Annyeong ~
GAMSAHAMINIDA!
Haha, kita ketemu lagi lebih cepat...
Btw, saya udah ke dokter gigi #njiiircurhatlaginihauthor Tapi! Ga jd cabut gigi, anda tahu kenapa? Karena saya ketakutan stengah mati, jantung saya sama bgt pas ngeliat skinshipnya YoonMin, ga ga ga ga jauh lebih parah lagi! Karena itu saya stress bgt, dan cabut gigi saya diundur tiga hari lagi sambil minum obat lagi yang saya benci ... ugh! tuk ngurangin stress saya jadinya nulis ff deh ...
Well, kita masuk masa lalunya YoonMin... Semoga dapat menghibur ^^
Selamat membaca ^^
.
.
Jimin mendengar pintu dibuka. Senyumnya langsung merebak karena tahu benar siapa yang datang. Sebentar ia memperbaiki celemek hitam dan surai coklat tuanya lalu kembali melanjutkan hal yang sudah dilakukannya sejak beberapa menit lalu. Jimin kemudian menunggu 'siapa yang datang' itu untuk lebih dulu menyadari keberadaan dan menyapanya.
Lead vocal BTS itu bersenandung, senang akan suara langkah kaki yang sangat ia hafal mulai mendekat ke arah dapur.
"Tumben kau tidak menyambutku pulang?"
"Eh? Yoongi-hyung sudah pulang?"
"Kau sedang apa hm? Sampai-sampai tidak menyadari kedatanganku."
Begitu pikir Jimin sambil tersenyum.
Tapi Jimin malah belum mendengar apapun sejak langkah kaki itu berhenti. Ia tetap sibuk membilas piring, meski ia yakin hawa keberadaan Yoongi sudah tak jauh darinya berada.
Aku tak akan berbicara duluan. Sekali-sekali aku ingin mendengar kata-kata seperti apa yang akan Yoongi-hyung ucapkan ketika pertama kali berbicara duluan kepadaku. Batin Jimin namun beberapa detik kemudian mulai meragu karena Yoongi sama sekali belum buka suara. Jimin belum berbalik, tapi ia cukup tahu bahwa Yoongi hanya berdiri diam di batas antara dapur dan ruang tengah dorm BTS ini.
Jimin berhenti mengalunkan nada. Ia mulai heran dan bertanya-tanya.
Kenapa? Kenapa dia diam saja? Ada apa dengan Yoongi-hyung? Jangan bilang kalau akhirnya sisi psikopatnya tiba-tiba muncul sekarang?! Sumpah, kenapa tiba-tiba Jimin merasakan hawa yang mencekam. Hari ini sudah cukup larut, hanya ada Jimin di dorm, ditambah sosok Yoongi yang membisu mematung tidak jelas, dan semua orang pasti tahu bahwa wajah Yoongi bisa menandingi wajah pembunuh berdarah dingin manapun. Jimin yang polos jadi memikirkan hal yang bukan-bukan.
Di sisi lain, dengan mata lelahnya Yoongi memandangi punggung Jimin begitu lama. Hanya itu, Jimin saja yang berlebihan.
Entah apa yang Yoongi pikirkan, yang jelas tatapannya hanya dipenuhi oleh siluet Jimin. Wajahnya kusut, bekerja seharian tanpa henti, tanpa istirahat dan hampir tanpa makan jika saja Jimin tak mengingatkannya. Tubuh dan emosinya letih sekali, ingin rasanya ia cepat tidur. Namun, yang ia sendiripun tak mengerti, badannya belum ingin beranjak sedikitpun.
Mata Jimin melotot. Sepasang tangan baru saja merangkul pinggangnya. Satu telinganya menangkap deru napas yang terdengar capai. Dan jelas-jelas pundaknya kini dibebani oleh kepala seseorang.
"Yoo, Yoo..Yoongi-hyung...?"gagap Jimin.
