.

.

Fight to Love

.

HaeHyuk Fanfiction

.

.

Happy Reading^^

.

.

" Kumohon. Hiks... Biarkan aku memperjuangkannya. Biarkan aku berjuang bersamanya Hae-ah. Hiks... Ku mohon. Jangan ambil dia. Jangan..."

.

" Tidak sayang, tidak. Maafkan aku. Maafkan kebodohanku. Kita berjuang Hyukkie. Tidak hanya kau dan dia, tapi kita. Kita berjuang bersama-sama."

.

" Jangan lupa minum obatmu Hyung. Jangan sampai lelah, kau harus benar-benar istirahat. Kapanpun jika kau merasakan sesuatu yang tidak beres segera hubungi aku. Kau tak lupa kan jika kita ada di gedung apartement yang sama. Kau harus benar-benar memperhatikan kondisimu, atau aku akan menahanmu di sini."

.

"Selamat tidur sayang."

Dan akhirnya kegelapan menyelimuti keduanya. Memberikan ketenangan pada kedua sosok itu untuk malam ini. Biarlah keduanya tertidur damai saat ini. biarkan mereka membagi ketenangan dan kehangatan satu sama lain sekarang. Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

.

.

::: HAEHYUK :::

.

Kehamilan Hyukjae kini mulai memasuki usia tiga bulan. Sejauh ini semuanya lancar, tidak ada suatu kendala serius pada kondisinya. Semuanya aman terkendali, terlebih Kyuhyun yang memang tinggal di satu bangunan apartement yang sama secara rutin datang untuk memeriksa dan memastikan kondisi Hyukjae dan kandungannya baik-baik saja.

Hyukjae tampak begitu bahagia, terlihat dari aura yang terpancar di wajahnya. Walaupun terkadang ia merasa begitu lelah meskipun tak banyak melakukan kegiatan, atau juga mengalami morning sick yang seringkali membuatnya harus terbaring hampir satu hari di ranjang. Tapi, ia begitu menikmatinya.

Donghae benar-benar menjaga Hyukjae. Terlebih selama bulan pertama kehamilan istri manisnya. Saat itu kondisi Hyukjae bisa dibilang sangat lemah, dan Donghae menjadi begitu protective padanya, ia bahkan tak menyambangi kantornya selama sebulan penuh. Tapi, syukurlah hal itu tak berlangsung lama. Mulai memasuki usia dua bulan Hyukjae tampak lebih kuat dan sehat, sehingga Donghae bisa sedikit membagi perhatiannya untuk urusan pekerjaan.

Sekali lagi ditekankan hanya sedikit. Donghae memilih berada di rumah untuk mengerjakan pekerjaan kantor, karena ia tak bisa terlalu lama meninggalkan sang istri sendirian. Memang, kondisi Hyukjae kali ini bisa dikatakan amat baik namun entah kenapa sejak beberapa hari yang lalu Donghae justru merasakan kepalanya berdenyut. Bukan, Donghae bukan sedang sakit atau apa, tapi-

" LEE DONGEEKKKK!"

Helaan nafas kasar itu meluncur dari bibir tipis sang namja tampan. Menutup dokumen yang berada di depannya, kemudian mencari sumber suara yang tadi menyerukan namanya. Menghampiri sosok yang kini tengah duduk menonton televisi di ruang tengah apartement mewah itu.

" Ada apa sayang? Kau membutuhkan sesuatu hm?"

Dongahe bertanya dengan nada yang begitu lembut kemudian merendahkan tubuhnya, berjongkok tepat di hadapan Hyukjae yang duduk di sofa. Mengangguk dengan imutnya, kemudian Hyukjae mengulurkan kedua tangan ke arah suaminya.

" Lee Dongek, aku mengantuk. Aku ingin tidur di kamar. Gendoonggg..."

Donghae menahan nafas sebentar, kemudian menggapai tangan Hyukjae dan melingkarkan di lehernya, kemudian mengangkat tubuh yang kini sedikit berisi itu. Donghe melangkah pelan dengan Hyukjae yang menyandarkan kepala di bahunya.

Meletakkan istri manisnya dengan pelan di tempat tidur, Donghar turut merebahkan dirinya. Menjadikan lengan kiri sebagai bantalan Hyukjae kemudian menarik selimut guna menutupi tubuh keduanya.

" Lee Dongeeeeekkkk..."

" Haahh... Chagi, Bisakah kau memanggilku 'Hae' seperti dulu?"

Mendengarnya Hyukjae hanya menggeleng dengan polosnya, yang justru membuat Donghae mengacak rambutnya frustasi dengan tangannya yang bebas.

" Lee Dongeeeeekkk..." Dan lagi rengekan manja itu terdengar.

" Baiklah-baiklah, sekarang tidurlah. Aku akan bernyanyi untukmu."

Senyum lebar itu muncul begitu saja saat kalimat itu keluar dari bibir Donghae. tak lama sampai suara merdu Donghae mengalun, menyanyikan lagu penghantar tidur untuk belahan jiwanya.

Yah, itulah yang beberapa hari ini membuat Donghae merasa pusing. Hyukjae, istri manisnya yang biasanya selalu bersikap lembut beberapa hari ini entah kenapa sikapnya berubah menjadi cukup menyebalkan. Sifatnya menjadi amat sangat manja. Untuk masalah itu sebenarnya Donghae tak terlalu mempermasalahkannya, mengingat Hyukjae yang bersikap manja justru terlihat begitu menggemaskan. Tapi suara Hyukjae saat memanggilnya, itu sungguh membuat telinganya terganggu.

' Lee Dongaekk.' Itulah panggilan yang selalu diucapkan Hyukjae untuknya. Bukan Hae, ataupun Donghae, yeobo, apalagi sayang. suatu saat Donghae pernah bertanya tentang hal itu. Dan dengan wajah innocentnya Hyukjae hanya menjawab.

" Tidak apa-apa. Hanya ingin memanggilmu begitu saja. Manis bukan."

Demi Tuhan, saat itu Donghe benar-benar ingin menelan Hyukjae bulat-bulat. Dari sisi mananya sebutan itu terdengar manis. Dan Donghae hanya bisa bersabar untuk itu. Ini hanya sementara dan semuanya akan segera kembali seperti biasa.. Itulah yang selalu Donghae ucapkan di fikirannya.

::: :::

" Tolong undur semua rapat setelah ini, aku harus segera pulang."

Donghae berucap pada sekretarisnya sembari sedikit menata beberapa dokumen yang baru saja selesai ia tanda tangani.

" Baik sajangnim, saya mengerti."

Si sekretaris membungkukkan badannya hormat sembari tersenyum, mengerti benar dengan alasan yang membuat sang atasan begitu tergesa untuk segera pulang.

