Title : Primrose

Author : chickenKID and dinodeer

Cast :

• Luhan

• EXO – Sehun

Support Cast : Wu Yifan, Krystal (F(x)), Minhyuk (CN Blue), Suho (EXO), Lay (EXO), Chanyeol (EXO), Baekhyun (EXO), Chen (EXO), Kyungsoo (EXO), Heechul (SJ), Lee Jinki/ONEw (SHINee), Key (SHINee), Jonghyun (SHINee), Taemin (SHINee), Kai (EXO), Jiyeon (T-Ara), Siwon (SJ), Seohyun (SNSD), Changmin (DBSK).

Pair : HunHan-ChanBaek

Genre : Fantasy, Romance and Friendship

Rated : T

Length : Chaptered

Disclaimer : Terinspirasi dari sebuah anime yang berjudul "Uragiri wa Boku no Namae wa Shitteiru (UraBoku)". Sehun punya Luhan, Luhan punya Sehun, keduanya saling memiliki dan keduanya milik Tuhan. Fic punyanya chickenKID dan dinodeer.


Previous Chapter

Setelah itu Sehun mendekati telinga Luhan, dan berbisik.

"..."

Luhan membulatkan matanya kemudian

TES

Bisikan Sehun pun sukses membuat air mata Luhan mengalir di sana. Luhan menangis. Lalu Sehun memeluk Luhan yang tengah menangis di sana.

Kini ia tak akan bisa lepas dari dari Opast berwajah tampan bernama Oh Sehun itu.


Primrose

Chapter 13

Sehun dan Luhan kini tengah duduk terdiam di dekat pohon. Luhan tengah memakan kue, di sampingnya Sehun hanya terdiam memperhatikan Luhan yang tengah mengunyah kuenya. Luhan yang sadar tengah diperhatikan kemudian menolehkan pandangannya pada Sehun.

"Waeyo?" tanya Luhan.

"Kau ini umur berapa sekarang? Kenapa hanya memakan kue saja remah-remahnya belepotan begitu" ujar Sehun seraya menggelengkan kepalanya.

"Mwo? Aku sudah besar, bukan anak kecil lagi!" ujar Luhan, walaupun begitu ia mengusap-usap sudut bibirnya serta dagunya.

"Masih ada tuh" ujar Sehun.

"Di mana?" ujar Luhan seraya menoleh ke arah Sehun namun tetap mengusap-usap dagunya.

"Bukan di sana,tapi di sini" ujar Sehun, kemudian ia mengambil remah kue yang berada di sudut kanan bibir Luhan.

Blush

Entah mengapa wajah Luhan tiba-tiba memanas seketika. Kemudian ia menatap mata perak Sehun. Sehun ikut menatap mata Luhan. Angin berhembus membuat rambut panjang Luhan bergoyang. Hening seketika.

Pluk

Sebuah daun jatuh tepat di atas kepala Luhan. Kemudian Sehun mengambil daun yang jatuh itu. Setelah itu ia usap rambut panjang Luhan. Entah mengapa saat Sehun melakukan hal itu membuat jantung Luhan berdetak hebat. Ia masih memandang mata Sehun yang sama-sama memandang matanya. Sehun masih mengusap-usap rambut Luhan yang entah mengapa perlakuan Sehun tersebut membuatnya nyaman.

"LUHAN!" Luhan tersentak ketika suara teriakan yang memanggil namanya menghampiri indera pendengarannya. Ia langsung menolehkan pandangannya dan matanya membulat seketika ketika ia melihat seorang Lessieona yang tinggal bersamanya tengah berdiri di sana. Luhan langsung bangkit dari duduknya.

"Seohyun Unnie" ujar Luhan saat melihat Seohyun di sana.

"Apa yang kau lakukan bersama Agarest sepertinya? Kau tahu dia adalah Opast yang sangat berbahaya" ujar Seohyun. Luhan hanya terdiam tak dapat menjawabnya. Memang selama ini ia tak pernah memberitahu satupun Lessieona tentang kontrak bersama Sehun. Karena memang jika ketahuan akan runyam begini jadinya. Tak akan ada seorang Lessieona pun yang mengjinkan dirinya untuk dekat dengan seorang Opast. Apalagi Opast itu adalah Oh Sehun, Agarest titisan Iblis langsung.

"Pulang sekarang juga!" perintah Seohyun. Luhan hanya menundukkan wajahnya, kemudian ia berjalan perlahan menuju Seohyun. Sambil setengah berbisik pada Sehun

"Aku pergi" bisiknya. Sehun hanya terdiam melihat kepergian Luhan. Luhan langsung ditarik oleh Seohyun lalu pulang menuju rumah keluarga besar Lessieona.

Saat sudah tiba di rumah. Seohyun memberitahukan semua anggota keluarga Lessieona tentang Luhan yang tadi bersama Sehun. Hingga akhirnya Luhan di panggil ke ruang keluarga, lalu ia disidang di sana. Ia ditanya-tanya dari mulai kapan mengenal Sehun hingga bagaimana bisa ia terlihat sangat dekat dengan Sehun. sedangkan Sehun diam-diam mengikuti Luhan dan terdiam di luar rumah keluarga besar Lessieona.

"Kapan kau pertama kali bertemu dengan Agarest itu?" tanya Siwon. Ia adalah kepala keluarga Lessieona saat itu.

"Aku tak ingat" jawab Luhan singkat.

"Jawab yang benar Luhan, kami ini peduli padamu. Kami tak ingin kehilanganmu. Jangan sampai kau terpengaruh oleh Opast itu. Kau tahu, dia adalah Opast yang sangat kejam. Dia bahkan banyak membunuh keluarga kita Luhan. Kau harus ingat akan hal itu!"

"Sehun sudah tidak membunuh lagi ketika ia sudah berteman denganku!" jawab Luhan. Nadanya sedikit lebih tinggi.

"Teman? Jangan bercanda Luhan, dia bahkan musuh dari keluarga kita" yang ini ucapan dari Seohyun. Ia sangat kecewa pada Luhan karena ia membela Opast itu.

"Tapi kita memang sudah berteman. Sehun berjanji padaku bahwa ia tak akan membunuh lagi. dia bahkan pernah menolongku dari serangan Opast lainnya!" bela Luhan.

"Jangan tertipu oleh sifatnya yang pura-pura baik itu. Kau harus tahu Luhan, Opast adalah makhluk yang licik. Sekarang kau mempercayainya, tapi nanti kau akan menyesal karena kepercayaan yang kau berikan padanya" ujar Siwon. Ia terlihat memijat keningnya saat ini. Luhan mendengus sebal.

"Sehun tak akan pernah mengkhianatiku, dan aku percaya akan hal itu!" jawab Luhan mantap.

"Kau ini kerasa kepala sekali Luhan!" ujar Seohyun. Kemudian ruangan tiba-tiba riuh, para Lessieona membicarakan Luhan dan Sehun saat ini. Luhan hanya terdiam tak menjawab lagi.

"Luhan dengar, sejak awal Lessieona dan Opast memang tidak ditakdirkan untuk bersama" ujar Siwon dengan nada yang tegas.

"Jadi kau tak boleh berteman dengan Sehun. Kami semua menyayangimu Luhan, kami semua hanya ingin menentukan yang terbaik untukmu" ujar Siwon lagi.

"Jika yang kau maksud yang terbaik untukku adalah dengan menjauhi Sehun maka aku menolaknya. Josonghamnida Siwon-nim, aku tak bisa" ujar Luhan. Kemudian ruangan yang di isi banyak Lessieona itu kembali riuh mendengar pernyataan Luhan. Sehun yang berada di luar kini tertegun mendengar pernyataan Luhan.

"Baiklah kalau begitu, kuberi kau pilihan Luhan, jika kau masih ingin tinggal di sini maka tinggalkanlah Sehun, namun jika kau masih bersikeras untuk berteman dengan Sehun, maka kau bisa keluar dari rumah ini" ujar Siwon. Luhan terhenyak mendengar pernyataan Siwon.

"Kau-kau mengusirku?" tanya Luhan. Nadanya sedikit bergetar.

"Itu tergantung pilihanmu Luhan" ujar Siwon lagi. Seohyun di sana juga tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Siwon. Namun ia percaya Luhan tidak akan mungkin mau pergi dari rumah hanya karena seorang Opast seperti Oh Sehun. Luhan beranjak dari tempat duduknya.

