Legendary sword XIII.
.
xXx
.
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto.
Genre : Adventure, Fantasy, Romance.
Rate : T.
Pair : Naruto x Sakura x ...
Warning : typo, mainstream, ooc, newbie, dll.
.
.
xXx
Yok teman-teman, FIC ini gk bakal ngegantung teman, FIC ini bakal terus lanjut meskipun lama.
Dan Terima kasih telah mensupport saya teman teman.
xXx
.
Chapter 13.
Seperti biasanya, setiap pagi matahari akan naik dan sore matahari akan turun.
Tapi tidak untuk hari ini Matahari nampaknya sangat berbeda hari ini. Sang surya sama sekali tak terlihat dari pagi hingga siang hari ini.
Entah apa yang membuat matahari enggan menampakkan wajahnya
Dibawah awan hitam itu tujuh kali sudah bumi melintasi jalurnya menghormati serta memberikan salam hangat kepada sang surya.
Dipuncak dimana terakhir berpisah antara sang murid dan sang guru berharap untuk dapat kembali bertemu lagi. Setiap kenangan yang terukir setiap hal yang telah diberikan begitu amat sangat menggores hatinya begitu dalam.
Sayatan-sayatan indah itu kini berlumur darah menimbulkan rasa sakit yang begitu amat sangat perihnya.
Tubuh tegap itu berdiri dengan amat gagah dipuncak bukit dimana kakinya basah oleh air yang ia hadirkan.
Surainya melambai bersama angin dingin yang berjalan bersama awan hitam.
Tujuh tahun sudah sang guru Jiraiya telah pergi meninggalkan dirinya bersama bisikan ilmu setiap detiknya, dia telah berjanji untuk kembali.
Air matanya mengalir jatuh menghapus barisan huruf yang tertera dalam lembaran kulit kambing ditangannya.
"Aku sudah cukup sabar dengan ini semua, aku telah hidup dalam kegelapan, aku bahkan tak pernah menangis karena kematian satu nyawa". Lirih Naruto dalam patungnya.
" Lepaskan Yildirim kudaku biarkan dia menemuiku". Perintah Naruto yang kepada seorang utusan dari negeri Konoha yang senantiasa menunggu jawaban untuk disampaikan pada rajanya.
"Tapi tuan, raja memerintahkan anda untuk pulang ke Konoha".
Naruto berasa benar-benar emosi. Kemarahannya seketika memuncak ketika mendengar bantahan dan apa yang telah dikatakan orang rendahan disampingnya.
Srengg...
Akhirnya salah satu pedang Naruto keluar dari sarungnya, langsung mengacung menantang leher dihadapannya.
" Katakan pada rajamu!. Punya kuasa apa dia memerintahku jika memang dia berani memerintahku aku tantang dia dalam sebuah pertarungan. Dan lagi Konoha bukanlah rumahku ". Ujar Naruto dengan nada iblis nya tak luput pula matanya yang tajam mengintimidasi dan langsung membuat prajurit itu menggigil bukan kepalang.
" B-baik tuan".
"Pergilah"
" Satu lagi tuan, putri Sakura menitipkan surat untuk anda ".
Hening kembali berkuasa.
" Sensei kau telah berjanji akan kembali, kau sudah berjanji akan membantuku untuk berperang. Aku tak percaya seorang ksatria hebat seperti dirimu mengingkari janjinya".
Naruto menatap langit yang tampak telah hitam kegelapan dimana-mana.
"Satu lagi Tuhan kenapa kau begitu tidak adil padaku, pertama kau menjauhkanku dari ibuku, lalu kau ambil ayah angkatku, selanjutnya keluarga ku di Akatsuki juga kau ambil dariku, dan sekarang saat aku mendapat seorang kakek yang baik bahkan kau juga mengambilnya juga dariku". Lirih Naruto lagi.
Naruto benar-benar merasa tak terima dengan apa yang dilakukan Tuhan padanya, Tuhan serasa mempermainkan dirinya terus menerus seakan tak ada kesenangan yang ingin Tuhan hadiahkan pada dirinya.
Masih ditempat yang sama Naruto terduduk dengan satu surat lagi ditangannya, dia berharap semoga surat yang kedua ini bukanlah berisi kabar buruk sama seperti surat yang pertama.
"Naruto aku sangat merindukanmu, aku mau bertemu denganmu. Aku tahu ayah memerintahkan mu untuk pulang ke Konoha, Tapi aku yakin kau pasti tidak mau memenuhi perintah ayahku karena aku tahu kau tidak suka diperintah,
Karena itu Naru aku menulis surat ini agar kau mau kembali menemuiku,
Aku takut jika kau tidak kembali nanti, maka kumohon pulanglah kesini ".
Tubuh tegap itu kembali bergetar, kepala menunduk begitu dalam, menyembunyikan wajahnya dibalik helaian pirang yang basah karena keringat dingin yang terus mengucur dari tubuhnya.
Dentingan suara nyamuk terngiang, jangkrik yang mengerik nyaring dan satu burung hantu yang selalu mengingatkannya pada kenangan-kenangan indah yang pernah ia lalui bersama orang terkasih nya.
Kembali doa dan umpatan Naruto lontarkan, hari ini hatinya benar-benar hancur sehancur-hancurnya.
Tuhan selalu berbuat tak adil padanya, setiap kali keinginan balas dendam itu muncul dikepalanya, Tuhan selalu memberi alasan untuk menundanya.
