...School Of Magic...

.

.

.

Disclaimer : Naruto [Masashi Kishimoto]

Created By : Al – kun666

Rated : T

Genre : Action, Adventure, Fantasy, Martial Arts, School, Sci-Fi, SuperPower, Romance and Etc.

Pairing : ?

Warning : Typo (s), Miss Typo (s), OOC, OC, Alternative Universe (AU) and Etc.

Don't Like Don't Read ..

Ide ini dihasilkan oleh otak author sendiri, jadi harap maklum jika masih banyak kesalahan.

.

.

Summary : Kyoto Akademi, salah satu sekolah sihir terbesar dijepang, Namikaze Naruto, seorang pemuda dengan minat yang kurang tentang sihir, terpaksa harus masuk sekolah tersebut karena paksaan kedua orang tuanya.

.

.

Chapter 13 : Ekspedisi Dungeon

.

.

"Naruto .. benar?"

Naruto mengalihkan pandangan nya dari buku yang ia baca saat seseorang memanggil namanya dengan nada yang terdengar ragu – ragu. Sudah sehari sejak Naruto keluar dari rumah sakit, dan dirinya sekarang sudah kembali memasuki kelas.

"Ah ya itu namaku"

Naruto berucap santai pada gadis berambut merah muda sebahu didepan nya, gadis tersebut nampak tersenyum ramah kearah Naruto yang sedari tadi hanya diam membaca buku.

"Aku sudah bicara pada temanmu yang bernama umm .. Rock Lee, kalau aku butuh bantuanmu dalam suatu hal, bisakah kau membantu?"

Naruto yang mendengar perkataan gadis tersebut dengan segera mengalihkan pandangan nya kearah Lee yang duduk tak jauh darinya, dan Naruto hanya mendapatkan ekspresi bodoh Lee yang seolah mengatakan 'maaf, aku lupa memberitahumu'.

"Memang kau butuh bantuan apa?"

"A-ah, kau punya jenis sihir Magic Maker kan? Itu artinya kau bisa memperbaiki senjata bukan? Aku ingin minta bantuanmu untuk memperbaiki senjata temanku yang disana, tenang saja aku aku membayarmu"

Sadar kalau Lee lupa memberitahu Naruto tentang permintaan nya, Sakura buru – buru menjawab perkataan Naruto sambil menunjuk Hinata yang hanya memperhatikan mereka dari bangkunya dengan wajah memerah.

"Hmm? Maaf aku tidak bisa"

"E-eh kenapa?! Bukankah Magic Maker itu ahli dalam hal memperbaiki senjata?"

Perkataan Sakura yang memang agak ditinggikan itu membuat seluruh perhatian kelas seketika jatuh pada mereka berdua, dan tentu saja hal itu menimbulkan pro dan contra diantara para siswa.
Sakura sendiri tidak menanggapi hal tersebut dan lebih memilih menatap Naruto dengan pandangan bertanya, sedangkan Naruto sendiri hanya berguman malas sambil kembali melanjutkan membaca buku yang tadi ia baca.

"Mungkin levelnya terlalu rendah sehingga dia bahkan tidak bisa memperbaiki senjata hahaha"

"Hahaha, sudahlah Sakura – chan, percuma kau minta tolong pada pecundang lemah seperti dia"

"Ya lebih baik cari saja pengguna Magic Maker lain"

Beberapa siswa mulai berkomentar miring tentang kenapa Naruto tidak mau membantu Sakura, dan tentu saja Naruto masa bodo dengan hal itu.

"M-minna – san, jangan seperti itu pada Naruto – san, a-aku tidak keberatan jika memang Naruto - san tidak mau membantu memperbaiki senjata ku"

"A-ah kau terlalu baik Hinata – chan~"

"Jika aku punya jenis sihir seperti itu aku pasti akan membantumu Hinata – chan~"

Naruto menghiraukan beberapa komentar dari siswa lain dan lebih memilih menoleh kearah Hinata yang sepertinya membela nya, kepalanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah, well nampaknya gadis ini memang pemalu tingkat akut.

