Happy reading yeoreobun...

.

.

.

GS, No Bash please ^^,

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

ChikinChikin

Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)

CHAPTER 13

I'm Sorry, I Love You

Pervious chapter

Kyungsoo melepaskan pelukannya. Kyungsoo menatap wajah Jongin. Lalu Kyungsoo mencium bibir Jongin. Jongin lagi-lagi mematung.

"Saranghae", ucap Kyungsoo pelan.

Kini Jongin yang menatap Kyungsoo. Jongin merangkul tubuh Kyungsoo lalu mencium bibir Kyungsoo. Kyungsoo memejamkan matanya. Kenapa kali ini hati Kyungsoo terasa sesak saat Jongin menciumnya dan teringat dengan perkataan ayah Jongin tadi. Tanpa sadar air mata Kyungsoo jatuh. Kyungsoo menangis. Kyungsoo benar-benar tidak tahu apa yang sedang ia rasakan sekarang. Senang. Bahagia. Sedih. Marah, yangbjelas Kyungsoo tidak mau jika harus meninggalkan Jongin.

.

.

.

.

Jongin yang memegang wajah Kyungsoo merasakan wajah Kyungsoo yang basah karena air mata.

"Kau kenapa?".

"Tidak apa-apa. Aku senang. Senang seperti ini denganmu". Jongin memeluk erat Kyungsoo.

"Saranghae", ucap Jongin.

"Tunggulah beberapa menit lalu pulang".

"Kau benar-benar aneh malam ini. Kau yakin tidak ada yang ingin kau katakan padaku?". Kyungsoo masih memeluk Jongin.

"Saranghae. Hanya itu yang aku ingin katakan". Jongin tersenyum.

"Wah... Do Kyungsoo. Malam ini kau benar-benar membuat hatiku berdebar begitu kencang". Kyungsoo melepaskan pelukannya.

"Pulanglah. Aku lelah".

"Baiklah. Aku pulang". Jongin yang akan mengecup kening Kyungsoo tapi Kyungsoo dengan cepat menahan Jongin melakukan itu.

"Cukup".

"Ah... Do Kyungsoo, kau benar-benar. Beberapa detik yang lalu kau manis dan sekarang kau sudah kembali menjadi Do Kyungsoo yang sebenarnya".

Kyungsoo tersenyum, "pulanglah".

Setelah melihat Jongin pergi, Kyungsoo duduk di sebuah meja berukuran besar yang ada di depan kamar Kyungsoo, meja itu biasa digunakan Kyungsoo berbaring memandang langit. Air mata Kyungsoo tak lagi jatuh, Kyungsoo bisa menahannya sekarang. Kyungsoo mengambil nafas panjang lalu membuangnya. Jongin yang belum 5 menit pergi dari tempatnya sudah mengirim Kyungsoo pesan.

'Besok aku tidak ada kuliah, aku ingin pergi denganmu. Tapi sepetinya tidak mungkin karena aku akan mendapatkan omelan darimu. Saranghae. Goodnight'

Kyungsoo membaringkan tubuhnya di meja besar itu. Memandang langit berwarna gelap tanpa ada setitik cahaya bintang.

"Aku akan merindukanmu Kim Jongin".

.

.

.

.

Masih pukul 6 pagi. Kyungsoo sudah tiba di rumah halmeoni sejak 30 menit yang lalu. Bahkan halmeoni pun belum bangun. Kyungsoo sudah mulai memasak. Semua masakan Kyungsoo sudah selesai. Kyungsoo naik ke lantai dua, menuju kamar Jongin. Perlahan Kyungsoo buka pintu kamar Jongin. Kyungsoo mengintip, memastikan apa Jongin masih tidur atau tidak. Kyungsoo melihat Jongin masih tertidur dengan selimut yang masih mengerubung tubuhnya. Kyungsoo mendekat perlahan-lahan. Kyungsoo berusaha tidak membuat suara. Kyungsoo berjongkok di samping ranjang Jongin. Memandang Jongin yang masih tidur dengan mulut yang terbuka. Kyungsoo mengambil handphone lalu mengambil gambar Jongin.

KLICK!

Suara kamera saat mengambil foto begitu nyaring. Jongin yang tertidur bahkan sampai mendengar suaranya dan terbangun. Jongin dibuat kaget bukan main saat melihat Kyungsol sedang tersenyum lebar padanya.

"Heh? Apa yang kau lakukan?", tanya Jongin sambil mengucek-ucek matanya.

"Aku baru saja membuat sarapan". Jongin melirik kearah jam yang ada di meja kecil di samping ranjangnya.

"Jam 6? Kau datang jam berapa?".

"Cepatlah bangun dan turun".

"Jika kau seperti ini aku malah takut padamu".

