Minna-saaannn, gomen saya baliknya lama bgt T_T

Ini kemarin lg ga ada mood bgt buat nulis. Apalagi gegara lagi di terpa DeathN**e sindrom. Jadi puasin nonton tuh anime ampe habis deh. Dan tahukan kalian, saya jadi pengen bikin Crossover DCxDN lho. Ntar baca yah ^^ Silahkan di komen juga mau make siapa aja tokohnya dari DC. Saya sih rencananya pengen bikin ShihoxNear. Karena menurut saya mereka itu mirip dan KLOP juga. Ga kalah ama Shinshi deh *digaplak

O iya, ini adalah Chapter terakhir dari Chapter yang sudah lama terlantar ampe setengah tahun ini. Memang pasti tidak memuaskan. Tapi tunggu saja Ceritanya hahahha

Oke selamat menikmati. Sebelumnya terimakasih sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir ^^

Warning : OOC, AU, , Abal-abal, Gaje, OOT, OC, dsbnya

Rating : Sesuai ceritanya yang meningkat ratingnya jadi M. Hohoho

Seperti biasa, kita balas review dulu ya untuk chapter 12 kemarin ^^

aishanara87 wah udh nikah ya? Syukurlah. Tapi tentang Shinshi punya anak nggak bisa terkabulkan nih, karena disini mereka Cuma sebatas begitu aja. Kalo dari sudut pandang saya, di Luar negeri/Jepang itu ML itu sudah seperti kewajiban orang pacaran. Jadi sekali ML belum tentu hamil dan tidak mau mereka punya anak secepatnya, kan masih kelas 2 SMA hehehe mohon maaf ya, tapi kapan2 author akan buatkan yang ShinShi Full M nya ahhaha

gpp lah sekali2 ahahaha

Renesmee cullen wah, maaf ya ngga bisa nampilin ortu Shiho juga. Karena cerita ini sudah berakhir disini ^^

Red Blue wahahha padahal saya sudah uring2an berani nulis fict berating M ini lho. Emg sih lemonnya masih jauuhhh ahhaha

C-hiex yapz, ini semua berakhir disini. ^^

Guest wah, Shiho nya nggak hamil disini ^^

Olalla begitulah si mesume Shinichi XD

Dewi Natalia wah maaf ngga ada mesume Shinchi lagi disini, tp tunggu saja Oneshootnya ^^

Maaf-Tidak-Pakai-Account-FFn wah idemu ku terima di tidak ada nama ahahha

Zara zaneta nggaaaaa T_T

Guest maaf ya, kemarin saya lagi bad mood hehehe

Baby face wah se-ai. Ane juga mikirnya gitu kalo udh M pasti Shihonya OOC bgt

Elen engga ko, ini udah END. ^^

Dan tak lupa terimakasih atas favs nya minna-san ^^

Citra Zaoldyeck

KidMoonLight

Kuas tak bertinta

Namikaze ArdhyaMouri

Sapphire666

aishanara87

non nominatur

Desclaimer : Aoyama Gosho adalah pemilik syah DETECTIVE CONAN/ CASE CLOSED. Saya hanya meminjam Karakter ciptaannya tanpa ijin karena dia tidak mau membuat adegan Cinta yang lebih untuk pasangan Favorite saya XD *dilemparin uang*

.

.

Kita anak Sekolahan

Chapter 13/?

.

.

BRAAKK

Tiba-tiba pintu ruangan tempat dibekapnya para murid-murid SMA itu terbuka dengan keras. Yang mana berhasil mengagetkan seisi ruangan yang sudah Stress dikurung itu.

"KAU!" pria bertubuh besar masuk ke ruangan dan menunjuk seorang gadis yang diikat disebelah Akemi.

"HAH?" Akemi bergidik menyadari arah tunjukan pria besar itu adalah wanita bernama Jodie yang mengaku dari FBI itu. Jodie hanya menunduk menyembunyikan wajahnya dari helaian rambutnya.

"Jodie?" lirih Akemi cemas.

"Tenang. Tetaplah berpura-pura masih terikat. Kau akan segera selamat." bisik Jodie melihatkan senyum penuh percaya dirinya sebelum pria besar itu menarik wanita itu untuk bangkit.

"Jodie!" teriak Akemi. Namun pria besar itu malah menendang Akemi.

"Urgh.." Akemi merasakan sakit yang dalam pada perutnya yang barusan ditendang.