"Kau benar-benar akan melakukan ini?" tanya Luhan pada Siwon, namun Siwon hanya memandang Luhan.

"Kau benar-benar akan melakukan ini hanya karena aku berteman dengan Opast?" tanya Luhan, air mata sudah mengalir dari pelupuk matanya.

"Itu bukan hanya Luhan, berteman dengan Opast itu adalah sesuatu masalah yang besar"

"Namun Sehun adalah Opast yang berbeda, ia sudah berjanji padaku untuk tidak membunuh lagi, ia bahkan menolongku dari seranagan Opast. Masalah apa yang akan aku timbulkan jika berteman dengan Opast yang jelas-jelas telah melindungiku? Katakan padaku Siwon-nim, apa salahnya dengan itu? APA SALAHNYA BERTEMAN DENGAN OPAST?" tanya Luhan dengan berteriak di kalimat akhir. Membuat barang-barang yang terbuat dari kaca di sana bergetar karena suara Luhan.

"Silahkan tinggalkan rumah ini Luhan, sepertinya kau sudah menentukan pilihanmu" ujar Siwon. Kemudian Siwon beranjak dari tempatnya, beberapa Lessieona langsung memegang Luhan, kemudian menyeret Luhan keluar dari ruang sidang Lessieona.

"Tunggu Siwon-nim, kau tak bisa melakukan ini padaku. Siwon-nim, Siwon-nim" tangis Luhan pecah di sana. Seohyun hanya bisa memandang Luhan dengan tatapan sedih, ia jadi merasa bersalah karena telah melaporkan kedekatan Luhan dengan Sehun.

PRANG

Kaca-kaca di rumah Lessieona pecah. Luhan masih berteriak memanggil nama Siwon. Namun orang yang dipanggil namanya sudah menghilang di sana. Hingga Luhan dikeluarkan dari rumah besar keluarga Lessieona.

Luhan masih menangis di sana. Perasaannya sangat kacau sekarang. Namun sepasang tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Luhan terkaget, ia membalikan tubuhnya kemudian melihat Sehun di sana. Sehun mengangkat tangannya kemudian mengusap air mata Luhan.

"Kenapa kau sangat senang sekali menangis sih?" tanya Sehun. Luhan tak menjawab. Kemudian Sehun menggenggam tangan Luhan, dan menariknya, dengan sekejap mereka menghilang dari pekarang rumah keluarga Lessieona. Sehun membawanya pergi jauh dari sana. Hingga sampailah mereka di atas bukit dengan pohon rindang yang berdiri kokoh mengelilingi mereka.

Luhan langsung terduduk di sana, ia merasa seluruh tubuhnya lemas. Sehun langsung terduduk di sampingnya.

"Seharusnya kau tak mengatakan itu Luhan. Aku terbiasa hidup sendiri, aku bahkan sudah bukan bagian dari Opast lagi sekarang. Namun aku tak ingin kau ikut-ikutan di usir oleh keluargamu. Kau seharusnya tak membelaku karena apa yang dikatakan mereka benar. Aku ini Opast dan aku licik, kenapa kau berani mempercayaiku?" tanya Sehun.

"Kau lupa? Aku ini majikanmu kan? Kau sudah mengikat kontrak denganku, aku yakin kau tak akan pernah menyakitiku" jawab Luhan, kini ia sudah mulai tenang. Air matanya pun sudah berhenti.

"Kenapa kau seyakin itu?" tanya Sehun.

"Entahlah, aku hanya merasa bahwa kau memang tak akan menyakitiku" ujar Luhan. Kemudian ia menggeser posisi tubuhnya berbalik menghadap Sehun.

"Kau tak akan menyakitiku kan?" tanya Luhan. Sehun hanya tersenyum mendengar pertanyaan Luhan.

"Lihat kau bahkan memiliki senyuman yang menawan. Mereka saja yang tak tahu bahwa ada kebaikan yang tersimpan di dalam dirimu. Dan aku percaya itu, makanya aku membelamu" ujar Luhan. Ia mendengus sebal ketika mengingat kata-kata Siwon.

"Tapi apa yang dikatakan oleh kepala keluargamu itu memang benar, aku memang pembunuh yang kejam kan?" ujar Sehun.

"Itu dulu Sehun, sebelum kau bertemu denganku" jawab Luhan.

"Aku bersyukur kau mengerti aku Luhan, asal kau tahu dulu aku memang sangat haus akan darah. Aku sangat senang membunuh, tapi setelah bertemu denganmu sepertinya kesenanganku berubah. Sekarang aku sangat senang mengganggumu" ujar Sehun. Luhan hanya memukul pelan Sehun, dan membuatnya terkekeh.

"Dulu aku sama sekali tak punya tujuan hidup. Namun saat bertemu denganmu tiba-tiba saja aku mempunyai tujuan hidup. Alasan aku tetap hidup di dunia ini adalah untuk melindungimu. Aku merasa bahwa aku harus melindungimu" ujar Sehun. Luhan tersenyum, tersenyum dengan lembut.

"Ya aku tahu Oh Sehun" jawab Luhan.

"Karena itu aku tetap ingin berada di sampingmu Sehun-ah" lanjut Luhan. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya, lalu ia simpan di pipi putih Sehun.

"Terimakasih karena telah melindungiku" ujar Luhan, kemudian ia kembali tersenyum dengan lembut. Sehun tertegun atas tindakan Luhan. Lalu entah dorongan darimana ia memajukan wajahnya ke arah wajah Luhan. Luhan hanya terdiam ketika wajah Sehun semakin mendekat ke arah wajahnya.

Lalu

CUP

Sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Luhan tak menolaknya, ia mersakan bibir lembut Sehun menempel pada bibirnya. Ia malah menutup matanya dengan tangan yang masih berada di kedua pipi Sehun. Ia membalas ciuman Sehun. Saat itulah ia sadar, rasa yang lain sudah menyusup ke hatinya ketika Sehun mulai menggerakkan bibirnya melumat bibir bawahnya. Rasa yang hangat semakin lama semakin memenuhi hatinya. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat dan wajahnya merah merona. Di sana Luhan mulai mengerti satu hal bahwa mungkin ia sudah terjebak ke dalam pesona seorang Opast bernama Oh Sehun.

.

.

_Hun for Han_

.

.

Sementara itu di mansion Opast.

"Kita harus membawa Sehun kembali! Bagaimanapun dia adalah Agarest, pangeran kita!" seru Jiyeon dengan berapi-api.

"Kau tuli? Sehun telah berkhianat,"

"Untuk apa membawa dia kembali? Untuk mendapatkan hukuman?" ujar saudara kembar Taemin-Jongin.

"Lagipula tidak ada yang bisa memastikan Sehun berkhianat!" seru Jiyeon lagi. Gadis berambut hitam itu bersikeras untuk menyelamatkan Sehun, sementara saudara kembar Taemin-Jongin bersikap tidak peduli pada Sehun.

"Kau benar-benar tuli Jiyeon-ah," ujar Taemin.

"Jelas-jelas kami sudah mengatakan bahwa Sehun kabur dari pandangan kami membawa Lessieona rendahan itu." lanjut Jongin. Entah kenapa pikiran mereka benar-benar sinkron saat berbicara.

"Bagaimana jika Sehun dikurung? Dia dipenjara di tempat makhluk rendahan itu? Bukankah itu alasan yang cukup untuk menyelamatkan Sehun?" ujar Jiyeon lagi.

"Lessie rendahan itu punya otak Jiyeon-ah, untuk apa mereka mengurung Sehun?" ujar Key sambil duduk angkuh di sofa ditemani oleh cookies dan teh favoritnya.

"Mungkin untuk mengancam kita?" ujar Jiyeon agak ragu.

Key menghela napas. "Lagipula jika dia sudah berkhianat untuk apa kita menerima dia kembali? Di pengkhianat dan aku tidak bisa percaya pada pengkhianat." Tuturnya panjang.

"Tapi itu kan belum pasti! Kita harus mencarinya!" seru Jiyeon keras kepala.

"Kau bodoh," yang ini ujar Jongin.

"Jelas-jelas Sehun tidak ingin kita selamatkan." Lanjut Taemin.

