Hallo!

Akhirnya comeback juga! Aku minta maaf atas update ku yang cukup lama, tapi aku benar-benar sibuk!

So... aku berterima kasih atas reviewnya, untuk Tsumiki-nyan, Natsu Yuuki, Cocoa2795, Angelic yet Demonic, Miyaka himizuka, Zee Cielova, dan femix.

Untuk Zee cielova, Lambo dan Lampo memang bersaudara. Mereka berdua memiliki ayah yang sama tapi beda ibu. Lampo lahir dari pernikahan pertama, sedangkan Lambo dari pernikahan kedua. Dan yap, bukan Reborn yang mengajari Tsuna.

And so, aku juga mengucapkan terima kasih atas following me, dan memfavoritkan ceritaku. Aku harap kalian suka chapter ini.

Selamat membaca!

Pernyataan: Aku tak memiliki KHR karena Amano Akira yang menganggumkan yang memilikinya.

Perhatian: typos, OOC, waktu update yang tak menentu dll.

"Jepang."

"Italia."

'Thought.'

'Bisikan.'


"Sudah saatnya."

"Menurutmu begitu?"

"Ya, aku sudah melakukan segala hal yang kuanggap perlu dan akan membantunya."

"...Apakah kau pikir, kita akan bisa mengalahkannya, Mama?"

"Aku tak tahu, Sayang..."

"..."

"Kupikir semuanya menjadi keputusan Yuni."

"... Ya, semua menjadi keputusan Yuni."


"ITE!"

Tsuna menggosok kepalanya dengan kesal. Ia mengirimkan salah satu pelototannya (yang mana malah terlihat seperti merengut) kepada pelaku yang menyebabkan rasa sakit di kepalanya.

"Apa maksudnya ini, Reborn-san?" Tsuna berkata dengan kesal seraya memandang sosok di depannya. Reborn hanya tersenyum dengan senyuman sadisnya.

"Saatnya bangun Dame-Tsuna, atau kau akan terlambat." Reborn berkata sebelum menghilang untuk membangunkan kakaknya di kamar sebelah.

'Paling tidak kau tak perlu memukulku.' Tsuna menggerutu di dalam hati. Ia segera berdiri untuk membereskan tempat tidurnya ketika ia menyadari bahwa futon yang semalam digunakan oleh Hayato telah tertata rapi di samping tempat tidurnya. Dari bahwa, ia bisa mendengar teriakan Hayato dan Lambo yang sedang bertengkar satu sama lain.

Tsuna menghela nafas. Ia berjalan menuju ke meja belajarnya dan duduk di sana sambil memandangi kotak cincin yang tergeletak di atasnya. Pikirannya kembali ke peristiwa yang sempat terjadi malam itu.

Setelah Hayato dan Lambo memberikan tanda mereka sebagai seorang guardian, suasana menjadi sangat canggung. Selain badai yang terus meraung di luar, Hayato maupun Lambo tak mengatakan apa pun, begitu pula dengan Tsuna. Dalam diam, Tsuna menyiapkan futon untuk Hayato dengan dibantu dengan Hayato. Ketika mereka akan tidur, barulah Tsuna berani mengatakan 'Selamat malam' yang juga dijawab Hayato dengan ucapan yang sama. Sebelum ia tertidur lelap, Lambo menyelinap ke tempat tidur Tsuna dan tidur di sana seperti malam sebelumnya.

Tsuna kembali menghela nafas.

'Sekarang apa? Aku sudah menemukan guardian-ku, mereka juga sudah setuju menjadi guardian-ku, aku juga sudah mendapatkan cincin-cincin peninggalan Kawahira-san, sekarang aku harus bagaimana? Apakah aku harus memberikan cincin-cincin itu pada guardian-ku?' Tsuna berpikir. Wajahnya cemberut mengingat sesuatu.

'Dan aku benar-benar tak menyangka bahwa Luce memilihkan guardianku tanpa menanyakan persetujuanku. Hibari Kyoya dan Rokudo Mukuro, oh tuhan! Aku bisa mati duluan karena mereka sebelum aku benar-benar mengalahkan Cloak-man!' Tsuna merengek dalam hatinya.

"Ah, Tsuna, kau sudah bangun?" Tsuna menolehkan kepalanya untuk menemukan Hayato yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Tsuna tersenyum kecil seraya berdiri dengan kotak cincin di tangannya.

"Selamat pagi, Hayato." Tsuna menyapa. Hayato membalas senyuman Tsuna dengan senyuman miliknya sendiri.

"Selamat pagi, Tsuna." Tsuna mengelus kotak cincin di tangannya sebelum akhirnya berjalan ke meja kopi di tengah ruangan yang mana diikuti oleh Hayato.

