The World Before Her Eyes by Himawari96
Saya bukan pemilik asli cerita kedua fandom, maupun cerita ini sendiri. Terjemahan ini telah mendapatkan ijin dari author asli.
Selamat menikmati
Kegiatan bersih-bersih adalah hal yang kubenci. Terutama saat ini hanya dilakukan oleh empat orang. Mike cukup baik hati dengan menawarkan diri untuk membantu saat aku, Levi dan Eren berjalan keluar dari cafeteria untuke memulai kegiatan bersih-bersih rutin kami. Hanya tim Levi yang emlakukan kegiatan menyebalkan ini, Levi menyuruh kami untuk bekerja layaknya pelayan. Aku meraup guguran daun dari rerumputan dan mengumpulkannya dibawah pohon. Sedangkan Levi dan Eren menyapu di bagian trotoar dan mengarahkannya menuju rerumputan untuk bisa kusapu. Mike membersihkan bagian dalam gedung. Dari bawah sini aku bisa melihatnya yang sedang mengelap kaca jendela dengan kain basah. Kenapa Hanji harus mengatakan hal seperti itu? Kenapa dia tidak bisa bersikap seperti orang normal.
Aku memandang Levi, dia menyapu dengan tenang. Dia mungkin terbiasa dengan segala keanehan Hanji. Aku menyingkirkan poni rambutku jengkel dan melihat uap mengepul keluar dari mulutku, menyatu bersama dinginnya udara.
"Apa sekarang musim dingin?" Ucapku entah pada siapa. Cuaca terlalu lembab dan dingin untuk musim gugur.
Levi menjawab, "sekarang bulan November, jadi benar sekarang musim dingin."
"Apa kau benci musim dingin, Sakura?" Eren membuka bicara, menyandarkan punggungnya pada dinding untuk beristirahat.
"Tidak, aku menyukai musim dingin. Hanya saja tidak saat aku tidak menyiapkan baju hangat." Ucapku tersenyum.
"Katakan, Kapten. Berapa tanggal lahirmu?" tanyaku pada Levi penasaran.
"25 Desember." Jawab Levi singkat. Aku terkesiap.
"Itu artinya tidak akan lama lagi! Berapa umurmu nanti?" Aku mendesak. Dia hanya berdiri diam sebelum memberikan respon.
"Bukan urusanmu."
"Ugh," aku mengerucutkan bibir. Dia menghindari pertanyaanku. Aku pasti akan menemukan jawabannya, suatu hari nanti.
"Bagaimana, apa kalian menyukai Mike?" Pertanyaan random yang secara tak terduga keluar dari mulut Levi. Aku dan Eren saling bertukar pandang.
"Lumayan. Kenapa kau bertanya seperti itu, Kapten?" Eren melihat Levi dengan tatapan bertanya.
"Aku berhenti sebagai kapten. Dan akan menyerahkan kalian dibawah asuhannya. Aku yakin dia akan baik-baik saja menjadi pemimpin baru kalian."
Aku terpaku di tempat. Levi tidak akan menjadi kaptenku lagi? Aku seharusnya melompat senang dan merayakan ini, berterimakasih karena aku tidak harus diperbudaknya untuk bersih-bersih lagi. Jadi kenapa.. kenapa aku merasa kosong hanya dengan mendengarnya? Kenapa aku merasa muram?
"Kenapa?" Eren kaget, benar-benar terkejut dengan keputusan mendadak yang diambil kapten.
Levi menghentikan kegiatannya dan menatap Eren tepat di kedua manik hijaunya. "Apa kau tidak merasa senang, bocah? Aku hanya ingin beristirahat. Aku belum siap dengan tim baru…."
Jadi ini mengenai rekan-rekna timnya yang telah mati. Dia tidak ingin orang-orang baru menggantikan mereka.
"Tapi, kapten, bagaimana soal menjaga kami dalam pengecekan? Kau tentara terkuat, benar kan? Hanya kau satu-satunya orang yang pantas menjadi kapten kami!" Eren memekik, dia terlihat kacau.
