TAKE MY HEART

EXO Fanfiction

HunKai

Cast : EXO member and other

Rating : T

Warning : BL, Typo

Romance, Humor, Drama, or call it what you want

Previous

"Aku harus menjadi Raja karena secara garis keturunan Jungkook tidak bisa naik tahta. Aku tidak bisa membiarkan tahta jatuh." Jelas Sehun.

"Berarti kau tidak bisa menikah denganku menurut tradisi."

"Ya." Kedua bola mata Jongin membulat sempurna mendengar jawaban Sehun. "Aku tidak akan menikah denganmu, aku tidak akan menikah dengan siapapun."

"Bukankah itu egois?"

"Istana juga egois memaksakan sebuah pernikahan tanpa berpikir jika Pangeran-Pangeran mereka mungkin saja jatuh hati pada orang lain di luar Keluarga Kim."

Jongin menundukan kepala memainkan soda di dalam gelasnya. "Setelah ini apa yang akan terjadi?"

"Entahlah. Asalkan kau bersamaku, asalkan kau percaya padaku semuanya akan baik-baik saja."

Jongin mengangkat kepalanya menatap wajah Sehun kemudian tersenyum tipis. "Terimakasih."

"Untuk?"

"Untuk mencintaiku."

Sehun mengangguk pelan. "Semoga kita bisa menghabiskan semua hidangan ini." Ucap Sehun diselingi tawa renyah di akhir kalimat.

BAB DUA BELAS

"Tidak perlu." Cegah Jongin ketika Sehun mulai membantunya membersihkan meja makan. Namun, Sehun mengabaikan permintaan itu dan melanjutkan kesibukannya. Membuang sisa makanan, meletakan piring dan gelas kotor ke dalam tempat cucian.

"Kau tidak perlu sungkan, sekarang aku bukan Pangeran. Aku Sehun."

Jongin mengangguk pelan, kedua tangannya membuka kran air tempat cucian meletakan semua piring dan gelas kotor di bawah kucuran air. Kemudian satu persatu Jongin mulai mengusapkan sabun pada permukaannya. Sehun berdiri di sisi kanan tubuh Jongin, jaket jins biru yang dia kenakan sudah dilepas menyisakan kaos putih polos berlengan pendek dengan potongan leher V. Menampakan tulang selangka Sehun yang menonjol dan kulit putih bersihnya.

Sehun meminta Jongin mengoperkan gelas dan piring yang dipenuhi busa ke tangannya untuk dibilas. Jongin menuruti permintaan Sehun, dia tidak ingin berdebat kecil lagi karena Sehun sendiri sudah mengatakan jika sekarang dia bukan seorang Pangeran, hanya seorang Sehun.

"Tidak ada lagi?" tanya Sehun sambil menoleh menatap Jongin.

"Semua sudah bersih, terimakasih." Balas Jongin sementara tangan kirinya meraih dua lap bersih dari gantungan, salah satunya dia sodorkan kepada Sehun.

Sehun menerima lap dari Jongin dan mulai mengeringkan kedua tangannya. Ia lantas mendudukan diri di atas konter dan tanpa bisa dicegah pikirannya mulai membayangkan banyak hal. "Bagaimana jika semuanya sederhana saja."

"Sederhana?" Jongin memutar tubuhnya menghadap Sehun, melipat kedua tangan di depan dada. "Sederhana seperti apa?"

"Kita berdua, aku hanya pekerja kantoran biasa, kau juga, kita menikah dan hidup dengan dua anak."

"Kau—menginginkan kehidupan seperti itu? Di luar sana banyak orang bermimpi menjadi sepertimu."

Sehun tertawa pelan. "Mereka tidak mengetahui secara detail. Mereka hanya berpikir tentang harta, tahta, dan ketenaran."

"Apa kau menderita selama ini?"

"Bukan menderita, kurasa lebih tepat disebut sebagai beban. Beban ketika semua yang kau lakukan dan putuskan akan mempengaruhi kehidupan banyak orang."

"Kau terlahir sebagai Pangeran dan calon Raja."

"Ya, aku harus menerima takdirku." Gumam Sehun. "Duduklah di sampingku." Pinta Sehun.

"Di atas konter dapur?"

"Ya. Ada masalah?"

"Kurasa tidak masalah." Jawab Jongin, mengikuti permintaan Sehun, Jongin kini duduk di atas konter dapur di sisi kanan tubuh Sehun. Tangan kanan Sehun bergerak untuk menggenggam tangan kiri Jongin, menautkan jari-jemari mereka.

"Aku mencintaimu." Bisik Sehun pada telinga kiri Jongin membuat Jongin tertawa karena hembusan napas hangat Sehun membuatnya geli. "Aku serius Jongin!" protes Sehun.

