Normal POV

Lucy Heartfilia : Jellal ada di kompleks blok E. Kau ingin menemuinya, bukan?

Mendapati pesan tersebut, Natsu yang memasukkan handphone-nya kembali melihat layar kaca. Tapi bukankah terlalu mendadak? Mereka ada janjian pukul sepuluh. Apa Lucy berniat membatalkan? Dia pun sulit dihubungi, tiga panggilan tak terjawab, disuruh menitip pesan lewat rekaman suara. Ya, mungkin sedang berganti pakaian, berdandan lalu memilih sepatu di antara puluhan koleksi. Wanita memang lama!

"Hoi Lucy jangan lama-lama. Aku bisa kesal menunggumu." Canda Natsu yang diakhiri tawa kecil. Habis ini pasti langsung ngebut bak balapan liar di jalan. Kalau dia pakai pensil alis, semoga tidak miring kiri-kanan!

"Baiklah. Sekarang aku harus apa?"

Tek… tek… tek….

Denting jam terdengar melambat. Tiap dua menit sekali Natsu memperhatikan arloji-nya. Mengetuk-ketuk kaki diakhiri menghela nafas pendek, bosan. Lucy benar, dia berangkat terlalu pagi, sedangkan wanita menghabiskan sekitar tiga jam untuk berdandan, pengalaman itu didapatkan dari Lisanna setahun lalu. Para pedagang mulai membuka kios mereka. Beraneka jajanan siap dibuat dengan wangi yang menggoda hidung.

"Makan satu kotak takoyaki bukan masalah." Lagi pula dekat pintu masuk. Natsu melangkahkah kaki riang. Dia paling bersemangat soal wisata kuliner dan sejenisnya.

"Sedang menunggu pacar?" Goda si penjual mengambil plastik kecil berisi potongan gurita. Menuangkan adonan sampai mengembang sendiri, siap dibalik. Natsu mendadak salah tingkah mendengarnya.

"Bu-bukan, kok! Hanya teman."

"Hahaha…. Masa muda memang menyenangkan. Pedas atau tidak?"

"Saus-nya pakai yang bayak! Dua kotak." Sederhana saja, Natsu pikir Lucy harus mencobanya setelah datang kemari. Kelihatan enak juga berukuran besar, pasti kenyang.

Dua kotak berisikan masing-masing empat dibawa ke bangku taman. Natsu melahap nikmat sambil meniup-niup, terkadang sekali masuk hingga berteriak, "panas!", mengundang perhatian pengunjung yang tertawa kecil. Jelas tidak mengenyangkan, toh sebatas pencuci mulut guna menunda lapar. Tanpa terasa setengah jam berlalu. Namun wanita pirang tak kunjung menampakkan batang hidung. Sementara lalu-lalang orang tambah ramai.

"Jam sepuluh tepat. Mungkin Lucy sakit perut dan terlambat." Terkaan absurd yang mengusir gelisahnya. Natsu balik ke depan. Bau takoyaki tercium hangat, semoga dia cepat datang sebelum kuhabiskan.

Tek… tek… tek….

"Sebaiknya ku telepon."

Tut… tut… tut….

Maaf. Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan tinggalkan pesan suara.

"Lucy aku membelikanmu sekotak takoyaki. Cepatlah datang, nanti kuhabiskan lho!"

Tek… tek… tek….

"Aneh. Sekarang jam sebelas siang, mana mungkin Lucy mengaret." Sedikit demi sedikit Natsu hafal kebiasaannya. Jika ada urusan mendesak pasti dihubungi saat itu juga. Mungkin benar, sengaja dibatalkan supaya dia dapat menemui Jellal.

"Mau bagaimana lagi."

Takoyaki yang sudah dingin Natsu bawa ke kompleks E, dia berjanji tidak akan memakannya, porsi ini khusus untuk Lucy. Sekarang terdapat satu masalah, rumah Jellal di bagian mana dari ratusan bangun? Kebetulan lelaki berambut jabrik datang selewat, mengenakan seragam berlogo sakura mekar, SMA Crocus!