"Haahh, baiklah kalau kau tidak bisa, aku tidak akan memaksamu, maaf telah menyita waktumu"

Sambil mendesah kecewa, Sakura pun berlalu meninggalkan Naruto dan kembali ke tempat duduknya, sedangkan Naruto sendiri hanya mendengus geli dan kembali melanjutkan acara membacanya, tapi belum sempat ia kembali membaca, buku yang Naruto pegang terlebih dahulu diambil oleh seseorang, dan tentu saja hal itu membuatnya mendelik malas kearah si pelaku.

"Apa?"

Naruto menatap Shion yang kini tengah cemberut kearahnya dengan pandangan malas, mau apalagi coba gadis ini? Dirinya tidak ingat ada urusan atau masalah dengan gadis satu ini.

"Kau .. kenapa hari itu kau kabur hah?!"

Oh masalah hari itu ternyata, kenapa harus dipermasalahkan sih? Bukankah waktu itu Lee menggantikan nya, harusnya itu tidak masalah, dan lagi dia bahkan tidak menerima uang misi itu.

"Memangnya kenapa? lagipula bukankah tugasku sudah digantikan oleh Lee, harusnya itu tidak masalah kan?"

"Tentu saja itu masalah bodoh !"

Naruto memutar bola matanya bosan, gadis satu ini memang benar - benar tidak mau kalah, menghela nafasnya pelan, dengan cepat Naruto kembali merebut buku yang tadi diambil Shion.

"Lalu memang masalahnya apa?"

"I-itu ..."

"Haahh sudahlah pergi sana, kau menggangguku saja"

Menghela nafasnya pelan, Naruto kembali membaca buku nya dengan santai, menghiraukan wajah Shion yang nampak memerah menahan marah. Beberapa siswa maupun siswi yang melihat itu hanya diam dengan wajah bingung.

"Kau it-"

Braakk ..

Perkataan Shion terputus karena pintu kelas yang tiba - tiba didobrak kasar oleh seseorang dan tentu saja hal itu membuat sebagian besar penghuni kelas tersebut kaget, meskipun sebagian lagi hanya bersikap seolah tidak peduli.

"Aah selamat pagi anak – anak, maaf sepertinya sensei merusak pintu kelas kalian"

Guru berpakaian kasual dengan rambut ungu yang diikat pony tail itu hanya tersenyum tanpa dosa sambil berjalan masuk kedalam kelas, mata hitamnya melirik kearah Naruto yang masih santai membaca buku. Berjalan pelan kearah Naruto dengan gaya seorang model kelas atas, belum lagi pakaiannya yang nampak terlalu ketat, tentu saja hal ini menarik perhatian beberapa murid laki – laki yang melihatnya.

"Aw Anko – sensei memang seksi"

"Lihat p*nt*t nya itu"

"Kira – kira berapa ukuran nya ya"

Beberapa komentar siswa mulai terdengar, dan tentu saja guru bernama lengkap Mitarashi Anko ini mendengarnya dengan jelas, tapi ia hanya menghiraukan nya saja dan malah tersenyum manis seolah dia bangga dengan apa yang dikatakan para siswa tersebut.

"Namikaze – kun benar?"

"Ya?"

Mengangkat sebelah alisnya, Anko nampak bingung melihat reaksi Naruto yang nampak biasa saja, tidak seperti kebanyakan laki – laki yang akan malu ataupun gugup, Naruto hanya bersikap biasa saja. Dan tentu saja hal ini membuat Anko sedikit kesal, dengan sedikit menunduk Anko menatap Naruto dengan jarak wajah yang hanya terpaut 10cm, dan tentu saja hal itu membuat suasana kelas jadi heboh.

"..."

"..."

