Brokenheart
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Warn : AU, OOC, Typo(s), dll.
.
.
.
Don't Like Don't Read
.
Happy reading minna-san!
.
.
.
Chapter 13
"Kita finish un!"
"Benar senpai! Tapi aku yang pertama menginjakkan kaki di aspal. Aku yang menang!" Senpai yang sering bertingkah kekanakkan padahal aslinya sadis dan kejam itu terkekeh.
"Tidak Tobi," sangkal Hidan-senpai. "Lihat, kakimu baru satu sedangkan kakiku sudah di aspal semua!" Gantian Hidan-senpai yang tertawa menang. Ia memiting kepala Tobi-senpai dan mengacak kasar rambut hitam jabriknya. Khasnya. Aku juga sering diperlakukannya seperti itu.
"Kau kalah bocah!" lanjutnya.
"Lepaskan aku senpai!" Tobi-senpai memberontak untuk melepaskan diri.
"Kalian berdua hentikan. Kekanakkan sekali," dengus Kakuzu-senpai.
"Abaikan mereka. Kita sebaiknya membuat kenangan," usul Kisame-senpai. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya kemudian melemparkannya pada Pein-senpai. Aku terkejut, itu kan berbahaya. Tapi Pein-senpai dengan mudah menangkapnya. Ia berjalan ke sebuah pohon di dekatnya dan menggores batang pohon itu menggunakan pisau lipat tadi.
Aku membaca apa yang barusan dituliskan Pein-senpai di batang pohon tadi setelah ia menyingkir. Kami seperti didikte membaca kanji yang digoresnya.
Akatsuki + Hinata.
Aku tersenyum melihatnya. Meski sederhana tapi bagiku itu adalah sesuatu yang manis, lihat dulu siapa yang membuatnya. Pein-senpai a.k.a leader Akatsuki yang notabenenya ditakuti seluruh KHS dan musuh-musuhnya. Tanpa mengenal ia yang sebenarnya rasanya tidak mungkin membayangkan hal sesederhana itu akan bisa dilakukan oleh pemuda bersurai jingga itu. Mungkin aku akan langsung menyangkal itu andai aku tidak pernah jadi korban bullying mereka.
"Tidak buruk juga," komentar Itachi-senpai. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping kanan pohon itu. "Foto?"
"Siap un!"
"Oke senpai!"
"Yosh!" seru Hidan-senpai.
Ketiga orang itu langsung berpose di sisi lain pohon. Hidan-senpai yang tepat di samping pohon, tangannya menunjuk pada tulisan itu. Dei-senpai yang ada di sebelahnya juga melakukan pose sama sehingga membuat tanda tunjuk itu bertingkat. Tobi-senpai membuat tanda peace dengan kedua tangannya. Mereka benar-benar bersemangat.
"Ayo cepat minna!" ajak Tobi-senpai.
Kecuali Zetsu-senpai yang sedang menyetel kamera menggunakan tripodnya semua anggota mulai menempatkan diri. Aku sendiri berdiri di antara Itachi-senpai dan Sasori-senpai. Aku tidak terlalu banyak bergaya, hanya membuat tanda peace di samping pipi. Itachi-senpai dan Sasori-senpai hanya berdiri tanpa pose. Bahkan tersenyum pun belum.
Pein-senpai dan Konan-senpai setengah jongkok di depan pohon. Kisame-senpai dan Kakuzu-senpai berdiri di belakang pohon dan hanya menampilkan setengah tubuh mereka. Keduanya seperti muncul dari sisi kanan kiri pohon.
Baru setelah hampir satu menit Zetsu-senpai bergabung dengan anggota lain di samping trio berisik Akatsuki. Pohon itu menjadi pusat objek foto kami. Latar belakangnya adalah pepohonan hutan yang masih rindang.
"Hitungan ketiga say cheese minna!" ucap Zetsu-senpai.
"Satu!"
"Dua!"
"CHEESE!"
.
.
.