"DIAM KAU! Secepatnya setelah ini giliranmu! Ahahahaha." tawa lantang pria itu menggema membuat para sandra semakin ketakutan.

Jodie melirik ke arah Akemi. Ia tampak khawatir tapi menenangkan dirinya sendiri dengan mudah.

"Hei, jangan lupa, lakukan sesuai arahanku." Jodie mengedip ke arah Akemi. Akemi hanya terpana.

"DASAR WANITA BAWEL! Ayo cepat jalan! Mau ku tendang juga ha!" bentak pria itu langsung menggiring Jodie ke luar ruangan.

BLAM

"Jodie..." Akemi hanya bisa menangis saat punggung wanita itu tak terlihat lagi. Pintu ditutup dan ruangan itu pun kembali gelap. Akemi kembali membuka ikatan tali yang tadi terpaksa ia pasang lagi agar penjahat itu tidak tahu kalau ia sudah tidak terikat lagi. Dan untungnya pria besar itu juga tidak menyadari kalau Akemi lupa memasang kembali selotip yang menutupi mulutnya.

Akemi bangkit dari duduknya. Ia menghampiri para gadis yang tampak shock dan terus menangis di sudut ruangan. Ia menunduk dalam sembari memegang perutnya yang masih sakit. Para tawanan itu mendongak menatap Akemi dengan penuh tanda tanya.

"Wanita yang barusan dibawa oleh pria besar itu, akan menyelamatkan kita."

"Apa?" kaget seisi ruangan.

Akemi mengangkat kepalanya.

"Ya! Dia rela mengorbankan nyawanya demi kita. Untuk itu bangkitlah! Bersemangatlah! Kalian harus kuat dan bersiap-siap membantu bersamaku dari sini."

"Membantu?" shock para tawanan semakin bingung.

"Kita harus bekerja sama." Akemi menatap tajam para sandera itu sementara mereka tampak shock tidak mengerti.

.

.

CIIIIIIITTT

Shuichi menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Shinichi. Shiho dan Shinichi yang menunggu dari tadipun langsung masuk ke mobil pria itu. Shuichi segera melajukan mobilnya, mencari Akemi.

Mobil sedan hitam itu melaju dengan kencang di jalanan yang dibasahi hujan. Tak jarang ban mobil itu selip karena licinnya jalan. Keheningan dan kecemasan bercampur aduk di atas mobil itu. Hanya suara radio mobil yang menemani malam sunyi itu.

"Sejak kapan dia menghilang?" Akhirnya si pengemudi mobil, Shuichi memecah sunyi.

"Kakak tidak pernah kembali lagi sejak pulang sekolah. Tidak seperti kakak yang biasanya. Dia tidak akan pergi tanpa menelpon/mengabariku. Ku pikir dia pergi denganmu." Shiho berpikir kebelakang.

"Awalnya aku memang ingin mengajaknya pergi. Tapi ia menolak dan naik ke atas Busway untuk menghindari para Fanboy nya."

"Busway?" kaget Shinichi tiba-tiba teringat sesuatu.

"Ada apa?" Shuichi mengerling Shinichi yang duduk di sampingnya. Shinichi tampak cemas dan memegang dagunya dengan satu tangan seolah sedang berpikir. Sedangkan Shiho menatap jalanan lurus didepannya dengan alis yang berkerut.

"Shiho, kau mendengar berita itu kan?" Shinichi menoleh ke belakang.

Shiho mengangguk.

"Ada apa?" tanya Shuichi penasaran.

"Telah dilaporkan sebuah kejahatan besar yang terjadi di Ibukota akhir-akhir ini. Sekomplotan penjahat bekerja sama untuk memenuhi hoby pshyco mereka dan memanfaatkan kepolosan serta ketidakwaspadaan korban dengan angkutan umum. Sudah banyak saksi dan keluarga korban yang melaporkan tentang hal hilangnya anggota keluarga mereka sejak menaiki Busway sekolah terdekat. Diperkirakan korban sudah mencapai 23 orang mahasiswi. Modus pelaku adalah dengan menyediakan sebuah Busway yang berisikan komplotan mereka sendiri dan hanya menerima penumpang gadis SMU. Lalu mereka menculiknya dan membawanya ke tempat yang sampai saat ini tidak diketahui dimana. Belum diketahui bagaimana nasib semua korban dan tujuan pelaku. Diduga mereka ingin memenuhi kebutuhan sex mereka dengan memperkosa gadis-gadis itu dan membunuh mereka setelahnya. Menurut korban yang selamat dari insiden itu, setelah diperkosa secara masal mereka dibuang begitu saja. Tapi kabar terakhir yang kami dengar markas utama penjahat itu adalah di Kanto. Korban mengaku dibawa ke tempat yang sangat gelap dan tersembunyi dengan mata tertutup. Terdapat aroma bunga Lavender selama diperjalanan. Namun tidak diketahui dimana daerah itu terdapat..."