Kyungsoo keluar dari kamar Jongin dan kembali ke dapur memeriksa masakannya. Beberapa menit kemudian Jongin turun, dengan rambutnya yang basah. Jongin terus menatap Kyungsoo yang bersikap aneh padanya. Tak lama halmeoni keluar dari kamarnya dan disusul oleh ayah Jongin. Sejak ayahnya meminta Jongin untuk meneruskan perusahaan ayahnya Jongin jarang sekali mengobrol bahkan seperti orang asing di rumah. Halmeoni sampai sudah turun tangan membujuk Jongin, tapi tetap tidak berhasil.

"Kyungsooya, sepagi ini sarapan sudah siap?", tanya halmeoni yang heran melihat Kyungsoo.

"Benar, kan. Halmeoni juga heran melihat dia seperti ini? Dia membangunkanku jam 6 pagi, halmeoni", ucap Jongin seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.

"Duduklah, sarapan sudah siap".

Kyungsoo tak ikut sarapan. Kyungsoo menunggu di halaman belakang, duduk di ayunan seperti biasa. Belum lama Kyungsoo duduk sendiri Jongin sudah menyusul Kyungsoo membawa dua potong roti yang sudah dioleskan selai coklat. Jongin yang berdiri di depan Kyungsoo lalu menyuapi roti itu ke mulit Kyunsoo dan satu roti lagi untuk Jongin sendiri.

"Kenapa kau tidak ikut sarapan?".

"Aku masih belum lapar. Kau masuklah. Tidak baik meninggalkan meja makan seperti ini".

"Aku sudah selesai".

"Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Cepat masuk!".

"Baiklah. Baiklah", Jongin mengecup kepala Kyungsoo lalu kembali masuk. Perasaan Kyungsoo sedang tidak karuan sejak semalam. Bahkan Kyungsoo belum sempat tidur. Itu alasan kenapa Kyungsoo datang sangat pagi hari ini ke rumah halmeoni.

Jongin kembali menyusul Kyungsoo yang duduk di ayunan halaman belakang. Lagi-lagi Kyungsoo tertidur di ayunan. Jongin perlahan mendekati Kyungsoo, duduk di samping Kyungsoo. Jongin mendekatkan tubuhnya untuk mencium Kyungsoo. Tapi gagal karena Kyungsoo bicara.

"Apa yang kau lakukan?".

"Kau tidak tidur?".

"Aigu, kau selalu mencari kesempatan". Jongin tertawa karena niatnya yang ketahuan oleh Kyungsoo.

"Tutuplah restoran lebih cepat, kita pergi".

"Kemana?".

"Tidak tahu. Kemana pun".

"Kalau begitu kita pergi setelah ini".

"Kau benar tidak ada apa-apa?".

"Memang kenapa?".

"Tidak, aku hanya aneh saja melihatmu seperti ini".

"Tidak ada apa-apa". Kyungsoo berdiri sambil mengacak-acak rambut Jongin lalu masuk ke dalam rumah.

Kyungsoo masuk untuk membereskan meja makan dan dapur. Ayah Jongin sedang duduk di sofa sambil membaca koran.

"Kau sudah bicara pada Jongin, Kyungsooya?", tanya ayah Jongin.

"Belum. Aku masih mencari waktu yang tepat".

"Jangan terlalu lama untuk mengatakannya pada Jongin".

"Iya. Aku akan segera mengatakannya pada Jongin".

Kyungsoo selesai dengan pekerjaannya. Jongin sudah berpakaian rapi. Kemeja berwarna putih dengan motif garis berwarna merah. Lengan panjang yang Jongin gulung sampai siku. Celana jeans dan sepatu sneakers. Jongin menjinjing coat panjangnya.

"Sudah selesai?", tanya Jongin.

"Hoo...". Kyungsoo dan Jongin lalu berpamitan pada halmeoni dan ayah Jongin.

Tanpa tujuan yang jelas Jongin dan Kyungsoo pergi.

"Kau serius tidak akan ke restoran lebih dulu?".

"Tidak perlu".

"Baiklah. Kemana kita?".

"Kita pergi ke Buyeo".

"Kau tidak bosan pergi ke sana?".

"Tidak. Ayo kita ke Buyeo! Go! Go! Go!".

Setelah 2 jam lebih perjalanan menuju Buyeo Jongin dan Kyungsoo sampai di Buyeo. Tempat yang sama jika mereka pergi ke sana. Seodong Park, dan Kyungsoo pasti pergi ke paviliun yang berada di tengah danau. Kyungsoo menggandeng tangan Jongin. Sebelah tangannya memegang es krim coklat yang sejak tadi Kyungsoo jilati.

"Kau senang pergi ke sini".

"Hoo... aku senang. Apalagi jika aku pergi denganmu".

