Chapter 13 : Press Conference
Aya narita : Oke, saya jawab di sini ya..^^
1. Apa Haneul bakal masuk route Jumin? Jawabannya : tidak. Sebenarnya alasannya berhubungan sama alasan saya ngadain 2 MC utama di sini (blondie = Suzuya, brunette = Haneul). Kenapa 2 MC utama? Yang pertama, karena saya gak mau MC di sini terlalu jadi perhatian (semua chara suka ke MC) dan bikin MC jadi sejenis Marie Sue. Kedua, saya pingin memunculkan kesan 707 yang 'suka sama MC gak peduli MC di route apa' tanpa bikin MC-nya 'jahat'. Inilah alasan kenapa saya munculin Suzuya di detik terakhir. Selain buat menjaga imej MC Haneul (yang berakhir sama 707), Suzuya dibuat jadi penyeimbang dengan jadi pasangan Jumin. Jadi bisa dikata Haneul tidak mungkin di route Jumin karena Jumin udah sama Suzuya. Haneul sendiri ada di route Zen sekarang, jadi setelah ini dia langsung ke route 7 tanpa ke Jumin lebih dulu.
2. Soal Mint Eye ada Saeran? Ya. Saeran bakal keluar di route Haneul X 707. V sama Rika keluar juga di route ini. Kalau route MC X Saeran saya belum kepikir sampai sekarang.. ^^
Salam miawww~.. :3
...
Judul fic kali ini udah ngerangkum isinya.
EHEM!
Dalam bayangan saya, Male! MC aka Lee Min Hyuk itu sosoknya kayak oppa Ji Chang Wook yang di dramafevercom-news-how-to-think-like-ji-chang-think-.
Yaah.. Saya gak pernah nonton drama Korea. Kebetulan saya liat foto itu di google, dan... gitu deh.
Male! MC Im Junsu yang bodyguard, saya bayangin sosoknya kayak Hwang Chansung 2PM.
Yah, itu saja kata pengantar di chapter (terpanjang) ini.
Kredit tertuju pada :
1. K Will ft Sweet Sorrow - You (Youtube by Kookie Cane)
2. Google, buat semua informasi mengenai barista, espresso, dan kopi.
3. Parodi Amoushka dari Amoushka, Byundai dari Hyundai, Dhanel dari Chanel, Xarine Gilson dari Carine Gilson, Barry Winston dari Harry Winston, Lermes dari Hermes, Artier dari Cartier.
Terima kasih buat dukungan kalian semua.. ^^
NB :
1. Disarankan baca fic ini kalau bener-bener lagi gak ada kerjaan. X(
2. Tulisan italic (rata kiri-kanan) = flashback
3. Tulisan italic (tengah) = SMS
.. c.h.e.e.r.s.s.s.s..
09.00
Pagi itu cukup menyibukkan hampir semua anggota RFA. Hari itu penting bagi dua anggota 'primer', dua anggota 'sekunder', dan tiga anggota 'pendukung'.
Han Jumin berada di kediaman, sibuk menata diri sebaik mungkin. Tujuh menit sudah dirinya di hadapan cermin, berkutat dengan dasi dark purple pilihan Nyonya Shim. Ia tidak bisa mengelak bahwa kegiatan ini adalah hal paling menyebalkan dalam hidupnya. Namun pagi itu, ada hal lain yang turut campur. Matanya melihat pantulan diri di cermin, sementara pikirannya mengulas percakapan dini hari kemarin bersama Asisten Kang.
…
"Selamat malam, Tuan Han. Anda membutuhkan saya?"
"Ya. Baru saja aku membuka paket pemberianmu tadi siang . Siapa yang memberikannya?"
"Kurir kantor yang mengantarnya ke meja saya saat anda istirahat makan siang. Ia menyerahkannya seraya mengantar kiriman lain untuk para karyawan."
"… Begitu, ya?"
"Memangnya ada apa, Tuan Han?"
"Aku ingin tahu siapa pengirim paket ini sebenarnya. Pengirim sebenarnya, maksudku."
"Jika saya tidak salah, saya melihat nama Jinwoo Ltd. tertera di sana. Mungkin perusahaan itu pengirimnya?"
"Ya, memang. Namun setelah mengetahui isinya, aku yakin pengirimnya bukan mereka."
"Bukan dari mereka? Maksud anda?"
…
"Tuan Han?"
Panggilan Nyonya Shim dari ambang pintu memecah keheningan. Pikiran Jumin buyar dengan kedua matanya terarah pada pantulan Nyonya Shim di cermin. Wanita itu membungkuk sebentar lalu mempersilahkan seseorang di belakangnya masuk ke kamar sang pemuda korporat.
Semua kalutnya mereda ketika Suzuya melangkah sedikit demi sedikit masuk ke kamarnya. Penampilan perempuan birasial itu membuat Jumin membatu. Nyonya Shim melakukan make over hebat pada perempuan tersebut dengan menggunakan sentuhan Eropa. Nigrat Inggris tepatnya. Ia mengenakan dress vintage minimalis o-neck full lengan di atas lutut berbahan cashmere premium yang sewarna dengan dasi Jumin. Pada bagian kiri dadanya terpasang net corsace bunga berwarna hitam. Untuk aksesorisnya, Suzu menggunakan anting mutiara Amoushka serta cartwheel hat sewarna gaun berdaun besar. Di bagian pangkal tabungnya terdapat pita sekaligus aksen bunga berwarna hitam. Tidak lupa pumps dan satchel bag yang juga berwarna hitam. Untuk make up, Nyonya Shim menggunakan pink pastel untuk memulas pipi dan sedikit warna lebih tua di bagian bibir. Kedua matanya dibuat sedikit smoky dengan tujuan mempertegas. Sedikit contouring juga mewarnai wajah Suzuya sehingga ia terlihat tidak se-asia yang seharusnya.
Hampir saja Jumin tidak mengenali tunangannya. Ketika dua mata biru itu menatapnya, senyum manis sekaligus puas tersungging di bibir pria ini. "Mari berangkat sekarang, tuan putri?"
Situasi hampir serupa terjadi di kediaman Zen. Minus peremuan di sana, Zen masih mematut dirinya di depan cermin. Penampilannya tidak jauh berbeda dari biasa. Hanya saja cravat putih dipilihnya kali ini untuk tampilan lebih klasik.
Tidak ada yang cacat dari Zen, namun pikirannya terus membuat ia merasa rendah diri. Entah mengapa. Mungkin karena hari ini? Sebab semua media Seoul, Echo Girl, penggemar, hingga haters akan ada di sana. Entah sudah berapa kali ia menghafal naskahnya untuk konferensi penting ini. Namun di setiap kali dirinya belatih, semua kata-kata di otak seperti meleleh begitu saja.
...
"Konferensi persnya hari ini. Melihat cuaca yang terlihat sangat bagus, seharusnya semua akan baik-baik saja. Aku yakin karena kau akan ada di sana. Haneul, kau adalah malaikat keberuntunganku."
...
Suasana hektik selanjutnya dapat ditemui di tempat perjanjian. Ballroom mewah salah satu hotel kebanggaan C & R Group sudah dipadati beberapa media yang secara sengaja diundang untuk acara ini.
Jaehee selaku penerima tamu sekaligus koordinator acara sudah berada di sana sejak beberapa jam yang lalu. Tidur lima belas menit semalam tidak lekas membuatnya cepat marah sekalipun ia sebenarnya sangat lelah. Jaehee bersikap profesional seperti biasa. 'Demi Zen' merupakan motivasinya untuk tetap bertahan. Lagi, dua kata itu sanggup membuatnya bersabar saat menghadapi Glam Choi dan Sarah yang tengah berdiri di hadapannya untuk konfirmasi kehadiran.
"Ah, kau asisten Jumin, bukan? Di mana dia?" tanya Glam Choi di detik ia menyadari bahwa Jaehee-lah 'penyambutnya' di sana.
"Tuan Han masih dalam perjalanan."
"Oh. Jadi kau asistennya?" Sarah memperhatikan Jaehee dari atas hingga ke bawah, lalu kembali lagi ke atas.
Jaehee terganggu karenanya. "Maaf, apa ada yang salah dengan penampilan saya?"
"Oh. Tidak. Hanya saja… kau tidak seperti asisten pada umumnya. Maksudku, kau terlalu… biasa. Tipikal wanita pekerja keras," jawab Sarah yang diikuti dengan tawa kecil dari bibirnya. Glam Choi pun bereaksi demikian.
Jaehee tidak bodoh. Ia mengerti sinyal penghinaan itu. 'Demi Zen, Jaehee. Demi Zen…,' ujarnya terus dalam hati.
"Saya memang tidak punya intensi lain kecuali bekerja sebaik mungkin di bawah pimpinan Tuan Han."
"Ya. Aku tahu," balas Sarah. "Kau pun akan menambahkan namaku setelah kami menikah nanti."
Mereka berdua berlalu. Sambutan meriah datang dari para awak media. Selain karena profesi Glam Choi, penampilan mereka berdua hari itu layaknya bintang di red carpet. 'Cukup' GLAMor untuk menarik perhatian.