"Tenanglah, kau hanya tidak mengakuinya. Aku percaya kalian berdua orang yang memiliki perangai. Jadi percayalah pada dirimu sendiri. Mike lebih kuat dari yang kalian lihat." Levi kembali menggerakkan gagang sapunya, menyapu dedaunan yang berserakan. Dia menyelesaikan ucapannya. Si mata hijau, Eren menatapnya dengan raut memohon, rupanya dia tidak ingin menyerah begitu saja. Aku menggenggam sapu dengan kuat hingga buku-buku jariku terluka.
"Aku tidak ingin kau pergi!" Aku berteriak, membuatnya membalikkan badan terkejut. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mulutku hanya berusaha berucap suara. "Kau egois! Aku tahu kau sedih karena telah kehilangan rekan-rekan timmu! Tapi disini masih ada aku dan Eren!" Aku menatapnya memohon.
"Ini sebuah kejutan. Apa yang akan terjadi dengan kau membenciku? Apa kau tidak ingin aku kembali, karena perlakuanku padamu di persidangan tempo hari?" dia menunggu responku dengan sabar.
Aku mengerjap beberapa kali.
"Uhm.. A-aku lupa soal itu. Tapi tunggu.. Aku masih benar-benar membencimu!" Aku berucap terbata. Dia melangkah mendekat, menghapus spasi. Tangannya mengibaskan rambut arumanisku. Tentu saja aku kaget dan menepis tangannya. "Hentikan!" Suaraku terdengar keras di telingaku, kupegangi kepalaku sendiri.
"Aku tidak peduli kau membenciku atau tidak. Tapi yang kutahu aku tidak membencimu. Kau tentara yang hebat, kecil tapi kuat. Orang-orang sepertimulah yang memberikan alasan bagi orang lain untuk bertarung. Meskipun aku hanya menjadi kapten bagimu dalam waktu yang sebentar saja, aku bangga untuk mengatakan aku senang memilikimu. Sekarang singkirkan wajah itu dan jangan lemah. Tidak mungkin aku akan disini selamanya." Dia bergumam panjang lebar dengan nada bicara biasa.
Wajahku menekuk. Selama ini aku telah memanggilnya dengan sebutan klon Sasuke, tapi kenyataan dia tidak seperti laki-laki Uchiha itu dari dalam dirinya. Aku tidak ingin dia pergi, aku sadar akan hal ini. Mengejutkan memang, aku suka berdebat dengannya, melempar protes mengenai kegiatan bersih-bersih dan merengek tentang, 'kenapa dia harus memasuki kamarku untuk membangunkanku setiap pagi'.
"Tapi-" baru saja aku membuka bibir untuk meyakinkannya agar tetap tinggal, Mike menginterupsi. Dia berteriak dari balik jendela.
"Kita harus segera menghadiri pertemuan! Sekarang sudah hampir dimulai!"
"Aa..." respon Levi. Dia menyimpan sapunya di dinding dan meminta aku dan Eren untuk melakukan hal serupa. "Meeting kali ini sangat penting dan tidak boleh dilewatkan."
"Mengenai hal apa?" Tanya Eren, lalu berjalan di sebelah Levi. Aku menyamakan langkah lebar mereka tanpa bertenaga.
"Kau akan tahu saat kita sudah sampai disana," Levi menjawab dengan tenang. Mike bergabung bersama kami. Kami langsung menuju dinding Sina, melewati gerbang dan menuju kota. Mataku menatapi jejeran toko yang kami lewati, sebuah rok pendek berwarna hitam menarik perhatianku.
"Tu-tunggu! Aku.. Harus membeli uhm.. Sesuatu." Aku bergumam, membuat mereka bertiga menatap tajam kearah pakaian di dalam toko dengan kilat kebencian. Belanja, mimpi buruk bagi setiap pria.
"Kita harus pergi, kau bisa melakukannya nanti," Levi memicingkan mata. "Apa begitu penting samapi kau harus melakukannya sekarang? Para wanita menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memandangi baju yang bahkan tidak akan mereka beli. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran kalian."
