Hallo Minna #kisshug
Ohayou.. Konnichiwa.. Konbanwa..
Hana telat lagi yaah? Gak papa deh, yang penting cerita ini tetep lanjut yaah. Hana harap readers review tentang NaruHinanya saja yaah. Kalau mau flame setidaknya yang membangun atau langung PM Hana aja.
Hana menulis fic ini disela-sela kesibukan Hana mengerjakan tugas kuliah sekalian kerja dan berbisnis.
Mungkin readers udah pada nebak" nih endingnya gimana yahh atau sudah ada yang tau masa lalunya Hinata #mungkin ada readers yang bisa baca pikiran Hana
Oke, Hana putuskan menjadikan liburan NaruHina 2 chapter. Masih banyak yang harus diungkap.
BALASAN REVIEW
: iyaa ini sudah update. Maaf lama yaah. Makasih sudah nunggu cerita ini.
Kurumi Keiko: iya ini sudah lanjut. Makasih sudah nunggu.
LuluK-chan473: iya salam kenal juga Luluk-san. Ini usahakan up kilat yaah. Makasih sudah baca dan nunggu.
dedek dwipayana 2: jangan lemon doongg kan kecut :p lemonnya nanti saat NaruHina khilaf hahaha
Guest: jangan ML dulu yaah NaruHina hihihi
Taupik354: yups taupik-san betul :)
Salsabilla12: kyaaaa~ Hana harap juga begitu tapi nanti deh oleh-olehnya hihihi
Shonia pecinta naruhina: hayoo ada apa dengan Hinata #ditabok Shonia
vicagalli: iya ini sudah lanjut yaah. Makasih sudah baca dan review
Aru Hasuna 2409: jalan-jalan? Kayaknya gak seromantis pikiran kita deh mereka #mikir
Sondankh641: kenapa yaah Hinata #mikir wah..wah.. kayaknya mulai tertebak di chapter 12 hihihi. Sedikit bocoran memang disana Hana selipin hehehe
megahinata: ini sudah publish kok. Makasih sudah baca yaah mega-san :)
Okee cukup sampai disini cuap"nya mari langsung menuju ke cerita.
Selamat menikmati !
.
.
#_#
.
.
Disclaimer of Masashi Kishimoto
Pairing NaruHina
Rated M lebih dominan Romance
Warning: OOC, GeJe, berantakan, typo dimana-mana, jauh dari kata sempurna, lemonnya akan berjalan sesuai dengan keadaan dan jalan cerita.
‰ HAPPY READING ‰
Chapter sebelumnya
2 jam kemudian
Naruto dan Hinata sudah tiba di bandara. Mereka diantar orang tua masing-masing. Sedangkan Neji tidak ikut karena sebentar lagi dia akan menyusul keberangkatan Hinata. Masih ada beberapa tugas kampus yang perlu dibawa juga berkas perusahaan yang dikelolanya.
Naruto dan Hinata hanya berpamitan dengan saling berpelukan dengan keluarga mereka masing-masing.
"Ayo hime!" ajak Naruto sambil menggandeng tangan Hinata menuju dimana pesawat pribadinya sudah menunggu.
Naruto dan Hinata masuk ke dalam pesawat dan meninggalkan barang-barangnya dibawah yang akan diurus oleh bawahannya. Tak berapa menit, pesawat mereka lepas landas menuju Korea.
Chapter 13
《Hari Pertama Liburan》
Selama dalam perjalanan, mereka hanya diam saja. Naruto sibuk dengan ponsel dan laptopnya. Hinata hanya duduk berdiam diri. Sampai akhirnya sesuatu menarik perhatian Hinata. Dia menatap keluar melalui kaca jendela pesawat.
"Kita akan segera mendarat, tuan muda." ujar yang pilot dari speaker.
"Lakukanlah." Naruto menyetujuinya dengan malas-malasan.
"I..ini benaran sebuah pulau?" tanpa sadar Hinata menyuarakan apa yang ada dipikirannya.
"Tentu saja ini sebuah pulau hime. Kau kira ini tumpukan sampah begitu?" jawab Naruto malas. "Tu..tunggu dulu. Apa aku bilang sebuah pulau, Hinata?" sekarang Naruto yang bertanya.
"Tentu saja. Kau kira ini tumpukan sampah?" Hinata menjawab sama seperti jawaban Naruto.
"Hinata, aku tidak bercanda. Kau minggir, aku mau lihat." Naruto beranjak menggantikan tempat duduk Hinata dan Hinata duduk di tempat Naruto.
"Astaga!" Naruto terkejut setelah melihat pemandangan di bawahnya.
"Ada apa?" Hinata menatap Naruto heran.
Tiba-tiba pesawat jadi oleng dan Naruto baru ingat kalau mereka sekarang akan mendarat.
"Kyaaa~" teriak Hinata.
Bruukk
Naruto yang kehilangan keseimbangan jatuh menindih tubuh Hinata. Sedangkan Hinata terbaring di tempat duduk.
"Maaf, tuan muda pe-" seorang pramugari membatalkan ucapannya saat melihat sang majikannya.
"Cih, ada apa?" Naruto bertanya dengan posisi tetap menindihi tubuh Hinata.
"Sebelumnya saya minta maaf. Saya hanya menyampaikan kalau pesawat sudah mendarat. Barang-barangnya sudah kami masukkan ke dalam villa." jelas sang pramugari dengan wajah memerah.
"Baiklah, kau boleh pergi." perintah Naruto.
"Hime, ayo kita turun." ajak Naruto setelah berdiri dari posisinya.
"Ada apa?" tanya Hinata cuek.
"Nanti aku akan menjelaskannya. Sekarang kita turun terlebih dahulu." Naruto mengulurkan tangannya, mengajak Hinata.
Hinata berdiri dari posisi terbaringnya lalu merapikan bajunya yang kusut. Setelah itu, Hinata keluar dari pesawat mengabaikan uluran tangan dari Naruto.
"Cih, dia kembali menjadi dingin lagi. Haah~ kenapa juga mereka memilih tempat ini. Hinata pasti akan menjadi semakin dingin lagi." Naruto mengikuti Hinata.
"Kita harus menaiki kapal untuk tiba di villa." jelas Naruto yang melihat wajah kebigungan Hinata.
"Hn."
"Hinata, berhentilah bersikap dingin seperti itu. Aku benci orang yang bersikap dingin. Disini tempat romantis jadi setidaknya bersikap hangatlah." Naruto mulai jengkel dengan perubahan sifat Hinata yang berubah-ubah.
Hinata sudah menaiki kapal sedangkan Naruto masih di darat sambil menggerutu, kesal akan sikap Hinata.
"Tu..tuan muda, kapal sudah siap dan nona Hinata sedang menunggu di kapal. Apa kita pergi sekarang?" tanya seorang bawahannya yang paham betul tuan mudanya lagi kesal. Sedangkan yang ditanya hanya menoleh sekilas ke arah kapal dimana Hinata sudah duduk manis.
"Cih, baiklah." Naruto berjalan menaiki kapal.
Tak berapa lama, kapal mulai berlayar menyeberangi lautan. Hanya butuh waktu 15 menit untuk tiba di villa. Selama perjalanan, Naruto mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.
"Hinata-chan, itu dia villanya." Naruto menunjuk sebuah rumah satu-satunya di hadapan mereka.
"Hn." jawab Hinata.
"Apa kau menyukainya, hime?" saat ini Naruto mulai kembali seperti sikapnya seperti biasa.
