh, jadi begitu."
"Hn."
Sasuke mengangguk pelan. Sesaat Menma menarik pandangannya untuk memperhatikan seisi ruangan apartemen Sasuke.
"Jadi, kita ada di mana?"
"Apartemenku."
"Apartemenmu?"
"Hn."
"Kau tinggal sendirian?"
"Tidak. Berdua dengan Pain."
"Oh."
Menma manggut-manggut.
"Sepertinya kau diusir dari rumah Hinata."
"HAH? APA BENAR?!"
Menma menoleh ke arah Sasuke dengan kedua mata yang terbelalak keluar.
"Jika tidak percaya, lihat isi koper yang berada di bawah kakimu itu."
Sasuke menunjuk letak koper besar yang berwarna hitam, tepat di bawah kaki Menma. Menma memandang ke bawah.
"Hah, ini koper yang dilempar oleh si rambut hitam menyebalkan itu sehingga kepalaku benjol dibuatnya," geram Naruto dengan muka merah padam secara langsung membuka isi koper berwarna hitam itu.
KRET!
Resleting pada koper ditarik dari arah kanan secara perlahan-lahan. Hingga terbuka sepenuhnya. Menma membelalakkan kedua matanya.
"I-Ini, kan ..."
Tampak beberapa helai pakaian milik Naruto asli yang dilipat berantakan. Serta banyak perlengkapan alat-alat mekanik dan kabel-kabel yang disusun tidak rapi.
Sepertinya ada yang mengganjal.
Menma terdiam sejenak. Sasuke memperhatikannya dengan datar.
Satu detik. Satu menit. Satu jam.
Proses pemikiran Menma agak melambat. Ia benar-benar sudah kehilangan impuls penyampaian informasi akibat kepalanya dihantam dengan koper besar itu.
Tidak ada cara lain selain ...
BUUUK!
Kepala Menma dipukul oleh Sasuke. Seketika Menma mengeluh kesakitan.
"A-aduuh!"
Seketika Menma menggeletukkan gigi-giginya. Ia kesal karena Sasuke memukul kepalanya dengan tiba-tiba begitu.
"DASAR, TEME SIALAN!" seru Menma berteriak keras sambil memegang kepalanya.
Sasuke hanya tersenyum simpul mendengarnya.
"Bagus. Kau berhasil menyebutku Teme."
"Hah?!"
Menma ternganga dengan kedua mata yang melotot. Ia sendiri juga tidak mengerti apa maksudnya.
"Jadi, apa yang membuatmu terdiam ketika melihat isi koper itu?" tanya Sasuke.
Lalu Menma kembali memperhatikan isi koper tersebut. Kemudian terjadi hantaran energi dari kedua mata yang biru itu.
"Hm ... Sepertinya ada yang kurang," kata Menma mulai bersifat serius."Twin Time Broce yang tidak ada di dalam koper tersebut."
Sasuke membulatkan kedua matanya.
"Twin Time Broce?"
"Iya, gelang waktu kembar yang merupakan alat untuk berpindah tempat."
Menma menoleh ke arah Sasuke.
"Sepertinya bukan Hinata-sama yang mengemas semua milik Naruto-san ini ke dalam koper. Lihat, lipatan pakaian Naruto-san yang berantakan dan alat-alat mekanik yang tidak disusun rapi. Mungkin Neji itu yang mengemasnya," lanjut Menma dengan tampang datar sambil menunjuk barang-barang milik Naruto asli secara bergantian.
Sasuke pun beranjak dari duduknya dan mengambil posisi berjongkok untuk melihat lebih dekat isi koper tersebut. Lalu Time Broce ditekan untuk memunculkan proyektor layar udara.
PIP! KLIK!
Sasuke mengambil gambar isi koper dengan cara memotretnya. Lalu gambar isi koper itu discan di dalam layar udara yang mengambang di atas Time Broce. Kemudian hasil gambar discan akan memunculkan perintah program 'Past Image Setting'. Kemudian telunjuk kiri Sasuke menekan kalimat 'Past Image Setting' tersebut.