Asisten Kang menghembuskan nafas panjang. Dua wanita itu adalah hal terburuk yang ia temui di penjelangan siang ini. 'Apa maksud Tuan Han mengundang mereka berdua datang kemari?'
Tiba-tiba seorang bodyguard datang menghampiri Jaehee dan membisikkan informasi. Dengan sigap, Nona Kang segera beranjak dari sana. Beberapa langkahnya membawa Jaehee ke hadapan Haneul yang masuk melalui pintu belakang. Ini sengaja dilakukan agar Haneul tidak mendapat perhatian media di pintu depan.
"Haneul? Kau baik-baik saja sampai ke sini?"
"Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana persiapannya?"
Jaehee menuntun Haneul pergi dari sana. Cepat, seolah Haneul harus segera diamankan. "Semuanya baik. Untuk sekarang, hanya tinggal menunggu semuanya hadir."
Mereka berdua sampai di ruangan belakang panggung. "Kau tunggu di sini ya, Haneul. Di dalam tersedia monitor untuk melihat situasi di ballroom. Kau dapat melihat semuanya dari sini."
Haneul mengangguk. "Ya. Aku mengerti."
Satu tangan Jaehee berada di bahu Haneul. Ia bermaksud agar tidak ada salah paham di sini. "Ini semua demi kebaikanmu dan Zen. Aku tidak akan bicara apa-apa lagi soal hubungan kalian, tapi kurasa inilah yang terbaik untuk saat ini."
Haneul mengangguk lagi.
"Kepala Asisten Kang?" Walkie talkie Jaehee bersuara.
"Ya?"
"Direktur Han sedang menuju lokasi."
"Baiklah. Saya akan segera ke sana."
PIP
Mata Jaehee kembali fokus pada Haneul. "Haneul, maaf. Aku harus pergi menyambut Direktur Han di depan."
"Tidak apa-apa, Jaehee. Selamat bekerja."
"Ya, terima kasih. Aku pergi dulu, ya?" Selesai menepuk bahu Haneul, Kang meninggalkan tempat itu menuju tempatnya semula.
Haneul sendiri sempat merenung sejenak sebelum memasuki ruangan cukup besar berdinding hitam rujukan Jaehee. Tanpa disangka, Seven berada di sana : duduk di lantai, di antara kabel-kabel berserakan serta berbagai perangkat lain yang diperlukan guna acara utama hari ini.
"Ho. Hai, Haneul?" sapanya riang.
"Hai, Seven."
"Kau sudah sarapan? Pihak hotel menyiapkan sandwich. Kau bisa mengambil sepuasnya di meja," ujarnya sembari menunjuk ke arah yang dimaksud. "Duduklah di sana. Aku masih sibuk mengurusi ini semua," lanjut pemuda itu dengan jemarinya beraksi di atas keyboard laptop.
"Oke." Haneul menurut dan duduk di kursi kayu dekat meja. Untuk membuat dirinya tetap 'sibuk', Haneul mengambil satu sandwich dan memakannya dengan lembut. Sekalipun sandwich itu lezat, ia tetap merasa perlu untuk menampilkan gaya makan yang pantas.
Tidak seperti Seven.
Redhead itu menaruh sandwich kudapannya di lantai begitu saja. Sesekali ia melahap sandwich itu dan kembali menaruhnya di lantai.
Haneul menahan sedikit rasa 'takjub'. Dalam hati ia bertanya bagaimana pemuda itu baik-baik saja setelah menyantap sandwich lapis kuman tersebut. Bukan maksud menyangsikan standar kebersihan hotel besar ini, tapi kejeniusan Seven seharusnya bereaksi pada sesuatu yang jorok.
"Haneul?" Seven memecah suasana, sekaligus pikiran Haneul.
"Ah, ya?"
Pemuda itu masih menatap monitor. Sembari melahap habis sandwich berkuman. "Kau bisa menjalankan slide show, kan?"
Haneul meneguk ludahnya sebelum menjawab. Cukup mual untuk melanjutkan makan. "… Ya."
"Bagus. Aku ingin kau menggantikanku sebentar nanti. Tidak apa-apa, kan? Aku hanya akan keluar sejenak. Lima menit."
"… Uhm… Baiklah."
"Yosh. GREAAAT~..!"
Mata Haneul masih tertuju pada Seven yang sibuk. "Seven, apa kau butuh bantuan?"
"Uhm… Ya."
"Apa?"
"Bisa tolong ambilkan sandwich? Aku lapaar~..." X'(
"Oh.. Oke." Tidak ada piring kertas di sekitar sana. Hanya ada tissue. Alhasil, Park menggunakan tissue tersebut sebagai alas pelapis untuk sandwich yang diminta Seven.
"Ini?" ujar Haneul ketika berlutut menyerahkan makanan termaksud.
"Yap. Simpan saja di lantai," ujar Seven dengan mata masih tertuju ke monitor dan jemari di atas papan alfabet.
"Uh.. Baiklah." Haneul menurut. Ia menyimpan sandwich berlapis tissue itu di lantai. "Ada lagi?"
"Mmm… Saat ini tidak ada. Thank you, Haneul."
"Ya," balas Haneul yang segera berdiri dan berbalik untuk kembali ke kursinya. Belum lama berjalan, ia berbalik dan memandangi Seven yang sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Tidak lama, perempuan ini memutuskan untuk kembali berlutut di dekat Seven. Dengan lembut ia meraih sandwich beralas tissue di sana. Ia mengatur sedemikian rupa agar hanya setengah badan sandwich yang berbalut tissue dan dipegangnya. Sementara bagian yang tidak terbalut ia dekatkan ke bibir Seven.
Mata pemuda di sana mendelik heran pada perempuan polos tersebut. "… Ini apa?"
"Kau bilang kau lapar."
Seven melihat ke sandwich itu sekali, lalu kembali ke Haneul. "Ya. Simpan saja di lantai."
Lawan bicaranya menggeleng. "Tanganmu sedang sibuk, bukan? Lagipula, lebih higienis juga jika aku menyuapimu seperti ini."
Beberapa detik Seven terdiam heran. Sambutan dari Haneul berupa alisnya yang diangkat. Gesturnya meyakinkan Seven bahwa itu bukan perkara 'mahal'.
"Uhm.. Terima kasih. Maaf merepotkan." Seven menggigit satu suap dan ia kembali bekerja. "Kalau kau pegal, simpan saja di lantai," lanjutnya.
"Bukan masalah."
Bagian VVIP sudah terisi lengkap. Pada bagian eksklusif ini terlihat Direktur Han yang duduk semeja bersama Glam Choi dan Sarah. Tidak jauh dari mereka, sosok Echo Girl kerap sibuk melayani para wartawan guna berkomentar perihal konferensi pers ini. Sedikit drama sesegukan menjadi bumbu penyedapnya. Chae Yoora selaku sang manajer juga ada di sana. Duduk di samping Echo Girl, ia tidak bicara banyak kecuali meneguk teh hitam.
Sesi coffee break telah selesai.
Semua peserta konferensi pers diperkenankan hadir untuk memenuhi kursi di atas panggung. Flash mengiringi mereka tanpa henti. Para reporter pun tidak kalah bersaing mengudarakan berbagai macam pertanyaan.
Di luar hotel pun tidak jauh berbeda. Layar besar disediakan di sana untuk para penggemar sekaligus haters –milik Zen. Kedua kubu ini bersaing ricuh tatkala Zen ditampilkan sedang berjalan menuju kursinya. Teriakan demi teriakan, hingga usaha menembus pertahanan para pengawal. Bukan hal yang perlu dikhawatirkan mengingat bagaimana terlalu perhitungannya Jumin pada aspek keamanan.
Kembali ke dalam..
Para peserta konferensi pers sudah berada di kursi masing-masing. Dari kiri ke kanan : seorang pengacara, Jumin Han, Suzuya, sebuah kursi kosong, Zen, dan seorang pengacara –lagi. Para pengawal pun berdiri di bagian kanan dan kiri meja, serta di belakang para peserta. Jaehee berdiri di samping sebuah layar besar yang terletak di belakang meja konpres. Ia pun didampingi seorang pengawal.
Suasana masih ricuh ketika Glam Choi, Sarah, dan Direktur Han memandang tidak percaya ke arah panggung.
"Pak Direktur, bukankah itu perempuan yang ada di tempat Jumin? K-Kenapa ia bisa ada di sana?" tanya Sarah.
"Benar. Saat mengundang kami berdua ke kantornya kemarin, ia bilang akan menyampaikan sebuah kabar gembira. Kabar gembira itu mengenai pernikahan Sarah dan Jumin, kan? Ia sudah menyetujui rencana kita kan, sayang~..?" Glam Choi menambahi.
Kedua manik Direktur Han belum berkedip. Ia tidak menjawab sekian pertanyaan tersebut. Hembusan nafasnya panjang dan berat.
"PRIA BRENGSEK…! DASAR PEMERKOSA…! KAU HIDUP DENGAN MEMPERALAT ORANG LAIN..! KAU ORANG JAHAAAT…!" Teriakan Echo Girl yang disertai nada bergetar dan air mata perlu disaluti karena begitu berhasil teruntuk mereka yang tidak tahu apapun. Bagi yang tahu seperti Yoora, itu semakin memuakkan. Beberapa jurnalis di dekat mereka pun semakin memanas. Mereka yang tadinya berniat bertanya banyak hal kepada Jumin berubah alih kepada Zen.