Keduanya hanya diam saling menatap satu sama lain, Anko sendiri yakin jika muridnya ini sedang gugup, tapi pikiran itu harus ia buang jauh – jauh saat melihat raut wajah Naruto yang nampak biasa – biasa saja, malah terkesan malas. Mata biru yang nampak seperti langit cerah itu memandangnya tanpa berkedip, kulit putih, hidung mancung, rambut pirang, serta tiga goresan halus dimasing – masing pipinya, tanpa Anko sadari kini wajahnya mulai memerah karena memandang wajah Naruto.

"Sensei, aku ini laki – laki Normal, berhentilah menggodaku seperti itu"

"A-ah maaf"

Anko dengan cepat menarik wajahnya menjauh, oh sial bisa – bisanya ia kena batunya, berniat menggoda Naruto, malah ia sendiri yang malu. Berdehem pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya tadi, Anko kembali berjalan kedepan kelas dengan santai.

"Lupakan soal tadi, hari ini kita akan kembali melakukan penjelajahan di Dungeon lantai 2, karena Namikaze – kun baru masuk hari ini, sensei harap kamu segera menyesuaikan diri nanti, karena hanya kau yang belum menjelajahi Dungeon lantai 2 dikelas ini"

Yah memang beberapa hari yang lalu, atau lebih tepatnya saat Naruto menjalankan quest di desa Futtohiruzu, kelas ini pergi menjelajahi Dungeon Death Forest lantai 2. Tujuan menjelajahi Dungeon kali ini hanya untuk menambah pengalaman para murid dan juga melihat sejauh mana mereka berkembang.

"Baiklah, siapkan barang – barang yang kalian perlukan, sensei akan tunggu kalian di pintu masuk Dungeon, kita akan berangkat 20 menit dari sekarang, jika kalian telat, kalian akan mendapat hukuman, kalian mengerti?"

"Ha'i sensei"

...xxXxx...

Shikamaru menguap pelan, Lee sendiri terlihat bersemangat seperti biasa, sungguh pemandangan yang sangat sering terlihat bagi Naruto, menghela nafasnya pelan, ketiga nya kemudian mulai berjalan kearah pintu masuk Dungeon yang lumayan jauh dari asrama.

"Naruto – kun, bagaiamana tentang misi diluar sekolahmu kemarin"

"Yah lumayan merepotkan kurasa"

Naruto menjawab pertanyaan Lee seadanya, pasalnya dirinya masuk rumah sakit kemarin itu dirahasiakan oleh pihak sekolah, belum lagi fakta kalau dalam misi itu kelompok Kakashi juga terlibat dan bahkan mereka harus mati – matian melawan puluhan atau mungkin ratusan Oni, sehingga hanya ada beberapa orang yang mengetahuinya, tentu saja Lee dan Shikamaru tidak tahu kalau dirinya masuk rumah sakit, yang mereka tahu adalah kalau dirinya baru menyelesaikan misi dan kembali kemarin.

"Ah benarkah?"

"Hooaamm, sejak kapan kau memakai gelang Naruto?"

"Ini kutemukan saat misi kemarin"

Shikamaru berguman malas sambil kembali menguap pelan, Naruto sendiri hanya bisa menghela nafas lega, untung saja ular picik ini bisa menyusutkan dirinya lagi, sehingga ia kini seperti gelang berwarna putih di tangan kiri Naruto, meskipun Naruto juga tidak keberatan kalau ular picik ini kembali ke mode ular normal, pasalnya dari kemarin ular sialan ini belum bicara sama sekali, mungkin saja ular ini sedang sakit tenggorokan, entahlah Naruto tidak terlalu peduli.

"Oh ya, memang monster apa saja yang ada di Dungeon lantai 2?"

"Hmm kalau tidak salah, ada Fire Wolf, Ogre, Orc juga banyak ditemukan disana, mungkin hanya tiga jenis itu yang aku ketahui saat pernjelajahan kemarin"

"Apakah monster – monster tersebut kuat?"

