Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

.

.

.

Multipairing:

Naruto x Koneko

Menma x Kuroka

Genre: supranatural/romance

Rating: M

Jumat, 9 September 2016

.

.

.

THE GUARDIAN OF SACRED BOOK SEASON 2

By Hikasya

.

.

.

Chapter 13. Rencana pernikahan mendadak

.

.

.

Sang pemilik saffir biru sedang menahan rasa sakitnya ketika dirinya diterapi oleh kekuatan penyembuh dari Raja nekomata. Raja nekomata yang berwujud kucing putih, menumpang tinggal sementara waktu di rumah sang pemilik saffir biru. Dikarenakan di keliling rumah itu, dibentengi pelindung gaib yang penolak energi negatif seperti hawa kekuatan kegelapan, membuat Raja nekomata terpaksa mengubah wujudnya menjadi kucing putih jantan yang berwajah imut dan bermata bulat kuning. Dia seperti kucing biasa yang menjadi hewan peliharaan manusia.

Naruto yang sudah berpakaian lengkap seperti baju kaos putih dan celana hitam setengah betis. Dia menutup kedua matanya rapat-rapat. Duduk bersila di atas tempat tidurnya. Merasakan energi panas yang mengalir di dalam tubuhnya karena kekuatan Raja nekomata yang berusaha mengobati luka-luka parah gaib yang hinggap di organ-organ tubuhnya. Secara nyata, organ-organ tubuh Naruto kelihatan baik-baik saja. Namun, secara gaib, terdapat luka-luka parah yang menggerogoti organ-organ tubuhnya kecuali jantungnya. Satu-persatu luka-luka di organ-organ tubuhnya disembuhkan. Hanya tinggal beberapa lagi. Namun, rasa sakitnya sangat luar biasa ketika Naruto menahannya.

Punggungnya disinari oleh cahaya putih seperti laser dari kedua mata Raja nekomata. Raja nekomata berdiri tepat di belakangnya. Mereka sangat serius dalam menjalani pengobatan ini bersama orang-orang terdekat mereka seperti Kushina, Minato, Koneko, Gaara dan Xenovia. Tidak tampak Menma ataupun Kuroka di sana.

Ya, tentu saja. Menma pergi ke sekolah sambil membawa Kuroka yang menjadi kucing hitam yang selalu bersembunyi di dalam tasnya. Mereka sudah sempat menengok keadaan Naruto sebelum pergi ke sekolah dan berharap Naruto cepat pulih dari sakitnya sehingga bisa kembali bersekolah seperti biasa. Apalagi Koneko memilih tidak ikut masuk sekolah, memutuskan tinggal dan bersembunyi di rumah Naruto untuk menghindari kejaran pasukan Sairaorg. Kushina memakluminya dan mengizinkan Koneko untuk libur sementara waktu sampai Naruto sembuh secara total.

Semua orang menyaksikan proses pengobatan itu di dalam kamar Naruto. Mereka begitu senang dan lega karena Naruto sudah sadar dari pingsannya. Kini keadaan Naruto akan dipulihkan sedikit demi sedikit oleh kekuatan penyembuh dari Raja nekomata. Proses pengobatan membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja. Rasanya begitu sakit luar biasa karena luka-luka akibat serangan ledakan Sairaorg. Untung sekali tubuh Naruto tahan dan kuat ketika mengalami ledakan besar bagaikan bom atom. Sebelumnya tubuh Naruto dilindungi dengan pelindung es. Sehingga begitu serangan Sairaorg mengenainya, tidak membuat tubuhnya hancur berkeping-keping. Namun, sebaliknya pelindung es itu hancur dan tubuh Naruto terkena pengaruh ledakannya dalam daya kecil. Efek ledakan itu mengenai kulit dan sarafnya sehingga menimbulkan luka-luka gaib di organ-organ tubuhnya. Kekuatan api hitam yokai singa memang mengenai bagian dalam tubuhnya. Tapi, hal itu bisa diatasi dengan kekuatan penyembuh dari Raja nekomata.

Setelah itu, Raja nekomata sudah menyelesaikan pengobatannya. Kedua matanya tidak bersinar putih lagi. Dia tersenyum simpul sambil berdiri di belakang Naruto.

"Sudah selesai..."

Naruto tampak terengah-engah. Dia menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Raja nekomata.

"Bagaimana, Raja? Apa luka-luka di dalam tubuhku sudah hilang semuanya?"

"Sedikit lagi," jawab Raja nekomata menatap Naruto dengan wajah datar."Kita akan melakukannya lagi besok. Untuk sekarang ini, kau harus banyak beristirahat. Jangan banyak bergerak dulu. Tidurlah di tempat tidurmu. Kau paham?"

"Ya, aku paham."

Raja nekomata mengangguk cepat. Kemudian dia melompat dan turun dari tempat tidur. Bergabung dengan yang lainnya.