PIIP!
Seketika muncul kurva cahaya biru dari tengah layar udara dan membentuk dua manusia hologram dalam bentuk tiga dimensi. Dua manusia tersebut berwujud Hinata dan Neji yang berdiri di depan Sasuke dan Menma.
Dua sosok hologram itu tengah berbicara tepat sesuai kejadian dua jam yang lalu.
"Nii-san ingin bertemu dengan pacarmu yang bernama Namikaze Naruto itu," kata Neji hologram.
"A-apa? Ke-kenapa Nii-san ingin bertemu dengan Naruto?" ucap Hinata dengan wajah pucat.
"Katakan saja di mana dia!"
"Ng ... Na-Naruto belum pulang."
Neji menatap Hinata dengan tajam.
"Kalau begitu, tunjukkan di mana kamarnya."
"Kamar Naruto?"
Terlihat Hinata mengerutkan keningnya. Neji menatap Hinata semakin tajam.
"Sudah, jangan banyak tanya. Tunjukkan saja di mana kamarnya!" bentak Neji sekeras mungkin.
Hinata pucat seketika.
"I-iya, Nii-san."
Maka kedua hologram itu berjalan memasuki sebuah ruangan yang terbuat dari hologram tiga dimensi juga. Lantas Neji langsung memeriksa seluruh sudut kamar Naruto tersebut. Hingga menemukan satu benda aneh berbentuk gelang di bawah tempat tidur. Neji pun memperhatikannya dengan seksama.
"Ini benda apa? Bentuknya sangat aneh."
Hinata kaget setengah mati melihat Neji sedang memegang satu benda berbentuk gelang tersebut. Hinata pun menyambar dengan cepat dua benda aneh itu dari tangan Neji. Lalu disembunyikan di belakang tubuhnya.
"Ja-jangan, Nii-san. Ini barang kesayangan Naruto. Nii-san tidak boleh memegangnya!"
Neji sedikit kaget dengan perkataan Hinata alias Naruko tadi. Lalu ia menyipitkan kedua matanya.
"Memangnya kenapa kalau Nii-san tidak boleh memegang benda itu? Sebenarnya benda apa itu?"
Neji kelihatan menyelidiki. Hinata kelihatan gugup dengan muka yang panik.
"A-ano, bu-bukan a-apa-apa. Ini hanya benda percobaan Naruto saja."
Kedua mata Neji makin menyipit. Muncul kilatan bersinar di kedua matanya.
"Percobaan? Maksudmu apa, Hinata-chan?"
Hinata terperanjat. Ia pun membelalakkan kedua matanya. Seketika itu ia menjadi panik sekali.
"Bu-bukan apa-apa, Nii-san. I-ini cu-cuma ben-benda ma-mainan Na-Naruto kok."
Hinata tersenyum kikuk. Neji memandang adiknya itu dengan tajam.
Sesaat ia tersenyum simpul kepada Hinata.
"Baiklah, Nii-san percaya padamu. Tapi, Nii-san mengingatkanmu agar jangan terlalu dekat dengan orang itu. Identitasnya sangat meragukan. Kamu malah mengizinkannya tinggal di sini. Kamu tinggal sendirian pula di sini. Kamu cewek dan dia cowok. Apakah kamu tidak memikirkan apa yang terjadi jika cowok dan cewek tanpa ikatan pernikahan tinggal dalam satu rumah? Pikirkan itu, Hinata-chan. Jangan terlalu baik kepada orang yang tak dikenal dan asalnya saja tidak diketahui."
Neji berceramah panjang sehingga membuat Hinata ternganga mendengarnya. Baru pertama kalinya seorang Neji yang dingin, datar dan irit bicara itu dengan lantangnya berbicara sepanjang itu.
"Jadi, Nii-san harap si rambut kuning itu pergi dari sini. Dia ha ..."
"Ni-Nii-san! Namanya bukan si rambut kuning tapi Naruto."
