Previous

"Maaf mengganggu. Aku hanya ingin mengambil barang-barangku."

Sehun memperhatikan barang yang dimaksud Luhan adalah ponsel beserta dompetnya. Luhan bahkan tidak mencari pakaian kering untuk dirinya sendiri. Membuat Sehun hanya memperhatikan tak berkedip sampai

"Aku permisi. Aku akan kembali ke Seoul malam ini." katanya kembali membungkuk membuat suara isakan Miranda semakin menjadi dan ketegangan jelas terlihat di wajah Luhan.

Luhan tidak tahan berada di situasi seperti ini. Dia harus pergi-... Dan satu-satunya cara adalah melewati pintu kecil yang kini terasa sangat jauh untuknya. Kembali membungkuk dan berjalan melewati Sehun sebelum tangan Sehun mencengkram lembut namun terlampau erat pada lengannya.

"Sehun lepas.."

Suara itu begitu tenang. Tapi ketenangan itu juga menggambarkan goresan dalam yang sedang dirasakan teman kecilnya. Membuat si pria tampan yang memang sedang mencari keberadaan Luhan menggeleng frustasi dengan tangan yang semakin erat menggenggam lengan Luhan.

"Sehun.."

Suara Luhan mulai padamodememperingatkan. Sehun bahkan tahu Luhan diam-diam sedang mengancamnya di suaranya yang begitu tenang. Memperingatkannya agar tidak bertindak sesukanya. Namun apa Sehun punya pilihan?-..jawabannya tidak.Dia tidak memiliki pilhan lain. Jika dia melepaskan Luhan malam ini. Maka dia kembali kehilangan Luhan lagi malam ini. Dan terimakasih untuk itu karena Sehun berniat untuk tidak melepas Luhan lebih lama lagi malam ini.

Luhan mulai membuat gerakan menghempas cengkraman Sehun. Namun berakhir dengan rasa sakit yang sangat terasa di lengannya. Karena semakin ia mencoba melepaskan maka Sehun akan semakin kuat mencengkramnya. Membuat Sehun benar-benar putus asa dan memutuskan untuk mengangkat wajahnya-... Menatap Luhan yang kini menatapnya berkilat.

Kedua tatapan itu memiliki arti berbeda. Jika Luhan memperingatkannya untuk melepaskan cengkraman Sehun pada lengannya. Maka Sehun sedang menatapnya dengan tatapan memohon agar Luhan tetap tinggal. "Jangan pergi Lu.-...Jangan lagi."

.

.

.

.

.

.

.

.

Triplet794 Present new story :

My Forever Crush

Main Pair : Sehun & Luhan

Support pair : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Other Pair : Song Joong Ki as Oh Joong Ki : Sehun's Dad

Miranda Kerr as Oh Miranda : Sehun's Mom

Kang Gary as Xi Gary : Luhan's Dad

Song Jihyo as Xi Jihyo : Luhan's Mom

Genre : Romance, Friendship

Rate : T & M

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi selama ini kau bersama Mommy?"

Hujan deras begitu terdengar bersahutan dengan suara ombak di pantai malam ini. Membuat percakapan canggung antar dua remaja yang sedang memanas tampak tak mendingin walau cuaca dingin yang menusuk sampai ke tulang mereka sangat terasa saat ini.

"Ya."

Yang lebih mungil menjawab sekilas. Matanya entah berada dimana, yang jelas ia tidak mau memandang pria yang diam-diam ia rindukan di depannya. Dia bahkan rela menatap tak berkedip dinding rapuh di flat yang ia sewa hanya untuk menghindari tatapan hangat yang diberikan teman kecilnya.

"Terimakasih Lu. Aku tahu Mommy hanya akan menghubungimu. Terimakasih sudah-..."

"Sehun.." Luhan menyela ucapan Sehun yang terdengar terburu-buru, membuat si pria yang memiliki tinggi di atas rata-rata tersenyum senang berharap Luhannya sudah melupakan kejadian buruk di antara mereka yang sudah berlangsung hampir tiga minggu lamanya.

"hmm.." Katanya menjawab dengan mata yang masih terus memandang pria mungilnya. Tiba-tiba teringat kebiasaan Luhan yang selalu meminta dibuatkan cokelat panas di tengah hujan lebat seperti malam ini. Dan bayang-bayang Luhan akan meminta padanya seolah menjadi hal yang sangat diinginkan Sehun malam ini.

"Aku rasa kau tidak perlu berterimakasih tentang apapun. Aku melakukan semua ini karena aku ingin. Bukan karena keinginan Mommy atau bahkan dirimu. Jadi berhentilah berterimakasih padaku."

Ucapan Luhan layaknya duri yang terselip di hatinya. Kecil namun begitu menyakitkan hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam. Sehun mengira Luhan akan berbaik hati kali ini. Memaafkan kesalahan bodohnya dan hanya menjadi Luhannya yang seperti dulu. Tapi semua itu seolah hanya harapan kosong yang berputar di kepala Sehun, Karena nyatanya Luhan dan rasa sakit hati yang ia alami masih begitu mendominasi dan terlalu mengerikan untuk disentuh.

Keduanya menatap dalam diam saat ini. Menahan mati-matian rasa rindu mereka hanya untuk bermusuhan dan membuang waktu seperti ini. Dan jika bukan karena suara pintu yang terbuka keduanya mungkin sudah terlibat perang dingin ketiga mereka saat ini.

"Sehun...Luhan"

Keduanya menoleh saat sang ayah memanggil. Sedikit merasa kedatangan ayah Sehun sebagai penyelamat dari sikap canggung yang begitu terlihat dari masing-masing keduanya.

"Ada apa dad?"

"Mommy dan Daddy akan kembali ke Seoul malam ini. Ibumu harus memberikan pernyataan resmi mengenai kasusnya dengan aktor itu. Jadi sebaiknya kalian tinggal dan pulang besok pagi. Oke?"

"Baiklah dad. Kau hati-hati." Sehun membalas mengiyakan namun kemudian matanya kembali menatap Luhan saat si pria mungil menggeser kursinya dan terlihat memegang tas di pundaknya "Aku pulang malam ini." katanya memberitahu ayah dan anak yang terlihat bertanya dengan sikap Luhan.

Dirinya bahkan tanpa ragu pergi meninggalkan kedua pria favoritnya yang selalu menjadi tempatnya bersandar dan mengeluarkan keluh kesahnya. Membuat raut wajah cemas jelas terlihat pada pria tampan yang kini menatap putranya. "Kalian bertengkar?" katanya bertanya namun kembali diabaikan sang putra yang kini juga berjalan keluar meninggalkan dirinya begitu saja.

Blam...

"Luhan!"

Tangannya kembali dicengkram saat dirinya hendak masuk kedalam mobil. Sedikit mengatur nafasnya yang sudah terasa sesak menjadi semakin sesak. Luhan sudah menahan semua emosinya sedari tadi. Dimulai saat Miranda menamparnya hingga kini teman kecilnya yang terus mencegah kepergiannya. Dia bahkan bisa saja kembali berulah dan berteriak marah. Namun yang terjadi selanjutnya hanya akan ada rasa penyesalan yang harus ia telan seorang diri.

"Ada apa?"

Luhan bertanya dengan nada datarnya. Berusaha untuk tidak bergetar dan sedikit berterimakasih pada air hujan yang kini menyamarkan air matanya yang tiba-tiba turun dengan tidak tahu malunya. "Aku akan mengantarmu."

Bibir yang sudah bergetar karena kedinginan dan tangis yang sedari tadi ia tahan pun hanya bisa tertawa meremehkan sedikit menghempas tangan teman kecilnya sebelum menatap terluka pada cinta pertamanya "Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Katanya memberitahu namun yang terjadi selanjutnya adalah dia berakhir di dekapan Sehun yang terasa begitu hangat dan ia rindukan. Entah apa yang sedang dilakukan Sehun. Tapi yang jelas tindakannya sudah terlalu jauh. Luhan tidak butuh pelukan disaat seperti ini, yang dia butuhkan hanya makian agar tak ada satupun mata yang menatap iba padanya.

"Lepas..."

Suara dominannya kembali menguasai. Meronta adalah pilihan selanjutnya saat tangan Sehun semakin mendekap erat tubuhnya "Maaf."

"Sehun..."

"maaf Luhan. Maaf."

Dan selebihnya hanya keheningan yang keduanya rasakan. Hujan yang membasahi tubuh keduanya seolah tak ada arti mengingat rasa panas yang masih sama-sama dirasakan baik oleh Luhan maupun Sehun. Luhan bahkan berhenti meronta dipelukan Sehun, memutuskan untuk menyerah pada keadaan dan membiarkan dirinya terisak seolah ingin memberitahu teman kecilnya kalau dia juga tidak baik-baik saja bahkan terlampau buruk untuk dikatakan baik.

"Sayang... Kenapa kau menangis?"

Aktor tampan yang kini bertanya pada istrinya terlihat semakin tak mengerti dengan keadaan malam ini. Dia mengira saat Luhan memberitahu keberadaan istrinya adalah hal yang telah disepakati Miranda dan Luhan. Namun sepertinya Miranda tidak mengetahui apapun dan sebaliknya-... Luhan tidak bersikap seperti biasa. Dia bahkan terlampau diam mengingat setiap kali mereka bertemu Luhan akan merengek manja atau banyak berbicara. Bukan seperti malam ini, Luhan terlalu bersikap aneh ditambah dengan kenyataan dia menolak menetap bersama Sehun dan kini Miranda menangis melihat kedua putranya saling berpelukan dengat mata yang terus melihat kedua tangannya,

"Aku menampar Luhan."

"Kau apa?"

"Yeobo...Aku rasa aku akan menjadi penyebab utama hubungan putra kita dan Luhan merenggang."

Joongki kemudian menatap Luhan dan Sehun yang berada tak jauh dari mobilnya. Benar-benar nyaris ingin berteriak marah karena tak tahu apa yang terjadi antara Luhan dengan putra dan istrinya. Membuat helaan dalam nafasnya begitu terdengar sebelum kembali bertanya pada istrinya "Kenapa hubungan Sehun dan Luhan harus merenggang karena dirimu?"

"Karena aku menampar Luhan. Aku menamparnya dengan kedua tangan jahat ini. Aku rasa Luhan tidak akan memaafkan aku hks.."

Mulut Joongki tertutup rapat karena terlalu terkejut. Bukan hanya karena pernyataan sang istri yang mengatakan menampar Luhan, tapi lebih karena mengerti bahwa sikap canggung yang ditunjukkan Luhan dan istrinya adalah karena kejadian sebelum dirinya datang. "hkss..."

Joongki hanya bisa diam memperhatikan sang model yang terus terisak dengan memperhatikan kedua tangannya, sedikit tersenyum dan perlahan membawa Miranda ke pelukannya. Dia bahkan berusaha mengalihkan perhatian Miranda untuk menenangkan istrinya yang begitu menyesal "Kita akan bicara dengan Luhan."

