Disclaimer: seluruh tokoh milik Hajime Isayama. Fanfik dibuat hanya untuk senang-senang

Warning: YAOI, YURI, slash straight, OOC, TYPO

Selamat membaca...

.

—First Kiss—

.

Seluruh mata membuka lebar. Bibir tiba-tiba diam membisu. Tak ada yang berani membuka suara. Jantung berpacu lebih cepat dari biasanya.

Grisha Jaeger dan Carla Jaeger, berdiri dengan tatapan bingung, "Hei, kenapa diam? Siapa yang hamil?"

Masih tidak ada jawaban. Eren menundukkan wajah; keringat dingin mengucur deras, tangan terkepal amat kuat, mata hijau ditutup rapat.

"Oh, apa kamu yang memakai kacamata?" ucap Carla menunjuk Hanji.

"Eh? Aku tidak hamil, yang hamil itu—"

"Grisha, Carla, kita harus bicara."

Suara bariton akhirnya menggema. Levi, berdiri tegap dengan dada membusung. Mengepalkan tangan dengan wajah datar. Bersikap gentleman di hadapan semua orang. "Anak-anak, lebih baik kalian pulang sekarang."

Marco Bodt; sang ketua kelas pun mengangguk, "Teman-teman, lebih baik kita pulang sekarang. Naa, Eren. Kami pulang dulu."

Semua murid (minus Mikasa dan Armin) keluar dari apartement Levi. Eren semakin menundukkan wajah—ia takut, sangat takut. Bayangan Ayah Grisha memukul atau mencoret namanya dari kartu keluarga melintas sesaat di pikiran.

Armin dan Mikasa berdiri di sisi Eren; merengkuh, mengusap lembut pundak pemuda bersurai brunete dengan sayang. "Tenang Eren, jangan takut."

"Hei, ada apa? Kenapa wajah kalian mendadak tegang begini?" Grisha sedikit tertawa, menaruh koper besar di atas lantai. "Eren, bagaimana keadaanmu?"

"B-baik, A-ayah..." jawab Eren gugup.

"Oh iya, omong-omong, siapa yang hamil? Ah, atau kau ya yang berambut karamel? Siapa namamu?" tanya Carla sembari menghampiri Petra.

Petra yang terkejut terlihat salah tingkah, "E-eh... nama saya Petra Ral, saya guru di sekolah Eren."

"Wah, kamu cantik dan sopan. Apa kamu tengah mengandung?" tanya Carla lembut.

"T-tidak, nyonya Jaeger. Saya tidak sedang mengandung." jawab Petra tersenyum kikuk.

Carla semakin bingung. Bukankah tadi salah satu teman Eren bilang ada yang sedang mengandung?

"Eh? Terus siapa?"

Kini ruang apartement Levi terlihat suram. Seperti rumah pada zaman penjajahan. Penuh ketegangan serta kegelapan. Seluruh aura membunuh; mengelilingi dengan hawa tak sedap. Erwin hanya diam, tak berani memberi komentar.

"Grisha, Carla. Sebenarnya..."

.

"Jean, kau tidak pulang?"

Marco berucap tatkala Jean masih bediri di depan apartement Levi. "Tidak, Aku menunggu Mikasa."

Lorong apartement terlihat amat sepi, Jean dengan santai menyenderkan punggung pada dinding dingin. Ruangan begitu kedap suara, Jean tak dapat mendengar perbincangan yang terjadi dalam ruangan Levi.

Marco hanya tersenyum, "Kalau begitu, Aku duluan."

Lelaki berambut hitam beranjak dari lorong sepi menyusul kawan-kawan yang lain. Jean Kirschtein melipat kedua tangan—lalu tersenyum lembut, "Mikasa, Aku akan tetap setia menunggumu."

Jean tersenyum, terlalu larut dalam bayang-bayang wajah Mikasa. Sampai tak menyadari kehadiran sosok wanita berambut merah hati yang tengah tersenyum... sedih.