CKLEK

Shinichi mematikan radio itu.

"Entah kenapa, aku yakin kakak salah satu korbannya." ujar Shiho bergetar menundukkan kepalanya.

"Shiho.." Shinichi menatap Shiho iba. Sedangkan Shuichi segera melajukan mobilnya ke daerah Kanto.

"Akemi.. Tunggu aku." batin Shuichi cemas.

.

.

Tok Tok Tok

"Hmm, Masuk."

Pintu pun terbuka. Pria bertubuh kekar masuk ke ruangan membawa seorang wanita berambut pendek dan berkacamata. Jodie.

"Waahh, body nya sexy sekali."

"Iya, aku semakin tidak sabar."

Terdengar rayuan-rayuan menjijikkan dari para Pshyco di ruangan itu yang tak terhitung banyaknya. Mungkin sekitar 10 sampai 15 orang.

"AYO JALAN!" teriak pria besar itu memaksa Jody untuk terus melangkah disaat wanita itu tampak mengamati seisi ruangan ketimbang ketakutan.

"Hei hei Hiwao *Pegulat yang muncul di Volume 38 File 6*, jangan terlalu kasar pada tawanan. Nanti kau merusak tubuh mulus gadis ini." ucap seorang pria yang tampak seperti bos besar komplotan itu membuka kaca mata Jodie dan menjilatnya. Jodie hanya tersenyum sinis.

"Ma, maaf Calvados." ujar pria bernama Hiwao itu takut.

"Dan sekarang gadis ini menantangku. Menakjubkan." lirih pria bernama Calvados itu kali ini meraih kepala Jodie dan menjilat leher gadis itu sehingga membuat Jody mengerang.

"Urgh.. Kau akan mendekam secepatnya, bangsat!" murka Jodie marah.

"Aku semakin tidak sabar mengecapnya. Bawa dia ke kamarku! Habis itu, kalian boleh menikmatinya."

"HOREEEE!" teriak para anak buah si Bos besar masuk ke dalam kamar duluan. Begitupun Jodie yang digotong kedalam oleh anak buahnya.

BRUUUKK

Jodie didorong paksa ke atas kasur dengan tangan terikat. Ia pun hendak bangkit namun tak jadi saat tubuh besar Calvados menindihnya duluan.

"Argh." Jodie sedikit kaget dengan sikap nakal pria licik itu.

"Kau itu sangat cantik, nona. Ku harap kau masih perawan dan bisa memenuhi nafsuku." ucap pria itu mengelus wajah Jodie mesra.

Jodie mengerang dan tersenyum sinis.

"Hei, aku mau saja memenuhi keinginanmu. Tapi dengan tangan seperti ini bukankah kau sangat curang?"

"Eh?" Calvados bangkit dan berdiri menghadap Jody yang kini duduk di atas kasur.

"Lihat. Tanganku masih terikat. Kau pikir aku akan melawan dengan jumlah anak buah mu yang segitu banyak? Aku tidak akan berontak kok, bahkan aku akan melayanimu. Tapi jangan perlakukan aku seperti tawanan lain dong." ujar Jodie menyisiasati.

Calvados terheran-heran.

"Benarkah? Baiklah akan ku lepas. Tapi sekali saja kau macam-macam, maka aku tak akan segan-segan menembak kepalamu dengan ini." Calvados mengeluarkan pistolnya dari jasnya.

Jodie bergidik. "Dia memiliki Pistol."

"Percayalah padaku." Senyum Jody berusaha menggoda. Akhirnya Calvados pun membuka ikatan tali Jodie.

"Nah, kalau begini kan kita bisa bersenang-senang." kata Jodie meraba Calvados dan merebahkan pria itu lalu menindihnya.