Bagi Zen dan Suzuya sendiri hanya ada rasa khawatir serta gugup. Kedua mata biru itu sempat menangkap dua orang wanita dan satu orang pria di area VVIP tengah memandanginya sinis. Topi yang ia pakai cukup membantu untuk tidak terlalu jelas melihat ke arah sana. Seakan mengerti, Jumin Han menggenggam erat tangan kanan Suzuya yang berada di bawah meja. Cukup menyampaikan pesan hatinya agar gadis tersebut tidak perlu merasa takut.
Suzu boleh berpikir bahwa Jumin baik-baik saja. Padahal di dalam hati dan pikirannya, sesuatu yang janggal masih mengganggu pria bermarga Han tersebut.
Sedangkan Zen, matanya menerawang sekeliling. Secara tidak langsung, ia bermaksud menyapa seluruh pengunjung. Entah halusinasi atau apa, semua ekspresi dan kicauan para reporter terasa seperti penghakiman sepihak. Ia mulai pesimis perihal hasil menghafal dialognya.
Dari balik panggung, Haneul dan Seven dapat menyaksikan banyaknya massa yang bergerumun melalui monitor. Matanya menatap lebar, takjub akan suasana ballroom saat itu. Mereka duduk berdampingan, siap di depan puluhan tuas dan tombol serta keyboard perangkat sistem.
"Kau sudah siap, Haneul? Tugas kita adalah menunggu aba-aba sekarang."
"Tes.. 1 2 3. Harap dimohon tenang, semuanya. Kami harapkan kerja samanya untuk tetap tenang agar acara ini berjalan lancar. Kami mohonkan pada para tamu undangan untuk duduk di tempatnya masing-masing. Bagi para fotografer dan cameraman, anda diperkenankan mengambil gambar selama konferensi berlangsung namun diharapkan tidak melewati batas yang telah kami tentukan." Aba-aba Jaehee mengantarkan rasa patuh pada para undangan. Ia melanjutkan. "Terima kasih, saya sampaikan. Dengan ini, konferensi pers akan segera kami mulai. Saya persilahkan kepada Tuan Han Jumin, selaku pembicara pertama untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Saya persilahkan."
Tepuk tangan riuh sekaligus cipratan flash memenuhi ballroom.
Dari tempatnya, Jumin bicara. "Terima kasih, untuk Nona Kang atas pembukaannya. Alasan saya menggelar konferensi pers ini adalah untuk meluruskan berbagai hal yang terjadi belakangan ini kepada semua orang. Saya akan mulai menjelaskannya dari awal. Jika anda mulai merasa bosan, stand cocktail dan makanan ringan terbaik tersedia di samping kanan ruangan ini.
Saya tidak pernah menanggapi serius rumor maupun gosip mengenai diri saya sendiri, maupun keluarga. Saya lebih memilih untuk memfokuskan diri pada pekerjaan. Bagi saya, deadline dan pencapaian target jauh lebih penting daripada apapun. Termasuk hubungan sosial jika tidak ada kaitannya dengan bisnis.
Seiring berjalannya waktu, saya tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan apatis pada orang lain hingga akhirnya saya bertemu dengan seseorang. Ia menyadarkan saya bahwa ada banyak sekali orang tulus yang mencintai saya dan karenanya, patutnya saya membalas perasaan orang-orang tersebut dengan setara. Ia mampu membuat saya berpikir bahwa kekayaan sebanyak apapun tidak akan berarti jika tidak mampu membahagiakan orang yang saya cintai. Ia mengajari saya bagaimana harus bersikap lembut kepada orang lain, bahkan terhadap orang yang bekerja untuk kita. Ia pun mengajari saya untuk menikmati hal-hal menyenangkan, juga berpikir dari sudut pandang berbeda. Sudah tidak terhitung berapa banyak hal baik yang ia lakukan untuk saya.
Saya berubah sedikit demi sedikit karenanya. Saya merasa seimbang dengan mengerti apa itu empati, tenggang rasa, dan mencintai. Ini adalah hal baik yang membuat saya merasa lebih matang sebagai manusia. Wanita ini sanggup melembutkan hati saya yang keras. Kedekatan kami memang baru terhitung bulanan, namun saya sudah tidak ragu untuk membawanya ke jenjang pernikahan. Dia adalah satu-satunya wanita terbaik yang pernah saya temui."
Glam Choi, Sarah, dan Direktur Han memandang skeptis.
"Di mana anda bertemu dengannya?" tanya salah seorang reporter.
"Awalnya kami bertemu saat sama-sama menempuh pendidikan di luar negeri. Lalu kami bertemu lagi ketika saya melakukan business trip ke Swiss. Saat itulah semuanya dimulai. Kami menjalani hubungan jarak jauh selama ini. Beberapa minggu yang lalu, saya melamarnya untuk menjadi istriku."
"Jadi, rumor mengenai pernikahan anda memang benar?" tanya jurnalis lain.
"Ya. Itu memang benar. Hanya saja, wanita itu bukanlah Sarah, seperti yang banyak media beritakan. Wanita yang telah kulamar untuk menjadi istriku adalah wanita yang duduk di sampingku ini, Suzuya."
"Apa?"
"Suzuya?"
Para audiens media tergagu sejenak sebelum suara bisikan kembali memenuhi ruangan.
"AMBIL FOTONYA!" seru seseorang. Flash kembali ramai di ruangan.
Glam Choi masih terpaku ketika Sarah sampai pada puncak amarah. Ia berdiri dan berjalan untuk menghampiri panggung di mana Jumin berada. Untungnya, dua bodyguard berhasil menahan wanita tersebut sebelum mencapai panggung. Beberapa jurnalis dan paparazzi teralih padanya namun ia tidak peduli. Jumin harus dihardik sekuat mungkin dan Suzuya harus dijatuhkan, pikirnya. "JUMIN, APA YANG KAU KATAKAN?! AKU SUDAH MEMBERI SEGALANYA PADAMU..! APA-APAAN INI?!"
Jumin menjawab tenang dari tempatnya. "Menarik sekali. Bagaimana caranya kau memberikan sesuatu pada pria yang bahkan tidak tahu nomor ponselmu?"
Jawaban itu cukup membingungkan banyak media. "… Dia tidak punya nomor ponselnya?"
Pria itu melanjutkan. "Oh. Karena kau sudah terlanjur berada di sini, bagaimana jika sekalian saja aku memperkenalmu pada semua tamu media yang hadir? Para hadirin sekalian, wanita yang tengah bicara padaku inilah yang bernama Sarah. Sarah Choi, lengkapnya. Wanita inilah yang menyebarkan rumor soal pernikahanku dengannya dan memanipulasi ayahku agar perusahaan kami membeli perusahaan sekarat miliknya."
Sarah Choi sedikit mereda karena rasa malu yang memenuhinya.
Han kembali bicara. "Saya yakin anda semua sudah mengetahui hubungan antara Direktur Han dengan Glam Choi. Sarah Choi adalah nama lain dari Choi Sungjoo, yakni adik kandung dari Glam Choi yang dikabarkan telah meninggal dunia beberapa tahun silam. Kenyataannya, ia masih hidup dan berdiri di depan kalian semua."
Mata Glam Choi melebar luar biasa. "… I-ini tidak mungkin."
Sementara itu, Direktur Han tidak begitu terkejut soal ini. Jumin telah mendiskusikan hal ini dengannya beberapa hari lalu. Namun bukan berarti ia percaya penuh pada anaknya. Jujur, ia masih menyangsikan soal bukti temuan Jumin. Mengapa pula Glam Choi repot-repot merekayasa ini semua, batinnya.
"Pengacara Nam akan melanjutkan dan menjelaskan sisanya. Sebagai referensi fakta, layar di belakang kami akan menampilkan semua buktinya. Silahkan, Pengacara Nam?" Jumin mempersilahkan.
Di belakang panggung…
"Seven, ini saatnya, kan?" Haneul memastikan pada Seven yang tengah sibuk sendiri di belakang dirinya.
"Ya, kau bisa mengoperasikannya, kan?" balas Seven.
Haneul menoleh ke belakang. Ia heran menangkap Seven yang telah berpakaian berbeda. "… Seven? Kau ganti baju?"
"Oh. Aku tinggal sebentar dulu ya, Haneul? Sebentar saja~. Aku akan segera kembali. Tataa~," ujar namja itu seraya meninggalkan ruangan dengan membawa kamera.
Haneul tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia segera kembali pada peralatan kontrol. Ia punya peran penting yang harus dijalani.
