Between Past and Present

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi sensei

Pairing this chap : Baca aja lah ya, final nih

Warnings : abal, typo, garing, dan semoga gak OOC


.

Chapter 13 – The Truth

.

Kagami menghela nafas berat, sudah dua minggu ini dia menghindar dari Kise, dimulai dari telepon dan pesan singkat yang bejibun jumlahnya, di jalan biasa Kagami lewati ketika pemuda pirang itu tiba-tiba berkeliaran karena pekerjaan, sampai ketika ia berada di sekolahnya sendiri—kalau ditanya kenapa Kise datang setiap hari ke latihan basket mereka, jawabannya selalu sama, ingin ketemu Kurokocchi-ssu.

"Apanya yang bertemu Kuroko?! Dia terus-terusan melamun semenjak tadi! Mengganggu tau! Kuroko!" Suara kapten klub basket Seirin menggema penuh dengan kekesalan perihal sikap aneh sang perfect copy. Jujur Kagami sendiri merasa sedikit risih, beberapa hari yang lalu ia sudah mencoba untuk menghindari Kise dengan membolos latihan, tapi yang ada ia malah kena damprat dari Hyuuga. Dan disinilah ia berada, tak berkonsentrasi dengan latihannya dan ikut memperhatikan wajah sedih Kise. Kenapa lagi dengannya? Disakiti Aomine? Tch, Kagami mendecih, bodo amat, toh itu bukan urusannya. Mau Kise disakiti Aomine, ditendang Kasamatsu, ataupun dihujat Hyuuga, bahkan sampai Kise diperkosa om-om ditengah jalan pun ia tidak akan pernah peduli. Lagi. Mungkin. Oke, lupakan yang paling akhir, dia tidak akan membiarkan siapapun memperkosa Kise.

"Kise-kun." Suara pelan bagaikan angin lalu milik Kuroko berhasil membangunkan Kise dari lamunannya entah apa.

"Ah, Kurokocchi, apa sudah selesai latihannya?" Kise mengerjap, seolah baru bangun dari tidur panjang.

Kuroko menggeleng, "Kise-kun memangnya tidak ada latihan?"

"Euhm, tidak?" Kise tersenyum kecil ke arah Kuroko, namun arah pandang matanya ia tujukan pada Kagami. Kuroko menghela nafas, sebenarnya ia tidak tega mau mengusir Kise, tapi jika ia tidak melakukannya bisa-bisa Kuroko lah yang diusir dari sesi latihan hari ini.

"Dengar Kise-kun, aku yakin Kasamatsu-senpai akan sangat khawatir dengan keadaanmu, jadi akan lebih baik kalau kau kembali ke Kaijou." Selembut mungkin Kuroko membujuk.

"Kau tidak senang aku disini ya Kurokocchi?" Kise menatap nanar orang yang diklaim dirinya sendiri sebagai sahabat. Kuroko terdiam, haruskah ia jujur? Tapi tatapan nanar Kise mengingatkannya pada anjing yang beberapa hari lalu ia temukan di jalan, kehujanan, dan terlihat memohon untuk dibawa pulang.

Kuroko kembali menghela nafas, "Iya Kise-kun. Kau sangat mengganggu latihan kami." Persetan dengan tatapan nanar Kise, toh ujung-ujungnya anjing yang ia lihat dijalan waktu itu ia biarkan saja, kan dia sudah punya Nigou, buat apa memungut anjing lagi, merepotkan saja. Oh, sungguh keji dirimu Kuroko!

Manik kecoklatan Kise berkilat basah, ia sudah bersiap merengek sebelum kalimat tajam Kuroko kembali berdenging, "Kise-kun, tolong menangis di luar saja." Mata Kise membulat, lalu bangkit dan dengan segera berlari ke luar gimnasium tempat tim basket Seirin berlatih, berteriak "Kurokocchi hidoi!" dengan suara serak berlatar belakang langit senja. Maaf ya Kise-kun, lain kali aku berjanji untuk mentraktirmu es krim, batin Kuroko. Ah, itupun kalau aku masih ingat.

