"There are seconds of remembering you throughout the day - moments when my heart twitches. Moments when I am hell-bent on forgetting your heaven-sent scent."
―Karl Kristian Flores,Cardiac Ablation

.

.

.

Dua Belas

.

Kita tidak akan pernah menyadari betapa berharganya sesuatu sampai kita kehilangannya. Begitu, yang orang percaya. Dan begitu juga yang Chanyeol percaya tidak akan terjadi padanya dalam kasus ini bersama Baekhyun.

Karena sejak awal, mereka dipaksa ke dalam pernikahan ini, sejak awal tidak satupun di antara mereka yang menginginkan hidup bersama dan sekarang, mereka mengakhirinya dengan sukarela. Baekhyun, pergi darinya dengan sukarela. Untuk yang terbaik, Chanyeol percaya.

Dan ia, kembali pada kehidupannya semula ketika nama Baekhyun masih belum ada di ingatannya.

Namun ia tidak dapat menjelaskan malam-malam ia terjaga ketika aroma Baekhyun di sisinya kian terkikis, yang kemudian membuatnya mengeluarkan satu persatu pakaian yang Baekhyun tinggalkan. Hanya agar ia dapat merasakan Baekhyun lagi di sekitarnya dan merasa tenang.

Ia juga tidak dapat menjelaskan kopi yang sudah jarang ia konsumsi, yang semula merupakan kebutuhan rutinnya. Sederhananya karena, kopi itu tidak pernah lagi terasa sama. Tidak ada, tidak ada yang bisa membuat kopi sebaik Baekhyun melakukannya.

Dan jelas-jelas, ia tidak dapat menjabarkan alasan kenapa ia membatalkan penerbangan beserta janji dengan Jinah untuk berlari pada Baekhyun begitu mendengar apa yang mantan ayah mertuanya katakan.

"Aku seharusnya tidak menghubungimu," suara pria paruh baya itu yang biasanya ramah sekarang sedikit berat dan serak. Pria itu memberi jeda singkat yang tidak diisi oleh apapun, sepertinya ia tengah mempertimbangkan apakah ia benar-benar harus mengatakannya atau tidak.

Chanyeol melonggarkan dasinya dengan mulai tidak sabaran. Ia membuka mulut untuk bicara ketika kembali terdengar kalimat di ujung sana. Kalimat yang seketika, membungkam Chanyeol.

"Tapi kupikir kamu berhak tahu. Bagaimana pun, kamu masih suaminya, dan ayah dari bayinya. Baekhyun ... di rumah sakit."

Tuan Byun mengatakan nama rumah sakitnya, alamatnya, dan beberapa penggal kalimat yang tidak dapat lagi Chanyeol dengar. Pikirannya mengawang. Kekhawatirannya seperti kabut yang menutupi segalanya.

Tiba di rumah sakit, Chanyeol membanting pintu mobilnya, tidak lagi mengindahkan apakah ia telah melepas kunci seperti kebiasaannya atau tidak. Ia berlari, nyaris membabi buta di lorong rumah sakit dalam upayanya menemukan ruangan Baekhyun segera. Ya, segera. Seolah jika terlambat satu detik saja, salah satu dari mereka akan hancur.

Bahkan khawatir, adalah kata yang terlalu remeh untuk apa yang ia rasakan sekarang.

Takut. Ia ketakutan.

Dan entah bagaimana, pertemuan yang tidak ia harapkan dengan Daehyun beberapa hari lalu kembali membayanginya di antara derap langkah terburu.

Waktu itu, usai bertemu dengan salah satu pemegang saham di perusahaannya mengenai kucuran dana untuk satu proyek, ia berpapasan di lantai menuju ruang HRD dengan salah satu orang terakhir yang ingin ia temui, Jung Daehyun. Seorang pengacara, di kantor stasiun LTV, bukan perpaduan yang begitu alami karena seingat Chanyeol, mereka tidak pernah menyewa Daehyun bahkan untuk program televisi yang melibatkan beberapa pakar hukum sekalipun. Namun pria itu di sana, beberapa hari sebelumnya juga, dan satu minggu ke belakang. Seolah ... ia berada di sana secara rutin.

