Jadi, bagaimana sekarang? Naruto dihadapkan pada pilihan yang sulit.
Sebenarnya dia tidak terlalu senang saat tahu Hinata telah terhubung dengan masa lalunya. Hal itu hanya memperjelas bahwa Hinata telah mempengaruhinya begitu banyak- telalu banyak malah.
Apa kebetulan ini bisa dipercaya? Oh, Naruto tidak berharap ini adalah kutukan Kyuubi. Monster itu, dimanapun dia berada sekarang, pastilah berpuas diri jika menyaksikan kenyataan ini. Bahkan dia mungkin masih akan terbahak dalam kuburnya. Benar-benar menyebalkan.
Sialnya lagi, ada apa dengan Hinata?! Keberadaannya sangat menganggu. Gadis itu telah menarik perhatiannya sejak pertama bertemu. Naruto bahkan tidak pernah mengenalnya! Dan gadis itu orang pertama yang membuat Naruto bertindak tidak masuk akal- Dia membuat Naruto menambal masalahnya!
Yang lebih buruk lagi, Naruto tak bisa menyingkirkannya. Ia tak tahu kenapa hal seperti itu harus jadi sangat sulit. Hinata hanya seorang gadis kecil – mudah rusak. Naruto bisa dengan mudah menghabisinya. Ia bisa pikirkan cara paling sederhana atau bahkan cara paling rumit. Tapi entah kenapa ia tidak mampu melakukan hal semudah itu.
Kegelisahan ini mulai membuatnya tak nyaman. Naruto menyadari bahwa tindakan sekecil apapun dari Hinata akan mempengaruhi seluruh tindakannya sendiri, dan itu tidak bagus. Ia pun tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi, terlebih ia tidak suka. Jadi ia putuskan untuk memerangkap gadis itu. Menguasai, mengontrol, dan membuat gadis itu jadi miliknya.
Dan semua bisa lebih mudah lagi saat Hinata mengaku telah tunduk. Dia bilang jatuh cinta! Tapi mengapa sekarang Naruto jadi merasa bingung? Bukan masalah besar jika ia mengabaikannya. Hanya saja ia masih merasa itu bukan tindakan yang tepat.
Mau tak mau Naruto harus katakan jika Hinata adalah kelemahan terbesarnya. Ia tak bisa mengenyahkan gadis itu, jadi dia tak punya pilihan selain mengikatnya. Naruto sudah membuang apapun itu yang berkaitan dengan harga diri saat ia meminta Hinata tidur dengannya. Seterganggu apapun ia dengan keberadaan gadis itu, Naruto jauh lebih tidak suka jika Hinata jadi milik orang lain. Hinata adalah aib untuknya- bagi seorang pembunuh yang gagal menyingkirkan mangsanya. Naruto tak punya pilihan selain menundukkan Hinata dengan cara gila seperti itu. Dan akan jadi penghinaan terbesar untuknya jika gadis itu sampai jatuh ke tangan orang lain. Hal seperti itu tak akan pernah ia biarkan terjadi, sekalipun ia harus terikat sampai mati dengan gadis bernama Hinata itu!
Lagipula Hinata tidak terlalu buruk. Dia cantik, manis, sopan, agak pemalu dan yang paling penting, dia penurut. Setidaknya sikap-sikap yang dimilikinya cenderung menguntungkan Naruto daripada merugikannya. Dan lagi, gadis itu juga punya kemampuan yang membuatnya diincar banyak orang. Oh, Naruto selalu tahu apapun tentang Hinata, termasuk kemampuan spesialnya. Yang tak boleh dilupakan, Naruto adalah orang yang sangat berbakat dalam memanfaatkan orang lain. Contohnya? Karin. Naruto juga adalah orang yang sangat cocok untuk mengurus permasalahan yang dihasilkan dari kemampuan Hinata. Bagaimanapun, Naruto itu… pembunuh yang terampil.
.
.
.
Fanfic ini murni hasil pemikiran penulis seperti yang tercantum di bawah!
DISCLAIMER : Masashi kishimoto – Naruto
Rosarypea– HERO X HEROINE
Rate : M
Main character (s) : Naruto U. & Hinata H.
Genre : Romance, Hurt/comfort & Friendship
Warning : AU, OOC, typo (s), Flashback, alur kadang cepat-kadang lambat.