Langkah kaki Kise mulai melambat, air mata yang tadi keluar dari sudut matanya juga sudah mengering. Tapi perasaannya masih menangis, dan ini bukan karena kalimat Kuroko—yah, walaupun ia sangat sakit hati karena ucapan sang bayangan, tapi bukan itu masalahnnya—ia teringat akan Kagami saat latihan tadi, bahkan sebelum-sebelumnya, pemuda itu jelas menghindarinya. Hati Kise kembali berdenyut nyeri, ia merasa sesak. Semenjak hari dimana Kagami menyatakan untuk melupakan perihal pernyataan cintanya pada Kise, ia sudah merasa tertekan, kenapa? Ia tidak mengerti, mungkinkah Kagami sudah mencari penggantinya? Apakah ia jatuh cinta pada seorang perempuan yang lebih cantik dari Kise? Tunggu, wajar dong, Kise kan laki-laki, nggak ada cantiknya. Mungkinkah ... Kise menatap ke bawah, memperhatikan dada bidangnya. Sudut mata Kise kembali mengeluarkan air mata, Kise tidak punya payudara. Aomine pernah bilang, kalau laki-laki itu suka sekali dengan dada, apalagi yang ukurannya besar, kalau laki-laki itu tidak suka, berarti dia bukan laki-laki normal. Ingat Kise ketika Aomine memberikan prolog sebelum meminjaminya majalah Mai-chan.

Kise mendesah, sejak awal ia tahu kalau Kagami tidak mungkin suka dengan laki-laki, wajahnya jelas menunjukkan kalau ia lebih tertarik pada perempuan, walaupun pengalamannya di bidang itu adalah nol besar. Ia bahkan masih tidak percaya Aomine mencintainya, karena mata mesum Aomine terus saja memperhatikan ukuran dada perempuan, ciri khas laki-laki pubertas yang jatuh cinta hanya pada wanita. Tapi Akashi juga pernah mengajarinya, kalau laki-laki itu plin plan, kadang suka perempuan kadang juga suka laki-laki, tergantung dimana hatinya berlabuh, apalagi kalau laki-lakinya tsundere, itu incaran para seme. Walaupun untuk bagian akhir Kise sama sekali tidak mengerti, mungkin itu selera Akashi.

Kise menatap langit yang berubah mendung, kalaupun Kagami menemukan seorang perempuan mau bagaimana lagi. Dia tidak bisa memaksa, toh sejak awal itu memang salah Kise, coba kalau dirinya tidak bingung dalam memilih antara Aomine dan Kagami, coba kalau dirinya mau melihat lebih dalam ke bilik hatinya sendiri, bahwa sejak awal Kise sudah-

"Oi Kise!" Suara berat Aomine menginterupsi pikirannya. Dengan langkah cekatan Aomine berlari ke arah sang mantan pacar.

"Aominecchi. Tidak latihan?" Pertanyaan bodoh Kise.

"Heh, buat apa? Toh aku pasti menang. Hanya aku yang bisa mengalahkan diriku sendiri." Aomine menyeringai, Kise lupa kalau MANTAN pacarnya itu masih brengsek dalam permainan basket. Dan sepertinya mantan pacarnya ini juga lupa kalau Kise setidaknya pernah menyamai teknik basketnya, dan hampir mengalahkan mantan cahaya Teikou yang begitu keras kepala.

Keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Kise kembali menghela nafas, kepulan putih keluar dari mulutnya, cuaca memang semakin dingin, didukung dengan awan mendung maka dapat diduga bahwa beberapa menit lagi hujan akan turun.

"Hei Kise, apa Bakagami masih menghindarimu?" Aomine mengusap tengkuknya, memberikan sensasi hangat di kulit tan yang begitu dingin. Kise tersenyum kecil, tidak menjawab, tapi mengangguk.

.

\(PRESENT_PAST)/

.