"Apa ada sesuatu, Tsuna?" Hayato berkata dengan khawatir. Tsuna menggeleng pelan.

"Kau tahu Hayato, aku benar-benar terkejut ketika kau setuju untuk menjadi guardianku dan memberikan tandamu padaku." Tsuna berkata. Hayato menatap Tsuna dengan khawatir.

"Apa kau tak suka?"

"Tidak, tidak..." Tsuna menggelengkan kepalanya. Ia menatap Hayato.

"Lebih tepatnya aku khawatir." ia berkata pelan. Genggamannya mengerat.

"Khawatir?"

"Kau tahu, aku telah mendengar tentang Cloak-man dari Sephira-san dan Kawahira-san. Tanpa peringatan dari mereka pun aku tahu bahwa Cloak-man sangat berbahaya dari Hyper Intuitionku. Karena itu, aku bermaksud untuk tak melibatkan siapapun dalam masalah ini. Tapi... ketika kau terpilih dengan beberapa orang lainnya, dan kalian semua setuju untuk membantuku, secara bersamaan, aku merasa lega dan khawatir." Tsuna menjelaskan.

Hayato menatap sahabatnya itu dengan senyuman penuh keyakinan.

"Kau tak bisa melakukan ini sendirian, Tsuna." Hayato berkata. Tsuna menatapnya.

"Kau telah menerimaku menjadi sahabatmu, biarkan aku menolongmu juga sebagai sahabatku. Kau tak sendirian, Tsuna. Aku akan menjagamu." Hayato berkata dengan mantap. Tsuna tertawa kecil.

"Aku tahu, Hayato. Karena itu..." Tsuna membuka kotak cincin di tangannya dan mengambil sebuah cincin dari satu set cincin di depannya yang didominasi warna merah dan menyerahkannya pada Hayato.

"Aku mempercayakan cincin ini padamu, sebagai tanda kau adalah salah satu dari guardianku."


"Byakuran-sama, anda mau kemana?" Kikyo memanggil boss semata wayangnya itu dengan putus asa. Byakuran di lain tempat, seperti tak mendengarkan tangan kanannya dan terus berjalan menuju ke sebuah rumah. Ia memperhatikan papan nama di depan rumah itu yang bertuliskan 'Sawada' dengan penuh kepuasan.

"Jangan bilang anda akan menemui Vongola, Byakuran-sama." Kikyo berkata dengan penuh kecurigaan.

"Kau tahu saja keinginanku, Kikyo~" Byakuran berkata, masih dengan nada nyanyian yang biasanya.

"Kau tahu kita harus memberitahu Tsunayoshi-kun bahwa Arcobaleno yang mengajarinya telah datang kan~?" Byakuran berakata.

"Tapi, Byakuran-sama, sejak pertarungan kita di 'masa depan' kita belum pernah bertemu dengan Vongola lagi secara resmi. Selain itu, saya yakin Arcobaleno Reborn ada di dalam bersama dengan Vongola Decimo. Mereka tak akan begitu saja menerima kita." Kikyo berkata.

"Tapi kita tak memiliki waktu lagi, Kikyo." Suara Byakuran berubah serius. "Yuni menghubungiku bahwa ia menerima pesan dari neneknya dan ibunya, Luce dan Aria bahwa keadaan telah berubah. Ada kemungkinan bahwa mereka akan di serang lagi, dan ada pula kemungkinan bahwa Cloak-man akan menyerang Vongola dan Millefiore. Selama Tsuna belum bisa menguasai api-api miliknya, kita sangat tidak diuntungkan." Byakuran berkata dengan serius. Mereka berdua berjalan memasuki pekarangan dan berhenti di depan pintu.

"Apa anda memiliki alasan lain mengapa anda melakukan ini?" Tanya Kikyo. Tangan Byakuran yang hendak membunyikan bel terhenti di udara. Sebuah seringai misterius muncul di bibirnya.

"Ya, ada beberapa. Dan mungkin juga merupakan alasan lain mengapa Checkerface dan Sephira memilih seorang Sawada Tsunayoshi sebagai pengawas ketiga." Byakuran berkata lagi seraya memencet bel rumah keluarga Sawada. Dari dalam rumah, samar-samar terdengar suara seorang wanita. Beberapa saat kemudian pintu di depannya terbuka dengan keras. Seorang wanita dengan rambut pendek bewarna coklat dan mata yang juga bewaran coklat menyapa Byakurand dengan senyuman.

Senyuman rubah Byakuran kembali ke wajahnya.

"Ohayou Sawada-san~ Giotto-nya ada~?"