Jika tidak suka apa-apa yang berkaitan dengan cerita ini, lebih baik segera tekan tombol back!
.
.
.
"Naruto-kun, kau baik-baik saja?" Hinata menegur pelan. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dan menjumpai Naruto yang duduk diam di pinggir ranjang. Bahkan bajunya belum dikancingkan sama sekali. Tampaknya dia melamun sejak Hinata membersihkan diri.
Mencoba mendekat, Hinata berlutut diantara kaki Naruto, dan dengan lembut ia kancingkan baju pemuda itu satu per satu. Tak adanya penolakan membuatnya sedikit lega. Sesungguhnya ia takut Naruto marah padanya.
"Hinata…" Naruto memanggil. Dengan ragu Hinata mendongak. Naruto menatapnya dengan pandangan kosong dan tampak sedikit dingin. Tapi pemuda itu tidak terlihat marah.
"Hinata… aku, aku tidak tahu. Aku hanya tidak bisa menilai perasaanku padamu." Perkataannya membuat Hinata berjengit. Sebenarnya ia sedang tidak siap mendengar jawabannya sekarang. Terlebih, apa yang barusan itu bentuk penolakan? Hinata tidak tahu. Pada akhirnya ia hanya bisa menggangguk kecil, mencoba mengerti.
"Tapi… Hinata bagiku adalah… orang yang sangat penting." Naruto menambahkan lamat-lamat. Ia tidak berbohong tentang perkataannya. Hinata memang seorang yang penting- bagaimanapun, gadis itu kelemahan terbesarnya.
Tak mendapat respon, Naruto menutup separuh wajahnya dan mencoba memfokuskan pandangannya. Sedetik kemudian ia tak bisa memikirkan apapun, tidak ada, selain dua bola mata yang berbinar, bibir kecil yang sedikit terbuka dan wajah yang memerah sampai telinga. Ekspresi terpana gadis itu membuat Naruto tertular, hingga tak bisa berkata-kata.
Di sisi lain. Alam bawah sadar Hinata telah melayang ke atas- terbang kesana-kemari dengan kikikan geli. Ia adalah orang yang penting? Oh, pernakah ia lebih bahagia dari ini?
"A-Aku bisa menunggu." Katanya, kemudian buru-buru menambahkan. "Aku bisa menunggumu Naru. Jadi ambil semua waktu yang kau perlukan. Aku akan selalu menunggumu!" Senyumnya tak pernah seriang ini.
Naruto tak menyangka jika jawabannya akan memberi efek terbalik. Padahal dia kira Hinata akan kecewa. Tapi senyum gadis itu membuat hatinya terasa hangat. Benar-benar aneh.
Tak mau memikirkan lebih jauh, Naruto menarik Hinata berdiri, kemudian menggandengnya keluar.
"Baiklah, sekarang ayo turun. Kau belum makan, kan? Sepotong kue tak bisa membuatmu kenyang."
Tak punya alasan menolak, Hinata menuruti keinginan Naruto untuk turun ke lantai bawah. Senyum tak lepas dari bibirnya.
.
.
.
Sakura menatap dingin pada pria yang terkulai lemas di hadapannya. Itu Uchiha Sasuke, pria arogan yang harusnya jadi miliknya selama tiga hari ke depan. Tapi si brengsek itu melanggar perjanjian, dan hal itu membuatnya hilang kendali.
Sakura hanya pergi sebentar, tak lebih dari lima jam – demi mengurus pasien yang tak dapat berobat ke rumah sakit dan memilih menyewa dokter gelap sepertinya. Lalu apa yang terjadi? Ia lelah dan berharap di hibur, tapi yang ia jumpai adalah bau perempuan lain! Sasuke mendekati Hinata! Sialan!
"Harusnya kau tak lakukan itu, Sasuke." Ujarnya tajam. Kemarahan masih enggan lenyap, terutama saat pemuda itu hanya tersenyum remeh. Tampak tak menyesal sama sekali. Jadi Sakura melayangkan tangannya lagi, tepat menghantam pipi pucat yang kini semakin memar.
Suara tamparannya bergema keras di ruangan yang sunyi. Sudut bibir pemuda itu terkoyak. Sakura senang ia memanjangkan kukunya.
"Ini salahmu, Sasuke." desisnya muram.
Mencoba untuk menyiksanya lebih jauh, Sakura merendahkan tubuhnya, membuatnya berhimpit dengan dada bidang Sasuke yang terekspos.