Aku menelan ludah susah payah, malu untuk mengatakannya. Tidak mungkin aku akan mengatakan pada mereka jika aku ingin membeli pakaian dalam dengan suara keras. Aku menatap Eren, berusaha untuk memberitahunya dengan tatapanku. Si pemuda Jaeger melebarkan mata hijaunya lalu mengangguk, memahami bahasa isyaratku. Akhirnya dia mengingat percakapan kami semalam.
"Sakura membutuhkan beberapa baju dan pakaian dalam, dia tidak memiliki bra ataupun celana dalam." Dia berucap dengan terus terang. Mulutku seakan jatuh menyentuh lantai. Aku ingin mencekiknya di tempat! Sungguh!
"Yeah, sebaiknya kau bergegas. Kami akan menunggu." Seru Mike.
Aku bisa mendengar Levi mengerang lalu dia melangkah memasuki toko pakaian. Dia mengambil sebuah rok pendek dari dalam rak pakaian, lalu menggenggam penuh celana dalam berukuran M. Dia menyerbu bagian pakaian khusus wanita dengan cepat, menggenggam beberapa potong pakaian dan bra secara acak, mengecek ukurannya sekilas sebelum menyampirkannya di lengan kokohnya. Aku ingin mati saat ini juga, berharap lantai akan terbelah membuka dan menghisapku untuk selamanya. Aku menatap Eren dengan mata berkilat tajam. Mati kau Eren!. Dia menghindari tatapanku dan memilih untuk memandangi gaun-gaun di sebelah kirinya, seolah itu ada lah hal paling menarik di dunia.
"Dia menyukaimu." Mike berbisik dengan rendah. Sontak aku langsung meliriknya.
"Huh? Apa maksudmu?"
"Dia tak akan pernah mau melakukannya hanya untuk orang lain, aku tidak yakin dia bahkan menyadarinya." Mike menekankan. Aku memikirkan kata-kata Mike. Apa maksudnya? Tidak ada. Levi mengakui dia mulai menyukaiku beberapa menit yang lalu di sela kegiatan bersih-bersih kami. Ini bukan sesuatu yang baru.
"Maafkan aku, Sakura..." gumam Eren. Aku mendengus, tidak menerima permintaan maafnya.
Aku melihat Levi yang berjalan menuju wanita penjaga kasir. Mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam untuk membayar barang-barang itu dengan cepat saat wanita di depannya memasukkan belanjaan Levi ke dalam dua kantong tas belanja. Levi langsung melangkah keluar dengan cepat, di tangannya sudah ada kantong tas belanjaan. Dia memberikannya padaku, aku hanya mengalihkan pandangan.
"Kita sudah terlambat, ayo cepat pergi." Perintahnya dengan nada jengkel.
"Aku tidak mengatakan padamu untuk memilihkan pakaian untukku." Aku mendesis marah.
Dia menatapku, "Aku hanya membelikannya untukmu dan membayarnya. Kau cukup diam saja dan dengarkan apa yang kukatakan setidaknya untuk hari ini sebagai balas budi."
Aku mengerucutkan bibir saat dia berbalik dengan gusar lalu kembali berjalan. Kami mengikuti, melangkahkan kaki dengan cepat. Jari-jariku menggenggam kantong tas dengan erat, aku merasa malu dan marah disaat yang bersamaan. Mataku melemparkan tatapan tajam kearah Eren yang menggumamkan maaf. Dia benar, Levi telah membayarkan benda-benda sialan ini, jadi setidaknya aku merasa senang. Tapi dia melihat dan menyentuhnya! Dia 'menyentuh' bra laknat yang telah resmi menjadi milikku, dan memungutinya seperti sedang membeli kentang! Aku menusuk Eren beberapa kali dalam imajinasiku saat dia berjalan.