"Hime, sudah berapa kali saya bilang, tolong jangan berkeliaran sendirian." Gamma menghela nafas.

"Aku baik-baik saja, Gamma." Yuni tersenyum.

"Apakah anda menunggu kabar dari Byakuran?" Gamma bertanya dengan hati-hati. Ada ketidak sukaan dalam nadanya. Yuni tertawa kecil.

"Apa kau masih membenci Byakuran karena yang terjadi di 'masa depan', Gamma?" Yuni bertanya lagi. Gamma tersenyum dengan terpaksa.

"Saya akan berbohong jika saya mengatakan tidak, tetapi karena ini adalah keputusan anda, saya akan menurutinya. Saya yakin anda memiliki alasan yang jelas." Gamma berkata. Yuni tersenyum lega.

"Terima kasih, Gamma." Yuni berkata. Gamma hanya tersenyum.

"Kalau begitu, mari kembali ke mansion." Gamma berkata seraya mengulurkan tangannya kepada Yuni. Yuni mengangguk. Ia mengambil tangan Gamma dan mereka berdua segera berjalan kembali menyusuri jalan di Namimori menuju ke Mansion yang tersembunyi di hutan.


Giotto tahu, tepat ketika pagi itu HI-nya terus berbunyi, bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, tetapi ia tak menyangka sesuatu itu berupa seorang albino berambut putih dan seorang Marshmallow Freak a.k.a Byakuran Gesso, yang juga merupakan musuh besarnya di 'masa depan'.

"Apa yang kau lakukan di rumahku, Byakuran Gesso." Giotto berkata dengan geram.

"Maa~ jangan terlalu serius Giotto-kun~" Byakuran tertawa.

"Oho, kau masih mengikutinya kemanapun?" Kikyo tersenyum sopan (read: menggoda) seraya memandang G yang wajahnya sudah berkedut marah.

"Kau! Berani sekali kau menunjukkan wajahmu di depan Vongola!" G berteriak. Di belakang mereka, Arcobaleno Reborn memperhatikan dengan teliti.

"Byakuran Gesso. Berikan aku alasan yang jelas mengapa kau ada di sini." Ia berkata dengan dingin dan juga mengancam. Byakuran memandang Reborn masih dengan senyuman liciknya.

"Aku~? Aku kemari karena Yuni-chan memintaku untuk memperingatkanmu, Vongola~" Byakuran berkata dengan nada khasnya. Atas disebutnya nama Yuni, GIotto, G dan Reborn bereaksi. Reborn dengan cepat mengarahkan pistol kesayangannya ke arah Byakuran.

"Yuni? Kau bertemu dengannya?" Reborn bertanya mengancam.

"Di mana Yuni?" Kali ini Giotto yang berkata dengan serius. Byakuran menatap mereka berdua dengan misterius.

"Yuni-chan~? Dia ada di Namimori, tentu saja~" ucap Byakuran.

"Apa yang kau lakukan padanya?"

"Mou~ jangan terlalu serius, Giotto-kun~ Yuni-chan baik-baik saja~ Bisakah kita kembali ke mengapa aku di sini?" Kata Byakuran dengan merengut. Reborn memicingkan matanya.

"Peringatan apa yang kau maksud?" Reborn akhirnya bertanya.

"Bahwa muncul musuh yang akan membahayakan Vongola." Byakuran berkata dengan serius tanpa nada mainan yang biasa dipakainya. Giotto dan G menegang dengan cepat. Mereka tahu bahwa Byakuran benar-benar serius.

"Musuh yang mengancam Vongola? Siapa?" Giotto bertanya dalam boss modenya.

"Nah... kau harus menanyakannya langsung pada Yuni. Yang pasti, aku kemari untuk meminta kerja samamu, Giotto." kata Byakuran. Giotto mengerutkan keningnya.

"Kerjasama?" Giotto bertanya. Byakuran mengangguk.

"Karena, bagaimanapun, musuh ini bukan hanya mengincar Vongola, tetapi juga tri-ni-sette." Byakuran berkata. Giotto dan G tersentak kaget. Reborn di lain tempat menutupi wajahnya dengan fedoranya.

"Apa maksudmu?" Giotto bertanya.

"Maksudnya, dame-Giotto. Bahwa musuh ini bukan hanya mengincar cincin Vongola, tetapi juga cincin Mare dan juga Arcobaleno pacifier." Reborn memotong. Ia melirik Byakuran dengan mata obsidiannya. "Apa aku salah?"

"Tidak, apa yang kau katakan benar, Reborn-san." Byakuran berkata. Senyuman rubah kembali ke wajahnya. Giotto dan G menatap Byakuran dengan pandangan serius.