Kulit bertemu kulit, Sakura telah membuang pakaiannya saat menduduki perut ramping pemuda itu beberapa waktu lalu. Kemudian ia merayap pelan ke atas, memainkan bibirnya di telinga kiri Sasuke. Senyum sinisnya tersungging saat mendengar geraman tertahan.
Sasuke menggertakkan gigi, lumayan kewalahan menghadapi siksaan manis dari wanita psychopath ini. Belum lagi rasa malu yang menggerotinya atas ketidakberdayaannya melawan dominasi tersebut. Dimana ia hanya dapat menahan diri tanpa bisa melakukan apapun. Jelas saja, ia terlambat mengantisipasi saat Sakura menancapkan jarum suntik yang entah apa kandungannya, beberapa waktu lalu, hingga kemudian tubuhnya melemas dan kehilangan tenaga.
Lalu wanita gila itu memborgol tangan dan kakinya di ranjang, kemudian kembali menyuntiknya lagi dengan aphrodisiac. Dan beginilah ia berakhir dengan mendapatkan siksaan fisik yang membuatnya menderita. Tapi Sasuke tak pernah menyesali perbuatannya, lagipula ini bukan pertamakalinya mereka berakhir seperti ini.
"Jangan-jangan kau ini masochist ya, Sasuke-kun." Kali ini Sakura terkikik. Tak habis pikir mengapa Sasuke tak pernah jera meskipun sudah sering kena hukuman. Sakura bahkan pernah lebih nekat dari ini. Kalau tak salah saat ia tahu pria raven ini mengencani Karin, membuatnya gelap mata, dan Sasuke harus dirawat di rumah sakit lebih dari dua minggu karena mengidap terlalu banyak zat kimia di tubuhnya. Tentu saja Sakura-lah pelakunya.
"Heh… Sebaiknya cepat puaskan… dirimu, dan biarkan aku istirahat, jalang!" Sasuke menggumam tak peduli. Masih berfokus untuk menormalkan nafasnya yang memburu. Astaga, ini benar-benar menyiksanya.
"Mulutmu perlu didisplinkan, brengsek. Dan jangan berharap ini akan cepat berakhir!" Sakura menyahut geram. Lantas menginvasi mulut Sasuke dengan bibirnya, sengaja membuat rasa perih di bibir luka pemuda itu meningkat. Sementara satu tangannya bermain di bawah sana.
"Kau kalah, Sasuke." Sakura menyeringai sambil melambaikan tangannya. Sementara Sasuke mendecih di sela-sela nafasnya yang terengah, masih tak merasa lega usai pelepasannya. Ini semua karena efek obat gila itu.
"Jangan khawatir, bajingan tampan. Permainan utama baru akan dimulai!" Dan seringai Sakura bertambah lebar.
.
.
.
Sebetulnya Hinata tak terlalu heran saat tak ada makan malam yang tersedia sekalipun Naruto mengajaknya turun. Membuat makan malam sendiri bukan hal yang sulit untuknya, dan ia cukup tahu diri untuk tidak minta dilayani, karena tentu saja, Hinata paham disini tak ada pelayan. Namun berbeda dengan Naruto yang tampak berang. Terlebih saat melihat dua wanita anggun menuruni tangga dengan ekspresi tak kalah kecewa.
"Shizu-Nee, Baa-chan, siapa yang bertugas membuat makan malam?!" tanyanya tanpa basa-basi.
Tsunade- orang yang dipanggil Baa-chan itu- melirik tajam. Sudah berulangkali ia peringatkan bocah kuning itu untuk berhenti memakai panggilan yang di bencinya, tapi dasarnya Naruto berotak bebal, peringatannya tak dianggap sama sekali. Dan sekarang ia bahkan terlalu malas untuk mengomel lagi.
"Sakura yang harusnya menyiapkan makan malam." Shizune- si wanita berambut hitam yang menyahut. Jelas sama terganggunya dengan Naruto. Apalagi akhir-akhir ini keteledoran perempuan berambut pink itu semakin menjadi. Dimulai sejak Uchiha Sasuke menghuni tempat ini.
"Wanita gila itu…!" Naruto menggumam sambil berdecak. Ia melangkah panjang-panjang menuju pintu kamar Sakura dan menendangnya kuat-kuat.