Kise merebahkan diri diatas kasur, menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong, semenjak kembali dari taman bermain ia merasa ada yang salah dengan dirinya, konsentrasinya tiba-tiba buyar, dadanya sesak seolah baru berlari keliling Kanagawa 500 kali, perutnya mual dan ingin muntah, ditambah lagi dengan hatinya, hatinya sakit seolah hancur berkeping-keping. Dan ini semua dikarenakan satu hal. Ucapan Kagami.

Kise mencengkram dadanya erat, kenapa? Kenapa ia harus mengalami perasaan yang seperti ini? Rasanya mirip saat ia dan Aomine memutuskan untuk berpisah, atau mungkin lebih sakit? Ia tidak mengerti. Kise sama sekali tidak mengerti, kenapa hanya karena Kagami menyerah dengan perasaannya pada Kise, justru dirinyalah yang paling merasakan sakit, kenapa dirinya yang harus menderita. Air mata mengalir membasahi pipi mulusnya, Kise terisak, telapak tangannya diletakan di depan mulut, menahan segala tangis yang bisa pecah kapan saja. Kise memang bodoh, dia lelet, dan tidak pernah peka. Benar kata Kuroko dan Midorima, dirinya itu terlalu polos dan mudah dipermainkan. Bahkan oleh perasaannya sendiri. Seharusnya Kise menyadari, walaupun ia tidak bisa menghilangkan biru dari pikirannya, bukan berarti ia bisa kembali bersama biru miliknya, kembali ke masa-masa seperti dulu. Harusnya Kise menyadari bahwa dibalik biru, ada secercik merah yang mewarnai, yang lebih terang dan bercahaya. Merah yang selalu membuatnya tertawa, mengubah hidupnya yang sedang dirundung patah hati menjadi lebih berwarna, perlahan tapi pasti. Kise mengubah posisi tidurnya, meneggelamkan seluruh wajahnya diatas bantal, ia menangis, kali ini lebih keras tanpa ditahan. Seharusnya Kise menyadari, bahwa sejak awal ia telah menyukai Kagami, biru memang tidak bisa hilang, karena biru adalah cinta pertamanya. Tapi jauh dilubuk hatinya yang terdalam, warna merah Kagami lah yang selalu memenuhi dadanya.

Kise menguap lebar, ia tidak tidur semalaman, matanya bengkak efek tangisan, padahal seharusnya hari ini adalah hari pemotretan. Kerjaannya sebagai model memang tidak pernah kenal waktu dan tempat, ia merasa sedikit dejavu, Kise ingat pasti bahwa sehari setelah ia putus dengan Aomine pekerjaan modelnya datang tiba-tiba. Ditambah lagi, hari ini pemotretannya dilaksanakan di Tokyo, tempat Kagami bisa berkeliaran dimana saja. Atau mungkin Aomine, ia sudah menyadari perasaannya pada Kagami, tapi rasanya menegaskan itu pada Aomine membuatnya sedikit kasihan. Karena Kise tahu Aomine selalu berusaha untuk bisa mendapatkan kembali hatinya yang sudah dihancurkan oleh pemuda itu. Sebrengsek apapun Aomine, dia adalah tipe orang yang akan memperbaiki segala kesalahan yang telah diperbuatnya dengan caranya sendiri.

Tapi setidaknya ia harus memberitahu Aomine, Kise tidak ingin menggantungkan perasaannya, toh Aomine pasti mengerti, karena pemuda tan itu selalu mencintai Kise dengan tulus. Bahkan saat mereka putus, walau terlambat tapi Kise menyadari bahwa Aomine melakukannya demi dirinya, ia tidak ingin menyakiti Kise lebih dari yang seharusnya. Sayang minyak sudah dituang dalam api, Kise sudah terlalu sakit dan hatinya telah berpaling. Menekan tombol ponsel dengan cekatan, sesegera mungkin Kise mengirim pesan singkat pada Aomine, meminta untuk bertemu setelah pekerjaannya selesai. Satu persatu Kise harus menyelesaikan semuanya, dimulai dari Aomine kemudian Kagami.

.

\(PRESENT)/ \(PRESENT)/ \(PRESENT)/ \(PRESENT)/

.