"Tapi kupikir tidak ada salahnya mencoba menolong Sehun, lagipula belum pasti apa dia berkhianat ataupun tidak." Ujar Opast lain.

"Ya, kupikir jika Sehun masih bisa kembali pada kita tidak masalah, dia tetap saja Agarest," sahut yang lainnya.

"Lagipula dengan adanya Agarest sepertinya kekuatan kita bisa bertambah berpuluh kali lipat." Tutur Opast lain dan disahuti oleh Opast lainnya yang secara tidak langsung turut mengamini ucapan Jiyeon.

Taemin mendengus, Jongin terdiam, dan Jiyeon tersenyum gembira.

"Kupikir usul Jiyeon tidak buruk."

Suara rendah seseorang membuat semua Opast menolehkan kepalanya dan mendapati seorang namja dengan tubuh tinggi tegap, rambut hitam dan wajah tegas tengah berjalan masuk ke ruang keluarga.

"Kris-nim." Panggil semua Opast dengan penuh hormat dan secara langsung membuat mereka menundukkan kepalanya kecuali empat Opast kurang ajar bernama Jiyeon, maniak cookies berambut pirang, Key dan si duo kembar Tamein-Jongin yang selalu berbuat onar.

"Berarti kita akan menyelamatkan Sehun?!" seru Jiyeon riang.

"Ya, kita akan menyerang mansion Lessieona besok pagi." Ujar Kris absolut. Semua Opast mengangguk setuju.

Taemin bersiul, sementara Jongin menyeringai lebar.

"Kami suka itu." ujar mereka berbarengan.

Jiyeon berdecih melihat tingkah saudara kembar yang berdarah dingin, haus darah dan memiliki hobi membunuh itu. Beberapa detik yang lalu mereka masih protes soal menyelamatkan Sehun namun sekarang mereka malah senang mendengar kalau semua Opast akan menyerang Lessieona.

"Dasar maniak makhluk rendahan." Ujar Jiyeon sambil mendengus pelan.

"Itu sebutan yang terlalu rendah untuk kami. Mungkin kau harus menggantinya menjadi maniak darah,"

"jeritan,"

"dan keputusasaan." Ujar mereka berdua berbarengan.

Jiyeon mendengus. "Kalian seperti sedang membaca puisi, menjijikan."

Esoknya.

PRANG

BRAK

ZRASH

"Lessieona rendahan diamana kalian menyembunyikan Agarest kami dan Asklepios rendahan kalian itu?! seru Jiyeon marah.

Lessieona yang ternyata sudah siap siaga di depan mansion mereka itu menatap puluhan Opast dan ratusan Zeust tingkat bawah yang sudah berada di depan mansion mereka.

"Apa maksud kalian?! Harusnya kami bertanya kemana Asklepios kami?! Kalian pasti sudah membunuhnya!" balas Seohyun kesal.

"Dasar otak udang! Untuk apa kami kesini jika sudah membunuhnya?!" seru Jiyeon lagi kesal.

Taemin bersiul. "Kami memang ingin membunuhnya, lebih tepatnya kami berdua." Ujarnya sambil menunjuk dirinya dan Jongin yang ada disebelahnya.

"Karena itu belum terjadi lebih baik kami membunuh kalian saja, tangan kami sudah gatal ingin membunuh." Lanjut Jongin.

"Lagipula walaupun kalian menangkap Agarest kami, kami yakin kalian sudah membunuhnya, hoaaahm," timpal Key sambil menguap lebar sebenarnya dia sangat malas sekali untuk ikut kesini, ia hanya ingin bersantai.

"Tapi sepertinya Asklepios kalian sudah menghilang ya? Dia kabur? Ah, ekspresi kalian benar-benar terbaca," ujar Kris dengan angkuhnya. "Kalau tidak salah Asklepios itu sangat berguna saat perang seperti ini bukan? Kehilangan dia mungkin sama dengn kehilangan setengah kekuatan kalian, ah kita tidak boleh menyia-nyiakan ini." lanjutnya.

Taemin dan Jongin menyeringai lebar setelah mendengar perintah Kris selanjutnya.

"Serang mereka!"

Baik Lessieona maupun Zeust berperang habis-habisan saat itu. Mereka saling mengerahkan kekuatan terbaiknya agar bisa menghancurkan lawannya.

Lessieona memang manusia namun mereka bukanlah manusia biasa yang lemah, mereka memiliki kekuatan yang mampu menahan serangan Opast, Zeust tingkat tinggi yang memiliki kekuatan luar biasa. Mereka memiliki kekuatan masing-masing, namun sayangnya dengan perginya Luhan, seperti kata Kris mereka kehilangan setengah kekuatan mereka. Luhan memiliki peran penting dalam perang seperti ini, hanya dia yang bisa menyembuhkan luka dalam sekejap dan membuat Lessieona akan bisa terus bertempur tanpa takut kekurangan pasukan.

"Kalian terlihat sangat hat-hati sekali," ujar Jongin sambil menyeringai dan memperlihatkan beberapa kartu di tangannya. Taemin dengan kecepatannya segera menatap beberapa Lessieona di depan matanya dan membuat mereka tidak bisa bergerak.

"It's show time." Gumam Jongin dengan seringai yang menyeramkan. Sementara Taemin terus bergerak dengan kecepatan kilatnya itu dan mengincar titik lemah manusia, lehernya dan berhasil membuat banyak Lessieona ambruk.

Jiyeon terlihat bahagia melihat banyak Lessieona yang terluka parah karena jepit rambutnya. Dalam pertarungan skala besar seperti ini, cukup sulit untuk menggunakan kekuatan hipnotisnya karena akan banyak yang dapat mengganggu dan mematahkan ilusinya.

Sementara Kris dan Key masih berdiri agak jauh dari daerah perang. Key bahkan membawa kursi santai dan mengeluarkan cookies yang sengaja ia bawa untuk melihat pertarungan ini.

"Kau tidak ikut berperang? Kupikir kau cukup haus untuk sesuatu seperti ini?" tanya Kris.

"Aku sedang bosan, dan ingin bersantai tapi kau memaksaku datang dan melihat boneka-bonekaku harus hancur di tangan makhluk rendahan itu." jawab Key.

"Kau tak terlihat sedih dengan kursi santai dan cemilanmu itu,"

"Lagipula masih banyak yang dapat kujadikan boneka, toh mereka juga tidak terlalu penting untukku."

Kris hanya mengangguk pelan.

"Sebenarnya kau tahu kan kalau Asklepios itu pasti sudah pergi dari mansion ini?" tutur Key pelan.

Kris tertawa kecil. "Kenapa kau bisa memiliki kesimpulan seperti itu?"

"Kau terlihat sedang menunggu seseorang, kupikir kau akan pergi dan membunuh mereka dengan membabi-buta, kau kan pernah... hmm, kau tahu sendiri kan?"

Kris menatap Key sebentar. "Maksudmu?"

"Jangan paksa aku untuk mengatakannya, aku tahu kau mengerti maksudku," ujar Key. "Jadi kau benar-benar sedang menunggu seseorang kan?" tanya Key.

Kris menyeringai. "Kau tahu, aku tahu bagaimana sifat mereka, Asklepios itu termasuk Lessieona walaupun ia memilih Sehun tak mungkin ia hanya berdiam diri jika tahu kalau keluarganya sedang dibantai,"

"Maksudmu ia akan kemari?"

"Tentu saja."

Key terdiam sebentar. "Bagaimana kau bisa yakin?"

"Lessieona membutuhkan Asklepios itu, entah mereka suka atau tidak mereka tetap membutuhkannya. Kau tahu Key, terkadang manusia bisa lebih iblis daripada iblis itu sendiri." Ucap Kris sambil menyeringai ketika melihat seekor kuda dan dua Lessieona tengah keluar menjauh medan peperangan menuju hutan.

Sementara itu dari sisi Lessieona.

"Sial! Mereka tidak ada habisnya!" seru pemuda berambut hitam dengan dua pedang di kedua tangannya. Sementara gadis berambut hitam tengah sibuk memfokuskan indera penglihatannya ke arah manusia yang telah menjadi boneka dan beberapa Zeust tingkat rendah.

Gadis itu berdecih pelan. "Aku benci Opast itu, dia menjijikan membuat hal seperti ini dan membuatku harus membunuh manusia lagi."