Pria bersetelan rapi di samping Jumin angkat bicara. "Selamat siang, para hadirin sekalian. Klien saya, -Tuan Han Jumin- sudah menceritakan semuanya pada saya, selaku pengacaranya. Langsung saja. Ny Glam Choi secara intensif mengusulkan perjodohan antara Nona Sarah Choi alias Choi Sungjoo yang merupakan adik kandungnya dengan Tuan Han Jumin kepada pasangannya, Tuan Direktur Han Jungsik, selaku ayah dari Tuan Han Jumin. Bisnis Nona Sarah yang sempat disinggung sebelumnya memang ada dan merupakan pemberian dari mantan suami Nyonya Choi. Berdasarkan data, biaya usaha perusahaan ini memiliki jumlah yang besarnya sangat tidak masuk akal sejak tanggal awal berdiri. Setelah ditelusuri, alasan membengkaknya biaya tersebut dikarenakan pemenuhan kebutuhan pribadi luksuri dari Nona Choi sendiri.
Sebelumnya, Nona Choi melakukan operasi plastik besar pasca kecelakaannya beberapa tahun lalu. Untuk menghindari media, dibuatlah cerita bahwa ia telah meninggal dunia. Selama ini, ia sempat tinggal di luar negeri sembari menjalani prosedur lanjutan bedah estetik. Nona Choi kembali ke Korea beberapa tahun silam saat Nyonya Choi telah menikah dengan suami pertamanya, Dong Gyumin.
Semua informasi ini sudah dikonfirmasi kebenarannya oleh beliau. Beliau juga menambahkan bahwa ia-lah yang membiayai seluruh prosedur operasi plastik serta pendirian perusahaan bernama Sugar Round untuk Nona Choi. Semua kebutuhan Nona Choi pun dipenuhi oleh beliau selama dirinya berada di Korea. Sugar Round sendiri masih dikelola oleh Tuan Dong walaupun nama kepemilikkannya adalah Nona Choi Sarah.
Menurut keterangan seorang mantan karyawan, Nona Sarah jarang sekali ada di tempat. Setiap kali dirinya ke kantor, ia selalu meminta dana guna kepentingan tender yang jumlahnya sangat besar. Perusahaan utama Tuan Dong-lah yang terus menyokong sehingga Sugar Round tidak pernah ditemukan rugi. Ketika bisnis Tuan Dong jatuh, Nyonya Choi menuntut cerai dan selanjutnya seperti yang sudah kalian ketahui.
Tuan Dong telah resmi menghentikan segala pembiayaan atas nama Sugar Round. Selain itu, kami pun sudah menemukan bukti bahwa adanya masalah pada pembayaran kartu kredit dari Nona Choi untuk masalah gaya hidupnya. Kiranya inilah yang memotivasi Nyonya Choi untuk segera menikahkan adiknya dengan penerus utama C & R International Group. "
Para reporter tidak sungkan berlomba mengajukan berbagai pertanyaan. Sementara itu, Jumin menegok ke arah Jaehee dan memberikannya sebuah anggukan. Jaehee membalasnya dengan anggukan mengerti. Menggunakan walkie talkie di tangannya, Jaehee menginstruksi pada penunggu di ruang kontrol. "Luciel, keluarkan bukti suaranya."
Haneul yang mendengar itu berinisiatif menjawab. "Baiklah."
Jawaban Haneul mengantar Jaehee kembali bicara pada audiens. "Para hadirin sekalian, saya mohon ketenangannya. Sebagai tambahan, kami akan menyampaikan bukti terakhir yang berupa rekaman suara. Saya persilahkan."
Audiens bersiap, menciptakan keheningan. Rekaman percakapan dari audio pun terdengar.
"Selamat siang, Nyonya Glam. Oh.. Anda bersama Nona Sarah juga?"
"Selamat siang, Pak (BEEP). Anda mau pesan apa?"
"Confit de canard?"
"Tentu. Pelayan?"
"Baiklah, Nyonya dan Nona Choi. Apa ada hal lain yang dapat saya bantu?"
"Ya. Bagaimana dengan tulisan soal bagaimana seluruh keluarga Han sangat mengagumi Sarah?"
"Oh, tentu. Materi anda atau kreasi saya?"
"Haa~.. tentu saja kreasimu. Aku bahkan tidak kenal satupun anggota keluarga si tua bangka itu. Kecuali putra pertamanya yang sombong, tentu saja."
"Dengan senang hati, Nyonya Glam. Ada lagi?"
"Uhmm.. Kau bisa menulis bagaimana aku sangat mencintai si tua bangka itu dengan tulus. Katakan bagaimana istri-istrinya terdahulu memanfaatkannya demi Dhanel atau Xarine Gilson. Tulis bagaimana aku sangat memperhatikan kesehatannya, pekerjaannya, dan bagaimana kita akan menghabiskan waktu seumur hidup nanti di Roma. Jika ia tidak bangkrut begitu saja, hahaha. Oh~.. Dan bahkan aku memperkenalkan 'murid terbaikku' untuk dijodohkan dengan anaknya. Tulis juga soal penantiannya memiliki menantu seperti Sarah dan anak perempuan semanis putriku, Loretta Choi."
"Itu mudah, Nyonya Glam. Nona Sarah, apa ada yang mau kau sampaikan?"
"Uhm… Entahlah. Honey moon ke Eropa, mungkin? Aku tidak bisa berpikir apapun sejak melihat koleksi terbaru Barry Winston pagi ini~! Oh. Jurnalis (BEEP), tuliskan bahwa Jumin akan membelikanku kalung tersebut untuk dipakai saat pernikahan nanti..!"
"Apa dia benar akan melakukannya?"
"Hmm… jika tidak, masih ada Direktur Han, kan? Kak Glam akan memintanya untuk membelikan kalung tersebut untukku, kan~..?"
"Ahahaha. Itu mudah, Sarah."
"Wow. Anda berdua adalah dua saudari yang begitu jahat, ya?"
"Jurnalis (BEEP), ia terlalu konyol. Sangat mata keranjang. Pikirnya ia masih dapat menarik perhatian semua wanita. Kau tahu? Para wanita -apapun kelas ekonominya- hanya akan melihat dirinya sebagai tambang emas. Cinta? Tidak ada gunanya. Cinta tidak dapat membeli Lermes."
"Well, itu mengingatkan saya akan Park Gyumin. Apa anda tahu bagaimana kabarnya?"
"Astaga, Jurnalis (BEEP). Begitu ia bangkrut dan harus menjual semua usaha serta propertinya, aku segera menuntut cerai saat itu juga! Ia bahkan menjual Artier-ku untuk membayar gaji karyawannya..! Dengan Han Jungsik, itu tidak akan terjadi. Kecuali jika ia bangkut seperti Park si pecundang."
Rekaman suara berakhir. Hadirin media berbisik tajam sembari melirik ke arah Sarah dan area VVIP.
Jumin kembali bicara. "Itu adalah bukti terakhir dari kami. Dengan demikian, konferensi pers dari saya telah berakhir dan akan dilanjutkan dengan konferensi pers dari Zen. Kami sudah menyiapkan printout semua barang bukti tersebut untuk bahan tulis anda sekalian. Anda dapat mengambilnya selepas konferensi pers ini berakhir. Mohon untuk tidak mempercayai bukti apapun selain yang disediakan oleh pihak C & R. Kami pun akan mengajukan tuntutan atas semua rumor palsu pada pihak Glam Choi dan Sarah."
Di mejanya, Direktur Han terlihat gusar. "… Glam, apa ini semua benar?"
"… D-Dia mau menuntutku?" Aktris di sana dalam keadaan shock.
"AKU TANYA PADAMU, APAKAH ITU SEMUA BENAR?!" Direktur Han berdiri dari tempat duduknya. Ia bahkan sempat menggebrak meja selagi menatap Glam Choi tidak percaya. "APA ITU JUGA BOHONG KETIKA KAU BILANG INGIN MENIKAH DENGANKU?"
"Itu.. Tidak.. Aku.. tidak, bukan begitu.."
Sarah masih berdiri di tempatnya. Ia menatap Jumin penuh dengan amarah. Apalagi kepada Suzuya. "BERANI-BERANINYA KAU MENYEBARKAN SEMUA INI KE MEDIA..! AKU JUGA AKAN MENUNTUTMU ATAS PELANGGARAN PRIVASI!"
"Maka aku sarankan untuk segera pergi meninggalkan tempat ini. Sebelum kau semakin malu."
"Awas saja. Jumin, AKU TIDAK MEMBIARKANMU BEGITU SAJA..!"
"Jika begitu, sampai jumpa di pengadilan."
Beberapa reporter menghampiri Sarah yang masih mengatur nafas sabar. Mereka tidak sungkan untuk membanjirinya dengan sejumlah pertanyaan dan flash. "Sarah, apa pendapatmu? Apa yang kau rasakan saat ini?"
Sarah tidak memberikan komentar. Ia segera pergi meninggalkan ruangan itu sembari menutup wajah. Para jurnalis berbondong-bondong mengikutinya hingga sampai di ambang pintu.
"Bodyguard Im, ayahku terlihat lelah. Tolong bawa dirinya ke kamar untuk beristirahat. Katakan padanya aku ingin makan malam dengannya," titah Jumin melalui alat komunikasi di telinganya.