"Yah mereka cukup kuat, butuh satu kelompok untuk membunuh ketiga jenis monster itu, terutama Fire Wolf"

"Benar kata Shikamaru – kun, Fire Wolf bisa mengeluarkan api dari mulutnya, bahkan tubuhnya juga diselimuti api, hingga membunuhnya harus menggunakan serangan jarak jauh untuk menghindari resiko, itu juga kadang meleset karena pergerakan nya yang lumayan gesit hmm hmm"

"Lee sejak kapan kau jadi pintar?"

Lee yang ditanya seperti itu oleh Naruto hanya mendengus bangga sambil menepuk – nepuk dadanya sendiri dengan pelan. Dan tentu saja hal itu jadi sebuah pemandangan aneh karena mereka kini tengah berjalan di koridor sekolah.

"Wah itu Kaguya – senpai, dia sungguh cantik"

Lee berseru dengan semangat saat melihat Kaguya yang tengah berlatih bersama teman sekelasnya di Training Ground yang memang tak jauh dari mereka, Shikamaru sendiri hanya menguap malas mendengar perkataan Lee, nampakya dalam hidup Shikamaru itu kasur no 1. Sedangkan Naruto sendiri hanya melirik Kaguya sekilas, yang kemudian kembali melanjutkan perjalanan nya dengan santai.

...xxXxx...

"Apakah semuanya sudah disini?"

Anko bertanya pada kumpulan murid didepan nya dengan suara yang agak ditiggikan agar semuanya bisa mendengarnya, melihat kalau semuanya sudah ada disini dan tidak ada yang terlambat, Anko pun tersenyum puas.

"Baiklah, karena semuanya sudah ada disini, sensei akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok, kelompok pertama .."

" .. Kelompok keempat Inuzuka Kiba, Haruno Sakura, Rock Lee dan Hyuuga Hinata, kelompok kelima Namikaze Naruto, Shikamaru Nara, Akamiya Shion dan Uzumaki Karin, kelompok enam ..."

Naruto menghela nafas lelah saat dirinya harus kembai berurusan dengan gadis manja Akamiya, belum lagi dia juga sekelompok dengan sepupunya Uzumaki Karin, beruntung ada Shikamaru dikelompoknya. Tak lama kemudian Anko selesai menyebutkan kelompok – kelompok untuk penjelajahan kali ini, total semuanya ada 10 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4 orang murid.

"Berkumpulah dengan kelompok kalian yang aku sebutkan tadi, dan agar ini menjadi semakin menarik ayo kita adakan lomba"

"Lomba? Lomba apa sensei?"

Anko tersenyum misterius mendengar pertanyaan salah satu murid dari kelompok 7, dapat ia lihat kebanyakan murid juga menunjukan raut wajah penasaran.

"Sensei sudah menyiapkan sepuluh Orb khusus di Dungeon lantai 2, Orb tersebut berwarna merah darah dan sebesar kelereng, Orb tersebut bisa kalian dapatkan di tempat – tempat tertentu, kelompok yang paling banyak mengumpulkan Orb itu akan sensei berikan hadiah spesial .."

Anko menjeda kalimatnya untuk sesaat hanya untuk melihat raut wajah penasaran para murid didepan nya.

"..Dan tentu saja kalian juga bisa mengumpulkan Orb dari monster yang sudah kalian dapatkan, duapuluh Orb hijau setara dengan satu Orb merah, dan lima Orb kuning setara dengan satu Orb merah, apakah ada pertanyaaan?"

"Sensei, hadiahnya apa?"

"Fufufu, itu rahasia"

"Baik, jika tidak ada yang ingin kalian tanyakan, mari kita mulai lomba ini, waktu kalian lima jam dari sekarang, sebelum lima jam berakhir kalian harus sudah berada disini, jika tidak, itu artinya kalian akan didiskualifikasi, baiklah lomba dimulai !"

