Chanyeol terbangun dari tidurnya ketika aroma bacon panggang memasuki indra penciumannya. Raksasa itu sempat mengecapkan bibirnya sebelum akhirnya bangkit dari tidurnya. Matanya belum fokus sepenuhnya, tapi kakinya sudah. Ia berjalan menuju dapur di apartemennya kecilnya, mengikuti sumber aroma sedap itu. Tangannya yang besar menggaruk kepalanya sehingga rambutnya yang hitam pekat itu tambah berantakan. Ketika aroma itu semakin tercium jelas, Chanyeol mengucek matanya agar terbuka sepenuhnya. Ia menemukan tunangannya sedang sibuk memasak sambil bersenandung ria. Pria mungil itu sepertinya belum menyadari keberadaan Chanyeol di belakang sana. Chanyeol tersenyum lebar. Iapun berjalan mendekati Baekhyun, kemudian memeluknya dari belakang. Baekhyun tersentak ketika dua tangan besar melingkar tepat di pinggangnya. Baru saja ia menoleh ke samping, ia menemukan kepala Chanyeol bertengger di bahunya sehingga bibir tipisnya itu menempel tepat di pipi Chanyeol.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Baekhyun segera menjauhkan bibirnya dari pipi Chanyeol. Pria mungil itu berusaha menyembunyikan pipinya yang merona dengan menunduk, tapi dengan jarak sedekat itu, pria yang lebih tinggi tentu saja sadar akan perubahan warna di pipi si mungil. Well, sebenarnya Chanyeol juga kaget ketika bibir Baekhyun menempel di pipinya dan ia sadar betul bahwa itu ketidaksengajaan. Tapi apa mau dikata? Ia sudah terlanjur gemas dengan tunangannya, jadi menggodanya sedikit itu tidak salah, bukan?

"Aigoo~ baru kali ini aku mendapat morning kiss tanpa kuminta." Chanyeol berbisik tepat di telinga Baekhyun, membuat si mungil kegelian.

"Itu tidak disengaja, bodoh." Baekhyun menepis kuat seraya menjauhkan kepalanya dari kepala Chanyeol, yang dimana tidak berguna karena raksasa itu malah kembali mendekati telinganya. Dan tanpa perhitungan apapun, Chanyeol mencium telinga Baekhyun sehingga membuat pria mungil itu menegang di tempat.

"Kau masak bacon ya?" tanya Chanyeol dengan suara rendah nan seksinya.

"S–seperti yang kau lihat."

Suara Baekhyun terdengar gugup dan itu sangat manis di telinga Chanyeol. Ia jadi semakin ingin menggoda tunangannya.

"Kebetulan sekali," Chanyeol berbisik seraya memindahkan bibirnya ke perpotongan leher Baekhyun, "Aku ingin sekali makan 'bacon' sekarang." Baekhyun sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selain menggigit bibir bawahnya ketika lidah Chanyeol menggelitiki permukaan lehernya. Well, ia tahu bahwa maksud Chanyeol dengan 'bacon' adalah dirinya. Tapi bukankah ini terlalu pagi untuk melanjutkan sesi ini ke tahap ranjang? Baekhyun harus pergi bekerja.

"C–Chanyeol-ah.." panggilnya dengan suara bergetar. Chanyeol hanya berdehem tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang memberikan tanda kemerahan di leher putih Baekhyun. "A–aku harus pergi beker–aahh.." Baekhyun mendesah akhirnya, tepat saat Chanyeol menggigit bekas kissmark yang baru ia buat. Tanpa Baekhyun sadari, raksasa itu tersenyum setan. Ia jadi semakin ingin melanjutkan sesi ini ke tahap ranjang.

"Tapi aku ingin sarapan dulu, Baek..," Chanyeol berbisik tepat di telinga Baekhyun, "Dan aku ingin sarapan 'bacon' di ranjang kita~"

BLUSH!

Belum sempat Baekhyun melawan, Chanyeol sudah mengangkat tubuhnya ala bridal style. Pria tinggi itu sempat mematikan kompor, kemudian ia membawa tunangannya yang merona hebat menuju ranjang mereka. Mereka–oh, maksudnya Chanyeol akan 'sarapan' disana.

.

.

.