Mendengar itu, Im Junsu segera mengajak Direktur Han untuk beranjak dari sana. Cukup alot percakapan antara sang direktur dengan sang aktris yang defensif. Dalam keadaan masih gusar, beliau menuruti saran bodyguardnya tersebut. Bersama Junsu, ia dan beberapa bodyguard lain pergi meninggalkan ruangan. Glam Choi turut mengikutinya guna memohon seraya memelas.
Pasangan SuzuMin masih mendapat perhatian di atas panggung. Puluhan flash terarah pada mereka selagi beberapa wartawan mengajukan pertanyaan pada pengacara Jumin.
"Senyumlah, sayang. Kita menang besar hari ini," bisik Jumin ke telinga kekasihnya.
"Kau yakin ini tidak berlebihan?"
"Tidak. Orang-orang seperti Glam Choi dan Sarah akan terus berkelit hingga kapanpun. Ini bukan apa-apa."
"Bisa perlihatkan cincin anda berdua?" Seorang wartawan berseru pada pasangan ini untuk mengambil foto.
"Tentu."
Suzu dan Jumin masing-masing mengangkat satu telapak tangan mereka, memperlihatkan cincin indah berkilau yang bersarang di kedua jari manis. Pasangan ini terlihat begitu bahagia dan nyaman satu sama lain. Inilah yang membuat para jurnalis percaya bahwa Suzu dan Jumin adalah sepasang kekasih.
Di gemerlap flash itu, mata elang Jumin menangkap sosok familiar yang cukup menyita perhatiannya.
Rambut merah, kacamata besar, topi baret motif Skandinavia, dan jas coklat milo : Seven. Ia membaur di kerumunan pers, melayangkan flash pada SuzuMin seperti yang lain.
Atau hanya pada Suzuya tepatnya.
Ego seorang Jumin 'tersentuh'. Pria alfa itu tanpa ragu memiringkan topi Suzuya ke arah sebaliknya. Topi itu tidak lagi menghalanginya untuk mengecup pelipis kanan perempuan tersebut. Agar semakin meyakinkan, ia turut memeluk erat bahu Suzuya yang masih terkejut.
Pers semakin girang. Mereka semakin gencar menyerang Jumin dengan flash dan sahutan yang ramai. Berbeda dengan Seven yang justru menurunkan kameranya. Pers boleh bicara soal 'panen'. Namun bagi Seven, itu merupakan cara Jumin untuk 'mengusir'. Dengan langkah berat, ia kembali ke backstage.
Haneul masih di tempatnya. Bibir merah muda marshmallow itu mengembang, bersyukur karena akhir dari konferensi pers om korporat berakhir baik. Hatinya pun turut berharap agar hasil konpers Zen berakhir seperti ini. Bahkan lebih baik!
Saking fokusnya pada layar, Haneul tidak menyadari Seven yang baru saja kembali dengan perasaan hampa. Hati namja itu masih tidak rela.
Keriuhan semakin mereda. 'Dessert' yang dijanjikan pada konferensi pers hari ini akan segera dimulai.
"Para hadirin sekalian, agenda kami selanjutnya adalah konferensi pers dari Zen. Seperti yang anda semua ketahui, Zen adalah seorang aktor musikal yang sedang hangat dibicarakan publik akhir-akhir ini. Sebagai bentuk solidaritas sesama anggota organisasi amal, kami merasa perlu untuk menyampaikan semua yang kami tahu guna membersihkan nama baik anggota kami. Pada akhirnya, kami serahkan semuanya kembali pada anda sekalian untuk mempercayainya atau tidak. Untuk Zen, waktu dan tempat dipersilahkan."
Inilah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh para jurnalis. Bisikan muncul di sana-sini. Penggemar dan pembenci di luar sana lebih ricuh daripada sebelumnya. Haters, mereka lebih agresif meneriakkan kata-kata kasar dan mencoba menerobos masuk. Para pengawal yang diturunkan pun semakin banyak. Nyaris dua kali lipat.
"Terima kasih, Jaehee. Ehem." Zen berdeham, menarik nafas, dan menghembuskannya teratur. Ia berusaha tampil setenang mungkin. "Selamat siang, semuanya."
Haneul di backstage pun ikut gugup. Dari layar, ia dapat melihat bagaimana was-wasnya Zen kala itu. Seven sendiri kini kembali duduk di samping Haneul. Outfitnya pun sudah kembali seperti biasa. Sedangkan imej 707nya belum kembali 100%.
"… Saat kecil, aku melarikan diri dari rumah. Memang terdengar konyol, tapi aku merasa perlu untuk menjelaskannya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bicara pada kedua orang tuaku. Mereka tidak pernah mendukung niat beraktingku sejak remaja. Aku hidup mandiri sejak saat itu, pindah dari satu teater ke teater lainnya agar bisa tetap hidup. Aku tidak menyangkal bahwa fisikku juga berperan di dalam dunia teater, tetapi saat di atas panggung, aku dapat mengekspresikan diriku melalui akting. Melihat keadaan saat ini, aku rasa para fans yang masih mendukungku adalah mereka yang tahu perjuanganku dan siapa diriku sebenarnya. Aku juga dapat memilah, mana fans yang benar-benar menyukai kemampuanku dengan fans yang sekedar menyukai fisikku. Aku bersyukur untuk keduanya. Echo Girl, kurasa ia hanya sekedar melihat penampilan fisikku saja."
"Apa kau baru saja bilang bahwa Echo Girl adalah penggemarmu?" tanya salah seorang wartawan dengan seru.
"… Mungkin sekarang tidak. Tapi sebelumnya : iya. Tepatnya, sebelum semua rumor mengenai diriku dan dirinya beredar. Uhm.. bisa ditampilkan di layar untuk semua buktinya."
Kalimat Zen bagaikan aba-aba. Jemari Haneul segera menekan tombol guna membuktikan pernyataan aktor di panggung. Setiap slide menampilkan screen cap Tripter milik Kyungju beberapa tahun silam hingga yang beberapa hari lalu. Tiga akun dengan perbedaan nama dan foto, namun cara penulisan dan IP address yang serupa. Inti dari semua tampilan screen cap itu adalah bagaimana sang penyanyi muda menggilai Zen dalam cara 'tertanda'. Terlalu mengerikan untuk seorang artis berimej innocent seperti Echo Girl.
Para media sangat memburu, seolah lupa bahwa Echo Girl pun ada di sana. Gadis itu memandang dalam ketidakpercayaan disertai keringat dingin.
"Zen, jika ini semua benar, lantas mengapa Echo Girl menuduhmu dengan tuduhan kekerasan?" tanya seorang perwakilan Asosiasi Reporter Profesional.
"Kita berdua terlibat dalam satu proyek. Seharusnya kami bertemu untuk pertama kali pada Kamis minggu ini. Beberapa hari yang lalu ia datang ke apartemenku. Awalnya kupikir ia hendak mendiskusikan proyek ini. Memang benar, tapi ia pun merencanakan semua ini hanya agar dapat dekat denganku."
"Anda mengatakan seolah Echo Girl yang menjebak anda di sini. Apa ada buktinya?"
Zen meneguk ludah sebelum kembali bicara. "Ada."
Dengan itu, Jaehee kembali membuka suaranya. "Dimohonkan kepada Nona Chae Yoora untuk naik ke atas panggung."
Seolah sihir, semua audiens –termasuk Echo Girl sendiri- memalingkan pandangan mereka ke arah tertuju. Dalam waktu yang berjalan lambat itu, Yoora memantapkan diri sebelum beranjak dari kursi. Ditemani dua bodyguard yang sedari tadi berada di kawasan VVIP, Yoora terus berjalan menuju panggung hingga akhirnya duduk di kursi kosong samping Zen.
"Terima kasih," ucap Zen pada perempuan yang baru saja duduk. Bonus senyum menawan.
Chae Yoora membalasnya dengan anggukan singkat, lalu bersiap bicara. "Selamat siang. Saya Chae Yoora, eks manajer Echo Girl terhitung mulai detik ini. Saya berada di sini untuk memberikan keterangan sejujur mungkin terkait yang saya ketahui. Pada Echo Girl, saya mohon maaf sebelumnya karena melakukan ini."
Banjir pertanyaan. 'Apa Zen berkata benar', 'apa yang membuat anda –Chae Yoora- mengatakan demikian', 'ada hubungan apa antara Yoora dengan Zen', 'apakah Echo Girl benar-benar berbohong,' dan seterusnya. Puluhan pertanyaan bertumpuk menyerupai bola kericuhan. Semuanya dijawab oleh pernyataan Yoora dalam satu kali jalan.
"Semuanya, saya akan sampaikan keterangan saya. Apa yang Zen katakan adalah kejadian yang sebenarnya. Zen-oppa dan mantan bos saya terlibat satu proyek TV Movie yang akan dimulai dalam beberapa minggu. Proyek ini merupakan usulan dari Echo Girl sendiri kepada pihak manajemen. Ini murni keinginan mantan bos saya untuk bersanding personal dengan Zen.
Perlu saya ceritakan sedikit. Saya dan Echo Girl pertama kali bertemu di fanmeeting Zen-oppa. Kami berdua menjadi admin di salah satu fansite selama beberapa tahun. Itu terjadi sebelum Echo Girl menjadi penyanyi. Yang ingin saya tegaskan di sini adalah, Echo Girl adalah fans oppa sejak awal."