Yoongi hanya diam. Membenamkan wajahnya di leher Jimin dan semakin menekan tubuh Jimin dalam pelukannya.
Hhhh!? pekik Jimin dalam hati. Jantungnya berpacu. Pipinya mulai memerah sedangkan tubuhnya menjadi kaku karena terlalu gugup.
"Hy, Hyung...?"tanya Jimin lagi.
"Izinkan aku begini sebentar."
Pupil Jimin membesar. Ia bersusah payah menelan ludah. Suara berat Yoongi yang sedang capai terdengar sangat seksi dengan jarak sedekat ini. Jimin menurut, ia hanya diam, ia biarkan Yoongi menjadikan dirinya seolah seperti boneka. Bisa dibilang sebenarnya Jimin senang bukan main. Awalnya kaget karena Yoongi begitu tiba-tiba namun perlahan membuahkan senyuman malu di wajah Jimin.
Jelas-jelas mereka berdua saling menyukai, tapi sampai sekarang belum terikat status apapun layaknya Namjoon dan Seokjin. Yoongi sudah menyukai Jimin jauh sebelum mereka debut. Hanya beberapa minggu setelah mereka bertemu, Jimin yang manis dan manja berhasil menakhlukkan hati seorang Min Yoongi. Sedangkan Jimin, baru setahun setelah itu akhirnya bisa menyadari perasaannya kepada Yoongi. Lalu, kenapa mereka belum seperti Namjoon dan Seokjin yang sudah menjadi sepasang kekasih?
Entahlah, mungkin karena Yoongi yang terlalu fokus akan pekerjaannya sebagai Idol, Rapper, Composer dan Producer, memilih untuk tidak memikirkan hal lain selain itu dulu untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan. Atau karena Jimin yang ternyata adalah seorang yang sangat pemalu jika menyangkut masalah percintaan. Belum ada yang mengutarakan perasaan masing-masing. Padahal bisa dibilang dua orang ini saling mengerti hanya dengan tatapan mata saja. Perhatian Jiminpun seperti perhatian seseorang kepada kekasihnya. Yoongipun begitu, memperlakukan Jimin berbeda dengan member lainnya.
Mungkin Yoongi dan Jimin hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk membuat hubungan mereka jadi lebih pasti dan lebih jelas. Ini yang membuat Jimin agak ragu untuk menggenggam jemari Yoongi yang terpagut di pinggangnya, menolak nalurinya sendiri dan memilih untuk tetap memegang tepian wastafel cuci piring daripada membalas perlakuan Yoongi.
Mata Jimin mengerjap cepat. Sudah beberapa menit berlalu. Yoongi hanya memeluknya, tidak mengatakan apapun tidak melakukan apapun. Membuat Jimin berpikir mungkin Yoongi tertidur sambil berdiri. Perlahan Jimin bergerak, ingin memastikan apa-
"Sudah kubilang, begini saja sebentar."
Jimin langsung mengurungkan niatnya. Suara berat Yoongi terdengar lagi. Dan pastinya Jimin tetap menurut seperti tadi.
.
.
Dua tangan Yoongi mulai berangsur turun. Ingin sekali Jimin cepat-cepat menanyakan apa yang terjadi dan memastikan bagaimana raut wajah Yoongi sekarang, tapi ia cukup bersabar sampai Yoongi benar-benar melepaskannya.
Jimin akhirnya berbalik. Hanya rasa lelah yang ia tangkap dari sorot mata itu.
"Letih sekali, Hyung?"tanya Jimin lembut menyapu pelan sebelah pipi Yoongi.
Yoongi menutup kedua mata, jemarinya menggenggam tangan Jimin yang menempel di pipinya. Mencium telapak tangan Jimin, mengecupnya cukup lama dan mendesah kasar di sana.
Seketika Jimin merona malu. Terpaku dan terdiam akan sikap Yoongi.