"Kau dalam masalah besar, brengsek!" Umpatnya kesal. Namun lenguhan panjang yang ia dengar malah membuat telinganya iritasi. Tentu saja ia tak perlu repot menebak apa yang mereka lakukan di dalam sana.
"Na-Naru… tak apa, aku bisa memasak untuk semua." Hinata mengusap lengannya pelan sebelum ia sempat melancarkan serangan lagi. Wajah gadisnya merah sampai telinga. Apa boleh buat, Hinata memang tak terbiasa dengan tingkah bar-bar keluarganya.
"Kita makan di luar saja. Sekalian kenalkan anggota baru keluarga kita." Tsunade mengusulkan sambil mendekat ke arah Hinata yang mendadak kikuk. Dibimbingnya gadis itu ke luar, atau Naruto akan mulai mengamuk dan membuat keadaan bertambah kacau.
"Ide yang bagus. Jadi sebaiknya kita cepat pergi saja, Naruto." Shizune menyusul, setengah agak menyeret pemuda yang masih mengumpati kakak angkatnya itu.
…
Mereka menempuh perjalanan selama hampir setengah jam. Shizune memutuskan mengambil alih kemudi daripada menyerahkannya pada Naruto. Pemuda itu sama gilanya dengan Sakura jika moodnya sedang buruk. Tentu tak ada satupun yang ingin memacu adrenalin dengan perut kosong.
Tsunade duduk di samping kemudi, sibuk berkutat dengan reservasi dadakan di rumah makan langganannya. Wanita ini juga tak ada bedanya- berubah menjadi gila jika keinginannya tak terpenuhi. Dan sekarang mereka dapat mendengar berbagai ancaman berlebihan yang dilayangkannya jika tak ada meja yang tersisa.
Naruto dan Hinata duduk dibelakang, masih terjebak topik 'Mengumpati Sakura' dan 'Jangan Bicara Seperti Itu'. Harusnya mereka paham jika obrolan itu sangat tidak penting. Shizune heran mengapa hanya ia yang bisa bersikap normal. Kelakuan Sakura memang keterlaluan, tapi ia tidak mengerti mengapa masalah itu harus dibesar-besarkan. Semua bertindak seakan segala sesuatu berakhir hanya karena Sakura tak memasak makan malam. Berlebihan sekali. Yah, walaupun ia sendiri tak bisa memungkiri jika segala hal tampak buruk karena mereka kelaparan.
"Baiklah, kurasa kita sudah sampai."
Shizune memarkir mobil dengan anggun, kemudian menyusul Tsunade yang turun lebih dulu. Naruto berhenti sejenak untuk memasangkan jaketnya ke pundak Hinata. Jelas merasa tak rela jika orang-orang memperhatikan kulit cantik gadisnya yang hanya mengenakan gaun tidur tanpa lengan. Apa boleh buat, mereka terlanjur diseret pergi tanpa sempat ganti pakaian. Ini adalah rencana yang sangat mendadak!
Hinata pun hanya bisa pasrah. Ia menahan rasa malunya dengan berpegang erat pada lengan Naruto. Bagaimana tidak? Rombongan mereka benar-benar terkesan salah tempat dan salah kostum. Hinata yakin telah mendengar bahwa mereka hanya akan makan di 'kedai' Paman Teuchi. Jadi ia berpikir jika orang-orang tak kan terlalu memperhatikan penampilan mereka yang begitu 'rumahan ala kadarnya'. Tapi ia salah besar! Memang benar tertulis 'Kedai Teuchi", tapi tempat ini bukanlah kedai, melainkan rumah makan bintang lima yang khusus menjamu orang berkelas. Ia sungguh tertipu mentah-mentah. Lebih tepatnya tertipu khayalannya sendiri! Dan sekarang orang-orang mengernyitkan dahi saat memperhatikan mereka. Oh, Hinata berharap mendapat kepercayaan diri sebesar keluarga Naruto yang berjalan tanpa ragu atau ciut nyali akibat tatapan puluhan mata yang bingung.
"Yo, Pak Tua Teuchi, senang melihatmu baik-baik saja!" Tsunade menyalami koki utama sekaligus pemilik tempat makan yang menyambut mereka di depan pintu masuk.
"Nona Tsunade! Senang melihatmu berkunjung kemari. Kau masih tampak cantik seperti biasa ya! Hahaha… Kemarilah, aku sudah menyiapkan tempat untuk kunjunganmu yang sangat mendadak ini."