"Lalu bagaimana dengan statement Echo Girl yang mengatakan bahwa ia dan Zen memiliki hubungan khusus?"
"Itu tidak benar. Ia dan Zen bertemu untuk pertama kalinya pada Kamis minggu lalu. Semua cerita seperti pelecehan seksual, penganiayaan, itu semua bohong."
"Bagaimana dengan memar di tangan Echo Girl?"
"Memar itu terjadi beberapa hari sebelumnya. Seorang fans di Singapura menarik tangannya ketika Echo Girl selesai melakukan konser. Itu alasannya mengapa ia kerap menggunakan baju lengan panjang akhir-akhir ini."
"Apa yang membuat anda berpaling membela Zen?"
"Karena saya tahu oppa tidak bersalah. Saya adalah penggemarnya sejak awal. Saya tahu bagaimana perjuangannya selama berada di dunia entertainment. Melihatnya diperlakukan untuk hal yang sama sekali tidak ia lakukan membuat saya merasa harus melakukan sesuatu. Ada bukti kuat lain yang dapat saya perlihatkan, yaitu…" Perkataannya terhenti tatkala Zen menggenggam salah satu telapak tangannya di bawah meja. Manik Yoora menatap heran Zen yang menggeleng kecil. Isyarat, serta pencegahan agar Yoora tidak melanjutkan kata-kata maupun niat.
"Tch. Padahal di sini bagian sensasionalnya," gumam Jumin.
"Yaitu apa, Nona Chae?"
Yoora kembali pada kenyataan. "Uhm.. Echo Girl memiliki banyak sekali poster Zen di salah satu kamar apartemennya."
"Zen, ini adalah konferensi pers di mana kau melawan Echo Girl, penyanyi terkenal. Jika suatu saat nanti keadaan berbalik, karir dan kehidupanmu akan jadi risikonya. Bagaimana pendapatmu?"
"Sejujurnya, hidup sebagai aktor memang bukan hal yang mudah. Aku harus sebaik mungkin menjaga persepsi orang lain, bahkan harus menutup kehidupan pribadiku. Masalah keluarga, rekam pendidikan, temperamen yang rendah. Aku harus menyembunyikan itu semua. Juga ada pikiran untuk tetap single demi fans juga. Tapi… selalu ada kemungkinan bahwa semua hal itu akan terbongkar kapan saja. Insiden Echo Girl ini membuatku berpikir. Aku dapat tetap diam, mengubah nama, dan berganti profesi, tapi aku selalu ingin jujur dan apa adanya.
Bagiku, akting bukan sekedar pekerjaan. Ini adalah aku, hidupku. Jika hidupku penuh kebohongan, maka menurutku tidak baik. Aku sampai di tahap ini karena akting dan penampilan fisik, tapi aku juga sampai di tahap seorang aktor yang dapat menginspirasi orang lain."
"Semua hanyalah rekayasa Echo Girl semata. Itu yang hendak kau sampaikan?"
"Aku bersumpah. Aku tidak sedikitpun menyentuh Echo Girl. Semua hal yang ia ungkapkan ke media adalah bohong. Ini kejadian yang sebenarnya terjadi."
Jaehee kembali bicara saat Jumin memberikan isyarat. "Dengan demikian konferensi pers ini berakhir. Dimohon bagi para pembicara untuk kembali ke belakang panggung. Selanjutnya, bagi para hadirin perwakilan media, diperbolehkan mengantri di aula timur untuk mengambil semua print out bukti dari dua konferensi pers hari ini. Bagi para pengacara pun, silahkan menuju aula tersebut untuk membantu rekan-rekan media di sini. Saya ingatkan sekali lagi, mohon untuk tidak mempercayai bukti apapun selain yang telah diberikan oleh pihak kami. Terima kasih karena sudah bersedia hadir hari ini."
Layaknya ikan-ikan di laut lepas, para wartawan sibuk kesana-kemari mengumpulkan semua yang bisa didapatkan. Echo Girl tidak lolos dari banyak kejaran wartawan yang menghampirinya. Tanpa Yoora, ia terus berjalan melewati kerumunan padat yang terus menemaninya hingga ke lapangan parkir. Sejumlah wartawan menyerah ketika mobil yang ditumpanginya melaju begitu saja.
Di aula timur, masing-masing pengacara dari pihak Jumin dan Zen sibuk melaksanakan tugas. Selain membagikan sejumlah printout dan melegalkannya, mereka pun memberikan sejumlah keterangan lebih lanjut mengenai masalah dua klien di dalam. Tentu atas persetujuan dari Zen dan Jumin sebelumnya.
Di luar, massa anti Zen sedikit berkurang. Para fans setia tetap menunggu untuk dapat bertemu oppa pujaan. Yoora pun ada di antara mereka. Kali ini senyumnya begitu lepas. Begitu bebas karena dirinya tidak lagi bergantung pada Echo Girl. Jumin pun sudah menyiapkan pengacara dan bodyguard untuknya. Hanya sebagai antisipasi agar saksi ini tetap aman.
Jaehee, Jumin, Suzuya, dan Zen kini berada di penthouse hotel. Gurat kelegaan terpancar dari wajah dua sejoli di sana. Jaehee ikut senang menyaksikan atasannya dapat tersenyum seperti sekarang. Ini pertanda bahwa Jumin tidak akan lagi datang-pulang kantor seenaknya dan membuat semua pekerjaan tertunda. Seharusnya.
"… Hei, di mana Haneul?" tanya Zen melihat sekeliling.
"Mungkin masih di ruang kontrol bersama Seven. Aku sudah mengajaknya untuk kemari tadi," jawab Jaehee.
"HAH?! DIA BERSAMA SI ANEH ITU?! Aku akan segera menyusulnya." Zen segera turun dari sofa dan keluar dari ruangan.
"Suzuya?" Suara itu membuat satu-satunya pirang di sana menoleh untuk mendapatkan orbs abu kharismatik. "Aku akan mengurus beberapa hal bersama Asisten Kang. Beristirahatlah. Nyonya Shim akan datang nanti sore untuk membantumu bersiap. Aku akan menjemputmu setelahnya untuk makan malam bersama ayah. Kau juga harus memikirkan bridemaids-mu, bukan?"
TING
Lift sampai di lantai tujuan. Ketika pintunya terbuka…
"SELAMAT, OPPAAA~…!"
Puluhan fans berkumpul di depan lift tersebut. Semuanya kompak menyelamati Zen dengan wajah berbinar-binar. Bunga, hadiah, boneka, banner, semua tanda cinta ada di sana.
Zen terkejut bukan main. Dalam arti baik, tentunya. "Ah, sama-sama. Ahahaha. Terima kasih, ya."
"Oppa, apa rencanamu selanjutnya?" tanya salah satu di antara mereka.
Tanpa Zen sadari, Haneul sempat 'menunjukkan' dirinya di dekat sana. Ia baru saja keluar dari lorong untuk menuju lift dengan seperangkat barang di kedua tangan. Namun gadis itu kembali ke dalam lorong begitu dirinya melihat kerumunan untuk Zen. Ia bersembunyi : tidak mau mengganggu, tidak mau para fans itu menyadari bahwa ia ada di sana. Bagaimanapun juga, skandal antara dirinya dengan Zen masih belum selesai. Terima kasih pada –berita sampahnya- Echo Girl, yang mengalihkan skandal mereka berdua. Para fans itu baru saja lega dengan selesainya kasus Echo Girl. Jangan sampai dirinya mengembalikan ketegangan di antara fans saat ini.
Zen masih berbincang akrab dengan para fansnya ketika Seven -yang tangannya pun tidak kalah repotnya- masuk ke lorong di mana Haneul berada. Ia sempat heran mendapati Haneul berada di sana seperti tikus. Ketika ia mendengar suara hyung-nya disertai suara-suara tinggi para remaja putri, ia mengerti. Ia mengerti maksud Haneul bersikap demikian. Sama seperti dirinya beberapa jam lalu, Haneul enggan mengacaukan keharmonisan.
…
"Haneul, ayo kita perbaiki kencan ke-2 kita. Aku akan menunggumu di basement, oke?"
…
Senja.
Dunking Donuts adalah nama yang tercetus dari bibir Zen sebagai destinasi kencan kali ini. Insting profesional mendorong dirinya untuk melakukan sedikit riset mengenai cairan kafein, yang mana akan dirinya iklankan nanti di bawah naungan Han Jumin.
Duduk berhadapan, Haneul dan Zen menikmati kelegaan rasa bebas. Walau dirinya masih belum seberjaya Jumin, semapan Seven, sestabil Jaehee, maupun seprospek Yoosung, Zen merasa bahwa ia berhak untuk memperjuangkan kebahagiaannya. Dan merayakannya.
"Kau pasti mengalami saat-saat buruk kemarin?"
"Uhm.. Tidak seburuk yang kau alami, Zen."
"Yah, tetap saja. Aku merasa tidak enak padamu. Hei, jika ada sesuatu yang mengganggumu, jangan pernah ragu memberitahuku, oke?"
"Oke, Zenny~..," jawab Haneul disertai senyum lebar dan hormat kemiliteran.