Dan setelah mengatakan kalimat yang menjanjikan pada istrinya. Joongki hanya terus memandangi putranya dan putra Gary yang terlihat seperti orang asing. Berharap bahwa apapun masalah yang sedang terjadi tidak semakin larut dan cepat keduanya selesaikan secara dewasa "Kita akan bicara dengan Luhan."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Harusnya Luhan tidak perlu bertanya darimana Sehun mengetahui dimana dirinya tinggal selama ini. Harusnya Luhan juga tidak meremehkan kemampuan Sehun mencari tahu tentang keberadaan seseorang di usianya yang terbilang sangat muda dan belum bisa menghasilkan sepeser uang dari keringatnya sendiri-.. Yah... Luhan melupakan kenyataan bahwa teman kecilnya adalah tuan muda yang sangat dipuja dan dijaga kebahagiannya oleh hampir semua penjaga yang bekerja baik untuk kedua orang tuanya maupun untuk kakek neneknya.

Membuat bibir mungilnya hanya bisa tersenyum saat mobil milik Kai terhenti di depan rumah Kim setelah menempuh perjalanan lima jam tanpa suara dengan Sehun disampingnya selesai sampai disini.

"Kau tahu aku tinggal disini?"

Sehun menatap Luhan sekilas. Sedikit tersenyum lirih sebelum mengangguk membenarkan "Aku tahu."

Luhan mengeluarkan tawa tak percayanya. Sedikit mengusak kasar wajahnya sebelum kembali menatap pria disampingnya "Sejak kapan kau tahu?"

"Percaya atau tidak-... Aku mengetahui semua hal tentangmu."

Jika keadaan mereka tidak sedang bertengkar seperti saat ini, mungkin Luhan akan berteriak penuh kebanggan mendengar penuturan Sehun yang mengetahui segala sesuatu tentang dirinya. Tapi keadaan sedang tidak memungkinkan untuknya bersorak senang atau merona sekalipun. Karena sebaliknya-.. Daripada merasa senang Luhan lebih terluka dengan semua pernyataan omong kosong yang diucapkan Sehun untuknya. Jika dia tahu semua hal tentang dirinya. Mengapa dia tidak pernah tahu apa hal yang mungkin dan tak mungkin Luhan lakukan. Membuat kemarahannya semakin menjadi dengan menatap marah teman kecilnya tanpa berusaha menutupinya lagi.

"Aku percaya!-... Aku percaya hingga aku muak berada di dekatmu!"

"Luhan.."

"Berhenti menemuiku. Oke?" katanya membuka kasar sabuk pengamannya sebelum

Blam...!

Luhan menutup kencang pintu mobilnya. Membuat Sehun ikut keluar dari dalam mobil namun tak bisa mengikuti sampai ke dalam karena kakek Kim kini berada di pintu masuk tengah memperhatikan dirinya dan Luhan "Haraboji..."

Setelah dilewati Luhan begitu saja, kakek Kim hanya tersenyum sekilas dan berjalan mendekati Sehun. Membuat Sehun hanya bisa membungkuk sebelum sang kakek menepuk pundaknya yang terasa kaku karena terlalu lama menyetir dengan jarak yang memakan banyak waktu "Sehunna.."

Sehun membalas senyuman kakek Kim sebelum menatap lelah pada pria berusia di depannya "Pulanglah nak." Katanya memberi saran pada Sehun. Sehun sendiri awalnya sedikit enggan meninggalkan Luhan dalam keadaan yang semakin marah pada dirinya "Tapi Luhan.."

"Kakek akan membujuknya. Jadi cepat pulang dan beristirahatlah."

Keengganan Sehun untuk beranjak pergi semakin menjadi tatkala tak ada jaminan bahwa Luhan akan kembali berbicara dengannya. Membuatnya menatap putus asa pada kakek Kim sebelum terpaksa menghela dalam nafasnya tak memiliki pilihan lain selain mendengarkan ucapan kakek Kim "Baiklah. Aku pergi."

"Jangan memaksakan sesuatu jika hanya berakhir semakin buruk untuk kalian."

"Aku hanya ingin berbicara dengannya."

"Kau akan bicara dengannya segera. Hanya percaya pada kakek dan segera pulang untuk beristirahat."

Sehun kembali mengangguk saat ini. Menatap agak lama di pintu masuk sebelum kembali berjalan masuk ke dalam mobilnya "Aku pulang."

"Berhati-hatilah."

Dan setelah mengangguk Sehun menaikkan jendela mobilnya. Masih melihat ke arah pintu dan berharap Luhan berlari dari dalam dan memanggilnya. Namun hanya senyum bodoh yang bisa ia tunjukkan. Karena entah untuk berapa lama lagi-... Luhan tidak akan dan belum mau berbicara dengannya.

Brmm...!

Luhan sendiri belum benar-benar masuk kedalam kamarnya. Dia masih berdiri di belakang pintu masuk dan mendengar sebanyak yang ia bisa dengar. Namun semakin mencoba mendengar hanya rasa takut yang ia rasakan. Karena semakin banyak ia tahu maka sebanyak itu pula rasa menyesalnya telah menghakimi ketiga temannya terlalu kejam. Membuatnya harus bersiap menerima balasan dari sikapnya kelak. Balasan saat hubungan mereka nantinya akan membaik dan ketiganya tahu apa yang Luhan lakukan di belakang mereka. Dan jika hari itu terjadi-.. Maka Luhan benar-benar sudah mendapatkan balasan setimpal untuknya. Membuatnya tergoda untuk tetap menjaga jarak dengan Sehun, Kai dan Chanyeol agar masalah yang lebih besar serta kekecewaan yang teramat dalam tak lagi mereka rasakan di usia mereka saat ini.

Dan setelah memastikan Sehun benar-benar telah pergi. Luhan kembali menghela dalam nafasnya berjalan gontai menuju kamarnya sebelum suara kakek Kim kembali terdengar di telinganya "Kau belum tidur?"

Luhan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap satu-satunya orang tua yang tidak menghakimi dirinya. Satu-satunya orang tua yang bersedia menampungnya meski hal buruk terus ia lakukan "Aku akan-... Selamat malam kek." Katanya membungkuk dan kembali berjalan sebelum

"Sehun berkali-kali datang kesini."

Kaki Luhan kembali terhenti mendengar pernyataan sang kakek. Membuat otak dan kakinya bekerja berlawanan dengan keinginannya. Jika otaknya mengatakan untuk tidak mendengarkan maka kakinya memutuskan untuk tetap diam dan tak bergeming mendengarkan seluruh penuturan kakeknya saat ini

"Dia tahu kau tinggal bersama kakek di hari pertamamu tinggal dirumah ini. Sungguh kakek tidak memberitahunya. Dia tiba-tiba datang di tengah malam hanya untuk memohon pada kakek agar terus mengawasi dan menjagamu. Dia terlihat kacau malam itu. Sama seperti keadaanmu di malam aku menjemputmu di kantor polisi. Kalian berdua telihat kacau-.. Bedanya Sehun memakai pikirannya untuk mencarimu sementara kau memakai emosimu untuk menyelesaikan masalahmu."

Tangan Luhan tak sengaja mengepal erat. Lagi-lagi seluruh indera perasanya bekerja berlawanan. Jika saat ini hatinya mulai luluh karena Sehun terus mencarinya bahkan di hari pertama dia pergi. Maka tangannya seolah mengkhianati pikirannya dan terus mengepal erat dengan perasaan panas tak terima kembali dibandingkan dengan siapapun.

"Apa kakek sedang membandingkan aku dan Sehun?"

"Kakek tidak pernah membandingkan siapapun Luhan. Kakek hanya ingin memberitahumu bahwa teman kecil yang kau sebut pengkhianat-... Selamanya tetap teman kecil yang peduli dan tak pernah meninggalkanmu. Percayalah nak." Katanya memberitahu Luhan yang berbicara masih tak menatapnya. Sedikit tersenyum sebelum berjalan tertatih menggunakan tongkatnya untuk masuk kedalam kamar.

"Jangan pernah abaikan kata hatimu Luhan. Dengar dan pikirkan secara bersamaan. Kakek tahu kau akan selalu menjadi anak baik yang tidak akan membenci seseorang tanpa alasan. Jadi selamat beristirahat dan selamat malam Luhan."

Blam...!

Bunyi debaman pintu ditutup sangat terdengar oleh Luhan. Membuatnya sedikit tersentak kecil sebelum tertawa meremehkan ucapan kakek Kim "Aku memiliki banyak alasan untuk membenci Oh Sehun."

Luhan bahkan dengan kejam mengakui jika pria yang dia cintai adalah pria yang sama yang harus dia benci. Seluruh organ tubuh Luhan mulai merespon. Dan bagian-bagian tertentu seperti pikiran, hati, logika dan kenyataan seolah memiliki berlawanan yang terus membuatnya merasakan sakit di tempat yang berbeda.

"Tapi apa kau bisa?-..Itu yang selalu aku tanyakan."

.

.

.

.

.

.

.

.

Tiga hari kemudian...

"Mahasiswa atas nama Xi Luhan. Dia satu-satunya yang belum mengumpulkan essay yang aku berikan. Jadi jika salah satu dari kalian ada yang mengenalnya. Beritahu saudara Xi untuk segera mengumpulkan essay nya-... Dan untuk hari ini pelajaran cukup sampai disini. Sampai bertemu minggu depan."

Professor Han mengakhiri kelasnya. Membuat beberapa wajah menempilkan rona leganya sementara yang lain masih menunjukkan raut hampir gila karena terus mengikuti kelas perencanaan bisnis yang super rumit dengan istilah yang nyaris tak mereka ketahui.

"Apa kau belum bertemu dengan Luhan?"

Dan disaat semua mahasiswa masih sibuk merapikan alat tulisnya. Maka seorang Byun Baekhyun tidak mau berlama-lama dan membuang waktu hanya untuk menggerutu. Dia lebih memilih untuk menghampiri Sehun di mejanya dan langsung bertanya tentang hal yang membuatnya sangat ingin tahu. "Aku sudah."

Sehun membalas sekilas pertanyaan Baekhyun. Hanya membalas apa yang ditanyakan dan tak berniat menambahkan kalimat apapun ternyata membuat Baekhyun kesal. Pria yang memiiki ukuran tubuh mungil seperti Luhan itu pun tak segan memukul kepala Sehun jika tidak ada tangan besar yang kini mencengkram erat pergelangan tangannya.

"Apa yang coba kau lakukan?"

"Itu pertanyaanku nona manis. Kenapa tanganmu seperti ingin memukul teman kecilku?"

"Aku tidak ingin memukulnya! Aku ingin membuat teman idiotmu sadar kalau dia benar-benar pecundang."

"Sebaiknya jaga mulutmu sebelum-.."

"Sudahlah yeol. Abaikan dia."

Sehun menyela pertengkaran antara Baekhyun dan Chanyeol. Pergi meninggalkan keduanya begitu saja tanpa satu kalimay yang ia ucapkan. Membuat keduanya saling melempar tatapan tajam sebelum Chanyeol menghempas kencang tangan yang hendak memukul Sehun "Sehun tahu dimana Luhan. jadi kau tidak perlu khawatir."

"Jika dia tahu kenapa dia tidak membawa Luhan masuk dan mengikuti pelajaran."

"Dia ingin tapi dia tidak bisa?"

"huh?"