Menyadari kehadiran Chanyeol dalam radius kelewat dekat untuk diabaikan, ia melambaikan tangan dan tersenyum antusias, menampakkan susunan gigi-gigi yang berjejer rapi.

"Yeol," sapanya, agak sedikit tidak sopan.

Yang Chanyeol balas hanya dengan 'Hm' dan anggukan singkat.

"Habis meeting?"

"Yeah." Sebenarnya, tidak juga. Tapi Chanyeol malas menjelaskan. Ia tahu ini hanya basa-basi. Pertanyaan miliknya berikutnya, adalah rasa penasarannya murni. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Oh. Habis dari kantor redaksi."

Alis Chanyeol sedikit berkerut sekarang. Kantor redaksi? Untuk apa? Adalah pertanyaan yang tidak ia utarakan.

Setelah satu menit jeda, dan tidak ada tanda-tanda Daehyun mau menjelaskan tanpa diminta. Chanyeol sudah berpikir untuk bernjak pergi, jika bukan karena pertanyaan Daehyun yang kemudian menghentikannya.

"Masih berhubungan dengan Baekhyun."

Ada semacam nada mengejek dalam suaranya yang gagal Chanyeol abaikan.

"Dia selalu menghubungiku," Daehyun melanjutkan. "Kau tidak tahu, kan, Baekhyun menggambar untuk animasi? Ia mengirimkannya padaku dan sekarang, semuanya hampir beres."

Ketika Chanyeol diam saja, pria tinggi namun tidak lebih tinggi dari Chanyeol itu mengambil satu langkah mendekat. Matanya yang besar menatap Chanyeol tajam.

"Jangan bilang kau bahkan tidak tahu bakat gadis itu."

Ada banyak hal yang Chanyeol tidak ketahui tentang Baekhyun, benar. Tapi kesukaannya menggambar bukan salah satunya. Ia tahu gadis itu menghabiskan jam-jamnya dengan menggambar, merawat mawar dan membuat origami hati, hanya hati tanpa bentuk lainnya. Ia tahu Baekhyun suka membuat kue dan ia adalah pembuat kopi terenak yang pernah ada. Ia juga tahu kalau ... kalau Baekhyun punya senyum yang tidak bisa digantikan. Tapi ia pikir, tidak ada gunanya menjelaskan.

Chanyeol berbalik, tidak berminat untuk mengobrol, atau sebenarnya berdebat dengan Daehyun saat dengan tidak sependapat, Daehyun kembali mengajaknya bicara.

"Apa kau merindukan calon bayimu? Pasti, yeah? Aku tahu betapa kau menginginkannya. Tapi jika harus memilih ... Baekhyun atau bayinya ..."

BUGH!

Daehyun tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak bisa. Sebuah tinju telah melayang tepat di rahang kanannya, membuatnya oleng seketika hingga menabrak tembok di belakang punggung.

Mungkin itu adalah kali pertama ia menyaksikan sorot marah, benar-benar marah di mata Chanyeol.

Pertanyaan yang kurang ajar. Bukankah ... sudah jelas? Jawabannya.

.


.

Ketika tiba di depan ruangan yang dimaksud, langkah Chanyeol seketika surut. Ia mengambil jeda untuk berdiri di sana, hanya menghitung, mengira-ngira tentang bagaimana keadaan Baekhyun sebenarnya, tentang apa yang harus ia katakan, tentang seberapa canggung kemungkinannya ketika mereka bertemu lagi.

Yanggagal Chanyeol perkirakan adalah, seberapa besar ia merindukan sosok gadis itu hingga akhirnya ia melihatnya lagi. Baekhyun sedang duduk di tempat tidurnya, mengunyah sepotong apel ketika Chanyeol menerobos masuk dengan tergesa-gesa. Dia tidak melewatkan cara bibir yang sekarang agak pucat itu berusaha mengukir senyum, meskipun terlihat lelah, senyum Baekhyun masih secerah yang dapat Chanyeol ingat.