Orang tua Naruto juga tampak lega melihat semua ini. Mereka senang karena keadaan Naruto mulai membaik. Proses penyembuhan Naruto membutuhkan waktu yang cukup lama. Lagipula Naruto juga harus bersembunyi dulu dari kejaran pasukan Sairaorg. Diperkirakan pasukan Sairaorg akan membunuhnya karena sudah berhasil membuat Sairaorg sekarat. Untuk itu, Naruto harus memulihkan keadaan tubuhnya dan tenaganya. Barulah bisa menyelesaikan semua konflik yang mulai datang untuk membahayakan hidupnya.

Kushina menghelakan napasnya. Dia tersenyum sambil menatap Naruto.

"Naruto..."

Pandangan Naruto teralih pada Kushina.

"Ya, Kaasan?"

"Hari ini kamu harus beristirahat dulu. Kaasan akan mengizinkanmu libur sekolah untuk beberapa hari. Kamu harus bersembunyi dari kejaran para musuhmu. Terus nanti Koneko yang akan menemanimu di sini. Kaasan mengizinkan dia tinggal di sini dulu dan libur sekolah sampai menunggu kamu benar-benar pulih."

"Ah, aku mengerti. Terima kasih Kaasan..."

"Hm... Oh iya, Kaasan harus buru-buru pergi nih ke sekolah!" Kushina melihat jam dinding yang terpasang di dinding kamar."Wah, sudah jam segini...! Sampai nanti, semuanya!"

Wanita berambut merah itu buru-buru melangkah dan sempat berbisik pada Koneko. Dia mengatakan sesuatu sehingga Koneko mengangguk untuk mengiyakannya. Dia tersenyum dan menepuk pelan pundak Koneko. Kemudian berjalan cepat untuk keluar dari kamar Naruto.

BLAM!

Pintu kamar tertutup setelah Kushina yang menutupnya dengan suara yang keras. Semua orang memperhatikan pintu itu sejenak. Lalu perhatian semua orang tertuju lagi pada Naruto.

Kali ini Minato yang berbicara pada Naruto.

"Tousan juga harus pergi sekarang, Naruto. Kamu hati-hati di rumah ya."

"Iya. Tousan mau pergi ke kantor, kan?"

"Tidak. Tousan akan pergi bersama Raja yokai ke kerajaan vampire merah sekarang."

"Eh? Pergi ke kerajaan vampire merah? Kenapa?"

"Tousan dan Raja yokai akan meminta bantuan pada kakekmu untuk bekerja sama memerangi kerajaan yokai singa dan kerajaan vampire hitam. Kita akan bersepakat untuk merebut kembali kekuasaan kerajaan yokai nekomata. Bukankah begitu, Raja yokai?"

Raja nekomata mengangguk tegas.

"Ya."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi sekarang?"

"Baiklah..."

Minato mengangguk pada Raja yokai. Semuanya memperhatikan mereka sebentar.

Perhatian Minato tertuju lagi pada Naruto.

"Tousan pergi sekarang. Turuti apa yang dikatakan Kaasanmu tadi. Kalau kamu mau makan, kamu bisa minta tolong pada calon istrimu yang manis ini untuk membuatkan makanan buatmu. Dia pintar memasak juga rupanya."

Perkataan Minato tadi sukses membuat Koneko merasa malu. Kedua pipi Koneko merona merah. Apalagi kedua matanya bertemu pandang dengan Naruto.

DEG!

Jantung Koneko berdegub kencang ketika Naruto menatapnya dengan pandangan yang aneh. Apalagi Naruto melemparkan senyum manisnya padanya.

Adegan romantis itu terganggu oleh suara deheman keras Raja nekomata.

"Koneko-hime, ingat! Jaga jarak! Jangan sampai Naruto melakukan hal yang tidak-tidak padamu selama Tousama tidak ada di sini. Kalau perlu, Tousama suruh Gaara untuk mengawasi kalian berdua di sini."

Mendengar itu, Koneko merasa tidak nyaman. Dia tersenyum untuk menanggapi ucapan ayahnya.

"Hmmm... Kurasa... Gaara-san tidak perlu mengawasiku dan Naruto di sini. Tousama tenang saja. Tidak usah khawatir begitu. Aku dan Naruto juga tahu. Kami akan menjaga jarak kok. Jadi, Gaara-san ikut saja dengan Tousama ke kerajaan vampire merah. Iyakan, Gaara-san?"

Gaara yang berwujud kucing merah, hanya memasang wajah datarnya.

"Aku tidak akan ikut ke kerajaan vampire merah, Koneko-hime. Aku harus pergi mencari Kuroka-hime sekarang."

"Eh? Kuroka-hime?"

Naruto tampak terkejut ketika Gaara menyebut "Kuroka-hime."

Koneko yang menjawab perkataan Naruto.

"Kuroka-hime adalah kakakku, Naruto-kun. Kamu ingat, kan?"

Naruto terpaku sebentar. Dia pun mengangguk.

"Oh iya... Aku hampir melupakannya."

"Hehehe... Dasar, Naruto-kun!"

"Sampai nanti, semuanya! Kami pergi dulu ke kerajaan vampire merah! Xenovia-san, Minato-san! Ayo, ikut aku!"

"Baiklah, Baginda!"

"Naruto, Koneko, Tousan pergi dulu!"

"Hati-hati, Tousan!"