Dan sekarang dalam penderitaannya yang sangat amat besar yang bahkan belum pernah ia rasakan dari sekian banyaknya penderitaan yang pernah alami,
Bersama dengan datangnya surat kematian Jiraiya, di detik itu pula nafsu bengis Naruto seketika muncul berkobar dan berapi-api.
Dengan kematian Jiraiya, Naruto pikir itulah saatnya untuk menghancurkan si keparat Minato yang telah merebut segala kebahagiaan miliknya.
Hening..
"Kenapa Tuhan kau disaat aku sudah tidak ingin perduli dengan kasih sayang, disaat aku berfikir bahwa satu-satunya jalan ku adalah mati balas dendam kau kembali memberiku kasih sayang palsu itu lagi padaku".
Naruto bangkit dari duduknya, dengan sangat berat langkahnya berpindah satu dua langkah yang sangat lambat. dipandangnya pedangnya Mufasa yang berkilat tajam terpantul sinar dari sang rembulan.
Pandangannya yang tajam beralih keatas menantang sang rembulan yang bersinar. Shappire tertutup.
Angin berhembus sangat dingin, tetapi Naruto sadar angin dingin itu pula yang telah mengusir awan hitam dan memberinya sedikit cahaya.
Dibawah kekagumannya terhadap Tuhan rasa benci tetaplah tak mampu ia hilangkan.
Surainya tersibak tampaklah Rinnegan miliknya yang semakin terang dibawah cahaya bulan malam.
Rahangnya bergetar menahan rasa sakit yang teramat dalam hatinya, di teguknya ludah dalam mulutnya dengan sangat kesulitan.
Pandangannya beralih pada seekor kuda hitam bersurai panjang di belakangnya.
Tak lama kemudian pandangan tajam itu kembali kebawah menatap Mufasa yang tergeletak diatas rumput hijau.
Naruto meraih pedangnya, tatapannya begitu dalam pada tanah.
"Yildirim kaulah satu-satunya keluargaku sekarang, kaulah yang telah menemaniku sadari kecil, yang selalu bersamaku saat keluarga kita yang lain mati, kau yang selalu menemaniku dalam setiap laga, aku yakin bahkan jika kita hanya berdua sebesar apapun kerajaannya sebanyak apapun prajuritnya tidak lah sebuah masalah untuk kita".
Air mata mulai mengalir dari mata indah itu menetes begitu derasnya,
Jatuh membasahi tangan dan bilah tajam Mufasa, hingga air mata itupun terbelah sangking tajamnya pedang pusaka itu.
Srengg...
Awan hitam kembali menyelimuti langit, bahkan langit pun mulai marah, petir saling bersahutan suara guntur terdengar diseluruh penjuru negri.
Yildirim mulai berkeok dengan suara melengkingnya ikut meramaikan kemarahan dari langit.
Dengan hati yang sangat hancur dipenuhi dengan kebencian. Naruto mengacungkan pedangnya keatas, menantang siapapun yang ada disana,
Dalam rautnya yang amat menyedihkan airmata yang terkuras hilang bersama anging kencang dan surainya yang terus bergerak tak nyaman.
" AKU TAHU KAU ADALAH TUHAN.
AKU TAHU KARENA ENGKAULAH ALASANKU BERADA DISINI.
PADA AWALNYA AKU YAKIN KAU AKAN MEMBERIKAN SEDIKIT KEPADAKU KEBAHAGIAAN
TAPI DARI SEMUA INI AKU MULAI BERPIKIR BAHWA TUHAN ADALAH SATU-SATUNYA ALASAN KETIDAK ADILAN.
JIKA KAU BISA MEMBERIKAN KEBAHAGIAAN PADA SEMUA ORANG SEHARUSNYA AKUPUN BISA MENDAPATKANNYA.
tapi nyatanya TIDAK...
KAU SAMA SEKALI TIDAK MEMBERIKU APAPUN KECUALI PENDERITAAN
atau mungkin bahkan kau juga membenciku sama seperti ciptaan mu yang lainnya.
Aku tidak akan tertipu pada muslihatmu lagi aku tidak akan terjebak pada kasih sayang palsu dari putri Konoha itu, hanya aku dan Yildirim saja cukup untuk membalas dendam ku "
Naruto kembali terdiam menantikan apa yang akan terjadi. Apa yang akan Tuhan jawab untuk meredakan kemarahannya.
.
.
"Aku menantangmu Tuhan, aku bersumpah dengan semua kebencian dan ketidak adilan yang menimpaku bahwa dari setiap generasi, manusia yang lahir dengan perjuangan, setiap manusia akan selalu berusaha untuk menyalahkan dirimu atas setiap kekurangan yang mereka miliki, iri hati akan muncul disetiap kepala, ketidakpuasan akan menguasai mereka, dan ketika perbedaan sudah berada pada puncaknya, hanya pedang lah yang mampu menyelesaikan nya,
Ingat itu hanya pedang bukan kau".
.-TBC-.
.
.
Note:
Kira-kira percintaan gimana ya gaes saya bingung.
Daripada nggantung
Terima kasih buat yang sudah mau menyempatkan untuk sekedar membuka laman fanfic saya. Terima kasih buat yang like fic saya . Terima kasih yang follow. Terima kasih yang flame .dan terima kasih yang memberi review bagus.
.
Mohon review senior. kalo masih ada ketidak nyamanan membaca mohon review nya.
Setiap jejak anda di hal ini sangat berharga untuk saya.
..
...
...
...
...
...
..
REVIEWS.
...