Tiga hari lagi semester baru akan dimulai, artinya liburan musim panasku akan segera berakhir. Tahun ini aku memiliki dua liburan musim panas, satu bersama Akatsuki dan yang lain bersama keluargaku. Meski tidak bisa dikatakan murni liburan karena kami hanya ikut perjalanan bisnis Otou-san selama tiga hari ke Otogakure.
Kota kecil itu benar-benar indah. Seperti namanya, kota yang masih sejuk karena banyaknya pohon-pohon yang tumbuh di sana memang benar-benar berbunyi. Hampir di setiap sudut kotanya banyak musisi jalanan yang gemar menunjukkan bakat. Entah itu bermain solo atau dalam grup band. Ada juga idol grup amatiran. Tapi semua itu nampaknya sudah cukup lazim di kota musik itu.
Saat aku menyaksikan live music show di alun-alun kota aku merasa deja vu. Suasananya mirip dengan saat aku nonton Akatsuki di taman kota. Ah, mengingat itu aku jadi merindukan mereka. Sudah seminggu aku tidak bertemu mereka.
"Nee-san, boleh aku masuk ke kamarmu?" Hanabi melongokkan kepalanya dari daun pintu yang kubuka setengahnya. Surai coklat panjangnya yang diikat pony tail jatuh ke bahunya.
"Tentu."
Begitu mendengar persetujuanku ia langsung bergegas masuk dan melompat ke ranjangku. Hanabi mengenakan kaos bergambar ikon kota Otogakure yang dibelinya sebagai oleh-oleh. Aku juga memiliki satu yang sama persis dengannya.
"Kau sedang apa Hinata-nee?"
"Hanya melihat foto."
Hanabi mengintip. "Oh foto liburan di Oto ya?"
Ia mengambil sebuah potret kemudian potret-potret lainnya. Adikku ini begitu asik mengamatinya, ia tak jarang tersenyum mengingat setiap momen yang terabadikan dalam bidang dua dimensi itu.
"Eh, foto siapa ini?" Hanabi memamerkan selembar foto. Foto liburanku bersama Akatsuki dan itu gambar saat Dei-senpai menggerai rambutnya. Dalam gambar itu ia sama sekali tidak kelihatan kalau ia adalah laki-laki. Penampilannya begitu alami seperti seorang gadis. Hanabi bisa salah mengira.
"Temanmu? Cantik sekali... matanya biru..."
Benar kan.
Aku terkikik pelan melihat responnya yang menatap kagum foto Dei-senpai.
"Kenapa tertawa?"
"Dia laki-laki Hanabi."
"Eh?!" Mata serupa milikku itu terbelalak. "Tidak mungkin..."
Aku mengambil foto lain dan menunjukkannya pada Hanabi. Foto kami yang sedang bermain di sungai saat menjelajah hutan. Di sana para laki-laki Akatsuki tengah bermain air dengan melepas pakaian atas mereka. Tentu ada foto Dei-senpai juga.
"Lihat. Aku tidak bohong kan?"
Hanabi ternganga melihatnya. "Dia bishounen sekali," gumamnya. "Tapi imut juga kalau ekspresinya begini."
Hanabi memperlihatkan foto saat Dei-senpai menggembungkan pipinya. Dia tidak melihat ke arah kamera. Candid. Aku ingat, itu adalah kejadian saat ikan bakar yang Dei-senpai sisihkan habis dimakan Tobi-senpai dan Kisame-senpai. Ia sangat kesal.
"Ne, Nee-san. Kelihatannya teman-temanmu menyenangkan?"
"Sangat." Aku mengangguk untuk menguatkan.
"Tapi, apa hanya ada seorang perempuan saja di sini?"
"Itu bukan masalah buatku Hanabi. Mereka orang-orang yang baik," yakinku.
"Sepertinya begitu..."
Hanabi mengamati lama foto kami saat di pohon dengan tulisan Akatsuki + Hinata itu. Itu merupakan foto kesukaanku. Aku berencana akan membelikan pigura dan memajangnya di kamar. Mungkin besok.