"Hati-hati, Tousama, Minato-ojisan, Xenovia-san."

Maka semuanya keluar dari kamar itu kecuali Koneko, Naruto dan Gaara. Lalu Gaara juga meminta izin keluar pada Koneko dan Naruto.

"Aku juga mau pergi. Permisi, Koneko-hime, Naruto!"

"Ya, Gaara-san!"

Gadis berambut putih yang menyahut. Sedangkan Naruto cuma mengangguk. Bersama-sama menyaksikan kepergian Gaara yang menghilangkan diri secara gaib dari tempat itu. Meninggalkan mereka berdua di kamar tersebut.

Hening.

Tempat itu menjadi hening selama satu menit. Keheningan pun terpecahkan oleh suara Naruto.

"Koneko-chan..."

Kedua mata kuning Koneko bergerak ke arah Naruto yang masih duduk bersila di atas tempat tidur. Koneko sudah berganti pakaian dengan pakaian rapi berupa kemeja merah muda berlengan pendek dan rok selutut berwarna putih. Pakaian milik Kushina sewaktu masih muda dulu. Juga klip kucing berwarna hitam terpasang di dua sisi rambutnya. Dia sudah mandi dan kelihatan manis. Aroma harum tercium dari tubuhnya.

"Ya, Naruto-kun... A-Ada apa?"

Dia kelihatan gugup ketika menyadari pandangan Naruto menjadi aneh seperti tadi. Naruto memandangi dirinya dari atas ke bawah. Dari bawah ke atas. Wajahnya menjadi datar tidak berekspresi.

"Kamu... Hari ini... Tampak manis sekali. Berbeda dari sebelumnya. Kamu memakai pakaian Kaasan ya?"

Koneko mengangguk pelan. Rona merah tercipta di dua pipinya.

"I-Iya. Kaasan-mu yang memberikan pakaian ini padaku. Katanya, pakaian ini adalah pakaian yang dipakainya sewaktu muda dulu."

"Oh, begitu."

Senyuman pun terukir di wajah Naruto. Dia pun melanjutkan perkataannya.

"Kamu pantas memakainya. Aku suka melihatmu berpakaian seperti ini."

"Te-Terima kasih..."

Koneko tersenyum lebar sambil memegang sebagian rambutnya yang membingkai wajahnya. Poni longgar bagian depannya panjang sampai melewati bahu. Wajahnya masih kemerahan. Tingkahnya menggemaskan seperti anak kucing. Hal itu mengingatkan Naruto pada sosok Koneko yang berwujud kucing putih yang dinamai Shinju. Kucing putih yang dipeliharanya dan selalu dibawanya kemana-mana.

"Shinju... Kamu ingat dengan nama itu?"

"Ah... I-Iya. Tentu saja aku ingat. Itukan nama pemberianmu sewaktu aku berwujud kucing putih."

"Kamu tahu arti Shinju itu apa?"

"Tahu. Artinya mutiara, kan?"

Naruto mengangguk. Lalu dia tersenyum lagi.

"Bagaimana kalau kita memberikan nama Shinju itu pada anak perempuan kita yang lahir nanti?"

Wajah Naruto menjadi sangat serius. Membuat Koneko terpaku. Kedua matanya sedikit membulat. Sedetik kemudian, dia mengangguk cepat.

"Bo-Boleh saja. Shinju adalah nama yang bagus...," Koneko kelihatan gugup dan malu-malu begitu."Ta-Tapi, kita belum menikah, kan? Ke-Kenapa kamu malah memikirkan hal jauh dari itu? Seakan-akan kalau kita sudah menikah sekarang. Terus..."

"Aku ingin sekali mempunyai anak perempuan darimu!"

Perkataan Koneko terputus ketika Naruto menyelanya dan Naruto mengatakan kalimat yang sangat mengagetkan jiwanya. Kedua matanya membulat sempurna lagi.

Sang Guardian sangat bersungguh-sungguh akan perkataannya. Dia sangat serius. Terus memperhatikan calon istrinya yang berdiri di depannya, tepatnya di dekat tempat tidurnya.

Wajah putri Raja nekomata memerah sekali. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Kedua tangannya didekapkan ke dadanya.

"Ka-Kamu ingin mempunyai anak perempuan dariku?"

"Iya, Koneko-chan. Aku ingin mempunyai anak perempuan yang sangat manis dan imut seperti kamu. Kalau bisa rambutnya putih sehingga kita bisa menamainya Shinju. Dia akan menjadi keturunan Guardian selanjutnya nanti."

"Na-Naruto-kun... Ka-Kamu ada-ada saja. Jangan pikirkan itu dulu. Sebaiknya kamu beristirahat sekarang."

"Aku serius!"

"Eh?"

"Ayo, kita lakukan sekarang!"

"A-Apanya?"

Naruto memandang Koneko dengan aneh lagi. Membuat jantung Koneko berdetak kencang. Dia baru sadar kalau dia berada di dalam kamar Naruto. Apalagi dia tinggal berdua bersama Naruto di rumah ini. Semuanya sedang pergi ke tempat tujuan masing-masing.

DEG!