"Hoo... begitu rupanya. Jadi, berapa orang yang kau tendang keluar?"
"Hahaha… hanya beberapa yang tidak terlalu penting." Pak Tua Teuchi menjawab dengan mata menyipit serta senyum ganjil yang melebar hingga nyaris sampai telinga. Siapapun tahu itu senyum yang dipaksakan.
"Hmm… terimakasih. Aku sangat menghargai usahamu." Tsunade membalas dengan senyum yang tak kalah dibuat-buat.
"Tak perlu sungkan… dan 'pesanlah sebanyak yang kalian ingin'." Teuchi berucap penuh penekanan, kemudian tatapan matanya beralih ke pemuda pirang yang membantu gadisnya duduk.
"Waah… coba lihat siapa ini. Naruto kecil sekarang sudah besar dan punya kekasih."
Sontak pipi Hinata memerah. Ia melempar senyum gugup dan mengangguk sopan kepada lelaki paruh baya yang tatapan matanya kini tampak melembut.
"Ayolah Paman, jangan menggodanya. Kami semua lapar dan aku ingin secepatnya makan ramen jumbo-ku!"
"Baiklah-baiklah. Akan kusiapkan yang special untukmu!" Teuchi terkekeh sambil melambai pergi sementara kehadirannya digantikan oleh putrinya, Ayame, yang dengan cekatan mencatat pesanan mereka.
"Naruto-kun sering kemari?" Hinata berbisik pelan. Tak bisa menyangkal rasa penasarannya akan tatapan lembut si pemilik kedai terhadap Naruto.
"Ya, aku sering kemari sejak tempat ini masih jadi 'kedai sungguhan'." Sambil mengangguk kecil, Naruto mulai bernostalgia tentang kunjungannya kemari.
"Begitu rupanya. Aku bisa mengerti jika kalian begitu dekat."
"Tunggu dulu, Hinata. Entah kenapa aku merasa kalimatmu tidak tepat. Lagipula siapa yang kau sebut dekat?"
Percakapan kecil itu pun terus berlanjut. Tsunade menatap interaksi keduanya dengan raut wajah tertarik, terutama pada Hinata. Luar biasa sekali jika dia bisa membuat Naruto bersikap ramah. Seingatnya si pirang itu tak ubahnya rubah liar yang tak bisa diajak bercanda.
"Berhenti membelalakkan matamu, Baa-chan! Kau jadi tambah jelek jika terus melotot seperti itu!"
Naruto melirik lewat sudut matanya, menyindir dengan tak acuh.
"Jaga mulutmu, bocah tengik! Lagipula mau sampai kapan kau bertingkah bodoh seperti itu?! Ayo cepat kenalkan anggota baru keluarga kita!"
Naruto melengos, pura-pura tidak dengar. Lagipula ia tidak berminat mengenalkan Hinata, terlebih pada wanita ini.
Tsunade mungkin tampak seperti wanita mandiri dengan karir cemerlang. Tergolong bermulut pedas dengan perhatian yang tak ditunjukkan terang-terangan. Mereka yang baru pertamakali bertemu tak akan menyangka jika wanita itu telah hidup selama setengah abad. Dan dia jauh dari kata normal.
Pendek kata, dia kejam. Bahkan termasuk dalam sedikit orang yang benar-benar Naruto waspadai. Tidak ada alasan untuk membuatnya terlibat dengan Hinata.
Jadi, tepat saat gadis kecil itu membuka mulut untuk memperkenalkan dirinya sendiri dengan alasan sopan santun,
"- Hmmph!?"
Naruto memblokadenya dengan ciuman dalam.
Hinata merasa jantungnya nyaris lepas. Sejenak ia linglung, namun segera mengerang protes. Meronta-ronta agar Naruto melepasnya. Namun pemuda itu justru mendekapnya semakin erat. Satu tangannya menahan kepala Hinata, tak mengijinkannya berpindah posisi.
Naruto sama sekali tak peduli Hinata menangis karena malu dan bahkan masih bisa memaksakan lidahnya menerobos masuk, membuat gadis itu makin sulit mengambil nafas. Namun tatapan Naruto dari awal tak terarah pada Hinata, melainkan pada Tsunade yang benar-benar terlihat terkejut.