###

LIES IN BETWEEN

Chapter 12 Terrible Accident

Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Support Casts : Kim Jiwon, Wu Kris, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Park Yoora

Genre : Romance, Drama

Rate : M

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

Note: NC sejenak ya, biar seger #plakk! Seperti biasa, manis di awal, nyesek di akhir. ENJOY~

###

.

.

.

"Aahh..ahh..enghh..Yeollhh.." Baekhyun mendesah hebat ketika Chanyeol menumbuk prostatnya. "Di–ahh..disanaahh..terushh..ahh.."

"Ahh..'sarapan' pagi ini benar-benar enak, sayanghh~" goda Chanyeol di tengah aksinya. "Sepertinya..ermhh..'sarapan bacon' di pagi hari akan menjadi hobiku mulai dari sekarang."

Baekhyun tidak tahu sudah semerah apa wajahnya saat ini, tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah kepuasannya. Oh, Chanyeol benar-benar membuatnya gila, bahkan di pagi hari seperti ini. Lihat saja penampilannya yang sudah berantakan itu. Rambutnya yang tadi sudah disisir rapi, kini bermandikan peluh. Tidak hanya rambut, tubuhnyapun dialiri peluh yang deras saking tingginya suhu tubuh itu akibat dari persetubuhan ini. Bibir Baekhyun yang merah menggoda itu agak bengkak –akibat ciuman panasnya dengan Chanyeol– dengan sentuhan air liur di sudut bibirnya, membuatnya nampak indah juga seksi. Belum lagi bibirnya itu terus menggemakan desahan erotisnya, membuat Chanyeol semakin bersemangat menyetubuhinya. Padahal Baekhyun sudah siap berangkat bekerja, tapi tunangannya ini malah membuatnya harus mandi lagi nanti.

"Ahh..ngahh..lagiihh..ermmh..lebihh, Yeolhh.."

Chanyeol menyeringai, kemudian menambah kecepatan menggenjotnya(?). "'Bacon'-ku mulai nakal rupanya..ahh..I love it~"

"Oohh..Yeolhh, akuhh..," Tubuh Baekyun mulai menegang, "A–aku hampir–aaaakhhh!" Baekhyun akhirnya mencapai puncaknya. Sperma miliknya menyembur dan membahasi perutnya, sedikitnya berada di dada Chanyeol. Mata Baekhyun sedikit berkunang-kunang dan napasnya tak beraturan. Ia melihat Chanyeol tengah tersenyum tampan di atasnya, oh koreksi, tersenyum setan. Baekhyun mendadak merasakan firasat buruk.

"Aku belum selesai 'sarapan', sayang~"

Baekhyun baru sadar Chanyeol belum mengeluarkan spermanya. Penisnya itu masih mengembung di dalam lubang anusnya dan belum mengeluarkan cairan cintanya. Jadi–

"Nyaahh..nghh..Chan–ohhh.."

'Sarapan' masih berlanjut.

Sepertinya pasangan itu akan melewatkan jam kerjanya hari ini.

.

.

Chanyeol meletakkan susu hangat di meja makan ketika Baekhyun sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumahnya. Well, pada akhirnya mereka bolos kerja. Salahkan saja Park Chanyeol dan hasratnya di pagi hari itu. Dan itu membuat Baekhyun kesal. Lihat saja bibirnya yang mengerucut lucu. Tapi bukannya merasa bersalah atau apa, Chanyeol malah geli melihat tunangannya ngambek.

"Kalau kau mengerucutkan bibirmu terus, aku akan melanjutkan sesi 'sarapan' ke sesi 'makan siang'."

PLETAK! –Baekhyun memukul kepala Chanyeol cukup keras.

"Baek, ini sakit, sayang~" Chanyeol merajuk, yang dimana terlihat menggelikan di telinga Baekhyun. Pria mungil itu mendengus, tidak mengindahkan rajukan Chanyeol, dan malah meminum susunya dengan santai. Chanyeol sadar tunangannya sedang kesal, jadi ia tersenyum manis seraya mengusap sudut bibir Baekhyun yang meninggalkan bekas susu yang ia minum tadi. Baekhyun merona lagi. Aish, selalu saja begitu. Setiap kali Baekhyun sedang kesal padanya, raksasa itu akan tersenyum manis padanya dan menambahnya dengan sebuah perilaku manis. Itu selalu efektif. Kekesalan Baekhyun akan menurun setelahnya dan bergantikan dengan sebuah senyuman kecil. Merekapun melanjutkan kembali sesi sarapan mereka –sarapan sesungguhnya– dengan tenang.