"Wah, kau mengerti keinginanku nona manis." ujar Calvados terlena. Jodie hanya tersenyum, pelan tapi pasti ia menyusupkan tangannya ke dalam jas Calvados dan,

CUP

Ia memberikan sebuah ciuman panas untuk pria tampan namun berpikir picik dan jahanam itu. Disaat sibuk berpassionate-kiss Jody memanfaatkan situasi untuk merampas pistol itu dan,

BRUUKK

Jodie mendorong pria itu hingga jatuh sembari menodongkan pistol ke arah kepalanya.

"Angkat tanganmu atau kau Mati." ujar Jodie menatap tajam Calvados.

"K,KAU!" Jodie tampak marah.

"DIAM!" teriak Jodie menghampiri Calvados dan memborgol kedua tangan pria itu dengan borgol yang selalu dibawa-bawanya digantungnya di pinggang bagian dalam roknya.

"Brengsek. CUIH!" Calvados mengumpat dan meludahi nasibnya yang terlena oleh rayuan gadis itu. Sementara itu Jodie sibuk memencet-mencet tombol Hpnya.

"Bodoh. Kau pikir kau akan berhasil? Aku memiliki anak buah yang banyak di luar, dan kau akan dibunu..."

BRAAKKK

"Jodie! Kami sudah membekuk semua tahanan!" ujar seorang pria berpakaian lengkap seperti Agen rahasia bersenjata dan bertameng masuk ke dalam kamar. Jodie tersenyum.

"Baguslah."

"APAA?!" teriak Calvados yang sukses dijebak ternganga lebar.

Jodie menggiring bos tersangka itu keluar kamar. Tampak suasana di ruangan yang tadi ramai dan mengerikan itu kini memilu karena para tersangka yang sudah diborgol dan tahu nasib mereka kedepan yang akan dijebloskan ke penjara.

"Lapor Jodie! Para tawanan di gudang sudah kami ungsikan. Mereka akan segera dijadikan saksi dan direhabilitasi agar tidak Trauma." Lapor bawahan wanita itu memberi hormat.

Jodie tersenyum.

"BAIKLAH! RINGKUK MEREKA SEMUA DAN BAWA KE KANTOR POLISI!"

"YOSH!"

Jodie berjalan keluar markas pembekapan itu. Tampak suasana di luar ramai dengan bunyi sirine ambulance dan polisi. Para Polisi bekerjasama dengan FBI memberantas penjahat itu. Dan hal ini juga tidak lain adalah karena kerja sama para siswi SMU itu.

"Apa kau baik-baik saja?" Jodie menghampiri mobil Rehabilitasi yang di dalamnya ada Akemi dan para korban lainnya.

"JODY!" Akemi memeluk Jodie erat. Para Korban lainnya menatap wanita itu dengan haru.

"Ku pikir kita tidak akan berhasil." kata Akemi menangis haru.

"Hei, kau memang pemberani. Aku tahu itu. Kau melakukannya dengan benar."

"Iya. Aku tahu. Tapi kau jauh lebih kuat. Iya kan teman-teman?" kata Akemi tersenyum haru.

"Yooshh~" tawa para gadis-gadis itu senang.

"KAKAAKK!" teriak seseorang membuat Akemi menoleh ke sumber suara.

"SHIHO?" kaget Akemi langsung berlari mengejar adiknya itu.

"KAKAK!" Shiho pun menangis dan memeluk Akemi dengan erat. Shinichi yang berlari dibelakang Shiho menghentikan langkahnya dan tampak lega melihat Akemi baik-baik saja. Sedangkan Shuichi hanya terpana menatap Akemi cemas.

"Syukurlah. Ku pikir aku akan kehilanganmu untuk yang kedua kalinya." batin Shuichi menghapus air matanya yang hendak tumpah ke pipi.

"Kakak, kau baik-baik saja?" tanya Shiho melepas pelukannya dan mengamati Akemi yang tersenyum dan mengangguk.

"Tentu saja."

"Kakakmu sangat pemberani." ujar Jodie menimpal. Shiho hanya terpana.

"Siapa kak?" tanya Shiho mengerling Jodie.

"Teman baruku." Jodie dan Akemi pun tersenyum.

Akemi melirik Shinichi yang berdiri di belakang Shiho dan tersenyum seolah berterimakasih. Tapi Shinichi memberi tanda kalau tidak hanya ia dan Shiho yang disana. Akemi menoleh ke arah telunjuk Shinichi. Tampaklah Shuichi disana memperhatikan mereka. Tahu Akemi sedang menatapnya, iapun membuang muka dan masuk ke mobil. Akemi segera mengejarnya.

"Kakak?"

