Feel The Different

Berawal dari kebodohan Park Jimin. Ia harus menanggung kemarahan Princess BTS, Min Suga. Dan kejutan menanti saat Min Suga terjebak dalam tubuh member lain yang notabene adalah namja paling terbully dalam IKON. Bagaimana perubahan hidup keduanya? Bisakah Suga menghadapi kekasih dari tubuh yang ditempatinya sekarang?

.

.

this is an IKON and BTS story with official pair. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.

.

.

"Maaf karena ketidak jelasan fiction saya ini, saya akan memberi sedikit penerangan :D. saya menyebut nama Jinhwan, berarti yang saya maksud adalah roh Jinhwan. Begitu sebaliknya, bukan pada wujudnya yaa."

Couple Jimin Yoongi, Junhoe Jinhwan. Maaf, yang lain hanya slight.

Selamat menikmati

.

.

" kuharap Jimin tidak bertindak macam-macam, bocah itu terlalu gegabah"

.

.

Chap 13

" oh ayolah! Tampaknya akan turun hujan, dan sebenarnya kau ada dimana bedebah?!"

Yoongi menggigil, angin kencang lagi-lagi berhembus menusuk kulitnya. Kembali mengingatkannya pada kenangan buruknya.

Plak!

Ia tampar pipinya sendiri, tak ingin mengingat masa sedihnya lagi. Semua perjuangannya hampir selesai, ya.. hampir.

" brengsek!" bibirnya tak lelah mengumpati Jimin. Ia sudah menguras tenaganya percuma selama satu jam. Dan Jimin masih tak menampakkan kelingkingnya.

Yoongi bersumpah akan menghajar bocah itu jika ketemu nanti.

.

.

Jinhwan mengaduk tas nya, ia berkali-kali mendesah kecewa. Hal itu tak ayal menarik perhatian kekasihnya untuk ikut kebingungan.

" apa yang kau cari hyung?"

"i-itu, saputanganku.. kenapa tidak ada ya?"

" saputangan yang mana?" tanya Junhoe lagi karena tak mendapat perhatian.

" yang motif kulit sapi itu.. yang seperti handuk"

Junhoe terdiam.

" apakah yang seperti ini?"

Jinhwan menoleh, mendapati saputangan yang tadi dicari-carinya ada di tangan kekasihnya.

" berikan itu padaku!" murka Jinhwan.

" eitt! Tunggu, ini milikku tahu" sungut Junhoe.

Hah?

" yak! Itu milikku!" jerit Jinhwan lagi.

" aku sengaja memesan dua, satu kuberikan untukmu dan yang ini milikku"

" eh, begitu ya? Ehehe.."

Junhoe mengulas senyum, " memangnya kapan terakhir kali kau memakainya?"

" ah.. coba kuingat"

..

" mungkin dua minggu yang lalu, sewaktu kita kehujanan habis membeli mie dengan Hanbin"

" dimana kau menaruhnya?" Junhoe penasaran dan khawatir, karena itu adalah saputangan couple.

Kedip..

" dimana bae?" ulang Junhoe.

Kedip-kedip..

" ah!"

Junhoe menyipit tak suka, Jinhwan berteriak tepat di telinganya asal kalian tahu.

" aku memberikannya pada seseorang untuk alas pelindung hujaaann!' teriak Jinhwan frustasi.

.

.

" bodohnya aku.."

Yoongi mengikuti kakinya melangkah.

" kenapa hanya aku yang mencari Jimin, apakah mereka sengaja menjebakku?!"

Ia merogoh sakunya, dan mulai kebingungan karena tidak menemukan apa yang dia cari.

" astaga ponsel, kenapa kau tertinggal di dorm jugaa?!"

.

.

" kita coba ke game center saja Jin hyung?"

Jin menoleh sedikit tidak percaya dengan ide kekasihnya. Sekarang mereka sedang mencari Jimin menggunakan mobil, entah sudah kemana saja mereka.