Sepatuku menghantam lumpur saat kami berjalan menuju gedung survey corps. Levi juga mendapatkannya di alas sepatunya, eh memangnya itu tidak mahal? Yeah, tidak masalah. Inilah yang dia dapat karena telah menjadi orang yang tidak sabaran. Aneh melihat bagaimana dia berbelanja dalam waktu kurang dari dua menit.
Saat kami melewati bangunan familiar ini dan berjalan menuju ruang utama, Eren berjalan mendekatiku. "Apa menurutmu meeting kali ini membahas mengenai kita?"
Aku mengendikkan bahu, menatap sebuah pintu dengan tulisan 'Korporal' di bagian kaca jendela. Jadi ini ruangan Levi.
"Aku tidak tahu..." gumamku. Kami menuju sebuah pintu yang terletak jauh dari aula. Mike membukakan pintu dan membiarkan kami bertiga melangkah masuk. Aku bisa melihat Erwin yang tengah duduk di depan sebuah meja. Di seberangnya sudah ada Mikasa dan Armin yang duduk bersebelahan. Sebuah lilin menerangi ruangan ini. Mike menutup pintu di belakang kami. Sedangkan Levi berdiri dengan bersandar pada meja, meninggalkan aku dan Eren yang berdiri kikuk.
"Duduklah." Erwin memerintah dengan telunjuknya yang mengarah pada dua kursi kosong di sebelah Armin. Aku dan Eren langsung menghempaskan bokong kami diatas permukaan kursi, tanganku masih memegang kantong tas yang kini ada diatas paha sebagai antisipasi.
"Jadi.. Meeting kali ini tentang apa?" Eren bertanya dengan sedikit bingung. Erwin mendaratkan sikunya diatas permukaan meja yang lembut, menatap kami semua.
"Kau harus berjanji untuk tidak membocorkan informasi ini pada orang-orang diluar ruangan, mengerti?" Kami mengangguk, dia melanjutkan. "Ini mengenai titan wanita tempo hari, Armin memiliki alasan untuk mempercayai bahwa dia adalah Annie."
Eren terkesiap, matanya melebar dengan raut kebingungan.
"Masuk akal, saat mayat Marco ditemukan, gear-nya salah. Kami memperbaiki gear kami bersama-sama, dan aku sendiri melihatnya ada sebuah ukiran bertuliskan huruf V di sisinya. Gear yang dia pakai tidak memiliki V. Dia tidak memakai gear dengan V saat dia mati." Armin berbisik.
"Jadi apa yang harus dilakukan pada Annie?" Eren tidak berniat untuk mempercayai dengan mudah. Aku tidak tahu siapa wanita ini jadi aku bahkan tidak merasa terkejut.
"Saat Annie bergabung bersama kita untuk membakar beberapa mayat pada misi kedua, aku melihat V di gear miliknya. Dia memakai gear Marco. Aku hanya bingung, saat itu aku ingin bertanya padanya kenapa dia memakai gear milik Marco. Tapi aku tidak ingin tahu apa maksudnya.. Jadi aku tidak melakukannya."
"Jadi menurutmu Annie sengaja merusakkan gear miliknya lalu menukarkannya dengan milik Marco, begitu?! Itu tidak mungkin benar!" Erwin menghela napas. Mikasa memukul meja.
"Eren, kau tahu ini benar! Annie yang telah membunuh Marco, selain itu dia juga memiliki cirri fisik yang sama dengan titan wanita itu. Ini jelas sekali perubahan titanmu mirip dengan tubuh aslimu. Kau lihat titan Sakura, memiliki mata hijau dan rambut merah muda. Dan titan wanita itu memiliki rambut pirang dan mata biru, seperti Annie. Apa kau tidak mengenali gaya bertarungnya saat kalian berdua bertarung?"
Eren bergetar. Tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Mikasa mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada Eren. "Annie adalah titan."
"Annie juga satu-satunya wanita selain Sakura yang bukan penghuni asli di dalam dinding." Erwin bergumam, berpikir dalam. Dia menggelengkan kepala pirangnya lalu menggertakkan gigi.