Hari ini dengan terpaksa Donghae harus ke kantornya dikarenakan ada beberapa dokumen penting yang harus segera ia tanda tangani dan tentu saja tak bisa diwakilkan. Menengok sebentar ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya Donghae segera beranjak dari tempatnya. Dengan langkah sedikir tergesa berjalan menuju tenpat di mana mobil mewahnya terparkir, kemudian segera melajukannya dengan cukup kencang. Hari sudah mulai gelap, dan Donghae rasa ini sudah terlalu lama ia meninggalkan istri cantiknya seorang diri.

.

CKLEK

" Sayang, kau di mana?"

Panggilan itu segera Donghae serukan setelah membuka pintu apartemennya. Masuk lebih dalam namun bukan sosok manis yang menyambutnya melainkan sosok tampan yang dengan santainya duduk di sofa yang berada di depan televisi.

"Minho-ya? Sedang apa kau di sini?" Yang dipanggil menolehkan kepalanya ke arah Donghae.

" Oh, malam Hae Hyung." Minho menyapa tanpa menjawab pertanyaan Donghae, kemudian mengambil keripik di atas meja. Donghae mendekat ke arah Minho kemudian duduk tepat di sampingnya.

" Sedang apa kau di sini?" Donghae bertanya kemudian turut mengambil keripik yang di pegang Minho.

" Mengantar Taemin. Tadi Hyukkie Hyung menyuruhnya ke sini." Minho menjawab tak minat sambil masih asik dengan makanannya. Donghae mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang sedari tadi menjadi objek pembicaraannya dengan Minho.

" Di mana mereka? Sejak aku masuk, mereka berdua tak terlihat sama sekali."

Dengan nada heran Donghae bertanya dan dijawab oleh Minho yang hanya menghela nafas dalam. Donghae mengalihkan fokus pandangannya ke arah Minho. Mengernyit bingung saat dilihatnya ekspresi kekasih dari adik iparnya itu sedikit suram.

" Kau tahu Hyung, sejak siang tadi aku ditinggal sendirian di sini. Mereka berada di kamar sejak tadi."

" Memangnya sedang apa mereka?" Donghae masih saja bertanya, tak tahu jika aura Minho semakin gelp saja.

" Mana ku tahu, tanyakan saja pada istri cantikmu itu Hyung." Minho menjawab dengan nada sinis.

Sejujurnya ia merasa kesal karena sejak awal ia tiba bersama Taemin, ia diacuhkan begitu saja. Sebenarnya tadi ia hendak menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan bersama Taemin sepulang dari kampus. Namun siapa sangka jika Hyukjae justru menelphon kekasihnya di waktu yang tidak tepat. Dan Minho tahu benar, Taemin tak akan pernah menolak permintaan sang Hyung. Dan di sinilah ia sekarang, terdampar sendirian menonton televisi dengan hanya ditemani sekantong keripik dan sekaleng cola yang hampir tak ada isinya. Itupun dia sendiri yang mengambil di kulkas karena saking laparnya. Ck, malang sekali nasibmu Choi Minho.

" Kau dan Taemin tak pulang? Ini sudah malam kau tahu?" ucapan kalem Donghae justru ditanggapi dengan tatapan tajam dari Minho.

" Kau bertanya Hyung?" Desis Minho tajam.

" Bagaimana kau masih bisa bertanya seperti itu jika sekarang Istrimu itu tengah menahan kekasihku di dalam sana Huh!" Minho berucap sedikit keras dengan menekankan beberapa kata dalam ucapannya, menunjukkan jika ia benar-benar kesal sekarang. Sedang Donghae yang belum sepenuhnya sadar dengan keadaan hanya memandang Minho tanpa ekspresi, membuat Minho mengacak rambutnya frustasi.

Cklek...

Pintu kamar yang terbuka membuat dua namja tampan yang masih duduk di sofa menoleh bersamaan.

" Oh... Hae sudah pulang. Hae sudah makan?" ucapan Hyukjae ditanggapi dengan senyum lebar Donghae. Akhirnya, panggilan yang begitu ia rindukan dari istrinya kembali juga. Donghae mangangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Hyukjae.

" Ah, baguslah kalau begitu. Hae, malam ini aku tidur dengan Taemin ne?"

" MWOOO!" Seruan itu keluar bersamaan dari bibir kedua pria tampan yang ada di sana, sedang Hyukjae justru mengangguk antusias.

" Tapi sayang, kenapa tiba-tiba kau-" Ucapan Donghae tak sempat berlanjut karena dengan segera Hyukjae menyela.

" Aku sedang ingin tidur dengan seseorang yang manis dan cantik. Hae kan tidak manis, apalagi cantik. Makannya malam ini aku akan tidur dengan Taeminnie. Iya kan Taeminnie?" Hyukjae bertanya dengan riangnya ke arah Taemin dan dibalas dengan anggukan dan senyum lebar adiknya.

" Tapi chagi, kau tahu aku tak bisa pergi jika tanpamu." Kali ini Minho yang mencoba merayu Taemin.

" Di sini ada kamar tamu, jadi Minho kodok bisa tidur di sana." Dan rasanya Minho benar-benar ingin memasukkan Hyukjae ke dalam karung karena dengan seenak jidatnya menjawab ucapannya seakan tanpa dosa.

" Hyuk, mana bisa begitu sayang. Lalu, nanti aku tidur di mana?" Donghae mencoba mencari celah untuk mengurungkan niat istrinya.

" Hae bisa tidur di sofa kan. Atau Hae juga bisa tidur dengan Minho kodok di kamar tamu."

Jawaban Hyukjae mendapat dengusan sinis Minho. Calon kakak iparnya ini lama-lama sikapnya semakin menjengkelkan. Lagipula panggilan apa itu? Minho kodok? Oh, tak tahukah jika adiknya tergila-gila pada orang yang dipanggilnya kodok ini. Ck, benar-benar.

" Tapi Hyukkie, kau tahu kan kalau aku tak akan bisa tidur jika tak memeluk-."

" Hae kan tidur dengan Minho, jadi nanti Hae bisa memeluk Minho saat tidur. Iya kan?"

Kalimat Hyukjae yang memotong ucapan suaminya, hanya membuat Donghae memasang tampang bodoh. Perlahan Donghae menoleh ke arah Minho dengan tatapan horor, yang dibalas tatapan tak kalah horor dari Minho. Yang benar saja, tidur berpelukan? Donghae dengan Minho? Bahkan dalam mimpi pun keduanya tak sudi membayangkan. Sedang Taemin yang berdiri dengan tangan yang digenggam erat oleh Hyukjae kini tengah terkikik geli.

" Ya sudah kalau begitu. Semuanya selamat malam. Selamat istirahan ne. Kajja Taeminnie."