"Ternyata, kau memang sangat mencintai Mikasa, Jean." Sasha berucap. Matanya berkaca-kaca, ia tersenyum getir, "Dan sepertinya memang tak ada ruang untukku."

.

Kalau saja suasana sedang tak tegang macam sekarang, Hanji mungkin akan tertawa sampai terpingkal-pingkal karena wajah teman-temannya amat sangat tegang seperti monyet kebelet buang air besar.

Hanya saja, kini waktunya sedang tidak tepat.

"Grisha, Carla. Saya ingin bicara sesuatu padamu." Levi berucap dengan serius.

Sepasang suami-istri bermarga Jaeger hanya tersenyum, "Kenapa kamu menjadi formal begitu, Levi? Ah, silakan. Apa yang ingin kau bicarakan? Oh, apa Eren merepotkanmu?"

Kedua orangtua Eren duduk di sofa empuk. Levi menduduki pantatnya di sebelah Eren yang masih menunduk sembari meremas celana. Mereka duduk berhadapan. Erwin, Hanji, Mikasa, Armin, dan Petra berdiri di sisi sofa Levi dan Eren.

Semua orang begitu tegang, sampai keringat membanjiri tubuh masing-masing.

"Ya, Eren memang merepotkan." ucap Levi datar.

Eren semakin menunduk.

"Ck, sudah kuduga. Maafkan Eren, Levi. Dia memang masih kekanak-kanakan." ucap Carla.

Eren ingin dikubur hidup-hidup rasanya.

"Oh ya, apa yang ingin kau katakan, Levi?" Grisha berbicara.

Andai saja Eren punya mesin waktu milik Doraemon, lelaki brunette itu pasti sudah menghentikan waktu sejak tadi. Batin amat sangat tidak siap menerima kenyataan jika orangtuanya mengetahui kebenaran.

Levi menghembuskan nafas. Memasang wajah datar (namun bisa dipastikan ia gugup setengah mampus). "Grisha, Carla. Sebelumnya saya ingin minta maaf."

"Kenapa harus minta maaf? Justru sepertinya kami yang harus meminta maaf karena sudah merepotkanmu," ucap Grisha, tersenyum.

"Ya, lagipula Eren pasti amat sangat merepotkanmu, Levi." sambung Carla.

Oksigen kembali dihirup paksa, Levi melirik kearah belakang, "Bisakah kalian meninggalkan kami?"

Pria eboni menatap tajam—memberi isyarat pada semuanya agar keluar dari ruangan. Erwin dan Hanji mengerti, lalu menyuruh yang lain keluar, "Kalau begitu, kami permisi."

.

"A-apa nanti Paman Grisha akan memarahi Eren? Apa Paman Grisha akan membenci Eren? Apa—"

Armin tak berhenti berceloteh. Bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kekhawatiran. Mata biru safir terlihat amat cemas. Mikasa masih membungkam suara. Mata hitam itu sejenak melirik ke samping, "Jean? Kau di situ?"

Si muka kuda—Jean Kirschtein—melirik, lalu berdiri tegap, "Ah, Mikasa. Kau ingin pulang?"

"Hmm, sepertinya." jawab Mikasa seadanya.

Lorong apartement memang sepi, remang-remang dengan lampu cahaya berwarna kuning. Dingin AC membuat kulit menggigil jika tak mengenakan pakaian hangat. Jean masih memamerkan senyum hangat pada sang gadis pujaan hati—yang disambut nyalang oleh tatapan tajam si ilmuwan gila—Hanji Zoe.

"Tidak usah nyengir, keledai." sindir Hanji. Menatap tak suka.

Sedangkan yang disindir menatap sinis balik, "Hei, waria. Bisakah sehari saja kau tak menggangguku dan Mikasa?!"

Erwin yang sudah was-was sejak tadi memilih untuk pergi dengan Armin, "Armin, lebih baik kita pergi dari sini."