Hari semakin siang. Kyungsoo dan Jongin mencari tempat untuk mereka mengisi perut lapar mereka. Mereka makan di tempat yang sama saat mereka pertama kali pergi ke Buyeo. Jongin dan Kyungsoo bena-benar menghabiskan waktu mereka hanya berdua. Setelah makan mereka kebali ke Seodong Park. Duduk di bangunan kayu beratap jerami di samping hamparan tanaman teratai. Kyungsoo meyandarkan kepalanya di pundak Jongin.

"Dulu pertama kita datang ke sini, kau tidak mau didekati olehku", gumam Jongin.

"Kau benar".

"Tapi sekarang, kau yang mendekatiku".

Kyungsoo mengangkat kepalanya dari pundak Jongin. Jongin melihat ke aeah Kyungsoo karena kaget.

"Kenapa?".

"Tidak", Kyungsoo tersenyum. Kyungsoo kembali pada posisinya semula. Menyandarkan kepalanya di pundak Jongin.

"Jongina...".

"Hmm...".

"Aku akan berhenti bekerja di rumahmu".

"Kenapa?".

"Tidak ada apa-apa. Hutangu pada halmeoni sudah kubayar semua".

"Hutang?".

"Hoo... itu alasanku kenapa aku bekerja pada halmeoni. Halmeoni meminjamkan uangnya untuk aku pakai membayar ganti rugi kerusakan mobilmu dulu. Untuk membayar uang itu lagi halmeoni memintaku untuk menyiapkan makanan untuk kalian".

"Benarkah? Halmeoni tidak menceritakan tentang itu".

"Meskipun awalnya aku merasa sulit melakukannya, tapi aku senang karena aku bisa mengenalmu".

"Kau lagi-lagi menggodaku, Do Kyungsoo?". Kyungsoo hanya tersenyum.

"Jongina...".

"Hmmm...".

"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu".

"Bicara saja". Wajah Kyungsoo berubah cemas. Jongin menatap Kyungsoo. Jongin semakin yakin ada yang tidak beres.

"Ada apa?", tanya Jongin.

"Sepertinya kita tidak akan bisa seperti ini terus".

"Maksudmu?".

"Setelah pulang dari sini. Kita tidak perlu bertemu lagi".

Jongin mengerutkan keningnya. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kyungsoo saat ini.

"Kau. Ayahmu akan menjodohkanmu. Jadi aku tidak bisa terus bersamamu".

"Heh? Menjodohkanku?".

"Hoo... kau akan dijodohkan. Aku tidak mau menjadi masalah nantinya".

"Aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapanmu".

"Kita tidak perlu bertemu lagi".

"Ini alasanmu bersikap seperti ini padaku? Saat itu, kau keluar dari ruang baca setelah bicara dengan ayahku, tentang ini yang kalian bicarakan? Ayah yang menyuruhmu untuk mengatakan ini?".

Kyungsoo terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Kyungsoo menahan air matanya.

"Ayahmu tidak menyuruhku mengatakan ini. Ini keinginanku untuk bicara seperti ini padamu".

"Omong kosong apa ini". Jongin mulai kesal. Jongin menarik tangan Kyungsoo dengan paksa.

"Kita mau kemana?".

"Menemui ayahku".

Selama diperjalanan Jongin sama sekali tidak bicara pada Kyungsoo. Kyungsoo pun tidak ingin memulai pembicaraan. Karena Kyungsoo tahu saat ini Jongin sedang marah. Mereka sampai di rumah Jongin. Jongin kembali menarik lengan Kyungsoo dengan paksa, mengajak Kyungsoo masuk menemui ayah Jongin.

"Apa maksud ayah dengan menjodohkanku?", tanya Jongin sesaat setelah bertemu ayahnya yang sedang duduk di sofa ruang tengah.

"Kyungsoo sudah mengatakannya padamu? Iya, ayah akan menjodohkanmu".

"Maksud ayah apa?".

"Kau selalu menolak untuk meneruskan perusahaan ayah, jadi ayah putuskan untuk menjodohkanmu".

"Ayah meyuruh Kyungsoo untuk meninggalkanku?". Kyungsoo memegang tangan Jongin. Meminta Jongin untuk tenang.

"Jongina, itu keinginanku. Ayahmu tidak memintaku seperti itu", ucap Kyungsoo pelan.

"Kau pikir aku akan percaya?".

"Jongina... kita bicara di luar, hmm. Ayahmu tidak menyuruhku itu keinginanku. Ayo, kita bicara tentang kita di luar", pinta Kyungsoo. Jongin menatap Kyungsoo dalam-dalam.

"Aku masih akan membicarakan ini dengan ayah", ucap Jongin pada ayahnya. Jongin lalu pergi bersama Kyungsoo.

