Chapter 13 : Reunion
Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genkidesuka, Minna?
Halo, akhirnya bisa update lagi, senin saya UAS, doakan saya bisa naik kelas dan bisa ikut KSM dengan semangat tahun depan ^^
Ada yang tahu ClariS di sini? Saya salah satu dari penggemar beratnya, dan waktu tahu kalau Alice bakalan keluar dan Juni akhir nanti akan menjadi rilisan album terakhir, saya kecewa berat, tapi saya bukan orang yang akan menjelekkan idola saya walau mereka mengambil jalan yang tidak sesuai dengan pikiran saya, sebagai rasa kagum saya pada mereka, beberapa chapter ke depan akan memiliki judul yang merupakan judul-judul lagu mereka ^^
Kita mulai ya!
A Fantasy Fict from me
~Heart and Soul~
Main pair : Kagamine Len & Kagamine Rin, maybe a little bit of slight pair and crack pair content
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Special thanks to : Square-Enix and Tecmo
Summary :
"Aku melihat dunia baru, sebuah masa depan yang baru. Aku masuk ke dalam dunia ini hanya untuk satu hal, sebuah kenangan, sebuah kenangan yang pernah aku buang, aku akan mengembalikannya walau aku akan menjadi abu sekalipun."
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic) : Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutip satu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING & RELEASE YOUR MIND!
Chapter 13 : Reunion
XOXOX
"Len? Len?"
Rin berputar di daerah Sylph untuk yang kesekian kalinya, Rin bingung, dia tiba-tiba terpisah dari Len. Awalnya, Len, Rin, Yukari, Oliver dan Meiko pergi bersama untuk membuat party dan membantu Rin menaikan levelnya. Dengan cepat Rin bisa mencapai level 50, kelas Rin sekarang adalah Sniper. Setelahnya, Yukari dan Oliver pergi untuk mencari petunjuk tentang menjadi kelas keempat, sedangkan Meiko pergi karena ada pekerjaan bayaran untuknya.
Len dan Rin berjalan dan memburu monster bersama untuk terus menaikan level Rin dengan cepat, ini sudah hari ketiga di dunia nyata, berarti sudah 3 malam mereka lewati hanya untuk terus menaikan level Rin. Sesuai janji Rin, dia ingin membantu mencari Miku di dalam game, bagaimanapun Rin tahu, kalau Miku adalah orang yang penting di kehidupan Len. Rin tidak mau mengecewakan Len yang sudah menjadi penyelamat hidupnya, walau itu artinya kasih sayang Len kepada dirinya harus dibagi kepada orang lain yang sedang mereka cari.
Rin ragu, apa dia benar? Rin adalah orang yang egois dan dia tahu itu, di dalam pikirannya, dia ingin selalu memiliki Len sebagai miliknya satu-satunya, Rin tidak rela membagi kasih sayang Len dengan orang lain. Kemudian, Rin belajar kalau dia harus merelakan sesuatu untuk membuat sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, Rin belajar kalau hukum termodinamika yang bernama 'entropi' tidak akan lepas dari kehidupannya maupun orang lain. Tapi setelah semua yang Rin rasakan dan lakukan, ia tetap tidak tahu, atas dasar apa dia bisa 'suka' dengan Len. Rin tetap tidak bisa mengatakan dengan jelas, tentang apa yang dia rasakan saat ini.
"Len? Kau dimana?" Jalan Rin perlahan di hutan sekitarnya.
Rin dan Len masih bersama, setidaknya untuk beberapa menit yang lalu, mereka tiba-tiba diserang dengan kemunculan elder secara random, naga penjaga daerah Sylph, Hydra. Len dan Rin yang tidak siap langsung kesusahan setengah mati karena mereka tidak tahu harus melakukan apa, seluruh daerah Stepa di hutan itu hancur dan retak dimana-mana, Len dan Rin yang tidak punya pilihan lain langusng lari dengan sayap mereka masing-masing. Rin jatuh ke tanah setelah Rin kehilangan kendali atas sayapnya sendiri, walau dia bangsa Elf, dia masih belum bisa menggunakan sayapnya leluasa.