Dan tanpa peduli dengan keadaan dua makhluk tampan yang masih cengo di depan televisi, Hyukjae kembali menarik Taemin masuk ke dalam kamar.

" Kenapa kau bawa kekasihmu itu ke sini kodok?" Donghae bertanya sinis sambil menatap Minho tajam.

" Kau fikir aku bisa apa ikan?"

Minho menjawab tak kalah sinis. Bersamaan keduanya menarik nafas sebelum tertunduk lesu. Haahhh, sungguh ironis membayangkan nasib mereka malam ini...

::: HAEHYUK :::

Tak terasa kini hampir tujuh bulan Hyukjae mengandung. Perutnya tak lagi rata seperti dulu, namun entah kenapa justru membuat istri Lee Donghae itu semakin manis saja. Kedua pasangan suami istri itu kini tengah berbaring sembari berbagi kehangatan satu sama lain. Hyukjae yang menumpukan kepalanya di dada bidang Donghae, dengan sang suami yang tak berhenti mengelus lembut surai halusnya. Sesekali Donghae akan mengecup bagian wajah sang istri. Haaahhh... Betapa bahagianya Donghae sekarang ini.

Kenapa? Kalian bertanya? Tentu saja Donghae bahagia. Hey... hampir selama enam bulan ini Donghae tak bisa menghabiskan waktu manisnya bersama Hyukjae. Mulai dari awal kehamilan yang membuat Hyukjae harus istirahat total, setelahnya Hyukjae yang selalu menunjukkan sikap manja dengan permintaan aneh ini dan itu, Hyukjae yang lebih memilih tidur dengan Umma atau adiknya, Hyukjae yang hampir satu minggu sama sekali tak mau melihat wajah tampan Donghae dan justru memilih mengungsi di kediaman orang tua atau mertuanya.

Yang lebih parah dan membuatnya heran adalah dua minggu kemarin. Selama tiga hari berturut-turut Donghae selalu muntah. Belum lagi perilaku anehnya. Ia yang menjadi begitu suka dengan buah berbintik bernama strawberry, serta berbagai makanan manis. Padahal sebelumnya, makanan itu ia hindari. Bukankah itu makanan kesukaan Hyukjae, kenapa bisa berpindah padanya? Ia sendiri heran dengan hal itu. Dan jangan tanyakan bagaimana kondisi Donghae saat itu.

Tapi kini seakan semua 'penderitaan' yang ia alami beberapa bulan lenyap begitu saja. Dirinya kembali 'normal' seperti sedia kala. Hyukjae nya kembali, dengan berbagai sifat manis dan lembutnya. Di tambah dengan calon anak mereka yang sampai saat ini masih 'aman' di tempatnya sekarang.

Sejujurnya, rasa khawatir itu tak akan pernah hilang dari benak Donghae. Ia masih ingat betul apa yang dikatakan Kyuhyun dulu. Tentang kemungkinan besar yang akan terjadi, entah itu pada Hyukjae, Bayi yang di kandungnya, atau bahkan untuk keduanya.

" Hae..."

Nada lembut itu mengalun, menyadarkan Donghae dari lamunannya. Menjawab dengan gumaman kemudian mengecup kening Hyukjae lembut. Hyukjae mendongak, menatap wajah rupawan suaminya yang kini juga tengah menatapnya dengan senyum yang begitu lembut.

" Maaf..." Donghae sedikit tersentak dengan ucapan Hyukjae. Maaf? Kenapa Hyukjae meminta maaf?

" Maaf untuk apa chagi? Memang kau salah apa hmm?" Tak menjawab, Hyukjae justru mendekap erat tubuh Donghae, menyembunyikan wajah di dada suaminya.

" Maaf. Beberapa bulan ini aku menyusahkanmu. Maaf karena bersikap menyebalkan sekali. Kau pasti menderita karenaku. Sungguh bukan maksudku seperti itu, hanya saja aku juga tak tahu kenapa bisa bersikap seperti itu."

Hyukjae sadar benar dengan tingkah lakunya beberapa bulan ini. Sesungguhnya ia juga tak mau seperti itu apalagi sampai berjauhan dengan Donghae. Tapi mau bagaimana lagi, tubuh dan fikirannya tak sejalan dengan hatinya jadi dia bisa apa.

Donghae yang tadinya hanya terdiam mendengar ucapan Hyukjae kini menangkup pipi yang terlihat sedikit lebih berisi itu. Mengecup bibir merekah itu sekilas sebelum memandang wajah cantik di depannya.

" Kau bicara apa sayang. Tak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu. Kau tahu kenapa kau bersikap seperti itu?" Donghae bertanya lembut, dan gelengan polos Hyukjae justru membuatnya begitu gemas.

" Dia,-." Mengulurkan tangan kanannya, Donghae mengelus lembut perut buncit Hyukjae.

" - tidak ingin jika hanya Mommy nya saja yang berjuang untuknya. Menemaninya tumbuh dan merasakannya di dalam sana. Ia juga ingin Daddy nya turut serta berjuang bersamanya. Turut merasakan dan mengerti bagaimana ia tumbuh di dalam sana."

Perlahan selaput bening itu muncul di mata bulat Hyukjae, rasa haru dan bahagia begitu membuncah di hatinya. Merasakan bagaimana cinta Donghae yang begitu besar untuknya dan calon anak mereka.

" Aku mencintaimu Hae. Sangat mencintaimu."

" Dan aku lebih mencintaimu Hyukkie."

Donghae berucap tulus sebelum membawa bibir tipisnya melingkupi belahan merah Hyukjae. Melumatnya lembut, mengecap setiap rasa manis yang seolah tak pernah habis untuknya. Tak ada nafsu di sana. Hanya ada rasa cinta dan kasih sayang tak terkira.

Melepaskan perlahan tautan bibirnya saat dirasa Hyukjae membutuhkan udara, Donghae mengamati wajah merona di depannya. Hyukjae nya begitu cantik, cantik sekali melebihi apapun di dunia ini. Menanamkan satu kecupan di kening Hyukjae, dan setelahnya Donghae kambali merengkuh tubuh Hyukjae. Erat namun tentu saja tak menyakiti sesuatu yang berada di perut Hyukjae.

" Istirahatlah sayang, Besok kita ke rumah sakit. Dan aku tak mau membuatmu lelah."

Hyukjae tak bersuara, namun tubuhnya yang bergerak semakin merapat ke arah Donghae sebagai jawabannya. Menyamankan tubuuhnya di pelukan sang suami, Hyukjae mulai memejamkan mata. Donghae tersenyum dan sesaat setelahnya turut menyusul Hyukjae yang kini sudah terlelap.

::: HAEHYUK :::

Seorang namja paruh baya terlihat tengah berbicara dengan seseorang di sambungan telefon.