"Kita belum sampai." jawab Hinata cuek.
"Kita akan sampai beberapa menit lagi. Kau siap-siaplah." Naruto beranjak dari duduknya.
"Naruto, barang-barang kita dimana?" tanya Hinata menyusul Naruto.
"Sudah dibawa ke dalam villa. Kemungkinan sudah ada di kamar kita." jawab Naruto santai.
"Kamar kita? Tapi-" Hinata yang hendak protes dipotong oleh perkataan Naruto.
"Ayo hime, aku bantu turunnya." Naruto mengulurkan tangan kanannya.
Hinata yang sebal karena perkataannya dipotong mengabaikan uluran tangan Naruto. Dia langsung turun dari kapal. Saat kakinya menyentuh air laut, kakinya berpijak di atas batu karang. Awalnya dia kira tidak apa-apa mengabaikan uluran tangan Naruto, tapi ternyata batu karang yang dia pijak terlalu licin.
"Awas hime!" peringat Naruto tapi terlambat.
Byuur~
Hinata jatuh ke dalam air laut dengan Naruto memeluknya karena kehilangan keseimbangan saat menolongnya tadi. Mereka berdua basah kuyup. Salah satu pelayan segera menghampiri mereka dan membawakan handuk untuk tuan dan nona mudanya itu. Tapi sebelum itu, seorang bawahan Naruto menolongnya untuk berdiri.
HINATA POV
Aku menaiki kapal terlebih dahulu meninggalkan Naruto yang lagi kesal denganku. Seorang pria berjas hitam mendekati Naruto dan berkata sesuatu. Aku melihat Naruto sekilas menoleh padaku tapi aku membuang muka. Setelah itu, Naruto seperti memberikan perintah kepadanya.
Tak berapa lama, Naruto berjalan kearah kapal dan langsung duduk di sebelahku tanpa sepatah katapun. Aku meliriknya sekilas yang ternyata sedang menghela nafas beberapa kali. Mungkin dia sedang kesal denganku. Ah, aku tak peduli.
"Hinata-chan, itu dia villanya." Naruto menunjuk sebuah rumah satu-satunya yang berada dihadapan kita.
"Hn." jawabku cuek.
"Apa kau menyukainya, hime?" Naruto kembali mencoba mencari perhatianku.
"Kita belum sampai." jawabku tak mempedulikannya.
"Kita akan sampai beberapa menit lagi. Kau siap-siaplah." Naruto beranjak dari duduknya dan aku sedikit meliriknya. Tiba-tiba terlintas dipikiranku barang-barang kita yang tak ada di kapal.
"Naruto, barang-barang kita dimana?" tanyaku menyusulnya berdiri.
"Sudah dibawa ke dalam villa. Kemungkinan sudah ada di kamar kita." jawab Naruto santai sambil turun dari kapal dengan bantuan bawahannya.
"Kamar kita? Tapi-" Naruto memotong protesanku.
"Ayo hime, aku bantu turunnya." Naruto mengulurkan tangan kanannya.
Aku yang sebal mengabaikan uluran tangan darinya. Aku langsung turun dari kapal dengan berpijak di atas batu karang. Air laut membasahi telapak kakiku. Mungkin tinggi air laut sekitar 10 cm dari kakiku. Awalnya aku kira tidak apa-apa mengabaikan ukuran tangan Naruto, tapi ternyata batu karang yang ku pijak terlalu licin.
"Awas hime!" peringat Naruto tapi terlambat.
Byuur~
Aku jatuh ke dalam air laut dengan Naruto yang memelukku karena kehilangan keseimbangan saat menolongku tadi. Kami saat ini basah kuyup. Naruto tak melepaskan pelukannya dariku. Salah satu pelayan segera menghampiri kami dengan membawakan handuk untuk kita. Tapi sebelum itu, seorang bawahan Naruto menolongnya untuk berdiri dan Naruto gantian menolongku berdiri.
"Tuan, ini handuknya." pelayan tadi membawakan handuk. Naruto menyerahkan handuk itu padaku. Aku mengambilnya dan memasangkan pada tubuhku.
"Naruto, kau tidak apa-apa?" pria berjas menghampiri Naruto dan menyampirkan jubah mandi.
"Aww!" ringis Naruto yang mengundang perhatianku.
"Naruto, kau tidak apa-apa?" tanya pria itu lagi perhatian.
"Iruka-sensei, sejak kapan ada disini?" tanya Naruto menahan sakit.
"Saat tuan dan nyonya menghubungiku kalau kalian akan berlibur disini. Maaf, tidak bisa menemanimu dalam perjalanan Naruto. Aku disini mempersiapkan semuanya." jelas pria berjas tadi yang ternyata bernama Iruka.
"Bisa minggir sebentar?" aku menghampiri mereka berdua dan menyuruh pria berjas yang bernama Iruka menyingkir dari sisi Naruto.
"Ada apa hime?" Naruto yang keheranan dengan perlakuanku.
Aku langsung jongkok di hadapan Naruto dan menganggkat kakinya di atas lututku. Disana terdapat luka yang begitu dalam karena karang. Darah segar masih mengalir. Aku menoleh ke arah Naruto sambil memegang telapak kakinya dan Naruto hanya meringis menahan sakit.
"Na..naruto." Aku melihat Iruka yang sangat khawatir. Aku mulai heran dengan sikap orang ini yang khawatir dengan Naruto. Mungkin nanti aku bisa tanya pada Naruto.
"Iruka-san, bisa tolong pegang ini?" aku menyerahkan handuk yang tadi diberikan Naruto. Hinata hanya menganggukkan kepalanya dan mengambil handuk itu.
Aku membuka perlahan-lahan kemeja yang dikenakan Naruto. Ini sangat memalukan. Sedangkan Naruto hanya heran dan bingung.
"Hi..hime, aku tau kita bisa melakukannya. Ta..tapi, ini ditempat umum, hime. Lihatlah sekeliling kita." ujar Naruto. Aku berhenti membuka kemejanya dan melihat sekeliling dimana bawahan dan pelayan memasang wajah malu-malu. Haah~ aku hanya bisa menghela nafas dan melanjutkan melepas pakaian Naruto.
"Iruka, bisa kau pegang pakaian si kuning ini juga?" tanyaku dan Iruka kembali menganggukan kepalanya.
Aku menyerahkan kemejanya.
"Hi..hime.." Naruto merona karena saat ini dia hanya mengenakan kaos oblong. Aku dengan sengaja menepuk pundaknya.
"Ittai hime!" teriak Naruto.
"Berhentilah merona seperti itu. Sekarang berbaliklah." aku mengalihkan pandanganku ke arah belakang punggungnya. Semua yang melihat itu terkesiap.
"Ne, kalian sudah melihatnya kan? Aku membutuhkan gunting, perban serta P3K secepatnya. Siapa pun yang bertugas antarkan ke kamar si kuning ini. Iruka-san, bisa bantu aku memapah bocah bodoh ini tapi jangan menyakiti punggungnya." aku memberikan titah.
"Baiklah. Sebelum itu, tolong Izumi-san kau urus semua yang dikatakan nona Hinata kalau bisa secepatnya." Iruka memberikan perintah.
Iruka memapah Naruto di samping kanan dan aku di samping kirinya. Saat Iruka hendak berjalan, aku tetap berdiri di tempat.
"Hime, ada apa lagi?" tanya Naruto. Aku hanya menatap Iruka dengan pandangan datar.