"Aku tahu." Balas Jongin sambil menarik tubuhnya ke kanan menjauhi Sehun. "Kau membuatku kegelian."

Tawa Jongin terlihat indah dan hal itu membuat Sehun ikut tertawa. Sehun menarik lengan kiri Jongin pelan, mendekatkan tubuh mereka, lantas memeluk Jongin erat. Mengecup puncak kepala Jongin dengan lembut. Jongin tersenyum di dalam pelukan Sehun, ia balas pelukan Sehun dan menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher kiri Sehun.

"Jangan pergi tetaplah di sisiku Jongin." bisik Sehun.

"Aku tidak akan pergi." Balas Jongin.

"Besok, kau ada waktu?"

"Waktu untuk apa?"

"Jalan-jalan denganku, berkencan."

Jongin menelan ludah susah payah mendengar kalimat kencan dari bibir tipis Sehun. Masih berada di dalam pelukan Sehun, Jongin cemas jika Sehun bisa merasakan detak jantungnya. "Bagaimana, kau punya waktu?" tanya Sehun tidak sabar.

"Ayolah, memangnya aku bisa pergi kemana? Kau membawa pasporku."

Sehun tertawa mendengar jawaban Jongin, ia mengecup puncak kepala Jongin sekali lagi. "Besok berarti kita pergi berkencan."

"Hmm." Gumam Jongin mengangguk di dalam pelukan Sehun.

Sehun melepaskan pelukannya ketika ponselnya berdering. Ia menatap Jongin meminta izin untuk sedikit menjauh, Jongin mengangguk mengijinkan. Sehun berjalan sedikit menjauhi konter dapur, menjawab panggilannya dalam posisi memunggungi Jongin.

"Jungkook, ada apa?"

"Hyung, aku mencemaskan Taehyung. Dia belum bisa dihubungi dan saat aku ke sana Nyonya Kim mengatakan Taehyung masih sibuk belajar."

"Baiklah kita kesana setelah ini untuk memastikan apa yang terjadi dengan Taehyung."

"Terimakasih Sehun hyung."

"Sehun." Panggil Jongin setelah dilihatnya Sehun selesai dengan ponselnya. Jongin tidak ingin ikut campur namun dia tidak sengaja mendengar nama Taehyung disebut. "Ada apa? Terjadi sesuatu dengan Taehyung?"

Sehun mengangguk pelan, menurutnya Jongin berhak tahu. "Nyonya Kim terus mengatakan jika Taehyung sibuk, Jungkook tidak bisa menemui Taehyung. Adikku mencemaskan keadaan Taehyung yang sebenarnya."

"Kau akan kesana?"

"Ya."

"Kapan?!"

"Sekarang." Ujar Sehun melirik jam dinding di belakang tubuh Jongin. "Pukul sepuluh malam. Belum terlalu larut untuk melakukan kunjungan. Lagipula siapa yang bisa menolak kunjungan Pangeran?" Sehun bertanya dengan nada bercanda untuk mencairkan ketegangan. Dia tahu Jongin mencemaskan keadaan Taehyung juga.

"Bisakah kau—memberiku kabar terbaru tentang Taehyung?" mohon Jongin.

"Tentu, jangan cemas semua akan baik-baik saja. Aku akan menolong Taehyung jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."

"Pastikan dia baik-baik saja."

"Tentu Jongin. Pukul sembilan pagi aku akan menjemputmu kuharap kau sudah siap."

Jongin tersenyum miring namun dia tetap mengangguk meski jantungnya berdetak kurang ajar sekarang. "Sembilan pagi." Gumam Jongin.

"Kencan." Ujar Sehun dengan alis kanan yang sengaja dia naikkan untuk menggoda Jongin.

"Jalan-jalan." Jongin tersenyum tipis. "Kencan sepertinya terlalu…," menggantung kalimat dan mengernyitkan dahi.

"Cengeng?" tanya Sehun.

"Kurasa." Balas Jongin jujur.

"Baiklah." Sehun menyerah menghembuskan napas perlahan. "Besok kita akan jalan-jalan berdua. Selamat Malam, jangan tidur terlalu larut."

"Tentu."

"Akan aku kabari tentang Taehyung jangan terlalu cemas." Jongin mengangguk pelan mendengar ucapan Sehun. "Aku pergi dulu." Ujar Sehun, memeluk tubuh Jongin singkat kemudian mengecup dahi Jongin. "Sampai besok." Pamit Sehun.

Menahan senyum, Jongin menatap lekat punggung Sehun yang berjalan menjauhi apartemennya. Setelah punggung itu menghilang, Jongin langsung menutup dan mengunci pintu apartemen kemudian berlari cepat menuju ruang keluarga. Jongin melemparkan tubuhnya ke atas sofa biru, dalam posisi tengkurap Jongin mulai berteriak di atas bantal sofa.