" mana mungkin Tae.."

" Jimin itu susah ditebak, siapa tahu dia ada di sana"

Sementara itu di dorm..

" Jungie, tolong angkat panggilan itu"

Jungkook mengangguk lalu mengambil ponsel Yoongi. Ia sempat berhenti saat melihat nama yang tertulis di layar ponsel.

" Hopie hyung, ini dari SiHyuk hyung.."

" angkat saja, jika beliau bertanya soal Jimin jawablah apa adanya"

Jungkook kembali mengangguk, " Yeoboseyo, sajangnim.."

" eoh, Jungkook?! Bagaimana keadaan Jimin, apakah dia baikan?"

" eum tapi.."

" tapi apa?"

" jimin hyung sudah menghilang lagi, dan kami sedang mencarinya"

" apa?! Bagaimana bisa, aku sudah menyuruh Yoongi menjaganya. Dan lagipula kenapa dia bisa lolos dari pengawasan kalian berenam?"

" maafkan kami sajangnim"

Hoseok mengambil alih ponsel Yoongi, Ia menjelaskan apa yang terjadi dan kembali meminta maaf pada produser mereka.

" ne sajangnim, gamsahamnida"

Hoseok meletakkan ponsel itu lalu memeluk Jungkook, menenangkan kekasihnya yang sedang bersedih.

" apa yang sajangnim katakan hyung?"

" dia menyuruh kita mencarinya di pub, haish anak itu"

.

.

Ia menatap bangunan megah layaknya hotel, tepat dihadapannya. Entah kenapa kakinya berjalan membawanya kemari.

" apakah aku harus masuk? Untuk apa aku kemari.."

Yoongi menggigit bibir bawahnya, tidak mungkin Jimin pergi ke hotel kan? Untuk apa?

" tapi, bisa saja dia ingin berlibur sebentar dan pergi dari dorm.. lagipula aku tidak menemukan bar dari tadi. Dia tidak akan mencari bar yang jelas-jelas jauh dari dorm"

Apa salahnya mencoba kan?

Dengan itu Ia merapikan topinya untuk menyamarkan wajahnya sebaik mungkin.

.

Ia mulai membuka pintu itu, tetapi dua penjaga langsung menahan lengannya.

" tolong perlihatkan kartu Anda"

Yoongi membuang nafas, "untuk apa aku memberimu kartu? Kartu apa?"

" baiklah, Anda bisa pergi dari sini"

" aku ingin masuk!" sergahnya.

" jangan membuat keributan, kalau Anda tidak memiliki kartu identitas atau kartu pelanggan di sini. Jangan harap kami memperbolehkanmu masuk"

" kumohon, aku ingin mencari seseorang.., "

" biarkan dia masuk"

Dua penjaga itu dan Yoongi sendiri menatap kebingungan pada seorang yang memakai jas rapi berdiri di samping mereka.

" biarkan dia masuk" ulang pria itu.

Dengan cepat Yoongi melepaskan kedua tangannya dari dua penjaga besar tadi. Melangkah masuk tanpa menyadari bahwa si pria misterius sedang menatap tertarik padanya.

" ikuti dan awasi orang tadi, jangan biarkan dia pergi dari sini sebelum aku menemuinya"

.

.

' astaga.. apa ini?!' batin Yoongi berkecamuk.

Dari luar tampaknya memang hotel, tapi.. di dalam sini tak lain adalah bar!

Banyak orang berdansa dan menari di tengah kerasnya dentuman musik, sampai-sampai melepaskan hasrat mereka di situ juga. Berpelukan, berciuman, dan astaga! Wajah Yoongi langsung memerah melihatnya.

Ia jadi terpikir, jika Jimin sering ke bar..artinya dia pernah melakukan ini dengan orang lain ya?

Persetan dengan itu, Ia jijik berada di sini. Ia pun menerobos kerumunan manusia di sekitarnya sambil menahan nafas. Ia paling benci aroma rokok dan alkohol.