Kelopak mata Yoongi perlahan terbuka, menyodorkan tatapan intens pada sosok di hadapannya, "kau tahu, Jimin?"
"Eh?"
"Disaat kita terlalu letih. Tenaga terkuras habis. Disaat seharusnya kita membutuhkan istirahat, tapi malah memilih tetap terjaga hanya untuk sekedar menikmati keberadaan seseorang."
Jimin masih belum mengerti namun entah kenapa detak jantungnya semakin terpacu mendengarnya.
"Selama perjalanan pulang aku hanya ingin tidur. Aku tak memikirkan hal lain. Yang jelas aku akan langsung merebahkan diri di atas kasur begitu sampai di sini,"lanjut Yoongi masih menatap lekat dua mata yang semakin melebar itu, "Park Jimin. Park Jimin. Park Jimin. Kenapa aku malah memilih sosokmu untuk beristirahat, kenapa tanganku bergerak sendiri untuk menyentuhmu, kenapa kau-"
Yoongi menutup mata lagi. Lebih erat dengan pautan alis yang sangat tegas. Tangannya gemetar menggenggam jari Jimin.
Hening.
"Hyung?"tanya Jimin khawatir. Karena yang ia tangkap adalah Yoongi yang sepertinya sedang berpikir keras menahan sesuatu.
Lama Yoongi terdiam mengacuhkan pertanyaan Jimin, kemudian melepas genggamannya, tersenyum sendu dan mengacak rambut Jimin, "lupakan. Ucapanku mulai kacau, aku harus tidur,"ujarnya tiba-tiba santai, "begitu bangun aku akan langsung makan, jadi kau tak usah khawatir."
Yoongi bergerak pergi, berlalu ke kamarnya meninggalkan Jimin yang merengut sedih.
.
.
"Jiminie?"
...
"Jiminie?"
Hoseok melambaikan tangannya di depan wajah Jimin. Dan dongsengnya itu masih larut dalam pikirannya sendiri.
Hoseok mendaratkan pantat di sebelah tempat Jimin duduk, "hei, kau memikirkan apa heoh?"rangkulnya untuk pemuda manis itu.
"Eh? Apa, Hyung?"
"Kau sedang memikirkan apa?"tanya Hoseok lagi.
"Ooh. Ani! Tidak sedang memikirkan apapun. Hehe, barusan aku melamun ya, Hyung?"
"Bukan. Kau bukan melamun. Mana ada orang melamun dengan wajah seperti itu hm."
"Memangnya wajahku seperti apa, Hyung?"
Hoseok menyipitkan matanya. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Jimin, "hmmmm,"tatapnya penuh selidik.
Sedang Jimin hanya berkedip-kedip polos, "wae,Hyung?"
"Ada apa kau dengan Yoongi-hyung?"
Mata Jimin terbelalak. Dugaan Hoseok tepat sekali, "a, a, ani!"gagapnya berpaling, "ti, tidak ada apa-apa di antara kami kok. Ke- kenapa Hyung menanyakan itu ha? Aku? Aku dan Yoon, aku dan Yoongi-hyung? Memangnya kenapa? Tidak ada apa-apa kok."
Hoseok memutar kedua bola matanya, "hei, kau tahu kan, kalau kau itu sama sekali tidak pandai berbohong."
Jimin menunduk.
"Ada apa hm?"
Dengusan berat terdengar dari Jimin, "aku akan menceritakannya kalau kita sudah berdua saja, Hyung..."ujarnya lesu, seolah-olah sudah terbayang hal-hal yang akan ia ceritakan nanti pada Hoseok.
"Ne,"angguk Hoseok mantab, "tentu saja kau harus cerita kepadaku Jiminie,"lanjutnya mengacak surai Jimin.