Jongin dan Kyungsoo pergi ke tempat tinggal Kyungsoo. Mereka tak langsung masuk, mereka dudu di meja besar di depan tempat tinggal Kyungsoo.

"Jongina...".

"Keinginanmu? Kau ingin kita berpisah? Sudah aku duga, kenapa sikapmu aneh".

"Aku tidak ingin menjadi masalah".

"Tapi bukan seperti ini".

"Lalu? Aku harus bagaimana? Mengajakmu pergi jauh ke tempat ayahmu tidak bisa menemukan kita? Atau aku harus berlutu pada ayahmu untuk tidak melakukan itu?". Kyungsoo mulai menangis.

"Do Kyungsoo, harusnya kau tidak perlu bersikap seperti ini padaku. Karena itu membuatku semakin sakit".

"Aku hanya...-"

"Aku tidak bisa bicarakan ini denganmu sekarang". Jongin lalu pergi meninggalkan Kyungsoo.

Kyungsoo menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisnya sudah tidak bisa Kyungsoo tahan. Berbagai perasaan sekarang Kyungsoo rasakan.

"Maafkan aku, Jongina. Maafkan aku".

Jongin pulang ke rumahnya. Dia langsung menemui ayahnya. Jongin benar-benar tidak mengerti denga apa yang sedang terjadi. Ayahnya tiba-tiba berencana untuk menjodohkannya. Kyungsoo yang bersikap manis sejak kemarin tiba-tiba meminta Jongin untuk tidak menemuinya lagi. Jongin benar-benar tidak mengerti.

"Jelaskan padaku semuanya", pinta Jongin pada ayahnya.

"Ayah akan menjodohanmu dengan Mina, anak dari teman ayah".

"Kenapa tiba-tiba?".

"Jika kau menikah, mau tidak mau kau harus meneruskan perusahaan ayah".

"Apa harus sejauh ini?".

.

.

.

.

Kyungsoo belum tidur sejak kemarin. Kyungsoo tidak mau pergi untuk membuka restoran. Sudah jam 6. Kyungsoo masih belum pergi ke rumah halmeoni. Kyungsoo harus pergi. Kyungsoo belum mengatakan pada halmeoni kalau hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di rumah halmeoni. Selain itu, Kyungsoo harus bicara pada Jongin.

Kyungsoo melangkah lemas menuju rumah halmeoni. Kyungsoo menatap handphonenya. Jongin tidak menghubunginya sama sekali. Kyungsoo sangat tahu, saat ini Jongin pasti sedang sangat marah. Berulang kali Kyungsoo menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Kyungsoo sampai rumah halmeoni. Suasana di rumah halmeoni hari ini berbeda. Kyungsoo memasak di dapur halmeoni untuk yang terakhir kali. Semua sudah berada di meja makan. Kyungsoo sedikit merasa senang, meski Jongin sedang marah tapi Jongin melakukan apa yang Kyungsoo minta untuk selalu ikut makan bersama halmeoni dan ayahnya jika dia ada di rumah.

"Maaf, ada yang ingin aku katakan".

"Katakan saja, Kyungsooya. Tetang apa?", balas halmeoni.

"Aku akan berhenti bekerja disini. Terima kasih sudah banyak membantuku selama ini. Juga, maafkan aku jika aku ada kesalahan".

"Berhenti? Kenapa?", tanya halmeoni.

Jongin tidak berkomentar. Ia pura-pura tidak mendengar apa yang sedang Kyungsoo bicarakan sekarang. Tapi Jongin tidak menahannya. Jongin berdiri dari tempat duduknya. Mengambil tas milik Kyungso dan menarik tangan Kyungsoo lalu pergi. Jongin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

"Jongina, pelan-pelan". Jongin diam tidak merespon perkataan Kyungsoo.

Akhirnya mereka sampai, Jongin membawa Kyungsoo ke tempat tinggalnya. Jongin menarik tangan Kyungsoo.

"Kau benar-benar akan seperti ini?".

"Hmmm...".

"Aku benar-benar tidak mengerti dan tidak menyangka kau akan seperti ini".

"Maafkan aku". Kyungsoo menundukkan kepalanya. Air mata Kyungsoo mulai keluar.

"Aku harap kau senang dengan keputusanmu". Jongin lalu pergi meninggalakan Kyungsoo. Kyungsoo melihat Jongin yang menuruni tangga.

"Maafkan aku harus seperti. Sabarlah sedikit".

.

.

.

.

Sudah hampir dua minggu setelah Kyungsoo meminta untuk tidak bertemu dengan Jongin. Jongin sama sekali tidak menghubungi Kyungsoo setelah kejadian itu. Kyungsoo sudah tidak lagi bekerja di rumah halmeoni untuk menyiapkan makan.