"Shiho, biarkan mereka." Shinichi menahan tangan Shiho yang hendak menyusul Akemi.

"Wah, jadi itu ya orang yang dicintai Akemi?" terka Jodie membuat Shinichi dan Shiho heran.

"Selama menjadi tawanan kami bercerita banyak lho. Mungkin Akemi akan menceritakannya nanti. Baiklah, berhati-hatilah. Aku akan pergi." Jodie pun berlalu meninggalkan Shiho dan Shinichi berdua. Shiho tampak lega. Shinichi pun begitu. Ia mengacak-acak rambut Shiho dan memeluk gadis itu erat.

"Syukurlah." batin Shiho menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Shinichi.

Di lain sisi, Akemi menyusul Shuichi yang hendak masuk ke dalam mobilnya.

"Akai."

"Eh?" Shuichi terdiam dengan membelakangi Akemi saat nama belakangnya sudah lama tidak disebut oleh Akemi.

"Maafkan aku. Maaf. Aku sangat egois. Tapi aku sadar, hanya kau lah yang ada dibenakku. Selama disekap aku hanya memikirkanmu. Berharap kau ada disana. Menenangkanku. Memelukku. Hiks." Akemi terisak menundukkan kepalanya. Shuichi hanya bisa terdiam membelakangi gadis itu.

"Baka!" lirih Shuichi membuat Akemi terdiam dari tangisnya.

"Eh?"

Shuichi berbalik dan menatap Akemi yang kini sedang berlinang air mata. Ia menghapus air mata gadis yang ia cintai itu dan memeluknya erat. Erat sekali sehingga membuat Akemi kaget namun merasa sangat nyaman.

"Aku mencintaimu, Baka! Baka!" lirih Shuichi berbisik di telinga Akemi. Akemi hanya tersenyum dalam tangisnnya dan membalas pelukan itu dengan hangat.

"Aku juga mencintai Akai."

.

.

Keesokan harinya, setiap pergi ke sekolah Akemi selalu dijemput oleh Shuichi. Bahkan pulang pun ia selalu diantar oleh Shuichi pulang. Begitupun Shiho yang selalu bersama-sama dengan Shinichi. Bahkan sekarang seisi sekolah pun tahu kalau Shinichi dan Shiho sudah pacaran. Banyak yang patah hati, baik itu Fangirls Shinichi maupun Fansboysnya Shiho. Namun ajaibnya, tampaknya Ran mengikhlaskan mantannya itu untuk Shiho. Buktinya ia suka berteman dengan Shiho dan selalu menjadi sahabat yang baik untuk Shinichi.

Akemi dan Shuichi pun kini sudah jadian kembali. Tentu saja hal ini menimbulkan protes bagi Vermouth. Dan sebagai gantinya kini Vermouth sering berencana jahat untuk mengerjai Akemi dengan meminta bantuan Araide. Dilain sisi, Kaito yang mendengar gosip itu merasa patah hati dan kesal. Ia bertekad untuk selalu mengalahkan Shinichi di lain hal dan terus memupuk cintanya untuk Shiho.

Siang itu sepulang sekolah, Shuichi bermain di rumah Shinichi. Kebetulan Shinichi, Shiho dan Akemi juga lagi lengkap di rumah. Akemi menceritakan kisah pembekapannya itu.

[FLASHBACK]

"Namaku Jodie. FBI. Aku akan membebaskan kalian." kata Gadis bernama Jodie itu berdiri dengan gagah.

"F, FBI?" gumam Akemi shock. Ia berpikir, kalau sudah FBI yang turun tangan, pasti penjahatnya sudah kelas kakap. Apa gadis yang seorang diri itu bisa menyelamatkan dia dan gadis-gadis itu?

"Akai." batin Akemi menunduk dan tanpa sadar menangis.

Jodie mengacak-acak rambut Akemi dan menenangkan gadis itu.

"Kau pasti memikirkan orang yang kau cintai kan?"

Akemi melirik Jodie kaget.

"Dengar, jangan pernah menyia-nyiakan cintamu. Siapa pria itu?" Jodie tersenyum.

"Shuichi. Mantan pacarku. Sekarang kami kembali berteman. Aku,"

"Kau mencintainya. Aku tahu itu." Potong Jodie.

"Dengar, aku adalah giliran selanjutkan. Aku akan dibawa ke bos mereka, aku sudah lama menunggu giliran karena aku harus mengumpulkan bukti yang kuat dulu sebelum menyerang."