Hatinya tersentak ketika Naruto bangkit dari duduknya. Melompat turun dari tempat tidur dan berjalan pelan ke arahnya sekarang.

Bunyi jantung Koneko semakin kencang saja. Dia merasa sangat takut jika Naruto benar-benar melakukan hal yang sangat nekad. Dapat diketahui dari perkataannya yang menginginkan anak. Dapat dipastikan dia akan bertindak jauh untuk mendapatkan semua itu.

Tanpa sadar dia melangkah mundur seiring Naruto berjalan pelan mendekatinya. Wajah Naruto sangat datar tanpa ekspresi sama sekali.

"Na-Naruto-kun? A-Apa yang ingin kamu lakukan padaku?"

Naruto tidak menjawabnya. Dia terus menatap Koneko dengan aneh. Berjalan pelan dengan pikiran yang sulit untuk ditebak.

Mundur dan mundur. Langkah Koneko pun terhambat karena terhalang sofa panjang sehingga dia pun kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas sofa yang empuk.

BRUK!

Dia terduduk dan bersandar di sanggahan sofa. Lalu menyadari Naruto yang datang menghampirinya.

"...!"

Kedua bahunya dipegang oleh Naruto. Tubuhnya sedikit bergetar. Dia tidak bisa lari lagi. Terpaksa pasrah dengan keadaan.

Naruto sedikit membungkukkan badannya. Dia berdiri seraya memandang Koneko yang menundukkan kepalanya. Wajahnya masih datar.

SREK!

Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Koneko. Berbisik lembut pada Koneko.

"Aku menginginkanmu, Koneko-chan."

Koneko tersentak dengan apa yang dikatakan Naruto. Bersamaan Naruto menjauh darinya dan langsung menggendongnya ala bridal style.

"...!?"

Dia panik dan takut. Naruto membawanya dan membaringkannya di atas tempat tidur. Jantungnya berdetak sangat kencang ketika mendapati Naruto sudah berada di atas tubuhnya. Naruto masih memperhatikannya dengan aneh. Kedua lengan Naruto bertumpu di dua sisi kepalanya.

"Naruto-kun...!?"

Kedua matanya menutup rapat. Wajahnya memerah padam. Bersamaan wajah Naruto mendekati wajahnya. Sepertinya Naruto hendak menciumnya.

Tapi, dugaannya meleset. Naruto malah berbisik pelan lagi ke telinganya.

"Aku menginginkanmu... Karena aku lapar lagi. Aku ingin meminta kamu membuat makanan untukku. Begitulah maksudku."

"Hah!?"

Spontan, Koneko membulatkan kedua matanya. Dia ternganga sangat lebar. Dilihatnya, Naruto malah menyengir jahil. Ternyata Naruto tidak benar-benar melakukan "itu" padanya sekarang.

Hening.

Mereka bertahan dalam posisi seperti itu selama dua menit. Setelah itu, wajah Koneko memerah padam. Dia sangat kesal karena dijahili sampai ketakutan dan tegang jika Naruto benar-benar nekad melakukan itu padanya sekarang. Padahal dia ingin melakukan itu dengan Naruto saat sudah menikah nanti. Tapi, dia akan pasrah saja jika Naruto benar-benar akan melakukan itu padanya. Demi cintanya yang sangat tulus terhadap Naruto. Dia akan rela memberikan semuanya pada Naruto.

"NARUTO-KUUUUN! DASAR, BAKA!"

Dia menolak tubuh Naruto sehingga Naruto menjauh darinya. Segera dia bangun dari baringnya dan melompat turun dari tempat tidur. Tapi, Naruto tidak akan melepaskannya begitu saja.

GREP!

Tangan kanan Koneko ditangkap cepat oleh Naruto. Koneko kaget dan melangkah mundur ketika tangannya ditarik oleh Naruto. Salah satu tangan Naruto membelit perutnya dengan erat. Wajahnya memerah ketika tangan kanan dielus pelan oleh Naruto. Sampai tangan Naruto yang mengelus tangan kanannya, membelit atas dadanya. Kepala Naruto berada di bahu kirinya. Naruto mencium rambutnya yang terasa harum.

"Rambutmu harum sekali...," ucap Naruto pelan."Andai kita sudah menikah sekarang... Aku pasti akan menyentuhmu sampai kita mempunyai anak... Aku sangat serius ingin mempunyai anak darimu. Aku ingin cepat-cepat menikah denganmu agar tidak ada lagi yang mengganggu kita. Aku tidak sanggup kehilangan kamu lagi."

Wajah Koneko memerah. Jantungnya berdebar-debar sangat kencang. Dia menjawab perkataan Naruto dengan gugup.

"A-Aku juga ingin cepat-cepat menikah denganmu. Aku akan memenuhi apapun yang kamu inginkan."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita membicarakan ini pada orang tua kita nanti? Kita meminta pernikahan kita dipercepat. Aku takut bakal ada lagi yang mengganggu hubungan kita ini. Aku ingin kita bersatu. Dengan ikatan pernikahan, aku bisa menjagamu setiap saat dan kamu bisa tinggal bersamaku di sini."