"Err.. Maaf. Tapi siapa Annie?" Aku bertanya dengan polos. Sulit untuk bisa masuk dalam percakapan sementara kau tidak tahu siapa yang tengah dibicarakan. Erwin menatap tepat di kedua mataku dengan yakin.
"Ah benar, kau tidak tahu siapa dirinya. Annie adalah salah satu anggota dari tim Bertholdt dan Reiner. Marco yang memimpin timnya selama misi untuk merebut kembali dinding Sina. Dia anggota dari polisi kota saat ini, melindungi raja." Ucap Erwin.
"Sudah pasti dia adalah Annie. Aku tidak tahu kenapa Eren tidak berniat untuk menerima kenyataan.. Siapa Annie bagimu, Eren?" Mikasa mengerling kearah si kepala coklat dengan tatapan paling seram yang pernah ada.
Levi mendengus, "Tentu saja kita bisa saja salah mengenai hal ini, kita hampir mengambil spekulasi tanpa adanya bukti nyata ataupun fakta. Kita dating dengan sebuah rencana untuk memancingnya keluar."
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Eren, mengernyit.
"Dia sangat mempercayai Armin, jadi dia akan menyelinap masuk menuju pasukan polisi dan berbicara pada Annie. Dia akan meyakinkannya untuk membantumu dan Sakura untuk meloloskan diri dari dinding Sinna dan menuju dinding Maria. Itu karena pengadilan telah memutuskan untuk membunuh kalian berdua karena ketidakbergunaanmu selama di ekspedisi." Alisku berkedut kesal. Bukan seolah aku telah menduga akan berubah menjadi titan- "Aku tidak membicarakan soal Sakura, dia jauh lebih tangkas darimu, bocah. Kalian berdua dan Mikasa akan menunggunya di perpustakaan, disana ada terowongan bawah tanah yang akan menghubungkan dengan gua disana. Kalian akan menggiringnya kesana dan menjaganya. Aku, Erwin dan Hanji akan datang dan mengatasi sisanya. Jika dia mulai merasakan tentang penyergapan kita dan berusaha untuk berubah menjadi titan, orang-orang akan ada kesana untuk menghentikannya. Bertingkahlah dengan netral, seolah-olah kau tidak mencurigainya dari apapun." Aku tersenyum, menarik kembali ucapanku.
"Lalu? Bagaimana kalau ternyata dia bukan titan?" Eren berucap dengan keras kepala.
Wajah Levi berubah, terlihat lebih seram. "Aku akan menendangnya sampai dia mau mengakui. Jika ternyata dia bukan mungkin mematahkan beberapa tulangnya tak masalah. Kurasa aku akan meminta maaf setelahnya." Aku bergidik melihat tatapannya yang mengerikan. Aku senang aku bukan Annie.
"Dan bagaimana jika dia berubah?" tanyaku. Pasti dia akan berpikir curiga.
"Jika dia berubah menjadi titan, tim akan segera bertindak dan menghentikannya. Tapi aku harap itu tidak akan terjadi. Terlebih karena posisi kita ada di dalam dinding." Ucap Erwin dengan lancar. Semuanya ada di tangan kami, dan kami tidak boleh gagal dalam misi ini.
"Apa kalian sudah merasa jelas?" Erwin kembali berucap dengan penuh wibawa. Kami mengangguk.
"Kami mengerti!"
.
.
Kami menunggu. Tubuhku dan Eren tertutupi oleh selimut abu-abu, menyembunyikan tubuh kami. Mikasa ada di sebelah kami dengan seragam yang membalut tubuhnya. Dia disini sebagai pengawal kami. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar dengan letih. Erwin menyuruh semua orang untuk bersembunyi. Bersiap-siap untuk menyerbu Annie jika dia mulai memahami situasi yang sebenarnya. Kurasa, ini pergerakan yang buruk. Rencana ini akan lebih mendapat jaminan akan berhasil jika dilakukan di jalanan yang dipenuhi oleh orang-orang, terlihat seperti biasanya. Apakah rencana ini akan benar-benar berhasil?