"O..oh maaf atas kelancangan saya nona Hinata. Perkenalkan namaku Iruka pelayan sekaligus asisten pribadi tuan muda Naruto Uzumaki." Iruka memperkenalkan dirinya. Hinata hanya tersenyum sebagai responnya. Dia kemudian berjalan memapah Naruto dibantu Iruka menuju kamar Naruto tepatnya kamar mereka berdua.
"Iruka-san, disini ada berapa kamar?" tanyaku selama dalam perjalanan menuju kamar si kuning ini.
"Eh, apa Naruto tidak menjelaskannya nona?" Iruka yang ditanya bingung.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Bukankah tadi sudah aku bilang, kamar kita." Naruto menjawabnya dengan sebal.
"Aku berbicara dengan Iruka bukan dengan si bodoh." Aku menendang kakinya dan baru aku ingat kalau kakinya sedang terluka.
"Hinata! Lebih baik kau bunuh aku saja daripada perlahan-lahan seperti." kulihat Naruto yang meringis kesakitan karena tendanganku barusan.
"Bukankah nona Hinata meminta dibawakan gunting. Itu bisa juga dibuat untuk membunuhmu Naruto." Iruka ikut menjawab pertengkaranku dengan Naruto.
"Aah benar juga yah. Terima kasih Iruka-san sudah mengingatkan." ucapku sambil menoleh kearah Iruka sambil tersenyum.
"Iruka-sensei!" Naruto mulai merajuk.
"Kalau begitu, kau bisa memanggil namaku, Iruka-san." ucapku.
"Hahahaha.. kalian benar-benar pasangan yang serasi." Iruka tertawa.
"Aku cabut kembali ucapanku tadi." aku cemberut.
"Sebaiknya kalian segera menikah biar keluarga Namikaze semakin ramai dengan pertengkaran kalian. Hahaha.." Iruka tetap tertawa.
"Iruka-sensei!"
"Iruka-san!"
Aku dan Naruto sama-sama menegur perkataan Iruka sang asisten pribadi si kuning bodoh ini.
END HINATA POV
Ternyata mereka sudah tiba di depan sebuah kamar. Iruka membuka pintu kamar dan disana ada seorang wanita yang sedang mempersiapkan sesuatu.
"Izumi-san, apa semuanya sudah beres?" tanya Iruka.
"Sudah semuanya." jawab Izuma dengan sopan.
"Tuan dan nona muda selamat datang. Semua yang diperlukan nona Hinata sudah saya siapkan. Apa ada yang perlu saya siapkan lagi?" tanya Izumi dengan sopan.
"Bisa kau siapkan kamar untukku?" tanya Hinata.
"E..eh? Maaf nona." Izumi bingung sendiri.
"Hinata, sudah kubilang inilah kamar kita selama berada disini." Naruto mulai sebal saat Hinata bertanya tentang kamar.
"Aku tak mau tidur denganmu." ujar Hinata.
"Kenapa gitu?" tanya Hinata.
"Aku takut darah."
"Lalu kenapa tadi kau memeriksa lukaku yang penuh darah?" Naruto tak habis pikir dengan alasan Hinata.
"Tentu saja karena aku ingin jadi perawat, baka." jawab Hinata.
"Emph~ hihihihi" Sedangkan Iruka dan Izumi menahan tawa melihat pertengkaran tuan dan nona mudanya itu.
"Kalian boleh keluar sekarang!" perintah Naruto tepatnya mengusir karena melihat kedua orang kepercayaannya menertawakan dirinya.
"Ooh baiklah. Kalian bisa melanjutkan pertwngkaran kalian, hahaha." Iruka tertawa.
"Anata, jangan seperti itu. Hihihi." Izumi ikut-ikutan tertawa.
"Ayo sayang, kita berikan waktu mereka berdua untuk bertengkar." Iruka menuntun Izumi keluar dari kamar. Naruto yang kesal, melemparkan apapun yang ada didekatnya dengan jengkel kearah pintu yang sudah tertutup berharap mengenai pasangan bodoh itu.
Setelah itu, tidak ada yang memulai pembicaraan. Naruto mencoba berjalan kearah ranjang dengan tertatih-tatih. Darah menetes dari luka di kakinya. Hinata yang melihatnya tidak tega. Bagaimanapun, Naruto terluka karena dirinya yang keras kepala.
"Duduklah." ujar Hinata yang sudah berada di samping Naruto. Dia membantu Naruto untuk berjalan dengan merangkulnya.
"Terima kasih, hime." ujar Naruto saat dirinya sudah duduk manis diatas ranjang.
"Hn."
Hinata mengambil nampan yang ada di atas nakas. Hinata berjalan menuju ke tempat Naruto berada.
NARUTO POV
Aku yang kesal dengan kedua orang kepercayaanku hanya bisa melempar benda yang ada di dekatku kearah mereka. Aku berjalan menuju ranjang dengan tertatih-tatih. Aku yakin pasti darahnya akan menetes dan hal itu tidak membuatku pusing.
Tiba-tiba, Hinata berada disampingku dan mengambil salah satu tanganku untuk diletakkan ke pundaknya. Aku sekarang paham kalau dia hanya ingin membantuku berjalan. Aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak memberikan sepenuhnya bebanku pada tubuh Hinata yang mungil itu. Dia juga membantuku untuk duduk diatas ranjang.
"Terima kasih, hime." ucapku dengan sungguh-sungguh.
"Hn." hanya itu jawaban yang kudapat.
Aku melihatnya sedang mengambil nampan yang ada di atas nakas.
"Bisa berjalan lagi?" tanyanya menatapku setelah meletakkan nampan itu di atas ranjang.
"Sepertinya kakiku udah ngilu." aku hanya menjawab apa yang aku rasakan.
"Hn." tanpa banyak bicara, dia langsung meninggalkan aku sendirian di kamar. Sedangkan dia, pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Tak berapa lama, dia keluar dengan membawa baskom yang berisi air. Aku melirik kearah ranjang yang tadi menjadi tempat baskom itu berada. Hei, sejak kapan dia mengambilnya, kenapa aku tidak menyadarinya.
Dia duduk di bawah kakiku. Dia membawa nampam ke lantai berdekatan dengan baskom. Pertama-tama, dia mengambil kapas dan memasukkan kapas itu ke dalam baskom berisi air. Selanjutnya dia mengusap di luka kakiku.
"Perih hime~" rintihku kesakitan. Ini benar-benar perih.
"Diamlah. Aku sedang membersihkan lukamu." jawabnya yang melakukan gerakan yang sama pada kakiku.
"Ba..baiklah. uuh~ tapi kau harus menjelaskan semua yang kau lakukan padaku." ujarku sekali-kali sambil meringis menahan perih.
"Kenapa begitu?" dia tetap fokus pada lukaku.
"Biar aku tidak merasa kesakitan seperti ini. Setidaknya dapat mengalihkan perhatianku dari rasa sakit ini." jelasku memberikan alasan. Sesungguhnya alasanku hanya untuk membuat dia lebih banyak bicara.
"Baiklah." dia langsung menyetujuinya tanpa protes.
"Eh?" dia hanya cuek mendengar keterkejutanku.
"Pertama, aku membersihkan lukamu. Aku ingin mengeluarkan darahnya serta bakteri yang masuk agar tidak terjadi infeksi." Hinata mulai menjelaskan semua yang dia lakukan. Sedangkan aku hanya diam mendengarkan. Bahkan, aku merekam semua kata-katanya dengan ponselku tanpa diketahuinya. Aku sudah mempersiapkannya saat dia ada di kamar mandi tadi.