"Semakin Luhan dipaksa maka semakin jauh pula dia pergi. Jadi hal terbaik hanya menunggu dan terus menunggu. Aku yakin Luhan akan segera datang."

"Bagaimana jika Luhan tidak pernah datang?"

"Dia akan datang."

"Bagaimana kau tahu dan begitu yakin?"

"Aku mengenalnya hampir seumur hidupku. Jadi aku lebih banyak mengetahui tentang kebiasaan Luhan dan sikapnya jika sedang marah."

Baekhyun sedikit berpikir sebelum menyunggingkan senyum terbaiknya "Baiklah aku percaya padamu. Luhan memang harus datang. Dia harus melakukan sesuatu untuk temanku!"

"Ok Taecyeon?"

"ck.. sekarang kau mengurusi urusan kami."

"Aku tidak."

"Lalu bagaimana kau tahu?"

"Hanya dia yang tidak datang selama kepergian Luhan. jadi aku menebaknya dan tenyata benar."

"Ya kau benar! Jadi cepat bawa Luhan sebelum aku menemukannya terlebih dulu. Jika aku menemukan Luhan lebih dulu. Aku bersumpah tidak akan membiarkan dia hidup dengan kalian atau bahkan aku tidak akan membiarkan Luhan mengenal kalian lebih lama lagi!"

"Picik!"

"Terserah! Aku hanya muak melihat sikap kalian. Kalian bilang peduli namun kenyataannya hanya omong kosong yang terlihat!"

"y-YAK!"

Chanyeol sangat tergoda untuk menampar mulut pedas yang baru saja mengejek dirinya dan kedua temannya. Ucapannya bahkan terlalu sadis untuk pria seukuran dirinya, membuat tawa renyah terdengar dari Chanyeol yang terlihat menggeram marah namun jelas terlihat kosong karena tak bisa berbuat apapun saat ini.

.

.

Sementara itu...

"Haraboji selamat pagi.."

"..."

Yang menyapa tak mau ambil pusing karena sang kakek tak menjawab panggilannya. Sedikit mengernyit sebelum terkekeh menyadari kakeknya masih dalam mode tak mau bicara dengannya sepanjang hari karena dirinya terus menolak pergi ke universitas sampai hari ini.

Remaja yang memasuki tingkat pertamanya di perguruan tinggi itu pun hanya mengangkat bahunya sekilas sebelum berjalan mendekati meja makan dan membuka penutup meja makan.

"Tidak ada makanan untukku?" Katanya bertanya bingung melihat meja makan yang terlihat bersih bahkan terlampau bersih sehingga tidak ada makanan didalamnya.

"Tidak ada makanan untuk pemalas."

"Ish...!"

Setelah mencibir kesal. Luhan kembali tak mau ambil pusing dengan sindiran dan ucapan menyebalkan sang kakek. Dirinya bahkan dengan suka hati berjalan mendekati lemari pendingin sebelum mengambil sekotak ice cream dan beberapa cemilan disana.

"Aku bukan pemalas. Aku hanya ingin menemanimu kek." Katanya berkilah memberitahu kakek Kim. Namun kakek mana yang tidak kesal melihat tingkah cucunya yang selau menghabiskan waktu untuk makan ice cream, kemudian bermain psp, tidur sepanjang hari dan berakhir dengan menonton televisi sepanjang malam.

Membuat mata kakek Kim sedikit melirik dan semakin menggeram saat melihat Luhan berselonjor di sofa dengan remote tv di tangan kiri sementara sendok ice cream bertengger manis di tangan kanannya.

Hahahahahaha lucu sekali.

Kakek kim semakin dibuat menggeram saat mendengar Luhan tertawa. "Anak itu benar-benar!" Katanya mendengus kesal mendengar suara tawa tanpa dosa yang dikeluarkan Luhan. Melipat kasar koran yang ia baca adalah tindakan selanjutnya sebelum berjalan dengan tongkat andalannya menghampiri Luhan yang masih tertawa terbahak karena kartun di pagi hari seperti ini.

Omo omo! Hahahahahaha.

Luhan bahkan belum menyadari bahaya yang mendekatinya. Dia terus memakan ice cream dengan lahap sementara matanya sudah fokus dan terlarut total terbawa ke dalam televisi. Entah dia sengaja tertawa atau dia benar-benar terbawa cerita kartun tersebut. Karena menurut penglihatan kakek Kim, acara kartun tersebut sama sekali tidak lucu. Membuatny semakin mendengus menebak Luhan sudah gila karena tak memiliki kegiatan.

Hahhahahahahaha

Dan tanpa dosa Luhan terus tertawa. Benar-benar tak menyadari keadaan sampai

Bugh...!

"Argggh..."

"Dasar tidak berguna! CEPAT BANGUN DAN PERGI KULIAH!"

"KAKEK SAKIT!"

Luhan seketika terjatuh dari sofa saat tongkat kakeknya memukuli hampir seluruh tubuhnya bergantian. Membuatnya terpaksa berjongkok harus melindungi kepalanya sementara tongkat sang kakek terus memukuli kepalanya tanpa henti. "CEPAT BANGUN DAN PERGI KULIAH!"

"Baiklah! Baiklah! Berhenti memukulku! AKU PERGIIII!"

Pukulan tongkat di tubuh Luhan pun seketika berhenti. Membuat sang kakek tersenyum menang sementara wajah Luhan benar-benar kesal dibuatnya "Benar kau akan pergi?"

Luhan mengambil asal jaket serta dompetnya sebelum mengendap menghindar dari tongkat pemukul kakeknya. Sedikit mencibir sebelum "TENTU SAJA TIDAK! SAMPAI NANTII KEK!"

Kakek Kim kembali mengejar Luhan. Dan kali ini tentu saja langkahnya kalah cepat dari Luhan. Membuat Luhan bebas begitu saja sementara dirinya harus menggeram kesal melihat tingkah laku putera tunggal Garry dan Jihyo. "Dah kakek!"

Luhan bahkan dengan sembarangan membawa pergi mobilnya. Membuat kakek Kim semakin menggeram marah dan

"Y-YAK!"

Apapun yang coba dilakukan kakek Kim jelas percuma karena Luhan tentu saja sudah pergi melenggang jauh entah kemana.

.

.

.

.

Tring...!

Terlihat seorang remaja memasuki kafe yang berada tak jauh dari universitasnya berada. Sedikit melihat ke kanan dan ke kiri sebelum seseorang yang memintanya datang terlihat duduk di pojokan kafe saat ini.

Remaja tampan itu pun menyunggingkan senyum khasnya. Sedikit membenarkan tas punggung yang ia bawa sebelum berjalan mendekati pria cantik yang dia akui selalu terlihat menawan di kehidupan malam yang mereka jalani bersama.

"Aku benar-benar merasa istimewa karena kau terus datang mencariku."

Adalah Kim Myungsoo remaja yang dihubungi dan diminta Luhan untuk datang ke kafe menemuinya. Awalnya Myungsoo tidak yakin jika Luhan kembali menghubunginya, namun saat Luhan memintanya untuk datang dengan nada yang sama saat dia meminta malam itu-.. Hatinya sedikit tergerak dan disinilah dirinya-.. Duduk bersama sang leader yang merupakan saingan utamanya di dunia balap yang mereka ikuti.

"Anggap saja aku tidak memiliki pilihan lain."

Kali ini Luhan yang berkilah. Sedikit menatap malas musuhnya sebelum membiarkan Myungsoo mengejek dirinya sebanyak yang dia inginkan. "Kau bahkan sangat menawan dengan wajah sombong yang kau tunjukkan Luhan."

"Jangan menyukaiku. Aku tidak akan pernah membalas perasaan pria sampah sepertimu."

"Sampah? Whoaaa...Aku merasa berdebar saat kau mengucapkan sampah." Katanya terlihat marah dan kembali berdiri untuk bergegas pergi sebelum tangan Luhan menahan lengannya dan membawanya kembali duduk di tempatnya "Aku tidak memintamu datang untuk bertengkar."

"Kalau begitu memohonlah jika kau membutuhkan aku untuk bicara."

Luhan tampak menimbang ucapan Myungsoo. Membuat seluruh gengsi dan harga dirinya benar-benar berada di ujung tanduk sebelum berakhir menelannya secara utuh dan bulat "Jangan pergi. Aku ingin bicara denganmu-..Aku mohon"

Pria yang kerap disapa dengan sebutan L itu sedikit tersenyum puas. Memutuskan untuk kembali duduk di kursinya adalah hal yang ia lakukan untuk membuat Luhan senang "Ada apa?"

"Aku ingin bicara tentang turnament bebas minggu depan."

"Aku rasa kita sudah sepakat bahwa kau dan NFs tidak akan turun kali ini."

"Aku tahu. Tapi aku benar-benar ingin turun."

"Itu masalahmu. Kau sudah berjanji. Jadi aku harap kau menepatinya."

"L...Bisakah-.."

"Tidak. Tidak bisa. Ini kesempatan bagus untuk timku. Setidaknya kami bisa mendapatkan sponsor jika mereka melihat performa penampilan kami."

Luhan hanya diam tak menjawab kali ini. Dia benar-benar tak berniat untuk mengingkari janjinya. Tapi ada dua hal yang begitu mengganggu pikirannya. Pertama Kyungsoo dan yang lain belum tahu Luhan menyetujui NFS untuk tidak tampil. Kedua adalah karena alasan pribadi yang mungkin bisa membuat Luhan menggila jika tidak ada turnament atau balapan yang ia ikuti. Awalnya dia mengira bisa membujuk Myungsoo. Namun nyatanya saat ini berlawanan dengan apa yang dia harapkan. Myungsoo tetap mengatakan tidak dan dirinya tidak bisa memaksakan diri untuk meminta pada Myungsoo.

"Dengarkan aku Luhan.. Hayden dan Jaeson juga tidak akan datang. Jadi aku tidak memiliki alasan untuk mengijinkanmu turun mengingat kita memiliki perjanjian."

"Hayden dan Jaeson sindikat. Mereka tidak bisa dikategorikan sama dengan kita."

"Karena itulah aku tidak bisa membiarkan tim mu turun. Jika si kembar Jung datang. Aku akan menarik seluruh timku. Aku tidak mau mereka menemukan seseorang dari timku untuk dijadikan bagian dari sindikat mereka."

"Pada akhirnya kita semua bersembunyi dari dua sialan itu."

"Kita belum cukup berkuasa untuk menjadi seperti mereka."

Luhan tertawa meremehkan sebelum menatap marah pada Myungsoo "Aku dan timku tidak akan pernah seperti atau menjadi bagian sindikat Hayden dan Jaeson. Setidaknya kami memiliki tujuan hidup dan menjadikan balapan malam hanya sebagai hidup kedua kami."

"Ck. Hidup kedua mereka? Atau hanya kau yang menganggapnya seperti itu?"

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu kau menyembunyikan siapa kau di malam hari pada Oh, Park dan Kim. Mereka bahkan tidak mengenal siapa DO, Byun dan Ok. Jadi aku tebak yang menjadikan kehidupan malam sebagai hidup kedua hanya dirimu. Karena aku berani bertaruh selain dirimu mereka semua menganggap kehidupan malam kita adalah segalanya."