"Halah, si Bakagami itu benar-benar deh, membuang perasaannya begitu saja, apa dia serius suka padamu Kise?" Aomine mencibir, mengisi kekosongan yang terlihat mencekam. Kise terdiam, mengangkat bahunya tanda bahwa dia sendiri tidak paham. Usahanya untuk mendekat kembali ke Kagami tidak berhasil selama dua minggu ini. Ingin rasanya ia menyerah, apalagi membayangkan ketika Kagami sudah punya tambatan lain, seorang gadis cantik dengan tubuh gemulai layaknya gitar kesayangan Kasamatsu. Tapi ia tidak mau, karena Kagami belum tau perasaannya, ia tidak ingin menyesal karena harus memendam perasaan.

"Aku rasa masih ada hari esok Aominecchi. Setidaknya walaupun Kagamicchi tidak menyukaiku lagi, aku tetap akan menyatakannya, aku sudah berusaha sampai sini, tidak boleh ada penyesalan-ssu." Kise tersenyum kecil, berusaha tegar. Aomine memperhatikan, sebenarnya ia masih berharap—sangat berharap—bahwa Kise akan kembali padanya, tapi mau dikata apa, ia yang menanam maka ia juga yang harus menuai, ia mendapatkan ganjaran atas apa yang pernah dilakukannya di masa lalu, Aomine rasa ia pantas mendapatkannya. Tapi tidak dengan Kise, ia harus bahagia, ingin rasanya Aomine membantu. Tapi hal seperti itu bukan ciri khasnya, mau apa dia? Menghajar Kagami? Membangunkannya ke dunia nyata? Ia tidak ada waktu untuk itu, ia hanya akan menghancurkan Kagami dalam basket, tapi kalau menantangnya sekarang hasilnya sudah dapat ia prediksi, kekalahan untuk pemuda alis bercabang.

"Ne, Aominecchi, aku rasa aku harus segera kembali. Hujan akan segera turun. Sampai jumpa!" Kise berlari kecil, meninggalkan pemuda tan itu sendirian. Aomine menghela nafas, menatap langit gelap ia teringat hari ketika ia berpisah dengan Kise, segalanya berlalu begitu cepat.

Aomine mendengus. "Selamat tinggal ... Kise Ryota."

Langit kelam dengan tiba-tiba memuntahkan cairannya secara bertubi, membuat pemuda pirang yang tadinya hendak pergi segera ke stasiun terpaksa menghentikan langkahnya dan menepi ke salah satu etalase toko untuk berteduh. Kemeja abu-abunya sudah basah di beberapa bagian, tubuhnya sedikit bergetar, ia menggiggil kedinginan efek angin yang menyertai hujan. Kise Ryota benar-benar sedang sial, ia melihat kesekeliling, orang-orang berlalu lalang dengan payung senada pelangi. Sepertinya hanya dirinya yang tidak tahu ramalan cuaca hari ini. Kise hanya dapat berharap hujan ini tidak akan membuatnya sakit, ia sudah membolos latihan basket selama beberapa hari, dan kalau ia ketahuan membolos lagi maka bisa-bisa Kasamatsu-senpai akan mencincangnya menjadi beberapa bagian kecil. Kise mendesah, bukan hanya cintanya yang sial, seluruh kehidupan Kise Ryota juga sial rupanya.

"Brengsek! Kenapa bisa hujan deras begini?! Bikin repot saja!" Suara berat yang tidak asing di telinga Kise mengalun membuat si pirang tersentak. Suara ini ...

"Kagamicchi?" Kise berujar pelan, matanya menatap lurus ke manik merah pekat milik Kagami, yang dipanggil sendiri hanya bisa kaget dengan sosok yang berada di sebelahnya. Bagaimana bisa Kagami berteduh di tempat yang sama dengan Kise?! Mungkinkah ini takdir Tuhan? Heh, klise sekali, lebih tepat kalau disebut sebagai ide author yang ingin fic ini segera selesai.

"Ki-Kise? Apa yang- ah, kau belum pulang dari tadi?" Kagami menetralkan kembali ekspresi wajahnya semula, rasa kaget yang tadi menyelimutinya langsung berubah menjadi tatapan garang.