"Ketika selesai membersihkan luka, selanjutnya memberikan obat pada luka di kakimu. Sekarang letakkan kakimu di pangkuanku." Hinata membantu kakiku untuk berada di pangkuannya. Dia memberikan betadine pada lukaku. Aku hanya meringis menahan perih.
"Apa sakit?" tanyanya mendongak, menatapku. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai tanda iya.
"Setelah selesai, aku akan membalut lukamu dengan kain kasa dan pengobatan kakimu selesai." Hinata berdiri dari duduknya. Aku menatapnya heran.
"Selanjutnya ini." Hinata mengambil gunting dan menunjukkannya padaku.
"Hi..hinata.. kau bercanda dengan gunting itu kan? Ta..tadi aku hanya bercanda tidak serius." aku gelagapan melihat ekspresi Hinata yang tenang dan datar.
"Hn?" sepertinya dia bingung dengan apa yang aku maksud.
"Hinata, kau tidak ingin benar-benar membunuhku dengan gunting itu, kan?" aku memastikannya.
"Ah, benar juga. Mau kucoba sekarang?" dia menjawab dengan ekspresi yang menyebalkan.
"Hinata." aku merajuk.
"Baiklah. Pertama-tama aku akan menggunting bajumu itu."
Kres..kres..kres..
Hinata mulai menggunting bajuku secara hati-hati. Dia menggunting bagian depan baju. Saat kutanya kenapa harus depan, dia hanya menjawab biar tidak mengenai lukaku.
"Eh?" kami berdua terkejut saat tangan kami bersentuhan secara tidak sengaja. Kami saling berpandangan dan detik berikutnya memalingkan wajah.
Dia kembali sibuk untuk menggunting bajuku. Setelah selesai, dia membuang bajuku sembarangan.
"Menghadaplah ke cermin. Aku akan mulai mengobati lukamu." aku hanya menurutinya. Dengan mwnghadap ke cermin, aku bisa melihat apa yang dia lakukan.
"Aku akan membersihkan lukamu sama seperti tadi. Lukamu yang ini jauh lebih dalam, jadi tahanlah." dia melakukan hal yang sama seperti tadi dan benar saja, rasa sakitnya melebihi rasa sakit di kakiku. Aku meremas sprei dan kulihat di cermin, Hinata menahan tawanya.
"Berhenti menertawakanku, hime." aku benar-benar kesal. Lihat saja nanti, aku akan membalasnya. Aku membatin.
"Iya." lagi-lagi jawaban menyebalkan yang aku dengar. Setelah itu, dia mulai sibuk dengan luka-lukaku.
"Aku akan memasang perbannya. Jadi, jangan bergerak sedikit pun." aku melihatnya mengambil perban. Dia dengan telaten membalut luka di punggungku.
"Jika dipikir-pikir, posisi kita seperti kau sedang memelukku dari belakang bukan mengobatiku, hime." ujarku tetap menatap ke arah cermin, memperhatikan reaksi Hinata.
"Jangan berfikir mesum, bodoh."
"Awww! Kau menyakitiku, hime." dia menjawab sambil memukul punggungku dan itu benar-benar menyakitiku.
"Salahmi sendiri." dia langsung pergi meninggalkanku.
"Hime, kau mau kemana?"
Blam
Terlambat, pintu sudah tertutup.
END NARUTO POV
Hinata keluar dari kamar Naruto. Dia berjalan mencari Iruka maupun Izumi. Tapi, sebelum itu dia harus ke dapur mengambil minum.
"Uh~ hari ini cuacanya panas sekali atau villa ini memang tidak ada ACnya." Hinata berjalan ke dapur sambil mengibas-kibaskan tangannya. Tapi, dia mengurungkan niatnya saat sudah berada di ambang dapur.
"Sial, mataku ternoda oleh kalian!" rutuk Hinata membuat kedua sejoli yang sedang memadu kasih terganggu.
Izumi segera beranjak dari posisinya diatas Iruka tanpa sehelai benang pun. Tapi Iruka menahannya dengan memeluk Izumi erat.
"Tunggulah sebentar nona. Kami sedang sibuk." ujar Iruka.
"Terserah. Bereskan yang ada di kamar." Hinata langsung pergi sedangkan Izumi dan Iruka kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Hinata saat ini sedang berjalan keluar villa. Dia benar-benar tak habis pikir dengan hidupnya. Banyak hal yang terjadi. Apalagi mimpi buruknya selama ini sering muncul. Di depan villa ternyata ada taman. Sebuah kursi panjang terletak dibawah tiang lampu. Dia duduk santai dengan menatap langit senja. Warna langit yang mempesona. Pergantian matahari dan bulan yang membuat langit tampak mempesona.
Tanpa sadar, dia memejamkan kedua matanya menyembunyikan kelopak amethystnya. Angin sore berhembus menerpa wajahnya. Dia hanyut dalam pikirannya.
HINATA POV
Aku terkejut saat diriku berada di pinggir jalan yang sepi. Aku melihat seorang gadis berjalan di sisi yang lain dengan terhuyung-huyung. Sepertinya gadis itu sedang mabuk. Tepat dibelakang gadis itu, ada tiga orang pria dan aku yakin dari tingkahnya mereka berandalan.
Aku ingin memperingatkan gadis itu, tapi suaraku seperti tak terdengar olehnya. Seperti dugaanku, tiga pria itu menghadang sang gadis. Gadis itu memberontak tapi seperti kebanyakan tenaga pria lebih kuat dari wanita. Tapi, aku semakin khawatir saat ada satu pria lagi memakai kaos berjalan terhuyung-huyung ke arah gadis itu. Tanpa ba bi bu lagi, pria berkaos tadi langsung memukul ketiga pria berandal itu. Aku lega melihatnya, seperti menonton film saja.
Saat aku akan melanjutkan langkahku, aku kembali melihat gadis tadi dan betapa terkejutnya saat gadis itu sedang berciuman dengan pria berkaos tadi. Tiba-tiba aku melihat bayangan hitam yang selama ini selalu menghantuiku. Gadis dan pria berkaos tadi berubah menjadi bayangan hitam. Aku berlari ketakutan saat mereka melihat kearahku.
"Kyaaaa~" teriakku saat mereka berada di depanku.
"Hime.. hime.. bangunlah!" aku langsung membuka mataku saat mendengar suara Naruto dan memeluknya.
END HINATA POV
"Hiks..hiks.. aku takut. Mereka mendatangiku lagi, Naruto. Aku takut, hiks.." isak Hinata di pelukan Naruto.
"Tenanglah hime. Tak ada yang datang. Itu hanya mimpi." Naruto menenangkan Hinata. "Sekarang, tidurlah kembali." lanjutnya.
"Eh?" Hinata menatap Naruto dengan tatapan bertanya.
"Kau tadi ketiduran di taman depan. Aku membawamu ke kamar, tapi karena luka sialan ini aku kesulitan. Saat di teras, aku bertemu dengan Iruka dan meminta tolong untuk membantuku membawamu ke kamar." Naruto menjelaskan panjang lebar.
"Ooh." Hinata kembali bersifat dingin dan Naruto menyadarinya. Hinata melepaskan pelukannya dan kembali tidur dengan membelakangi Naruto.
"Haah~" Naruto hanya bisa menghela nafas dan kembali tidur sambil menunggu makan malam.
"Naruto-sama, makan malamnya sudah siap." salah satu pelayan di villa itu mengetuk pintu kamar mereka.
"Ngg~" yang dipanggil hanya melenguh dan kembali tidur.