.
.
.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
"Uhh..."
Aku melenguh mendengar ponselku yang terus berdering padahal aku sudah menolak panggilan itu dua kali. Siapa sih yang menelepon sepagi ini? Sebenarnya aku ingin memanjakan diri dan bangun agak siangan, tapi benda persegi canggih itu menggangguku. Kali ini saja aku ingin mengutuk penemu ponsel.
Dengan berat hati dan tanganku memang terasa berat, aku meraih smartphone milikku yang tergeletak di samping bantalku.
"Moshi-mosh—"
"Berani sekali tidak mengangkat teleponku?!"
Aku mengernyit mendengar nada tak suka dari seberang. Ia bicara terlalu keras dan membentak.
"Siapa?" gumamku.
"Kau tidak menyimpan nomorku Hinata?"
Aku langsung tersentak dan terbangun saat mengenali suaranya. Untuk memastikannya aku melihat pada layar ponselku. Benar saja...
"Pein-senpai?"
"Apa kau berharap Naruto yang meneleponmu?" ucapnya sarkastik.
Aku memutar bola mataku jengah. Sikap menyebalkannya kambuh. "Gomen senpai, aku baru saja bangun."
"Jam segini? Dasar pemalas."
"Tidak salah kan kalau aku memanjakan diri? Lagian kenapa senpai meneleponku sepagi ini?" tanyaku. Maklum saja, hal seperti ini jarang sekali.
"Cepat bersiap."
"Mau kemana?"
"Jangan banyak tanya. Aku sudah menunggu di depan rumahmu."
"Heih?!"
Aku langsung berlari ke jendela dan membuka gorden berwarna putih yang menggantung. Benar saja, di jalan sudah ada Pein-senpai yang melambaikan tangan padaku. Dari mana ia tahu letak kamarku?
Lupakan soal itu. Wajahnya sudah menampilkan mimik kesal.
"Tunggu sebentar! Aku akan siap dalam lima belas menit!"
Setelah mematikan ponsel aku langsung melemparnya ke atas kasur. Dengan bergegas aku membersihkan diri di dalam kamar mandi. Aku menyahut asal baju dari gantungan lalu mengenakannya sekenanya. Aku juga tidak menata rambutku, hanya menyisirnya agar tak kelihatan berantakan.
Langkah kakiku berderap menuruni tangga. Anggota keluarga sedang bersantai di ruang keluarga saat aku melirik sekitar.
"Jangan berlari di tangga Hinata," tegur ayahku. Ia sedang membaca koran paginya ditemani secangkir teh herbal.
"Mau kemana Hinata?"
"Aku akan pergi keluar Neji-nii!" sahutku sambil berlari kecil di dalam rumah.
"Hinata!"
"Ha'i!" Aku langsung menghentikan lariku begitu ayah menaikkan nada suaranya. Aku memang sudah melanggar peraturan rumah.
"Ittekimasu!"
Aku mendorong gerbang yang menutupi rumah. Kepalaku mencari ke arah kanan dan kiri, tidak ada Pein-senpai dimanapun. Ia tidak akan mengerjaiku. Aku sendiri sudah melihatnya. Tapi dimana dia?
"Kau melihat kemana?"
Aku terkejut saat Pein-senpai muncul dari beranda rumah depan rumahku. Sedang apa dia disana?
"Bukankah sudah kubilang kalau aku menunggu di depan rumahmu?"
"Tapi kenapa di rumah orang lain?" tanyaku bingung.
"Disana ada bangku. Aku masih butuh duduk," ketusnya.
"Gomen..." ujarku. "Dimana yang lain senpai?"
"Tadi aku bilang aku bukan kami."
Aku hanya manggut-manggut saja. Berdebat dengannya saat sedang kesal bukanlah pilihan baik. "Kita akan pergi kemana senpai?"
"Kemana saja."
