Deg.

Jantung Hinata berpacu begitu cepat ketika lavendernya menangkap pemandangan yang dia sendiri tidak yakini apakah itu nyata atau sekedar khayalannya saja.

Tidak mungkin.

Uchiha Sasuke?

Tubuh mungil Hinata terpaku tepat di tempatnya. Badannya kaku dan tidak memiliki kuasa untuk bergerak.

'Tidak mungkin.' Hinata berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu memang hanyalah sekedar bayangan Uchiha Sasuke seperti yang belakangan ini selalu tiba-tiba muncul di sekitarnya.

Mata Hinata masih tertuju pada sosok pria tegap berbalut jaket biru gelap yang terasa familiar bagi Hinata. Pria tersebut sedang menyandarkan tubuhnya pada besi pembatas taman dengan posisi salah satu kaki yang sedikit ditekuk. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Kepalanya tertunduk menatap ke arah bawah.

Hinata masih menatap sosok yang dia kira Uchiha Sasuke tersebut. Menunggu hingga bayangan tersebut hilang dengan sendirinya seperti yang biasanya terjadi.

Deg.

Rambut raven sosok di hadapannya sedikit tertiup angin hingga menimbulkan efek beriak yang terlihat begitu indah. Tiupan angin yang terasa nyata. Ģerakan rambut yang terlihat nyata. Dan aroma tubuh yang tercium nyata.

'Bohong. Tidak mungkin. Dia nyata?'

Deg. Deg. Deg.

Tiba-tiba wajah yang sejak tadi tertunduk tersebut kini terangkat. Onix dan lavender bertemu hingga membuat nafas Hinata tercekat seketika. Wajah pria tersebut juga nampak sama terkejutnya seperti Hinata.

Lavender Hinata masih terkunci padanya. 'Kenapa dia ada di sana? Tidak!'

Seettt.

Tubuh Hinata berbalik begitu menyadari bahwa sosok di depan sana benar-benar Uchiha Sasuke. Uchiha brengsek Sasuke benar-benar ada di Ame dan sekarang berada tepat beberapa meter di hadapannya.

Kaki mungil Hinata melangkah tergesa. Tidak. Dia tidak ingin bertemu dengan Sasuke. Dia tidak siap. Langkah kaki Hinata semakin cepat, tubuhnya berusaha berlari untuk menghindari kemungkinan bertemu dengan Uchiha Sasuke yang lebih lanjut dari pada ini.

"Hinata?"

Eeeh?

Wajah Hinata memandang horor ke arah belakang. 'Kenapa dia justru mengejarku?' Kini Hinata benar-benar sedang merutuki tubuhnya yang terlahir dengan kaki yang pendek.

Tidak!

Hinata masih berusaha berlari sekuat mungkin. Secepat mungkin. Kalau bisa Hinata ingin bumi menelannya bulat-bulat saat ini juga. Apa pun itu, asalkan dia tidak berjumpa dengan pria itu. Tidak! Tidak! Tidak! Hinata tidak ingin bertemu dengan Uchiha Sasuke.

Mata Hinata menatap penuh harap ke arah pintu depan hotel yang tinggal berjarak beberapa meter dari tubuhnya. 'Sebentar lagi. Sebentar lagi sampai.'

Greeeb.

Deg.

Tubuh Hinata berhenti terpaksa saat Sasuke telah berhasil menangkap tangan kanannya. Tangan besar Sasuke berhasil menghentikan ayunan langkah kaki Hinata.

'Kenapa aku selalu sial? Kami-sama.' Wajah Hinata menunduk menghindari tatapan Sasuke.

Hinata berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke. Genggaman tangan yang begitu besar yang meskipun pelan namun terasa menyakitkan bagi Hinata. Hinata mengibaskan tangannya dengan keras. Meskipun terasa tidak mencengkeram namun tetap saja genggaman itu enggan terlepas. "Lepaskan aku, Uchiha!"

Nafas Hinata terengah. Peluh telah membanjiri dahi hingga wajahnya. "Bodoh. Kenapa aku selalu saja sial seperti ini?" Tubuh Hinata merosot ke bawah. Kakinya yang mungil tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang sekarang tengah bergetar hebat. Sasuke sendiri masih berdiri di sana, di samping Hinata dan nampak enggan melepaskan tangannya.