"Menyerang?" lirih Akemi heran.

"Ya, aku memakai alat pelacak dari markas di sini." Jodie membuka mulutnya dan menunjuk giginya yang dipasang alat pelacak dan penyadap.

"Woaah~" kagum Akemi.

"Dengar, saat aku dibawa ke markas mereka, kau harus membebaskan semua tawanan disini. Kau buka ikatan mereka dan bersiap-siapa bersama yang lainnya untuk meringkus orang yang masuk kesini. Setelah beberapa lama ditahan aku tahu kebiasaan mereka hanya mengutus 1 atau 2 orang untuk membawa korban selanjutnya. Saat mereka membuka pintu, kalian harus bersiap siaga di dekat pintu dan membekap utusan mereka. Setelah itu ambil kunci dan kabur dari tempat ini ke luar. Karena nanti di luar kalian akan bertemu dengan agenku. Di lain hal aku akan memancing bos besar mereka dan membuat bukti kuat untuk menjebloskan mereka. Setelah itu kau akan bertemu kembali dengan orang yang kau cintai." terang Jodie tersenyum ke arah Akemi. Akemi hanya terpana.

"Jodie. Arigatou. Tapi itu akan berbahaya sekali untukmu."

"Sudah tugas seorang Agen FBI melibatkan diri dalam Bahaya." ujar Jodie percaya diri.

"Jodie." Akemi pun memeluk Jodie.

[END FLASHBACK]

"Wooaaah, Jodie itu hebat sekali."

"Ya, dia sangat berbakat dan pintar. Aku juga ingin, suatu saat nanti menjadi agen FBI sepertinya." kata Akemi kagum.

"Terserahlah." ujar Shiho menguap.

"Hei, ku dengar kabar kau dan Shuichi sudah balikan ya?" tanya Shinichi penasaran. Sontak wajah Shuichi dan Akemi pun memerah.

"Iya. Memangnya kenapa?" Shuichi menjawab angkuh.

"tidak sih, kami juga sudah jadian." Shinichi meraih bahu Shiho dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Baka! Siapa suruh kau memberitahu mereka?" Shiho tampak kesal.

"Tak diberitahu pun kami juga sudah tahu kok. Bahkan seisi sekolah." ujar Akemi tertawa.

"Huh." Shiho hanya berpangku tangan. Shinichi hanya malu sendiri.

"Oi, apa kalian sudah melakukannya?"

DEG

Shiho dan Shinichi terdiam dengan wajah bersemu merah.

"A, apa maksud mu?" Shinichi memandang Shuichi yang tersenyum sinis kesal.

"Owh, sudah ya? Hahaha." Shuichi semakin membuat Shinichi salah tingkah.

"YAROOOOO!" teriak Shinichi bergulat dengan Shuichi. Akemi hanya terpana melihat sikap Shuichi yang OOC parah itu *Author udah geblek*

"Memang. Kami sudah melakukannya kok."

"EEEHHHH?!" teriak Akemi, Shuichi bahkan Shinichi kaget mendengar kejujuran Shiho.

"SHINICHI YANDARE!" teriak Akemi menggeplak kepala Shinichi dengan vas bunga.

Shiho hanya santai menyeduh tes-nya.

END

Oke, akhirnya selesai juga. Mungkin pada tidak puas ya dengan cerita ini. Silahkan di cerca di komen dan di marahin deh. Tapi saya begini karena tidak mau nantinya ada keluhan lagi karena saya mungkin akan jarang muncul di FFN karena sibuk persiapan menyambut tes Perguruan Tinggi Kedinasan. Mohon Do'anya ya agar saya bisa lulus di AKIP (Akademi Ilmu Pemasyarakatan) di Cinere.

Untuk cerita yang tidak komplit, mungkin saya akan memenuhinya pada One shoot saja. Karena Seperti Vermouth dan Araide, Kaito, Ran, mereka kan belum jelas nasibnya gimana? Tenang, nanti saya akan bikin One Shootnya.

Oke, Arigatou Minna-san sudah mengikuti cerita saya. Mohon jangan pernah bosan dan terus menunggu cerita berikutnya ^^

Karena cerita ini diawali dengan keisengan belaka, makanya tak pernah terpikir jalan cerita ini akan sejauh ini karena Keajaiban Review kalian yang membuat Author jadi semangat untuk menulis.

Baiklah, Salam Otaku~

#AN invite pin-ku 208c977c

Mari kita saling Share ^^