' Lalu bagaimana sekarang?'

" Tenanglah, kau tetap pantau keadaannya. Di sini aku juga masih berusaha supaya bisa segera kembali. Semoga saja tak akan terjadi apapun."

' Tapi bagaimana jika waktunya terlambat? Kehamilannya semakin besar dan kau tahu pasti itu amat sangat berpengaruh Dokter.'

" Aku tahu Kyu, tapi kau juga pasti tahu benar jika Hyukkie bukanlah sosok yang lemah. Kita harus optimis Dokter Cho. Kau seorang Dokter yang hebat Kyu, maka dari itu aku menyerahkannya padamu. Kau bisa menjaganya sampai aku kembali."

' Ya Dokter, kau benar. Aku bisa menjaganya. Aku bisa.' Di seberang telefon Kyuhyun menjawab tegas, membuahkan senyum di bibir namja paruh baya itu.

" Aku tahu itu, aku percaya jika keponakanku bisa melakukannya Baiklah, kalau ada informasi apapun kabari aku."

' Tentu.'

Dokter Park tersenyum simpul memandang layar ponselnya yang kini gelap. Beberapa saat lalu Kyuhyun menelfon nya. Mengabarkan bagaimana keadaan Hyukjae padanya. Ya, walaupun berada di luar negeri, Dokter senior yang sudah menangani Hyukjae sejak dulu itu tak pernah berhenti memantau keadaan pasiennya. Pasien yang bahkan sudah dianggap anak sendiri olehnya, mengingat ia yang juga berteman baik dengan orang tua Hyukjae.

Harus menjalankan tugasnya ke luar negeri, Dr Park mempercayakan Hyukjae sepenuhnya pada sang keponakan. Keponakan? Ya, Dr Park adalah adik dari ibu Kyuhyun yang secara otomatis dia adalah paman dari Cho Kyuhyun. Tahu benar akan kemampuan Kyuhyun, ia yakin untuk meninggalkan Hyukjae. Dan saat ini tak genap satu bulan lagi, ia akan kembali ke Korea.

:: ::

Kyuhyun memijat pelan pelipisnya. Baru saja pembicaraan dengan pamannya terputus. Hati dan fikirannya tengah gundah saat ini. Kehamilan Hyukjae yang semakin besar membuatnya semakin khawatir. Ia sungguh takut jika terjadi apa-apa dengan orang yang begitu disayanginya. Sejujurnya di keadan seperti ini, paman nya lah yang ia harapkan. Ia tak yakin bisa menangani Hyukjae seorang diri jika sampai apa yang dikhawatirkannya terjadi. Paling tidak jika ada tenaga ahli lebih dari satu, bukankah itu amat sangat lebih baik.

Hyukjae dan Donghae meninggalkan ruangannya sekitar satu jam yang lalu. Berdasar pemeriksaan yang dilakukan, di luar dugaan bayi yang berada di kandungan Hyukjae begitu sehat dan tak mengalami gangguan apapun. Pertumbuhannya begitu baik, tapi justru itulah yang membuat kekhawatiran di diri Kyuhyun.

Bayi yang sehat pastilah begitu aktif di dalam kandungan. Seperti halnya bayi yang dikandung Hyukjae. Ini masih belum seberapa karena usia si jabang bayi belum ada tujuh bulan, tapi bagaimana jika ia semakin besar. Aktivitasnya tentu juga semakin besar.

Saat diperiksa Hyukjae sempat berkata kalau ia sedikit merasa sesak saat gerakan kecil muncul di perutnya. Kyuhyun tahu benar jika hal itu disebabkan karena jantung Hyukjae yang mulai bereaksi dengan kehamilannya. Tak ada pilihan lain, secepatnya ia harus mendapatkan donor untuk Hyukjae.

" Berikan jalan untuk kami, jangan biarkan terjadi apapun padanya. Lindungilah ia yang selalu percaya dan bergantung padamu."

Memejamkan matanya erat bersamaan dengan setetes liquid yang mengalir di sudut matanya. Ucapan do'a itu mengalun lirih dari bibir sang dokter tampan

::: HAEHYUK :::

Menempati kursi di beranda kamar yang ada di rumah megah keluarga Lee, Hyukjae memejamkan matanya. Menikmati hembusan angin sore yang membelai lembut surai halusnya, menghantarkan perasaan tenang dan nyaman untuknya. Tepat tujuh bulan kehamilan Hyukjae dan Donghae memutuskan menetap sementara di rumah orang tuanya.

Donghae tak mungkin meninggalkan Hyukjae seorang diri di rumah. Bagaimana jika dia tengah berada di luar dan terjadi apa-apa pada istrinya. Jika di rumah orang tuanya tentu akan ada yang menjaga Hyukjae. Selain itu istrinya juga bisa lebih banyak istirahat. Awalnya Hyukjae menolak dengan alasan tak mau merepotkan sang Umma. Tapi ternyata Donghae punya cara ampuh, dia meminta Umma nya yang bertindak. Dan lihat sekarang, Hyukjae berada di rumah megah ini.

Mata indah itu masih terpejam erat, terlihat wajah cantik itu begitu tenang dan damai. Tak lama sampai kening indah itu mengernyit, menimbulkan sedikit kerutan di sana dan onix bening itu terbuka.

" Ssssshhhhh..."

Hyukjae mendesis kecil saat merasakan sakit di perutnya, ada yang bergerak di dalam sana dan Hyukjae tahu benar jika itu karena bayinya. Mengangkat tangan kanannya kemudian mengelusnya lembut. Bukannya menghilang justru sakit itu semakin dirasa. Hyukjae bangkit perlahan, berjalan ke arah ranjangnya dengan berpegangan pada apapun di sana untuk menopang tubuhnya. Berbaring, itu yang ingin ia lakukan berharap bisa membuatnya lebih baik. Hyukjae merebahkan tubuhnya dengan tangan yang masih setia mengelus lembut perutnya.

" SShhh... Anak Umma, kenapa eoh? Tenanglah sayang. Assshhhh..." Berbicara lembut ke arah perutnya seolah ia sedang bicara langsung pada bayinya.

" Akh..."

Pekikaan itu keluar saat dirasa perutnya semakin melilit. Hyukjae menggenggam erat sprei di bawahnya. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Sakit dan takut, itu yang Hyukjae rasakan saat ini. Entah bagaimana, tapi rasa sakit itu tak hanya ia rasakan di bagian perutnya. Nafasnya tiba-tiba sesak dengan bagian dada sebelah kiri yang berdenyut nyeri.

BRAK!

Pintu kamar besar itu terbuka cukup kencang dari luar, menampakkan sosok Donghae yang sedikit terengah. Sepertinya ia baru saja berlari.