Minhyuk hanya tersenyum kecut mendengar ucapan adiknya itu, Krystal.

"Lihat bahkan pemimpin mereka tidak melakukan apa-apa dan membuat bawahannya yang menyerang kita semua," ujar Krystal lagi.

"Kita tidak bisa terus seperti ini, sudah banyak yang terluka apalagi gara-gara si kembar itu," timpal Baekhyun yang berada tak jauh dari Krystal dan Minhyuk.

"Aku benci mengatakan ini tapi kita benar-benar membutuhkan Luhannie," timpal Krystal.

"KRYSTAL! MINHYUK!" seru seseorang dari belakang mereka. Krystal menoleh dan mendapati Siwon tengah menatap kearah mereka.

"Cepat pergi sana! Biar kami yang urus disini!" seru Baekhyun.

Krystal dan Minhyuk mengangguk lalu berlari dan menghampiri Siwon yang memang belum terjun ke medan perang karena pemimpin dari lawan juga melakukan hal yang sama.

"Minhyuk-ah, kau bisa merasakan hawa keberadaan seseorang kan?" tanya Siwon.

"Ya Siwon-nim, memangnya kenapa?" tanya Minhyuk heran.

"Kau harus mencari Luhan, kau bisa melakukannya bukan?" tanya Siwon.

Krystal membulatkan matanya. "Maksud anda?"

"Kita sangat membutuhkn Luhan, kau lihat sendiri bagaimana nasib Lessieona tanpa Luhan Krystal-ah," ujar Siwon.

"Ya, tapi memintanya kembali untuk membantu kita setelah anda mengusirnya bukankah itu sangat... tidak tahu malu?"

Minhyuk terdiam mendengar ucapan adiknya itu.

"Saat ini aku tidak bisa memikirkan harga diri ataupun rasa malu, yang bisa kupikirkan adalah bagaimana caranya agar kita bisa menang, dan jawaban yang kutemukan hanya Luhan."

Kystal menggeram kesal.

"Maaf Siwon-nim tapi sangat sulit untuk mengetahui keberadaan seseorang dari jarak yang jauh, sepertinya aku harus pergi ke hutan," ujar Minhyuk.

"Krystal akan ikut denganmu, dia yang akan melindungimu sementara kau berkonsentrasi mencari Luhan,"

Krystal menghela napas pelan kemudian mengangguk. Minhyuk segera menarik tangan adiknya itu ke sisi kanan mansion dan menaiki seekor kuda berwarna hitam.

"Aku tidak melihat ada kuda lain, sepertinya yang lainnya kabur karena serangan Opast, ayo cepat naik!" seru Minhyuk. Minhyuk menarik tangan Krystal untuk duduk dibelakangnya dan memacu kuda berlari menuju hutan.

"Aku kesal karena aku sekarang terlihat seperti hanya memanfaatkan Luhannie!" seru Krystal saat mereka sudha masuk ke hutan.

"Aku tahu Luhan tidak akan menganggapmu seperti itu." timpal Minhyuk.

"Tapi setidaknya Luhan harusnya berbicara padaku mengenai Opast itu jadi aku bisa membelanya di sidang," sahut Krystal lagi.

Minhyuk mendesah pelan. "Luhan mungkin sebenarnya ingin memberitahumu, tapi dia terlalu takut kau akan membencinya seperti yang lain lakukan, karena tetap saja berinteraksi dengan Opast merupakan masalah yang besar."

"Luhannie bodoh! Mana mungkin aku membencinya, akan kutampar dia nanti jika aku bertemu dengannya!" seru Krystal dengan berapi-api.

Minhyuk tertawa. Ia kini kembali memfokuskan pikirannya untuk mencari keberadaan Luhan. Mereka sudah berada di hutan sekitar lima menit namun Minhyuk masih belum bisa menemukannya.

"Bagaimana kalau kita cari ke atas?" tanya Krystal.

"Ide bagus."

Minhyuk memacu kudanya untuk berlari ke daerah atas hutan itu. Ia sibuk berkonsentrasi sementara Krystal sibuk mengawasi sekitarnya dengan pistol di kedua tangannya. Sudah hampir beberapa menit kuda mereka berlari, tiba-tiba Minhyuk merasakan hawa keberadaan Luhan walaupun hanya sedikit.

"Aku merasakannya!" serunya.

"Benarkah?!" seru Krystal.

DAGH

BRUGH

Tiba-tiba kuda yang sedang mereka tunggangi terjatuh, seperti ada yang baru saja menendang kuda itu, untung saja mereka bertindak cepat cepat sehingga bisa menyelamatkan diri. Krystal segera memposisikan tubuhnya ke mode siaga, Minhyuk sudah siap dengan pedang di kedua tangannya.

"Siapa disana?!" seru Minhyuk.

Mereka saling memunggungi satu sama lain dengan senjata di kedua tangannya. Tiba-tiba sosok pemuda dengan pakaian hitam muncul dihadapan Minhyuk dan membuat mereka lebih bersiaga.

"Kalian bukan Opast."

Ucapan pemuda itu membuat Krystal dan Minhyuk mengerutkan keningnya.

"Kalian Lessieona bukan?" tanya pemuda yang memiliki rambut merah itu. "Apa kalian mencari Luhan?"

Mendengar nama Luhan disebut Krystal langsung membulatka matanya. "Kau! Opast yang Luhannie lindungi itu? Agarest?!" seru Krystal.

Pemuda itu mengangguk.

"Dimana Luhan? Kami harus bicara padanya." Kali ini Minhyuk mengeluarkan suaranya.

"Ikuti aku."

Minhyuk dan Krystal saling berpandangan dan akhirnya setuju untuk mengikuti si surai merah. Mereka berjalan cukup jauh, jalanan yang mereka lewati tidak bisa dilalui oleh kuda dan terpaksa membuat mereka meninggalkan kuda mereka di bawah.

"Apa Luhan baik-baik saja?" tanya Krystal khawatir.

"Ya."

"Kalian akan mengatakan kalau saat ini Opast dan Lessieona sedang berperang bukan?" tanya Agarest itu.

"Aku tidak bisa membantahnya." Jawab Minhyuk.

"Baiklah, biar Luhan yang memutuskan akan ikut atau tidak. Kalau kalian memaksanya, aku akan bertindak." Ujar si surai merah lagi yang membuat Krystal dan Minhyuk kembali terdiam.

"Ah ya, namaku Ohorat" Agarest tersebut memperkenalkan dirinya. Krystal mengerutkan keningnya bingung

"Minhyuk" dan kakaknya itu malah memperkenalkan namanya.

"Dan ini adikku Krystal" Agarest itu hanya mengangguk.

Setelah agak lama mereka akhirnya satu tempat yang dikelilingin oleh banyak pohon. Minhyuk dan Krystal meneliti tempat itu dan mereka menemukan seorang gadis berambut coklat madu tengah duduk di depan api unggun yang sudah padam.

"Luhan/Luhannie!" seru mereka berdua.

Gadis yang dipanggil Luhan itu menoleh dan langsung tersenyum lebar saat melihat dua orang dari keluarganya berada di depan matanya.

"Krystal! Minhyuk!" serunya lalu berlari menuju adik-kakak itu. "Kenapa kalian bisa tahu aku disini?" tanyanya.

"Kau tahu Minhyuk Oppa bisa merasakan hawa keberadaan seseorang kan?" ujar Krystal.

Luhan tersenyum kecil.

"Kau bilang tadi kau ingin menampar Luhan kalau kalian bertemu," ujar Minhyuk.

Luhan mengernyitkan keningnya. Krystal terkekeh kecil dan langsung membawa Luhan dalam pelukannya.

"Aku merindukanmu Luhannie, dasar bodoh," ujar Krystal pelan sambil terus memeluk Luhan. Sementara gadis berambut coklat madu itu tersenyum kecil dan membalas pelukan sahabatnya itu.

"Aku juga merindukanmu Krys, aneh sekali jika disekelilingku sepi, kau kan cerewet." Timpal Luhan.

Krystal memukul punggung Luhan pelan lalu melepaskan pelukannya.

"Kenapa kau tak memberitahuku kalau kau berhubungan dengan Opast?" tanya Krystal. Sehun-Agarest yang sejak tadi hanya diam kini menatap Luhan yang juga tengah menatapnya.