"Armin adalah orang yang pintar, dia akan meyakinkan Annie, Annie tidak memiliki alas an utnuk menolaknya." Mikasa menjawab pertanyaanku dengan keyakinannya, mengubah pikiran skeptic yang sempat hinggap dalam kepalaku. Dia benar... aku harus lebih mempercayai Armin. Dia harus berhasil.
"Menurutmu apakah itu mereka?" Gumam Eren, menangkupkan telapak tangannya pada kedua matanya. Matahari menyinari dua sosok berambut purang yang berjalan kearah kami.
"Benar, itu mereka." Ucap Mikasa, dahinya mengernyit meliohat si kepala pirang yang lebih pendek. Itu pasti Annie. Kami masih memperhatikan dan menunggu mereka dengan sabar saat ekduanya semakin mendekat. Armin sama seperti kami, sebuah selimut terlihat membungkus tubuhnya, mungkin untuk menyembunyikan dirinya. Saat keduanya sudah cukup dekat dengan kami, aku mengamati gadis pirang di sebelah Armin. Rambutnya dikuncir, dan membiarkan poninya jatuh di kedua sisi wajahnya. Pandangannya terlihat bosan dan acuh tak acuh. Tapi lebih dari itu yang menarik perhatianku adalah hidungnya. Panjang seperti paruh gagak, tapi meskipun begitu justru membuatnya terlihat cantik. Mikasa benar, dia memiliki kesamaan dengan titan wanita yang kulihat tempo hari. Dia menatap tepat di kedua mataku, mengamati wajahku.
"Kau pasti titan lain yang sempat diceritakan oleh Armin," Ucapnya dengan nada yang terdengar bosan dan malas. Gezz, seolah-olah sedang berbicara dengan sebuah batu. Dia sangat acuh tak acuh dan datar.
"Benar, tapi tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Kita harus segera menuju terowongan bawah tanah untuk mengumpulkan gear. Kami menyembunyikannya disana untuk menghidari adanya kecurigaan." Ucapku cepat. Yang kukatakan tidak sepenuhnya bohong. Disana memang sudah ada beberapa gear untuk berjaga jika rencana ini tidak berjalan mulus, pilihan lain adalah kami harus bertarung.
Dia menyapukan pandangannya ke sekitar, allu kembali emnatapku tajam. "Baiklah."
Armin meminta Mikasa untuk berjalan di belakang kami, sementara kami bertiga yang mengenakan selimut berjalan di depan. "Kita akan segera sampai kesana, letaknya tak terlalu jauh." Ucap Armin, sementara Annie tak merespon. Langkah kaki kami terdengar menggema di jalanan yang sepi, menembus keheningan. Apa yangs edang dipikirkan Annie saat ini? Aku sedikit merasa gugup hanya dengan memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Tanganku mengepal erat. Apapun itu aku harus menghadapinya.
Langkah kaki kami mengarah pada tempat yang menjadi tujuan kami. Kami berjalan melewati pintu masuk dan mendapati kegelapan dibawah sana. Ini terlihat seperti sebuah tempat yang pernah kau takuti semasa kecilmu, karena kau tahu, seklai kau jatuh kebawah sana maka kegelapan akan menelanmu, suaramu tidak akan pernah bias terdengar lagi. Tapi aku bukan anak kecil, dan aku tidak merasa takut. Tujuan kami adalah menggiring Annie menuju kebawah sana, menuju kegelapan. Kami menuruni tangga menuju kegelapan terowongan bawah tanah. Langkah kaki kami terdengar menggema.
"Ayolah, Annie. Gear kita ada dibawah sana." Suara Armin menghentikan kami. Annie terlihat berdiri diluar pintu masuk dengan wajah ketakutan, terlihat aneh.
"Ti-tidak. Aku tidak takut dengan kegelapan. Bagaimana jika aku menunggu kalian disini saja?" Ucapnya tergagap sambil memeluk tubuhnya sendiri. Aku mengerang. Ini yang kami butuhkan. Mungkin lebih baik memukulnya begitu saja lalu menarik tubuhnya menuju terowongan sialan ini.