Semakin ke dalam, Ia menemukan lorong kedap suara. Lorong panjang dengan dinding dingin yang gelap, tanpa suara selain suara desah dan erangan.

Ia bersumpah, Ia takut sekarang. Meskipun nyatanya Ia sangat pemberani, tapi di sini nyawanya terasa menggantung. Begitu banyak orang asing yang having sex di sekelilingnya.

" ouch!"

Ia mengaduh kaget, Ia tak sengaja bersentuhan dengan seorang lain di sana. Ia mengusap tubuhnya panik lantas mempercepat langkahnya. Jangan sampai Ia ternodai di sini. Ini tidak lucu, man.

Berjalan cepat hingga sampai di pintu ujung, Ia segera membukanya dan membuang nafas lega. Ia melihat sekitarnya, menemui tempat luas dan terbuka dengan langit terhampar tanpa penghalang apapun. Hanya tembok sedang berwarna gading yang menjadi pembatasnya. Tatapannya behenti pada satu-satunya orang yang berdiri di ujung ruangan ditemani segelas wine.

' siapa dia? Kenapa hanya sendiri di tempat seluas ini?' batinnya.

Ia berjalan menaiki anak tangga, pelan dan pasti. Ia mulai menyesuaikan cahaya yang sedikit agak terang dibandingkan di lorong.

Matanya membola tepat saat Ia berdiri di samping pemuda tadi.

" Jimin?!"

Pemuda yang dipanggilnya ikut menoleh dan juga melebarkan matanya terkejut. Namun tak bertahan lama, karena setelahnnya Ia kembali tenang dan melanjutkan minumnya.

" apa yang kau lakukan di sini, huh?!" marah Yoongi.

".."

" yak! Kau mendengarku?! Bagaimana bisa kau ada di sini, bagaimana jika orang lain mengenalimu?!"

Yoongi hendak meraih gelas wine yang tengah dipegang Jimin, namun dengan cepat gelas itu berpindah ke atas oleh sang empunya.

" sejak kapan kau perduli padaku"

Yoongi menghentikan perkataannya, apa-apaan pertanyaan Jimin itu.

" jelas saja aku perduli padamu, apa maksudmu Park?!"

Praang!

Gelas itu melayang tepat melewati samping kepala Yoongi. Namja itu membelalak tak percaya dengan yang dilakukan Jimin.

Jimin menggeram usai melempar gelasnya ke depan. Ia beralih menatap Yoongi yang masih terkejut dengan mata tajamnya.

" berhenti bertindak seolah kau adalah kekasihku, pergilah"

Yoongi mengerjab bingung, hatinya teriris mendengar kalimat Jimin. Tapi, apa yang dikatakan Jimin memang benar. Lalu kenapa Ia merasa sedih saat mendengarnya?

" kau tuli? Kubilang pergi"

Yoongi menggeleng tidak percaya atas sikap Jimin, tapi Ia tak perduli. Ia menarik lengan Jimin kuat, membawanya ke arah pintu keluar.

" kita harus pulang Jimin, kami semua khawatir padamu-"

" DIAM!"

Dan Yoongi benar-benar diam. Ia berbalik menatap Jimin yang berteriak padanya.

" aku tidak akan pulang sebelum kau pulang Jimin, kumohon"

Jimin dengan keras mencengkeram kedua bahu Yoongi, mendorongnya hingga tubuh itu menabrak dinding di belakangnya.

" AKH!"

Jimin berusaha menulikan telinganya dari rintihan Yoongi. Ia menatap mata berkaca itu, menyelaminya dalam hingga Ia hampir saja lupa kalau sekarang mata itu bukanlah miliknya lagi.

" kali ini biarkan aku yang memohon padamu Yoongi, pulanglah. Tidak aman untukmu berada di sini" ujar Jimin pelan sambil memejamkan mata, tidak mau menatap lagi sepasang mata indah dihadapannya.

" Jiminn.." bukannya pergi, Ia justru menangis. Meraih tubuh Jimin dan memeluknya erat.