"Iya, sebentar lagi kami akan kesana." ujar Hinata yang sejak tadi sudah bangun.
Hinata menyingkirkan tangan Naruto yang memeluknya. Awalnya Hinata kesal karena Naruto main peluk-peluk. Tapi dia merasa bersalah karena sudah membuat tubuh Naruto terluka jadi dia membiarkannya saja.
"Naruto, bangunlah!" Hinata membangunkan Naruto.
"Mmmm." sahutan Naruto.
"Kita sudah ditunggu semua orang." Hinata mencoba bersabar.
"Aku lelah hime~ selain itu, kau tidak melakukan ritual kita~" Naruto masih setia memejamkan matanya. Hinata paham apa yang Naruto inginkan. Tanpa banyak bantahan, Hinata menempelkan bibirnya ke bibir Naruto. Ya, hanya menempelkan.
"Baiklah. Seperti sekarang kita harus makan malam dulu." dan benar saja, Naruto langsung bangun dan turun dari ranjangnya.
"Hah~" Hinata hanya bisa menghela nafas panjang dan mengikuti langkah Naruto.
"Pengantin baru kita sudah datang." sapa Iruka sesampainya mereka di ruang makan yang merangkap sebagai dapur juga.
"Diam kau! Pergi dari sini." usir Naruto.
"Baiklah tuan muda. Selamat menikmati makan malamnya. Oya nona muda, kami mendapat perintah dari keluarga besar." Iruka sengaja menggantung kalimatnya.
"Apa itu Iruka-san?" tanya Hinata.
"Begini, selama liburan yang mengurus tuan muda adalah nona. Pelayan disini akan diliburkan." Iruka melirik Naruto yang menatapnya tajam. "Gaji mereka tetap seperti yang tuan muda Menma katakan. Selain itu, tuan muda kuning bodoh ini tidak suka sayur melainkan lebih mencintai ramen." setelah menjelaskannya, Iruka langsung keluar dari ruang makan.
"SIALAN KAU IRUKAAA!" Naruto berteriak dan Iruka yang mendengarkan hanya cekikikan.
"Heh! Apa yang kau lakukan?" belum reda amarahnya, dia melihat Hinata makan tanpa menawarkan padanya.
"Makan." Hinata kembali dingin.
"Haaah~ sudahlah." Naruto mencoba meredakan amarahnya. Dia langsung menyantap makan malamnya.
Selesai makan malam, Naruto kembali ke kamarnya sedangkan Hinata membersihkan piring kotor bekas makan malam mereka. Setelah selesai, Hinata tidak langsung ke kamar. Dia menuju ruang santai dan menonton televisi.
"Hinata, bisa minta tolong buatkan aku kopi susu?" Naruto keluar dari kamar.
Ruang santai di villa ini berada di dalam kamar mereka. Tentu saja Naruto mengetahui dimana Hinata berada. Dia yang berada di dalam kamar dapat dengan jelas bahwa pintu utama menuju kamar dan ruang santai terbuka.
"Aku bukan pembantumu." jawab Hinata tanpa melihat kearah Naruto.
"Ayolah hime. Aku sedang sibuk. Pelayan disini juga sudah dipulangkan. Hanya ada kita di dalam rumah ini. Papa tadi mengirim berkas yang harus aku selesaikan." Naruto menjelaskan dengan wajah memelas. Tanpa berbicara lagi, Hinata keluar dari ruang santai.
Sedangkan Naruto kembali ke kamar, mengambil laptopnya disana dan kembali ke ruang santai. Dia mengerjakan tugasnya disana.
Beberapa menit kemudian, Hinata masuk. Dia membawa secangkir kopi susu untuk Naruto dan segelas susu cokelat untuk dirinya sendiri. Dia langsung meletakkan pesanan Naruto di meja didepannya. Sedangkan dia, kembali sibuk dengan tontonan di TV sambil sesekali meminum susu cokelatnya.
"Hinata, kemarilah." ujar Naruto lebih tepatnya perintah tapi tak digubris oleh Hinata.
"Hinata Hyuuga, aku sedang berbicara denganmu." Naruto menaikkan nada suaranya. Hinata menatap Naruto sekilas dan kemudian beranjak dari duduknya menuju Naruto. Hinata benar-benar terkejut melihat Naruto yang serius.
"Aku baru saja mendapat email dari ayahmu. Besok dia akan mengirim berkas perusahaan yanh akan dikelola olehmu untuk ditanda tangani. Tapi, aku tidak bisa mencetaknya sekalian. Aku akan mencetaknya setelah kita kembali ke sekolah. Apa kau tidak keberatan?" tanya Naruto saat Hinata sudah berada disampingnya.
"Hn." Hinata menganggukkan kepala tanda setuju.
"Sekarang kita tidur. Sudah malam. Ayo, hime!" ajak Naruto mulai berdiri dari duduknya.
Naruto berjalan lebih dulu. Dia meninggalkan laptopnya di ruang santai. Merasa Hinata tidak mengikutinya, dia berbalik dan benar saja Hinata masih duduk di kursi. Tapi, kali ini dia menatap Naruto ketakutan. Naruto yang paham langsung menghampirinya.
"Hime, apa mereka datang lagi?" tanya Naruto berjongkok di depan Hinata. Hinata hanya menganggukkan kepalanya sambil menunduk.
"Baiklah. Kalau begitu, kita duduk disini saja." Hinata menatap Naruto. Saphire bertemu amethsyt. "Nah, bagaimana kalau aku ceritakan tentang tempat ini?" Lanjutnya.
"Iya. Tapi, boleh aku tidur dipangkuanmu?" tanya Hinata dengan wajah manisnya.
"Eh?" Naruto terkejut tapi sekarang dia sadar kalau Hinata dalam keadaan dihantui bayangan hitam. Dia sudah berjanji akan menanyakan semuanya pada Sakura dan Gaara yang sempat dimintai tolong oleh Hinata (baca chapter 12). "Tentu saja, hime." Naruto menyetujuinya.
"Emm. Aku mulai darimana yaah ceritanya." Naruto bingung mau menjelaskan darimana.
"Mulai saja dari pemilik villa ini." saran Hinata.
"Baiklah. Pertama-tama ini adalah villa pribadi milik Uzumaki lebih tepatnya Menma Uzumaki. Villa ini dirancang memang khusus untuk sepasang kekasih. Villa ini, Menma sendirilah yang merancang. Dulunya ini adalah sebuah pulau kecil. Aku hanya membiayai semua keperluan dalam pembangunannya." jelas Naruto.
"Siapa Menma itu?" tanya Hinata penasaran.
"Dia adikku, lebih tepatnya adik angkatku." jawab Naruto yang membuat Hinata mengerutkan alisnya tanda bingung.
"Iya hime, dia adik angkatku. Kejadiannya saat aku SD. Saat itu, teman-temanku bercerita tentang seorang adik. Waktu itu, aku juga ingin menginginkan seorang adik. Pulang sekolah, aku merajuk sama papa dan mama. Mereka terlihat sedih. Permintaanku tidak terjawab."
Flashback Naruto umur 10 tahun di New York
Naruto berlari memasuki rumahnya sambil menangis.
"Papa.. mama.. Naruto ingin adik. Naruto ingin punya teman bermain." ujar Naruto sambil menangis.
"Hey, Naru-kun kenapa? Apa ada yang nakal?" Kushina langsung memeluk anaknya berupaya menenangkannya.