"Dan... yang akan menjadi kunci kali ini, tak lain dan tak bukan," Byakuran menatap Giotto lekat-lekat seraya ekspressi serius kembali menghinggapi dirinya. "Adalah adikmu, Sawada Tsunayoshi."


Tsuna sama sekali tak bermaksud menguping pembicaraan kakaknya. Ia dan Hayato, dengan Lambo yang ada di gendongannya, sedang melewati kamar kakaknya ketika ia mendengar dua suara yang tak dikenalnya. Saat itulah, ia mendengar orang asing itu menyebut namanya.

"Yang akan menjadi kunci kali ini, tak lain dan tak bukan, adalah adikmu Sawada Tsunayoshi."

Tsuna langsung terhenti dari gerakannya. Ia bertatapan dengan Hayato sebelum memalingkan wajahnya kembali ke pintu kamar kakaknya.

'Apa kau dengar itu, Hayato?' Tsuna berbisik. Hayato mengangguk. Tsuna menatap Lambo yang ada di gendongannya.

'Lambo, aku ingin kau diam sebentar. Jika kau melakukannya, aku akan memberimu permen nanti.' Tsuna berbisik. Lambo mengangguk dengan bersemangat. Ia membuat sebuah tanda bahwa ia tak akan membuka mulutnya. Tsuna mengangguk dengan puas. Ia memandang Hayato. Merek berdua berjalan dengan pelan mendekati pintu untuk menguping pembicaraan di dalam.

"Apa maksudmu!? Adikku tak ada hubungannya dengan ini semua!" Giotto menggeram.

"Maa~ sayangnya, ia memiliki hubungan dengan ini semua, Giotto-kun~" suara asing itu berkata lagi.

"Bagaimana kau tahu mengenai Sawada Tsunayoshi, Byakuran? Informasi itu sangat rahasia. Bahkan diantara Vongola, hanya beberapa yang mengetahuinya." suara Reborn menjawad. Tsuna mengerutkan dahinya.

'Byakuran?'

"Oh~? Aku memiliki sumber informasiku sendiri, Arcobaleno~"

'Apa kau mengenalnya, Tsuna?' Hayato berbisik. Tsuna menggeleng.

'Siapa Byakuran?' Tsuna menggumam.

"Khu khu, Byakuran Gesso adalah pewaris sah dari cincin Mare. Apa kau tak tahu itu, Sawada Tsunayoshi-kun?"


"Diam." Bisikan Reborn terdengar dengan jelas di ruangan yang tiba-tiba hening itu. Giotto menatapnya sebelum akhirnya memandang G di sampingnya.

"Ada apa, Gio?"

"Ada yang menguping." Giotto berkata seraya menatap pintu kamarnya. G mengikuti pandangan Giotto, begitu pula dengan Byakuran dan Kikyo.

"Siapa?"

"Kemungkinan Tsuna, Hayato dan Lambo." Reborn menjawab dengan suara pelan. Giotto menatap mentornya itu dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.

"Apa mereka mendengar semuanya?"

"Ada kemungkinan, meskipun mereka mendengarnya, Tsuna tidak akan mengerti apa yang kita bicarakan." Reborn berkata.

"Tapi Hayato dan Lambo mengerti." Giotto melanjutkan. Ia menghela nafas. Byakuran yang sendari tadi hanya memandangi menaikkan salah satu alisnya dengan heran.

"Kalian tak memberitahu Sawada Tsunayoshi mengeani jati diri kalian sebagai mafia?" Byakuran bertanya dengan nada heran. Tubuh Giotto menengang.

"Aku tak ingin membahayakannya." Giotto berkata dengan serius. Byakuran memandangi Giotto sebelum akhirnya mengeluarkan tawa kecil.

"Hoi! Ini sama sekali tak lucu!" G berbisik secara tertahan. Byakuran menatap Giotto, G dan Reborn secara berurutan sebelum pandangannya kembali pada Giotto.

"Meskipun itu adalah keinginan kalian~ Mau tak mau, Tsunayoshi-kun akan terlibat, kau tahu it, Giotto-kun~?" Byakuran mendesis. Giotto memicingkan matanya dengan tak suka atas pernyataan Byakuran. Sebelum sempat ia menanyakan apa maksud dari perkataan Byakuran itu, sebuah teriakan terdengar dari luar kamar Giotto. Teriakan yang dipenuhi kemarahan, kekhawatiran serta kewaspadaan yang meneriakkan nama yang Giotto kenal.

"TSUNA!"


:3

Oyi, sampai di sini dulu, sampai berjumpa lagi.

Ja Mattane!