Dan jantungnya berhenti sesaat sebelum berdetak dua kali lipat lebih kencang detik ketika dia melihat perut Baekhyun yang membesar. Bayinya ... bayi mereka bertumbuh dengan baik.

Chanyeol! Sapanya. Mengeja nama pria itu dengan bersemangat, terlalu bersemangat seakan dia lupa usianya sudah menginjak dua puluh tujuh dan bukannya lima tahun. Chanyeol menarik kursi di sisi tempat tidur dan mendudukkan diri dalam diam, tiba-tiba kehilangan kata-kata.

Dia telah jahat pada Baekhyun—ralat, dia masih jahat pada gadis itu, bukannya ia tidak sadar. Dan dia tidak tahu harus berkata apa sekarang, tidak dengan Baekhyun tersenyum cerah padanya seolah-olah tidak ada yang terjadi. Seolah-olah dua bulan yang lalu Chanyeol tidak menceraikannya dan memulangkannya dengan tangannya sendiri.

"Bagaimana kabarmu?" Dengan suara canggung sedikit serak yang nyaris tidak dikenalinya, Chanyeol akhirnya bertanya. Dan ya, ia tahu pertanyaan yang barusaja ia ajukan itu teramat basi.

Tapi, Baekhyun mungkin tidak sependapat. Karena masih dengan senyum yang meskipun semakin menipis, ia segera membentangkan lima jari dengan meletakkan jempolnya di dada, sebelum mengiringinya dengan usapan yang turun ke perut.

Aku baik ... bayinya, juga...

Mengikuti di mana tangan Baekhyun berada, pandangan Chanyeol jatuh dan senyum terulas dengan sendirinya. Tanpa banyak berpikir, ia menempatkan tangannya yang besar di atas perut Baekhyun yang mulai menunjukkan adanya seseorang di dalam tanpa banyak memikirkan resikonya, ia membungkukkan kepalanya hingga sejajar, menekan telinganya pada perut Baekhyun.

Baekhyun membeku.

Tidak ada pergerakan di dalam sana. Kandungan Baekhyun mungkin baru empat atau lima bulan. Namun memejamkan mata, Chanyeol bersumpah ia seakan dapat merasakan detak jantung di sana, dapat merasakan kehangatannya. Dan bayangan-bayangan tentang masa depan, potret tentang ia, Baekhyun dan bayi mereka yang sempat ia singkirkan jauh-jauh menerjangnya seperti air bah.

"Hei, Jagoan kecil," sapanya dengan getaran pada suaranya. "Ini Ayah ... "

Ketika ia mendongak, ia dapat melihat air mata di pelupuk mata Baekhyun, terancam keluar.

.


.

Angin yang bertiup sore itu dingin. Agak terlalu dingin. Dan Chanyeol terlambat menyadari hal itu ketika ia melihat Baekhyun menggigil di bawah lapisan tipis piyama rumah sakitnya.

"Dingin?" Ia menunduk, menelengkan kepalanya demi menatap gadis itu hanya untuk mengajukan sebuah pertanyaan bodoh.

Baekhyun menggelen, tidak lupa dengan senyumnya. Tidakkah ia tahu ia barusaja membuat kebohongan yang begitu mudah dibaca? Dan Chanyeol mulai bertanya-tanya. Seberapa sering gadis itu berbohong padanya, tersenyum mengatakan semua baik-baik saja sekacau apapun keadaan sebenarnya?

Tanpa bertanya lagi, ia lalu melepas jas kerja berwarna abu-abu gelap miliknya dan menyampirkannya di pundak Baekhyun. Pundak yang tampak rapuh itu. Pundak yang, Chanyeol khawatir, jika angin bertiup sedikit saja lebih kencang, bisa saja menumbangkan gadis di hadapannya ini.

Balasan atas perbuatan kecilnya, yang seharusnya merupakan sebuah kewajiban bagi seorang pria, Baekhyun memberikan 'terimakasih' yang pelan lewat jemarinya.

Pandangannya mengikuti gadis itu, tidak berpindah bahkan ketika Baekhyun kembali berkeliling di seputaran taman rumah sakit. Well, tidak secara harfiah. Nyatanya, ia duduk di kursi roda dengan Chanyeol yang mendorongnya di belakang.