"Naruto, bilang sama papa siapa yang membuat anak papa yang ganteng ini menangis." Minato juga mencoba menenangkan anak pertama dan satu-satunya itu.
"Naru ingin adik, pa, ma. Apa boleh?" tanya Naruto menatap Minato dan Kushina.
"Naruto kenapa ingin adik?" tanya Minato yang memandang sedih Kushina.
"Aku ingin punya teman bermain pa, apa tidak boleh?" Naruto ngotot dengan keinginannya.
"Kan ada Iruka-sensei?" Minato meyakinkan anak semata wayangnya.
"Aku tak mau. Aku mau adik yang seumuran denganku. Titik." Naruto memalingkan wajah.
"Naru-kun, sebaiknya tidur dulu yuk. Mama punya dongeng baru looh." Kushina mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Horeee! Ayo ma buruan. Nanti kalau Naru punya adik, mama juga bacain dongeng buat dia juga yaah." Naruto langsung menuntun mamanya ke kamar sedangkan Kushina hanya tersenyum sendu.
"Aku semakin gencar meminta adik. Sampai akhirnya hari ketiga semenjak permintaan pertamaku, papa dan mama mengajakku jalan-jalan. Aku menghabiskan waktuku bersama mereka seharian." Naruto melanjutkan ceritanya.
"Ne, Naru-kun. Ayo kita berlibur disekitaran wilayah sini." ajak Kushina.
"Horeee.." Naruto langsung berlari menuju mobil sport Minato.
"Pa, ma, kita naik mobil ini yaah?" tanya Naruto yang langsung mendapatkan anggukan kedua orang tuanya.
Mereka pergi ke taman hiburan. Seharian penuh, Naruto menghabiskan waktu bermainnya dengan Kushina dan Minato. Dia tidak akan menyia-nyikan kesempatan yang diberikan Kami-sama. Kesempatan yang jarang dia dapatkan karena papa dan mamanya sibuk kerja.
Ketika senja baru mereka kembali ke rumah. Tapi sebelum ke rumah, mobil sport itu melaju menuju sebuah rumah sederhana yang besar. Saat memasuki halaman rumah itu, pandangan Naruto tertuju pada seorang anak laki-laki yang lebih muda darinya. Saat mobil berhenti, Naruto segera berlari menuju ke arah anak itu.
"Hai. Kamu sendirian?" tanya Naruto sambil memasang wajah cerianya.
"..." tidak ada respon.
"Oya, kata mama kalau bertemu dengan orang baru harus memperkenalkan diri. Kenalin, namaku Naruto Uzumaki. Salam kenal. Kamu siapa?" Naruto balik tanya.
"Menma. Nii-chan?" jawab dan tanya anak laki-laki tadi yang ternyata bernama Menma.
"Apa kau ingin memanggilku nii-chan?" Naruto yang gak peka balik nanya.
"Hn." Menma menganggukkan kepala antusias.
"Hahaha kau lucu Menma. Baiklah, kalau begitu Menma ikut nii ke papa dan mama yuk." ajak Naruto.
"Eh?" Menma terkejut dengan tarikan Naruto yang membawanya ke arah panti asuhan tempat mereka berhenti tadi sekaligus tempat Menma tinggal beberapa bulan yang lalu.
"Eh Naru-kun. Siapa anak manis ini?" Kushina menyambut kedatangan anaknya.
"Mama, papa, kenalin ini adik Naruto namanya Menma." Naruto tersenyum ceria.
"Benarkah?" Kushina terkejut dengan perkataan Naruto.
"Tapi nii-chan, aku tinggal sama yuka-san?" Menma menundukkan kepalanya.
"Menma-kun, kau ingin punya kakak, bukan? Naruto-sama juga menginginkan seorang adik. Jadi, Menma-kun ikut mereka saja. Yuka disini baik-baik saja." gadis separuh baya mengelus kepala Menma dengan tersenyum.
"Sejak saat itu, Menma menjadi adikku dan bagian dari keluarga Uzumaki dan Namikaze." Naruto mengakhiri kisah pertemuannya dengan Menma. "Saat usiaku menginjak 13 tahun, mama mengatakan alasannya dan aku benar-benar menyesal telah meminta hal yang tidak bisa diberikannya." lanjut Naruto.
"Hmm. Lalu Iruka-san siapa?" Hinata kembali bertanya.
"Iruka-sensei adalah guru home schooling kami. Dia mengajarkan tentang cara mengelola perusahaan juga pelajaran layaknya anak sekolah biasa. Kau tau wanita tadi yang bernama Izumi?" tanya Naruto yang dijawab anggukan kepala oleh Hinata. "Dia itu istri dari Iruka-sensei. Mereka sudah menikah selama 7 tahun tapi belum mempunyai anak."
"Jadi, mereka menganggapmu dan Menma-kun anaknya?" timpal Hinata.
"Ya. Hey, kenapa kau memanggil Menma dengan suffix -kun sedangkan aku tidak, hmm?" Naruto protes.
"Aku mau tidur." Hinata langsung pergi ke kamar dan Naruto sangat paham betul kalau himenya itu sudah kembali bersikap dingin.
Naruto segera menyusul Hinata ke kamar mereka. Tadi saat makan malam, mereka setuju untuk berbagi kamar dan ranjang karena Naruto sedang terluka.
《Hari Kedua Liburan》
HINATA POV
Pagi-pagi sekali aku sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Sedangkan Naruto masih bergelung dengan alam mimpinya. Semalam sebelum tidur, aku membantunya mengganti perban yang lama dengan yang baru. Setelah itu kita langsung tidur. Tadi pagi pun tak ada yang mengejutkan. Aku mulai terbiasa dengan Naruto yang selalu memelukku saat tidur.
Setelah sarapan sudah siap semua, aku berjalan ke kamar untuk membangunkan si kuning bodoh ini. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku lebih banyak berbicara daripada sebelum kedatangannya ke Jepang.
Sesampai di kamar, aku langsung menuju ke jendela dimana tirainya masih tertutup. Aku membukanya dan matahari pagi langsung masuk ke dalam kamar. Aku juga membuka jendelanya agar udara pagi hari masuk. Setelah itu mematikan AC.
Sedangkan orang yang berada di atas ranjang masih terlelap dengan posisi seluruh tubuhnya tertutup selimut.
"Bangunlah, sarapan pagi sudah siap." aku berdiri di samping ranjang sambil memandanginya.
"Nggh~" hanya lenguhan yang aku dapatkan dan aku paham apa yang harus aku lakukan.
Cup~
Dengan terpaksa aku menciumnya dan kalian pasti tau apa yang terjadi selanjutnya. Tentu saja, dia menciumku balik dan setelah itu barulah kami sarapan.
"Selamat pagi tuan dan nona muda." sapa Iruka yang tiba-tiba masuk ke ruang makan.
"Hn." jawabku sambil melirik Naruto yang hanya diam saja.
"Iruka dan Izumi tinggal di sebelah villa ini. Mungkin kemarin mereka menikmati malam panas bersama." jawab Naruto cuek seolah mengerti apa yang aku pikirkan. "Cepat, makanlah!" perintah Naruto.
Aku merasa heran dengan sifat Naruto yang biasanya ceria dan urakan sekarang menjadi serius.
"Hari ini kita akan jalan-jalan. Apa kau keberatan, hime?" tanyanya sambil memandangku menunggu jawaban.
"Tapi Naruto-kun..." bantah Iruka.
