Disclaimer: I own nothing but plot and maybe several OC's


Chapter 12

Narcissa memikirkan putra tunggalnya. Wajar saja, karena hanya Draco yang ia miliki saat ini setelah ia memutuskan untuk meninggalkan Lucius. Hampir empat hari Draco, Bill dan Remus pergi dan sampai detik ini ia tidak mendengar kabar mereka ataupun Ron yang pergi menyusul mereka dua hari yang lalu. Narcissa sangat cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan Draco.

Jadi ketika ia mendengar ribut-ribut di lantai bawah, Narcissa segera keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.

Grimmauld Place tidak lagi seperti apa yang Narcissa ingat ketika ia masih kecil. Memang, tempat ini selalu memiliki kesan gelap dengan warna hijau emerald dan perak mendominasi. Tapi tidak pernah semuram ini. Dulu Narcissa, Bellatrix dan Andromeda sering mengunjungi tempat ini bersama kedua orangtua mereka. Narcissa cukup dekat dengan Regulus, tapi tidak pernah dengan Sirius. Sejak kecil sepupunya yang satu itu memang selalu berbeda, Narcissa tidak heran ketika akhirnya Sirius masuk Gryffindor.

Narcissa menghela nafas lega dengan pemandangan di hadapannya sekarang. Molly Weasley memeluk Bill dan Ron erat-erat, ribut karena kedua putranya itu tidak mengabarkan apapun padanya. Remus mengulum senyum, menahan tawa, Teddy terkikik di pangkuan Remus. Tonks hanya geleng-geleng sambil tersenyum geli. Molly kemudian memeluk Fleur sekilas (Narcissa menyadari kalau ternyata Molly tidak begitu menyukai Fleur) sebelum beralih pada Victoire. Tentu, Molly memanggil Victoire dengan 'Vicky' dan Fleur langsung cemberut mendengar itu, Fleur tidak pernah suka mendengar siapapun memanggil Victoire dengan Vicky.

Melihat Draco membuat Narcissa menghela nafas lega. Tapi karena Narcissa berasal dari keluarga Black, dia tidak menunjukkan emosinya sejelas Molly. Tentu Narcissa memeluk putra tunggalnya itu, tapi ia tidak berteriak atau menangis di pelukan Draco seperti Molly.

Narcissa menjadi orang pertama yang menyadari kehadiran Harry dan Hermione, juga orang pertama yang langsung mengenali mereka. Molly langsung heboh begitu Remus mengkonfirmasi bahwa pria itu benar-benar Harry Potter. Draco harus menggigit bibirnya agar tidak tertawa saat wajah Harry mulai memerah di pelukan Molly karena kehabisan nafas. Molly melepaskan Harry dan beralih pada Hermione, tapi tiba-tiba dia terdiam di tempat. Ada apa?

Hermione mendekap seorang bayi. Narcissa sedikit terkejut melihat bayi perempuan dengan rambut hitam yang sedang terlelap itu. Nama anak itu Rose. Anak perempuan dari Harry dan Hermione. Suasana menjadi canggung.

Remus memecah suasana tidak enak itu dengan menyuruh mereka beristirahat. Hari memang sudah malam. Teddy dan Victoire juga sudah terlihat lelah. Molly juga kembali ke kamarnya, hingga tersisa Narcissa dan Draco di dapur.

"Jadi, Draco. Katakan padaku, apa maksudmu dengan 'memberitahuku apa yang terjadi'?" tanya Narcissa sambil menarik kursi meja makan.

Dahi Draco berkerut dan ia terlihat kesal. "Mother! Sudah berapa kali kubilang jangan masuk ke dalam pikiranku sembarangan!"

"Aku? Seharusnya kau yang belajar menutup pikiranmu itu. Seperti Harry dan Hermione tadi. Aku tidak bisa membaca apapun," ujar Narcissa sambil mengangkat bahu. Sudah lama ia belajar legilimens dan occlumency, sejak Narcissa masih siswa di Hogwarts. Dia, Andromeda dan Bellatrix mempelajari itu dari ibu mereka. Tidak disangka hal tersebut akan berguna juga pada akhirnya.

"Itu karena mereka belajar darimu, Mum,"

"Apa maksudmu?" kini Narcissa terlihat bingung.

Draco mengeluarkan tongkatnya. "Aku akan menunjukkannya padamu,"

0oooo0oooo0

"Harry. Kamu melihat bagaimana ekspresi Mrs Weasley tadi?"

Harry terkekeh. "Oh yeah. Seperti melihat hantu. Kurasa semua orang begitu saat melihat kita. Remus, Bill dan Draco juga begitu,"

Hermione menghela nafas. Menurunkan buku yang dibaca ke pangkuannya. "Bukan itu. Ekspresinya saat melihat Rose,"

"Ada apa dengan ekspresi Mrs Weasley saat melihat Rose?" tanya Harry, terlihat bingung. Ia melepaskan kaus yang dipakainya dan masuk ke bawah selimut.