"AAAAA!" teriaknya.

Jongin mengangkat wajahnya kemudian merubah posisi dari tengkurap menjadi duduk, bantal sofa dia peluk erat. Wajahnya terlihat bersemu dan senyuman terus menerus menghiasi wajahnya. "Dia bisa bersikap manis." Ujar Jongin lalu merebahkan tubuhnya kembali ke atas sofa.

.

.

.

Jungkook menunggu Sehun di dalam mobil. Dia sengaja datang ke apartemen agar Sehun tidak perlu kembali ke Istana untuk menjemputnya. Sehun meminta salah satu pengawalnya membawa mobil yang tadi dia naiki, karena dia akan berada di dalam satu mobil dengan Jungkook. "Sehun hyung tampan." Puji Jungkook. "Tidak ingin mengganti pakaian?"

"Tidak perlu." Balas Sehun.

"Kencanmu berjalan dengan baik malam ini?"

"Bukan kencan, kami hanya makan malam bersama dan sedikit mengobrol." Balas Sehun.

"Itu bisa dikategorikan sebagai kencan." Jungkook terus menggoda.

Sehun menahan diri sampai mereka berada di dalam mobil, melirik Jungkook dengan kesal, lantas ditariknya lengan kanan Jungkook kemudian memiting kepala sang adik. "Sehun hyung!" protes Jungkook. "Lepaskan!"

"Kau menyebalkan." Ujar Sehun.

"Lepas!" pekik Jungkook.

Menahan tawa, Sehun akhirnya melepaskan pitingannya pada Jungkook. Ia melihat ke arah jalanan menuju kediaman Keluarga Kim. "Kuharap semuanya baik-baik saja." Gumam Sehun.

"Kuharap." Balas Jungkook.

Sehun melirik Jungkook sambil memikirkan cara untuk mencairkan suasana. "Apa kau membawakan sesuatu untuk Taehyung?"

"A—apa?!" Jungkook tergagap mendengar pertanyaan tak terduga dari sang kakak. "Aku sama sekali tidak berpikir kesana."

"Dasar…," Sehun mencibir pelan.

"Aku terlalu cemas untuk memikirkan hal lain." Ujar Jungkook jujur.

Sehun kembali melirik sang adik, kali ini ia memilih diam karena tahu jika Jungkook tidak bisa dialihkan. Sehun meluruskan pandangannya, mencoba menghitung berapa lama kira-kira mereka akan sampai ke kediaman Keluarga Kim.

"Bagaimana kabar Jongin hyung?"

"Dia—baik." Jawab Sehun tidak menyangka jika Jungkook akan menanyakan kabar Jongin.

"Apa Jongin hyung tidak bisa kembali lagi ke Keluarga Kim?"

"Untuk saat ini kurasa tidak bisa, aku akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Nyonya Kim."

"Kurasa Jongin hyung tidak akan bersedia kembali."

"Menurutmu apa yang harus aku lakukan?"

"Tidak perlu berusaha keras mengembalikan Jongin hyung kepada Keluarga Kim, Nyonya Kim menolak kehadiran Jongin hyung. Jaga Jongin hyung, dia tanggungjawabmu."

"Jungkook." Ujar Sehun menahan geli.

"Ayolah, aku tahu Sehun hyung sudah merancang skenario masa depan dengan Jongin hyung dengan sangat detail." Ucapan Jungkook lagi-lagi dibalas dengan tawa oleh Sehun.

"Hyung." Jungkook mencondongkan tubuhnya kepada sang kakak, mendekat. "Setelah kita selesai dengan Keluarga Kim aku ingin pergi ke toko buku, ada novel yang ingin aku beli."

"Tentu, jangan terlalu lama dan formasi pengawal harus lengkap."

"Ayolah Sehun hyung tidak akan terjadi apa-apa, kenapa pengawalku ditambah seperti sekarang?"

"Tidak ada penolakan, kau sudah setuju." Tegas Sehun.

"Apa Jongin hyung mendapatkan pengawal?"

"Ya, tanpa sepengetahuannya."

"Hmm…, baiklah." Tanggap Jongin.

Laju mobil melambat, Jungkook mengamati keadaan di luar dengan cemas. Ketika berniat keluar Sehun menahannya. "Biar aku saja yang masuk."

"Kenapa?"

"Aku hanya ingin tahu apa hanya kau yang tidak diizinkan bertemu dengan Taehyung atau aku juga akan diperlakukan sama." Sehun mencoba memberi penjelasan, Jungkook terlihat enggan namun pada akhirnya dia mengangguk setuju.