"Demi Tuhan kau tidak mengetahui apapun Kim Myungsoo."

"Dan demi Tuhan-... Setidaknya daripada kau aku lebih peduli pada timku dan tidak membiarkan mereka mabuk selama lima hari berturut-turut!"

Ucapan Myungsoo kali ini jelas menyindir Luhan. Membuat Luhan sedikit mengernyit menyadari ada sesuatu yang terlewatkan darinya "Apa maksudmu?"

"Story cafe."

Mendengar Myungsoo menyebutkan kafe yang sering dikunjungi oleh Luhan dan NFS serta Myungsoo dan timnya adalah hal baru. Membuat Luhan semakin berdebar cemas dan menatap kesal pada lawannya "Bicara yang jelas!"

"Aku tebak Taecyeon akan mengahbiskan waktu untuk mabuk sepanjang malam lagi disana malam ini. Dia sudah melakukannya selama lima hari ini belakangan ini."

"Taec?"

"Ya. Dan saat salah satu petugas yang mengenalnya bertanya mengapa dia mendadak gemar minum-... Taecyeon menjawab Luhan."

"Aku?"

"Entahlah. Hanya kau yang tahu." Katanya kembali berdiri dan berniat meninggalkan kafe sebelum dirinya dan Luhan selesai berbicara.

"Mau kemana kau?"

"Aku? Ah-... Apa kau lupa kalau aku seorang mahasiswa. -salah- kita dua orang mahasiswa. Bedanya kau menghabiskan uang untuk membayar tapi tidak menerima pelajaran sementara aku berusaha lulus dengn nilai terbaik." Katanya kembali menyindir Luhan dan tak lama tertawa karena ucapannya "Aku bercanda. Aku ada kelas tambahan bersama tiga teman kecilmu. Aku pergi." Katanya berpamitan sebelum kembali duduk dan menatap serius untuk berbicara pada Luhan saat ini.

"Aku iri padamu karena memiliki tiga teman kecil yang melakukan segala cara agar kau tidak mendapatkan masalah-... Aku rasa mereka memang selalu melakukan segala cara untuk melindungimu kan?" Katanya menebak asal membuat raut wajah Luhan memucat saat nama ketiga teman kecilnya mulai disebut oleh pria yang mengenalnya di dunia malam

"Sekarang apa yang coba kau katakan?"

"Mmhhh... Sebagai contoh harusnya kau mendapatkan surat peringatan karena ketidakhadiran dirimu selama sepuluh hari berturut-turut. Tapi mereka melakukan segala cara agar semua tindakan sialan itu tidak datang untuk menyusahkanmu. Dan hasilnya?-... Mereka selalu berhasil membuat posisimu aman di kampus. Kau beruntung Luhan." Katanya mengabaikan pertanyyan Luhan dan menepuk bahu teman malamnya sebelum benar-benar pergi dari kafe meninggalkan Luhan yang tiba-tiba tertunduk merasa begitu bersalah pada tiga orang yang selalu membuatnya merasa aman dan tak pernah ditinggalkan sendirian.

Tangannya mengepal erat di atas pahanya. Ingin sekali dia berlari menghampiri Sehun, Kai dan Chanyeol. Meminta ketiganya untuk melupakan segala rasa marah mereka sebelum keinginannya terkubur dalam dengan rasa kecewanya. Kembali sedikit tersenyum sebelum mengangguk membenarkan ucapan Myungsoo "Kau benar L-... Aku beruntung."

.

.

At night-...Story club and cafe

Malam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ini. Dan setelah menunggu hampir tiga jam di mobilnya. Luhan akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam kafe. Memastikan apakah yang dikatakan Myungsoo adalah benar atau hanya omong kosong murahan yang dibuat-buat untuk menjatuhkan play maker di timnya.

"Hey Lu...Sudah lama tidak melihatmu."

Luhan hanya tertawa menjawab penjaga yang menyapanya. Terus memasuki club yang sepertinya sudah ramai pengunjung dengan mata yang terus mencari keberadaan ketiga temannya mengingat mobil mereka sudah berada di luar tak jauh Luhan memarkirkan mobilnya.

"Hey Han..."

"Hey Lu..."

"Apa kau melihat Taecyeon?" katanya sedikit berteriak mengingat suara musik sangat kencang sedang diputar saat ini.

"SIAPA?"

"TAECOON.."

"Ah-...Dia di section C."

Luhan mengangguk sambil menepuk punggung temannya sekilas "Gomawo.."

"Oke Lu...No Prob."

Luhan segera menuju ke Section yang dimaksud temannya. Sedikit melihat ke kanan dan ke kiri sampai mendengar suara pria yang ia cari

"AKU PESAN LAGI!"

"KAU BERENCANA MABUK LAGI TAEC?"

"BUKAN URUSANMU! CEPAT BERIKAN PADAKU!"

"BAIKLAH...!"

Mungkin Luhan harus berterimakasih pada Myungsoo lain kali. Karena sepertinya tanpa aba-aba dari Myungsoo, dirinya tidak akan tahu kalau Taecyeon benar serusak dan terlihat menyebalkan disaat bersamaan.

"CEPAT!"

"cih! Dia benar membuatku marah." Katanya menggeram dan menabrak beberapa orang yang menghalanginya. Sedikit merasa bersalah menebak bahwa Taecyeon menjadi seperti ini adalah karena kejadian sepuluh hari lalu di malam dia menampar wajah teman dekatnya.

"Baek-...Itu Luhan."

Kyungsoo yang berada tak jauh dari tempat Taecyeon sedikit menyenggol kencang bahu Baekhyun. Membuat Baekhyun menoleh dan sedikit tersenyum menahan tangan Kyungsoo yang hendak menghampiri Taecyeon dan Luhan "huh? Kenapa kau menahan tanganku?" katanya bertanya bingung melihat tangannya dicengkram kuat oleh Baekhyun.

"Biarkan mereka bicara. Kita awasi dari sini."

"ah-... Baiklah kalau begitu." Timpal Kyungsoo dan mulai menghabiskan minuman yang ia pesan dengan mata yang tak lepas dari Luhan dan Taecyeon.

"JANE CEPAT!"

"BERISIK! INI MINUMANMU!" gumam si pelayan wanita menyerahkan minuman yang dipesan Taecyeon. Membuat Taecyeon yang sudah setengah mabuk tersenyum senang hendak meminum minumannya sebelum

Sret...!

GLUP!

Minumannya direbut begitu saja dari tangannya. Bukan hanya itu-.. Orang yang merebut minumannya juga meminum sekali teguk alkohol yang ia pesan. Membuatnya menatap kosong pada tangannya sebelum

"BRENGSEK! BERANI SEKALI KAU-...Luhan?"

"Masih mengenaliku?-... JANE PESAN LAGI!"

"Luhan? whoaa... Lama tidak melihatmu cutie."

"Berhenti memanggilku seperti nama kucing atau kubakar club sialan ini!"

"Ish. Kalian berdua membuatku sangat kesal!"

"Kalau begitu cepat ambilkan sebotol red white!"

"AKU HARAP KALIAN BERDUA MATI MALAM INI!"

"as you wish." Gumamnya tertawa memperhatikan pemilik club merangkap bartender sekaligus pelayang di club nya sendiri. Mengabaikan tatapan Taecyeon yang terlihat bertanya saat ini,

"INI!"

Saat Jane memberikan minumannya. Luhan hanya tersenyum nakal menggoda. Mengambil gelas Taecyeon dan menuang minuman ke dalam gelas adalah hal kedua yang ia lakukan sebelum

GLUP!

"Aku tidak pernah tahu rasa alkohol senikmat ini." katanya mulai meracau dengan tangan yang terus menuang botol kedalam gelasnya.

"Kenapa hanya diam? Ayo cepat temani aku minum." Luhan mengangkat gelas ketiganya. Berniat kembali meminumnya sebelum

Sret...!

"Kembalikan taec..."

"Kau tidak pernah minum sebelumnya!"

"KAU PIKIR KAU PERNAH? CEPAT KEMBALIKAN!"

Taecyeon terus menghalau Luhan mengambil gelasnya. Merasa begitu kewalahan menghadapi Luhan sebelum memutuskan untuk

PRANG...!

Taecyeon membanting gelas dan botol yang dipesan Luhan. membuat beberapa mata melihat sekilas ke arah mereka sebelum kembali sibuk dengan dunia masing-masing.

"Bicara padaku. Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku?-.. Aku mengikuti apa yang kau lakukan."

"Apa maksudmu Lu?"

Luhan hanya diam menikmati rasa pahit menyengat di kerongkongannya. Sedikit menelan paksa air liurnya sebelum kembali melihat Taecyeon yang terlihat sedikiit tampan malam ini "Aku minta maaf."

"Kau apa?"

"Aku minta maaf taec."

"Maaf untuk apa?"

Luhan mengangkat tangan kanannya dan membawanya ke depan wajah Taecyeon "Maaf sudan menamparmu tanpa alasan."

Hati Taecyeon terlampau goyah malam ini. Niat awal untuk membuat dirinya mabuk untuk melupakan pertengkarannya dengan Luhan entah hilang kemana saat pria yang terlihat semakin mempesona untuknya meminta maaf. Membuat senyum bahagia tak bisa ia sembunyikan dan memberanikan diri untuk membawa Luhan ke dekapannya.

"Taec? Banyak mata melihat kita."

"Aku tidak peduli. Aku hanya terlalu bahagia bisa melihatmu lagi. aku sangat merindukanmu Luhan."

Luhan diam-diam tersenyum lega saat Taecyeon memaafkannya. Mengabaikan tatapan yang melihat mereka dan membiarkan tubuhnya didekap begitu erat sampai suara yang lain terdengar menginterupsi.

"EKHEM!"

Taecyeon melepas pelukannya dan melihat salah tingkah Kyungsoo dan Baekhyun yang terlihat menggodanya. Sedikit melirik kesal pada Luhan sebelum

Pletak!

"YAK!"

"Jangan berteriak. Kau terdakwa malam ini."

"Kenapa aku menjadi terdakwa?"

"Karena kau hilang tanpa kabar. Untuk berapa hari Baek?"

"umhh... Sepuluh hari."

"Sepuluh hari!"

"ish..!"

"Jadi selama sepuluh hari kami akan makan siang gratis dikampus. Benarkan Baek?"

"Yap!"

"Kalian bahkan lebih kaya daripada aku."

"Telingaku sakit."

"Aku juga Kyung!"

"araseo! Kalian makan gratis selama sepulu hari."

"YEY!"

Lihatlah Baekhyun dan Kyungsoo saat ini. Berpelukan erat hanya karena Luhan mengatakan akan mentraktir mereka. membuat Luhan sedikit tertawa sebelum matanya kembali melihat ke arah Taecyeon.

"Kau benar akan kembali kuliah?"

Luhan ragu-...Namun dia tidak bisa selamanya menghindar. Keputusannya bulat untuk mulai menjaga jarak dengan Sehun, Kai dan Chanyeol. Dia bahkan sudah bisa menebak pertengkaran macam apa yang akan terjadi jika mereka bertiga tahu dirinya datang bersama Taecyeon esok pagi. Membuat bibirnya tersenyum lirih sebelum mengangguk membenarkan pertanyaan Taecyeon.