"Aku takut Krys, kau tahu semua orang menganggap Opast itu musuh kita, dulu aku juga menganggap dia begitu, tapi dia benar-benar serius untuk berteman denganku, bahkan rela menjadi pengkhianat," jelas Luhan. "Rambut merah itu adalah buktinya." Lanjut Luhan.

Krystal dan Minhyuk menatap Sehun lalu menghela napas pelan.

"Kau tahu? Aku sahabatmu Luhannie, kalau kau menganggap Ohorat itu Opast yang baik aku akan percaya padamu, karena kau tak pernah berbohong. Seharusnya kau mengatakannya padaku, aku jadi merasa tak berguna karena tak bisa membelamu di sidang kemarin." Tutur Krystal sedih.

"Ohorat?" Luhan langsung menoleh ke arah Sehun dan Sehun hanya tersenyum dan mengisyaratkan Luhan untuk diam dan Luhan mengerti.

Luhan tersenyum. "Aku juga tak memberitahukannya karena aku tak ingin kau diusir juga Krys, mana mungkin aku membiarkanmu terpisah dari kakakmu ini," timpal Luhan. "Jadi, apa maksud kedatangan kalian kemari?"

"Saat ini kita sedang berperang Luhannie." Jawab Krystal.

"Siwon-nim memerintahkanku untuk mencarimu, dia berkata kalau Lessieona sangat membutuhkanmu," ujar Minhyuk.

"Tapi kalau kau tidak mau kami bisa bilang kalau kami tidak menemukanmu, aku tidak akan memaksa. Memintamu membantu Lessieona setelah mereka mengusirmu benar-benar tidak tahu diri." Lanjut Krystal.

Luhan terdiam lalu menatap Sehun. Sehun hanya tersenyum kecil seolah mengatakan semua keputusan ada di tanganmu.

"Baiklah, aku ikut." Jawab Luhan.

"Kau serius?! Kau seharusnya menolak saja, aku merasa akan lebih baik jika kau menolak permintaan ini!" seru Krystal.

Luhan tersenyum. "Bagaimanapun juga kalian tetap keluargaku,"

"Aku tidak ingin kau mengalaminya lagi, aku tahu kau selalu memendamnya sendiri kan?" tanya Krystal.

"Itu adaah tugasku dan aku pikir aku memang lahir untuk seperti itu." jawab Luhan.

"Luhannie, aku tidak tahu harus mengucapkan apa, aku merasa sangat tidak berguna sebagai sahabatmu." Ujar Krystal sambil menunduk.

Luhan menepuk pundak Krystal. "Ya! Kenapa kau seperti ini sih? Akan lebih bagus jika kau terus cerewet, lagipula aku jadi merasa terhibur."

Krystal tersenyum sambil menatap Luhan. "Kau sahabat terbaik Luhannie, terimakasih."

"Kau juga sahabat terbaikku." Timpal Luhan.

"Baiklah kita harus segera pergi dari sini, tapi kami hanya memiliki satu kuda, bagaimana ini?" tanya Minhyuk.

"Aku bisa berteleportasi." Ujar Sehun.

"Tidak tidak, kau tetap disini." Timpal Luhan.

"Aku ikut, aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu." Kilah Sehun.

"Tapi-"

"Sudahlah Luhannie, Ohorat ini benar-benar serius kan? Dia akan lebih khawatir kalau tak ikut kesana." Ujar Krystal.

Luhan terdiam sebentar.

"Baiklah, apa kau bisa membawa Krystal dan Minhyuk bertelportasi denganmu juga?" tanya Luhan.

Sehun mengangguk."Tidak masalah, kemari pegang tanganku." Titah Sehun.

Minhyuk dan Krystal pun menghampiri Sehun dan memegang tangannya, Luhan pun mengikuti namun dengan cepat tangan Sehun yang satunya sudah memerangkap pinggang Luhan ke dalam pelukannya yang tanpa Sehun sadar tercipta rona merah tipis di pipi Luhan.

"Kalian akan merasa sedikit pusing." Ujar Sehun. Minhyuk dan Krystal mengangguk mengerti, dan beberapa detik kemudian mereka sudah berada di depan mansion Lessieona.

BRUK

Minhyuk dan Krystal langsung jatuh terduduk, sementara Luhan karena Sehun menahannya ia masih baik-baik saja di pelukan surai merah itu.

"Woah! Daebak! Tidak sampai satu detik kita sudah kembali!" seru Krystal.

"Tapi ini membuatku sedikit mual." Timpal Minhyuk.

Luhan menatap Sehun lalu tersenyum kecil. "Terimakasih Sehun-ah." Yang dibalas senyum kecil pula oleh Sehun.

"Kalian sudah kembali?" tanya Siwon dengan sedikit khawatir.

"Ya, karena Opast ini kami bisa kembali dalam sekejap!" seru Krystal.

Siwon terlihat tidak terlalu peduli dengan hal itu, ia menatap Luhan.

"Luhan aku tahu aku benar-benar tidak tahu malu, tapi aku mohon tolong bantu kami." Pinta Siwon.

Luhan tersenyum. "Tentu saja, bagaimanapun kalian tetap keluargaku." Jawab Luhan.

Siwon tersenyum lega. Ia segera memerintahkan Krystal untuk mengantar Luhan ke sisi kanan mansion yang dipenuhi oleh Lessieona yang terluka oleh serangan Opast. Untungnya tempat itu dilingdungi oleh pelindung dari serang Opast sehingga tidak banyak yang terluka parah.

"Kenapa kau disini Sehun-ah? Seharusnya kau menunggu saja disana, aku tidak ingin kau terlibat di perang ini." ucap Luhan.

Sehun terkekeh. "Harusnya aku yang berkata seperti itu padamu Luhan. Aku akan melindungimu dari luar pelindung ini, tenang saja."

Luhan mencibir pelan namun akhirnya menurut saja karena Sehun memang sulit dibantah. Ia mulai menyembuhkan keluarganya. Ia menghampiri salah satu Lessieona yang ia kenali.

"Hai Changmin Oppa, kau benar-benar ceroboh ya?" tanya Luhan.

Changmin terkekeh kecil. "Aku terkena sayatan kecil, tidak perlu kau sembuhkan Luhan-ah, lebih baik kau menyembuhkan yang lain." Ujarnya sambil sedikit meringis.

"Dasar Oppa pura-pura kuat seperti itu, tidak apa-apa akan aku sembuhkan." Timpal Luhan sambil menyentuh tangan Changmin. Sebuah cahaya keluar dan langsung menyembuhkan luka sayatan di lengan kanan Changmin. Luhan pun memindahkan tangannya ke bagian lain tubuh Changmin yang terkena sayatan, dan dalam sekejap luka Changmin langsung sembuh.

"Terimakasih Luhan."

Luhan tersenyum. "Sekarang Oppa harus memenangkan perang ini ya?" ujar Luhan. Changmin mengangguk dan berdiri keluar dari pelindung.

Luhan menatap Sehun yang tengah memunggunginya dengan pedang miliknya yang sibuk menebas Zeust tingkat bawah. Ia tersenyum lalu kemudian kembali menyembuhkan keluarganya yang lain.

Opast's side.

Taemin mendecih kesal melihat Sehun yang berdiri cukup jauh darinya tengah melindungi Lessieona yang kemarin hampir ia dan Jongin bunuh itu.

"Sehun disana." Ujar Taemin pada saudara kembarnya Jongin.

"Ya, rambutnya berwarna merah." Timpal Jongin.

"Pengkhianat." Ujar Taemin lagi.

Jongin menatap kakak kembarnya. "Apa yang kau rencanakan?"

"Hei Jongin, bukankah menyenangkan jika kita bisa membunuh pengkhianat?"

Jongin menyeringai kecil. "Itu pasti menyenangkan,"

"Lessieona itu harus melihat bagaimana Sehun mati." Lanjut Jongin.

Taemin terdiam sebentar.

"Hei, bukankah lebih menyenangkan jika melihat Sehun lebih menderita daripada mati?" tanya Taemin.

Jongin mengernyitkan keningnya. "Maksudmu?"

"Bunuh saja makhluk yang membuat Sehun berubah menjadi pengkhianat, aku penasaran bagaimana ekspresinya saat kita mambunuhnya," terang Taemin dengan seringai yang semakin lebar. "Aku punya rencana." Lanjut Taemin.