Sehun melangkah keluar mobil diikuti dua pengawal berjalan di belakang tubuhnya. Melintasi halaman luas kediaman Keluarga Kim. Sehun mengedarkan pandangannya, terakhir kali dia tidak meninggalkan kesan yang baik kepada Nyonya Kim ketika mengambil Stone.

"Pangeran, apa yang membawa Anda datang ke tempat ini?"

Sehun menatap Nyonya Kim yang datang menyambutnya ia mencoba melihat ke belakang punggung wanita itu untuk mencari keberadaan Taehyung. Namun nihil, dia tidak menemukan Taehyung. "Maaf, apa saya bisa menemui Taehyung?"

"Tentu Pangeran tetapi saya rasa Taehyung sudah tertidur sekarang. Dia belajar keras akhir-akhir ini, datanglah besok pagi. Anda bisa menemui Taehyung besok pagi."

"Baiklah Nyonya, apa Taehyung baik-baik saja? Dia dalam keadaan sehat?"

"Taehyung dalam keadaan sehat Pangeran. Anda tidak perlu memanggil saya dengan sebutan Nyonya." Ujar Nyonya Kim kemudian tersenyum anggun.

"Saya harus menghormati yang lebih tua." Balas Sehun kemudian menundukan kepalanya untuk beberapa detik sebagai tanda hormat.

"Apa yang Anda lakukan hari ini sungguh luar biasa Pangeran."

"Terimakasih Nyonya, saya tidak pantas dipuji."

"Apa kau tahu jika lima puluh persen rakyat memintamu untuk naik tahta?"

Sehun menggeleng pelan. "Belum Nyonya, saya akan menunggu hingga Raja siap untuk mewariskan tahta. Saya akan menunggu." Tegas Sehun.

"Kau tidak memintanya? Rakyat akan mendukungmu."

"Tidak Nyonya, Raja masih sehat dan bijaksana untuk memimpin Kerajaan sampai waktu yang beliau rasa tepat untuk mewariskan tahta. Saya akan menunggu."

"Kau benar-benar sangat bijaksana Pangeran Sehun. Ah iya mengenai rencana pernikahanmu dengan Taehyung, aku sudah membicarakannya dengan pihak Kerajaan…,"

"Nyonya Kim." Potong Sehun. "Maaf jika saya menyela, saya tidak akan menikah dengan Taehyung keputusan saya tidak berubah, bahkan jika Parlemen tidak menghendaki usulan saya mengenai pilihan pernikahan kerabat, saya tidak akan menikahi Taehyung."

"Kau menjadi Raja tanpa pendamping?"

"Itu keputusan saya tolong hormati keputusan saya."

"Baiklah maafkan saya Pangeran, sebaiknya Anda kembali. Sudah larut malam sekarang pintu gerbang akan ditutup."

"Baik Nyonya, selamat malam. Dan maaf sudah mengganggu waktu istirahat Anda. Besok saya akan menemui Taehyung."

"Taehyung baik-baik saja, Anda tidak perlu mencemaskan putra saya."

"Saya akan tetap datang untuk memastikan Taehyung baik-baik saja."

"Tentu Pangeran." Ujar Nyonya Kim menyerah.

Nyonya Kim berdiri di ambang pintu, mengamati mobil-mobil melaju pergi dari halaman kediamannya. Mobil-mobil yang ditumpangi Pangeran Sehun dan pengawal-pengawal pribadinya. "Jongin, kau memilih Jongin, Pangeran Sehun. Mencoba mengubah tradisi Kerajaan dan sekarang kau memilih seseorang di luar Keluarga Kim. Kau, bermain api Pangeran."

"Ibu."

Nyonya Kim memutar tubuh untuk mendapati Taehyung berdiri di luar kamar tidurnya. "Apa yang kau lakukan di sini, kembali ke kamarmu."

"Ibu hentikan semua ini, jangan menghalangiku bertemu dengan Jungkook. Jangan mengganggu Sehun hyung dan Jongin hyung."

"Tutup mulutmu!" teriak Nyonya Kim. "Pengawal! Bawa masuk Taehyung dan jangan biarkan dia keluar!" perintah Nyonya Kim.

"Lepas! Ibu tidak bisa melakukan ini padaku! Ibu tidak bisa melakukan ini pada kami! Ibu tidak bisa memaksakan kehendak!"

Nyonya Kim tersenyum miring meremehkan. "Bocah tengik seperti kalian, tahu apa soal tradisi. Kalian berpikir jika perubahan adalah hal baik. Itu bukan hal yang baik. Aku tidak akan membiarkan tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun diobrak-abrik oleh bocah ingusan." Bisik Nyonya Kim dengan tatapan tajam menuju halaman rumah kediaman yang sudah ditinggali leluhurnya turun temurun.

TBC