"Ya. Aku akan kembali esok pagi."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi ini harusnya menjadi pagi seperti sepuluh hari yang lalu. Pagi yang harus dilewati ketiga pria tampan dengan kegiatan yang terus berulang membosankan seperti ini seperti pagi-pagi sebelumnya. Diam dan duduk di tempat. Mendegarkan seluruh ocehan dosen lalu kemudian mengerjakan tugas dan kembali berlawanan arah menuju tempat untuk menghabiskan waktu mereka. Ketiganya bahkan tidak akan repot-repot datang mengikuti pelajaran kalau bukan Luhan yang menjadi alasan utama mereka. Memastikan pria cantik mereka tidak mendapat masalah di tahun pertama mereka adalah satu-satunya alasan mengapa ketiga remaja tersebut datang mengikuti pelajaran walau Luhan tak berada di sekitar mereka.

Kira-kira seperti itulah gambaran yang akan terjadi hari ini. Ketiganya bahkan datang lebih awal saat pelajaran baru dimulai satu jam mendatang. Entah bermain ponsel, membaca komik atau hanya diam dan tidur di atas meja adalah kegiatan yang biasa dilakukan Sehun, Kai dan Chanyeol sampai telinga ketiganya mendengar suara yang begitu familiar di telinga mereka

"Sudahlah...Jangan menyesal membelikan aku makan Baek..."

"Kau benar-benar monster makanan Luhan!"

"Aku kenapa?"

"Manusia macam apa yang memakan begitu banyak makanan di pagi hari. Lagipula kau janji mentraktir kami!"

"ish. Aku hanya makan sedikit Soo-.. Dan jatah kalian hanya saat makan siang! Oke?"

"Sedikit kepalamu! Kau makan hampir lima porsi. Kau tidak tahu makanan disana begitu mahal!"

"Tidak peduli..."

"Sudah...Sudah.. Lain kali seluruh makanan Luhan aku yang akan membayarnya.."

"Taecoon yang terbaik!"

Entah pagi macam apa saat ini. Pagi yang biasa dilewati Sehun, Kai dan Chanyeol begitu tenang dan tak terusik menjadi pagi yang begitu panas dan entah mengapa membuat hati mereka sangat terluka.

Pagi dimana mereka mengira Luhan belum akan datang dan tetap akan tinggal dirumah Kakek Kim untuk waktu yang lama berubah menjadi pagi yang begitu memelas melihat bagaimana Luhan tertawa lepas didampingi ketiga teman yang entah darimana bisa mengenal Luhan.

Untuk Sehun-.. Entah mengapa hatinya seolah diremat begitu kencang saat melihat tangan Taecyeon melingkar sempurna di pundak pria mungilnya. Membuat perasaannya begitu kacau dan berantakan menebak semua kemungkinan mustahil yang berlarian di pikirannya kali ini.

"Luhan?"

Sehun yang sedang menikmati rasa sakitnya sedikit berkedip saat Kai melewati kursinya untuk berjalan mendekati Luhan. Membuat keadaan canggung jelas terlihat saat baik Kai maupun Luhan sama sekali tak bersuara saat ini.

"Bagaimana bisa kau bersama mereka?"

Luhan menangkap nada menuduh yang dilontarkan Kai pada Taecyeon, Baekhyun dan Kyungsoo. Membuatnya sedikit merasa tersinggung sebelum memberanikan diri menatap Jonginnya yang paling sering menggoda dan membuatnya diam dengan seribu celotehan yang ia miliki "Apa maksudmu?"

"Kenapa kau datang bersama mereka? Kenapa kau tidak menghubungiku? Atau Sehun? atau Chanyeol?"

"Untuk apa aku menghubungi kalian? Aku sedang tidak ingin bertengkar asal kau tahu. Aku-..."

"LUHAN!"

Chanyeol yang mendengar ucapan Luhan ikut terpancing emosinya. Membuatnya berdiri mendekati Kai sebelum temannya membuat kekacauan di pagi hari ini seperti ini "Kami berusaha memberikanmu waktu dengan tidak mengganggumu. Tapi ini yang kau berikan? Ini yang kau berikan setelah kau menguras habis kesabaran kami?"

"Aku tidak meminta kalian bersabar."

Kai semakin tertawa tak percaya. Dia bahkan hampir memukul Luhan jika Chanyeol tak datang dan membawa dirinya sedikit menjauh dari Luhan

"Apa lagi kali ini?" katanya menantang Chanyeol yang berusaha sekuat mungkin untuk tidak terpancing oleh semua ucapan dan perbuatan Luhan yang sengaja membuat mereka semua marah dan membuat keadaan semakin kacau untuk mereka.

"..."

"Jika tidak bicara aku mau duduk. Minggir!"

Luhan menyenggol kencang bahu Chanyeol, mengabaikan tatapan terluka teman kecilnya sebelum

"Aku menyesal secara berlebihan mengharapkan kau akan kembali menjadi Luhan kami. Kami bahkan sudah terlalu sabar datang dan menunggu dirimu hingga kembali tanpa paksaan. Tapi apa ini?-...Aku bahkan tidak mengenal siapa kau Luhan. Kau terlihat seperti orang asing untukku."

Pepatah mengatakan kemarahan orang yang selalu bersabar adalah bencana. Maka jika seorang Park Chanyeol yang biasanya tidak mau ambil pusing dengan sikap Luhan terlihat marah-..Maka itu adalah bencana. Karena siapapun yang mengenal Chanyeol dengan baik. Mereka akan tahu hanya dua hal yang membuat Chanyeol marah pertama terlalu kecewa kedua terlalu sedih. Dan kedua hal tersebut adalah sesuatu yang paling dihindari Luhan, Sehun dan Kai.

Namun saat kalimat kemarahan dilontarkan Chanyeol. Maka Luhan kembali menjadi pemenang untuk kategori mengacaukan suasana hati seseorang-..Membuatnya tertawa lirih tak bisa menghentikan kepergian Chanyeol dan harus berhadapan dengan Kai yang menatapnya tak berkedip saat ini "Apapun yang sedang coba kau lakukan-...Kau menang!" katanya menyenggol kencang pundak Luhan sebelum berjalan menyusul kemana Chanyeol pergi. Meninggalkan Luhan yang hampir menangis marah namun tetap menjaga wajahnya mengingat ada satu orang yang paling ia hindari tengah menatapnya tak berkedip saat ini.

Luhan mencoba mengabaikan tatapan Sehun yang terasa membakar punggungnya. Mencoba terus untuk mengabaikan tatapan pria yang ia sukai dengan mengajak Kyungsoo berbicara untuk sekedar tertawa atau terlihat baik-baik saja sampai

Blam...!

Luhan ingin sekali menoleh ke belakang. Melihat apa yang Sehun lakukan namun tak memiliki keberanian sampai akhirnya dia melihat Sehun berjalan melewatinya dan pergi begitu saja dengan tas yang disanggul di pundaknya.

"cih. Munafik!"

Jika Luhan sedang tidak fokus pada kepergian Sehun. Mungkin dia akan berjalan menghampiri Myungsoo dan mulut sialannya. Menghajar si pembuat ulah agar diam namun tak memiliki tenaga sama sekali saat ini. Dia bahkan menyembunyikan wajahnya di atas meja membuat Taecyeon, Kyungsoo dan Baekhyun sedikit bertanya-tanya apa yang ada di isi kepala Luhan. Kenapa teman mereka begitu memaksakan diri untuk membenci dan marah jika dia tidak ingin.

"Kau baik?"

Luhan mengelak halus usapan Kyungsoo di lehernya. Sedikit menghindar dan mencari posisi baru sebelum kembali menyembunyikan wajahnya di atas meja "Jangan ganggu aku-...Jangan ganggu aku."

.

.

.

.

.

At the night..

"Taraaaa... Semua makanan lezat ini untukmu. Cepat makan cucuku yang tampan."

Yang diperlakukan secara luar biasa hanya menatap bingung sang kakek. Bukan bingung karena melihat banyak makanan dia atas meja malam. Melainkan karena sikap kakeknya yang entah mengapa sangat berlebihan hari ini. Pertama kakeknya terus menghubungi dirinya untuk makan malam di luar. Kedua restaurant tempat mereka makan malam adalah restaurant mewah yang menjual makanan dengan kualitas tinggi dan super lezat. Dan terakhir yang membuat Luhan curiga adalah jumlah makanan tak wajar yang dipesan sang kakek jika mereka hanya makan malam berdua.

"Haraboji ini semua untukku?" Katanya bertanya tak ingin membuat bingung dirinya sendiri.

"Tentu saja!"

"Kau tidak mengundang orang lain kan?"

"Kau ingin aku mengundang siapa memangnya?"

Tatapan Luhan berubah sendu menatap kakeknya. Entah apa yang membuatnya kecewa yang jelas ia terlalu mengharapkan berlebihan kalau kakeknya akan sengaja mengundang Sehun, Kai dan Chanyeol untuk bergabung bersamanya.

"Bukan siapa-siapa. Ayo kita makan." Katanya memotong perlahan steak daging yang dipesan kakek Kim. Memakannya perlahan sambil memasang senyum yang jelas sangat dipaksakan.

"Apa enak?"

"Hmmm... Ini yang terbaik yang akunmakan setelah sepuluh hari lamanya." Katanya mengangguk bersemangat. Kembali memotong dagingnya perlahan sebelum

Uhuk!

Dirinya tersedak daginya yang sedang ia kunyah karena matanya tak sengaja menatap pemandangan yang begitu membuatnya terkejut di luar restaurant saat ini.

"Ada apa? Apa tidak enak?"

Luhan masih terlalu fokus memperhatikan keluar jendela. Pemandangan dimana Sehun bersama dua wanita yang lebih tua darinya. Entah siapa wanita yang bersama Sehun-..yang jelas kedua wanita tersebut terlihat seperti wanita penghibur dengan Sehun yang terlihat mabuk bahkan di waktu yang masih menunjukkan pukul sembilan malam.

"Luhan?"

Luhan tidak bisa mendengar apapun saat ini. perhatiannya jelas hanya tertuju pada kedua wanita yang kini membawa Sehun entah kemana. Membuat genggaman di pisaunya mengerat dan tak bisa mengalihkan fokusnya pada Sehun.

"Luhan? Jika tidak enak. Kakek akan pesan makanan yang lain."

Mata Luhan membelalak saat kedua wanita yang berpenampilan menjijikan itu menghentikan taksi dan membawa Sehun kedalamnya. Membuat kedua tangan Luhan semakin mengepal erat tak tahan membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Sehun dan kedua wanita penghibur itu.

"Pelayan aku pesan-.."

"Kakek!"

"Huh?"

"Makanannya sangat enak. Sungguh-.. Tidak perlu mememesan lagi."

"Benarkah?"

"hmm.."

"Kalau begitu teruskan makan malammu."

Luhan mengangguk cepat dan kembali memotong dagingnya. Hanya memotong tanpa dimakan sedikit pun karena pikirannya sudah berada pada Sehun sepenuhnya. Membuatnya meletakkan pisau dan garpunya untuk menatap kakeknya yang terlihat lahap memakan semua pesanan mewah malam ini.