Jongin semakin jarang berada di rumah. Sering pulang malam bahkan terkadang Jongin tidak pulang. Jongin melakukan ini bukan karena ia ingin. Jongin seperti ini untuk menentang niat ayahnya yang akan menjodohkan Jongin. Tapi sepertinya usaha Jongin sia-sia. Ayahnya tetap bersikeras untuk menjodohlan Jongin. Jongin baru saja kembali dari kuliahnya. Jongin langsung menemui ayahnya.

"Abeoji, aku ingin bicara".

"Hmmm, bicaralah".

"Aku mau meneruskan perusahaan ayah". Tn. Kim yang sedang membaca buku terkejut mendengar apa yang dikatakan Jongin.

"Apa katamu?".

"Aku mau meneruskan perusahaan abeoji. Tapi aku tidak mau untuk dijodohkan". Mimik wajah Tn. Kim yang awalnya begitu antusias mendengar apa yang dikatakan Jongin langsung berubah.

"Menurutmu ayah tidak mengenalmu? Sekarang kau bilang mau meneruskan perusahaan ayah lalu setelah ayah membatalkan perjodohanmu kau akan kembali dengan niat awalmu?".

"Abeoji".

"Lupakan. Aku akan tetap lakukan itu".

Jongin keluar dari kamar ayahnya. Lalu masuk ke dalam mobilnya. Jongin pergi ke restoran Kyungsoo. Jongin hanya ingin melihat Kyungsoo. Jongin menghentikan mobilnya di seberang restoran milik Kyungsoo. Memandang Kyungsoo yang sedang melayani pelanggannya dari kejauhan.

"Kamsahabnida. Silakan datang kembali". Kyungsoo mengangkat kedua tangannya meregangkan badannya yang pegal.

Kyungsoo mengintip dari kaca restoran. Sepertinya Kyungsoo tahu siapa yang sedang di dalam mobil dan terus melihat ke arah restoran.

"Wah... Kim Jongin. Aku baru melihatmu setelah hampir dua minggu".

Lalu handphone Kyungsoo bergetar. Nomor disembunyikan. Kyungsoo juga sudah tahu siapa yang meneleponnya. Kyungsoo melihat ke arah Jongin yang berada di seberang, sedang memegang handphonenya.

"Aku tetap tahu itu kau jika kau tidak ada di seberang sana, Kim Jongin".

"Maafkan aku karena harus seperti ini".

.

.

.

.

Kyungsoo selesai dengan semua pekerjaannya di restoran. Tubuh Kyungsoo seperti patah-patah. Padahal Kyungsoo sudah mencari tempat tinggal paling dekat dengan restoran tapi rasanya Kyungsoo sudah berjalan berkilo-kilo meter dan dia belum juga sampai ke rumahnya. Kyungsoo menghentikan langkahnya. Kyungsoo merasa seperti ada yang sedang mengikutinya. Kyungsoo berbalik melihat ke belakangnya. Sepi. Tak ada orang. Kyungsoo membalikan lagi badannya dan mulai berjalan lagi dengan langkah yang lebih cepat. Akhirnya Kyungsoo sampai di rumahnya dengan nafas yang terengah-engah karena tadi ia mempercepat langkahnya untuk sampai ke rumah.

"Ah, Kim Jongin. Kenapa harus mengikutiku sampai kesini?". Kyungsoo mengintip ke bawah. Melihat apa Jongin masih ada di bawah atau tidak. Masih ada. Jongin masih ada.

"Astaga, kenapa aku seperti pencuri yang dikejar-kejar polisi".

Jongin naik ke atas, ke tempat Kyungsoo tinggal. Buru-buru Kyungsoo masuk ke dalam rumahnya dan berpura-pura tidak ahu kalau Jongin mengikutinya. Jongin berdiri di depan pintu rumah Kyungsoo. Tangan Jongin ragu apa harus mengetuk pintu atau tidak. Kyungsoo sedang berjongkok di dalam bersandar di pintu. Mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Jongin mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu dan memutuskan untuk pergi. Kyungsoo mengitip. Memeriksa apa Jongin benar sudah pergi atau belum.

"Aigu... sampai kapan aku harus seperti ini", keluh Kyungsoo.

.

.

.

.

Hari ini Jongin, ayahnya dan halmeoni akan bertemu dengan wanita yang akan dijodohkan dengan Jongin. Jongin kabur. Menghilang. Jongin benar-benar tidak mau bertemu dengan wanita itu. Tapi bagaimana, jika Jongin melakukan hal aneh, ayahnya akan lebih mempersulit Jongin. Lagipula ini langkah awal Jongin untuk bisa membujuk ayahnya tentang perjodohan ini. Jadi, sekarang Jongin memilih mengalah. Bersabar, mengikuti semua keinyinan ayahnya.