" HYUKKIE..." Berlari menghampiri Hyukjae yang berada di atas ranjang, Donghae begitu panik melihat wajah pucat Hyukjae yang menahan sakit.

" Hyuk, kau kenapa sayang...?"

" Akh... Shhh... H-Hae... S-Sakiittt... Akh..."

Donghae kalap saat dilihatnya sang istri yang merintih kesaikitan dengan tangan yang meremas kencang tangannya. Hyukjae pasti kesakitan, ia bisa merasakan tangan yang menggenggamnya begitu dingin. Tak perlu fikir panjang, Donghae membawa tubuh lemah itu ke gendongannya.

Bagai de-javu, kejadian ini terulang. Saat di mana Donghae dengan tergesa membawa Hyukjae yang tak baik-baik saja ke rumah sakit. Semua sama, rasa takut itu, rasa cemas itu, semuanya seakan membuat Donghae tercekik. Secepat yang ia bisa, tak mempedulikan apapun. Hanya Hyukjae prioritas Donghae saat ini.

" HALO, KYU. AKU BAWA HYUKKIE KE RUMAH SAKIT SEKARANG."

Menyempatkan menghubungi Kyuhyun di tengah perjalanan, Donghae kembali fokus ke arah jalan yang dilaluinya. Melajukan mobilnya secepat mungkin sampai di rumah sakit. Kondisi Hyukjae yang kini tak sadarkan diri membuat mata sendu itu memanas. Sejak tadi perasan tak tenang melingkupinya. Fikirannya selalu terbayang akan Hyukjae, membuatnya dengan tergesa pulang dari kantor. Dan firasatnya terbukti benar, terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.

::: :::

" Sudah tiga hari sampai di Korea dan tak mengabariku. Apa kau sengaja eoh?"

Tawa namja paruh baya itu menggema saat mendengar nada sinis pemuda di depannya. Keponakannya ini tak pernah berubah, bahkan berbicara dengan yang lebih tua masih saja seenaknya.

" Aku ingin membuat kejutan untukmu Dr Cho. Bukankah ini menyenangkan? Hahaha..."

" Ish dasar kau orang tua.." Dan tawa itu kembali menggema, kali ini dari keduanya.

Ya, Dr Park sudah kembali ke Korea. Tepatnya tiga hari yang lalu, dan sekarang ia tengah menemui Kyuhyun. Kedua namja beda usia itu masih asik bertukar cerita, sampai getaran ponsel menginterupsi kegiatan mereka. Kyuhyun bangkit, mengambil ponsel yang ia letakkan di meja kerjanya.

" Yeob-."

' HALO, KYU. AKU BAWA HYUKKIE KE RUMAH SAKIT SEKARANG.'

Tuut...

Kyuhyun mematung menatap layar ponsel yang baru saja ia gunakan , suara Donghae yang terdengar panik sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Perlahan Kyuhyun menoleh ke arah pamannya, memandang Dokter senior itu dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.

::: :::

Donghae berdiri mematung di depan pintu UGD, di dalamnya terdapat Hyukjae yang tengah ditangani beberapa Dokter. Ekspresi cemas dan khawatir tak bisa sedikitpun di samarkan dari wajah tampannya. Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan air yang menggenang di sana kapanpun juga. Tak dihiraukannya Umma nya yang sejak tadi menyuruhnya duduk.

" Hae, duduklah. Kau sudah berdiri di sana sejak tadi."

Entah sudah keberapa kalinya Heechul menginterupsi kegiatan Donghae, namun seakan kalimat itu tak pernah di dengar oleh sang putra. Dengan wajah yang kini sudah basah sepenuhnya oleh air mata, Heechul mendekati Donghae. Menyentuh pundaknya pelan berusaha mendapatkan sedikit perhatian Donghae.

" Tenanglah Hae, Hyukkie dan anak kalian pasti baik-baik saja."

" BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA KEADAAN ISTRIKU BELUM KU KETAHUI SEJAK TADI!"

Heechul tersentak kaget saat Donghae berteriak ke arahnya. Air matanya semakin deras mengalir. Tidak, ia tidak menangis karena bentakan Donghae, tapi karena mengerti perasaan Donghae saat ini. Putranya itu pasti dilanda ketakutan yang amat sangat. Melihat tatapan sendu Umma nya yang lurus menatapnya membuat Donghae tersadar, tak seharusnya ia berteriak pada sang Umma.

" Mi-Mianhae Umma. H-Hae tak bermaksud membentak Umma, Hae hanya takut... Hyukkie, anak kami... Dia..." Merengkuh tubuh anaknya guna memberinya sedikit ketenangan.

" Tak apa sayang. Umma mengerti perasaanmu. Percayalah, mereka pasti baik-baik saja." Donghae mengangguk dalam pelukan sang Umma. Memeluk Ummanya erat seolah mencari tambahan kekuatan untuknya.

" Chullie ah, Donghae." Panggilan itu membuat kedua orang yang tengah berpelukan di depan pintu UGD menolehkan kepala bersamaan. Terlihat Leeteuk dan Taemin yang berjalan tergesa ke arah mereka.

" Bagaimana Hyukkie?" Ekspresi cemas jelas terpancar di wajah ibu dan adik kandung Hyukjae.

" Kami belum tahu. Sudah hampir satu jam tapi belum juga ada kabar."

Heechul yang menjawab. Dan setelahnya, tak ada lagi pembicaraan yang terjadi. Semua terlarut dalam fikiran masing-masing. Dalam hati lantunan Do'a tak pernah berhenti mengalun, memohon keselamatan bagi sang terkasih yang tengah berjuang di dalam sana.

Cklek...

Tepat dua jam saat pintu ruang UGD terbuka pelahan, menampilkan sosok paruh baya yang keluar dari ruangan sembari membenahi letak kaca matanya.

" Dokter Park?" Leeteuk berucap sedikit terkejut, dan senyum simpul merekah di bibir sang Dokter.

" Bagaimana istriku, bayi kami? Mereka baik-baik saja kan?" Donghae bertanya tak sabaran.

" Tenanglah, saat ini mereka sudah baik-baik saja. Sebentar lagi Hyukkie akan dipindahkan ke ruang rawat, kalian bisa melihatnya di sana."

Tak lama setelahnya keluarlah beberapa suster yang tengah mendorong ranjang di mana terdapat Hyukjae yang tertidur di atasnya. Terlihat Kyuhyun yang juga keluar dari ruangan, berjalan tepat di belakang para suster. Senyum tipis muncul di wajahnya yang terlihat begitu lelah.

Donghae, Taemin, dan Kyuhyun kini berada di ruang rawat Hyukjae. Sedang para orang tua kini tengah menemui Dr Park di ruangannya. Donghae duduk di ranjang tepat di samping istrinya yang masih terlelap. Tangannya menggenggam erat lengan Hyukjae yang bebas dari selang infus, sedang Taemin duduk di sisi yang berseberangan dengannya.