"Tidak ada lagi morning sex." tandas Baekhyun, berhasil membuat Chanyeol tersedak susunya sendiri. "Dan aku serius, Park Chanyeol."

Chanyeol terkekeh di antara batuknya. Ia meminum air putih miliknya sebelum bicara. "Bukankah kau juga menikmatinya tadi?"

DAK! –Baekhyun menendang lutut Chanyeol di bawah meja sehingga raksasa itu kembali meringis. Dua pukulan di pagi hari. Astaga.

"Oke, oke, aku mengerti. No morning sex." Chanyeol mengalah. Tapi kemudian seringaian terpampang jelas di wajah tampannya. "Tapi aku tetap mendapatkannya di malam hari'kan?"

DAK!

Tiga pukulan di pagi hari. Park Chanyeol belum belajar apapun sepertinya. Tapi belum sempat pria tinggi itu protes, Baekhyun menyelanya.

"Aku menolakpun, kau tetap akan mendapatkannya'kan?" cicitnya. Pipi Baekhyun merona. Oh, manis sekali.

Chanyeol tersenyum bocah. "Aku mencintaimu, Byun Baek–ah bukan, Park Baekhyun~"

Wajah Baekhyun semakin memerah dibuatnya. Ia mulai gelagapan karena pernyataan cinta Chanyeol yang tiba-tiba, membuatnya terlihat semakin menggemaskan di mata Chanyeol. Dan apa tadi? 'Park Baekhyun'? Tolong ingatkan Baekhyun untuk mengais udara sebanyak-banyaknya karena ia mulai berhenti bernapas.

"Ngomong-ngomong, kau ingin melaksanakan pernikahan kita dimana?" Chanyeol mengalihkan topik. Baekhyun berpikir sejenak. Tapi di saat yang bersamaan, raut mukanya jadi sendu. Chanyeol mengernyit. "Hey, ada apa?" tanyanya agak khawatir.

Baekhyun menatap Chanyeol. Ia sempat menggigit bibir bawahnya karena ragu dengan pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Namun karena usapan di tangannya dan senyuman Chanyeol, itu membuatnya agak tenang. Baekhyun-pun bertanya, "Bisakah kita mengadakannya di Korea?"

Chanyeol agak terkejut mendengarnya, tapi sedetik kemudian ia tersenyum. "Aku juga memikirkan hal yang serupa. Dan lagi, aku harus meminta restu pada Baekbeom dulu, bukan?" Baekhyun tersenyum, kemudian mengangguk semangat. Chanyeol ikut senang tentu saja. Tapi kemudian senyuman Baekhyun memudar, membuat Chanyeol kembali bingung. "Ada apa lagi?"

"Bagaimana dengan orangtuamu?"

Chanyeol terdiam. Well, ia sebenarnya sudah memikirkan hal itu meski belum menemukan cara yang tepat agar orangtuanya mau merestui hubungannya dengan Baekhyun. Jika dulu saja mereka berusaha mengusir Baekhyun di hari pertunangannya dengan Jiwon, apa jadinya jika sekarang Chanyeol meminta orangtuanya merestui pernikahannya dengan Baekhyun? Dan yang paling penting, apakah mereka masih sudi menemui Chanyeol sebagai anak mereka? Chanyeol masih ingat jelas ancaman Tuan Park sebelum ia kabur bersama Baekhyun waktu itu.

"Jika kau berani keluar dari rumah ini, aku tidak akan menganggapmu sebagai anakku lagi."

Dan yang Chanyeol tahu, Abeoji-nya tidak pernah main-main dengan ancamannya. Tapi di lain sisi, ia masih sangat menyayangi orangtuanya dan –jika memungkinkan– mendapatkan restu mereka sebelum menikah dengan Baekhyun. Chanyeol tahu hal ini tidak akan mudah ketika ia memutuskan untuk memilih hidup bersama Baekhyun, tapi ia sudah memutuskan dan ia tidak menyesali keputusannya. Ia hanya ingin orangtuanya membiarkannya hidup bahagia bersama orang yang ia cintai. Tapi apa yang harus Chanyeol lakukan ketika orangtuanya bahkan sulit menerima kenyataan bahwa ia seorang gay?

"Chanyeol?" Suara Baekhyun berhasil membawanya ke alam sadarnya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menemukan tunangannya menatapnya dengan mimik khawatir. "Kau baik-baik saja?"