"Maaf menganggu. Aku mau tanya, kau tau rumah Jellal Fernandes? Anaknya seperti ini." Memperlihatkan selembar foto, kepala jabrik itu mengangguk paham. Dia tau sesuatu. Natsu yakin.

"Tadi pagi anak itu terseok-seok ke sekolah. Menghadiri upacara kelulusan SMP. Rumahnya dua jengkal dariku, di sana. Omong-omong ada perlu apa, orang asing jauh-jauh mencari keluarga Fernandes?"

"Aku punya urusan dengannya, penting. Terima kasih!"

"Kusarankan berhati-hati. Temanku sampai mengacir setelah dimarahi bapaknya." Sadis benar! Batin Natsu menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan pemikiran konyol yang mustahil.

Hanya berkunjung, tidak datang lamaran sambil membawa rombongan keluarga! Natsu mengetuk pintu tiga kali berturut-turut. Tampaklah pria berbadan besar di belakang papan persegi panjang. Dia dipersilakan masuk ke ruang tamu, ditanyai apa tujuannya sampai kemari. Singkat, padat, jelas, memberitau ingin menemui Jellal karena sebuah urusan. Lagi-lagi mengundang perhatian, seperti Lucy ketika mengantar masuk.

"Urusan apa? Kau kurang rinci menjelaskan."

"I-intinya penting. Berhubungan dengan insiden setahun lalu."

"Jadi, kamu teman wanita perak yang memukul anakku? Tidak perlu disampaikan padanya. Cukup katakan padaku."

"Jellal harus mendengarnya sendiri. Dia pasti menderita dihajar habis-habisan." Atmosfer menegang tajam. Natsu yang gelisah harap-harap cemas supaya diperbolehkan.

"Tentu iya! Jellal masuk rumah sakit dan harus dirawat intensif satu bulan penuh! Kau pikir biaya yang dihabiskan sedikit? Permintaan maaf tidak cukup untuk membayarnya!"

"Saya tidak punya uang. Namun akan kupastikan temanku mau mengganti biaya berobat."

"Pembicaraan selesai. Keluar sekarang."

"Tunggu sebentar. Biarkan saya mengatakan beberapa hal kepada Jellal. Dia harus mendengarnya." Bersikukuh bertahan. Natsu mati-matian menyakinkan agar bertemu, satu menit pun cukup.

"KELUAR!"

BLAMMM!

Diusir secara paksa, Natsu mengelus bokongnya yang mencium aspal. Lelaki tadi menonton sambil menyesap minuman bersoda, bisa jadi dia berada di sana sepuluh menit berlalu. Pantang menyerah sebelum berhasil, pintu hampir diketuk lagi jika pemuda itu tidak menahan, mengajak mampir sebentar ke rumah beda dua jengkal. Dapat dibilang hanya buang-buang waktu. Terlebih waktunya terbatas di negara tetangga.

"Santai saja. Kau pulang naik kereta sore, 'kan?" Tanyanya menyediakan teh olong. Natsu kehausan sampai ditengak sekali habis. Ia belum minum setelah menghabiskan sekotak takoyaki.

"Ya, benar. Kupikir lebih cepat lebih baik. Aku harus mencari seseorang."

"Kalimat itu tidak berguna kalau menghadapinya. Ayah Jellal bekerja sebagai rentenir. Untung kau keluar dalam keadaan selamat."

"Kenapa rumit begini?! Oh iya, kau mengenal wanita pirang di kompleks sebelah? Rumah kalian hanya dipisahkan belokan." Untung dia ingat. Mencari Lucy tidaklah sulit jika berjalan sesuai rencana.

"Maksudmu Lucy Heartfilia? Kami mengenal sejak SMP, bahkan dia pernah menembakku." Terkaget-kaget, Natsu beranjak bangkit menunjuk ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Cobra? Anak ini abadi dalam karya!

"Ka…. Kamu mirip dengan tokoh di cerita air mata yang ditolak!" Tercengang di tempatnya. Cobra gagal memahami ucapan tersebut.

"Aku dimasukkan ke dalam karyanya begitu?"