Ia membisikkan sesuatu ke telinga Jongin dan membuat Jongin menyeringai lebar.

"Kau sangat cerdas Hyung. Aku akan meminta Key Hyung untuk memperbanyak bonekanya disini." Ujar Jongin sambil berlari menuju Key dan membisikkan sesuatu. Kris terlihat mendengarkan naun sepertinya dia tak terlalu peduli pada rencana si kembar itu.

"Apa yang dikatakan Kris-nim?" tanya Taemin.

"Tidak ada, sepertinya dia tak terlalu peduli pada Sehun. Aku yakin sebenarnya tujuannya hanyalah menghancurkan Lessieona namun dia memakai Sehun sebagai alasan." Jawab Taemin.

"Baiklah ayo mulai rencananya."

Taemin segera menggunakan kecepatan kilatnya dan secara tiba-tiba kini sudah berada dihadapan Sehun.

TRANG

Dua pedang beradu. Sehun yang memang sudah tahu kekuatan Taemin langsung menundukkan pandangannya dan berusaha untuk tak melihat mata Taemin.

"Hahaha, kau masih kuat ternyata. Kupikir mengikat kontrak dengan makhluk rendahan membuat kekuatanmu menurun." Ujar Taemin.

Sehun hanya diam dan kembali melayangkan pedangnya ke arah Taemin.

"Kau itu Agarest bukan? Seharusnya kau menyadari posisimu dan tidak melakukan hal hina seperti ini Sehun-ah." Ujar Taemin sambil berusaha menahan pedang Sehun dengan pedang 30 cm miliknya.

Sehun tak menimpali ucapan Taemin.

"Kau menyebalkan ya Sehun-ah, aku penasaran apa yang akan kau lakukan jika makhluk kesayanganmu itu mati."

Ucapan Taemin membuat Sehun menolehkan kepalanya dan melihat Jongin kini sudah berada dibelakang Luhan. Tangannya ia lingkarkan di leher Luhan dengan tangan yang satu lagi menyimpan senjatanya berupa kartu di leher Luhan.

Keadaan ini dijadikan oleh Taemin untuk menatap mata Sehun. Sehun yang menyadarinya langsung berusaha menghindar namun ia terlambat. Tubuhnya kini sudah kaku, jika pada Opast lain ataupun Lessieona hal ini akan berlangsung selama tiga menit, namun karena Sehun memiliki tingkatan yang lebih tinggi maka hal ini hanya akan berlangsung satu menit.

"Kau jangan pernah menyentuh Luhan se inchi pun!" seru Sehun.

Taemin menyeringai. "Kita lihat saja."

Ia tiba-tiba menusukkan pedangnya ke lengan kiri atas Sehun.

"Argh." Rintih Sehun.

"Hentikan! Apa yang kalian lakukan pada Sehun?!" teriak Luhan berusaha memberontak dari cengkraman Jongin.

"Wah, tuan putrimu sepertinya sangat mengkhawatirkanmu Sehun-ah," ujar Taemin. Ia mencabut pedang itu dan kembali menusukkannya ke paha kiri Sehun.

"Argh!" Sehun kini sudah bersimbah darah. Namun tubuhnya masih kaku, masih ada 40 detik lagi menuju satu menit.

"Hentikan!" seru Luhan. Air mata kini sudah mengalir ke pipi Luhan. Beberapa Lessieona yang melihat hal ini langsung berusaha menyelamatkan Luhan. Namun Jongin terlalu cekatan sehingga mereka tak bisa mendekati tanpa terkena kartu Jongin yang sangat tajam.

"Hentikan!" seru Luhan lagi. Kartu yang menempel di leher Luhan kini sudah sedikit menusuk kulit lehernya dan membuat darah mengalir. Jongin masih mencengkeram Luhan erat tak membiarkannya kabur.

"Ah, bagaimana kalau sekarang aku menusuk dada kirimu saja?" tanya Taemin.

Luhan yang mendengarnya kembali berontak.

"Hentikan! Berhenti menyakiti Sehun! Kalian keparat!" geram Luhan.

"Wah, tak kusangka tuan putri sepertimu bisa mengumpat juga." Ujar Taemin sambil menatap Luhan yang kini tengah menatapnya dengan pandangan benci.

Taemin menatap Luhan lalu menatap Jongin dan tersenyum kecil. Jongin yang mengerti sinyal dari Taemin langsung mengangguk.

"Baiklah, membunuh pengkhianat itu ide yang bagus." Ujar Taemin sambil menarik pedang miliknya dari paha Sehun.

"Hentikan! Lepaskan aku Opast brengsek!" seru Luhan sambil menggigit tangan Jongin keras.

Jongin mengaduh dan segera melepaskan cengkeramannya dari leher Luhan. Luhan berlari menuju Sehun. Taemin menyeringai lebar.

"Luhan berhenti! Jangan kemari!" seru Sehun.

Waktu terasa lambat, langkah kaki Luhan dan air mata yang terus mengalir, ayunan tangan Taemin yang sedang memegang pedang, suara teriakan Sehun yang meminta Luhan untuk berhenti.

BRUGH

JLEB

Seringai Taemin semakin lebar. Jongin masih menyeringai. Bagaimanapun hasilnya diantara mereka pasti ada yang akan tertusuk pedang Taemin. Sehun menatap Luhan yang kini sudah berada diatasnya. Luhan tadi melompat ke pelukan Sehun.

"Hei, Luhan." panggil Sehun dengan nada takut. Ia meraba punggung Luhan, matanya terbelalak saat merasaka ada sesuatu yang basah di punggung Luhan dan sebuah benda yang kini tertancap di punggungnya.

"Brengsek!" umpat Sehun.

Satu menit telah berakhir namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Sehun langsung bertelportasi menuju tempat yang aman dan tempat dimana Siwon serta Lessieona lain berada.

"Luhan! Luhan! Luhan! Kau mendengarku?!" teriak Sehun sambil mengguncang-guncangkan tubuh Luhan yang berada di pelukannya.

"Siapapun tolong Luhan sekarang!" teriak Sehun. Siwon yang mendengarnya langsung menyuruh Krystal untuk memanggil Heechul.

"Luhan! Aku mohon, bangun." Lirih Sehun. Ia mengusap pipi pucat Luhan dengan telapak tangannya yang tadi memegang darah Luhan. Ia mengecup kening Luhan berkali-kali berharap agar Luhan membuka matanya.

"S-Sehun-ah." Panggil Luhan lemah.

Sehun menatap Luhan.

"Aku datang! Aku datang!" seru Hechul. Ia segera menghampiri Luhan dan Sehun.

"Pedangnya masih tertancap? Ini gawat! Aku tidak bisa melakukan penjahitan luka dengan cepat!" serunya sambil sibuk mengeluarkan beberapa alat dari kotak medisnya.

"S-Sehun-ah, kau selamat? Syukurlah." Ucap Luhan pelan.

Sehun menangis saat itu juga. "Kau itu masterku, harusnya aku yang melindungimu, kau tidak perlu membahayakan nyawamu untuk menolongku Luhan. Aku yang akan melindungimu," ucap Sehun sambil menatap wajah pucat Luhan.

"Sehun-ah terima-kasih. Terimakasih ka-rena t-telah berjanji seper-ti itu padaku, a-aku sangat senang."

"Kau jangan banyak bicara Luhan." ujar Sehun sambil menggenggam tangan Luhan.

"Aku akan mencabut pedangnya, kau harus menahannya ya Luhan. Aku sudah menyuntikkan obat bius padamu tapi aku taku itu tidak cukup untuk membuatmu tidak merasakan sakit." Terang Heechul.

Sehun menggenggam tangan Luhan semakin erat.

"Tidak perlu Oppa, sepertinya waktuku hampir dekat, uhukk."

"Itu tidak akan terjadi Luhan, aku mulai mencabut."

Heechul mulai mencabut pedang dari punggung Luhan dengan hati-hati. Luhan meringis pelan lalu menatap Sehun.

"S-Sehun-ah, t-terimakasih." Ucapnya.

"Jangan berterimakasih padaku, kau tidak perlu berterimakasih, yang harus kau lakukan sekarang adalah selamat Luhan."

Luhan tertawa kecil.