"Aku salah tadi, seharusnya aku mengajak Len ke tempat Caith-sith saja." Gumam Rin.
XOXOX
"Aku tidak bisa mengakses peta." Len berjalan tidak tentu arah di hutan. Memang dari awaln Len sudah diperingati Rin agar tidak berburu di daerah Sylph, tapi Len menghiraukannya dan terus melanjutkan perburuan karena Len memang orangnya efisien, buat apa berpindah kalau di depanmu lebih menguntungkan?
Len merasa ada bug besar di daerah ini, mereka sudah beberapa kali saja pontang-panting bertemu elder secara tiba-tiba, cukup aneh karena seharusnya kemunculan elder hanya memiliki dua kemungkinan, dipanggil atau terpanggil. Jika elder dipanggil, biasanya cara ini dilakukan oleh party dan kelompok-kelompok yang sudah siap melawan mereka untuk mendapatkan barang tertentu, jika elder terpanggil, biasanya ini memang sudah kehendak sistem, tapi kemunculan elder tidak bisa diprediksi dan satu yang terpinting, setiap player atau party dengan anggota yang salah satunya sudah melihat elder sebanyak tiga kali dalam satu minggu waktu dunia nyata, seharusnya sudah tidak bisa memanggil atau terkena panggilan elder oleh sistem. Dengan kata lain, player yang sudah melihat elder, yang manapun itu, sebanyak 3 kali, mereka tidak akan melihatnya lagi hingga minggu depan.
Len sendiri sudah melihat 2 minggu ini, itu masih wajar kalau ia melihat yang ketiga, tapi salah satu anggota party-nya, Rin, sudah melihat 3 kali. Dengan kemunculan Hydra, itu berarti Len sudah melihat 3 kali dan Rin 4 kali, seharusnya ini tidak mungkin terjadi.
Setelah fakta mencengankan yang Len dapati, kini dia harus melewati hutan tanpa bantuan peta karena Len tidak bisa mengakses menu peta entah kenapa.
"Aku harus bagaimana!" Len memukul pohon disampingnya, kini ia merasa bersalah karena tidak menuruti Rin.
"Len, ah salah, Exo..."
Len sigap setelah ia mendengar suara yang memanggilnya entah darimana, Len mengeluarkan senjatanya dan dalam mode penembak, bukan jarak dekat.
"Siapa kau?! Cepat keluar!"
Len menembak ke segala arah membabi buta, kemudian bunyi 'trang' yang kencang terdengar. Seseorang turun dari atas pohon di sekitar Len.
"Kau... Gumi?"
"Halo, Len-nii sama, aku mencarimu."
"Ah.. Ma-maaf! Aku tidak tahu kalau itu kau! Apa kau terluka? Apa ada yang sakit? Apa aku berlebihan?" Len langsung menghampiri Gumi dengan tangan terentang ke depan...
CRASH!
"Ke-kenapa?"
"Aku ingin sekali... Bertarung denganmu." Ucap Gumi dengan muka horror dengan salah satu snake blade nya menembus telapak tangan Len.
.
.
.
TRANG! TRANG! TRANG!
Len terus bertahan dari serangan Gumi, mukanya terus menunjukan kepuasan berlebih setiap berhasil menyerang Len.
"MANA! MANA EKSPRESI SENANGMU WAKTU MELAWAN ARK DULU! MANA?!" Gumi berteriak sambil terus menyerang Len.
"Kau.. SIAPA KAU SEBENARNYA?!" Len bertanya dengan kasar, Len tidak percaya kalau Gumi adalah adik Oliver yang ia kenal.
"Aku GUMI, GUMI yang selama ini kau kenal.." Ucap Gumi dengan mulut yang terbuka lebar.