Di bawah jas, Baekhyun bahkan terlihat lebih kecil dari yang sebenarnya. Lebih ringkih.

Sentakan kecil di lengan kemejanya menarik perhatian Chanyeol kembali. Ia melangkah memutari kursi roda Baekhyun untuk berjongkok di depan gadis itu, membawa pandangan mata mereka dalam jajaran yang sama. Baekhyun mengangkat tangannya di udara, lalu perlahan, jemarinya berbicara.

Kamu ingin kopi?

Ada yang terasa salah. Ada sesuatu yang hilang. Pergerakan Baekhyun sedikit berbeda. Mereka tidak seanggun yang diingat Chanyeol, tidak selincah biasanya, dan seandainya ia tidak hafal gerakan yang sama di luar kepala, jika bukan karena huruf C terakhir yang menggantung di udara, Chanyeol yakin ia tidak akan mengerti apa yang gadis itu coba katakan.

Baaekhyun ... kali ini, kali ini saja, Chanyeol tahu bahwa gadis itu telah salah mengeja. Dan bahkan Chanyeol dapat melihatnya.

Saat ia melirik Rolex yang bertengger di pergelangan tangannya, pria itu sedikit kaget menyadari bahwa jarum pendek di sana telah menunjukkan nyaris pukul lima sore, waktu dimana biasanya, ketika jam kerja berakhir dan ia tidak punya banyak pekerjaan ekstra untuk ditangani, Baekhyun akan menyambutnya pulang dengan senyum dan sambutan yang sama.

Kali ini Baekhyun masih tersenyum, hanya sedikit gemetar.

"Nanti, Baek. Aku bisa beli nanti. Kamu haus?"

Lagi, Baekhyun menggelengkan kepala dan mengangkat tangannya. Dan selama sepersekian detik, Chanyeol bersumpah ia dapat melihat kilatan rasa sakit di mata Baekhyun yang mencoba melakukan tugas sesederhana itu.

Aku ingin, ia memulai. Meletakkan kedua tangannya dengan kedua telapak tangan menghadap ke atas sebelum membengkokkannya ke dalam bentuk cakar dan menariknya ke arah dirinya sendiri.

Mata Chanyeol fokus padanya. Ia ingin melihat dengan seksama ketika Baekhyun mengerutkan kening dalam-dalam, seolah mencoba mengingat apa yang akan dia katakan. Baekhyun kemudian mengulurkan telapak tangan kirinya ke luar dan memukul pangkal telapak tangan kanannya dua kali. Sebuah kertas, ia menyelesaikan ucapannya setelah dua menit penuh.

"Maksudmu ... kertas?" Chanyeol menebak. Dia ingat saat-saat ketika Baekhyun menggunakan gerakan itu ketika Chanyeol membawa banyak pekerjaannya pulang, atau saat ia ingin menulis sesuatu.

"Kamu ingin kertas?"

Baekhyun mengangguk. Dia tersenyum bangga sambil memberikan Chanyeol dua jempolnya. Membuat pria itu hanya bisa membalas dengan dengkus pelan. Chanyeol menoleh ke sekeliling. Tidak ada kertas di sekitar mereka.

"Nggak ada, Baek. Kita balik ke kamar aja, ya? Di sini makin dingin."

Ia berdiri, meraih pegangan kursi roda Baekhyun untuk ia kendalikan ketika gadis itu justru meraih tangannya. Sentuhan lembutnya menghentikan gerakan Chanyeol. Semua yang dia lakukan, dia melakukannya dengan perlahan sekarang. Baekhyun merogoh saku piyamanya dan tersenyum pada diri sendiri saat mengeluarkan sesuatu dari sana.

Sebuah foto.

Chanyeol ingin bertanya apakah gadis itu menyimpannya sejak tadi? Dan kenapa ia tidak mengatakannya, ketika perhatiannya teralih pada apa yang ada di foto tersebut. Lebih tepatnya, siapa.