"A-ku me-mengantuk." Ujar Luhan pelan.

"Itu mungkin efek obat bius Luhan." ujar Sehun khawatir.

Luhan tersenyum. "A-aku benar-benar ber-terimakasih pa-damu, Sehun-ah."

"Luhan!" panggil Sehun.

Luhan terdiam dengan mata yang tertutup. Dada Luhan berhenti naik turun, tubuhnya mulai mendingin. Heechul terduduk, ia berhasil mencabut pedangnya, tapi tak berhasil menahan Luhan untuk pergi.

"Luhan!" panggil Sehun lagi. Ia menangis lagi kali ini.

"LUHAN!"

Flashback End.

Chanyeol dan Baekhyun segera berlari menuju tempat dimana Luhan berada. Kemudian saat mencapai sebuah pintu dan membukanya, ternyata di sana sudah ada Krystal dan Minhyuk. Suho di sana sedang diobati oleh Butlernya-Lay. Setelah itu perhatian Baekhyun dan Chanyeol langsung tertuju kepada Luhan yang kini tengah terbaring di sana di atas pangkuan seseorang.

"Ohorat." Ujar Baekhyun. Namja berkulit putih yang dipanggil Ohorat itu tidak menoleh, dia hanya mendekap namja yang kini berada di pangkuannya-Luhan.

Baekhyun dan Chanyeol kemudian menghampiri mereka.

"Cahaya dewa barusan membunuh Key" ujar Baekhyun.

"Ya, cahaya barusan juga berhasil membunuh Jiyeon" jawab Krystal.

"Bukankah cahaya dewa itu dapat membunuh semua Zeust? Lalu kenapa pangeran Iblis satu itu tidak mati?" tanya Chanyeol heran.

"Karena kontraknya dengan Luhan" jawab Minhyuk.

"Bukankah ia sudah terikat dengan Luhan? Karena itulah cahaya tersebut tidak berhasil membunuhnya. Itu juga karena sang pemilik cahaya tidak ingin Sehun mati." Lanjut Minhyuk. Semuanya hanya mengangguk.

"Lalu bangaimana dengan Luhan? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Baekhyun.

"Itu dia masalahnya. Kekuatan yang baru saja dikeluarkannya terlalu besar, jadi sekarang tenaganya sudah terkuras habis." jawab Minhyuk.

"Anak-anak, lebih baik sekarang kita kembali dulu ke mansion ne, kita harus pulang untuk mengobati Luhan dan juga kita semua." Ajak Suho, ia berjalan dengan dipapah oleh Lay. Yang lain menurut dan kemudian semua Lessieona, kembali ke mansion. Saat Baekhyun akan mengajak Sehun, Sehun sudah tidak ada di tempatnya. Ia sudah berteleportasi lebih dulu menuju mansion Lessieona.

.

.

_SKIP TIME_

.

.

Tiga hari berlalu setelah kejadian itu, dan Luhan masih belum bangun juga. Ia sudah tiga hari koma. Sedangkan Sehun, Opast itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya duduk terdiam di pinggir tempat tidur Luhan sambil menggenggam tangan namja itu. Selama tiga hari ini Sehun selalu menunggu Luhan untuk terbangun.

"Sehun-ah, apa hari ini juga kau masih tak mau mengobati lukamu?" Krystal masuk ke kamar Luhan. Sehun hanya menggeleng sebagai jawabannya.

Krystal menghela napas.

"Kau juga tahu kan bahwa kau sama terlukanya dengan Luhan, kau harus mengobati lukamu dulu"

"Tidak, aku ingin saat Luhan membuka matanya aku ada di sini untuk menyaksikannya"

"Tapi jika ia sudah membuka matanya dan melihatmu yang masih terluka, Luhan juga tak akan senang" Sehun terdiam.

"Kau tak mau membuat Luhan khawatir kan? Ayolah, setidaknya kau mengobati lukamu demi Luhan, ne ne ne?" ujar Krystal.

"Ini demi kebaikanmu dan kebaikan Luhan. Kau mungkin merasa kuat tapi tetap saja kau terluka." Lanjut Krystal.

Sehun menghela napas.

"Baiklah kalau begitu." Jawab Sehun, ia beranjak dari tempatnya. Krystal tersenyum senang, baru saja Sehun akan melangkah, namun suara lenguhan terdengar dari mulut Luhan. Sehun segera berbalik kembali, Krystal pun kaget melihat Luhan sedikit demi sedikit membuka matanya.

"Luhan! Kau sadar?" ujar Sehun, ia duduk kembali di tempatnya. Krystal menangis terharu.

"Aku akan memberitahu semuanya bahwa Luhan telah bangun!" seru Krystal kemudian ia berlari pergi meninggalkan kamar Luhan. Saat Luhan sadar sepenuhnya, Sehun langsung berhambur memeluknya.

"Kau bangun Luhan, aku senang, sangaaat senang" ujar Sehun bahagia.

Luhan tersenyum mendengar ucapan Sehun. Kemudian ia melepaskan pelukan dari si surai merah itu.

"Waeyo? Padahal aku sangat senang kau sudah bangun, aku masih ingin memelukmu" cibir Sehun. Luhan berusaha untuk beranjak dari posisi tidurnya.

"Omo, kau jangan banyak bergerak dulu, kau itu belum pulih sepenuhnya!" ujar Sehun sambil membantu Luhan untuk duduk.

"Seharusnya aku yang bilang begitu, lihat saja keadaanmu sekarang." Ujar Luhan lemah. Sehun terdiam ia menggenggam tangan Luhan erat.

"Aku benar-benar bersyukur kau bangun Luhan, melihatmu tidur dan tak terbangun selama tiga hari membuatku takut." Ujar Sehun pelan.

Luhan terdiam sebentar dan balas menggenggam tangan Sehun.

"Aku mengingatnya Sehun-ah" jawaban Luhan membuat Sehun mengerutkan keningnya bingung.

"Maksudmu?"

"Aku mengingat semuanya"

"Semuanya?" tanya Sehun dan Luhan mengangguk.

"Iya, semuanya saat kita di masa lalu" jawab Luhan. Ia tersenyum dengan lembut, kemudian Luhan memegang kedua pipi Sehun.

"Terimakasih Sehun-ah karena kau tidak mengkhianatiku, sekarang aku tahu kenapa aku memilih untuk dilahirkan sebagai seorang namja"

"Apa alasanmu?" tanya Sehun.

"Karena aku takut akhirnya akan seperti ini, karena itu aku memilih menjadi seorang namja dan berharap kau melupakan semua tentangku, namun ternyata kau tetap tidak mengkhianatiku," Sehun terdiam mendengarkan penjelasan Luhan.

"Akhir ini sebenarnya bukan yang aku harapkan, tapi aku tetap berterimakasih padamu Sehun-ah." Luhan kembali tersenyum dengan tulus. Kemudian Sehun kembali memeluk Luhan.

"Aku tidak peduli walaupun kau itu namja atau yeoja, selama itu kau, aku tidak akan pernah mengkhianatimu." Ucapan Sehun membuat Luhan tersenyum, kemudian membalas pelukan Sehun.

"Ne, gomawo" jawab Luhan. Dan mereka berpelukan dengan waktu yang cukup lama. Mengantarkan kehangatan, menyampaikan kasih sayang yang tumbuh pada hati keduanya.

"Dan Sehun-ah, ada satu hal yang belum pernah aku sampaikan, baik di masa lalu, walaupun masa sekarang," ujar Luhan. Sehun mengerutkan keningnya bingung.

"Apa itu?" tanya Sehun. Luhan kembali melepas pelukan keduanya. Kemudian Luhan mengisyaratkan Sehun untuk menunduk, Sehun menurut dan menunduk. Luhan membisikan sesuatu. Sesuatu yang sangat ingin Sehun dengar.

"Saranghae" Setetes air mata menuruni pipi Sehun saat ia mendengar satu kata itu. Kata yang mati-matian ingin Sehun dengar. Kata yang sudah beberapa kali ingin Sehun dengar sepanjang waktu. Dan hari ini, satu kata itu adalah miliknya. Kata cinta dari Luhan hanya untuknya. Dan demikian juga, segala sesuatu yang dirasakan oleh Sehun adalah milik Luhan.

Luhan mengusap air mata Sehun.