" hikss.., Jimiinnn"

Jimin terdiam, ia tak menolak maupun membalas pelukan itu. Tapi sungguh, Ia sangat menyukai pelukan Yoongi dari pada apapun.

" maafkan aku Jiminn…, hiks! Aku minta maaf, jangan menyiksaku seperti ini.."

" kau pikir tindakanmu hanya akan menyiksamu?" bisik Jimin.

Yoongi menjawab dengan gelengan dan mengeratkan pelukannya.

" kau pasti sangat marah padaku, hiks! Maafkan akuu.." tangis Yoongi.

Jimin menggeleng pelan, melepaskan pelukan Yoongi lalu berbalik mengunci tubuhnya.

" apalagi yang kau inginkan, hm..katakan"

Yoongi meringis mendengar nada sinis Jimin. Ini bukan Jimin yang dikenalnya.

" ak-" suaranya bagai tertahan di tenggorokan, Jimin menatapnya dingin. Sangat asing baginya.

" JANGAN MEMPERMAINKANKU BRENGSEK! Kau pikir bagaimana perasaanku saat ini?!"

Jimin menghempaskan tubuh Yoongi kasar, Ia sungguh marah.

" apa yang ada di otakmu?! Setelah memintaku pergi, sekarang kau menahanku?!"

Yoongi menangis tersedu-sedu dengan menekuk kedua lututnya, Ia tak berani menatap Jimin.

" katakan, Min Yoongi" tekan Jimin, pemuda itu berjongkok menyamai tinggi namja manis pujaannya.

Yoongi meloloskan lagi air matanya. Dengan terbata Ia kembali meminta Jimin untuk pulang. Sama seperti sebelumnya.

" aku tidak akan" Jimin berbalik menjauh.

" Jimin-"

" TIDAK MIN YOONGI!"

Yoongi berjengit, Jimin membentaknya lagi..

" tolong, jangan seperti ini Jimin. Kita bisa selesaikan masalah ini tanpa melukai perasaan mereka(BTS members). Sekarang kita pulang okay?"

" baiklah, kau ingin aku pulang?"

Yoongi mengangguk tanpa ragu, meski air matanya menganak sungai.

" kalau begitu kau harus pulang duluan, aku akan menyusul besok"

" tapi-"

" aku memberimu pilihan.. aku pulang besok dan kehidupan berjalan normal.." potong Jimin.

Yoongi mengedipkan matanya, menahan nafas untuk menanti perkataan Jimin.

".. atau aku pulang denganmu, lalu lanjutkan musikmu dengan 6 member saja"

Yoongi melotot, Ia terkejut dengan pernyataan gila Jimin.

" kau mengancamku?! Kau gila Jimin!"

" aku tidak akan bisa hidup bersamamu.."

'..dengan keadaan seperti ini' lanjut Jimin dalam hati.

Yoongi mengambil langkah mundur, Ia menahan isakkannya. Ia tidak menyangka hubungannya dengan Jimin justru semakin memburuk.

Ia tak tahu lagi harus bagaimana, pikirannya kacau karena Jimin. Ia berusaha menata perasaannya dan menghirup nafas untuk menenangkan diri.

Tapi tetap saja tidak bisa, tangisannya justru mengeras lagi. Sekali lagi Ia menatap Jimin, pemuda itu sudah berdiri di ujung ruangan seperti semula.

Yoongi memejamkan matanya, Ia kalah. Bagaimanapun juga Ia harus pulang dengan tangan kosong sekarang ini.

" Jimin-ah.." panggil Yoongi putus asa.

Dan Ia benar-benar menyerah karena Jimin tak menggubrisnya. Ia mengusap kasar airmatanya, berjalan menuruni anak tangga sambil terisak tertahan.

Di atas sana, Jimin memandang langit dengan mendungnya. Begitu gelap dan dingin, seperti hatinya. Ia merasa sungguh keterlaluan pada Yoongi barusan, tapi itulah yang terbaik agar Ia bisa melupakan pria cantik itu segera.