"A-Aku mau saja, Naruto-kun. Ta-Tapi, bagaimana tentang sekolah kita?"

"Urusan sekolah... Biar Kaasan yang mengaturnya. Kita bisa tetap bersekolah meskipun sudah berstatus menikah. Yaaah... Asal kita merahasiakan pernikahan kita dari semua orang. Biar keluarga kita saja yang tahu."

"Be-Begitu ya? A-Aku mengerti. Ki-Kita akan membicarakannya langsung kalau orang tua kita sudah pulang nanti. Mudah-mudahan mereka akan menyetujuinya."

"Iya. Aku juga berpikir begitu. Semoga saja ya."

"Hmmm..."

Mereka masih bertahan dalam posisi seperti itu. Hingga Naruto pun memecahkan keheningan yang berlangsung sebentar itu.

"Koneko-chan, apa kamu bisa memasak makanan untukku? Tousan bilang kamu pintar memasak. Apa itu benar?"

Koneko mengangguk. Dia tersenyum malu.

"Benar. Aku bisa memasak makanan untukmu sekarang?"

"Wah... Siapa yang mengajarimu memasak? Aku baru tahu sekarang."

"Asia yang mengajariku."

"Oh...," Naruto manggut-manggut sambil meletakkan dagunya di atas bahu kiri Koneko."Kalau begitu, kita ke dapur. Aku akan melihat bagaimana caramu memasak. Untuk membuktikan bahwa kamu benar-benar calon istriku yang baik. Aku akan menguji rasa makanan yang kamu buat itu. Enak atau tidak."

"Bo-Boleh. Ayo, kita ke dapur sekarang!"

"Oke."

Koneko dilepaskan oleh Naruto. Sehingga dia bisa berjalan duluan untuk keluar dari kamar. Diikuti Naruto dari belakang.

Ketika tangan Koneko hendak memegang gagang pintu, Naruto mencegahnya lagi.

"Tunggu!"

"Hm?"

Koneko menoleh ke arah Naruto. Dia berbalik badan untuk menghadapkan dirinya pada Naruto.

"Kenapa lagi, Naruto-kun?"

Tanpa aba-aba lagi, pipi kiri Koneko dipegang erat oleh tangan Naruto. Naruto langsung mencium pipi kanan Koneko. Wajah Koneko memerah lagi. Dia menutup kedua matanya rapat-rapat dan akan memberikan semuanya pada Naruto. Bahkan mungkin dirinya itu.

Di dalam kamar yang sepi dan dingin, mereka berduaan. Berlindung sementara waktu dari kejaran para musuh mereka yang memang mencari keberadaan mereka sekarang. Para musuh tidak mengetahui rumah Naruto berada di mana. Namun, yang pasti para musuh akan melakukan tindakan yang jauh dari perkiraan. Seperti melakukan kekacauan di dunia manusia ini.

Saat inilah, hal itu mulai terjadi. Korban-korban mulai berjatuhan dan telah tersiar di media massa tentang penyerangan manusia yang mati secara tidak wajar. Menggemparkan seluruh kota Uzuka di pagi hari yang cerah ini.

.

.

.

"APA!? BANYAK MANUSIA YANG MATI SECARA TIDAK WAJAR SEMALAM ITU!?" teriak seorang gadis berambut merah dan bermata violet. Dia sedang duduk di bangkunya sendiri.

"Ya, itu benar, Sara. Nyam... Nyam... Nyam...," kata laki-laki berambut coklat dan bertubuh gendut. Dia berdiri di dekat meja milik gadis yang diketahui bernama Sara. Dia melahap keripik kentangnya dengan rakus.

"Darimana kalian mengetahui itu?"

"Dari televisi...," ujar laki-laki berambut hitam yang diikat satu seperti bentuk nenas."Para polisi tidak bisa memastikan penyebab kematian para korban itu. Entah dibunuh orang atau sebab lain. Namun, yang pasti di leher para korban itu ditemukan tanda dua titik gigitan. Seperti gigitan vampire."

"...!"

Kedua mata Sara membulat sempurna. Dia sangat kaget dengan kabar yang disampaikan oleh dua temannya ini. Nara Shikamaru, yang berambut hitam dikat satu seperti bentuk nenas. Sedangkan Akamichi Couji, yang bertubuh gendut. Mereka saling tegang ketika membicarakan tentang kabar kematian manusia-manusia yang tersebar di kota Uzuka. Jumlahnya mencapai lebih dari 20 jiwa.

"A-APA!? VAMPIRE!? MANA ADA VAMPIRE DI DUNIA INI, TAHU!?" sekali lagi Sara berteriak keras di kelas 11-B itu. Semua orang memperhatikannya dengan heran.

"Tapi... Aku yakin vampire itu benar-benar ada."

"Aku sependapat dengan Shikamaru."

"Jadi, rencana kalian apa jika tahu ada kejadian yang berhubungan dengan vampire itu? Jangan bilang..."

Belum sempat, Sara melanjutkan perkataannya, Shikamaru memotongnya.

"Ya, kita akan mencari tahu dengan cara memburunya di malam ini."