Dan sayang sekali, ternyata sampai dua minggu kemudianpun waktu tak pernah memihak untuk mereka berdua. Mereka sangat sibuk. Sibuk sekali. Satu jampun tak terlewatkan untuk pekerjaan idol yang sedang naik daun itu. Adapun waktu untuk istirahat, meskipun hanya sebentar, sangat susah sekali untuk mencari momen privasi bagi Jimin dan Hoseok. Dan Jimin hanya ingin berbicara secara langsung, tidak menggangu istirahat Hoseok serta sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama dengan pembicaraan yang panjang lebar.
Padahal semakin hari perasaan Jimin semakin tak menentu. Pikirannya benar-benar bingung karena sikap seseorang yang kian hari juga semakin tak bisa Jimin pahami. Jimin hanya bisa menahan, masih terlalu gamang untuk memastikannya. Padahal bertahun ia mengenal sosok itu, bertahun ia mencoba mengerti sosok itu, bertahun ia akhirnya paham benar apa yang ada dalam pikiran sosok itu. Tapi, kini menyangkut sesuatu yang tidak boleh sembarangan Jimin simpulkan secara sepihak. Ia hanya bisa menduga, ia hanya bisa mengira-ngira, belum berani mengeksekusi nalurinya yang berkata-
Bahwa Yoongi juga menyukainya.
.
.
Jimin termangu. Kenapa tiba-tiba ia merasa perih hanya karena coretan kasar yang sudah mulai memudar. Alisnya menaut sedih. Napasnya sempat tercekat, namun perlahan membaik setelah gelak tawa Hoseok dan teriakan Taehyung terdengar saling bersahutan.
Hari ini jadwal mereka kosong. Setelah jadwal padat sebulan penuh.
Dan jika memungkinkan Jimin akan mencuri waktu untuk dapat berbicara bertiga saja dengan Hoseok dan Seokjin meski dorm sedang lengkap dengan tujuh member BTS. Karena ia sudah tak tahan lagi. Ia ingin menceritakan semuanya. Ditambah dengan apa yang tidak sengaja Jimin temukan ini.
Untuk sesaat tadi, pemuda manis itu seolah-olah berada dalam dimensi lain. Entah kenapa membaca deretan huruf pada lembaran lama ini menarik fokusnya terlalu jauh. Tenggelam dalam kata-kata, hanyut untuk menyusuri setiap makna.
Jelas-jelas Yoongi yang menulisnya. Karena kotak ini bukanlah milik enam member lain. Jimin hanya membantu mencarikan cincin, tak menyangka akan bertemu kertas menyedihkan seperti ini. Tak tertulis tanggal ataupun judul. Berisi untaian kata yang tergores kasar dan ungkapan perasaan seseorang yang merasa kerdil untuk sekedar mencintai.
Tulisan yang bukan lirik lagu. Bukan juga rap. Melainkan curahan hati seorang Min Yoongi terhadap dirinya. Ya, mengenai dirinya, karena halaman di baliknya penuh dengan coretan kasar dan kusut hangul 'Park Jimin'.
"Jimin, Seokjin-hyung tanya apa kau sudah-"
Yoongi terdiam di ambang pintu. Dari balik tubuh Jimin yang sedang bersimpuh di lantai terlihat sudut sebuah kotak yang berisi file-file lamanya. Yoongi melangkah cepat, meraih kertas di genggaman Jimin, bergegas menaruhnya kembali ke dalam kotak dan menyimpan kotak itu dalam lemarinya.
Yoongi berkeringat dingin. Rautnya tegang dan tiba-tiba pijakannya melemah entah kenapa.
"Kau membacanya?"
"Ne, Hyung. Mian..."
"KENAPA KAU MEMBACANYA HHA?"
Jimin tersentak.
Napasnya tertahan. Rasa terkejut membuat tangannya gemetar bukan main. Pandangannya mulai memancarkan ketakutan.
"Wae? Wae?"Hoseok muncul karena mendengar teriakan barusan. Menyusul dibelakangnya Taehyung dan Seokjin yang bertanya serupa.