Jongin sudah berkenalan dengan Mina. Wanita-yang-akan-dijodohkan dengan Jongin. Setelah pertemuan selesai Jongin pergi untuk kembali melihat Kyungsoo di restorannya. Tentu Jongin tidak menghampiri Kyungsoo. Sama seperti sebelumnya, melihat dari seberang restoran. Restoran Kyungsoo sedikit ramai. Jongin bisa melihat wajah lelah Kyungsoo. Jongin ingin turun, menghampiri Kyungsoo dan membantu Kyungsoo. Kyungsoo mengelap keringat di keningnya dengan tangannya. Kyungsoo lagi-lagi melihat mobil Jongin. Kali ini kaca mobilnya tidak dibuka seperti sebelumnya. Mungkin karena Kyungsoo ada di luar restoran. Kyungsoo kembali berpura-pura tidak melihat Jongin. Kyungsoo masuk ke dalam restoran dengan menundukkan kepalanya.

"Ahh... Kim Jongin, aku rindu padamu", gumam Kyungsoo.

"Tuhan... kuatkan Do Kyungsoo", gumam Kyungsoo lagi.

.

.

.

.

Sudah beberapa hari ini Jongin sering melihat Kyungsoo dari seberang restorannya. Melihat Kyungsoo dari dalam mobilnya. Malam ini pun sama, Jongin diam di seberang jalan di dalam mobil berjam-jam. Jongin keluar untuk membeli ice coffee. Kyungsoo yang melihat Jongin keluar buru-buru menutup restorannya untuk pulang dan jingjn tidak mengikutinya. Berhasil. Kyungsoo berhasil menutup restorannya tanpa diketahui Jongin.

"Akhirnya dia tidak mengikutiku", Kyungsoo lalu masuk ke dalam rumahnya.

Jongin masih berada di cafe tak jauh dari ia memarkirkan mobilnya. Jongin masih belum tahu kalau restoran sudah tutup dan Kyungsoo sudah pulang. Jongin menunggu ice coffee pesanannya. Jongin melihat ke arah pintu masuk cafe. Pandangannya terhenti saat melihat siapa yang masuk ke dalam cafe yang sama dengan Jongin. Mina. Dia berjalan melewati Jongin tanpa menyapa Jongin, dan Mina tidak sendiri. Mina menggandeng pria yang di sampingnya dengan terus menebar senyum.

"Ini bahkan baru satu hari, dan aku sudah di campaka secara tidak langsung. Bagus, Kim Jongin. Kekasihmu memintamu untuk tidak bertemu denganmu lagi karena wanita lain. Lalu wanita lain itu dengan bahagia menggandeng lengan pria lain", Jongin bicara pada dirinya sendiri.

Jongin kembali ke mobilnya dengan ice coffee di tangannya. Jongin melihat restoran Kyungsoo. Restorannya sudah tutup. Jongin memutuskan unyuk pulang saja.

Kyungsoo sedang asik menikmati ramen yang dia buat. Jongin sedang malas memasak macam-macam untuk makan malamnya. Cukup dengan ramen saja. Handphone Kyungsoo berdering. Dengan cepat Kyungsoo menjawab panggilan itu setelah melihat siapa yang menelepon.

"Yeoboseyo...".

"Tunggulah sebentar lagi. Dia sudah mulai menyerah sedikit demi sedikit".

"Begitukah? Syukurlah kalau begitu. Iya, aku akan menunggu".

Pembicaraan singkat itu selesai. Kyungsoo menjadi lemas. Ramen di depannya tak lagi menarik untuk dimakan.

"Sebentar. Sampai kapan?", keluh Kyungsoo.

.

.

.

.

Jongin pergi ke mall, sendiri. Jongin bingung harus pergi kemana. Estoran Kyungsoo tutup, jadi Jongin tidak bisa melakukan apa yang biasa ia lakukan. Melihat Kyungsoo dari seberang restoran. Jongin ingin pergi ke tempat tinggal Kyungsoo, tapi terlalu jelas. Jalan di depan tempat tinggal Kyungsoo yidak terlalu lebar dan sepi. Terlalu jelas jika dia diam di sana berjam-jam.

Jongin berkeliling mall, matanya sibuk melihat ke kanan dan ke kiri. Jongin pun sebenarnya bingung, untuk apa dia pergi kesini. Tidak ada yang akan dia beli dan tidak ada tempat yang ia tuju. Jongin memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran. Lagi pula sudah waktunya untuk makan siang. Lebih baik Jongin makan siang di restoran, karena Jongin bosan dengan masakan halmeoni. Jongin masuk ke dalam restoran. Langkah Jongin berhenti seketika saat melihat siapa yang ada di depannya.