"Benarkah? Kau tidak takut dengan pgelap?" Tanya Armin tidak percaya. Mikasa mengernyit.
"Ya, sangat takut." Tubuh Annie terlihat bergetar.
"Annie! Hentikan wajah mengerikanmu itu dan turun kemari! Kami hanya ingin kau membantu kami!" Eren mengerang keras, matanya terlihat berkobar-kobar penuh kemarahan. Wajah Annie menggelap, dia membungkuk dan bergetar keras. Kami hanya memandang bingung melihat tingkah anehnya. Ada apa dengannya? Dia mendongakkan kepala dan tertawa kencang. Suara tawanya seakan membuatmu ingin membekap wajahnya dengan bantal dan meneriakinya untuk diam. Sekarang seluruh tubuhnya benar-benar bergetar karena tertawa. Mata birunya mendelik keatas dengan kedua pipi pucatnya yang kini memerah. Mulutnya terbuka lebar dengan sudut yang aneh. Mungkin tidak terbiasa terbuka secara mendadak. Tapi jika boleh jujur, itu adalah wajah paling mengerikan yang pernah kulihat. Kami masih tetap menatapnya sampai dia menghentikan tawa anehnya.
"Kalian pikir aku bodoh? Aneh sekali melihat jalanan yang tiba-tiba terlihat sepi. Seolah-olah sesuatu seperti tengah menungguku." Ucapnya sambil tersenyum.
"Annie, kami tahu itu adalah kau. Dan ini Karena kau tidak membunuhku disaat kau memiliki kesempatan, kau kehilangan taruhanmu." Bisik Armin lirih, sedangkan Annie hanya tersenyum lebar.
"Benar, kenapa aku tidak membunuhmu?" Ucap Annie. "Aku mungkin telah kehilangan pertaruhanku, tapi aku tidak akan kehilangan yang satu ini." Dia mendekatkan lengannya kearah mulut, bersiap untuk segera menggigitnya. Kami bertiga terkesiap.
"Tahan dia!" Mikasa berteriak kencang. Orang-orang mulai muncul dari atap, menjatuhkan diri keatas punggung Annie. Melumpuhkannya.
"Kau pikir hanya dengan cara seperti itu bisa menghentikanku?" Annie berucap dengan nada mengancam. Dia merenggangkan tangannya, memperlihatkan sebuah cincin yang melingkari jari manisnya. Wajah Mikasa berubah panik.
"Tidak!" Aku berteriak, namun sudah terlambat. Dia menggenggam cincinnya. Cahaya merah melingkupi tubuh Annie, tanah tiba-tiba bergetar membuat orang-orang disekitarnya melayang. Kami memperhatikan dengan jelas bagaimana sebuah kepala titan yang muncul dari kepulan asap, diikuti oleh bahu dan torso. Sepasang mata biru mengarah menatap kami. Getaran kecil ini membuat kami terhuyung, namun tetap berpijak kuat diatas tanah saat desiran angin menyambangi. Rencana gagal, tak ada pilihan lain selain harus bertarung.
TBC
Err.. h-hai minna, ahaha b-bagaimana kabar kalian? Oh ya by the way, adakah yang sedang mengikuti anime Prince of Stride diantara kalian?
….
Ah oke oke jangan menatapku seperti itu.. aku telah menelantarkan ff ini dan membiarkannya dipenuhi oleh sarang laba-laba di dalam folderku, bahkan dagu Levi sudah ditumbuhi jambang/? Jadi maaf, maaf atas keterlambatanku. Ada banyak halangan sebenarnya yang tak mungkin kuceritakan satu persatu, jadi.. err Selamat Tahun Baru! Semoga Tahun ini keinginan kalian untuk menjadi yang lebih baik dari tahun kemarin bias terlaksana/?
Kuusahakan akan secepatnya update chap selanjutnya, dan fanfic yang lain –yang telah kutelantarkan. See ya!