Chanyeol tersenyum, kemudian mengangguk. "Aku baik-baik saja."

"Kau memikirkan orangtuamu ya?" tanya Baekhyun. Tersirat nada penyesalan dalam suaranya, Chanyeol tahu itu. Tapi ia berusaha menenangkan pria mungil itu dengan menggenggam tangannya.

"Aku akan pikirkan jalan keluar agar mereka mau merestui hubungan kita."

"Bagaimana jika mereka tidak mau merestui hubungan kita?" Baekhyun terlihat semakin khawatir. "Apa kau akan meninggalkanku?"

"Kau ini bicara apa, Baek? Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu." Tangan Chanyeol terulur untuk mengelus pipi Baekhyun. "Aku terlalu mencintaimu. Meninggalkanmu sama saja dengan membunuhku secara perlahan. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, oke? Aku janji."

Baekhyun tersenyum tipis, kemudian mengangguk pelan. Meskipun masih ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya, ia tetap senang bahwa pria tinggi yang ia cintai berhasil meyakinkannya bahwa ia tidak akan meninggalkannya.

"Aku berpikir untuk meminta restu Baekbeom dulu, baru orangtuaku, jadi kita bisa menikah di Seoul." kata Chanyeol seraya menyuapkan bacon –bacon sungguhan– ke dalam mulutnya. "Hey, apa menurutmu Baekbeom akan merestui hubungan kita?" tanyanya penasaran.

"Well, dia akan menginterogasimu dulu sebelumnya, tapi aku yakin dia akan merestui hubungan kita." ucap Baekhyun yakin.

"Begitukah? Woah, aku jadi gugup." Chanyeol memegangi dada kirinya dimana jantungnya berada yang sedang berpacu cepat. "Apa dia selalu begitu pada setiap pria yang kau kenalkan padanya?"

"Ya, dulupun begitu ketika aku hampir menikah dengan Kris. Mereka berteleponan sekitar hampir satu jam. Kris benar-benar dibuat kewalahan waktu itu, ahaha~"

Mendengar nama Kris disebut, itu membuat mood Chanyeol turun. Well, ya, dia memang masih tidak suka pada Kris, padahal dia sudah memenangkan Baekhyun. Tapi tetap saja mengingat ia pernah menjadi kekasih Baekhyun, bahkan sampai mencium dan memeluknya, membuat Chanyeol cemburu setengah mati. Sadar akan keheningan di meja makan, membuat Baekhyun menatap Chanyeol. Ia menemukan tunangannya tengah bungkam dengan bibir agak mengerucut. Baekhyun menyadari sesuatu. Tunangannya sedang cemburu. Senyuman jahil tiba-tiba keluar di sudut bibir Baekhyun.

"Tidak perlu cemberut begitu, Yeol. Kris itu hanya masa lalu." ujar Baekhyun. Itu berhasil membuat Chanyeol menatapnya.

"Aku tidak cemberut."

"Kau sedang merajuk sekarang, kau tahu itu?"

Raksasa itu tersenyum –yang terkesan sangat dipaksakan. "See? Aku tidak cemberut ataupun merajuk."

"Tapi kau cemburu." Baekhyun tersenyum puas di ujung kalimatnya.

"Psh!" Chanyeol mengalihkan matanya dari Baekhyun. "Cemburu itu bukan gayaku, tahu? Apalagi pada si pirang jelek itu."

"Kris tampan kok."

Chanyeol melotot. Tapi yang dipelototi malah cuek-cuek saja.

"Dia tampan, memesona, baik hati, juga–"

"Aish, lalu kenapa kau memilihku pada akhirnya, hah?!" Chanyeol menyela dengan nada protes yang teramat sangat.

Baekhyun tersenyum lebar sampai matanya membentuk bulan sabit. "Karena aku hanya mencintaimu, Dobbi-ku~"

Wow.

Chanyeol merona. Tidak keren.

Pria tinggi itu berdehem cepat. "Jangan memanggilku 'Dobbi', Baek. Kau seperti Noona-ku saja."

"Kenapa?" Pria mungil itu tersenyum manis. " Menurutku 'Dobbi' itu manis~"

Senyuman Baekhyun adalah kelemahan Chanyeol. Jadi, well, dia tidak banyak protes dan kembali melanjutkan acara sarapannya.