"Wah... seperti kau sedang bersenang-senang", ucap Jongin.

"Jongina...", ucap wanita yang berdiri didepannya yang langsung melepaskan gandengan tangannya bersama seorang pria.

"Dia kekasihmu?".

"Itu... aku bisa jelaskan. Di...di...dia ini...-", jawab Mina gugup. Ya, Jongin kembali bertemu dengan Mina yang pergi dengan pria yang sama.

"Kau setuju dengan perjodohan ini tapi kau seperti ini dengan pria lain?".

"Bukankah perjodohan itu hanya rekayasa? Dan kau bilang akan segera berakhir". Jongin mematung. Mina terkejut mendengar apa yang di ucapkan kekasihnya.

"Apa? Rekayasa? Kau jelaskan apa maksudnya". Mina terlihat gugup. Bingun apa yang harus ia katakan pada Jongin.

Sekarang Mina duduk di hadapan Jongin yang menunggu penjelasan dari Mina. Mina benar-benar terlihat gugup. Tidak tahu harus berkata apa pada Jongin.

"Jelaskan padaku. Bicaralah", pinta Jongin.

Akhirnya dengan ragu Mina menceritakan semuanya. Apa maksud dari rencana ayahnya menjodohkan Jongin hanya rekayasa. Tn. Kim, ayah Jongin, merencanakan untuk berpura-pura menjodohkan Jongin dengan anak temannya. Ayahnya sudah bingun harus bagaimana agar Jongin mau meneruskan perusahaannya. tn. Kim meminta bantuan Mina yang berpura-pura menjadi wanita yang akan dijodohkan dengan Jongin. Halmeoni tahu tentang hal ini. Itu alasan halmeoni menjadi lebih diam pada Jongin. Jongin yang tidak tahu apa-apa hanya percaya.

"Begitu? Jadi kau tidak benar-benar akan dijodohkan denganku?".

Mina mengangguk, "dan juga, setahuku kekasihmu juga tahu tentang ini".

"Heh? Kyungsoo? Dia tahu tentang ini?".

Senyum Jongin muncul mendengar apa yang diucapkan oleh Mina. Jongin berdiri dari kursinya.

"Gomawo, chingu" Jongin lalu bergegas pergi untuk menemui Kyungsoo. Jongin akan minta penjelasan dari ayahnya nanti. Jongin harus menemui Kyungsoo lebih dulu.

"Wah... Do Kyungsoo. Kau benar-benar", Jongin tak berhenti sejak tadi memikirkan apa yang sedang terjadi padanya.

Jongin sampai di tempat tinggal Kyungsoo. Jongin cepat Jongin menaiki tangga menuju tempat Kyungsoo. Kyungsoo sedang menjemur pakaian di luar. Betapa terkejutnya Kyungsoo saat melihat Jongin yang datang tiba-tiba.

"Apa yang kau lakukan disini?".

"Kau. Haruskah aku memberimu penghargaan oscar?".

Kyungsoo bingung, "apa maksudmu?".

"Kau bekerja sama dengan ayah tentang perjodohanku?".

DEG!

'Dari mana Jongin tahu? Siapa memberitahu dia? Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan?', Kyungsoo sibuk bertanya dalam pikirannya.

"Katakan sesuatu".

"Jongina, a... a... aku".

.

.

.

.

Flash back

Hari saat Tn. Kim, ayah Jongin meminta Kyungsoo masuk ke ruang baca untuk membicarakan sesuatu.

"Kyungsooya, bisa kau masuk sebentar? Aku ingin bicara denganmu".

"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu".

"Silakan, katakan saja", sahut Kyungsoo lembut.

"Aku ingin kau meninggalkan Jongin".

"Maaf, maksud tuan?".

"Tinggalkan Jongin. Aku akan menjodohkan Jongin. Ini hanya rekayasa saja. Bantu aku untuk rencana ini. Aku sudah tidak tahu harus menggunakan cara apa lagi membujuk Jongin agar mau meneruskan perusahaanku".

"Tapi, apa yang harus aku lakukan?".

"Begini, kau berpura-puralah kalau aku mengatakan kalau Jongin akan dijodohkan dengan anak temanku. Aku sudah meminta bantuan saudara jauh Jongin, dia Mina. Teman bermain Jongin saat kecil, aku yakin Jongin tidak akan ingat dengan Mina. Buatlah seolah kau harus meninggalkan Jongin karena masalah perjodohan ini. Jangan temui Jongin atau menghubungi Jongin sampai Jongin bersedia untuk menuruti keinginanku meminta dia meneruskan perusahaan. Jangan terlalu cepat, pelan-pelan saja agar Jongin tidak curiga. Aku yakin ini akan berhasil, aku melihat ini di drama-drama", jelas Tn. Kim.