"Ah, tadinya ingin segera pulang, tapi malah hujan-ssu." Kise tidak bisa bilang bahwa tadi ia sempat dihambat Aomine, entah kenapa hal itu hanya akan memperkeruh suasana. Padahal belum tentu juga Kagami akan cemburu mendengar ia bersama Aomine.

Kise kembali menatap Kagami, menunggu jawaban atau mungkin pertanyaan lain yang akan dilontarkan oleh pemuda berambut merah ini, tapi hasilnya nihil, setelah mengkonfirmasi jawaban Kise, Kagami hanya diam saja, menatap orang yang berlalu lalang. Hal ini sungguh menyulitkan Kise, kenapa hubungan mereka tidak bisa kembali seperti dulu? Tidak masalah kalau Kagami sudah tidak ingin memperjuangkan cintanya pada Kise, tapi mereka teman bukan, haruskah mereka berhenti berteman hanya karena masalah ini.

"Kagamicchi, kenapa kau menghindariku?" Kise memberanikan diri bertanya, dua minggu, ia juga punya batas kesabaran. Kagami diam, tidak membalas, entah tidak dengar atau pura-pura tidak dengar, Kise tidak tahu. Tapi yang jelas ia tidak suka bila tidak diperhatikan.

"Kagamicchi!" Kise menarik lengan baju Kagami, memaksa perhatian si rambut merah teralih padanya. Kagami menatap Kise tajam, dapat terlihat konflik mendalam sedang terjadi pada dirinya, tapi Kise tidak peduli, dia hanya ingin jawaban.

"Aku tau kalau Kagamicchi sudah tidak menyukaiku, tapi setidaknya ..." Kise berhenti berucap, matanya menatap jalanan yang basah karena hujan, ia kembali merasa sakit di dada. Ah, Ryouta! Kenapa tingkahmu mirip anak perempuan?! Jangan sampai menangis baka!

"Kise, sudah kubilang. Lupakan saja pernyataan cintaku, anggap saja tidak ada." Kagami menarik tangan Kise yang masih menggenggam lengan seragamnya, manik merahnya menatap serius ke manik madu Kise, dua pasang mata beda warna memancarkan satu kesedihan yang sama. Kise menarik nafas dalam, ia benar-benar akan menangis sekarang.

"Kagamicchi, aku tidak mau. Aku tidak mau melupakan pernyataan cinta Kagamicchi waktu itu!" Kise terisak, menggigit bibir bawahnya menahan tangisan. Jemari tangannya kembali ia tautkan di seragam Kagami, kali ini lebih erat. Kise menunduk dalam, berusaha agar tampang memalukannya tidak terekspos di hadapan Kagami.

"Kise, kau tidak-"

"Kenapa? Kenapa harus dilupakan? Aku mengerti kalau memang Kagamicchi tidak menyukaiku lagi, aku dapat menerima itu! Tapi, kumohon jangan suruh aku untuk melupakannya! Apa Kagamicchi tidak tahu kalau aku sangat senang dengan pernyataan Kagamicchi saat itu?! Aku- aku sangat senang, hiks ... aku- hiks ..." Kise sudah tidak dapat membendung lagi tangisannya, biar saja dilihat banyak orang, toh mereka tidak akan sadar karena tangisnya pecah ditengah hujan deras. Tidak akan ada yang memperhatikan, tidak akan ada yang peduli, bahkan pemuda di depannya, pemuda yang dicintainya sudah tidak akan pernah memperdulikannya lagi.