Ia sedikit mencuri pandang pada Yoongi yang telah sampai di lantai dasar. Ingin memastikan keselamatan seseorang yang sangat disayanginya. Yoongi dengan wajah sendu sayunya meraih pintu lorong dan-

" AAA! LEPASKAN!"

Dan sekarang Jimin benar-benar menatap pada Yoongi. Dengan tergesa Ia segera berlari menuruni tangga dan mengejar dua orang yang menyeret Yoongi-nya pergi dari pandanganya. Ya, Yoongi-nya.. jangan protes akan hal ini.

" Min Yoongi!" panggilnya panik.

Dan Jimin hanya bisa mendengar jeritan Yoongi. Ia mempercepat langkahnya dan segera menyusul ketiga orang itu.

" kumohon lepaskan! Aku tidak ada masalah denganmu!" tangis Yoongi.

Ia sungguh tidak bisa berbuat apa-apa di saat perasaannya kacau. Ia hanya bisa menangis dan menangis.

Jimin berhasil menyusul Yoongi dan segera merebutnya kasar dari dua orang tadi.

" apa yang kau lakukan pada Yoongi-ku?!" tantang Jimin.

" kami hanya menjalankan tugas dari tuan kami. Pria ini bisa masuk kemari tanpa kartu pengenal berkat beliau, dan sebagai gantinya dia diminta untuk menemui tuan kami"

Jimin meludah, " katakan pada tuanmu yang terhormat, pria ini bukan untuknya"

Yoongi menatap takut pada dua orang di hadapannya, Ia merasakan pelukan Jimin mengerat padanya. Melindunginya dan menenangkan tubuhnya yang gemetar ketakutan.

" karena pemiliknya akan membawanya pulang"

" lihat aku.., dan menurutlah" perintah Jimin dengan lirih. Yoongi mengangguk, Ia mulai menutup matanya saat Jimin mendekatkan wajahnya.

Ciuman pelan Ia dapat dari Jimin, pemuda itu menautkan lidahnya dalam. Memaksa Yoongi mengeluarkan erangan nikmatnya.

" ahh.."

Dengan itu Jimin menyudahi ciumannya lalu membawa Yoongi pergi, meninggalkan dua orang penjaga berbadan gempal yang masih terdiam di tempat mereka.

" tak apa, lagipula aku baru tahu kalau pria tadi milik Jimin.. seleranya bagus" gumam sosok pria berjas hitam tadi.

" maafkan kami tuan" ujar kedua orang tadi saat menyadari kedatangan tuan mereka.

" sudahlah, aku bisa mencari yang lain"

.

.

Keduanya tetap diam hingga mereka tiba di dorm dengan keadaan basah kuyup. Tentu saja, karena mereka kehujanan di tengah jalan.

Jimin menyeret Yoongi masuk lalu meninggalkannya di ruang tengah begitu saja. Sementara Ia pergi memasuki kamarnya.

" Yoongi hyung?!" panik Jungkook karena melihat wajah Yoongi memucat.

Yoongi meloloskan air matanya, menangis tanpa suara. Ia melangkah pelan kekamarnya, menolak untuk melihat wajah cemas teman satu grupnya.

Keadaan hening, mereka semua sudah berkumpul di dorm. Saling menatap tidak paham dengan apa yang mereka lihat. Jimin dan Yoongi yang sama-sama diam.

.

.

" apa yang harus kulakukan.. aku benar-benar bingung sekarang!"

Pria manis itu terdiam di bawah guyuran shower, menunduk memikirkan Jimin. Tentang bocah itu yang memarahinya, mengusirnya, kemudian menciumnya.

" kenapa rumit sekali! Aku hanya ingin minta maaf, tapi aku takut"

.

.

Yoongi mandi dengan cepat dan mengambil handuknya. Ia terburu-buru ke kamar Jimin, menyiapkan bajunya dan membuatkan susu hangat selagi Jimin masih mandi.