Ketiganya kemudian terpaku di ambang pintu, dihadapkan pada suasana canggung di dalam kamar. Yoongi berdiri di dekat lemari dengan tatapan tajam, sedang di dekat ranjang Jimin bersimpuh dengan mata siap menangis dan tangan gemetar.
"Astaga! Jiminie kau baik-baik saja?"Seokjin langsung menghampiri Jimin.
Sedang Hoseok bergerak cepat menarik kerah Yoongi dan menyudutkannya ke dinding lemari, "kau apakan Ji-"
"Tidak ada apa-apa Hyung!"potong Jimin cepat. Ia yang sudah bangkit sejak Hoseok mulai bergegas ke arah Yoongi, mengarahkan Hoseok agar melepaskannya kedua tangannya, "tidak ada apa-apa, jangan salah paham, Hyung."
"Apanya yang tidak ada apa-apa hha?"
Tangan Hoseok belum berangsur turun. Matanya menatap tajam. Ia semakin geram saat melihat lebih jelas raut wajah Jimin dan merasakan tangan Jimin yang masih gemetar.
"Bukan urusanmu,"acuh Yoongi.
"HHa!?"Hoseok langsung menyiapkan kepalannya.
"Hoseok tenanglah!"pekik Seokjin.
"Aku yang salah!"teriak Jimin, "Hoseok-hyung, jebal..."
Jimin mengatur napasnya sembari merangkul erat tangan Hoseok, "tenanglah, aku tidak apa-apa, Hyung..."
"Kau sudah dengar sendiri kan,"Yoongi menepis kasar satu tangan Hoseok yang masih mencengkram bajunya. Kemudian berlalu pergi setelah sengaja menabrakkan bahunya dengan bahu Hoseok.
Jimin malah mulai menangis. Membuat tiga orang selain dirinya semakin bingung dengan apa yang terjadi.
.
.
"Aku menyukai Yoongi-hyung."
Seokjin dan Hoseok terpaku. Mereka tak salah dengar bukan.
Sekarang mereka sedang berada di kamar Seokjin. Pintu dikunci, tertutup rapat. Tak perlu setertutup itu memang, karena member BTS lainnya mengerti benar bahwa pembicaraan mereka bertiga tidak boleh diganggu dan tidak memerlukan pihak tambahan.
Seokjin berjanji akan mengatakannya nanti kepada Namjoon -sang leader harus mengetahui semuanya kan-, Taehyung sadar bahwa dirinya belum boleh ikut campur -meski Taehyung sempat terbawa emosi begitu melihat tangisan Jimin-, Jungkook tidak tahu apa-apa, sudah dari dua jam yang lalu ia tertidur pulas. Dan Yoongi, sekarang ia entah di mana, yang jelas tadi ia langsung pergi dari dorm BTS dan sepertinya tidak akan kembali dalam waktu dekat.
"Aku menyukai Yoong-hyung, Hyung."
Ulang Jimin mendapati dua hyung di depannya masih belum percaya terhadap pengakuannya.
Seokjin menggenggam lembut tangan Jimin, "Jiminie, maksudmu..."
"Ne, Hyung. Sama, sama seperti yang Hyung rasakan pada Namjoon-hyung."
Seokjin menghela napas panjang. Sedang Hoseok mendesah kasar, menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Jimin duduk di tepian ranjang, Seokjin bersimpuh di bawahnya dan di depannya Hoseok duduk di kursi milik Yoongi.
"Pantas,"Hoseok memijit pangkal hidungnya, "akhir-akhir ini kalian aneh sekali."
Jimin menekuk dan mengulum bibir. Sepuluh jarinya yang tergenggam erat dielus Seokjin tanda simpati.
"Lalu, apa yang terjadi tadi?"tanya Hoseok.
Air merembes lagi di pucuk mata Jimin. Mulutnya masih enggan untuk mengutarakan sesuatu.
"Jiminie..."panggil Seokjin lembut tetap mengelus-elus tangan Jimin.