Hinata memotong pembicaraan Neji. Neji pun terdiam dibuatnya. Neji memandang lama wajah Hinata. Hinata agak tegas menanggapi perkataannya tadi.
Neji melipatkan tangan di dada sambil menutup kedua matanya.
"Terserahlah, namanya Naruto atau si rambut kuning. Dua-duanya tetap sama saja. Yang penting, dia harus meninggalkan tempat ini. Nii-san takut akan terjadi fitnah yang timbul dari tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar sini. Kamu tidak mau semuanya akan mengusikmu, bukan? Yang kamu butuhkan adalah ketenangan dan kedamaian buat terapi kesehatanmu, Hinata-chan."
Lalu Neji menarik tangan Hinata dan membawanya keluar dari kamar Naruto. Hinata keheranan melihat kakaknya yang menyeretnya begitu saja.
"Nii-san!"
"Tunggu di luar sebentar, Hinata-chan!"
Begitu dipastikan Hinata sudah di luar kamar Naruto, Neji melepaskan genggaman tangannya dari Hinata dan secara langsung menutup pintu kamar Naruto.
BRAAK!
Hinata kaget setengah mati ketika pintu kamar Naruto ditutup keras.
"Ni-Nii-san! Kenapa Nii-san menutup pintunya? Nii-san ...!
Suara teriakan Hinata tidak digubris oleh Neji yang telah mengunci pintu kamar Naruto tersebut. Kelihatannya Neji memusatkan semua pemikirannya mengenai seisi kamar Naruto.
SEET!
Neji mengeluarkan sebuah benda berbentuk bundar seperti telur dari dalam saku celana panjangnya. Benda yang tipis dan memiliki beberapa keypad pada bagian bawahnya. Ada semacam lubang kecil panjang sekitar 1 cm berbentuk seperti lidi pada bagian sisi atas benda bundar tersebut.
Sasuke dan Menma yang menonton adegan proyektor hologram yang menampilkan kejadian dua jam lalu itu. Mereka berdua kaget sekali melihat benda yang dikeluarkan oleh Neji dari saku celana panjangnya.
"I-itu apa?" tunjuk Menma.
"Sepertinya cowok itu mempunyai teknologi canggih juga rupanya," sahut Sasuke memegang dagunya."Kira-kira siapa dia?"
"Tapi, lihat dulu apa yang ia lakukan pada benda berbentuk telur itu."
Sasuke dan Menma kembali menonton, adegan di mana Neji mulai menggunakan alat canggihnya itu.
PIP!
Muncul semacam sinar merah berbentuk kurva dari balik lubang kecil panjang pada bagian sisi atas benda tersebut ketika Neji menekan sebuah keypad berwarna merah.
Sinar merah yang seperti sinar laser itu kemudian menyorot seisi kamar Naruto. Kemudian sinar merah itu hilang dan bersamaan muncul layar yang mengambang di udara disertai suara robot.
["Pendeteksian penjelajah waktu ditemukan. Ada unsur keberadaan tanda-tanda teknologi masa depan yang cocok dengan ID Time Pocket Eeg. Ini adalah sumber energi kuat pada Blue Crystal Ball."]
Begitulah suara robot tersebut. Hingga tampak grafik energi yang turun-naik pada layar udara itu.
Neji tersenyum simpul.
"Rupanya dia adalah penjelajah waktu dari masa depan. Namikaze Naruto yang telah membawa Blue Crystal Ball itu. Akhirnya kutemukan juga."
Lantas Neji bergerak untuk mengambil sesuatu di bawah tempat tidur Naruto. Sesuatu yang merupakan serpihan kecil berwarna biru.
"Ini adalah serpihan dari Blue Crystal Ball itu."
Kemudian Neji memasukkan serpihan kecil berwarna biru itu di sebuah kotak kaca bening berukuran seperti kotak korek api yang didapat dari saku celana panjang di sisi satu lagi.
Benda berbentuk telur itu, ia matikan secara langsung.
PIP!