Jongin memanggil Kyungsoo dari luar ruangan.

"Kyungsooya... kau dimana? Ayo kita pulang".

Tn. Kim meminta Kyungsoo berakting mulai dari sekarang. Kyungsoo harus bisa menahan diri agar tidak dicurigai Jongin.

"Apa yang sudah kau lakukan? Ayah bicara padamu? Apa yang ayah bicarakan?".

"Tidak ada apa-apa. Ayahmu hanya memintaku besok untuk memasak sup ikan".

"Benarkah?".

"Ohh.. ayo, aku ingin cepat pulang".

.

.

.

.

"Aku tidak percaya. Benar-benar tidak percaya".

Kyungsoo tertunduk. Menghindari tatapan mata Jongin.

"Aku hanya membantu".

"Angkat wajahmu", pinta Jongin. Kyungsoo perlahan mengangkat wajahnya dan sekrang Jongin bisa menatap Kyungsoo dengan jelas.

"Kau benar-benar hebat. Semua tangisanmu itu hanya pura-pura?".

"Aktingku bagus, benar kan?", tanya Kyungsoo antusias.

"Kau ini!".

"Maafkan aku, aku hanya membantu. Tapi, kau tahu dari mana? Sedikit lagi rencana ini berhasil".

"Kau masih memikirkan tentang rencana konyol ayah?".

"Karena hiburan untukku melihatmu cemas seperti itu", sahut Kyungsoo lalu tertawa.

"Kau tidak rindu padaku?", tanya Jongin.

"Tentu saja aku rindu, sulit sekali berbohong seperti ini".

"Untung aku tidak merindukanmu!", ucap Jongin.

"Benarkah? Lalu apa yang kau lakukan berjam-jam melihatku dari dalam mobil di seberang restoran dan itu kau lakukan selama beberapa hari, mengikutiku sampai ke rumah, bahkan kau ingin mengetuk pintuku, lalu kau menghubungiku menggunakan nomor yang dirahasiakan?".

"Ohh... kau tahu dari mana aku melakukan semua itu?".

"Belajarlah lebih baik untuk menguntit orang lain".

"Kau ini...", Jongin menggertakan giginya karena kesal.

Jongin membuka kedua lengannya. Kyungsoo mendekat lalu memeluk Jongin. Kyungsoo benar-benar sudah lama ingin memeluk Jongin. Jongin memegang wajah Kyungsoo. Pelan-pelan bibir Jongin menyentuh bibir Kyungsoo. Jongin melakukannya lagi. Mencium Kyungsoo seperti yang ia lakukan saat pertama mencium Kyungsoo di Buyeo. Kyungsoo akhirnya tidak perlu lagi berakting dan bersembunyi dari Jongin.

Ayah Jongin, tentu saja kaget melihat Jongin yang datang ke rumah bergandengan tangan dengan Kyungsoo. Tn. Kim kembali dibuat bingung dengan Jongin. Padahal sedikit lagi rencananya untuk membuat Jongin bersedia meneruskan perusahaannya akan berhasil. Tapi Tn. Kim tidak menyerah begitu saja. Ia terus membujuk Jongin untuk mau menuruti permintaannya. Setelah 6 bulan Jongin akhirnya mau menuruti permintaan ayahnya. Tn. Kim kembali ke Amerika setelah memastikan Jongin mau melakukan itu. Setelah selesai kuliah Jongin akan langsung menggantikan ayahnya di perusahaan. Kyungsoo, tetap menjadi kekasih Jongin yang senang mengomel pada Jongin. Jongin, tetap selalu berusaha menjadi pria romantis untuk Kyungsoo.

.

.

.

.

-END-

.

.

.

.

Yeay ! ff ChikinChikin selesai... ^^,

Neomu neomu kamsahabnida yeoreobun yang selalu baca ff ini dari chapter awal sampai beres. Bahkan setia menunggu walau aku telat update

Thank you for your precious review... *kiss*

Mian kalau endingnya agak ga jelas... atau mungkin mengecewakan *deep bow*. Maaf juga alurnya terlalu pendek atau cepet... *bow*

Maaf juga kalau selama ff ini ditulis banyak kesalahan penulisan atau sebagainya yang bikin reader semua keganggu waktu baca... Aku tidak bermaksud seperti itu, ^^

Aku bakal memperbaiki tulisanku lagi

See you in next story from me...

Ada yang mau request next ff siapa maincastnya? Bukan EXO couple pun ga masalah chingu ^^,

Tinggalkan request kalian di REVIEW ya...

request terbanyak itu yang akan jadi maincast di next ff ^^,

Super duper THANK YOU and sorry for everything

*KISSHUG*

*XOXO*