Wajah Sara memucat pasi. Keringat dingin mengucur dari balik rambutnya. Pasalnya, dia sangat takut jika menghadapi makhluk halus seperti vampire atau semacamnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Maaf, kali ini aku tidak bisa ikut dengan kalian. Kalian saja yang pergi. Tidak usah mengajak aku lagi."

"Yaaah, Sara... Kok begitu?"

"Maaf, Chouji."

"Baiklah, jika itu maumu. Apa boleh buat. Aku tidak akan memaksamu untuk ikut."

"Maaf ya, Shikamaru."

"Tidak apa."

Shikamaru hanya menghelakan napasnya. Chouji memasang wajah suramnya. Sedangkan Sara menunjukkan senyuman maklumnya.

Mengenai Shikamaru dan teman-temannya, mereka adalah anggota klub pemburu vampire yang merupakan klub terbaru di Uzuka Gakuen. Pendiri klub dan ketua klubnya adalah Shikamaru sendiri. Dia meminta izin pada Kushina agar Kushina meresmikan klub pemburu vampire itu untuk menjadi salah satu klub yang terdaftar di kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Kushina mengizinkannya. Lalu klub itu berhasil merekrut anggota sebanyak 30 orang. Masing-masing anggota klub tersebut adalah murid-murid biasa. Sedikit di antara mereka, memiliki kekuatan supranatural karena berasal dari bangsa yokai dan bangsa hantu yang menyamar menjadi murid di Uzuka Gakuen. Demi mencari tahu tentang keberadaan buku bertuah dan sekaligus mengikuti kegiatan klub dalam mencari keberadaan tanda-tanda adanya vampire yang berkeliaran di dunia manusia ini.

Begitulah tentang klub pemburu vampire yang diketuai oleh Shikamaru.

Adegan pun beralih pada Menma yang sedang asyik tertidur di jam istirahat siang seperti ini. Dia meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang melipat di atas meja. Tasnya tergeletak di sampingnya. Dia sangat kelelahan karena berpatroli semalaman suntuk di Uzuka Gakuen. Sehingga membuatnya mengantuk dan tidak melek selama belajar di sekolah.

Sementara si kucing hitam yaitu Kuroka, tidak ada di dalam tas milik Menma tersebut. Dia menghilang entah kemana. Mungkin dia pergi sebentar ke suatu tempat untuk menemui seseorang.

Juga tidak ada Kurumi yang terlihat di kelas itu. Gadis berambut hitam diikat dua itu kembali pulang ke kerajaan vampire merah karena merasa menyesal akan kesalahannya di masa lalu. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menampakkan dirinya lagi di hadapan Menma. Menma tidak akan mau memaafkannya begitu saja.

Lalu Serafall yang merupakan jelmaan werewolf atau manusia serigala, masih mengawasi pergerakan Menma. Dia belum tahu bahwa Menma yang telah membunuh adiknya. Hingga kini dia masih mencari tahu tentang siapa pelaku sebenarnya yang telah membunuh adiknya. Karena itu, dia ikut menyamar sebagai murid yang bersekolah di Uzuka Gakuen.

Beberapa orang masih tinggal di dalam kelas itu. Mereka belum ada yang mau keluar untuk pergi membeli makanan ataupun minuman. Bahkan Serafall yang sedang sibuk membaca sebuah buku pelajaran, masih duduk manis di bangkunya sendiri. Juga ada Shino yang merupakan jelmaan vampire hitam, masih duduk di bangkunya. Memperhatikan Menma yang masih tertidur dengan pulasnya.

Sasuke dan Asia juga tidak ada di kelas itu. Mereka pergi makan ke kantin bersama Issei dan Irina. Apalagi Issei dan Irina tidak sekelas lagi dengan mereka. Tapi, mereka tetap berteman dan bersama-sama makan di kantin. Meskipun tidak ada Naruto dan Koneko yang berkumpul bersama mereka di saat-saat seperti ini.

Suasana istirahat berlangsung ramai dan ceria. Para manusia berbaur dengan berbagaimacam makhluk halus. Makhluk halus yang menyamar menjadi murid dan guru di Uzuka Gakuen. Dengan satu tujuan untuk mendapatkan buku bertuah agar bisa mengabulkan semua permintaan mereka. Apapun caranya mereka harus mendapatkan buku bertuah itu. Walaupun melibatkan para manusia sebagai korbannya.

Sekarang para manusia sudah banyak yang mati dengan cara yang tidak wajar. Banyak yang mengira pelakunya adalah vampire karena ditemukan dua titik di lehernya seperti gigitan vampire. Namun, yang anehnya, darah para korban tidak dihisap. Hanya meninggalkan bukti berupa tanda dua titik di lehernya.

Inilah yang sedang dicari tahu oleh pemburu vampire. Para polisi pun kebingungan mengusut kasus ini. Kejadian aneh ini tersiar dan diumumkan ke media massa. Menggemparkan semua orang sehingga semua orang menjadi takut jika benar-benar ada makhluk legenda yang bernama vampire. Hal ini membuat suasana semakin memanas. Konflik awal segera melaju kencang.

.

.