Para kelompok siswa tersebut mulai berlarian memasuki gerbang Dungeon, tujuan utama mereka mungkin Dungeon lantai 2, meskipun ada sebagian dari kelompok siswa yang lebih memiih bermain aman berburu di lantai 1 untuk mengumpulkan Orb hijau. Yah memang Anko tidak memberikan peraturan untuk berburu di Dungeon lantai 2, dia hanya memberitahu kalau di lantai dua dia menaruh sepuluh Orb merah ditempat – tempat tertentu, itu tergantung mereka akan memulainya darimana.

"Fufufu, ini akan menarik"

...xxXxx...

"Hey kuning bodoh, cepatlah sedikit !"

Naruto menahan dirinya untuk tidak mengumpat kasar pada gadis sialan satu ini, mendelik kearah Karin yang berjalan disampingnya, Naruto hanya bisa mendapatkan Karin yang sedang mengangkat bahunya tanda ia sama sekali tidak peduli. Menghela nafasnya pelan, Naruto menatap iri Shikamaru yang nampak berjalan dengan santai dibelakang.

Shion mengembungkan pipinya kesal, melirik kearah belakang, ia dapat melihat Naruto yang tengah mengobrol ringan bersama Karin, dan entah kenapa itu sukses membuatnnya kesal. Berjalan sambil menghentakan kakinya dengan kasar, Shion kembali mempercepat langkahnya sehingga ia semakin menjauhi yang lain.

"Eh?"

Shion berujar kaget, saat dirinya baru sadar kalau dirinya sudah terlalu jauh dari yang lain, menoleh ke segala arah, dirinya tidak dapat menemukan satupun teman sekelompoknya.

"Karin ?! Naru- hmmp, Karin dimana kau?!"

Shion yang terpisah dari yang lain, tidak ada pilihan lain selain kembali untuk mencari kelompoknya, sambil berteriak memanggil nama Karin, Shion berjalan dengan sedikit cepat, dan pada saat dirinya tidak sengaja akan meneriaki nama Naruto, Shion akan mengembungkan pipinya kesal sambil mendengus sebal, ah nampaknya gadis satu ini benar – benar melupakan Shikamaru yang juga satu kelompok dengan nya.

Lama berjalan, Shion mulai khawatir karena tidak menemukan tanda – tanda kelompoknya, padahal ia sendiri yakin kalau tadi ia tidak terlalu terpisah jauh dari yang lain.

"Grrrr .."

Shion melompat kesamping saat dirinya mendengar sebuah geraman dari arah belakangnya, membalikan badan nya, Shion dapat melihat sosok serigala dengan bulu yang nampak terbuat dari api, mata merah pekat serigala tersebut menatap Shion dengan tatapan ganas.

Woosshh ..

Serigala tersebut menyemburkan api dari mulutnya, namun dengan gerakan simpel Shion bisa menghindarinya dengan mudah, mengengkat tangan nya keatas Shion mulai melafalkan mantra nya dengan lantang.

"Water frozen"

"Snow fell from the sky"

"Ice Element : Snow Strom"

Muncul lingkaran sihir yang lumayan besar diatas serigala tersebut, dan tepat setelah Shion selesai melafalkan mantra nya, lingkaran sihir berwarna merah tersebut bersinar terang dan tak lama kemudian muncul sebuah badai salju dalam lingkup 2 meter dengan serigala tadi sebagai pusatnya. Serigala yang menjadi pusat badai salju tersebut melolong dengan keras, tapi tak lama kemudian tubuhnya mulai membeku dengan sendirinya, dan dengan berakhirnya badai salju kecil ciptaan Shion tersebut, tubuh serigala yang membeku itu jatuh ketanah dengan pelan dan dengan santai Shion memotong kepala serigala tersebut menggunakan belati yang ada dibalik rok yang dipakainya.

Shion menghela nafas pelan sambil memungut Orb hijau yang nampak ia dapat dari serigala yang ia bunuh tadi.

"Mou, kemana sih mereka?"

Tanpa sadar, langkah kakinya membawanya semakin jauh ke kedalaman hutan di Dungeon lantai 2 ini, sudah satu jam berlalu dan Shion bahkan tidak menemukan tanda – tanda murid lain, dengan kening mengkerut heran dia akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak dibawah salah satu pohon besar yang dilewatinya.