Saat Jimin keluar dari kamar mandinya, Yoongi mendekat. Jimin menatapnya tak tertarik.

" b-biarkan aku mengeringkan rambutmu" ujar Yoongi terbata.

Yoongi menarik lembut tangan Jimin, mendudukkan pemuda itu di ranjangnya lalu memberinya segelas susu. Dan Jimin memilih untuk menolak, Yoongi tersenyum miris menyimpan gelas itu di meja.

Mereka duduk bersila tepat di tengah ranjang dan saling berhadapan.

Jimin menatap Yoongi dengan alis menukik tajam, menelisik pemuda itu. Hingga akhirnya Yoongi mulai mengusapkan handuk ke rambutnya.

Jimin sebenarnya ingin bertanya kenapa Yoongi jadi terlalu baik seperti ini padanya, setelah apa yang Ia lakukan pada pria ini tadi. Tapi Ia urungkan niat itu, alih-alih menghentikan tangan Yoongi yang mengeringkan rambut basahnya. Ia justru diam menatapi Yoongi penuh cinta.

Entah hal gila apa yang Jimin tanam di otaknya. Ia mengamati dengan intens setiap lekuk wajah Yoongi. Mencoba merekamnya dengan baik.. meski Ia tahu Ia sangat tak lagi berhak melakukannya.

" kau sangat indah.."

Jimin mengutuk mulutnya dalam hati, yang dengan lancang menghentikan kegiatan Yoongi menyentuhnya. Pria itu tampak terkejut dan ketakutan.

Yoongi berdegup mendengar kalimat Jimin, dan tatapan memuja itu..astaga. Yoongi hampir terlena. Ia baru saja ingat kalau Ia harus menjaga jarak dengan Jimin jika tidak ingin kecewa.

Ia segera memutus tatapannya dengan Jimin lalu berdiri dengan lututnya, membuatnya sejengkal lebih tinggi daripada Jimin. Berharap Jimin tidak lagi menatapinya.

Tapi tidak,

Pemuda itu justru melingkarkan lengannya pada pinggang Yoongi dan menariknya mendekat. Jimin menatap Yoongi dari bawah dengan penuh kerinduan. Membuat sosok yang ditatapnya lagi-lagi menghentikan kegiatannya.

Yoongi pikir Ia tidak akan bisa mengeringkan rambut Jimin lagi. Ia harus segera pergi dari sini.

Sret

Yoongi menoleh pada Jimin yang menahan pergelangan tangannya lembut. Pemuda itu ikut berdiri menggunakan lututnya dan kembali berhadapan dengan Yoongi.

Yoongi mengalihkan wajahnya ke bawah, Ia tak kuasa melihat wajah sendu Jimin. Tapi tangan Jimin yang menangkup wajahnya kembali membuatnya berhadapan dengan pemuda itu.

Jimin menyisihkan helaian surai halus Yoongi ke belakang telinganya, mengusap lembut pipi itu dan mendekatkan wajahnya.

Yoongi yang panik segera membuang wajah ke samping. Dan Jimin lagi-lagi mendapatkannya. Mengunci matanya agar tetap menatap pada Jimin.

Dan entah sejak kapan bibirnya telah diraup oleh pria yang lebih muda darinya. Ia ingin menolak sungguh, tapi kenapa Ia justru diam dan memejamkan matanya. Menikmati kecupan dan lumatan manis yang telah lama tidak dirasakannya.

" eungh.."

Jimin memeluk Yoongi erat, memperdalam ciumannya dengan lembut dan menuntut. Entah, Ia tidak tahu apa yang diperbuatnya sekarang.

Yang Ia tahu.. Ia tidak bisa melepaskan pria ini begitu saja.. sampai kapanpun itu.

Yoongi merasakan tubuhnya memanas, semua terlalu mendadak sehingga Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tangannya mencoba menjauhkan Jimin, terus begitu sampai Ia merasakan tubuhnya dengan cepat terdorong ke ranjang.