Batin Jimin lumayan membaik. Ia menghembuskan napas dan mendongak untuk dua orang di hadapannya.
"Yoongi-hyung sudah menolakku,"mulai Jimin.
Berhasil membuat dua pasang mata itu membulat lebar.
"Kau sudah mengatakannya?!"tanya Hoseok terperangah.
"Ne..."
"Astaga! Yang benar saja Jiminie. Kau-"
"Tapi, aku yakin,"sergah Jimin, "aku yakin Yoongi-hyung berbohong. Aku mengerti apa yang Yoongi-hyung rasakan. Aku tahu benar bagaimana Yoongi-hyung melihatku selama ini. Aku yakin kalau selama ini kami saling- hiks, hiks."
Jimin terisak pilu, "bahkan tadi aku melihatnya, Hyung. Tulisan di kertas Yoongi-hyung. Aku membacanya semuanya..."
"Tulisan tentang apa, Jiminie? Jangan-jangan karena itu tadi Yoongi..."
"Ne,"balas Jimin, "Yoongi-hyung menyukaiku. Jelas-jelas dia sudah merasakannya sejak dulu. Tapi dia terlanjur menganggap dirinya sebagai sosok yang tak pantas untuk menjagaku. Dia beranggapan bahwa dirinya hanya akan menyakiti perasaanku. Itu tidak benar, Hyung... Kenapa Yoongi-hyung bisa berpikir seperti itu? Aku benar-benar sedih, dadaku sakit sekali begitu mengetahuinya. Karena berarti aku gagal membuatnya yakin bahwa dirinyalah yang selama ini selalu aku pikirkan. Bagaimana caranya agar Yoongi-hyung menerima perasaanku, Hyung? Dan berhenti merendahkan dirinya sendiri, berhenti merasa bahwa dia tidak pantas untuk mencintaiku."
.
.
-flashback, sekitar dua minggu lalu-
Mereka berdua saja. Min Yoongi dan Park Jimin berdua saja sekarang.
Tentu saja, karena pembagian kamar BTS untuk malam ini adalah Seokjin-Hoseok, Namjoon-Jungkook, Taehyung-Manager dan Yoongi-Jimin.
Jika selama ini biasa saja -mereka berbagi kamar hotel tidak kali ini saja bukan-, namun malam ini Jimin terlihat tidak fokus dan agak canggung.
Pemuda manis itu duduk diam di tepian ranjang dengan perasaan tak menentu dan pikiran yang berputar-putar. Ini merupakan pertama kalinya mereka benar-benar berdua saja sejak kejadian malam itu. Sejak Yoongi yang letih tiba-tiba memeluk Jimin, mengatakan hal yang membuat salam paham dan bersikap menutupi sesuatu.
"Giliranmu."
Suara berat menyapa Jimin. Ia agak tersentak kemudian langsung melangkah cepat ke kamar mandi namun tangan itu mencegahnya sebentar.
"Kau kenapa hm?"tanya Yoongi.
"Eh?"
"Sejak Sejin-hyung mengatakan kau sekamar denganku, tiba-tiba saja sikapmu aneh."
"Aneh? Maksudnya, Hyung?"
Jimin berpura polos. Padahal batinnya sibuk menangkan diri.
"Kau tidak ingin sekamar denganku malam ini, apa ada yang salah denganku hm?"
"Ani."
"Lalu?"
"Apa, Hyung?"
Yoongi menatap lekat wajah Jimin. Cukup lama, kemudian ia menghela napas. Genggamannya di lepas, "sudahlah, cepat mandi agar kau bisa beristirahat sekarang,"ujarnya lalu bergerak ke sofa kamar dan mulai menghidupkan laptop.
Jimin lalu berbalik menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti lagi, bukan karena Yoongi tapi karena dirinya sendiri.
Hatinya bergemuruh. Batinnya memberontak agar perasaannya yang sudah penuh dan siap meledak menyampaikan kebenaran secepat mungkin.