Pein-senpai berjalan mendahuluiku. Aku harus mengambil langkah lebar untuk menyamai langkah kakinya. Kami tidak banyak bicara selama perjalanan menuju halte bus. Bahkan di dalam bus pun kami sibuk sendiri.
"Sebenarnya apa tujuanmu membawaku ke sini?" tanyaku saat kami sudah berada di pusat kota. Dimana banyak toko berjajar saling bersaing untuk menarik minat pelanggan. Liburan seperti ini pusat kota lebih ramai dari biasanya.
"Tidak mungkin kan kau mengajakku berkencan?" ceplosku. Dan aku memang benar-benar keceplosan.
Pein-senpai menatapku datar setelahnya. Dia mendorong kepalaku menggunakan jari telunjuknya. "Jangan berkhayal."
Ugh.
Bodohnya aku. Bagaimana bisa aku mengucapkan hal itu. Membuatku merasa tidak enak saja. Apalagi ditambah jawaban Pein-senpai. Aku jadi ingat pemikiranku soal perasaanku pada Pein-senpai. Saat aku merasakan kecewa karena jawaban ini, apa mungkin aku sudah jatuh suka padanya?
Kuharap tidak. Jika iya, maka aku selalu salah jatuh pada orang yang mencintai orang lain.
"Apa yang kau pikirkan?"
Aku hanya meringis. "Tidak ada," dustaku. "Kenapa kau tidak mengajak Konan-senpai saja? Dia kan kekasihmu?"
"Justru itu. Aku ingin membeli sesuatu untuknya."
"Hadiah?" Pein-senpai mengangguk. "Dalam rangka?"
"Anniversary."
"Waw... aku tidak tahu kalau leader Akatsuki tersayang ini ternyata romantis," godaku. Aku bisa melihat sedikit semu di pipi Pein-senpai.
"Diamlah."
"Kau manis kalau malu-malu Pein-senpai."
Pein-senpai menatapku aneh. Ia menatap lama padaku.
Hinata baka!
"Ap—"
"Tidak ada maksud apa-apa!" sahutku. "Ayo kita cari hadiah untuk Konan-senpai," ralatku. Aku melangkahkan kaki ke sebuah toko aksesoris perempuan yang bercat pink. Girlish sekali.
Ugh... bodohnya aku. Bagaimana bisa aku mengatakan itu pada Pein-senpai. Bagaimana kalau ia curiga padaku? Apa pendapatnya nanti?
Aku tidak mau dicap bersikap melunjak pada orang yang sudah membantuku dengan mencintainya.
Eh?
Apa barusan?
Aku mengakui kalau aku jatuh cinta pada Pein-senpai?
Huffft...
Aku menyerah. Aku memang suka padanya, mungkin juga sudah jatuh cinta padanya. Berbeda dengan Naruto. Kisahku kali ini tidak ada debaran atau adegan manis. Hanya tiba-tiba aku merasa aku sudah menyukainya. Tapi aku sadar perasaan itu terlarang untukku. Aku harus menyerah sesegera mungkin.
"Hinata."
"Nani?"
"Kurasa apapun isi di dalam toko itu tidak akan cocok untuk Konan," kata Pein-senpai. Ia menatap aneh pada toko penuh pernak-pernik wanita itu. Seolah jijik dengannya.
Aku terkikik pelan. "Senpai benar."
"Kau tidak bisa diandalkan." Pein-senpai melangkah mendahuluikiu lagi. Ia berjalan cukup pelan kali ini.
"Kalau begitu kenapa mengajakku?"
"Kau pikir siapa lagi yang pantas untuk kuajak? Para laki-laki itu? Yang benar saja..."
Aku tahu jelas siapa yang dimaksud Pein-senpai. Benar juga. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Pein-senpai mengajak salah satu dari mereka. Pasti tidak akan beres.
"Memang apa yang disukai Konan-senpai?" tanyaku. Aku merasa cerewet karena banyak bicara.
"Tidak ada yang khusus. Menurutmu apa yang cocok untuk dia?" Dia malah balik bertanya.