Ada dua orang yang kelewat familiar di sana. Satu memakai tuxedo yang gagah dan yang lain mengenakan gaun putih sederhana yang memeluk tubuhnya dengan pas dan memanjang di bagian ekor. Cantik. Anggun. Gadis di foto itu tersenyum cerah seraya menggenggam buket mawar putihnya erat-erat.

Ya, yang di foto itu adalah dirinya dan Baekhyun.

Itu adalah foto pertama yang mereka ambil bersama. Dan seaneh kedengarannya, itu juga merupakan foto mereka satu-satunya yang pernah ada.

Chanyeol mengangkat alis keheranan melihat Baekhyun mulai melipat foto tersebut. Bukan hanya mengenai menagapa ia melipatnya, tetapi lebih kepada bagaimana gadis itu melakukannya.

Ia seolah, tidak bisa melakukannya dengan benar. Dengan rapi. Tampak, gadis itu mencoba, namun ia selalu menyisakan sedikit selisih yang tumpang tindih dalam lipatannya. Menghadap sudut-sudut berbeda. Dan itu ... bukan Baekhyun sekali. Gadis itu selalu melakukan segala hal dengan rapi dan cekatan.

Chanyeol tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia mengulurkan tangannya untuk mengambil kertas foto itu dan mulai melipatnya dengan hati-hati, serapi yang ia bisa usahakan. Baekhyun tersenyum, lalu dia menginstruksikan Chanyeol bagaimana dan di mana melipat menggunakan jari rampingnya. Jari-jari yang sedikit bergetar setiap kali mereka bergerak.

Ketika mereka selesai, Chanyeol menemukan selembar kertas telah mengubah bentuknya menjadi bentuk hati di telapak tangannya. Dia tersenyum pada dirinya sendiri ketika Baekhyun memberinya senyum bangga, dia berhasil.

Dengan seringai konyol, Chanyeol bermaksud mengembalikan pada Baekhyun origami hati yang ia—mereka buat. Namun Baekhyun menutup kedua telapak tangannya. Gelengannya saat menatap pria itu cukup memberitahu Chanyeol bahwa gadis itu ingin ia menyimpannya.

Selamat ulang tahun, Chanyeol. Jari-jari cantik itu menari dengan canggung di udara. Jari tengah menyentuh dagunya, lalu dadanya.

Chanyeol tersenyum, memegangi kertas kecil di tangannya. Bahkan, ia tidak ingat hari ini tepat 27 November. Tidak ada yang mengucapkannya. Jinah sekalipun. "Terima kasih ... untuk hadiahnya."

Untuk sesaat, dia mengira Baekhyun akan mengatakan sesuatu, tetapi kemudian Baekhyun hanya mengangguk dengan halus dan menutup kedua kelopak matanya, tidak segera membukanya. Angin berhembus lebih kencang, dan sehelai daun kering tersangkut di cokelat gelap rambut Baekhyun. Pemandangan itu mengejutkan Chanyeol.

Baekhyun terlihat ... tidak nyata, kecantikan yang sulit diterima. Sama seperti ia melihat gadis itu saat kali pertama, dengan bias hangat matahari di rambutnya, Baekhyun terlihat seperti ... malaikat.

Dan ia tiba-tiba memiliki keinginan untuk mencium malaikat yang duduk di depannya, menyapu daun dari rambut halus dan menanamkan bibirnya di antara lengkung alis tipis milik Baekhyun. Tetapi alih-alih melakukan apa yang setiap inci dari tubuhnya teriakkan, kakinya yang panjang serasa goyah, tangannya meraih kembali pegangan kursi roda.

"Ayo balik. Di sini dingin."

Karena jika mereka tinggal lebih lama, jika dia berdiri di sana lebih lama lagi menatap Baekhyun lebih lama, dia ... mungkin benar-benar akan menciumnya.

.

.

.

A/N: Ini lebih ke menerjemahkan FF sendiri, saking nggak ada idenya :'( semoga masih suka, ya. Walaupun makin drama aja. Saran sih, tunggu aja ampe akhir.

Dan kayaknya, nggak bakal panjang-panjang, paling beberapa chapter lagi tamat.