Mulut Kagami menganga lebar, ia tidak pernah berpikir akan membuat Kise menangis, satu-satunya alasan Kagami menyerah akan perasaannya adalah agar Kise bisa kembali pada Aomine, ia tidak ingin cintanya menjadi beban untuk Kise. Kagami sadar bahwa pemuda pirang di depannya masih sangat mencintai Aomine, mantan pacarnya. Sayangnya pernyataan cinta Kagami membuat Kise bimbang. Kagami mendesah perlahan, tangan kanannya ia tempelkan di wajah Kise, mengangkat wajah tampan tanpa cacat miliknya. Terlihat begitu jelas air mata yang mengalir deras dari kedua sudut manik madu yang begitu menggoda, ini bukan tangisan buaya yang biasa Kise pamerkan agar permintaannya dipenuhi, ini tangisan patah hati, Kagami tau jelas karena di hari itu ia juga menangis seperti ini—dengan manly tentunya, bukan girly seperti Kise.

"Kise, katakan padaku dengan jujur, sebenarnya bagaimana parasaanmu padaku?" Kagami menatap tajam, dapat dilihatnya raut wajah Kise yang berubah merah seketika, bukan hanya karena efek tangisan atau dinginnya cuaca, tapi karena juga rasa malu.

"A-aku ... Sangat menyukai Kagamicchi-ssu. Bukan hanya sekedar sebagai teman, tapi berharap lebih dari itu." Kise kembali menundukkan kepalanya, telapak tangannya ia usapkan ke hidung menghilangkan ingus akibat tangisan. Kagami mematung, jawaban yang dilontarkan Kise berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Tapi bagaimana dengan-

"Bukankah kau menyukai Aomine?" Kagami mengerutkan alisnya, ia masih tidak percaya.

"Itu sudah masa lalu, yang sekarang kusukai adalah Kagamicchi, tadinya aku juga bingung dengan perasaanku. Tapi semenjak Kagamicchi bilang ingin menyerah, hatiku terus terasa sakit, dan aku menyadari kalau," Wajah Kise semakin memerah dan menghangat, "kalau aku lebih menyukai Kagamicchi dibanding Aominecchi." Kini Kise menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangan, sungguh ia malu setengah mati. Tadinya ia pikir pernyataan cintanya tidak akan berakhir dramatis, tapi ternyata hatinya yang sensitif justru menimbulkan efek melankolis.

Kagami kembali ternganga, apa yang dikatakan Kise barusan? Dia menyukainya lebih dari Aomine? Katakan Kagami banci atau apalah itu, tapi sekarang ini perasaannya benar-benar berbunga-bunga, seolah kupu-kupu beraneka warna bergerumul dalam perutnya dan menyerbak keluar menimbulkan sensasi hangat hingga ke seluruh tubuhnya.

"Kau tidak berbohong kan Kise? Kau serius kan?" Tangan Kagami mencengkram erat bahu Kise, madu kembali beradu dengan merah. Kise mengalihkan pandangannya sebelum mengangguk tanda konfirmasi. Kagami kembali terdiam, sebelum ekspresi bahagia mengambil alih wajah sangarnya. Tanpa menunggu lagi Kagami dengan segera memeluk Kise, begitu erat sampai Kise kesulitan bernafas. Kagami tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada seseorang, dalam hidupnya selama ini hanya ada dua orang yang ia cintai, Himuro dan Alex, itupun cinta seorang keluarga. Begitu pula dengan cintanya untuk Kuroko dan Hyuuga, Kiyoshi serta yang lainnya, namun itu hanyalah cinta terhadap sahabat. Ketika bertemu Kise, Kagami merasa seolah memiliki rival yang harus dikalahkan, Kise menjadi batu pijakannya mengalahkan Kiseki no Sedai satu persatu. Sebelum status pemuda kelewat ceria itu telah berubah dari rival menjadi teman, lalu sahabat. Ia pikir cintanya pada Kise akan sama seperti sebelum-sebelumnya, bukan cinta untuk satu orang yang benar-benar mengisi hatimu. Toh Kagami juga merasa bahwa dia bukan homo, dia jelas suka perempuan. Namun entah kenapa dengan Kise begitu berbeda, ia tidak tahu apakah itu wajah cantiknya yang membuat Kagami jatuh cinta, tapi yang jelas cinta kecil itu telah berubah besar hingga seperti sekarang ini. Dan ia begitu bahagia ketika mengetahui bahwa Kise juga membalas perasaannya.