.

.

Kris menatap datar laporan dan beberapa lembar foto yang dibawa orang suruhannya lima menit yang lalu. Beberapa foto itu menampilkan foto Baekhyun dan sisanya adalah foto Chanyeol dan Baekhyun. Semenjak sepuluh bulan yang lalu, hari dimana Baekhyun meninggalkannya di altar, Kris mencari tahu keberadaan Baekhyun yang menghilang dari Korea beberapa jam setelah pernikahannya gagal. Menurut orang suruhannya, Baekhyun pergi ke Swiss bersama Chanyeol. Berita itu Kris dapatkan tiga hari setelah kejadian paling menyakitkan yang pernah Kris alami. Mengesampingkan emosinya pada Chanyeol, Kris lebih kecewa pada Baekhyun. Padahal selama ini ia berpikir bahwa Baekhyun juga mencintainya, tapi ternyata pemikirannya salah besar. Ternyata Baekhyun memang mencintai Chanyeol, seperti dugaannya dulu tepat sebelum Baekhyun pergi ke Paris. Sebenarnya Kris merasakan sesuatu yang aneh ketika Baekhyun pulang dari Paris. Ia menjadi lebih pendiam. Pria mungil itu cenderung menatap Chanyeol dengan tatapan yang Kris tak mengerti. Kris tidak tahu itu tatapan cinta atau benci, tapi ia sering menemukan Baekhyun melamun setelah bertemu Chanyeol.

Kris seharusnya bisa memprediksi ini lebih awal, tapi dengan bodohnya ia tetap percaya pada Baekhyun. Tak hanya menanggung malu ketika Baekhyun meninggalkannya di altar, Kris juga harus menanggung rasa dikhianati sampai saat ini. Kris awalnya ingin merebut kembali Baekhyun ketika ia sudah tahu keberadaan Baekhyun di Swiss, tapi entah kenapa itu terurungkan. Bukan karena ia merelakan Baekhyun bersama Chanyeol atau semacamnya, tapi karena Baekhyun terlihat bahagia disana bersama Chanyeol. Itulah yang membuat Kris tidak bisa melakukan niatnya. Katakan ia munafik atau apapun itu, tapi Kris tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia masih mencintai Baekhyun sampai tak bisa menyakitinya. Hatinya memang masih sakit dan kecewa karena Baekhyun lebih memilih Chanyeol ketimbang dirinya. Kris ingin merebutnya, tapi kebahagiaan Baekhyun mencegahnya. Ia tak sanggup merenggut kebahagiaan itu dari Baekhyun. Well, itu memang terdengar klise dan terkesan seperti perkataan para pecundang, tapi Kris sendiri tak bisa menjamin kebahagiaan itu akan datang jika Baekhyun bersamanya. Yang meyakinkan Kris adalah senyuman Baekhyun. Itu terlihat sangat berbeda ketika pria mungil itu berada di dekatnya dan Chanyeol. Senyuman Baekhyun terlihat jauh lebih bersinar dan tulus ketika ia di sisi Chanyeol. Dan ya, itu menyakiti hati Kris. Apalagi setelah sepuluh bulan berlalu dan ia mendapatkan kabar bahwa Chanyeol melamar Baekhyun, senyuman pria mungil itu semakin cerah setiap menitnya. Senyuman itulah yang menggambarkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kris bisa merasakannya meski tidak melihatnya langsung. Dan itu semakin menciutkan niat Kris untuk merebut Baekhyun.

Baekhyun lebih bahagia bersama Chanyeol.

"Apa tugas saya selanjutnya, Tuan? Apakah Anda ingin me–"

"Tugasmu sudah selesai." potong Kris, membuat orang suruhannya itu terkejut. Pria berambut pirang itu tak mengindahkan orang suruhannya yang sedang kebingungan. Ia justru menatap foto Baekhyun yang tengah tersenyum ketika berdansa dengan Chanyeol, mengelus foto Baekhyun dengan ibu jarinya dengan tatapan kosong.

Dadanya sesak lagi.

.

.