"Iya. Hanya saja menggunakan nama samaran. Di mana Lucy?"

"Keluarganya ada urusan mendadak. Kenapa mencari dia? Kalian mau kencan?" Acara yang cowok dan cewek jalan berdua itu? Tersipu malu Natsu mengibaskan tangan cepat, salah paham!

"Cepat atau lambat kalian pasti pacaran. Siapa namamu?"

"Natsu Dragneel. Kau Cobra, ya? Lucy pernah menceritakanmu di facebook. Katanya dia menembakmu dan ditolak. Malah digosipkan sudah punya pacar." Realita yang kejam, terkesan dipermainkan pula.

"Sebenarnya aku tidak pacaran dengan siapa-siapa, tapi bukan berniat membohongi atau apa, hanya gosip dari pembully. Sejak kejadian itu penyesalan datang. Ingin minta maaf pun sulit, Lucy semakin menjauh dan cuek jika kami berpapasan."

"Saat dia pulang minta maaf dengan benar. Aku tidak suka kau menutupi kebenaran darinya."

"Kunjungilah rumah Jellal sekali lagi. Ayahnya keluar membeli bahan makanan. Waktumu hanya satu jam, mengerti?"

"Yosh! Terima kasih atas bantuanmu. Ingat, harus minta maaf! Kalau tidak akan kurontokkan rambut jabrikmu itu!" Diakhiri melambaikan tangan. Natsu melangkah mantap bersiap mengetuk pintu.

Tok… tok… tok….

Tidak dikunci, Natsu menyelonong masuk sambil bilang permisi. Ruang tamu dan dapur terlihat sepi. Tinggal lantai dua yang belum dicek kepastiannya. Ia menaiki tangga perlahan-lahan. Kayu tua itu menimbulkan bunyi keriat-keirut sewaktu diinjak, sangat menganggu. Satu ruangan nampak disinari cahaya televisi. Seseorang meringkuk ditutupi selimut putih. Gelap tanpa satu pun lampu menerangi.

"Jellal….?" Panggil Natsu sedikit ragu. Kira-kira siapa yang bersembunyi di balik sana? Seharusnya dia sadar, rumah ini hanya dihuni dua orang saja.

"Siapa?!" Selimut ia sibak kasar. Jellal tengah memegang pisau entah dapat darimana. Mengancungkannya ke hadapan Natsu yang mengangat tangan, tenang!

"Lupa perkenalan! Namaku Natsu Dragneel. Salah satu pembacamu. Apa kabar, Jellal?"

PRANNG!

"Na… Natsu…. –san? Bagaimana mungkin kau tau alamat rumahku?! Kamu teman kak Lucy?" Mereka sama-sama memiliki pertanyaan. Pucuk salamnya mengiyakan takzim. Sekarang tinggal bertanya, "kapan dia pulang?".

"Kak Lucy ada urusan mendadak setelah mengantarku. Nanti malam baru pulang." Seakan tau apa yang Natsu pikirkan. Jellal menjawab sebaik dan sedetail mungkin. Dua pertanyaan habis total dalam sekali jawab.

"Sayang sekali. Padahal kami sudah berjanji ke festival bersama-sama. Ada yang ingin kukatakan, dengarkanlah."

"Aku minta maaf atas insiden setahun lalu. Lisanna, wanita yang berambut silver, di-dia tidak sengaja! Sulit menjelaskannya. Akan kuganti biaya pengobatanmu. Tolong maafkan temanku!"

"Apa Natsu-san menyukainya?" Mengangkat kepala. Ia menatap heran remaja tanggung yang setahun lebih muda itu. Maksud Jellal semacam perasaan cinta? Bukan kagum?

"Jika tidak, untuk apa sampai bersusah payah mencariku dan memohon maaf? Masalah itu sudah lewat. Aku benci ambil pusing, walau perlakuannya nyaris membuatku tinggal kelas. Dirawat setengah tahun, melewati ujian semester, sangat berat dilewati."

"Sekali lagi aku minta maaf! Sebenarnya dia orang baik."