"Sulit juga ya... Konan-senpai tipe orang yang sulit ditebak."
"Karena itulah aku menyukainya. Dia berbeda dengan gadis yang lain. Alasan klasik kan?"
Aku menggeleng. "Tak apa. Itu cinta Pein-senpai. Siapa yang tahu dia akan berlabuh pada siapa?"
Sama sepertiku. Salah pada dua orang untuk berlabuh.
Pein-senpai menatapku beberapa detik. Ia menatap tepat ke dalam mataku. Itu membuatku risih. Juga berdebar.
"Kenapa menatapku begitu senpai?"
Dia mengacak rambutku. "Kau puitis sekali."
"Orang bilang patah hati membuat kita lebih bijaksana."
"Hinata..."
"Ya?"
"Kau, sepertinya bersikap berbeda jika denganku," ucapnya serius.
"Eh?"
Pein-senpai tidak merespons lagi. Ia tampaknya menunggu mendengar kejelasan dariku. Laki-laki ini peka sekali, padahal aku tidak begitu menyadari sikapku padanya begitu berbeda.
"Mungkin karena aku nyaman bersamamu."
"Maksudmu?" tanyanya curiga.
"Etto... bagaimana aku menjelaskannya ya..."
Pein-senpai masih menunggu.
"Mungkin karena kau terbuka padaku aku jadi merasa aman saja jika mengatakan semua yang kurasakan padamu," jawabku akhirnya. "Mungkin..."
Ada nada keraguan di suaraku. Karena aku tahu ada alasan lain untuk itu.
"Kau yang membuatku begini senpai. Kau yang mengajariku agar aku menjadi diri sendiri kan? Aku sudah mencobanya. Tapi sepertinya aku baru bisa menunjukkannya banyak padamu dan sedikit pada yang lain," lanjutku.
"Tak apa Hinata," balas Pein-senpai.
"Um."
"Tapi Hinata..."
Aku menunggu kelanjutan perkataan Pein-senpai.
"Jangan jatuh cinta padaku. Kau hanya akan sakit hati nanti."
Deg.
Senpai, kau membaca perasaanku? Atau aku terlalu mudah untuk dibaca?
Tapi maaf, aku sudah mencintaimu.
Aku juga baru memutuskan kalau aku mencintaimu hari ini. Aku tahu kau tidak jahat. Aku tahu kau hanya ingin aku tidak merasakan sakit itu lagi.
"Tidak mungkin kan?"
"Syukurlah." Dia tersenyum tulus untukku. "Aku tidak pantas untuk kau cintai. Kau juga jangan salah mencintai orang lagi."
"Hu'um."
Kuharap juga tidak akan lagi senpai. Aku sudah merasakan patah hati dan denganmu aku juga pasti merasakan itu.
Tapi rasanya berbeda denganmu. Tidak seperti saat dengan Naruto, aku tidak terlalu sakit. Mungkin karena aku sudah tahu dari awal kalau aku harus menyerah.
Mungkin juga karena perasaanku tertutupi oleh perasaan pertemanan. Atau mungkin karena kau terlalu baik bagiku untuk kusalahkan.
Entahlah. Masih banyak mungkin-mungkin lain yang bisa kugunakan sebagai alasan. Yang jelas aku kagum padamu dan aku tidak akan menghianati pertemanan yang berharga ini dengan perasaanku. Aku juga tidak ingin menyakiti Konan-senpai. Dan aku juga tak ingin ada perselisihan, jadi biarkan semua ini kusimpan sendirian setidaknya sampai aku kuat menahannya.
.
.
.
..TBC..
.
.
.
AN :
Gomen, gomen... Hinata harus patah hati lagi. Tapi jadi nyambung kan sama judulnya? Hehehe...
Dan...
Arigato buat semua reader yang selalu menunggu, membaca dan mereview fic ini. Terima kasih juga bagi yang sudah fav dan follow.
Jangan lupa untuk terus RnR ya minna-san!