Tuan Park mengerutkan dahinya ketika menemukan Yoora memekik tertahan sambil menatap email yang baru didapatnya. Wanita cantik itu bahkan menutup mulutnya agar pekikannya tidak terdengar siapapun, tapi Tuan Park –yang tak sengaja melewati kamar putrinya itu– menyadarinya. Bisa ia lihat dengan jelas raut bahagia Yoora di dalam sana. Wanita cantik itu bahkan melompat kecil. Apakah ada kabar menggembirakan? Soal pekerjaankah? Ah, tidak. Tuan Park tahu benar sifat putri sulungnya itu. Yoora hanya akan tersenyum senang bila mendapatkan kabar gembira mengenai pekerjaannya, jadi sepertinya itu bukan tentang pekerjaan. Lalu apa? Mengesampingkan rasa penasarannya, Tuan Park baru menyadari Yoora yang kini berjalan mendekati pintu kamarnya. Cepat-cepat pria paruh baya itu bersembunyi di balik tembok sampai akhirnya putrinya itu menutup pintu kamarnya dan berjalan menuruni tangga. Setelah memastikan Yoora pergi, Tuan Park keluar dari tempat persembunyiannya. Dahinya berkerut. Matanya melirik pintu kamar Yoora yang tertutup rapat. Entah kenapa, dirinya begitu penasaran dengan email yang didapat Yoora. Sesuatu mengatakan padanya bahwa ini ada hubungannya dengan Chanyeol yang masih belum ditemukan sampai saat ini.

Pria paruh baya itupun membuka pintu kamar Yoora dan berjalan masuk ke dalamnya. Ia mendudukkan bokongnya tepat di kursi di hadapan laptop milik Yoora. Ia menghidupkan laptop putih tersebut. Jemari Tuan Park menari lincah di atas keyboard laptop tersebut saat memasukkan password-nya. Itu adalah gabungan tanggal lahir Tuan Park, Nyonya Park, Yoora, dan Chanyeol. Beruntung Yoora selalu menggunakan password yang sama untuk semua akses miliknya, jadi Tuan Park tidak terlalu sulit menebak password dalam laptop tersebut. Setelah layar laptop menampilkan desktop, Tuan Park segera membuka email milik Yoora. Tuan Park menyebut dirinya beruntung karena Yoora tidak mengeluarkan akun emailnya sehingga ia bisa langsung mengaksesnya dengan mudah. Alis Tuan Park bertautan sempurna saat melihat nama pengirim email yang paling atas. Nama pengirimnya adalah ChanBaek. Apakah itu dari Chanyeol? Tanpa berpikir lebih lama lagi, Tuan Park membuka email tersebut. Detik saat mata pria paruh baya itu membulat sempurna, semua pertanyaan dalam benaknya kini terjawab.

Itu memang email dari Chanyeol.

Dan tidak hanya berisi satu atau dua pesan saja. Itu ada puluhan. Melihat dari tanggal diterimanya semua pesan itu, Tuan Park baru tahu bahwa selama ini Yoora mengetahui keberadaan adiknya juga kabarnya. Tanpa ia sadari, rahangnya mulai mengeras, menandakan ia tengah meredam emosinya. Berbagai pertanyaan baru mulai bermunculan dalam benaknya. Kenapa putrinya tidak pernah memberitahukan hal ini padanya atau Nyonya Park? Apakah ia sengaja? Tuan Park bahkan lebih terkejut lagi ketika membaca pesan terbaru dari Chanyeol. Putranya akan menikah dengan Baekhyun. Sontak itu membuat napas Tuan Park memburu. Wajahnya bahkan memerah saking emosinya ia. Well, Tuan Park memang pernah mengatakan bahwa ia tidak akan menganggap Chanyeol sebagai anaknya lagi jika ia berani keluar dari rumahnya, tapi hati seorang orangtua tetap tidak bisa dibohongi. Mereka pasti khawatir jika anaknya menghilang tanpa kabar. Dan melihat email dari Chanyeol, Tuan Park berasumsi bahwa raut gembira Yoora itu berasal dari sana. Memikirkan hal itu, membuat Tuan Park berspekulasi sendiri. Apakah itu berarti Yoora membiarkan orientasi seks adiknya melenceng? Atau jangan-jangan Yoora sudah mengetahui tentang hal itu jauh sebelum Tuan dan Nyonya Park mengetahuinya? Dan Yoora tidak keberatan, justru merestui hubungan Chanyeol dengan Baekhyun?