.

Di dunia kerajaan vampire merah.

Dunia kegelapan abadi yang dipenuhi dengan aura merah di langit. Tampak bintang-bintang yang berkelap-kelip. Peradaban di dunia itu sama dengan di dunia manusia. Di mana semua penghuninya memakai pakaian serba merah. Terdapat bangunan-bangunan menara menjulang tinggi di kota besarnya. Hutan merah tampak mengelilingi kota besar tersebut. Lalu tak jauh dari kota besar, tampak kastil berwarna merah yang berdesain klasik dan elegan. Banyak kelelawar merah beterbangan di sekitar kastil, tempat bernaungnya sang Raja yang memimpin dunia kerajaan vampire merah.

Vampire merah adalah sejenis makhluk yang suka menghisap darah manusia. Memiliki kekuatan api dan petir. Ada juga yang memiliki kekuatan mengendalikan waktu. Mereka bermusuhan dengan vampire hitam sejak zaman dahulu kala. Mereka juga pernah berperang melawan vampire hitam. Tapi, pada akhirnya vampire merah yang memenangkan peperangan yang telah berlangsung sejak 80 tahun yang lalu.

Kini hubungan vampire merah dan vampire hitam masih berlangsung tidak baik. Mereka selalu bertarung ketika bertemu antara satu sama lainnya. Apalagi vampire hitam sangat lemah terhadap elemen api yang dimiliki vampire merah. Sehingga vampire hitam selalu kalah jika bertarung melawan vampire merah. Mereka ditakdirkan menjadi musuh besar yang tidak akan pernah bersatu ataupun berbaikan. Hal tersebut akan berlangsung hingga akhir dunia ini.

Adegan tertancap pada kastil merah itu. Di mana Minato datang bersama Raja nekomata dan Xenovia untuk menemui Raja vampire merah. Raja vampire merah yang berwujud pria berambut pirang bercampur putih. Wajahnya diliputi keriput halus. Kelihatan guratan halus yang melintang di mata kirinya. Bermata biru kehijauan. Berpakaian serba merah dengan jubah yang berwarna merah hati. Dia adalah ayah Minato. Namanya Namikaze Arashi.

Arashi sangat senang bertemu lagi dengan anaknya dan menyambut kedatangan Raja yokai serta Xenovia dengan tangan yang terbuka. Dia pun mengajak mereka berbicara di ruang tamu. Berbicara empat mata di sana, tanpa ada yang menemaninya.

Raja yokai dan Xenovia sudah berubah wujud lagi menjadi manusia ketika sudah sampai di dunia vampire. Mereka tidak sabar untuk membicarakan semua ini pada sang Raja vampire merah.

Ruang tamu yang berukuran sangat luas. Diterangi oleh lampu antik yang besar dan mewah. Atap dan dinding ruangan tersebut dicat dengan warna merah. Terdapat perabotan seperti meja, beberapa kursi, guci dan lain-lain. Suasana sepi, mencekam dan bernuansa merah kental seperti merah darah. Melambangkan kerajaan vampire merah yang suka menghisap darah manusia.

Namun, Raja vampire merah ini tidak suka menghisap darah. Melainkan dia adalah vampire merah yang suka memakan tumbuh-tumbuhan. Bisa dikatakan dia adalah vampire merah tipe vegetarian.

Dia juga melarang para vampire merah datang ke dunia manusia dan meminta para vampire merah untuk meminum darah dari makhluk halus lain. Asal bukan darah manusia. Ini demi melindungi anak, menantu dan cucunya yang kini tinggal di dunia manusia.

Dia tidak mempunyai istri karena istrinya sudah mati dibunuh oleh vampire hitam. Istrinya adalah manusia.

Dia tinggal sendirian di kastil besar itu dan selalu menunggu Menma untuk kembali ke sini. Tentunya setelah Menma menikah.

Kemudian dia mendengarkan semua cerita Minato mengenai perihal kedatangan Minato bersama Raja yokai dan Xenovia. Dia pun mengangguk mengerti setelah Minato menyelesaikan ceritanya itu.

"Hmmm... Begitu... Aku mengerti tentang masalah yang kalian hadapi sekarang. Terutama tentang Naruto, aku tidak menyangka masalah sulit juga menimpanya. Aku juga baru tahu kalau Naruto bertunangan dengan putri Raja yokai. Ini kabar buruk dan sekaligus kabar baik."

Minato yang duduk berhadapan dengan ayahnya, memasang wajah kusutnya. Sementara Raja yokai duduk di sampingnya, terdiam untuk mendengarkannya. Lalu Xenovia memilih berdiri di belakang Raja yokai, ikut mendengarkan percakapan yang terjadi di antara Arashi dan Minato.

"Jadi... Apa Tousama bisa membantu kami untuk mengatasi masalah ini? Raja yokai ingin bekerja sama dengan Tousama untuk memerangi kerajaan yokai singa yang telah bersatu dengan kerajaan vampire hitam. Ini demi merebut kekuasaan Raja yokai di dunia yokai itu."

Sekali lagi Arashi manggut-manggut. Dia berwajah datar seraya berkata.