"Waeyo?" tanya Luhan dan Sehun hanya menggeleng. Ia benar-benar bahagia saat ini. Kemudian Sehun menarik tengkuk Luhan mendekat ke arahnya. Luhan yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya langsung menutup matanya. Kemudian Sehun mencium Luhan dan berulang kali memberitahu bagaimana dia sangat mencintai Luhan. Ia kecup kening Luhan seraya mengucap cinta, ia telusuri seluruh wajah Luhan dan terus merapalkan kata cinta lagi dan lagi, seolah-olah ia memberitahu dan ingin meyakinkan bahwa mereka tidak akan melepaskan tangan satu sama lain mulai dari sekarang. Setelah itu mereka berdua saling berpandangan, Sehun tersenyum begitu pula Luhan, dan dengan begitu Sehun kembali mendekati wajah Luhan. Meraih bibir ranum milik Luhan dengan bibirnya. Ia kecup lama bibir itu, dan baru saja Sehun akan melumat bibir Luhan sebuah suara pintu terbuka terdengar dengan jelas.

"Luhannie" ujar Krystal. Sehun dan Luhan segera melepaskan pertautan bibir mereka.

"Ups, sepertinya aku datang di waktu yang salah" ujar Krystal seraya menggaruk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal. Sehun menoleh ke arah pintu yang ternyata sudah berkumpul banyak orang di sana, dan kebanyakan dari mereka tengah menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa di sana. Sehun tersenyum kikuk dan para Lesseiona terpaku melihat Sehun karena ini pertama kalinya mereka melihat seorang Sehun tersenyum begitu.

"Hei Ohorat, biarkan kami berbahagia juga karena Luhan sudah sadar, awas kau minggir dari sana, waktunya keluarga berkumpul" ujar Baekhyun. Luhan terkekeh melihat Baekhyun menarik Sehun dan mengusirnya di bantu oleh Chanyeol karena Baekhyun tak sekuat itu untuk bisa mengusir Sehun. Krystal terkekeh melihat mereka. Suho kini duduk di samping Luhan dan tersenyum. Sehun berusaha untuk terlepas dari Chanyeol dan Baekhyun. Kamar Luhan pun kini penuh dengan semua Lessieona yang berkumpul di sana, tidak hanya itu di sana juga ada Jinki, Lay, Kyungsoo dan Chen. Dan karena ulah Baekhyun suasana jadi heboh di sana.

"Baiklah anak-anak, mari kita membuat pesta karena keberhasilan kita mengalahkan Opast dan Luhan telah sadar" ujar Suho. Dan semuanya bersorak-sorai dengan ajakan ketua mereka.

Sehun di sana tersenyum, ia melihat para Lessieona bahagia. Mungkin ia memang bukan bagian dari mereka, tapi kenapa ia juga ikut senang melihat mereka bahagia? Apalagi ia melihat Luhan yang tertawa di sana.

DEG DEG DEG

Lihat bahkan jantungnya berdetak lebih cepat melihat orang yang sangat ia cintai begitu bahagia. Sehun melihat ke arah cermin, melihat rambutnya yang berwarna merah. Kemudian Sehun memegang rambutnya dan tersenyum.

GUK

Suara anjing tiba-tiba terdengar, Sehun menoleh dan langsung berjongkok mengusap pucuk kepala peliharaan kesayangannya-Pixies.

Dibalik sebuah pertimbangan, ada pandangan yang tak terucap. Dan dibalik sebuah keputusan ada akibat yang tidak bisa dibayangkan. Sehun sama sekali tak menyesali keputusannya waktu itu untuk mencintai seorang manusia bernama Luhan. Walaupun ia harus menjadi seorang pengkhianat. Cinta itu datang tidak pernah dengan cara yang sama, tanpa pernah memaksa tapi ia tiba-tiba saja sudah menguasai jiwa. Dan itu yang dirasakan oleh Agarest bernama Oh Sehun yang sama sekali tidak mempunyai tujuan hidup dan menganggap hidupnya membosankan. Semua berubah saat ia bertemu dengan Luhan dan membuatnya bersedia untuk hidup hanya untuk melindungi Luhan. Ia bersyukur bertemu Luhan. Ia sangat bahagia saat melihat Luhan bahagia. Ia merasa cukup untuk itu. Dan sekarang juga seterusnya ia akan tetap melindungi Luhan dan akan mencintainya.

Jika ada orang datang bertanya siapa orang yang paling setia? Sehun akan dengan sangat percaya diri menjawab,

"Aku orangnya" karena Sehun sudah berjanji sejak dulu bahwa dia satu-satunya yang tidak akan pernah mengkhianati Luhan. Bahkan untuk kehidupan selanjutnya masih tetap sama. Karena ia mencintai Luhan

Luhan kini memperhatikan Sehun yang tengah mengusap-usap kepala Pixies. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Saat ia koma ia melihat gambaran tentang masa lalunya. Ia ingat apa yang diucapkan Sehun, dan membuat Luhan terharu karena ucapan itu keluar dari seorang Opast yang merupakan musuh bebuyutannya.

"Hanya aku yang mengerti penderitaanmu, rasa sakitmu, juga rasa kesunyianmu. Jika kita dapat selalu berdua, bersama selamanya. Aku akan mengatakan janji ini sebanyak yang kau inginkan. Bahwa aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Karena aku mencintaimu Luhan. Sekarang aku milikmu, begitu juga kau sudah menjadi milikku"

Tak terasa Luhan kembali mengeluarkan air matanya saat ia mengingat kata-kata Sehun itu. Dan ia sadar bahwa saat itu ia memang tak akan bisa lepas dari Sehun. karena hatinya sudah sedikit demi sedikit terselimuti oleh rasa nyaman dan aman berada di samping Sehun.

Ingat selalu ada kegilaan di dalam cinta, namun selalu ada alasan untuk kegilaan tersebut. Tak ada yang bisa menjamin seorang Opast dan Lessieona tak dapat bersama. Buktinya? Sudah tertuang dalam kisah ini, kisah sang Agarest tampan bernama Oh Sehun yang jatuh cinta pada seorang Lessieona-Luhan. Dengan begini kisah ini berakhir sampai di sini.

Primrose status : END


Akhirnya, end juga~ maaf ya kalo misalnya chap endingnya kurang memuaskan m(omo)m

Kesan & Pesan

dinodeer: terimakasih untuk semua pembaca primrose ^^ maafin juga pernah delay sampe berapa minggu TT tapi kalian setia nunggu ff kita duh makasih ya dpaet ketjup basah deh nih :* wkwk maaf juga kalo endingnya kurang memuaskan kalian haha semoga saya dan chickenKID bisa duet lagi haha Sampai ketemu lagiiii ^^ lovelovelovelalala /lambai-lambai/

chickenKID : Yahooo akhirnya ni FF tamat juga *tebarBunga Yosh makasih buat reader yang setia baca FF ini. Ah yaa pemberian nama Opast dan Zeust sebenernya diambil dari animenya, sedangkan Agarest dan Asklepios diambil dari internet, itu ada artinya yang membuat kami mengambil nama itu. Sedangkan untuk Lessieona dan Horrast itu murni karangan kami berdua. semoga kalian mengerti dengan silsilah keluarga Opast yang begitu rumit ya xD dan untuk judul itu pemberian dinodeer, arti dari judul ini bagus lho coba aja kalian searching dan cari tau artinya apa hhhiiii yosh yang penting happy ending yaa, tapi maaf jika endingnya kurang memuaskan *bow untuk dinodeer terimakasih sudah menjadi patner yang menyenangkan, semoga kita bisa bikin FF bareng lagi yak *wink okeee sampai jumpa lagi~ *TebarSenyumnyaONEw ^o^/

BIG THANKS TO : , minji, baekk, hunhanxx, .58, GitaPark, dewiviani, PutryManja, 9094, Dya Kim, RZHH 261220 II, hanhyewon357, tetsuya kurosaki, samiyatuara09, khalidasalsa, FairyFauth, Jung Naera, bebbynndyaaaa, FLAn2910

Dan semua siders juga guest yang tidak menyebutkan namanya, makasih banyak~ *bow

THANKS FOR READINGAND REVIEW! READERS ARE JJANG ^^9 ! BYE BYE

best regards

_chickenKID & dinodeer_