Layar udara menghilang. Benda canggih itu dimasukkan kembali ke dalam saku. Juga serpihan kecil berwarna biru yang telah di dalam kotak kaca bening kecil itu.
Neji tersenyum sinis. Secara sigap, ia pun membuka lemari yang berdiri di dekat meja kayu. Ia mengeluarkan sebuah koper dari dalam lemari itu. Juga pakaian-pakaian yang masih kelihatan baru, turut dikeluarkan dari dalam lemari.
Pakaian-pakaian dilipat sembarangan. Barang-barang dan alat-alat mekanik Naruto ditumpuk bersama pakaian-pakaian tersebut di dalam koper besar.
Setelah semua barang-barang milik Naruto dimasukkan semuanya ke dalam koper tersebut. Neji menutup koper tersebut dan segera membuka pintu kamar yang sedari tadi ia kunci.
KRIIEET!
Pintu terbuka. Tampak Hinata berdiri di baliknya.
"Ni-Nii-san, apa yang Nii-san lakukan di kamar Naruto? Dari tadi aku mengetuk pintu tapi Nii-san tidak membukanya. Nii-san mengunci pintunya dari dalam ya?" tanya Hinata dengan mengerutkan keningnya dan melihat Neji menarik sebuah koper berukuran besar."Lho, kenapa Nii-san malah membawa sebuah koper?"
Neji terus lewat dari hadapan Hinata. Ia tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan Hinata. Membuat Hinata keheranan melihat kakaknya itu.
Hinata memutuskan mengejar sang kakak.
"Neji-nii!"
"TETAP DI SITU, HINATA-CHAN! KAMU JANGAN IKUT CAMPUR!"
Tiba-tiba Neji membentak Hinata dengan suara yang sangat keras. Cukup membuat Hinata terperanjat.
"A-ada apa ini sebenarnya?"
Hinata kebingungan sembari menoleh ke arah dalam kamar Naruto yang sudah kacau balau.
SWIIING!
Hologram Hinata dan Neji menghilang begitu saja ketika Sasuke menekan Time Broce-nya. Acara menonton pertunjukan kejadian masa lalu itu sudah selesai.
Sejenak Sasuke bangkit berdiri dari jongkoknya dan memegang sebentar Time Broce.
Sasuke memperhatikan Time Broce miliknya itu.
Menma menoleh ke arah Sasuke. Lalu ia menatap serius ke arah Sasuke. Sasuke terlihat mengamati benar Time Broce miliknya.
"Teme, apa yang kau pikirkan?" tanya Menma mengangkat kedua alisnya.
Sasuke menolehkan kedua mata onix miliknya ke arah Menma.
"Aku berpikir siapa sebenarnya Hyuga Neji itu. Kenapa dia bisa mempunyai benda teknologi yang canggih dan bisa memiliki teknologi sensor inframerah yang kerjanya sama dengan sensor inframerah pada Time Broce? Tapi, benda itu berbentuk bundar seperti telur," jawab Sasuke sambil memegang dagunya."Lalu ia telah mengetahui identitas Naruto sebagai penjelajah waktu dan menemukan serpihan kecil Blue Crystal Ball. Kalau dipikir-pikir ini semuanya ..."
Sasuke terdiam sejenak. Ia berpikir sebentar. Menma juga ikut berpikir setelah mendengar penjelasan Sasuke.
Hening.
Lalu Menma yang memecahkan keheningan itu.
"Pantas, ada anjing raksasa yang menyerangku di saat Neji itu bersiul keras," tukas Menma sambil memegang dagunya juga.
"Itulah yang aneh. Pasti ada seorang yang jenius menciptakan anjing genetika itu. Lalu benda teknologi canggih berbentuk seperti telur itu," Sasuke menatap ke arah lain."Sepertinya ada seseorang yang mengincar kita dan ingin mengetahui tentang rahasia masa depan."
Menma terperanjat mendengar penuturan Sasuke. Kedua matanya membulat sempurna.
"A-ada yang mengincar kita?"
Sasuke mengangguk cepat.