Air mata Hinata tiba-tiba mengalir begitu saja. 'Padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga selama tiga tahun ini. Kenapa? Kenapa?'

Nafas Hinata masih terengah. Nafasnya tersengal akibat air matanya. Emosi dan gejolak terasa menggebu-gebu memenuhi seluruh bagian hatinya. "Jangan lihat!" Suara Hinata bergetar menahan isaknya. Meskipun telah berusaha setengah mati, tetap saja lelehan air mata masih mengalir begitu deras di pipinya.

Saat ini Hinata benar-benar merasa ingin menendang Sasuke jauh-jauh darinya. Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul di hadapannya? Padahal selama seminggu ini Hinata merasa baik-baik saja.

Ralat, mungkin bukan baik-baik saja. Tapi mencoba untuk bersikap baik-baik saja.

Apa pun itu, Hinata merasa bahwa dia tetap harus diberikan hadiah atas usahanya selama seminggu ini. Mengenyahkan pikiran tentang kejadian yang menimpanya di studio bukanlah perkara yang mudah bagi Hinata.

Hinata harus sekuat tenaga mengalihkan pikirannya pada hal lain. Dan meskipun itu adalah hal tersulit yang pernah dilakukannya, tapi nyatanya Hinata bisa. Dia tetap bisa menghadapai ayahnya dan semua orang lainnya dengan wajah tegar dan dagu terangkat seperti layaknya seorang Hyuga.

Dan kini, dengan lelehan air mata yang Hinata tak tahu kapan dan kenapa bisa mengalir, Hinata justru harus menangis di depan orang yang paling tidak ingin gadis itu harapkan tahu bahwa Hinata adalah sosok yang lemah.

Mengapa dengan seenaknya 'dia' datang dan kembali menghancurkan pertahanan yang susah payah telah dibuatnya?

"Hinata."

"Jangan lihat aku, Uchiha!" Hinata menegaskan suaranya, berusaha tidak menyelipkan nada memohon di dalamnya.

Sasuke berdiri menjulang di sisi Hinata. Menatap wajah Hinata yang sedang tertunduk dengan tetesan-tetesan air mata yang mulai tergenang tepat di bawah gadis itu. Tatapan Sasuke begitu dalam. Wajahnya berusaha memperhatikan setiap detail ekspresi yang sedang ditampilkan oleh wajah sendu gadis di bawahnya.

"Jangan lari dari kenyataan!" Suara Sasuke mengalun dengan begitu tenang dan dalam. "Kau selalu melakukannya bukan?"

Deg.

Tubuh Hinata terpaku di tempatnya. Tiba-tiba tetesan air mata berhenti mengalir dari manik lavendernya.

"Kau bisa saja merubah penampilanmu dan membuat semua orang memperhatikanmu seperti yang kau lakukan sekarang. Tapi mungkin kau lupa, bahwa kau tidak akan bisa menipu apa yang ada di dalam. Baik itu di dalam dirimu ataupun yang ada di dalam hatimu."

Seett.

Sasuke melepaskan genggaman tangan Hinata. Tubuhnya yang tadi sedikit menunduk kini berdiri dengan tegap.

"Maafkan aku waktu itu, Hinata."

Onix Sasuke menghangat saat menatap Hinata yang masih menunduk menyembunyikan wajah di sela-sela kakinya. Sasuke berjalan mundur dua langkah menjauhi Hinata. Dengan perlahan dia membalikkan tubuh tegapnya kemudian berjalan dengan tenang meninggalkan Hinata yang masih terduduk tepat di depan pintu hotel.

Hinata termenung meresapi setiap kata-kata yang baru saja Sasuke ucapkan kepadanya. 'Apakah tadi Uchiha Sasuke meminta maaf kepadaku? Benarkah?' Hinata mengangkat wajahnya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan Uchiha Sasuke.

"Eeeeh? Sudah pergi? Hanya begitu saja?" Wajah Hinata pias saat menyadari hal apa yang baru saja terjadi. "Jadi hanya begitu gaya Uchiha Sasuke saat meminta maaf?"