Hermione menyimpan bukunya di atas meja dan menyelinap ke pelukan Harry. "Entahlah. Rasanya seperti dia tidak menyukai Rosie. Mungkin dia berpikir kamu akan menikahi Ginny dan bukan aku,"

"Hah? Aku dan Ginny? Well. Kami sudah lama putus kan? Tidak mungkin Mrs Weasley masih mengharapkan itu,"

"Entahlah Harry. Mungkin ini hanya perasaanku saja,"

Harry mengecup kepala Hermione. "Mungkin. Tidurlah, kita punya hari yang panjang besok,"

0oooo0oooo0

Paginya mereka dibangunkan oleh tangisan Rose. Keduanya mengerang, masih merasa sangat mengantuk. Harry mengecup pipi Hermione dan menyuruhnya untuk kembali tidur. Hermione hanya bergumam, berguling dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya sementara Harry bangun dan menghampiri Rose.

"Selamat pagi Rosie," bisik Harry sambil mengangkat Rose dari tempat tidurnya. "Whoops. Sepertinya seseorang butuh mandi,"

Tidak butuh waktu lama bagi Harry untuk mengganti diaper dan baju Rose. Tapi Rose masih tetap rewel.

"Sepertinya dia lapar," kata Hermione dengan suara serak. Ia duduk di kasur sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.

"Kamu mau Mummy Rosie? Tentu kamu mau Mummy, benar?" tanya Harry dengan suara bayi sambil menghampiri Hermione di kasur. Perlahan ia menyerahkan Rose ke pelukan Hermione.

Hermione tertawa kecil. "Tentu dia mau Mummy. Daddy tidak bisa memberinya makanan,"

"Benar," Harry nyengir dan mengecup Hermione sekilas. "Aku akan turun ke bawah. Kamu mau sesuatu?"

"Secangkir kopi akan membangunkanku," jawab Hermione tanpa melepaskan matanya dari Rose.

"Tentu," Harry memakai kaus dan celana panjangnya sebelum keluar dari kamar.

Harry dan Hermione menempati kamar lama Sirius yang sudah lama tidak ditempati. Beberapa tahun belakangan ini, Orde menambah beberapa kamar baru di Grimmauld Place karena semakin banyak anggotanya yang memilih menetap disana karena jauh lebih aman ketimbang rumah mereka sendiri. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menempati kamar Sirius, termasuk Remus. Remus bilang, Sirius akan lebih senang jika kamar itu ditempati oleh Harry.

Dapur terlihat sangat sepi saat Harry turun ke sana. Itu membuat Harry bisa bergerak leluasa. Ia memanaskan air dan melihat ke dalam lemari. Harry memutuskan untuk membuat sandwich dan scramble egg untuk dirinya dan Hermione.

"Selamat pagi Harry," sapa Molly Weasley.

Harry menoleh dan tersenyum lebar. "Pagi Mrs Weasley. Mau kubuatkan sarapan?"

"Tidak terima kasih. Aku selalu menunggu setengah jam setelah bangun untuk sarapan," jawabnya sambil menarik kursi. Molly menatap Harry beberapa lama sebelum memutuskan untuk bertanya. "Jadi, Harry dear. Anak itu, benar-benar anakmu?"

"Ya," jawab Harry tanpa menoleh. "Anakku dan Hermione. Namanya Rose,"

"Rose? Aku kira kau mau menamai anakmu Lily dan James,"

Dahi Harry berkerut. "Sebagai nama tengah, mungkin. Tapi nama depan? Kurasa tidak. Aku dan Hermione ingin anak-anak kami mengukir sejarah dengan nama mereka sendiri,"

Molly manggut-manggut.

"Tidak ada kabar tentang Ginny?"

Ginny menghilang sejak beberapa hari yang lalu. Sehari setelah Bill, Remus dan Draco pergi menjemput Fleur dan Tonks. Itu yang membuat Ron pergi ke Prancis. Mereka butuh lebih banyak orang untuk mencari Ginny.

Molly menghela nafas dan menggeleng lemah.

"Kita akan menemukannya, Mrs Weasley," kata Harry sambil tersenyum. "Kita pasti akan menemukan Ginny,"

"Aku harap begitu," gumam Molly. "Harry?"

"Ya?"

"Jadi, benar-benar tidak ada harapan untukmu dan Ginny?"

Harry berhenti menyusun sandwich dan menoleh pada Molly, Harry terlihat serius. "Aku minta maaf Mrs Weasley. Tapi aku mencintai Hermione. Dan sekarang kami sudah memiliki Rose. Aku tahu, kau mau aku menikahi Ginny. Tapi aku tidak bisa Mrs Weasley. Tidak pernah bisa dan tidak akan pernah bisa,"

"Aku tahu, dear. Aku hanya harus mendengar itu sendiri," ujar Molly sambil tersenyum kecil. Ia bangkit dari kursi. "Aku akan kembali ke kamar sekarang,"

Harry menghela nafas berat setelah Molly keluar dari dapur. Ia kembali menyusun sandwich untuk dirinya dan Hermione. Tinggal menghadapi Ginny, pikir Harry. Ia tahu, menghadapi Ginny tidak akan semudah menghadapi Molly. Harry sudah mendengar dari Ron, Fred dan George tentang impian Ginny menikahi Harry bahkan sejak sebelum ia bertemu dengan Harry.