Sementara itu ditempat yang tak jauh dari tempat Shion, Naruto tengah berjalan tenang menyusuri hutan sambil sesekali membunuh beberapa monster yang secara kebetulan berpapasan dengan nya, berbeda dengan Dungeon lantai 1, lantai 2 ini memiliki beberapa monster yang cukup agresif dan juga memiliki afinitas elemen masing – masing, meskipun itu tak sedikitpun berbahaya untuknya karena monster – monster tersebut berada di level lebih rendah darinya, tentu saja mudah baginya untuk membunuh mereka.

Sudah hampir satu jam Naruto, Karin dan Shikamaru berpencar untuk mencari keberadaan Shion yang berpisah dengan mereka beberapa waktu yang lalu, Karin dan Shikamaru berpergian bersamaan, sedangkan dirinya lebih memilih untuk pergi sendiri dan berpencar untuk alasan agar lebih cepat menemukan nya, mereka bertiga juga sepakat akan berkumpul kembali setelah 2 jam diwaktu yang sudah ditentukan.

Swuusshh ..

Naruto refleks memberhentikan langkahnya dan dengan cepat mundur sedikit kebelakang saat tiba – tiba sekelebat anak panah muncul dari samping kanan tubuhnya, dan menyebabkan anak panah itu hanya menancap dengan tepat disebuah batang pohon, tak berselang lama kembali muncul anak panah dari samping kanan tubuhnya, namun kali ini anak panah tersebut berjumlah dua sekaligus.

Menghindarinya dengan gerakan simpel sehingga anak panah tersebut kembali menancap disebuah batang pohon, tak lama berselang anak panah kembali muncul dan kali ini berjumlah empat, delapan sampai dua belas, pada titik ini Naruto langsung menengokan kepalanya kearah kanan, dan dia dengan jelas dapat melihat dua belas sosok Goblin yang tengah bergerombol tengah menembakan anak panah kearahnya dengan cepat.

Mengetahui bahwa ini hanya perbuatan monster dan bukan manusia, Naruto menghela nafas kecil dan dengan cepat mengangkat tangan kirinya kedepan dengan wajah tenang, dan tanpa menunggu waktu lama disekitarnya muncul puluhan lingkaran sihir kuning kecil dan memunculkan pedang – pedang berukuran sedang, dengan sedikit gerakan tangan, senjata – senjata tersebut melesat dengan kecepatan konstan kearah kerumunan para Goblin, melihat ada bahaya didepan mereka, tentu saja dengan cepat membuat kerumunan Goblin tersebut berhenti meluncurkan anak panah mereka dan berpencar kesegala arah, meskipun begitu serangan Naruto setidaknya sudah membunuh lima Goblin tersebut dan kini hanya tersisa delapan Goblin yang sepertinya berpencar mengelilinginya.

Meskipun Goblin merupakan monster lemah, mereka bisa dikatakan lebih pintar daripada Orc, mereka selalu berkeliaran dengan berkelompok, dan tentu saja fakta bahwa Goblin di lantai 2 ini memiliki senjata apalagi senjata jarak jauh seperti panah, cukup mengejutkan bagi Naruto yang belum pernah memasuki Dungeon sekalipun.

Swuusshh ..

Beberapa anak panah mulai muncul dari beberapa arah secara sekaligus, hingga membuat Naruto beberapa kali meiuk – liukan tubuhnya dengan lihai seolah tubuhnya sangat fleksibel seperti karet, setelah gelombang pertama anak panah berhasil Naruto hindari dengan mudah muncul gelombang kedua dan disusul dengan gelombang ketiga didetik berikutnya, melihat bagaimana jalur anak panah itu datang, Naruto melompat keudara dengan tenang dan memunculkan delapan lingkaran sihir kuning disaat yang bersamaan disekeliling tubuhnya. Sama seperti sebelumnya dalam lingkaran sihir kuning tersebut muncul pedang berukuran sedang dan dengan cepat melesat ke titik dimana kedelapan anak panah yang menyerangnya muncul dan dengan bersamaan kakinya kembali menginjak tanah, Naruto dapat mendengar erangan kesakitan dan bahkan suara benda jatuh, tanpa memastikan apakah masih ada Goblin yang tersisa, Naruto kembali berjalan dengan tenang kearah depan.