"Bukan masalah besar. Pulanglah, sudah mau sore."

"A-ah itu, kau berhenti menulis? Atau mungkin berencana membuat novel?"

"Lupakan saja, Natsu-san. Ayah melarangku menulis. Katanya membuang-buang waktu, tidak berguna. Kak Lucy baik, dia sampai membelaku meski kena usir. Tolong beritau aku sangat berterima kasih."

"Uhm! Bye-bye."

Pernyataan Jellal terngiang-ngiang di ingatannya. Benar juga, jika aku membenci Lisanna kenapa mengemis maaf segala? Lucy sendiri sekadar teman baik di dunia maya, gumam Natsu menimbang-nimbang, antara iya dan tidak, bimbang dan heran, memang benar begitu? Sedang asyik-asyik berpikir. Dering handphone berbunyi memecah konsentrasi, palingan ibu mengirim SMS karena khawatir.

Satu pesan masuk dari massanger.

Lucy Heartfilia : Maaf Natsu. Aku ada urusan mendadak dan kesulitan menghubungimu, kritis sinyal!

Natsu Dragneel : Tidak apa-apa, kok. Kamu pulang malam hari, ya?

Lucy Heartfilia : Acara makan-makan di ibu kota. Aku bosan jadinya mengirim pesan. Kebetulan sudah lima bar penuh :-)

Natsu Dragneel : Baguslah! Kamu dengar pesan suara dariku? Takoyakinya batal, ya. Nanti keburu basi sebelum malam.

Lucy Heartfilia : Makan saja. Kapan-kapan kita beli di festival musim panas.

Natsu Dragneel : Nanti kita menyaksikan kembang api, oke? Mampirlah ke Magnolia. Jangan aku terus….

Lucy Heartfilia : Iya, iya. Kau bertemu Jellal sesuai suruhanku, 'kan? Urusan kalian sudah selesai?

Natsu Dragneel : Berkatmu! Aku meminta maaf atas perbuatan Lisanna setahun lalu. Syukurlah Jellal mau mengerti. Bagaimanapun dia wajib bertanggung jawan. Anak itu sampai melewatkan ujian semester selama enam bulan penuh.

Lucy Heartfilia : Kejamnya…. Tetapi Jellal berhasil lulus dengan nilai terbaik. Dia hebat!

Natsu Dragneel : Oh iya. Jellal berkata aku menyukai Lisanna, katanya, "jika tidak, untuk apa sampai bersusah payah mencariku dan memohon maaf?". Mungkin dia benar. Tak sekalipum hatiku membencinya, berarti salah mengartikan!

Lucy Heartfilia : Lagi pula kalian mau tunangan. Jangan dibatalkan, oke? Beritaukan, ya, tanggalnya, hehehe…. :-p

Natsu Dragneel : Berdoa saja. Mungkin tabu mengatakan ini, kalau sampai menikah kamu datang ya? Aku ingin restu darimu.

Lucy Heartfilia : Memang ibumu mau mengundangku?

Natsu Dragneel : Kamu, 'kan, teman baik. Pasti boleh! Aku tidak menganggu acaramu?

Lucy Heartfilia : Sudah dulu. Aku dipanggil ibu. Nanti malam kita lanjutkan. Online jam delapan, ya!

Natsu Dragneel : Siap boss.

"Ternyata kau baik-baik saja, Lucy."

-ll-

"Maaf Natsu. Kupikir mustahil…."

Bersambung….

Balasan review :

Aimi Uchiha Drageel : Hahaha, kalo aku udah kuliahan mah susah update fanfic malah. Berarti kamu masih SMA ya. Gak apa-apa kok, udah biasa dianggap anak kuliahan. Oke deh thx ya udah review.

Fic of Delusion : Sayangnya belum waktunya Lucy mati hahaha. Thx ya udah review.

Rin : Udah ada kok. In fanfic yang paling banyak bagian NaLu dibanding fanfic aku yang laen, ehehee. Chat dan lain-lain udah termasuk kok. Harusnya sih ini spesial, sayang Lucy ketabrak truk. Thx ya udah review.