Duo pirang pergi, meninggalkan empat orang di sana. Jean dan Hanji—masih beradu argumen. Hah, Mikasa amat malas mendengar celoteh mereka berdua.

"Hmm—ano, lebih baik Hanji-san dan Jean tidak ribut di sini." ucap Petra lembut.

Nah, ini nih. Suara yang bisa buat Mikasa meleleh bagai keju dibakar.

"Bagaimana jika makan? Kebetulan Aku lapar, hehe."

Haduh, kenapa pula Petra manis keterlaluan? Mikasa kan gakuku ganana jadinya.

"Ah, Aku setuju. Kebetulan Aku lapar!" seru Hanji, disetujui oleh Jean.

.

"Grisha, saya ingin bertanya sesuatu padamu."

Suara bariton kembali menggema. Levi menatap serius pada dua sahabatnya. Grisha dengan santai menjawab, "Tanyakan saja."

Napas dihirup dalam-dalam. Lalu dikeluarkan perlahan. Levi berusaha menstabilkan detak jantung yang tidak sinkron sejak tadi. Wajahnya terlihat kaku dan dingin—tetap hatinya gundah gulana.

"Apa yang akan kamu lakukan jika tahu anakmu sedang mengandung di luar nikah?"

Eren harap-harap cemas mendengar tuturan kata Levi. Keringat dari pelipis benar-benar tak dapat dibendung. Mendadak ruangan menjadi panas dirasa. Padahal pendingin ruangan sudah diatur menjadi suhu terendah.

Grisha berpikir sejenak, lalu menjawab pertanyaan Levi, "Tentu saja aku akan menghajar orang yang sudah membuat anakku hamil hingga babak belur."

Mata hijau Eren membulat sempurna. Ucapan sang ayah tak main-main. Ia sudah membayangkan jika nanti Levi dihajar sampai babak belur oleh ayahnya.

"Tapi untung saja aku tak memiliki anak perempuan, hahaha." Grisha kembali melanjutkan ucapannya.

Tuan Grisha, tidakkah kamu tahu jika anak semata wayangmu yang paling imut dan keras kepala yang notabenenya berkelamin lanang tengah berbadan dua?

Carla tertawa menanggapi ucapan sang suami. Ditatapnya sang anak yang semakin menunduk di sebelah Levi, "Eren."

"I—iya," Eren lantas terlonjak ketika ada seseorang bersuara bak malaikat memanggil namanya.

"Ibu perhatikan kamu semakin gemuk saja. Hah, pasti Levi memberi makan dengan baik." ucap Carla tersenyum senang.

Eren hanya meringis. Ya, memang benar jika Levi memberi makan dengan sangat baik. Apalagi Levi sering memberikan sosis berukuran panjang dan lebar setiap malam untuk asupan gizinya.

"Apa yang akan kamu lakukan pada anakmu yang hamil di luar nikah?" Levi kembali bertanya pada Grisha.

Grisha lalu menjawab, "Akan kucoret dari daftar keluarga. Dia sudah membuat malu."

Eren ingin menangis saja mendengar ucapan ayahnya.

"Apa kamu akan merestui hubungan mereka?"

"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Levi?"

"Karena saya menghamili Eren."

"Oh, kamu menghamili Eren."

Grisha tersenyum. Perlahan bibirnya menjadi datar. Matanya melotot seakan ingin keluar.

"KAMU MENGHAMILI EREN?!"

Bayangan menjadi putih. Tatapannya buyar. Grisha pingsan di tempat setelah mendengar ucapan Levi.

"AYAH!"

.

TBC

.

A/N: hai, saya kembali, muehehe. Akhirnya UN kelar juga, jadi bisa lanjut fanfik ini xD plotnya kok semakin berat? Entah, saya juga tidak tahu TvT

Terima kasih sudah membaca: Raventenshi, Pinnachan, Izumi-H, aldira26, ererigado, Ay03sunny, Yaoi and Yuri Lovers, Erumin Smith, AySNfc3, vanillacake123, Author PHP