Tak berselang lama dia berjalan, dia melihat siluet seseorang yang nampak tengah bersender disebuah pohon besar sambil meminum air yang dibawanya, mata Naruto sedikit menyipit saat dia menemukan sebuah gerakan aneh yang berasal dari atas pohon, dan benar saja dari atas pohon besar tersebut perlahan merayap seekor ular berwarna hijau terang seperti daun dengan ukuran besar kepalanya tidak kurang dari 30cm.

"Shion, cepat kemari !"

Shion hampir tersedak dari minumnya saat sebuah suara dari orang yang dia kenal berteriak kepadanya secara tiba – tiba, dengan pandangan marah dia mengalihkan pandangan nya keasal suara, dan entah kenapa saat ia melihat siluet sosok Naruto, sekelebat rasa senang seketika muncul dihatinya untuk sesaat, namun itu tak berselang lama, Shion kemudian memasang ekspresi cemberut dan menghiraukan ucapan Naruto tadi.

"Cepat kemari bodoh !"

Melihat Shion yang masih diam ditempat dan malah memasang ekspresi cemberut tentu saja membuat Naruto sedikit jengkel, ular diatasnya sudah hampir setengah jalan untuk melahap kepala Shion, dan gadis ini malah diam disana dengan ekspresi menjengkelkan? Cih benar – benar.

Mendengar dirinya dikatai bodoh oleh Naruto tentu saja membuat Shion jengkel setengah mati, bukan nya menanyakan keadaan nya atau apa dia malah mengomel dan menyuruhnya dengan kasar, melihat Naruto dengan tatapan tajam, seketika alis Shion sedikit mengkerut saat menyadari tatapan tenang Naruto bukan terkunci padanya melainkan pada sesuatu diatasnya, dengan penasaran Shion mendongkak dan matanya seketika membulat kaget saat tak lebih dari setengah meter dari kepalanya, seekor ular besar tengah bersiap menelan nya bulat – bulat.

Sleebb ..

Sebelum Shion sempat bereaksi atau bahkan mengucap mantra untuk mengeluarkan sihir meskipun ia yakin tidak akan sempat, sebuah pedang longsword berwarna putih perak mengkilap tiba – tiba melesat dan menembus kepala ular tersebut dengan telak hingga membuat darah menyembur keluar dan sebagian pakaian Shion juga terkena noda darah ular itu, ular tersebut tampak menggeliat dengan liar sehingga membuat Shion segera berlari menjauh dari sana.

Naruto berjalan tenang kearah Shion, Shion sendiri kini terlihat sedikit linglung karena mengira – ngira darimana pedang tadi berasal, tentu saja dia tidak tahu kalau pedang tersebut berasal dari Naruto.

"Itu .. apa kau yang melempar pedang itu?"

Shion bertanya dengan raut muka yang dengan jelas menunjukan kebingungan, sambil menunjuk ular besar yang kini sudah jadi bangkai, dia memandang Naruto dengan tatapan ragu – ragu, Naruto menggeleng pelan sebagai jawaban, dan tanpa berkata apa – apa lagi dia menarik lengan Shion dengan lembut, dan berjalan dengan tenang kearah dimana tadi dia muncul.

"H-hei apa yang kau lakukan?!"

Shion berteriak gugup dengan pipi yang samar – samar memerah, meskipun prilaku nya agak barbar atau terkesan nakal, ini adalah kali pertama nya ada laki – laki yang benar – benar berani memegang tangan nya dengan sengaja, tentu saja hal ini membuat dia gugup, meskipun Naruto memang pernah memegang tangan nya tapi itu hanya sebentar, dan kini dia memegang tangan nya dalam waktu yang cukup lama, tentu saja hal itu membuat dia gugup.