Len berpikir, pasti ada sesuatu yang salah dengan hutan ini, kenapa Gumi bisa menganggap Len musuh? Bug di hutan ini pasti parah, Meiko tidak ada, Len tidak bisa menyuruh Meiko memeriksa bug, Len sendiri tidak berpengalaman memeriksa bug langsung di lapangan.
Len daritadi juga merasakan kalau ada yang salah dengan Gumi, berapa kalipun Len menyerang, regenarsi HP dan MP Gumi melebihi kecepatan normal, apapun yang Len lakukan, seakan tidak ada gunanya.
'Tch! Ini tidak akan ada habisnya, dia seakan membalikan waktu!'
'Tunggu... Waktu?'
Len sadar akan sesuatu, dia langsung memperlemah pertahanannya, sengaja menerima serangan Gumi.
"Ada apa?! ADA APA?! Apa kau menyerah? MENYERAH?!" Gumi makin senang melihat Len yang tidak bisa apa, dia serang secara membabi buta. Len tidak bergeming, dia terus menerima serangan, tanpa menahannya.
"Kau kenapa?! Ini membosankan! Akan ku akhiri sekarang juga!"
Gumi menyilangkan kedua snake blade nya, Arondight dan Caladbolg, dan menghempaskannya ke tanah.
"Earthseeker!"
Tanah yang terkena pedangnya langsung membentuk gumukan yang menjalar dan keluar menyerang Len dari bawah, pedang itu menghentikan gerakan Len, mengitari tubuh Len, dan menekan Len hingga tubuh Len hancur.
CROT! CRASH!
"Tch! Membosankan." Gumi membalikkan badannya, pergi dari sana.
.
.
.
"Toxify, level 5."
"Ka-kau? Ma-masih hi-hidup?"
Gumi membalikkan kepalanya, melihat pundaknya tertusuk pedang. Gumi langsung tidak sadarkan diri, ia tergeletak lemah.
"Untung aku bisa mengecohnya, Reincarnation bekerja dengan baik. Sepertinya perkiraan ku benar, dia memiliki status Haste dan Regen yang tidak terlihat, membuatnya seperti bisa memutar waktu dengan cepat... Siapa yang bisa memberinya status seperti ini?" Len bergumam kepada dirinya sendiri, sepertinya hutan memang sudah memiliki intensitas yang tinggi.
Len menggendong Gumi di pundaknya dan pergi dengan sayapnya, untuk mencari Rin lagi.
XOXOX
"Len... Len kau dimana?"
Rin berjalan sendiri di hutan, tidak tentu arah. Dia bahkan tidak berani berhenti untuk mengecek jam di dunia nyata karena takut ada serangan kejutan kalau dia lengah.
Rin hanya bisa terus jalan perlahan, hingga suara geraman yang kencang terdengar.
"Grrrr..."
"Se-segerombol Hellhound?"
Rin terkejut dan langsung sembunyi, dia tidak bisa bertarung jarak dekat, apalagi dengan belasan Hellhound yang tiba-tiba datang di dekatnya.
"Ap-apa yang harus kulakukan..." Rin bergetar ketakutan, salah satu Hellhound mendekatinya dengan geraman buas, Rin makin erat memegang busurnya.
'Mati aku.'
Crash!
Sebuah tebasan bersih mengenai Hellhound itu, Rin terkejut karena darah Hellhound itu mengenai wajahnya, walau darah itu langsung hilang dalam waktu yang tidak lama. Dengan takut, Rin melihat apa yang terjadi dengan gerombolan Hellhound itu, Rin melihat semua Hellhound itu mati terbelah, Rin awalnya sempat mual, tapi untung semua mayat monster itu sudah menghilang dari hadapannya.
Awalanya Rin menyangkan kalau Len yang membantunya, tapi pikirannya berubah, Rin tahu kalau cara membunuh Len tidak seperti ini, cara Len membunuh monster biasanya bersih dengan menggunakan satu tusukan untuk jarak dekat dan satu tembakan untuk jarak jauh.