"Ya, sepertinya begitu. Itulah kenapa kau diserang oleh anjing genetika tadi, Menma."
Menma masih memasang wajah shock.
"Apa arti semua ini? Apa maksudnya?"
Sasuke melipatkan tangan di dadanya.
"Kita harus berhati-hati dari sekarang. Apalagi serpihan kecil Blue Crystal Ball diambil. Lalu mengenai Twin Time Broce itu ..."
"GA ... GAWAT!" Menma berteriak keras."HINATA-SAMA MASIH MEMEGANG TWIN TIME BROCE ITU. ITUKAN RAHASIA MASA DEPAN CIPTAAN NARUTO-SAN. KITA HARUS MENYELAMATKAN HINATA-SAMA!"
Menma segera bangkit berdiri dan ingin bergegas pergi. Tapi, kerah seragamnya ditarik oleh Sasuke.
"TUNGGU DULU, MENMA!"
Menma menoleh ke arah Sasuke.
"Apa lagi? Kenapa kau mencegahku?"
Sasuke menatap serius Menma.
"Kau yakin cewek tadi memang Hinata?"
Menma mengerutkan keningnya.
"Memang cewek yang di samping Neji tadi itu adalah Hinata-sama, kan?" kata Menma malah balik bertanya.
Sasuke menatap Menma dengan sewot.
"Tapi, tadi kulihat dengan sensor inframerah, ternyata gadis itu bukan Hinata. Ia berwujud android yang hidup dengan bantuan Blue Crystal Ball. Dia sama seperti dirimu."
Sesaat Menma mematung. Ia terdiam mendengar penuturan Sasuke.
Tiba-tiba ...
"OH, TIDAK! TEMANKU NARUKO-CHAN DALAM BAHAYA!"
Menma berteriak sangat keras dan mengguncang apartemen itu hingga bergetar hebat. Sampai suaranya yang keras itu. Sukses menembus gendang telinga Sasuke. Sasuke hampir pingsan karena ulahnya.
Sasuke pun kesal dan mengepalkan tinju pada tangan kanannya.
"Menma, kau berisik sekali!"
Akhirnya ...
BUAAAK! JDUAAAK! BRUAAAK!
Menma tergeletak di lantai dengan tidak elitnya. Kepalanya pun timbul benjolan besar yang merah memukau.
Terlihat Sasuke memasang wajah merah padam sambil mengepalkan kedua tangannya. Beberapa perempatan muncul di dahinya.
"Dasar, kau sangat menyebalkan daripada si Dobe itu," tutur Sasuke sambil mendengus pelan dan menepuk-nepuk tangannya setelah membabat habis si Menma.
TOK! TOK! TOK!
Terdengar pintu diketuk seseorang bersamaan terdengar suara seseorang yang memanggil.
"Sa-Sasuke!"
Sasuke menyadari suara siapa itu.
"Ya, sebentar!"
Si rambut raven langsung berjalan untuk membukakan pintu.
KRIEEET!
Muncul seorang gadis berambut pirang dan bermata safir ungu di balik pintu yang telah dibuka oleh Sasuke.
"Shion!"
Gadis yang bernama Shion pun melongokkan kepalanya ke dalam.
"Ada apa? Sepertinya ribut sekali di dalam sini."
Sasuke menunjukkan jempolnya ke belakang.
"Karena ada orang itu."
Shion mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sasuke. Betapa terkejutnya dia.
"Na-Naruto-kun!"
Lantas Shion berlari ke dalam dan menghampiri Menma yang telah pingsan dalam keadaan terlentang di dekat sofa.
"A-ada apa denganmu, Naruto-kun? Kenapa kamu malah tergeletak di sini?" tanya Shion panik setengah mati sambil bersimpuh seraya memeluk bahu si Menma.
"Dia tadi terjatuh karena tersandung koper besar itu sehingga kepalanya terbentur bantalan keras sofa," jawab Sasuke berbohong. Dia sudah berdiri di dekat Shion.