"haraboji..!"

"Ada apa?"

"Makanan ini sungguh enak."

"Aku tahu. Lalu?"

Luhan menggigit kencang bibirnya sebelum bergerak resah di tempat duduknya "Kakek.."

"Iya ada apa?"

"Aku ingin menghabiskan makan malam bersamamu. Tapi aku tidak bisa. Aku harus pergi. Bolehkah?"

"Kemana kau akan pergi?"

"Aku hanya akan memastikan sesuatu lalu kembali pulang. Bagaimana?"

Kakek Kim sangat mengetahui kalau ada sesuatu yang membuat Luhan resah. Dan dia juga merasa percuma melarang Luhan pergi karena akan berakhir tetap ditinggalkan di restaurant mewah ini sendirian. Membuatnya tak memiliki pilihan lain selain mengangguk dan mengangkat bahunya "Baiklah. Tidak masalah!"

Luhan mengepal tangannya dan membuat gerakan YES!-.. Setelahnya dia bergegas berdiri dari kursinya sebelum kembali menatap memohon pada kakeknya.

"Kau boleh membawa mobil. Kakek dan pengurus Lee akan naik taksi untuk pulang."

Rona senyuman di wajah Luhan sangat melebar. Tak bisa menutupi kebanggan bahwa sang kakek adalah orang yang paling mengerti dirinya. Membuat dirinya melonjak di tempat sebelum bergegas memeluk kakeknya sekilas "Kakek yang terbaik!" katanya memberitahu kakek Kim sebelum berlari pergi meninggalkan restaurant.

Luhan segera menemui supir pribadi kakeknya. Menerima kuncinya tak mengucapkan satu kalimat pun adalah satu dari sekian banyak keajaiban yang kakek Kim miliki. Membuatnya bahkan bersumpah untuk terus menemani sang kakek sampai nanti kakeknya bosan hidup bersama dirinya "Jaga kakek. Aku pergi dulu."

"Tentu saja tuan muda. Berhati-hatilah dijalan."

Luhan hanya mengangguk menjawab pesan pengurus Lee. Sedikit bergegas memasuki mobil kakeknya sebelum

Brmmm..!

Dia cukup cepat menjalankan mobilnya. Tapi dia tidak cukup beruntung bisa mengejar taksi yang sudah pergi beberapa menit darinya. Membuatnya menggeram kesal dan

Ckit..!

Luhan membanting stirnya ke kiri. Sedikit berpikir sebelum mengambil cepat ponselnya dan segera menekan angka satu yang merupakan speed dial ponsel Sehun.

"angkat..Angkat Sehun. angkat-.."

"Halo?"

Dahi Luhan mengernyit saat suara seorang wanita yang menjawabnya. Membuat tawa tak percaya dikeluarkan Luhan. Dia bahkan berniat menutup sambungannya sebelum

"Luhan-...Mana Luhan-...DIMANA LUHAN?"

Sehun jelas mabuk saat ini. Terdengar dari suara dan raungannya yang begitu membuat hati Luhan meremat sakit, membuat rencana Luhan untuk menutup sambungannya meluap entah kemana dan digantikan rasa cemas luar biasa menebak dimana keberadaan Sehun saat ini.

"Dimana Sehun?"

"Apa kau Luhan?"

"YA. AKU LUHAN!-...JADI KATAKAN KEMANA KALIAN MEMBAWA SEHUN?!"

"Kami berencana mengajaknya bersenang-senang di club malam. Datanglah ke selatan Myeongdong jika kau ingin bergabung. Aku rasa kau tidak kalah tampan dengan temanmu."

"Dengarkan aku-... Jangan menyentuh Sehun bahkan untuk sehelai rambutnya. Oke?"

"Ayolah. Kau bisa bermain bersama noona. Noona bisa memuaskan kalian!"

"DIAM!"

Luhan menggeram marah dan menutup cepat sambungannya. Dia tidak ingin membuang banyak waktu untuk berdebat dengan wanita murahan yang jelas akan melakukan hal mengerikan pada Sehun jika dia tidak segera datang. "baiklah-.. Kau harus tenang dan hhanya membawa Sehun pulang kerumah." Katanya menenangkan diri sebelum kembali menyalakan mobil menuju ke club dimana kedua wanita sialan itu membawa Sehun-..Sehunnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Blam...!

Tak perlu memakan banyak waktu yang berlarut-... Luhan telah sampai pada tujuannya saat ini. club terkenal di sekitar Myeongdong yang jelas banyak didatangi oleh beberapa orang entah dengan pasangan atau selingkuhannya. Membuatnya bersumpah hanya ingin menemukan Sehun dan membawanya pulang secepat mungkin.

"Hey apa kau pelanggan baru? Bergabunglah dengan kami!"

Luhan memberikan jari tengahnya sebagai jawaban. Sedikit menggeram kesal karena suara musik yang terlalu kencang disertai seluruh orang yang berdansa di tengah dan menghalangi jalannya.

Luhan bahkan tidak tahu dimana Sehun berada. Yang jelas dia sudah berusaha menghubungi Sehun dan berakhir tanpa jawaban mengingat keduanya sudah berada di tempat yang tidak memungkinkan suara ponsel akan terdengar.

"SEHUNNNN!"

Luhan berteriak menerobos kerumunan. Entah apa yang sedang ia lakukan-.. yang jelas dia mengacau. Membuat beberapa mata menatap marah padanya namun tentu saja kembali tak dihiraukan oleh pria mungil yang tengah mencari teman kecilnya saat ini.

"SEHUN! KAU DIMANA?-...SEHUNNA KAU-..."

Teriakannya berhenti saat seseorang yang tengah ia cari kini berada di sekitar penglihatannya. Antara marah dan benci kembali melebur menjadi satu saat melihat Sehun meminum minuman keras dengan seorang wanita yang jelas lebih tua darinya duduk di pangkuannya. Katakanlah ini kali pertama Luhan melihat Sehun begitu intim dengan seorang wanita. Dia bahkan tidak pernah seintim ini dengan Jiyeon-... Membuat entah rasa marah apa yang menggerogoti hati Luhan saat ini.

"Cheers Sehunna!"

Wanita tersebut mengangkat gelasnya disambut oleh Sehun dengan gelas yang berada di genggamannya. Keduanya melakukan tos sebelum menenggak habis minuman yang Luhan tebak memiliki kadar alkohol sangat tinggi.

Tangannya bahkan mengepal erat saat berjalan mendekati kerumunan sialan didepan matanya. Matanya sama sekali tak berkedip menatap Sehun yang kini mencumbu bebas leher serta dada pelacur sialan yang menggodanya. Keduanya bahkan hampir berciuman jika Luhan tidak menarik kasar tubuh wanita penggoda itu hingga jatuh dengan kencang dan membuat keributan seketika terjadi

"YAK- SIALAN! SIAPA KAU!"

"Luhan?"

Luhan mengambil gelas berisi alkohol di meja Sehun. Kembali menghampiri wanita penggoda itu sebelum

Byur!

Dia menyiram kasar alkohol tersebut ke wajah si wanita. Membuat beberapa pria yang merupakan teman si wanita datang hendak menghajar Luhan sebelum

"Kau pikir kau akan memukul siapa?"

Sebelum salah satu tangan teman si wanita berakhir diremat kasar oleh Sehun yang sudah setengah mabuk namun masih bisa mengetahui situasi macam apa yang tengah terjadi saat ini. "Apa kau mengenalnya?"

"Dia Luhan. Kau dengar? Dia Luhanku-... Jadi menjauh darinya atau aku akan berbuat mengerikan pada kalian! PERGI!"

Luhan tertawa tak percaya melihat Sehun yang sudah dalam keadaan setengah mabuk. Membuat daripada rasa terimakasih dia lebih memilih ingin memaki Sehun saat in. "PERGI!"

"Berhenti berteriak dan ikut aku."

Luhan menghentikan semua kekacauan yang dia dan Sehun buat. Sedikit mendengus marah sebelum menarik kasar pergelangan tangan Sehun untuk pergi dari tempat sialan ini. Entah jenis kemarahan apa yang sedang ia rasakan saat ini. khawatir atau benar-benar marah dia sama sekali tak bisa membedakan. Yang jelas-...Dia hanya menginginkan Sehun untuk menjauh dari club sialan ini sebelum dia semakin mengacau dan menggila di dalam.

"Luhan..Aku senang kau datang. Aku kira kau akan mengabaikan sambungan yang kau buat."

Langkah kaki Luhan terhenti saat mendengar racauan gila dari teman kecilnya. Membuatnya menghempas kasar tangan Sehun sebelum menatap marah padanya "Kau sengaja melakukannya?"

"Ya-... Aku melihatmu dan kakek keluar dari rumah. Diam-diam aku mengikuti kalian hingga ke restaurant dan sengaja menyewa dua noona untuk menggodaku. Aku tahu kau akan melihatnya. Dan disinilah dirimu-... Masih mempedulikan aku dan datang untuk memastikan aku baik-baik saja."

"Kau gila!"

"AKU GILA KARENAMU!"

Luhan sedikit tersentak saat Sehun tiba-tiba berteriak didepannya. Membuat kedua bibirnya tertawa kesal sebelum kembali menatap marah pada Sehun "Aku rasa kau bisa pulang sendiri. Aku pergi."

Sehun menggeleng cepat melihat Luhan memasuki mobilnya. Membuatnya tak memiliki pilihan lain selain mecegahnya pergi dengan menarik lengan Luhan dan

Hmphhhh..

Sehun menghimpit tubuh Luhan di mobil kakek Kim. Sedikit mengunci pergerakan Luhan sebelum bibirnya bergerak liar di bibir Luhan. Luhan yang masih terkejut bahkan tidak menyadari apa yang sedang dilakukan Sehun sebelum rasa sakit di bibirnya menjalar hingga ke hatinya. Membuat dirinya yang hampir lemas mengumpulkan seluruh tenaganya sebelum mendorong kasar tubuh Sehun yang terasa lebih kuat karena dirinya setengah mabuk saat ini.

"brengsek! APA YANG KAU LAKUKAN!"

"Ck. Apa yang aku lakukan? Biar aku memberitahu apa yang aku lakukan!"

Katanya menggenggam kencang Luhan dan membawa Luhan ke motel terdekat yang sengaja ia sewa malam ini "SEHUN LEPAS!"

Sehun tak mengindahkan teriakan Luhan saat ini. Dia bahkan mendengar suara ketakutan Luhan yang terbungkus rapi di balik kemarahannya. Membuat semua akal sehat Sehun menghilang saat mengingat bagaiamana Luhan tertawa lepas dengan tangan Taecyeon melingkar di tubuh pria mungilnya. Dia bahkan tidak bisa memberikan toleransi lagi pada Luhan mengingat apa yang sudah ia lakukan pagi ini.

"SEHUN!"

Blam...!

Sehun menutup kasar kamar motelnya sebelum kembali menghimpit kasar tubuh mungil Luhan ke dinding kamar motel "Kau pikir apa yang kau lakukan?"