Tidak dapat dipungkiri bahwa peristiwa yang beberapa menit lalu terjadi benar-benar di luar perkiraan Hinata. Dia tidak mengira bahwa Sasuke hanya melakukan hal semacam itu kepadanya.

'Setidaknya Sasuke bisa meminta maaf dengan cara yang lebih baik seperti dengan mengucapkan kata-kata yang manis sambil memberikan pelukan atau setidaknya dia bisa menyanyi seperti di film-film romantis yang sering aku tonton, bukankah suara Sasuke tidak buruk?'

Hinata menghembuskan nafasnya. 'Kenapa reaksinya hanya begitu saja? Padahal aku tadi sempat menangis di hadapannya. Aku sangat terluka dengan sikap dan ucapannya. Dan itu semua karena Uchiha brengsek itu. Sebenarnya dia bersungguh-sungguh minta maaf padaku atau tidak? Uchiha Sasuke benar-benar bodoh.' Hinata menggeruti di dalam hati. Merutuki sikap Sasuke yang tidak sesuai dengan harapannya.

Wajah Hinata kembali menunduk, lavendernya beralih menatap ke arah tangan kanannya. Tangan yang tadi berada di genggaman Uchiha Sasuke.

'Tangan Sasuke.. hangat. Rasanya.. rasanya aku sudah sangat lama menunggu hal ini.' Hinata mengusap peluhnya. Air matanya sudah mengering sejak beberapa saat yang lalu.

"Dasar bodoh." Hinata memejamkan maniknya dengan rapat. Ekspresi wajah Uchiha Sasuke yang selalu terlihat menyebalkan kembali terlintas kembali di dalam benaknya.

'Uchiha Sasuke.. Dia.. dia selalu menyakitiku dengan seenaknya. Dengan kata-kata pedasnya. Dengan sikap dinginnya. Sampai terasa begitu sakit. Dan pedih. Lalu sekarang.. tiba-tiba dia muncul di hadapanku dan mengucapkan kalimat seolah-olah dia begitu mengenalku. Yang benar saja.'

Manik lavender Hinata kembali terbuka. Kepalanya mendongak menatap ke arah hamparan bintang yang terlihat begitu indah. "Uchiha Sasuke no baka."

Langit malam yang terlihat begitu pekat. Hembusan angin yang tertiup sepoi dan suasana yang begitu tenang. Hinata seolah merasakan de javu.

Ingatan Hinata kembali pada kenangan beberapa tahun silam. Kenangan yang selalu berusaha dia lupakan, kenangan yang selalu berkaitan dengan Sasuke, dengan Uchiha Sasuke, sang pangeran sekolah.

Sasuke adalah bintang yang terlalu jauh untuk Hinata gapai. Sasuke begitu indah, memukau, mempesona dan tidak ada satu orang pun yang meragukan hal itu.

Sungguh sangat berbeda dengan Hinata, hingga membuat mereka terlihat bagaikan langit dan bumi. Hal inilah yang membuat Hinata mencoba membohongi perasaannya sendiri. Perasaan yang entah sejak kapan mulai muncul dan bersemi di hatinya.

Hinata tahu bahwa dia adalah salah satu dari para gadis yang telah terjerat pada pesona Uchiha Sasuke. Meskipun begitu Hinata bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu diri, Hinata sadar akan siapa dirinya dan Hinata tahu di mana posisinya berada.

Hyuga Hinata bukankah seorang yang spesial. Jika bukan karena nama Hyuga yang disandangnya, Hinata bukanlah apa-apa selain seorang gadis culun, ceroboh, berpenampilan membosankan yang kebetulan memiliki otak encer melebihi para gadis lain di sekitarnya.

Seorang Hyuga Hinata bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan dengan Uchiha Sasuke. Hyuga dan Uchiha memang sebuah kombinasi yang cocok jika di sandingkan. Kekayaan, kejayaan, kejeniusan, kepopuleran dan kesuksesan. Tapi hal itu seolah tidak berlaku bagi Sasuke dan Hinata.

Sasuke memang memiliki semua hal yang dimiliki oleh para Uchiha pada umumnya. Otak cerdas, penampilan memukau, pesona menyilaukan dan kharisma yang begitu besar.