"Hwooo~… Senyummu cute sekali~…!" Zen tidak bisa menahan rasa gemas. Spontan tangan kanannya mencubit santai pipi Haneul yang merona mawar. "Kopiku sebenarnya pahit, tapi jadi manis setelah melihat senyummu itu, Happeul Pie~..."
Sang aktor terlihat senang menyisip ice coffeenya saat sebuah pertanyaan terlintas di benak Haneul. "Zen, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
"Hnn? Apa, Happeul Pie~?"
"Uhm." Park salah tingkah. "Begini... Saat Yoora hendak memperlihatkan bukti terakhir di konferensi pers tadi. Yang ia maksud adalah bukti 'itu', kan? Bukti bahwa Echo Girl-lah yang mendanai semua kegiatan sasaengmu selama ini? Kau menghalanginya, kenapa?"
"Uhm… Soal itu… Uhm… Karena dia fansku, Haneul. Ya, dia memang sudah menghancurkan namaku dengan semua omong kosongnya, tapi… aku tidak bisa. Itu akan sangat mempermalukannya. Lagipula, media sudah percaya dengan semua bukti sebelumnya, kan? Aku yakin ia sudah cukup jera dengan itu. Kau orang kedua yang menanyakan hal ini setelah Jumin Han."
Haneul menekuk kedua alis. ".. Kau tidak ingin mempermalukannya? Zen, dia sudah begitu jahat padamu. Astaga, Zen."
Yang disebut tersenyum nyengir. "Aku tahu. Entahlah, Haneul. Ia perempuan dan sekalipun ia telah berbuat jahat, aku merasa tetap harus melindunginya. Hhh~… Aku sangat lemah sekali, bukan?"
Haneul tidak bisa meluluhkan rasa heran. Baginya, tidak ada sinonim kata 'maaf' yang pantas untuk Echo Girl dalam kamus apapun. Berlaku untuk dirinya sendiri dan orang lain, manusia normal yang hanya menyukai kebenaran. Opini kontra Zen seharusnya menimbulkan kesimpulan abnormal yang negatif, tapi bagaimana bisa itu menjadi begitu positif bagi Haneul? Dirinya yang mengecap 'normal' berdasarkan opini mayoritas? Bahkan ia semakin terkagum pada yang abnormal, korban sebenarnya yang memilih memaafkan. "Tidak, Zen. Kau luar biasa. Kau luar biasa karena bisa memaafkannya seperti itu."
Zen tersipu, berpikir bahwa Haneul baru saja memujinya. "Ah, hahaha. Sudahlah~... Lagipula itu sudah berlalu. Yang terpenting adalah saat ini. Ehem!" Ekspresi berubah serius ketika tungkai-tungkai pucat miliknya meraih kedua tangan Haneul yang lembut. "Haneul, terima kasih karena sudah memilihku. Terima kasih karena terus menyemangatiku. Terima kasih karena sudah bersikap hangat. Terima kasih karena percaya pada kemampuanku. Jika bukan karena dirimu, mungkin aku sudah menyerah dan tidak akan bangkit lagi. Aku merasakan harapan lagi."
Jeda di antara mereka. Aktor yang ketampanannya melampaui batas normal bersikap semakin serius. Mata rubinya intens menyandera iris sewarna tanah. Dua detak jantung di sana pun berirama tidak beraturan. Haneul sempat meneguk kecil ludah saat hatinya berbisik untuk menundukkan wajah karena terlalu sempurnanya pemandangan itu. Namun seolah dimantra, dirinya tidak kuasa berbuat apa-apa.
"Haneul, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Ini soal perasaanku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan ini terus menghantuiku akhir-akhir ini. Satu-satunya cara agar hantu ini 'lepas' adalah dengan bertanya ini kepadamu : maukah kau menjadi pacarku?"
Manik coklat Haneul melebar. Panggilan Happeul kian layak melihat wajah semu merah di sana.
"Aku ingin melindungimu. Tidak peduli apa yang akan terjadi, aku ingin selalu berada di sisimu. Membuatmu tersenyum dan menjadi malaikatmu. Kita mungkin tidak akan bebas tampil di publik karena pekerjaanku, tapi… aku ingin bersamamu.
Oh. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku hanya ingin kau memikirkannya sebaik mungkin. Tentangku dan tentang kita secara serius. Uhm.. Aku tidak yakin ini akan membantumu, tapi.. uhm.. aku dapat menjadi suami yang baik, kau tahu? Aku selalu mengabarimu, aku tampan, baik, bersedia menuruti apapun yang kau mau. Aku pekerja keras, tidak akan minum-minum sampai malam dan pulang terlambat. Aku juga -ehem- bisa sangat romantis. Tentu jika hanya ada kita berdua. Atau… apa menurutmu ini terlalu awal?"
Bibir Haneul tak kuasa berhenti mengembang. Ada rasa malu dan senang sekaligus atas semua ini : rangkaian kata, tatapan, gestur, nada bicara, suara, serta suasana malam muda yang sempurna. Ini seperti mimpi, mengetahui bahwa pria yang dicintainya juga mencintainya.
Jaehee dapat mendengar suara langkah kakinya sendiri ketika menyusuri lorong sebuah gedung stasiun televisi. Langkahnya tidak secepat ketika berada di tower, namun cukup cepat untuk mengatakan bahwa ia sedang terburu-buru. Matanya menyusuri dinding kanan-kiri lorong dan diselingi pada kartu nama kecil di tangannya sesekali. Terlihat jelas bahwa dirinya tengah mencari sesuatu di sana.
Suara samar maskulin familiar membuatnya berhenti, tepat di depan pintu putih bercorak garis abu. Merasa itulah yang ia cari, Jaehee mendorong pintu tersebut sedikit demi sedikit sehingga suara maskulin itu semakin terdengar jelas. "Permisi? Selamat malam, apa ini dengan…"
Perhatian seluruh penghuni ruangan terpaling ke arahnya. Namun dari sekian banyak orang, hanya satu sosok yang berhasil mendiamkan Asisten Kang.
You are here now..
Tanpa kacamata, berkemeja putih dengan sweater sewarna kopi oranye, celana panjang khaki, dan sepatu kulit sewarna batang cemara. Berdiri di depan banyak orang, tengah memberikan arahan.
Yes you..
Sosok Lee Minhyuk-lah yang berhasil membuat Jaehee terdiam. Bahkan terpesona.
The person who waited for a lifetime..
Penampilannya begitu berbeda malam itu. Terlalu berbeda.
Surprise my trembling heart..
Jika saja bukan karena mata itu, jika saja bukan karena postur itu, jika saja bukan karena alasannya berada di sini, dan jika saja bukan karena senyum itu.
My beating heart, yes..
Jaehee tidak akan mengenalinya.
That whisper..
"Nona Kang? Ah, selamat datang," salamnya. Sangat gentleman. Dengan mata berbinar-binar.
Semua mata fokus tertuju pada sang instruktur, termasuk Jaehee yang duduk di arah jam 1. Begitu memukaunya bagaimana sosok tubuh tinggi ideal memperagakan cara membuat espresso, si hitam yang kompleks. Mulai dari penggilingan biji, tamping, pemakaian mesin, hingga ekstraksi cairan kafein kental bercrema di atasnya. Semuanya diterangkan secara detail hingga cara perawatan mesin yang baik dan benar. Salah satunya mengenai bagaimana sedikit kesalahan dalam pengaturan suhu, bahan, hingga penggunaan tuas mesin dapat mempengaruhi rasa espresso yang dibuat. Sangat detail. Terlalu detail.
Notebook di tangan kiri serta pulpen di tangan kanan Jaehee hanya bekerja selama beberapa menit. Sisanya seperti sekarang, menganggur. Hanya kedua matanya yang bekerja dalam fokus dan debaran jantung kuat. Banyak sekali pertanyaan dibenaknya, tapi tidak mungkin untuk menyanggah Minhyuk begitu saja.
Setelah teori, Minhyuk mengajak satu per satu peserta membuat espresso sendiri. Tentu masih dalam bimbingannya yang sabar. Para peserta pun diminta untuk meneguk hasil kopi buatannya sendiri begitu selesai. Lee pun tidak ketinggalan mencicipi sesendok dan menilai kopi tersebut satu per satu. Kebanyakan peserta mendapati hasil yang tidak biasa. Dalam arti, rasanya sangat berbeda dengan buatan coffee shop pada umumnya. Dalam arti minus.
Sebagai murid baru, Jaehee merupakan peserta paling cekatan dalam praktek. Apa yang Lee lakukan bukanlah perkara sulit, pikirnya. Seperti sebelumnya, Minhyuk mengamati serta membimbing dari belakang. Dan seperti yang lain, Jaehee diminta meneguk hasil karyanya sendiri. Lee pun mencicipi satu sendok setelah membersihkan mulutnya dengan tegukan soda, guna perasa yang lebih netral.
Hasilnya?
Lebih buruk dari Jumin Han.
Lebih buruk dari guyonan Seven.
Lebih buruk dari citra lelaki Yoosung.
Dan lebih buruk dari kepribadian Elizabeth 3rd.