"Tentu saja aku bisa membantu kalian. Tapi, ada satu syaratnya."

"Apa itu, Tousama?"

"Aku ingin melihat cucuku Naruto menikah dengan Koneko sesegera mungkin. Kalau bisa aku ingin mereka menikah di kastil ini karena aku mendapatkan gambaran masa depan tentang Naruto dan Koneko."

"Masalah pernikahan itu bisa diatur. Tapi, Tousama mendapatkan gambaran masa depan Naruto dan Koneko seperti apa?"

Sang Raja vampire merah terdiam sebentar seraya menutup kedua matanya. Barulah dia mengatakan apa yang dilihatnya di masa depan itu.

"Akan banyak bahaya yang menghalangi hubungan Naruto dan Koneko. Jika mereka tidak cepat-cepat menikah, bahaya itu bakal selalu berdatangan dan memisahkan mereka berdua. Terutama yokai singa yang sangat menginginkan Koneko untuk menjadi istrinya. Dia akan datang lagi untuk merebut Koneko dari tangan Naruto. Dia belum mati meskipun sudah dikalahkan oleh Naruto."

"...!"

Mereka kaget setengah mati setelah mendengar ramalan masa depan dari Arashi. Kedua mata mereka membulat sempurna.

"A-Apa!? Sairaorg itu belum kalah!?" Raja yokai kelihatan syok."Da-Darimana anda tahu tentang semua itu!?"

Kedua mata Arashi terbuka. Dia melirik Raja yokai dengan wajah yang sangat datar.

"Gampang saja... Aku bisa mengendalikan waktu. Sehingga aku bisa melihat kejadian yang berlangsung di masa lalu dan di masa depan. Ini bukan ramalan. Ini adalah kenyataan yang akan dihadapi cucuku dan anak anda."

"Aku tidak menyangka ada vampire merah yang bisa mengendalikan waktu. Aku baru mengetahuinya sekarang."

"Hmmm... Begitu. Anda jujur sekali, Raja yokai. Aku menyarankan ini pada anda agar anda secepatnya menikahkan anak anda dengan cucuku. Agar kejadian di masa depan itu tidak terjadi. Kalau bisa, pernikahan mereka digelar di kastilku. Itulah syaratnya," Arashi melipat tangan di atas meja."Bagaimana Raja yokai? Apa anda menyetujui syarat yang kuminta ini? Jika anda menyetujuinya, aku akan membantu anda untuk merebut kekuasaan kerajaan anda kembali. Kita akan bekerja sama memerangi kerajaan yokai singa dan kerajaan vampire merah."

Tanpa pikir panjang lagi, Raja yokai menganggukkan kepalanya dengan tegas.

"Baik. Aku menyetujui syarat itu."

"Bagus. Kalau kau, Minato?"

"Aku juga setuju saja, Tousama. Tapi, aku meragukan Kushina."

"Kenapa?"

"Aku takut dia tidak akan menyetujui rencana Tousama ini. Dia ingin pernikahan Naruto dan Koneko digelar setahun lagi."

"Tidak ada waktu lagi untuk menunda pernikahan ini. Kushina harus menyetujuinya. Katakan padanya, akulah yang akan menikahkan Naruto dan Koneko. Pernikahan mereka akan digelar malam ini juga."

"Ah, itu cepat sekali, Tousama."

"Tidak apa-apa. Inilah solusi terbaiknya."

Minato dan Raja yokai saling pandang antara satu sama lain. Lalu memandang Arashi yang mulai tersenyum.

"Aku tunggu kedatangan kalian di kastil ini. Pada pukul 7 malam, waktu dunia vampire merah. Semua keperluan pernikahan, biar aku yang mengurusnya. Kalian tinggal membawa Naruto dan Koneko ke sini. Kita akan mengadakan pesta pernikahan rahasia. Hanya keluarga kita dan penghuni kastil ini yang akan menghadiri pesta pernikahan. Aku akan membuat cucuku berbahagia bersama calon istrinya."

"Baiklah, Tousama."

"Aku akan memberitahukan ini pada putriku. Dia pasti senang sekali."

"Anda benar, Raja yokai. Terutama Naruto. Dia juga pasti senang jika pernikahannya dengan Koneko dipercepat."

"Kalian berdua akan menjadi besan di malam ini. Kuharap kalian semakin akrab setelah anak kalian menikah."

"Hm... Itu pasti, Raja vampire merah."

Mereka tersenyum bersama dalam suasana yang berakhir dengan kabar baik. Xenovia juga ikut senang mendengar semua ini. Dia tidak tersenyum. Melainkan berwajah datar. Turut bersyukur dalam menyambut hasil pembicaraan empat mata ini.

Itulah keputusannya. Raja vampire merah akan membantu Raja yokai untuk memerangi kerajaan yokai singa dan kerajaan vampire merah. Hal ini akan membuat konflik semakin meruncing. Perang akan terjadi lagi di antara makhluk dunia gaib. Inilah takdir yang ditetapkan sang dewa di dalam buku harian milik kakek moyang para Guardian.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Sekian dan terima kasih.

Jumat, 9 September 2016