" Apa yang terjadi sebenarnya Kyu?"

Donghae bertanya tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari wajah pucat Hyukjae. Kyuhyun yang tengah mengecek infus mengalihkan perhatiannya pada Donghae, kemudian memandang Taemin yang kini juga turut menatapnya. Menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Donghae.

"Bayi kalian sangat sehat, itulah kenapa ia begitu aktif di dalam sana. Terjadi kontraksi yang cukup keras di perutnya, dan itu berdampak ke jantungnya." Ucapan jujur Kyuhyun sejenak membuat Donghae merasa bahagia mengetahui sang calon buah hati tumbuh dengan baik dan sehat. Sejenak? Ya, karena otak cerdasnya dengan cepat memproses suatu pemikiran.

Pergerakan bayinya menyebabkan kontraksi yang berdampak pada jantung Hyukjae. Bukankah seiring bertambahnya usia kandungan Hyukjae maka bayinya semakin besar, dan otomatis aktivitas si bayi akan lebih besar. Jika kali ini saja berdampak pada jantung Hyukjae dan kejadiannya seperti ini, lalu ke depannya-.

" K-Kyu, j-jadi?" Mengerti apa yang akan dikatakan Donghae, Kyuhyun mengangguk.

" Ya Hyung. Hal seperti inilah yang dulu pernah ku katakan padamu." Donghae terdiam. Entah bagaiman ia mendiskripsikan perasaannya saat ini.

" L-lalu, apa yang harus kita lakukan. Pasti ada jalan keluarnya kan? Iya kan Kyu?" Kali ini Taemin turut bicara. Matanya berkaca-kaca, menatap penuh harap ke arah Kyuhyun.

" Satu-satunya jalan, secepatnya kita harus dapatkan donor jantung untuknya."

Ketiga pasang mata itu memandang sendu ke arah satu objek yang sama, wajah damai Hyukjae yang terlelap. Donghae menggerakkan tangan kanannya, meletakkannya di atas perut buncit Hyukjae dan mengusapnya lembut, seolah menyampaikan perasaannya kepada jiwa yang kini tumbuh di dalam sana.

::: :::

Sinar matahari pagi menerobos masuk ke jendela salah satu ruangan VVIP di rumah sakit ternama kota Seoul. Terlihat seorang namja manis dengan perut buncitnya yang tertutup selimut tebal masih terlelap dalam damai. Tapi sepertinya sinar matahari pagi sedikit mengusik tidur 'cantik' nya, terlihat dari kelopak matanya yang bergerak pelan.

" Eungh..."

Hyukjae melenguh kecil, membuat Leeteuk yang tengah duduk di sofa menghampirinya. Mengelus lembut surai halus Hyukjae, membuat namja manis itu membuka matanya perlahan. Mengerjabkan mata bulatnya imut, kemudian memfokuskan pandangannya ke arah sang Umma.

" Umma..." Suara khas orang bangun tidur menyapa pendengaran Leeteuk membuatnya tersenyum lembut.

" Ya sayang, kau sudah bangun... Apa ada yang sakit hmm?" Hyukjae menggeleng imut menjawab pertanyaan Ummanya. Leeteuk yang gemas mencubit kecil hidung mancung Hyukjae.

" Hae mana Umma..."

" Aku di sini sayang..."

kedua ibu dan anak itu mengalihkan pandangan ke arah pintu, melihat Donghae masuk dengan membawa kantong plastik di tangannya. Meletakkan bawaannya di meja depan sofa Donghae menghampiri Hyukjae. Leeteuk sedikit menyingkir, memberikan space yang lebih luas untuk Donghae.

Mengecup kening Hyukjae lembut kemudian beralih ke bibir, melumatnya pelan sebelum menurunkan tubuhnya guna mengecup perut sang istri.

" Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit hm?" Memandang lembut Hyukjaenya, Donghae menggesekkan hidungnya dengan Hyukjae. Menatap bola mata bening itu dalam, melihat bayangan wajahnya sendiri di sana.

" Tidak, aku baik-baik saja. Tapi-."

Pandangan Hyukjae berubah sendu, membuat Donghae menjauhkan wajahnya guna melihat lebih jelas raut wajah Hyukjae. Tatapannya mengikuti gerakan tangan Hyukjae yang berhenti di perutnya. Mengerti apa yang ada di fikiran istrinya, Donghae tersenyum menenangkan. Menelusupkan tangannya di antara telapak tangan dan perut Hyukjae kemudian mengusapnya lembut. Mata sendunya menatap lekat mata Hyukjae yang kini berkaca-kaca.

" Dia baik-baik saja sayang. Dia sehat dan tumbuh dengan sangat baik di dalam sana."

Senyum lebar itu terukir di wajah cantik Hyukjae, bersamaan dengan air mata haru yang mengalir membasahi pipi putihnya. Donghae mengusapnya lembut, kemudian merengkuh Hyukjae ke dalam dekapannya. Leeteuk yang melihat keduanya hanya tersenyum sendu. Tangan kanannya terangkat, menghapus setitik air yang menetes dari sudut matanya.

.

::: HAEHYUK :::

Kehamilan yang semakin besar sungguh membuat kondisi Hyukjae melemah. Ya, memasuki usia kandungan delapan bulan, kondisi Hyukjae menurun drastis. Terhitung satu bulan sejak saat itu, rumah sakit adalah kediaman Hyukjae sementara. Baik dari pihak keluarga maupun dokter yang menanganinya tak mau ambil resiko dengan keadaan Hyukjae.

.

::: :::

" Kita mendapatkannya Kyu." Ucapan Dr Park membuat Kyuhyun mematung.

" M-Maksudmu?" Kyuhyun berucap tak percaya.

" Ya, Donor jantung untuk Hyukjae. Baru saja tiba. Aku sudah memeriksanya, dan semua cocok." Sungguh, Kyuhyun tak tahu harus menunjukkan ekspresi seperti apa. Senyum tulusnya mengembang namun tak lama sampai ia menyadari sesuatu.

" T-Tapi, B-bayinya?" Kyuhyun bahkan tak bisa membuat suaranya tak bergetar.

Dr Park menghela nafas. Mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di ruangan Kyuhyun. Melepas kaca matanya sembari memijit pelan pelipisnya.

" Jangan bilang jika-."

" Itu resiko Dr Cho. Sudah lama sekali, dan baru kali ini kita temukan jantung yang benar-benar cocok untuknya. Tak ada pilihan lain, kita lakukan sekarang atau tidak sama sekali." Tatapan tajam Dr Park seolah meyakinkan jika keputusan ini adalah hal yang mutlak.

::: :::

.