Lain halnya dengan Hinata. Bungsu Hyuga itu bahkan tidak memiliki sesuatu yang bisa dia banggakan. Dia memang memiliki otak cerdas, tapi semua Hyuga juga memilikinya. Bahkan Hinata yang termasuk dalam golongan utama klan Hyuga tidak memiliki penampilan menarik layaknya para Hyuga lainnya.

Hal itulah yang membuat Hinata sadar dimana posisinya. Posisi dimana dia berada pada tempat yang tidak pantas untuk menjadikan seorang Uchiha Sasuke sebagai sosok yang diidamkannya.

Tidak! Bukan Uchiha Sasuke yang tidak pantas tapi Hinatalah yang tidak layak untuk masuk dalam deretan para gadis yang pantas untuk berjalan bersisihan dengan bungsu Uchiha tersebut.

Keberadaan Hinata akan hilang saat dia ditempatkan pada kondisi di mana dia berada pada lautan para gadis pemuja Sasuke. Hinata tidak akan memiliki nyali untuk menatap Sasuke tepat di hadapan pemuda itu. Karena seperti biasanya, Kami-sama terlalu sedikit memberikan nyali kepada Hinata hingga membuat gadis itu selalu memilih menyingkir dan memutuskan untuk menatap diam-diam ke arah Sasuke dari arah samping.

Harapan tentang kedekatan Sasuke menggema di hati Hinata saat secara beruntun dia dan Sasuke selalu terpilih menjadi perwakilan sekolah dalam mengikuti olimpiade. Tidak hanya dalam hal pelajaran, namun keduanya juga selalu disandingkan sebagai perwakilan untuk tampil dalam sebuah festival ataupun perlombaan menyanyi dan bermain alat musik.

Untuk pertama kalinya akhirnya Hinata merasa bangga dan bersyukur memiliki kecerdasan yang selama ini tidak pernah dia anggap spesial. Kemampuannya itulah yang akhirnya membuat dia dan Sasuke selalu terlibat dalam tempat yang sama pada waktu yang relatif lama.

Meskipun dapat dipastikan bahwa Hinata dan Sasuke selalu terlibat dalam pertengkaran dan adu pendapat hingga membuat keduanya hampir tidak pernah berada dalam kondisi yang 'biasa' saja. Tapi hal itu justru membuat Hinata mengetahui lebih banyak tentang Uchiha Sasuke.

Sasuke yang benci jika harus menunggu. Sasuke yang sedikit mengerutkan alisnya ketika sedang serius. Sasuke yang selalu menyeringai ketika sedang memikirkan hal jahil. Sasuke yang selalu menggerutu jika sedang diberikan perintah oleh orang lain. Sasuke yang benci makanan manis. Sasuke yang suka dengan tomat. Sasuke yang sangat menyayangi ibunya. Sasuke yang selalu bersikap dingin tapi memiliki hati yang hangat. Sasuke yang irit bicara tapi selalu memperhatikan ketika ada orang yang sedang berbicara kepadanya.

Dan sejak saat itu Hinata akan sangat bahagia ketika dia dapat menemukan ekspresi lain yang ditampilkan di wajah Sasuke. Hinata sendiri tidak sadar sejak kapan dia mulai memperhatikan Sasuke. Sejak kapan dia mulai selalu melihat ke arah bungsu Uchiha tersebut. Dan sejak kapan nama Sasuke mulai memenuhi seluruh isi hatinya.

Ketika Hinata dihadapkan pada kondisi dimana dia tidak memiliki pilihan selain ikut menemani sang ayah untuk pindah ke London. Akhirnya Hinata sadar bahwa Uchiha Sasuke dan Hyuga Hinata adalah sosok yang benar-benar terlalu jauh untuk dapat bersama.

Teramat jauh malahan.

Hinata tahu bahwa dia sama sekali tidak memiliki kuasa untuk menentukan kepada siapa hatinya akan mendamba. Maka dari itulah Hinata memutuskan untuk pergi. Pergi dari Uchiha Sasuke, dari kenangan cinta pertamanya, dari perasaan mendambanya yang bahkan belum sempat dia ungkapkan.

Kesempatan terakhirnya untuk bertemu dengan Sasuke kembali membuat sifat naif Hinata mendentumkan sebuah harapan. Harapan bahwa setidaknya dia akan mendapat sedikit kenangan manis dari cinta pertamanya.