Wanita itu tak menyangka jika Naruto benar-benar serius terhadap gadis ini. Bukan hanya perlakuannya, tapi juga tatapan penuh peringatan yang Tsunade terima. Semua itu membuatnya terpukul mundur, membuang jauh-jauh keinginannya untuk melibatkan gadis unik itu. Sangat disayangkan memang, padahal Hinata terlihat lebih mudah dikendalikan. Boneka cantik itu sudah sepenuhnya milik Naruto.
Oh, atau mungkin belum… setidaknya…
"Hyuuga tak akan melepaskanmu, Naruto."
Pagutan mereka terlepas dan Naruto menyembunyikan wajah kacau Hinata dalam pelukannya.
"Mereka tak akan bisa lakukan apapun. Hinata bukan lagi seorang Hyuuga."
Tsunade terbelalak, jika dugaannya tepat, itu artinya…
"Naruto, kau… jangan bilang-"
"Mulai hari ini ia resmi menjadi Uzumaki, Uzumaki Hinata." Naruto memotong dengan tegas. Tak ada sedikitpun keraguan dalam sorot matanya.
"Dia sepenuhnya milikku." Jadi jangan mengusiknya!, peringatnya dalam diam.
Tsunade kehilangan kata-kata, namun akhirnya ia mengangkat tangan tanda menyerah.
"Baiklah, sekarang aku tahu kenapa kau mengajaknya pulang. Maksudku, harusnya kau katakan itu sejak awal, bocah!"
"Kejutan?" Naruto mengangkat bahu.
"Ya, benar-benar mengejutkan." Gumam Shizune pelan.
Selesai dengan persoalan tersebut, Naruto kini memfokuskan perhatiannya pada Hinata. Gadis itu masih diam dipelukannya, menangis, dan Naruto tahu dia juga terkejut. Tapi apa boleh buat, Hinata harus membiasakan diri, karena inilah dunianya sekarang, menjadi bagian dari seorang Naruto Uzumaki.
Tapi, untuk kali ini Naruto mengalah. Ia mengusap lembut punggung Hinata. Kemudian membisikkan kata maaf untuk pertamakalinya. Butuh beberapa waktu untuk membujuknya, baru kemudian Hinata mau menunjukkan wajahnya yang memerah, matanya sembab, dominasi rasa malu dan kesal yang kentara. Dia terlihat seperti anak kecil yang merajuk. Naruto mengecup pipinya yang basah, lantas membuat candaan ringan.
Tsunade memberengut, terang-terangan menggerutu tentang mengasuh dua anak angkatnya yang dimabuk cinta, tak perhatian sama sekali tentang kesendiriannya. Dasar bocah-bocah itu… bikin iri saja.
"Hmm… mereka memang bukan anak kandungmu, tapi Sakura dan Naruto jelas mewarisi sikapmu Nona Tsunade. Senang menyiksa, bahkan pada pasangannya." Shizune berbisik lirih.
"Oh, tutup mulutmu Shizune. Aku tak pernah berlaku sekejam itu pada Dan." Tsunade memutar matanya.
"Tentu, sengaja memasukkan virus ke tubuh Nawaki sehingga Dan menghabiskan seluruh waktunya untuk merawatnya di rumah sakit, itu bukan yang kau sebut tidak kejam? Aku mengerti."
"Sudah kubilang tutup mulutmu, babi betina! Kau pikir untuk apa aku melakukannya? Itu semua agar mereka tak mati mengenaskan di medan perang! Ideologi mereka menyedihkan! Mereka hanya orang-orang naïf."
"Orang-orang naïf yang kau cintai."
"Urusi saja masalahmu! Kau bahkan tak lebih baik dengan si kacamata gila itu!"
"Aku tahu, Nona. Aku tahu." Shizune mengibaskan tangannya, tak mau membahas lebih jauh.
Pelayan datang di saat yang tepat, secara berkala menyajikan menu makan malam mereka.
Akhirnya perut masing-masing dapat terisi. Tak lagi peduli soal apapun, terlebih saat Sakura mengumpat jauh di seberang sana, sadar jika ia ditinggalkan, membuatnya memohon kesialan untuk keluarga angkatnya, yang sayangnya tak berefek sama sekali.
.
.
.
To be Continue
.
.
.
Terimakasih bagi kalian yang udah baca, review, fav dan follow. See you at next chapter!