Donghae duduk diam menatap wajah sang istri yang tengah terlelap. Wajah manis itu terlihat begitu lelah walau tak melakukan kegiatan apapun. Selang oksigen bertengger di hidungnya sejak beberapa hari yang lalu. Beberapa alat medis juga menempel di tubuh sang istri. Sungguh, kondisi Hyukjae benar-benar membuatnya khawatir.

Hanya ada Donghae seorang diri di rungan Hyukjae. Kedua orang tuanya dan orang tua Hyukjae kini tengah menemui Dr Park. Mendengar suara pintu yang dibuka, Donghae mengalihkan pandangannya. Menatap Kyuhyun yang melangkah masuk mendekati ranjang Hyukjae.

" Hae Hyung bisa kita bicara?"

Nada bicara Kyuhyun tak seperti hari-hari sebelumnya, dan Donghae tahu jika Dokter muda itu ingin membicarakan hal yang serius dengannya kali ini. Mengangguk singkat Donghae berjalan ke arah sofa diikuti Kyuhyun di belakangnya. Sedikit menjauh dari tempat tidur Hyukjae karena tak ingin mengganggu waktu istirahatnya.

" Ada apa Kyu." Donghae memandang lekat Kyuhyun yang menundukkan kepalanya.

" Kita mendapatkannya Hyung. Kita mendapatkan jantung yang cocok untuk Hyukkie Hyung." Dapat Kyuhyun lihat kelegaan di wajah Donghae yang justru membuatnya menghela nafas.

" Paling lambat terhitung enam jam dari sekarang, operasi itu harus dilakukan. Kami tim dokter sudah membicarakan ini pada orang tua kalian, dan keputusan sekarang sepenuhnya ada di tanganmu Hyung." Kyuhyun berucap sendu, berbeda dengan Donghae yang justru tampak antusias.

" Kalau begitu lakukan Kyu. Lakukan apapun untuk kesembuha Hyukkie." Donghae berucap yakin.

" Tapi Hyung-,"

Kyuhyun menggantungkan ucapannya hanya untuk sekedar melihat reaksi Donghae. Namja tampan itu mengerutkan keningnya, tampaknya sedikit bingung dengan perkataan ambigu Kyuhyun.

" -Operasi itu tak akan sulit jika masih ada jiwa lain di dalam tubuh Hyukkie Hyung." Mata sendu itu terbelalak saat perkataan Kyuhyun seolah menikam jantungnya.

" J-jadi?"

" Operasi ini dilakukan dengan prosentase lima puluh banding lima puluh, baik itu untuk Hyukkie Hyung maupun bayi kalian. Kita berharap yang terbaik Hae Hyung, tapi entah apa yang terjadi selanjutnya kita tak pernah tahu. Kemungkinan terburuknya, kami tak bisa memberikan jaminan keduanya selamat."

Kalimat terakhir yang diucapkan Kyuhyun seolah memukul telak kepala Donghae hingga sepertinya ia tak dapat merasakan apapun sekarang. Apa ini? Kenapa semua begitu berat untuknya? Apakah ini sebuah pilihan? Tapi bagaimana mungkin ia bisa memilih?

Kedua namja tampan itu sama-sama tertunduk dalam. Terlarut dengan fikiran masing-masing. Dongha mencengkeram rambutnya erat, air matanya mengalir deras walau tanpa isakan yang terdengar. Suasana ruangan itu begitu sunyi. Terlarut dalam fikiran masing-masing tak ada yang menyadari jika sosok yang tengah terbaring di depan mereka, kini tengah menangis dalam diam. Mengalirkan kristal bening dari sudut matanya yang terpejam erat.

Hyukjae mendengarnya. Mendengar semua yang dikatakan Kyuhyun dengan jelas. Tangan kanan yang berada di perutnya ia gerakkan lembut. Mengusap penuh sayang tempat calon buah hatinya berada.

" Umma akan memperjuangkanmu sayang. Umma akan berjuang untuk buah cinta Umma, Umma akan membuatmu melihat dunia ini, apapun yang terjadi."

::: :::

" Hae..." Panggilan lemah itu mengalun, membuat Donghae yang tengah menelungkupkan wajahnya di atas lengan Hyukjae segera mengangkat kepalanya. Bukan senyum lembut menenangkan yang ia tunjukkan sekarang ini, tapi justru air mata yang mengalir dari mata sendunya.

Tangan kanan Hyukjae terangkat mengusap pelan wajah basah Donghae, menghapus jejak air mata yang mengotori wajah tampan suaminya. Hyukjae tersenyum lembut.

" Kau menangis Hae? Kenapa kau menangis hm?" Dan Donghae hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan Hyukjae.

" Kau ingat Hae-ah? Kau berjanji untuk mengabulkan satu permintaanku." Hati Donghae serasa di remas, ia tahu ke mana arah pembicaraan Hyukjae.

" Hari ini, bolehkah aku minta kau menepati janjimu? Kabulkan satu permintaanku."

Donghae menggelengkan kepalanya keras, bibir bawahnya ia gigit kuat guna menghalau isakan yang siap meluncur kapanpun. Biarkan kali ini Donghae menjadi lemah karena memang Donghae lemah akan Hyukjae. Hyukjae permatanya, hidupnya, biarkan ia menjadi lemah jika itu untuk Hyukjae nya.

Air mata Hyukjae turut mengalir, walaupun senyum lembut itu masih terukir di bibirnya. Mengusap pipi Donghae lembut membuat Donghae memejamkan mata. Mencoba meresapi sentuhan istrinya, tapi justru rasa sesak lah yang semakin menekan dadanya. Donghae menangkup tangan Hyukjae yang berada di wajahnya dan menggenggamnya erat.

" Apapun yang terjadi... Hiks..." Isakan itu tak dapat lagi Hyukjae tahan. Menghirup nafas dalam, Hyukjae mencoba kembali bersuara.

" Apapun yang terjadi... selamatkan anak kita.."

" Hiks...Hiks..." Tak dapat lagi menahannya, isakan Donghae meluncur bebas.

" Tidak... Hiks... Tidak Hyuk... Hiks.. Tidak..." Donghae menggeleng keras, masih dengan isakannya yang kini justru semakin tak terkendali. Hyukjae turut menangis, air mata mengalir deras membasahi wajah pucatnya.

" Haeee..." Kali ini Hyukjae menggenggam erat tangan suaminya, mengembalikan fokus Donghae untuk menatap tepat ke matanya.

" Kau sudah janji padaku. Kabulkan permintaanku. Berjanjilah... Berjanjilah kau akan menyelamatkannya apapun yang terjadi. Berjanjilah..."