"Silahkan cicipi espresso ini," ujar Minhyuk seraya menaruh secangkir espresso double shot di depan sebuah peserta remaja. Peserta tersebut mencicipi sedikit, lalu mengoper cangkir itu ke peserta di sampingnya. Hingga selesai, semua peserta setuju bahwa espresso buatan Minhyuk memiliki rasa standar yang mereka tahu selama ini. Tentu saja satu-dua level di atas espresso buatan mereka beberapa menit silam.
"Tidak ada yang salah dengan espresso yang kalian buat tadi. Di dunia kopi pun selera ikut bermain. Yang harus disepakati adalah kesulitan untuk membuat espresso dengan rasa standar. Tidak ada satupun calon barista yang dapat menguasainya dalam satu kali coba. Ekstraksi merupakan proses tersulit karena melibatkan dua hal penting : suhu dan tekanan. Tekanan sendiri dipengaruhi oleh bagaimana barista mengoperasikan tuas mesin. Latihan berkali-kali memang sangat dibutuhkan.
Feel berperan sangat penting. Seperti mengendarai mobil, pengendara pemula akan berusaha menemukan tekanan yang pas untuk kopling, rem, gas, serta seberapa banyak gerakan steer yang dibutuhkan agar mobil berjalan dengan halus atau melakukan putaran. Awalnya akan sulit, namun latihan menjadikan pengendara tersebut terbiasa dengan feel-nya.
Kelas cukup sampai di sini. Jika ada pertanyaan atau memerlukan bimbingan khusus, kalian bisa mengontakku sebelum jam 12 siang untuk mengatur janji. Aku pasti akan membalasnya. Tidak ada biaya tambahan untuk ini. Selamat malam semuanya. Berhati-hatilah di jalan dan selamat istirahat."
...
Satu per satu peserta keluar dari ruangan. Aku menunggu momen yang tepat agar dapat menghampiri Pengusaha Lee dan memberikannya sesuatu tanpa tertangkap mata yang lain. "Pengusaha Lee? Ini untukmu."
"Oh, Nona Kang. Apa ini?" tanyanya sembari mengangkat alis. Tangannya tetap menerima amplop coklat pemberianku.
"Pembayaran untuk mengikuti kelas barista anda. Mulai hari ini, saya akan menjadi peserta. Mohon bimbingannya," jawabku sambil membungkuk.
"A-ah.. Tidak perlu, Nona Kang..! Maksudku.. Kau tidak perlu membayar seperti ini. Lagipula, aku yang menawarimu, bukan? Jadi.. Ah, aku tidak bisa menerimanya. I-ini." Ia mengembalikannya padaku.
Aku menolak tegas. Kukembalikan lagi padanya. "Tidak, Pengusaha Lee. Ini uang perusahaan. Harus saya sampaikan pada anda."
"T-tapi ini terlalu banyak, Nona Kang..!"
"Tidak apa-apa, Pengusaha Lee. Lagipula, sebenarnya saya sangat membutuhkan bantuan anda. Anggap saja ini untuk biaya kelas privat. Atasan saya akan menikah dalam beberapa hari dan ingin proyek kedai kopi rampung secepatnya. Saya sangat butuh bantuan anda untuk mengajari saya secepatnya. Setiap hari, maksud saya." Aku membungkuk lagi agar ia mengetahui maksudku bersungguh-sungguh.
"Ah… uhm…"
"Kapan pernikahannya?" tanyanya padaku.
Hujan sedang turun. Aku merasa salah dengan tidak membawa mobil. Beberapa jam lalu, aku bergegas pergi kemari agar tidak tertinggal kelas. Lokasi yang terbilang cukup dekat, kupikir bukan masalah untuk datang kemari dengan menggunakan taksi dan meninggalkan mobilku di basement tower. Aku pun tidak mau ambil risiko mengebut di jalanan hanya karena ini.
Syukurlah. Pengusaha Lee bersedia mengantarku kembali ke tower. Karena gedung ini milik sebuah stasiun televisi, basement parkir selalu penuh sehingga membuat Pengusaha Lee terpaksa memarkirkannya agak jauh dari sini.
"Uhm.. Kurang dari dua minggu lagi, saya rasa."
"Aku sempat melihat liputannya tadi siang di kafe. Para pengunjung sangat antusias menontonnya. Yah, aku sendiri tidak menyangka para wanita itu bisa begitu jahat. Dunia dan ketenaran memang sesuatu," ujarnya.
"Ya, saya setuju. Oh. Tadi pengalaman pertama yang berkesan. Saya mengerti mengapa banyak orang memilih kelas barista anda."
"Uhm? Memangnya kenapa? Tapi.. aku senang jika itu pujian. Hehehe," balasnya tersipu. Caranya menggaruk hidung dengan punggung telunjuk sangat lucu.
"Cara anda mengajari kami begitu sabar. Untuk kelas selama tiga jam, saya merasa sepadan dengan hal yang saya dapat."
"Hmm.. Begitu, kah? Sebenarnya, akan lebih baik memanjangkan waktu untuk materi espresso. Espresso adalah materi sulit. Sangat penting untuk mempelajarinya lebih lama. Rasanya akan lebih puas jika mereka yang ikut kelasku dapat langsung mempraktekkannya di rumah atau di manapun. Semua yang kulakukan akan menjadi begitu bermakna. Sayangnya, mereka yang ikut kelasku kebanyakan bekerja juga sebagai karyawan. Tiga jam adalah waktu maksimal bagi mereka."
Aku melihat caranya menyampaikan hal dengan begitu apa adanya. Sorot mata yang sangat lembut dan tulus. Sedangkan nada bicaranya, mengimplikasikan bahwa ia adalah sosok yang concern pada orang lain. Sangat kontra denganku. Ia pun terlihat sangat modis hari ini.
"… Hnn? Nona Kang, kau kenapa?" tanyanya padaku tiba-tiba.
Oh.
Aku tertangkap memandanginya terlalu lama..!
"…Ah, tidak ada apa-apa. Mmm.. Oh. Sebelumnya, saya tidak menyangka bahwa membuat espresso tidak semudah kelihatannya. Profesi barista sangat patut diperhitungkan."
Ia melirik sambil tersenyum. "Apa anda menyerah, Nona Kang?"
"Menyerah? Hnn, tidak. Justru saya merasa termotivasi. Sebagai penikmat espresso, akan sangat menguntungkan bagi saya untuk dapat membuatnya sendiri di rumah. Lagipula, ini terkait pekerjaan. Saya tidak boleh menyerah begitu saja."
"Itu semangat yang bagus. Ah, jika kau ingin pertemuan di luar jadwal, kau bisa segera menghubungiku. Kita bisa belajar di kafe jika di sini tidak memungkinkan."
"Apa saya tidak akan mengganggu pekerjaan anda?"
"Tentu tidak. Pekerjaanku di sana umumnya untuk mensupport para barista dan melayani pending coffee. Jika tidak ada yang meminta pending coffee atau tidak sedang ramai, aku cukup merasa bosan."
"Baiklah. Anda sangat baik, Pengusaha Lee."
"Lee Minhyuk saja, tolong." ^^"
"Oh, ya. Saya mohon maaf."
"Ah, itu mobilnya," ujarnya dengan telunjuk mengarah pada mobil Byundai hitam. Beberapa meter, di depan-seberang jalan.
Beberapa langkah menyusuri trotoar, kami akhirnya menyeberangi jalan begitu menemukan zebra cross terdekat. Sedikit lagi kami mencapai Byundai hitam Pengusaha Lee, mataku memergoki figur yang sepertinya sangat familiar. Menyandar pada pagar taman kota, sosok mirip Haneul berdiri sendirian dengan kondisi basah kuyup karena hujan.
"HANEUL..?!" seruku mengonfirmasi.
Panik, aku keluar dari zona payung Pengusaha Lee dan menghampiri sosok tersebut dengan harapan bahwa ia bukanlah Haneul yang kukenal. Tidak peduli lagi dengan hujan yang akan membasahi tubuhku.
"… Haneul?" panggilku lagi sembari merapikan rambutnya yang basah. Agar aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Ya. Dia Haneul yang kukenal.
Tubuhnya menggigil luar biasa dengan mata sembab.
"Haneul? Apa kau mencariku? Kenapa tidak menelepon? Aku akan menjemput dan membawamu masuk." Pengusaha Lee sudah berada di dekat kami, memayungi kami berdua yang sempat tersentuh hujan malam.
"Haneul, kau kenapa? Astaga, kau basah sekali. Kau—"
"Eonni…," potongnya dengan gemetar.
Tiba-tiba ia memelukku dan menangis tersedu-sedu. Pelukannya sangat erat. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Pengusaha Lee melepas mantel hitamnya dan menggantungkannya ke bahu Haneul. Kupikir ia merasa bingung, sama sepertiku. Yang ia lakukan kemudian adalah mengelus tubuh Haneul seraya menenangkannya.
Kami bertiga ada di sana selama beberapa detik sebelum akhirnya memasuki mobil. Hujan cukup deras untuk menghasilkan riuh. Namun tidak dapat menyamarkan suara tangis yang kudengar dari Haneul.