Luhan bertanya dengan tangannya terkepal di depan dada Sehun, menahan teman kecilnya itu agar tidak semakin mendekat walau ia tahu itu semua adalah hal yang terbilang sia-sia.

"Kau akan segera tahu." Katanya mengangkat dagu Luhan agak kasar hingga kepala Luhan terpaksa mendongak mengikuti gerakan tangan Sehun. "Sehun! Kau sedang mabuk. Jangan-...Sehun! ...hmpphh"

Bibir mungil Luhan kembali dibungkam kasar oleh bibir Sehun. Membuat Luhan kembali kehilangan kata-katanya dan tak mampu meneruskan apa yang ingin ia katakan.

Kedua tangan Luhan yang mengepal memukul dada Sehun. Membuat Sehun melepas ciumannya sejenak lalu mengangkat kedua tangan Luhan ke atas dan kembali melumat kasar bibir Luhan sementara tubuhnya digunakan untuk merapatkan badan Luhan ke dinding kamar dengan tangan kanan yang terus bergerak ke bawah menuju pinggang ramping Luhan, dan merengkuhnya lebih erat.

"Hmmm ... mmm"

Kepala Luhan bergerak ke kanan dan kekiri, sementaranya mulutnya tertutup rapat ketika lidah Sehun memaksa untuk masuk ke dalam rongga hangat tersebut. Tak habis akal-... di gigitnya bibir bawah Luhan hingga rasa asin samar terasa di lidah Sehun.

"argh!"

Luhan memekik kesakitan hingga dan otomatis membuka mulutnya. Membuat Swehun tak membuang-buang kesempatan menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Luhan dengan cepat. Menekan, menghisap-... Semua yang ia lakukan begitu dipenuhi nafsu dan terburu-buru di lidah Luhan.

"Sehun Le-lepas!" Luhan memberontak ketika Sehun melepaskan lumatan kasarnya. Namun seolah dikuasai nafsu dan setan. Sehun tidak mengindahkan apapun yang coba dikatakan Luhan. Dia bahkan kembali mencengkram kasar lengan Luhan sebelum

Brak..!

Sehun menghempas kasar tubuh Luhan ke atas tempat tidur. Mengukung pria yang begitu ia rindukan dia dibawahnya dengan tangan yang terus bergerak melucuti seluruh pakaian Luhan.

"Jangan lakukan atau aku semakin membencimu." Katanya menahan tangan Sehun yang membuka kancing terakhir kemejanya. Dan seolah dibutakan rasa marah dan rindunya. Sehun kembali menghempas tangan Luhan dan membuka kancing terakhir kemeja Luhan sebelum membuangnya begitu saja ke lantai.

"SEHUN!"

"KAU MEMANG MEMBENCIKU!-.. JADI LAKUKAN APA YANG KAU MAU SEMENTARA AKU MELAKUKAN APA YANG AKU MAU!" katanya berteriak marah dan kembali melumat kasar bibir Luhan.

Tanpa balasan dari Luhan, Sehun kembali mencium kasar bibir merah Luhan. Tangannya kembali mencengkram tangan Luhan dan menyesap rasa anyir yang sempat keduanya rasakan. Dan tanpa ijin dari Luhan-.. Sehun kembali memasukan lidahnya pada mulut Luhan. Menyesap apapun yang berada di dalam mulut Luhan dengan kasar dan tak memikirkan perasaan Luhan sama sekali.

Sebagai balasan-... Luhan tak membalas sedikit pun lumatan Sehun. Dia menangis bukan karena rasa sakit di tubuhnya. Namun karena hatinya yang jauh lebih merasakan perih dan sakit. Ini semua tidak sama dengan percintaan mereka yang pertama. Percintaan yang dipenuhi kelembutan dan pengertian kini berbanding terbalik dengan malam ini-.. kasar dan egois. Membuat air mata Luhan terus jatuh karena tak mampu untuk menghindar dari teman kecilnya yang begitu kuat dan tak berperasaan malam ini.

Sehun terus melumat bibir merah Luhan, tangannya kirinya berpindah ke tengkuk Luhan dengan maksud ingin memperdalam ciumannya. Terus menyesap kuat bibir mungil Luhan membuat Luhan bergerak pasrah di bawah Sehun.

Dan setelah puas bermain dengan bibir Luhan, Sehun melepas lumatannya. Melepas cengkraman tanggannya hingga tercetak jelas bekas kemerahan akibat terlalu kuatnya cengkraman Sehun.

Sehun kembali tak memperdulikannya dia semakin mendorong kasar Luhan dan menarik kasar celana Luhan. Membuat tubuh Luhan yang tanpa cela itu kini benar-benar polos di depan Sehun.

Sehun kembali mengabaikan tatapan ketakutan dari Luhan. Sebaliknya-...Tanpa rasa bersalah dia melepas seluruh pakaiannya. Menampilkan tubuh sempurnanya yang kini sama polos dengan tubuh Luhan dan setelah semua pakaiannya terlepas, Sehun kembali menindih tubuh Luhan. Melumat kasar bibir Luhan yang sudah membengkak secara berulang.

Sementara bibirnya bermain di bibir Luhan maka tangannya tak tinggal diam, tangan kirinya dengan lihai meremas nipple Luhan. memelintir dan menariknya kasar. Sedangkan tangan kanannya sibuk meremas pantat kenyal Luhan. Sehun bahkan sengaja menggesekkan kejantanannya pada kejantanan Luhan dengan menekan dan menggesek secara kasar membuat sensasi nikmat yang jelas tidak bisa ditutupi Luhan walau dirinya terlalu marah saat ini.

"hmphhhh" suara leguhan terdengar jelas dari bibir Luhan yang terkunci lumatan bibir tipis Sehun. Membuat seringai juga terlihat jelas di wajah Sehun yang masih sibuk memuja tubuh mulus tanpa cela milik teman kecilnya.

Di sela ciumannya-.. Sehun merasakan rasa asin yang begitu menyengat di mulutnya. Dia tahu dengan jelas bahwa itu air mata Luhan. Namun Sehun tak memperdulikannya, dia terus memberi rangsangan pada tubuh Luhan tanpa menurunkan tempo melumat kasar bibir Luhan dan tak berperasaan.

Dan seolah tak habisnya memuja tubuh mulus Luhan, Sehun perlahan menurunkan ciumannya. Wajahnya ia dekatkan pada leher jenjang Luhan, sedikit meniupnya sebelum menjilati permukaan leher Luhan, menghisapnya kemudian.

"arrhhh"

Luhan memekik saat Sehun menggigit kencang lehernya. Tubuhnya sudah berulang kali meronta namun itu sama sekali tak menghentikan perbuatan kasar Sehun pada Luhan-.. Dan entah setan apa yang sedang berada di otak Sehun, dia semakin kasar memperlakukan Luhan. mulutnya berpindah pada dada Luhan, menghisap nipple Luhan dengan kuat hingga meninggalkan bercak keungguan di dada Luhan. Membuat Luhan terus menangis dan menggeliat di bawah Sehun dan lagi-... itu percuma

"aahhh. . ."

Sehun menghentikan seluruh kegiatannya. Dia memaksa Luhan kembali menatapnya. Dan setelah menerima tatapan kebencian dari Luhan, dia beralih melihat tubuh Luhan. Sedikit menyesal telah membuat peluh membanjiri tubuh Luhan, rambut Luhan yang terlihat berantakan, mata yang menatapnya sayu dan penuh kebencian serta air mata yang terus mengalir, bibirnya merah bengkak dengan isakan kecil yang sangat terdengar. Dan terakhir-... leher dan dada Luhan penuh kissmark keunguan dengan kejantanan Luhan yang sudah menegang sempurna dan telah mengeluarkan cairan pre cum nya.

"Kau akan membenciku kan? Kau boleh melakukannya. Tapi setidaknya biarkan aku menyentuhmu malam ini." katanya berbisik frustasi di telinag Luhan sebelum

"Sehun!-..nghhhh.."

Tubuh Luhan sedikit terangkat saat tangan hangat Sehun meraih kejantanan Luhan yang telah menegang sempurna, mencengkramnya kasar dan kini mengocoknya dengan tempo yang membuat Luhan menggila karena nikmat namun terasa begitu hina saat ini.

"arhhh. ..Sehunna!"

"Shhh... Kenapa tidak mencoba memannggil namaku seperti saat pertama kita. Itu seksi Luhan." Katanya menggoda dan terus mengocok kejantanan tegang Luhan dengan cepat dan membuat Luhan semakin menggeliat resah dibawahnya.

"aahhh. . .ssshhh"

"Setelah aku memasukimu. Kau akan merasa lebih nikmat sayang-.. Lihat kejantananku bahkan sudah menegang sempurna-...nghhh" Katanya memaksa tangan kecil Luhan menyentuh kejantanannya. Membuat ringisan nikmat jelas ditujukan saat tangan Luhan dia paksa untuk menggesek kejantanannya agak kasar.

Sehun bahkan menggila sendiri saat tangan Luhan menyentuh juniornya. Membuat dirinya sedikit tak bisa menahan diri dan mulai mengalihkannya dengan mengulum junior Luhan yang terlihat menggoda untuknya

"ssshhh. . .aaahhh" Luhan terus mendesah saat juniornya sudah berada di rongga hangat mulut Sehun. Tubuhnya bahkan mengangkat ke atas saat Sehun menghisapnya kuat, menggesekan gigi putihnya pada junior Luhan sementara tangan lainnya ia gunakan untuk meremas twinsball Luhan, menariknya lembut, menekan lalu kemudian memelintirnya agak kasar.

"aarrggghhh. . .Sehunna! "

"nghhh"

Mendengar Luhan memanggil namanya membuat Sehun bersemangat mengulum kejantanan Luhan dan menghisapnya kuat. Sedikit menyeringai saat merasakan junior Luhan semakin membesar dan berkedut. Dia tahu Luhan akan berada pada klimaks pertamanya. Membuatnya berbaik hati untuk membiarkan Luhan lepas dengan menghisap kuat junior Luhan dan.

"aarrhhh. . . Sehunna. . .aahhhh" Luhan melenguh nikmat. Tubuhnya menegang dengan pinggulnya yang terangkat mengeluarkan klimaks pertamanya malam ini dengan Sehun yang menghisap seluruh sperma Luhan,kemudian melepas kulumannya. Dia bahkan menelan cairan Luhan dengan mata yang menatap lama mata Luhan seolah memberitahu Luhan bahwa hanya dia satu-satunya pria yang boleh membuat Luhan tergeletak begitu seksi dibawah seseorang.

Luhan mengerti tatapan yang ditujukan Sehun untuknya. Namun seolah tak ingin berterimakasih karena Sehun telah membuatnya merasakan nikmat. Dia lebih memilih marah dan benci pada teman kecilnya yang secara tak langsung telah melecehkan dirinya.

"Sehun!"

Seolah tak diberikan waktu untuk bernafas-...Luhan yang sedang berbaring terlentang harus pasrah saat Sehun menarik kakinya. Sehun bahkan tanpa ragu melipat kaki Luhan dan membukanya lebar hingga lubang berwarna merah muda itu jelas terlihat didepan matanya.