Kenangan manis?

Cih.

Yang benar saja?

"Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu. Jangan menggangguku. Dasar jelek!"

Nafas Hinata memburu ketika mengingat ucapan Sasuke tiga tahun silam. Kalimat itulah yang membuat Hinata berusaha sekuat tenaga untuk mengubah penampilannya.

"Aku tidak mungkin tertarik pada gadis membosankan seperti Hyuga itu. Dia tidak berada di tempat yang pantas untuk bisa bersamaku."

Lelehan air mata kembali keluar dari manik Hinata. Kenapa? Setelah semuanya yang telah Hinata lakukan dia masih belum juga pantas untuk seorang Uchiha Sasuke?

Apakah sebegitu jelekkah Hinata di mata Sasuke? Apakah Sasuke masih menjadi sosok yang terlalu jauh untuk Hinata gapai? Apakah Hinata harus berusaha lagi untuk berubah? Apakah perubahannya masih belum cukup untuk Sasuke?

Selama hampir seminggu ini batin Hinata selalu menggemakan berbagai pertanyaan. Selama hampir seminggu ini Hinata benar-benar terluka. Hinata kembali terpuruk untuk kedua kalinya, dan itu semua karena Uchiha Sasuke.

"Jangan lari dari kenyataan! Kau selalu melakukannya bukan?"

"Kau bisa saja merubah penampilanmu dan membuat semua orang memperhatikanmu seperti yang kau lakukan sekarang. Tapi mungkin kau lupa, bahwa kau tidak akan bisa menipu apa yang ada di dalam. Baik itu di dalam dirimu ataupun yang ada di dalam hatimu."

Mata Hinata kembali terpejam. Kenapa kata-kata Sasuke seolah terasa benar baginya?

Manik Hinata terbuka, wajahnya kembali menengadah ke atas, ke arah langit pekat. Hinata ingat bahwa dia selalu marah pada dirinya sendiri karena penampilannya yang membosankan terlebih dengan bentuk tubuh yang jauh dari kata ideal. Dia juga merasa sangat marah kepada Uchiha Sasuke yang mengucapkan kalimat yang terlewat kejam kepadanya.

Tapi benarkah? Benarkah semua yang dia lakukan?

Nafas Hinata berhembus dengan begitu dalam dan keras. Sebuah kesadaran menghantam kuat ke dalam benaknya.

Hinata sadar bahwa dia memang seorang pengecut, Hinata menjadikan alasan kenangan pahit pertemuannya yang terakhir dengan Sasuke sebagai alasan kesedihannya. Dia menjadikan Sasuke sebagai 'kambing hitam' atas perasaan menyesalnya. Dia menjadikan ucapan menyakitkan Sasuke sebagai alasan untuk menutupi semua rasa takutnya.

Kini Hinata benar-benar sadar. Sadar akan sikap pengecutnya. Sadar tentang perasaannya. Sadar akan rasa cintanya. Sadar kepada siapa dia jatuh cinta. Dan sadar di mana posisi Uchiha Sasuke bagi seorang Hyuga Hinata.

Hinata tidak akan takut mengakui hal itu lagi, dan Hinata kini tidak akan pernah menyangkalnya.

Tapi..

Apa arti kesadaran yang baru saja diperolehnya kini? Bukankah semuanya benar-benar sudah sangat terlambat?

Setelah berbagai kejadian yang telah dilewati, jelas saja untuk mencapai tahap 'normal' kembali pasti bukanlah sesuatu yang mudah.

Terlebih lagi..

Keberangkatan Hinata menuju London kini benar-benar telah menanti di depan mata. Dan.. Dapat dipastikan, setelah kepulangannya ke Konoha yang Hinata sendiri tidak ketahui kapan itu terjadi, semuanya akan berbeda. Sangat sangat berbeda.

~ T B C ~

Maaf yang sebesarnya kalau author terlalu lama update fic ini.

Masih ada yang nungguin fic ini buat update ngga?

Kalau ada, mana suaranya???

Terimakasih sebanyak-banyaknya buat Ranmiablue, Kanra Desu, Siskakh27, Erdena273, Sabaku no Yanie, Roti Bakar, Yulia, FVN-Hime, Bill Arr, Pengagum Lavender26, Hanami