"Tidak bisa dipercaya." desis Tuan Park. Tangannya mengepal kuat. Sorot tajam dari matanya menyiratkan amarah yang kentara. Hell, pantas saja selama ini ia sulit menemukan informasi mengenai keberadaan Chanyeol. Sepertinya Yoora ada di balik semua ini karena kalau tidak, mana mungkin orang-orang kepercayaannya itu masih belum menemukan keberadaan Chanyeol hingga saat ini? Membaca semua pesan antara Yoora dan Chanyeol, membuat Tuan Park semakin yakin bahwa Yoora-lah yang membuatnya tak bisa menemukan Chanyeol. Tuan Park berpikir akan menanyakan banyak pertanyaan mengenai hal ini pada Yoora nanti, tapi sekarang yang ada dalam pikirannya adalah Chanyeol. Diam-diam, pria paruh baya itu menyeringai. Sepertinya ia memiliki rencana untuk mengakhiri permainan konyol anak-anaknya ini. Jadi setelah mematikan laptop milik Yoora, Tuan Park bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju ruang kerjanya.

###

Chanyeol mengucapkan terima kasih pada Tiffany –pegawai toko pastry langganannya– ketika pesanannya telah ia terima. Pria tinggi itu sempat melemparkan senyuman ramah pada Tiffany sebelum akhirnya berbalik untuk pulang ke apartemennya. Senyuman pria tampan itu tak luntur membayangkan ekspresi tunangannya yang akan berbinar ketika diberi strawberry cake kesukaannya. Namun senyuman itu langsung luntur ketika matanya bertatapan dengan mata seseorang di hadapannya. Sebuah raut keterkejutan terlihat jelas di paras tampan Chanyeol, namun itu berbanding terbalik dengan raut amarah dari pria paruh baya yang berdiri tepat di hadapannya.

Itu Tuan Park.

"A–Abeoji?" Chanyeol terbata saking terkejutnya.

"Ternyata benar kau disini." ucap Tuan Park lirih. Ia mendekati Chanyeol tanpa melepaskan tatapan tajamnya dari putra bungsunya itu. "Kita pulang."

Itu adalah sebuah perintah mutlak dan Chanyeol tahu bahwa ia harus menurut, namun kata hati dan otaknya menolak hal itu. Pria tinggi itu justru memundurkan langkahnya, kemudian menatap Abeoji-nya dengan mimik serius. "Aku tidak akan pulang, Abeoji."

Rahang Tuan Park tanpa sadar mengeras karena penolakan anaknya tersebut, namun ia masih belum menyerah. Ia sudah datang jauh-jauh ke Swiss, mengabaikan istrinya yang kebingungan akan kepergiannya yang tiba-tiba ini, dan ia tidak akan pulang dengan tangan hampa. Pria paruh baya itu akan pulang ke Seoul bersama Chanyeol, suka atau tidak.

"Aku sedang tidak main-main, Chanyeol." Tuan Park menarik pergelangan tangan Chanyeol, kemudian melanjutkan kalimatnya, "Kau akan pulang denganku sekarang." tandasnya.

"Tidak, Abeoji." Chanyeol juga bersikukuh. Ia menarik pergelangan tangannya, kemudian berkata, "Aku bahagia hidup disini, bersama Baekhyun."

Tuan Park mendengus. "Lagi-lagi pria itu." Ia menatap remeh anak bungsunya seraya memasukkan kedua tangannya di saku celananya. "Kau akan menikah dengannya, hah?"

Chanyeol memang terkejut dengan ucapan Tuan Park, namun pria bertelinga lebar itu berusaha menyembunyikannya. "Ya, dan aku ingin–"

"Kau tidak akan pernah mendapatkan restuku, Chanyeol." Tuan Park memotong, seolah tahu apa yang akan dikatakan putranya. Dan itu memang benar. Chanyeol sendiri sebenarnya tidak kaget dengan ucapan pria paruh baya itu. Ia justru menghembuskan napasnya, berusaha tenang di hadapan Abeoji-nya.

"Aku akan tetap menikahinya, Abeoji." Chanyeol berkata tegas, dan itu jelas membuat Tuan Park marah sekaligus dongkol. "Aku mencintai Baekhyun. Tidak peduli Eomma dan Abeoji merestui kami atau tidak, kami akan tetap menikah. Ini keputusan terakhirku."

Napas Tuan Park mulai memburu. Kerutan di dahinya menyiratkan amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Seumur-umur, Tuan Park tidak pernah membayangkan Chanyeol akan membelotnya seperti ini hanya demi seorang pria bernama Byun Baekhyun. Sebegitu berharganyakah pria gay itu di mata Chanyeol sampai-sampai anaknya itu merelakan segalanya demi hidup bersama pria itu?