"Kagamicchi, se-sak!" Kise mendorong kecil dada bidang Kagami, berusaha untuk keluar dari jeratan mirip ular yang melingkarinya.

"Ah, so-sorry Kise." Kagami melepaskan pelukannya, menggaruk kecil pipinya dengan wajah semerah kepiting rebus. Bagus, dia baru saja memeluk Kise di depan umum, memalukan sekali. Kagami mengalihkan pandangannya ke jalan, hujan memang belum reda, tapi intensitasnya sudah mulai berkurang, hanya menimbulkan rintik-rintik kecil yang tidak begitu terasa bila bertemu kulit. Kagami merasa bahwa sebentar lagi momen romantis mereka akan segera berakhir disini, Kagami mendesah lelah. Kise yang melihat ini tertawa kecil, ia sebenarnya juga tidak ingin berpisah dari Kagami, penderitaan tidak diperdulikan selama dua minggu itu sangat menyesakkan, makanya kalau bisa ia ingin berlama-lama dengan kekasih barunya.

"Ehm, Kise. Ba-bagaimana kalau kau menginap di apartemenku? Ya-yah, aku tidak memaksa, tapi daripada kau pulang basah-basahan begitu, kan tidak nyaman di kereta. Jadi ada baiknya kalau ikut denganku." Kagami menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia benar-benar gugup, butuh pergulatan dalam diri sendiri untuk mengajak Kise mampir.

Kise tersenyum lebar, sedikit nakal. "Are? Memangnya Kagamicchi mau melakukan apa denganku di apartemenmu-ssu?" Ucapan Kise dibuat sedikit menggoda. Sontak hal itu membuat wajah Kagami kembali memerah.

"Ba-baka! A-aku tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh padamu Kise. Aku tidak merencanakan apapun! Sungguh! Aku tidak berniat untuk mengajakmu ke kamar dan melakukan-" Kise tertawa keras, Kagami menundukkan wajahnya menahan malu.

"Hmm ... padahal aku tidak masalah lho melakukan hal yang aneh-aneh sama Kagamicchi~" Kise mengedipkan sebelah matanya, kembali mengerling nakal ke arah Kagami. Si rambut merah tertawa.

"Yah, kalau kau tidak masalah baguslah. Aku akan berusaha selembut mungkin." Kagami mencondongkan wajahnya ke telinga Kise, berbisik tak kalah seduktif. Kini wajah Kise yang memerah padam.

"Kagamicchi mesum!" Kise mengerucutkan bibirnya, memukul lengan pelan Kagami dan meninggalkannya begitu saja.

"Oi! Tunggu Kise!" Kagami dengan segera menyusul kekasihnya, menautkan jemari keduannya dengan sangat erat, mereka berjalan pulang beriringan, ditemani pelangi yang menghias langit setelah hujan.

.

The Truth. End.


Omake : Keadaan Aomine setelah bertemu Kise

Aomine berjalan tak tentu arah, baru saja ia bertemu dengan Kise dan pemuda pirang itu menyatakan bahwa ia tidak bisa kembali padanya. Ada sesorang yang telah mengisi hatinya dan Aomine jelas tau betul siapa orangnya. Aomine menghela nafas berat, ia terus mengucap mantra berupa tidak apa Aomine, kau kuat Aomine, kau bisa dapat yang baru Aomine, kau populer tenangkan dirimu, dan sejenisnya.

"Are? Dai-chan?" Suara seorang gadis mengalihkan perhatiannya, itu Momoi Satsuki, temannya sejak kecil. Ia berdiri di depan pintu sebuah kombini, jaket berwarna biru muda miliknya membungkus sempurna tubuh langsingnya.

"Satsuki ..." Aomine menitikan air mata, ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan sahabat dari oroknya. Rasanya jadi ingin curhat.

"Momoi-san? Aomine-kun?" Suara lain yang juga dikenalnya dengan baik muncul secara tiba-tiba. Kuroko Tetsuya, sahabatnya yang lain saat di SMP. Kembali ia ingin menitikan air mata, ingin rasanya menerjang Tetsu dan menangis di pundaknya—yang jelas-jelas lebih rendah dibanding miliknya—tapi apa daya, Aomine tidak bisa melakukannya mereka kan sedang ada konflik mengenai basket.