"Iruka-sensei, kau tau kan kalau aku tidak menerima penolakan?" ujar Naruto memasang wajah wibawanya. Sedangkan aku hanya melongo tidak percaya kalau di depanku saat ini adalah Naruto.
"Aku selesai. Bersiaplah hime. Nee, Iruka-sensei siapkan apa yang perlu disiapkan." Naruto langsung beranjak dari ruang makan kembali masuk ke kamar.
"Haah~" Iruka menghela nafas pasrah.
"Apa dia benar-benar Naruto yang aku kenal?" tanpa sadar aku menyerukan yang aku pikirkan.
"Tentu saja nona. Naruto seperti itu jika ada yang dipikirkannya. Biasanya dia memikirkan hal yang sangat penting dalam hidupnya. Dulu juga pernah saat Menma memutuskan akan meneruskan perusahaan yang ada di London tapi Naruto sangat tidak setuju karena ia tau cita-cita Menma. Pernah juga saat pertama kali Naruto berpisah dengan para sahabatnya di Jepang dia bersikap seperti itu hampir beberapa tahun sampai dia bertemu dengan Menma dan Sasuke." jelas Iruka panjang lebar.
"Maksudmu Sasuke Uchiha?" Hinata terkejut.
"Iya. Aku denger dia baru pindah ke Jepang dan kabarnya Naruto dan Sasuke kembali sekelas seperti di New York dulu." Aku semakin terkejut dan bingung sekaligus. Aku tak mengerti kenapa harus bingung, tapi di dalam hatiku ada perasaan gundah. Perasaan yang benar-benar dituntaskan.
"Iruka-sensei, kenapa masih disini? Bukankah aku menyuruhmu untuk menyiapkan semuanya?" Naruto keluar dari kamar dengan pakaian kasualnya.
"Iya sebentar lagi Naruto." Iruka cemberut. Aku yang melihatnya hanya cekikikan saja.
"Lalu kenapa masih disini seperti ibu-ibu penggosip saja. Cepatlah!" Naruto mulai kesal dengan sifat senseinya itu.
"Aish, kau ini bawel sekali sih." Iruka langsung keluar dari villa dengan wajah mengejek sedangkan Naruto cemberut menggantikan gurunya dan hal itu membuatku langsung tertawa terbahak-bahak.
"Apa ada yang lucu, hmm." dia memanyunkan bibirnya yang membuatku semakin tak bisa menahan tawa.
"Tidak kok, hahahaha.." aku memegang perutku yang sakit karena tertawa.
"Ku bilang berhenti tertawa." Naruto mulai kesal karena aku tak mengindahkan peringatannya.
"Emmph~ hmmphh~" Naruto tanpa permisi langsung menciumku bukan hanya mencium tapi melumat. Aku terkejut bukan main.
"Nah, kalau begini kau jadi diam kan, hime." Dia langsung bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. "Sekarang bersiaplah. Aku akan menunggumu." lanjutnya.
"Izumi-san, bisa tolong bereskan bekas sarapan kami? Kami akan pergi jalan-jalan hari ini." aku mendengar Naruto berbicara dengan Izumi sebelum masuk ke kamar.
Aku masuk ke kamar dan tak mempedulikan pembicaraan Naruto dan Izumi. Aku ke almari dan melihat bahwa disana banyak sekali pakaian couple dan disana aku melihat pakaian yang sama seperti yang Naruto pakai tadi tapi versi wanita.
"Apa perlu aku memakai pakaian ini?" tanyaku pada diri sendiri.
"Pakailah. Aku tak ingin tampil beda dengan istriku." aku benar-benar terkejut saat Naruto tiba-tiba berdiri diambang pintu.
"Calon." aku mengoreksi perkataannya dan sepertinya dia tidak mempedulikan hal itu. Dia malah semakin masuk dan duduk di ranjang.
"Cepatlah! Aku bosan menunggumu." Naruto benar-benar menyebalkan.
"Keluarlah! Aku mau ganti pakaian." aku mengambil baju yang sama seperti Naruto pakai.
"Kenapa harus, ini kan kamar kita berdua." Naruto masih tetap di atas ranjang bahkan sekarang dengan merebahkan tubuhnya.
"Baiklah kalau begitu." Aku langsung pergi ke kamar mandi dengan membanting pintu.
Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan memakai dres selutut warna biru dengan lengan 3/4. Motif garis vertikal hitam putih. Sama seperti Naruto dari warna, lengan bahkan motifnya. Aku langsung menuju ke meja rias memakai bedak, lipgloss dan menyisir rambut.
"Kau sangat cantik, hime." aku terkejut saat Naruto tiba-tiba memelukku dari belakang. "Kalau kau secantik ini, aku tidak ingin keluar dari villa. Aku ingin mengurungmu di kamar dan hanya aku yang melihat wajahmu, hime." Naruto memainkan helaian rambutku.
"Sudahlah, ayo kita jalan-jalan menikmati hari ini." ajakku.
"Baiklah hime. Tapi, hari ini kau benar-benar cantik." lagi-lagi dia memujiku.
Saat ini aku dan Naruto sudah berada di atas kapal tepatnya disebuah ruangan di dalam kapal. Sepertinya dia ingin mengajakku ke suatu tempat. Selama perjalanan aku hanya diam seperti kebiasaanku dari dulu. Tapi, bedanya sekarang Naruto ikut-ikutan diam. Keadaan jadi semakin canggung.
Naruto sejak tadi sibuk dengan ponsel dan laptopnya. Aku tak tau apa yang dia lakukan. Aku beranjak ingin pergi keluar dari ruangan ini.
"Duduklah. Sebentar lagi kita sampai." Niatanku gagal karena perintah si kuning menyebalkan ini.
"Ini berkas yang harus kau tanda tangani hime. Sebelum aku print sebaiknya kau membacanya dulu. Tou-samamu yang mengirim tadi malam." Naruto menyerahkan laptopnya dan sekarang aku yang sibuk dengan laptopnya.
"Kau tunggulah disini. Aku akan keluar sebentar mengurus sesuatu." tanpa menunggu jawabanku dia langsung keluar dari ruangan ini.
"Dasar kuning menyebalkan, bakaa!" teriakku sebal.
Setelah puas berteriak, aku langsung membaca semua dokumen-dokumen yang tou-sama kirimkan. Aku begitu larut memahami semua dokumen ini. Benar-benar membuatku pusing. Tou-sama tidak mengirimiku hanya satu dokumen, tapi hampir 10 dokumen dan dalam satu dokumen banyak lembaran-lembaran tulisan yang bikin pusing. Aku melihat beberapa dokumen yang tou-sama sudah dikirim kembali. Jangan-jangan Naruto sejak kemarin sibuk mengerjakan semuanya.
Aku menscrooll ke atas dan benar saja disana tertulis Hinata putriku, maaf mengganggu liburanmu. Tou-sama mengirim beberapa dokumen yang harus kamu pelajari sebagai seorang penerus Hyuuga Corp. Jika tidak ada yang kau pahami, tanyalah pada Naruto. Dia sudah paham semua hal tentang perusahaan. Selain itu, kau akan memegang perusahaan yang ada di Jepang. Tou-sama sudah menjelaskan semua di dalam berkas yang akan kalian tanda tangani nanti.
"Sudah selesai?" aku terkejut. Sial, lagi-lagi kuning bodoh ini mengagetkanku.
"Hn." aku meletakkan laptop di meja di depanku.
"Aku mendengar teriakanmu tadi. Makasih atas pujiannya." Naruto meletakkan minuman jus jeruk di meja dan satunya di pegangnya.