Jantungny bahkan berdebar hebat saat mengingat betapa nikmatnya lubang kecil kemerahan itu. Membuatnya sedikit menyeringai dan mulai menjilati sekilas lubang Luhan dengan kedua jari yang langsung menerobos masuk ke lubang Luhan.

"Sehun sa-..kith..."

"Kau akan merasa lebih baik sayang."

Entah mengapa mendengar Sehun memanggilnya sayang membuat hati Luhan sedikit tergerak. Membuatnya mencoba untuk mempercayai Sehun dan membiarkan Sehun mengoyak lubangnya dengan kedua jari serta lidah yang sesekali menerobos masuk diibawah sana.

Merasa Luhan sudah mendapatkan pemanasan yang cukup membuat Sehun mengurut kejantanannya sendiri sebelum mempersiapkan kejantannya menghujam lubang Luhan untuk yang kedua kalinya malam ini

"Aku akan memasukkannya sekarang. Aku tidak tahan lagi Lu"

Luhan menggeleng sebagai penolakan. Namun tentu saja itu adalah hal sia-sia mengingat dibawah sana Sehun sedang menusuknya beberapa kali dengan kejantanan besar dan perkasa miliknya yang terus memaksa masuk hingga

"aarrggghhhh"

Luhan memekik hebat tak tahan dengan rasa panas dan nyeri dibagian bawahnya. Membuat dirinya mencengkram kasar pundak Sehun dan meminta teman kecilnya untuk mengeluarkan kejantanan besar yang untuk kedua kalinya seperti merobek kasar lubangnya. "Sehun keluarkan! Sakit..nghhhh. Sakit Sehun!" katanya berteriak dan berusaha meminta Sehun untuk mengeluarkan apapun yang sedang berada dalam dirinya saat ini

"Ini nikmat Lu-... ssshhh. . ."

Berbanding terbalik dengan Luhan yang masih kesakitan-.. Sehun sudah merasakan luar biasa nikmat walau hanya berdiam di lubang Luhan. membuatnya tertarik untuk menghujam semakin dalam sebelum menggerakan tubunhyan dan mulai memompa kejantanannya.

Awalnya Sehun mengeluar masukan juniornya dengan lembut dan dengan tempo yang sudah bisa disesuaikan dengan tubuh Luhan. Namun seiring hentakan yang ia lakukan. Maka semakin dalam pula kejantanannya tertelan di lubang Luhan. Membuat sensasi rematan yang begitu menggairahkan terlalu ia rasakan sampai tak sadar kalau hujamnnya terlampau keras hingga membuat Luhan terhentak saat ini

"arrgghhh. . ."

"sshh. . so tight Luhan. .ouuhhh"

"aahhhh-..."

Luhan mendesah panjang saat Sehun menemukan titik yang membuatnya menggelinjang nikmat dan tanpa berkata-kata pula-.. Sehun menaikkan temponya menghujam tempat yang sama dengan tempo kasar dan cepat.

"aahhh. . .Sehunna. . .sshh. . .aahhh"

"Mendesahlah sayang.. Mendesahlah...ssshhh" Katanya mencium bibir Luhan sekilas sebelum mengeluarkan sebatas kepala juniornya dan berniat untuk memberikan hentakan terakhir yang kuat pada Luhan.

Merasa Luhan menatapnya memohon membuat kesenangan tersendiri pada Sehun. Maka Sehun dengan senang hati menyatukan tubuh mereka agak kencang sebelum kembali menghentak kasar titik kenikmatan Luhan dan

"Sehunna-..aahh. . .aahhhh" Luhan menggelinjang nikmat saat Sehun berhasil membuat dirinya mencapai klimaks kedua. Sedikit dipenuhi peluh dan benar-benar lelah-.. Lelah menangis dan lelah menghadapi permainan Sehun yang jelas melecehkan dirinya.

"Menungginglah."

Sehun tak berbaik hati membiarkan Luhan beristirahat dan dengan tak sabar, dia membalik paksa tubuh Luhan. menarik pinggang Luhan kemudian menghujamkan kejantanannya kembali

"arrghhhh. . ." Luhan kembali meringis hebat dengan air mata yang kembali membasahi pipinya. Dia tidak pernah merasa sehina ini dalam hidupnya dan terimakasih kepada Oh Sehun-... teman kecil serta cinta pertamanya yang telah membuat Luhan merasa begitu terhina sepanjang dirinya bernafas di dunia.

"sshhh. . Aku masih menginginkan tubuhmu Lu" Katanya tanpa perasaan dan terus memaju mundurkan tubuhnya dengan cepat dan kasar. "aahhh. . ."

"arrghhhh"

Kali ini Sehun kembali mengganti posisinya. Dia kembali menarik tubuh Luhan dan memangku Luhan diatasnya. Dia bahkan memegang pinggang Luhan yang terasa sangat nyeri untuk dinaik turunkan hingga kejantanaannya masuk sempurna ke lubang Luhan dalam pangkuannya.

Luhan tak tahan lagi dengan rasa nyerinya. Membuat kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri tak tahan dengan rasa nyeri setiap kali Sehun menurunkan tubuhnya lalu disambut dengan junior besar yang sepertinya masuk hingga menembus ke perutnya

"ahhh Sehunna. . .sa-kithhhhmmp. . "

"Sebentar lagi Lu, sshhh. . .ohh. ." katanya mencium pundak Luhan dan merasa begitu nikmat saat junior Luhan beberapa kali menekan perutnya. "Lu, bergeraklah"

Luhan hanya ingin percintaan ini segera berakhir. Membuatnya lebih memilih mengikuti ucapan Sehun dan dengan perlahan menggerakkan tubuhnya naik turun.

"sshh. . .lebih cepat Lu"

"Aku tidak bisa-..sshhh..arggh!"

Luhan sedikit memekik saat Sehun kembali memegang pinggangnya dan menurunkan tubuhnya secara kasar dan berulang.

"Sakithh... .."

"Sebentar lagi sayang oohhh..sshhh.."

Sehun kembali membaringkan Luhan. membuka lebar kaki Luhan sebelum kembali memasukkan juniornya ke dalam lubang Luhan. rasanya begitu nikmat hingga kau benar-benar gila untuk terus mencari kenikmatan dibawah sana. Sehun menaikkan kedua kaki Luhan ke bahunya sementara kejantanannya bergerak liar dan dalam menumbuk kedalam tubuh Luhan

"aahhh. . Sehunna. . ."

"oohhh. . ..ssshh,… Luhannaahhhh"

Keduanya meraskan klimaks bersamaan. Sperma Sehun memenuhi rektum Luhan sementara sperma Luhan mengotori perut dan selimut di kamar motel. Keduanya bahkan memejamkan mata untuk menikmati percintaan penuh kemarahan dan kebencian yang dilakukan malam ini.

Nafas mereka bersahutan. Sampai akhirnya Luhan membuka mata dan kembali menatap benci dan marah pada pria di atasnya. Dia bahkan memukul kencang dada Sehun untuk segera beranjak dari tubunya dan mengeluarkan kejantanannya yang masih berada di dalam tubuhnya.

Sehun sendir tahu hal ini akan terjadi. Tatapan marah dan benci khas seorang Luhan tengah ia nikmati saat ini. membuatnya tak memiliki alasan lebih lama lagi untuk membuat Luhan semakin membenci dirinya "Luhan..."

Luhan terlalu memaksakan dirinya saat ini. Dia jelas kesakitan dan kesulitan berdiri, namun dia terus memaksakan untuk turun dari tempat tidur dan memakai seluruh pakaiannya walau harus terjatuh berkali-kali.

"Luhan jangan seperi ini. Menetaplah malam ini. Aku yang akan pergi."

Luhan tak mengindahkan seluruh ucapan Sehun-.. Dia hanya terus memakai seluruh pakaiannya yang berceceran dengan ringisan kesakitan yang jelas terlihat di wajahnya.

"ssshh..."

Dan bagian yang paling menyakitkan adalah saat dia ingin memakai celananya. Kakinya begitu lemas dan selangkangannya begitu sakit. Dia bahkan ingin menangis namun Demi Tuhan-.. Dia sudah kelelahan menangis sepanjang percintaannya dengan Sehun beberapa waktu lalu.

Sehun sendiri tak tega melihat Luhan begitu kesakitan karena ulahnya. Membuatnya memakai cepat boxer yang ia buang tak jauh dari tempat tidur. Lalu berjalan mendekati Luhan untuk membantu Luhan memakai celananya "Biar aku bantu."

"LEPAS!"

Luhan bahkan sudah tak sanggup lagi beteriak-.. Namun Sehun terus memaksanya berteriak. Membuat air mata sialan itu kembali jatuh karena begitu sakit hati dengan semua yang dilakukan Sehun malam ini.

Seolah tak menghiraukan kemarahan Luhan-.. Sehun terus memaksa membantu Luhan memakai celana dan kemejanya. Sedikit merasa kesakitan karena Luhan terus memukulinya sampai akhirnya dia berhasil memakaikan seluruh pakaian di tubuh Luhan.

Keduanya kembali bertatapan malam ini. tatapan yang bertolak belakang tentu saja-.. Jika Luhan menatap Sehun penuh kebencian-.. Maka Sehun menatap Luhan putus asa. Dia seolah ingin memberitahu Luhan bahwa apapun yang telah dia lakukan malam ini hanya untuk mencuri sedikit perhatian Luhan untuknya.

Sehun tahu dia sudah diluar batas. Tapi apa dia memiliki pilihan lain?-... Jawabannya tidak-.. Bagaimana bisa dia memiliki pilihan lain jika Luhan terus menghindar dan tak ingin bertemu dengannya. Membuat dadanya begitu sesak setiap kali menyadari ketidak hadiran Luhan di sekitarnya terlalu lama. "Maaf Luhan-...Maafkan aku. Aku-..."

PLAK...!

Menurut Sehun tamparan kedua Luhan untuknya sama sekali tak setimpal. Dia bahkan lebih memilih Luhan untuk membunuhnya atau melakukan hal keji apapun selain menampar dirinya. Hatinya bahkan merasa begitu sakit saat tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Luhan.

"Luhan aku-..."

"AKU MEMBENCIMU OH SEHUN!" katanya berteriak marah dan tak lama berlari meninggalkan Sehun yang seketika terduduk lemas di tempat tidur yang belum lama ia gunakan untuk membuat Luhan membecinya.

Bibirnya tersenyum lirih saat mendengar kalimat yang ia takutkan sedari awal pertemuannya dengan Luhan. Membuatnya mengusak kasar wajahnya menyadari satu hal-... Jika kau menerima kata benci dari Luhan Itu artinya kau adalah orang asing untuk Luhan. Dan saat Luhan mengatakan benci pada Sehun. Maka mulai malam ini-... Sehun hanyalah orang asing untuk Luhan –tak ada lagi teman kecil. Yang ada hanya dua teman kecil yang berubah menjadi dua orang asing-.

.

.

.


tobecontinued

.


riweh riweh.. Kaya drama rengginangnya SM yang ga kelar2 -,-

.

niway...ga di skip kan? kkkk:v

.

Ketemu di nextchap yak :* Nextchap ngumpul smua.. *siapa yang ngumpul semua? :'V

.

Happy reading review...mmuach