"Ah, Aomine-kun. Kau, ditolak Kise-kun ya?" Pertanyaan tanpa filter apakah akan menyakitkan bagi yang mendengarnya dilontarkan dengan nada santai oleh Kuroko. Temannya yang satu ini memang jelas terlalu banyak bergaul dengan Akashi, kata-katanya sangat menusuk.

"Benarkah Dai-chan? Kasihan, sini aku peluk." Momoi memandang penuh belas kasihan ke arah sahabat yang sudah seperti adiknya sendiri. Aomine hanya bisa menurut karena tidak tahu harus bagaimana, ia memeluk Momoi erat. Tangan Momoi mengusap pelan punggung Aomine yang tegap, memberikan kekuatan agar tabah. Kuroko sendiri juga ikut mengusap pelan surai biru tua Aomine, penuh dengan rasa sayang yang sangat tulus, bagaimana pun juga Aomine adalah sahabatnya, jadi dia harus membantu saat yang lain kesusahan.

Kuroko menggigit kecil popsicle nya, sejujurnya agak sebal juga karena kencannya dengan Momoi harus diganggu oleh Aomine, tapi tidak apa, toh menghibur Aomine bersama Momoi serasa menghibur anak sendiri. Anggap saja pelajaran bila mereka punya anak nantinya, dan katika anak mereka patah hati, setidaknya keduanya sudah tau harus melakukan apa. Ya, benar-benar pemikiran yang positif Kuroko.

.

Between Past and Present! FIN.


A/N : YATTA! Akhirnya tamat juga! *usap air mata* maaf ya buat readers sekalian yang merasa saya terlalu lama upload, jujur semenjak beberapa bulan yang lalu Laptop saya gak mau dibuat buka FFn, dan baru bisa dibuka ya sekitar bulan Juli, makanya update lama, gomen ne~ ;)

Ah, dan maaf ini chapter terakhir malah alay banget, bukannya bikin yang so sweet malah brasa drama di sinetron, :'v

Oke, sebagai ucapan terakhir untuk fic ini saya ucapkan banyak-banyak TERIMA KASIH buat kalian yang udah fave dan follow cerita saya, *terharu* Dan terutama untuk kalian yang sudah mereview,

Cherry, Akai Girl, humusemeuke, Meyfai Liachai, uchiharyuko, cute kise, setsura, Caramel JY, Shirayuki, Mocchan The Zombie, Loli Gothica, RinRin NaRin desu, Kiwok, Katsukatsu, authorjelek, shiro yuki, ai selai strawberry, LiaZoldyck-chan, Black Chain Of Alice, anonymouse, jesper, loliconkawaii, Yami-chan Kagami, Okumura Arale, chi-lin, Kiria Sanae, Yoshioka Maria, Hyorikazu, Arisu Sakura, dan guests (gile gue serius sebutin satu2)

Dan tak lupa pula silent readers (kalo ada) tanpa bantuan kalian SEMUA! Saya gak akan mampu untuk melanjutkan fic ini (alay banget dah :'v)

Oh, iya, maaf bagi fans AoKise, karna ujung2nya saya memutuskan untuk bikin KagaKise, emang udah rencana dari chapter sepuluh. Dan untuk Threesome AoKiKaga rated M, masih saya pertimbangkan, kalo memang luang akan saya bikin, :)

Sekali lagi, terima kasih karena sudah mengikuti fic Between Past and Present ini hingga chapter terakhir. Saya juga mengucapkan Minal Aidzin Walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi kalian semua yang merayakannya, maafkan kesalahan saya ya~ :3

PS : untuk balasan review silahkan cek PM masing2, untuk Guests (anon) karena sebagian besar review nya sama, saya Cuma bisa bilang terima kasih sudah menunggu, yang pilih KagaKise sudah terkabul permohonannya, XD

peluk cium,

Higitsune! Hoam~ *bobo dulu*