"Sama-sama." aku malu bercampur kesal kenapa harus didengarkan oleh orangnya langsung.
"Hime, kita sudah sampai. Ayo kita keluar!" dia mengulurkan tangannya.
Aku hanya pasrah menerima uluran tangannya. Aku keluar dari ruangan itu dengan Naruto menggandeng tanganku.
Naruto membantuku turun dari kapal. Kapal berhenti di dermaga dengan beberapa orang yang sudah berbaris rapi, menyambut kami. Dua orang berbeda jenis menghampiri kami dan mengalungkan kalung yang terbuat dari untaian bunga.
"Ayo hime." dia menggandeng tanganku lebih erat. Aku yang bingung hanya menurut saja.
"Masuklah hime." dia membuka pintu mobil yang berada di depan kami. Aku menurut saja. Naruto langsung menuju ke sisi kemudi. Mungkin dia memang sudah merencanakan hal ini. Bahkan tidak ada yang namanya bodyguard yang mengikuti kami.
"Kita-" perkataanku langsung terpotong oleh perkataannya.
"Kita akan pergi ke tempat yang indah. Kau pasti menyukainya, hime."
"Oh." aku hanya ber'oh' ria.
Selama dalam perjalanan, kami hanya diam. Aku melihat kearah luar menikmati pemandangan yang disediakan oleh alam secara gratis dan live.
"Hime, apa kau menyukai pemandangannya?" Naruto memulai lebih dulu pembicaraan.
"Hn." aku menoleh kearahnya sambil menganggukkan kepala setelahnya kembali menatap pemandangan di luar.
"Kita akan tiba sebentar lagi. Jadi, bersiaplah untuk terkesima." ujarnya sambil tersenyum dan aku yang melihatnya kembali menganggukkan kepalaku.
Tiba-tiba Naruto memberhentikan mobilnya. Seseorang datang menyambut kami. Naruto menyerahkan kunci mobilnya.
"Hime, ayo kita kesana." lagi-lagi dia mengajakku. Kali ini aku tidak langsung menggandeng tangannya.
Aku menatap takjub pemandangan disekitar. Bagaimana tidak takjub kalau di depan kita ada sebuah tempat yang berada di tengah laut. Sepanjang jalan menuju tempat itu terpasang jalan yang terbuat dari kayu. Mungkin jembatan lebih tepatnya. Sedangkan di daratannya penuh dengan pohon kelapa yang melambai-lambai ditiup angin pagi. Lautnya benar-benar indah. Aku sangat ingin sekali berenang disana.
"Hime?" aku terkejut saat dia memanggilku.
"Apa?" tanyaku pura-pura dingin.
"Ayo kita masuk dulu. Nanti kita bisa berenang disana dan menikmati pantainya." ajaknya lagi dan kali ini aku menurut saja.
Aku menggandeng tangannya dan kembali berjalan di sampingnya. Saat melewati jembatan itu, aku bisa melihat air laut yang biru dan jernih. Semakin kita dekat ke ruangan besar yang menyerupai rumah itu, semakin jelas wisata bawah lautnya. Aku bisa melihat ikan kecil cantik yang mengelilingi terumbu karang. Aku benar-benar tak sabar untuk mengeksplornya.
Kami sudah tiba di dalam rumah besar yang aku lihat tadi. Di dalamnya semua perabotannya bernuansa laut. Aku benar-benar dibuat takjub.
"Naruto-sama, kamarnya sudah kami siapkan." seseorang menyapa kami.
"Baiklah." jawab Naruto.
"Kamar?" aku memberhentikan langkahku saat dia akan kembali melangkah.
"Hime, menurutlah. Aku akan jelaskan semuanya nanti. Ayo sayang~" lagi-lagi aku hanya pasrah.
Kami memasuki sebuah kamar. Naruto langsung sibuk dengan ponselnya sedangkan aku hanya duduk manis di ranjang. Naruto menoleh padaku dan keluar dari kamar. Aku yang bosan menuju ke kamar mandi. Aku benar-benar tak habis pikir, dibathup sudah ditaburi bunga mawar. Aku jadi malas dan kembali ke kamar.
"Sudah selesai?" tanya Naruto yang langsung membuatku terlonjak kaget.
"Bisa tidak berhenti membuatku terkejut?" sewotku.
"Tidak bisa." jawabnya lalu berjalan menjauhiku dan menuju ke ranjang.
"Kemarilah hime!" ajaknya sambil menepuk sisi kanannya.
"Tidak."
"Aku akan menjelaskan semuanya." ujarnya dengan wajah penuh percaya dirinya dan kakiku melangkah mendekati sisi kanannya dan duduk.
Bruuk~
Tanpa seijinku dia merebahkan kepalanya di atas pahaku setelah aku duduk di sampingnya.
"Ini adalah sebuah pulau yang akan aku kelola nanti. Pulau ini menjadi wisata untuk sepasang kekasih atau suami istri yang baru menikah. Makanya semua yang ada disini aku desain seromantis mungkin." Naruto mulai menjelaskannya.
"Hn." hanya itu responku.
"Aku punya impian untuk mengelola pulau ini bersama istriku kelak. Membawanya kesini, menikmati fasilitas yang aku desain sendiri." dia memejamkan matanya.
"Ooh." aku hanya menjawab seperti biasanya.
"Kamar ini memang kamar khusus aku buat sendiri. Lihatlah ke jendela." aku hanya diam saja tak menjawab tapi menoleh ke arah jendela.
Aku baru saja sadar bahwa pemandangan di luar dapat dilihat dari kamar ini. Bahkan pegunungan, taman bunga, orang yang sedang berjemur di pantai semua dapat dilihat hanya dari kamar ini tanpa perlu keluar kamar.
"Selain itu, tepat dibawah lantai kamar ini, banyak terumbu karang yang indah beserta ikannya. Kau bisa membukanya dengan menekan tombol di dekat kamar mandi itu." aku mendengarkan semua penjelasannya dan mengikuti instruksinya dan benar saja, aku melihat sebuah tombol disana yang menyerupai cat kayu.
"Kau tau hime, kau adalah wanita pertama yang aku bawa kesini. Kaulah yang akan melahirkan anak-anakku. Kau juga yang akan menjadi istriku. Kaulah wanita yang akan memuaskanku di ranjang dan aku akan membuatmu selalu menyebut namaku saat di ranjang."
Blush
Penjelasan Naruto membuatku malu. Aku memalingkan wajah agar semburat di pipiku tidak diketahuinya.
"Hime~" aku menoleh saat dia memanggilku.
Tanpa sadar, wajah kami saling mendekat. Nafas kami berbaur menjadi satu. Hidung kami saling bersentuhan. Bibir kami akan bersentuhan sebelum-
Braak!
Pintu kamar dibuka tanpa permisi.
"Naru- ups, maaf aku mengganggu."
Kami langsung memisahkan diri. Naruto kembali duduk di ranjang. Aku melihat gadis tadi masih berdiri di ambang pintu melihat kami dengan tersenyum.
END HINATA POV
.
.
#_#
.
.
%TBC%
Gimana, NaruHinanya udah dapat belum. Udah mulai bisa tebak dong masa lalu Hinata kan? Udah Hana buka sedikit demi sedikit.
E..eeh? Itu ada yang datang loh. Hayooww siapa yang udah ganggu kissunya NaruHina hehehe
Ayoo, yang bisa tebak langsung PM Hana. Hana akan kasih hadiah looh.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H. Hana dan keluarga besar mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.
R
E
V
I
E
W