Semua jemari tangan Jimin terkepal erat.
Napasnya mulai sesak menahan emosinya yang seolah-olah tak bisa terbendung lagi.
"Aku menyukaimu, Hyung."
Teriakan hati seorang Jimin akhirnya bersuara.
"Kau bilang apa barusan?"
"Aku menyukaimu, Hyung,"ucap Jimin lebih keras dan lebih yakin dari sebelumnya.
"Hha? Kau ingin mencoba mengatakan apa, Jiminie?"
"Sarang he."
Jimin berbalik menghadap Yoongi, "sarang he..."getarnya. Entah mengapa raut wajahnya tertekan sekali. Pasti karena selama ini ia sudah bersusah payah agar tidak mengatakan itu.
"Sarang he, Hyung..."
Yoongi terdiam. Matanya yang membulat sempurna menatap tak percaya pada pemuda manis di hadapannya. Ia yang semulanya menganggap Jimin mengoceh tak jelas jadi merasa yakin bahwa yang dikatakan Jimin bukanlah main-main.
"Hiks, sarang he, Hyung."
Bahkan Jimin terisak kini. Lihat, betapa tersiksanya ia sejauh ini karena memendam rasa kepada seseorang yang seolah-olah memberinya harapan.
Sontak Yoongi tercekat.
"Sudah sejak lama, hyung, hiks, aku sangat sangat menyukaimu, hiks, hiks."
Pikiran Yoongi langsung kosong. Sontak otaknya berhenti bekerja. Namun cepat-cepat menguatkan diri agar tetap dikuasai logika.
"Hiks. Apa kita-"
"Sayang sekali,"Yoongi buka suara, setelah sempat kehilangan kata-kata.
"Eh?"
Tangisan Jimin terhenti.
Yoongi menatap dingin ke arah Jimin, "terima kasih karena kau menyukaiku. Tapi sayang sekali, aku tidak merasakan hal yang sama,"ujarnya datar. Lalu seolah-olah tak tertarik lagi melanjutkan pembicaraan mereka, "kau bisa mandi sekarang,"tandasnya kembali fokus pada layar laptop.
Dan Jimin,
Terpaku cukup lama. Hatinya remuk. Benar-benar tak menyangka seorang Yoongi membalas pengakuannya seperti itu. Bukannya Yoongi menyukainya? Jimin tidak salah mengartikan perhatian Yoongi selama ini kan? Apa ini? Kenapa Yoongi malah menjawab dengan sangat enteng seolah-olah membenarkan bahwa ia memang tidak memiliki perasaan apapun kepada Jimin.
Mental Jimin ditampar sedemikian rupa. Namun fisiknya masih berbaik hati dengan membuatnya bisa bergerak untuk ke kamar mandi. Langkahnya pelan, terasa gamang, seakan berpijak pada titian di atas jurang.
KLEK
Pintu tertutup dengan tangan Jimin yang sama seperti kakinya, murni bergerak dengan sendirinya, bermodalkan sisa-sisa terakhir dari otak yang bekerja tanpa sadar.
Karena kesadaran Jimin mulai menjauhinya. Merajuk setelah mendengar penuturan Yoongi yang menyesakkan, hingga ia memilih meninggalkan Jimin. Membuat napas Jimin semakin sesak, bibirnya gemetar hebat, tubuhnya merosot jatuh ke lantai kamar mandi dan jemarinya mencengkram erat dada yang sangat perih.
"Hiks!"
Sakit. Sakit sekali...
Jimin menutup mulutnya, guna menahan rintihan getir itu. Matanya yang masih terbelalak semakin deras menyucurkan air mata.
Tanpa ia tahu bahwa di luar Yoongi tak kalah merasakan sakit seperti dirnya, karena terpaksa berbohong kepada seseorang yang sangat dicintainya.
-end flashbak, sekitar dua minggu lalu-
.