Kedua pasangan itu saling menatap dalam diam, dengan air mata yang seolah tak bisa berhenti mengalir. Menyampaikan rasa cinta sekaligus sakit yang sama-sama mereka rasakan. Hyukjae menatap Donghae penuh harap, tangannya menggenggam erat tangan Donghae seolah memberikan keyakinan yang begitu kuat. Tak ada kata yang terucap sampai akhirnya dengan gerakan pelan penuh keraguan Donghae mengangguk. Tangis Hyukjae akhirnya pecah saat tanpa ragu Donghae mendekapnya begitu erat.

" Terima kasih. Terima kasih Hae-ah. Aku mencintaimu... Aku sangat mencintaimu..."

Bahkan gumaman penuh cinta itu justru semakin menikam jantung Donghae.

::: HAEHYUK :::

Donghae berdiri mematung di depan ruang operasi. Pandangannya kosong menatap lurus ke arah pintu yang beberapa saat lalu dimasuki Hyukjae. Semua keluarganya berada di sana tanpa terkecuali, namun Donghae seakan tak menyadari jika ada orang lain di sekitarnya. Fikirannya terfokus hanya pada seseorang yang begitu dicintainya yang kini tengah berjuang di dalam sana. Memperjuangkan hidupnya, serta sosok malaikat kecil calon buah hati mereka.

" Berjuanglah baby, berjuanglah. Aku mencintaimu."

.

At Operating Room

" Semuanya akan baik-baik saja Hyung, percayalah." Kyuhyun berucap lembut dan dibalas senyum simpul Hyukjae. Kyuhyun memejamkan matanya sejenak. Mengucap do'a sebelum menyuntikkan obat bius ke tubuh Hyukjae. Perlahan kesadaran Hyukjae berkurang. Tubuhnya begitu lemah dengan mata yang mulai terasa berat.

" Berjuanglah sayang. Berjuanglah bersama Umma. Lindungi dia Tuhan."

Sebait do'a itu masih sempat terucap sebelum mata Hyukjae tertutup sepenuhnya.

" Kau siap Dr Cho? Kita mulai sekarang." Dan anggukan mantap dari Kyuhyun sekaligus menjadi tanda bahwa proses pertaruhan hidup dan mati itu dimulai.

.

.

Semua petugas medis yang berada di ruang operasi tampak begitu hati-hati dalam setiap gerakan mereka. Tak tanggung-tanggung, lima Dokter spesialis turut andil dalam operasi ini dengan Dr Park sebagai pimpinan. Keringat tampak mengaliri dahi para dokter, dan dengan sigap sesekali perawat menyekanya.

" Dokter, denyut jantung bayi melemah."

Suara itu serentak mengalihkan semua perhatian yang ada di sana. Dr Park memandang Kyuhyun yang kini juga tengah menatapnya cemas. Anggukan mantap dari sang Dokter senior seolah menjadi lampu hijau bagi Kyuhyun untuk melakukan tindakan selanjutnya. Kyuhyun menoleh ke arah beberapa Dokter di sampingnya.

" Lakukan." Mengangguk serempak, ketiga Dokter yang lain bergerak cepat melakukan pembedahan di bagian perut Hyukjae. Sedang Kyuhyun dan Dr Park masih fokus sepenuhnya pada transplantasi jantung yang dilakukan.

Proses itu selesai, jantung di tubuh Hyukjae terpasang sempurna. Mengalihkan pandangan ke arah alat pendeteksi jantung menunggu sejenak reaksi yang terjadi.

Pip... pip... pip...

Bunyi putus-putus serta munculnya garis bergelombang di layar monitor menjadi tanda jika jantung itu berdetak, menampilkan angka yang perlahan bergerak naik menunjukkan jika tubuh itu menerima organ barunya. Kyuhyun dan Dr Park berpandangan, tampak pancaran lega di mata keduanya.

" Reaksi jantungnya positif."

Dr Park berucap, ditanggapi anggukan kepala dari Kyuhyun. Perhatian Kyuhyun bisa sedikit terbagi. Kali ini membantu beberapa Dokter yang masih berusaha mengambil makhluk kecil di perut Hyukjae.

Tak berapa lama sampai si bayi dikeluarkan dari tempatnya. Tak ada tangis yang keluar dan itu sempat membuat beberapa Dokter itu panik. Segera melakukan tindakan pada sang bayi, dan setelahnya tangisan itu menggema di ruang operasi. Sesegera mungkin beberapa suster yang ada di sana mengambil alih bayi mungil itu.

Kyuhyun menghirup nafas dalam. Perasaan lega itu menghampirinya saat melihat sosok mungil yang baru saja diangkat dari perut Hyukjae. Hanya sekejap, sampai sebuah suara seolah menghentikan detak jantungnya.

Mesin pendeteksi jantung itu berbunyi keras, membuat Kyuhyun dan semua yang ada di sana memfokuskan pandangan ke arah layar. Garis bergelombang itu semakin melemah, bahkan nyaris membentuk garis lurus. Angka yang berada di layar bergerak (?) turun, dengan sangat cepat dan kini mencapai angka nol.

PIIIIPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP...

Dan bunyi nyaring itu berdengung begitu keras, disertai layar monitor pendeteksi jantung yang kini sepenuhnya membentuk garis lurus.

.

.

TBC

.

.

AAARRRGGG... Akhirnya chapter ini Update juga.

Baiklah, sekali lagi saya tekankan. Saya tidak mengerti tentang masalah medis dan sebagainya. Jadi jika ada yang merasa aneh dengan segala adegan (?) yang berhubungan dengan bidang medis dan sejenisnya harap dimaklumi karena itu hanya khayalan saya. Tak usah terlalu difikirkan. Pokoknya dibuat Fun aja, namanya juga Fanfic kan. Segala hal yang ada di sini sengaja dilebih-lebihkan untuk mendukung jalannya cerita.

Buat yang sudah merasa bosan dengan cerita ini, tenang saja. Chapter depan adalah chapter terakhir. #sujudsyukur.

Saya minta maaf pada semua reader setia saya #YaElahEmangAda?* yang mungkin terlalu lama menunggu lanjutan cerita ini. Maaf juga jika chap ini mengecewakan dan terkesan aneh, maklumlah otak saya mulai susah diajak mikir. Beda banget sama waktu awal-awal buat ini. #MalahCurhat. Maaf juga untuk typo yang masih saja mengganggu.

Terima kasih banyak untuk yang sudah meninggalkan review di Chapter sebelumnya. Maaf tak bisa balas dan nyebutin satu per satu. Tapi percayalah, semua review kalian sudah saya baca dan saya amat sangat menghargainya. Tanggapan dan dukungan kalian menjadi motivasi dan semangat tersendiri untuk saya. #BOW...

Saya terlalu banyak cingcong... -_-

Yang jelas TERIMA KASIH SEMUAAA... #tebarCiumBarenghyukjae. *ngilang*