Harry mengayunkan tongkatnya dan dua cangkir kopi serta dua piring berisi sandwich dan scramble egg pun melayang di depannya. Harry terkejut dengan pemandangan di hadapannya ketika ia membuka pintu kamar.

"Luna?"

Luna Lovegood yang sekarang terlihat sangat berbeda dari Luna Lovegood yang diingat Harry. Luna terlihat lebih dewasa dan serius. Harry tidak pernah menyangka Luna bisa terlihat serius seperti ini.

"Hey Harry. Aku harap aku tidak mengganggu," katanya sambil tersenyum lebar. Ia duduk berselonjor di atas kasur di samping Hermione.

"Tidak sama sekali. Aku tidak tahu akan kedatangan tamu pagi ini jadi aku hanya membuatkan sarapan untukmu juga,"

Luna mengipaskan tangannya. "Jangan khawatir. Aku dan Ronald akan pergi pagi ini,"

"Ngomong-ngomong soal Ron. Aku dengar kalian…." Hermione membiarkan kalimatnya menggantung, nyengir lebar pada Luna.

"Oh ya. Itu benar," jawab Luna tanpa ekspresi, mengingkatkan Harry pada Luna yang ia kenal dulu. "Aku dan Ronald sudah lama pacaran. Kami bahkan sudah tidur ber—"

"WOW WOW! Terlalu banyak informasi!" potong Harry sambil menutup kedua telinganya.

"Apa? Tentu kalian tidak aneh dengan itu kan?" Luna mengangkat bahu. "Kalian bahkan sudah punya Rose,"

Wajah Harry dan Hermione memerah.

"Nah, aku harus membangunkan Ronald sekarang. Kalian bersantai-santailah dulu," Luna melompat turun dari kasur dan berjalan keluar dari kamar. Meninggalkan Harry dan Hermione yang masih terlihat tersipu.

0oooo0oooo0

Hari itu Harry dan Hermione banyak bertemu dengan anggota Orde yang keluar-masuk Grimmauld Place. Fred dan George terlihat senang begitu Harry mengenalkan mereka pada Rose. Mereka mengatakan sesuatu tentang mengajari Rose cara hidup ala Marauders yang membuat Hermione bersumpah dalam hati akan menjauhkan Rose dari si kembar Weasley tersebut. Charlie dan Arthur memberi selamat pada Harry dan Hermione, keduanya terlihat senang melihat Rose. Percy tidak mengatakan apa-apa dan melipir menjauh dari kerumunan. Draco, Narcissa, Luna dan Ron pergi ke London kota, hari ini giliran mereka untuk membeli makanan.

Hampir semua perhatian terarah pada Rose, Harry dan Hermione (kecuali Percy yang malah membaca Koran di pojok ruangan).

Sampai akhirnya Luna memasuki ruangan.

Luna terengah-engah. Tangan kanannya menekan luka di bahu kirinya, rambutnya terlihat kusut. Luna terlihat berantakan. "Mereka….menyerang….London…." ucap Luna pelan sebelum dia kehilangan kesadaran dan terjatuh.

Dengan sigap Charlie dan George langsung mengangkat tubuh Luna dengan hati-hati ke atas sofa. Molly menyuruh Teddy dan Victoire ke kamarnya. Fleur langsung menghampiri Luna dan merapal mantra.

"Kita harus ke London sekarang," kata Fred, menggenggam tongkatnya erat-erat.

"Jangan lupa menghitungku Forge," sahut George sambil melingkarkan tangannya di leher Fred.

"Tentu tidak Gred," Fred nyengir.

"Hermione—" Harry menoleh pada Hermione.

"Jangan!" potong Hermione. Harry melongo. "Jangan melihatku seperti itu. Aku tahu kau pasti akan memintaku diam disini demi Rose. Tapi ingat janji kita Potter? Aku akan selalu ada di sisimu. Jadi jangan minta aku diam disini dan menunggu sementara kau ada di luar sana!"

Harry menghela nafas. "Tapi—"

"Tidak ada tapi Harry James Potter!" potong Hermione lagi.

"Haruskah kami menunggu kalian selesai berdebat atau kami boleh pergi duluan? Sebelum mereka mati?" kata Fred takjub. George hanya nyengir.

"Kalian pergilah," kata Fleur. "Aku akan menjaga Rose,"

"Baiklah," Harry mengangkat kedua tangannya, menyerah.

Hermione mengatakan "Terima kasih" pada Fleur tanpa suara. Sebelum mengikuti Harry keluar.


a/n: hi! ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari dugaanku untuk menulis chapter ini. dan jujur, aku kurang puas dengan hasilnya.

maaf untuk update yang lama. aku usahakan chapter selanjutnya di upload minggu depan. semoga.

terima kasih banyak sudah membaca fic ini dan me-review-nya :)

*xoxo*