.
-TBC-
.
.
GAMSAHAMNIDAAAAAA!
Love you all! My readers, followers and reviewers ^^
Well... How?
Review juseyoooooo
Balasan dari reviewers terhormat ^^ :
amircarlin2 : Jangan! Jangan! Saya ga mau ntar BTS perform dgn anggota ga lengkap krn masuk rumah sakit gara2 Yoongi ngamuk hahaha Palagi kan ada Eomma Jinnie yang setia ngejaga anaknya hihi hmhmhmhmhm bakal masuk list ... (Gomawo ^^)
Yuzuki Chaeri : Amin! Tapi diundur beberapa hari jadinya haha #ketawamiris Sama2, terima kasih bgt udah nyempetin baca ~ Ah! Okeh! Okeh! Nanti aku ralat... (Gomawo ^^)
jchimchimo : Bener bgt! Haha! (Gomawo ^^)
JeonJeonzKim : Swag swag gitu kan masih bisa romantis juga haha BENER SEKALI! CINTA YOONGI HANYA UNTUK JIMIN! Haha! Chuu~ (Gomawo ^^)
Guest : Semangat! (Gomawo ^^)
nnavishiper : Amin! Namjoon lagi sibuk hehe ... sebenarnya di mata saya, di hati saya, di benak saya, di anggapan saya, di tulisan saya, dalam BTS itu cuman ada dua Uke, Eomma Jinnie and Chimchim, dan berarti selebihnya Seme wkwkkwk (Gomawo ^^)
rriiieee : Makasiiiiiiiih! #serius? #bungkukdalam #gamsamnida MANSE! MANSE! (Gomawo ^^)
KhoerunNisa259 : sebenarnya saya dapat ide dari komik yaoi, jadi gini, pokoknya ukenya itu setelah ngelukuin itu aura di sekelilingnya jadi gimanaaaaa gitu, saya juga pernah denger kalo abis ngelakuin itu tubuh kita jadi keliatan beda (ah, ga tau juga sih hahaha) Jadi saya mikir pasti Chimchim yang udah dari sononya menggoda, abis ngelakuin itu pasti auranya jadi gimanaaaaaaa gitu hahaha (Gomawo ^^)
Tiwi21 : End! Cue! Oneshot kan ya. Tapi chapter kali ini bersambung ~ Co Cwiiiiit (Gomawo ^^)
Zyan Chim-Chim : Namanya juga namja hohohoho saya ikut terharu haha (Gomawo ^^)
annisadamayanti54 : Ga tau. Udah kaya orang stress?! Baiklah, akan saya kenalkan dengan Dokter Jiwa hahhaha So Sweet ga kata2 Yoongi? Sebenarnya itu sajak yang pernah saya hadiahin untuk seseorang, well ga da salahnya masukin ke ff biar fluffy hehe Nih! Saya pertahakan bgt! FIGHTING! Tenang saya emang muntah tapi udah saya siapan kantong muntah, tahu bener kalo ada yang ngerewie gaje wkwwkkwkwk (Gomawo ^^)
Sheira Kim : Saya juga mauuuuuuuuuuuuuuuu! *sama2jadikorbanjimin* Memang sudah waktunya bagi Jimin untuk dewasa *angguk2sokbijak* Tak apa-apa, nak. ga sanggup berkata-kata yg jelas masih sanggup menulis kata hoho Aduh, chapter ini dan next kurang manis nih, sabar dulu ya ... hehe (Gomawo ^^)
ChiminChim : Iyalah ~ siapa juga yang ga tahan ama pheromonenya Jimin hohohoho Bener bgt! Cetar membahana! Amin! Gigi oh Gigi! (Gomawo ^^)
sxgachim : hehe, pheromone kan juga ada di manusia, dan menurut saya di diri Jimin itu semakin kuat setelah ngelakuin itu ama Yoongi hoho (Gomawo ^^)