"Apa yang kau lihat darinya, hah? Dia punya apa sampai kau bertekuk lutut di hadapannya?"

Pertanyaan sarkastis Tuan Park dibalas senyuman tulus oleh Chanyeol. "Entahlah. Tapi yang pasti, saat aku bersama Baekhyun, aku selalu merasa sempurna dan satu-satunya yang bisa kupikirkan saat bersamanya adalah menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Aku tak bisa hidup tanpa Baekhyun, Abeoji."

Hilang sudah kesabaran Tuan Park. Pria paruh baya itu tidak mau mendengar omong kosong anaknya lagi. Iapun menarik tangan Chanyeol, memaksanya untuk pergi bersamanya. "Kau akan pulang denganku, suka atau tidak!"

"Abeoji, tunggu du–"

"Aku tidak mau tahu, Chanyeol! Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria manapun!"

"Abeoji, dengarkan aku dulu!"

Tuan Park seolah menulikan pendengarannya dan terus menarik tangan Chanyeol keluar dari toko pastry. Ia bahkan tak memedulikan tatapan orang-orang yang sedari tadi memerhatikan perdebatannya dengan Chanyeol. Yang ada dalam pikiran Tuan Park hanyalah membawa Chanyeol pulang ke Seoul sekarang. Sedangkan di lain sisi, Chanyeol masih meronta. Well, Chanyeol bisa saja melepaskan diri dari cengkeraman tangan Tuan Park, tapi ia juga tak ingin menyakitinya. Di saat perdebatan antara anak dan Ayah itu berlangsung, mereka tidak menyadari bahaya yang tengah mengancam nyawa mereka, sampai akhirnya–

DHUAAAAAAARR!

Tiba-tiba saja restoran di samping toko pastry itu meledak, lebih tepatnya dari arah dapur restoran itu. Chanyeol dan Tuan Park yang berada tak jauh dari restoran tersebut, sontak menoleh ke samping. Mereka membulatkan matanya ketika api tiba-tiba menyembur, berjalan ke arah mereka. Chanyeol menoleh cepat ke arah Tuan Park dan segera mendorong tubuh pria paruh baya itu sehingga ia terpental cukup jauh. Tuan Park memang berhasil selamat dari semburan api panas itu, namun tidak dengan Chanyeol. Putra bungsu Tuan Park itu sempat terkena api panas meski tubuhnya tidak sepenuhnya terbakar seperti beberapa korban di dalam restoran tersebut. Orang-orang mulai berlarian saking paniknya. Beberapanya segera memanggil pemadam kebakaran dan ambulans, sedangkan yang lainnya membantu para korban yang terluka di dekat restoran tersebut agar menjauh dari restoran yang terbakar. Tuan Park sendiri tidak bisa percaya atas apa yang terjadi barusan, semuanya terjadi begitu cepat sampai akhirnya ia tersadar bahwa anaknya tengah tergeletak tak berdaya di atas aspal. Pria paruh baya itu berjalan mendekati Chanyeol, kemudian memeluknya erat. Raut khawatir sekaligus ketakutan terlihat jelas di wajah Tuan Park.

"C–Chanyeol-ah, bangunlah, nak.." Suara Tuan Park bergetar hebat. Hatinya teramat sakit melihat anaknya yang tak sadarkan diri dengan luka bakar yang menghiasi wajahnya. Ia mulai merasakan firasat buruk. Diguncang-guncangkannya bahu anaknya tersebut agar ia sadar, tapi semua yang dilakukannya sia-sia.

Chanyeol tak sadarkan diri.

TBC

Uh..pendek ya? Biarin deh #plak!

Saya sempet stuck selama sebulan lebih akan kelanjutan FF ini dan baru dapet ilham pas mudik kemarin. FF ini bentar lagi tamat kok, dua atau tiga chapter lagi. Chapter selanjutnya adalah perjuangan Baekhyun menghadapi keluarga Park. Um..bingung mau cuap-cuap apa, tapi yang pasti tunggu aja kelanjutannya kalo kalian masih berminat baca FF ini sampe tamat. Last but not least, terima kasih yang bagi masih mau menunggu maupun membaca FF ini dan jangan lupa tinggalkan review ya~