Shion menatap wajah Menma dengan lirih.
"Naruto-kun. Kasihan sekali dirimu," kata Shion memegang salah satu pipi Menma."Aku akan merawatmu sampai sadar."
Melihat Shion seperti itu, Sasuke tersenyum simpul.
'Syukurlah, Shion bisa bertemu kembali dengan Naruto yang amat ia rindukan. Meskipun dia bukanlah Naruto yang asli. Tapi, tidak apa-apalah. Yang penting, Shion bisa bahagia karena sudah bertemu dengan orang yang sangat ia cintai.'
.
.
.
KONOHA CYBER CITY, 2114 YEAR, 19.00 P.M
Suasana malam di Konoha Cyber City sangat ramai dan indah karena kilauan cahaya lampu yang beraneka warna saling terpancarkan dari berbagai bentuk bangunan baja yang menjulang tinggi. Cahaya lampu sangat terang dan berkelap-kelip dengan kilauan yang membuat siapa saja menatapnya dan terkagum-kagum. Ditambah banyaknya pohon-pohon rimbun yang masih hijau yang berdiri di berbagai sudut kota tersebut. Memberikan kesan tersendiri bagi yang melihatnya.
Di antara bangunan baja yang menjulang tinggi tersebut, ada sebuah terowongan pipa memanjang dalam kaca bening yang disusun secara futuristik mengikuti dari arah masuk ke dalam sebuah bangunan atau gedung. Terlihat beberapa kendaraan berdesain aneh melintas di dalam terowongan pipa memanjang yang terbuat dari kaca tebal tersebut.
Lalu terlihat beberapa robot berbentuk aneh tampak lalu lalang bersama manusia. Mereka berjalan hilir mudik di trotoar yang tidak tampak kebisingan lalu lalang kendaraan yang lewat di jalan besar. Tampak lengang dan sepi. Kendaraan-kendaraan hanya tampak lewat di dalam terowongan pipa kaca yang melayang di atas sana.
Para penduduk kota tersebut memakai pakaian dengan desain aneh dan gaya rambut yang aneh pula. Bila dilihat penampilan mereka seperti makhluk luar angkasa. Rambut dengan model melawan gravitasi dan pakaian yang serba ketat. Serta desain dan corak pakaiannya kacau balau dengan warna yang bertabrakan dengan warna lainnya.
Sesaat ada dua manusia yang baru sampai di Konoha Cyber City tersebut. Dua manusia yang berasal dari masa lalu yaitu tahun 2014.
Naruto dan Hinata yang sedang berada di pusat kota. Mereka berdua terpaku berdiri di tengah jalan yang dipenuhi orang-orang dan robot yang mondar-mandir. Semuanya tampak aneh.
"Na-Naru-chan? Apa benar ini Konoha Cyber City?" tanya Hinata celingak-celinguk sambil memeluk erat lengan kanan Naruto.
Naruto mengerutkan keningnya. Ia menajamkan kedua matanya untuk memperhatikan keadaan kota.
"Ini benar Konoha Cyber City. Aku tidak salah tempat dan waktu, Hinata-sama," kata Naruto melirik ke arah Hinata."Sepertinya terjadi keanehan di sini. Tapi, aku tidak tahu persis. Sebaiknya kita pergi dulu ke tempat dokter kenalanku itu."
Tanpa menyelidiki lebih lanjut tentang apa yang terjadi di kota tersebut, Naruto menarik tangan Hinata agar bergegas pergi dari tempat itu. Mereka berjalan menuju tempat dokter kenalan Naruto agar penyakit lemah jantung Hinata cepat disembuhkan.
Tanpa mereka sadari, inilah awal terjadinya suatu yang gawat. Terjadinya kekacauan waktu!
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Terima kasih banyak yang udah membaca sampai chapter 13 ini.
Jika sempat, akan saya balas review kamu semuanya.
Sampai jumpa di chapter 14 yang berjudul "Time Chaos".
Hikari Syarahmia
Minggu, 17 Mei 2015