Memekik kaget, lalu berusaha mendorong Jimin lagi.

Jimin mulai berhenti ketika Yoongi berhenti memberontak. Perlahan Ia melepas ciumannya dan menatap prianya lamat-lamat.

" kau sendiri yang memancingku Min Yoongi.. dan sungguh, kurasa kau hanya akan mempermainkanku?"

Diam, Ia ingung harus berbicara apa lagi dengan Jimin. Karena semuanya akan percuma, sesering apapun Ia menjelaskannya nanti Jimin tidak akan mendengarkannya.

Jimin masih menunggu Yoongi berbicara, tangannya mengusap lembut pipi putih Yoongi yang merona lembut.

" dengar.. kau adalah kekasihku"

" tapi-"

Dan Yoongi kembali menelan perkataannya sebab bibir penuh nan hangat itu lagi-lagi meraupnya.

.

.

Namjoon mengipas tubuhnya yang tiba-tiba saja panas. Ia bersama dengan lima member yang tersisa masih bertahan di depan kamar Jimin.

" Yoongi hyung belum keluar juga?" tanya Hoseok.

" hmm, sudah empat puluh lima menit hingga sekarang. Apakah Ia tidur bersama Jimin?" keluh Namjoon.

" kenapa kau mengipas tubuhmu? Di sini ada pendingin ruangan, bilanglah kalau kau tidak bisa menggunakannya" ejek si kuda.

" aku tidak sebodoh itu, lagipula apa kalian tidak gerah?"

" tidak. Kau ini bagaimana..yang ada di kamar Jimin kan Yoongi, kenapa justru kau yang kepanasan?" Jin ikutan penasaran.

" jujur saja, aku sangat penasaran desahan seperti apa yang akan Yoongi hyung keluarkan malam ini"

Dengan perasaan cinta, Taehyung melempar gulingnya tepat pada kepala sang leader.

" jangan macam-macam ya Mon hyung!"

Jungkook dengan kecerdasannya langsung menuju lubang kunci di kamar yang mereka awasi sedari tadi. Ia juga penasaran seperti leader mereka.

" hyungie…" panggil Jungkook dengan telinganya yang masih menempel pada daun pintu.

Perang bantal Namjoon dan Taehyung mendadak berhenti, dan semua menatap pada Jungkook.

" ada apa Kookie?"

" itu.. Yoongi hyung menangis"

Dengan tergesa mereka berlari ikut menguping seperti yang dilakukan Jungkook. Namjoon menyingkirkan magnae mereka dari pintu lalu memasang telinganya di sana.

" heh bocah..seperti inikah yang kau anggap menangis? Akan kutunjukkan apa sebenarnya yang terjadi pada Yoongi hyung. Kemari"

Hoseok dengan cepat menarik lengan Jungkook dan memeluknya posessif. Ia menatap sang leader dengan murka.

" jangan ajari kekasih polosku dengan hal yang seperti itu ya?! Kau ini leader macam apa?!"

Namjoon mengedikkan bahu, " baiklah, sekarang kalian harus tidur. Mereka akan baik-baik saja"

" tapi kamarku…"

" Tae.., kau bersama Jin hyung di kamarnya. Dan kau Hoseok hyung temani Jungkook di kamarku"

" lalu kau?" tanya Hoseok.

" aku akan mencari inspirasi di sini" jawab Namjoon bahagia.

" leader sialan.." umpat Jin lirih.

" dibalik kebaikan pasti ada kejahatan.. seperti halnya Namjoon" ujar Hoseok.

Tanpa babibu para seme menyeret kekasih mereka ke kamar, meninggalkan Namjoon yang menyamankan diri di sofa dekat kamar Jimin.

.

.

Yoongi bergeming dalam ciuman Jimin, Ia masih terus diam tidak menerima ataupun menolak Jimin. Tapi otakya terus bekerja, jika Ia terus begini Jimin juga akan menyusahkannya.