Sebagai seorang Oujo-sama yang selalu dilindungi oleh pengawal setiap hari, dia bahkan jarang bahkan sangat jarang untuk berinteraksi dengan lawan jenis, semua teman nya dulu adalah perempuan, itu juga masih bisa dihitung dengan jari, baru setelah dia memasuki Kyoto Akademi dia bisa sedikit bebas tanpa pengawalan dari ayahnya.

Tanpa diduga Naruto dengan tenang melepaskan pegangan tangan nya pada tangan Shion, dan entah kenapa hal itu membuat kekecewaan sedikit menghinggap di hati Shion.

"Ikuti petunjuk yang aku tinggalkan di setiap dahan pohon, dan kau akan sampai ditempat awal kita berpisah, tunggu disana dan Karin juga Shikamaru akan datang dalam beberapa saat"

"Eh? Kau mau kemana?"

"Aku ada sedikit urusan, aku akan menyusul"

Setelah selesai bicara, Naruto membalikan badan nya dan berjalan dengan tenang kearah dimana dia menemukan Shion tadi tanpa menoleh sedikitpun pada Shion yang kini hanya memasang wajah cemberut, namun setelah Naruto berjalan menjauh Shion diam – diam mengikutinya dari belakang.

"Jangan mengikutiku"

Shion memasang raut muka yang menggemaskan, dan dengan kesal membalikan badan nya lalu menghentak – hentakan kakinya dengan kesal sambil mengikuti petunjuk Naruto sebelumnya.

Naruto menghela nafasnya pelan, lalu kembali berjalan dengan tenang, tak butuh waktu lama dia sudah sampai ditempat dimana dia membunuh uar hijau tadi, menatap sekeliling dengan santai Naruto kemudian menatap Yamata No Orōchi yang kini sudah merayap naik ke atas pundaknya.

"Hmmp, tidak salah lagi ada yang aneh disekitar sini"

Ular picik tersebut mendesis pelan sambil berbicara dengan suara angkuh, Naruto terdiam sejenak saat ular itu berbicara, mereka kembali kesini karena memang ular satu ini menemukan hal yang aneh ditempat ini, dan segera mendesak Naruto untuk kembali dan memeriksanya, kalau ular ini tidak mendesaknya, mana mau ia melakukan hal merepotkan ini.

"Lalu, setelah ini kau mau apa?"

Naruto bertanya dengan tenang, meskipun begitu dalam pertanyaan tersebut terkandung nada malas yang sangat kentara.

"?!"

Keduanya tiba – tiba tersentak kaget saat tanah didepan mereka secara spontan anjlok kebawah hingga menimbulkan gempa bumi kecil disana, dan dengan ajaib didepan mereka kini terlihat sebuah gua dengan lebar setinggi pintu gerbang istana.

...xxXxx...

To be continued ...

A/N : Maaf sebelumnya karena keterlambatan updatenya, karena author harus mengurus beberapa kesibukan author, juga maaf belum bisa meningkatkan masalah word, yah mudah – mudahan kedepan nya bisa sedikit bertambah.

Untuk pertanyaan – pertanyaan yang mengandung spoiler, dengan berat hati saya minta maaf karena tidak bisa menjawabnya, sebenarnya saya merasa saya sedikit melakukan kesalahan fatal diawal – awal cerita, soal kejadian dan juga pengembangan karakter, jujur itu sedikit seperti terllu dipaksakan.

Terima kasih buat yang udahdukung fic ini, buat yang udah fav, foll, review atau bahkan hanya sekedar membaca, saya ucapkan terima kasih.
Buat yang nanya saya lagi nulis naskah novel genre apa, itu genre nya fantasi, tapi saya ragu dengan kemampuan menulis saya sekarang, jadi saya menunda project itu.

See you next chap ...