Tapi jika Ia menerima Jimin lagi, bagaimana?

Mungkin Ia tidak ingin sakit hati atau mengorbankan perasaannya lagi. Jujur Ia sangat terluka, namun Ia lebih tak bisa lagi melihat Jimin bersikap seperti ini padanya.

Ia tahu Jimin menangis dalam ciuman mereka, seperti halnya dirinya. Maka Ia mulai mengusap kedua pipi Jimin lalu meraih tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka.

Yoongi sudah memutuskan, Ia memilih kebahagiaan Jimin daripada dirinya sendiri. Benar kata Namjoon dan Hoseok, Ia tak boleh egios.

Jimin mengerutkan alisnya, Ia lantas melepas perlahan ciuman mereka dan menatap dalam pada Yoongi.

" ada apa?"

Yoongi balas mengernyit, " seharusnya aku yang bertanya begitu Jimin, ada apa denganmu? Kenapa berhenti?"

Jimin menangkup wajah kekasihnya lalu menyelami kedua bola mata cantik itu.

" kau yakin… Min Yoongi?" tanya Jimin ragu. Pasalnya tadi Yoongi tiba-tiba saja berubah jadi baik.., maksudnya tidak menolaknya lagi.

Pria kecil itu mengangguk, Ia tersenyum lalu mengecup bibir Jimin singkat.

" iya.."

Jimin mengembangkan senyumnya, namun hanya sebentar. Ia menaikkan sebelah alisnya menatap Yoongi yang agak berbeda.

" apakah kau tidak marah padaku?"

Yoongi menggeleng, Ia masih tersenyum.

" maafkan aku Jimin, tidak seharusnya aku membuatmu seperti ini"

" tidak sayang.." Jimin meraih tangan Yoongi lalu menggenggamnya lembut.

" jangan meminta maaf, ini salahku.. aku bodoh dan tidak peka"

" maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya.." ungkap Jimin sambil memeluk Yoonginya.

Yoongi tersenyum, Jimin sangat pandai menipunya. Iya kan? Entah sudah keberapa kalinya. Yoongi harap ini yang terakhir.

" bolehkah?"

Yoongi membalas pelukan Jimin, Ia mengangguk tipis. Dengan segera Jimin mengecup leher Yoongi, menjilat.. gigit dan hisap.

Yoongi hanya terdiam sambil berusaha mengusir pikirannya yang kacau. Semoga tindakannya kali ini benar.

Lama terdiam, Ia menyadari Jimin juga terdiam. Menatapnya kosong.

" Jimin.."

" ya"

Ini membingungkan, keduanya kembali terdiam. Hingga Jimin dengan kecepatan luar biasanya menyerang bibir cherry Yoongi, hampir. Iya..hampir.

Dan sesuai dugaan bocah itu, Yoonginya mendadak bergetar ketakutan. Memejamkan mata dan mengepalkan tangannya kuat.

Dengan itu Jimin mulai menggenggam lagi tangan Yoongi, memberinya tatapan penuh cinta. Mengecup puncak kening Yoongi lama.

" jangan takut, aku selalu bersamamu. Biarkan aku memilikimu lagi.."

TBC

N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.

Thanks to : Laily591, Park Rinhyun-Uchiha, parkminky94, Trb . bangtanboys, zewail licht, syub0393, Dessy574, kyuminmi, GithaAC, park soohee, Reny246, minyoonlovers, XiayuweLiu, Hantu Just In, ranrann, imnobody95, widyww6, regina citra ramadani.

hoi, para reader. dewa author mau bilang kalau berhubung ini bulan puasa, dewa author mau minta maaf karena membuat kalian dan Jimin ikutan puasa.. muehehehehehe. selamat nunggu ya :D nanti chapter depan pasti ada reward kok :) jangan khawatir. cuma beberapa hari ajaaaaa at last, happy read and LET'S GET DUMB.

mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.