"Si-siapa kau?"
Bayang-bayang mulia terlihat jelas dari balik kegelapan, memperlihatkan sosok Mikuo yang berwajah dingin dihadapan Rin.
"Kau?"
Mikuo diam dan langsung menyekap Rin dan membawanya pergi.
.
.
.
"Hpmmf! Hpmm! Hmmp!" Rin mencoba mengatakan sesuatu tapi dia tidak bisa mengatakannya karena mulutnya diikat dengan kain.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar denganmu." Ucap Mikuo melepasnya ketika mereka sudah sampai di tempat yang luas dan terang.
"Siapa kau?! Bukannya kau yang melukai Len waktu Battle Royal?!" Rin menjauhi Mikuo dengan wajah takut, tapi Mikuo hanya bisa menghela nafas.
"Maaf membuatmu terlibat dengan semua ini, tapi aku hanya bisa membawa Len kehadapanku jika kau ada di dekatku, aku tidak bisa menemuinya secara langsung atau pertarungan akan terjadi, aku hanya ingin membicarakan sesuatu." Ucap Mikuo lembut dengan senyuman.
"Jadi, kau bukan orang jahat?"
"Tergantung kau menganggap ku apa."
Suasana hening di antara mereka, angin berhembus sejuk di antara mereka yang sedang duduk di bawah pohon. Wajah Mikuo memerah tanpa sadar melihat rambut Rin yang tergerak angin dengan lembut.
"Maaf jika aku lancang, kau murid baru bukan? Di sekolah?"
"Kita satu sekolah?" Tanya Rin?
"Tepatnya, aku ini adik kelasmu."
Mata Rin langsung bersinar melihat Mikuo, Rin langsung menghampiri Mikuo dan menggenggam tangannya erat.
"Seorang kouhai!" Ucap Rin dengan mata yang bersinar.
"Ehm.. Bisa kau lepaskan? Aku merasa terganggu." Ucap Mikuo perlahan, Rin langsung salah tingkah dan melepas genggaman tangannya, padahal dalam hati, jantung Mikuo berdegup kencang karena dipegang seerat itu oleh wanita.
"Kau lapar?" Tanya Mikuo.
"Sedikit." Jawab Rin.
Mikuo mengeluarkan beberapa bungkusan, yang seperitnya berisi makanan.
"Makanlah ini, aku membelinya di kota, kau bisa memilikinya. Sekalian juga untuk memulikan HP dan MP mu." Ucap Mikuo.
Rin langsung sigap dengan wajah bersinar dan berkata terima kasih sambil menggenggam tangan Mikuo secara erat lagi.
"Makanan dari kouhai." Ucap Rin
Sepertinya Rin punya obsesi berlebih dengan adik kelas.
.
.
.
"Apa alasanmu?"
"Alasan?"
"Kenapa kau membenci Len? Dia orang baik kan?"
Mikuo berpikir sejenak, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi kecuali kebenaran.
"Aku, aku sebenarnya juga tidak ingin membenci Len. Siapa yang ingin membenci keluarga sendiri?"
Rin bingung dengan perkataan Mikuo.
"Bukannya Len sudah tidak punya keluarga?"
"Aku bukan anggota keluarga sedarah Len, tapi aku menganggapnya sebagai kakak ku. Aku tahu, kalau aku sudah menjadi sesuatu yang dikendalikan ego, aku sadar, tapi entah kenapa menyingkirkan ego itu dariku, sama saja membuatku seperti orang lain. Orang yang kalian cari, Miku, adalah kakak ku... Aku tidak bermaksud menyalahkan Len atas semuanya, tapi aku hanya bingung, aku harus berbuat apa? Miku adalah kakak ku satu-satunya yang paling ingin ku lindungi, aku hanya ingin membuat pelarian, aku hanya ingin aku memiliki orang yang bisa kusalahkan atas kejadian itu... Dan Len adalah orang yang paling tepat."
"Kau membenci orang lain hanya karena itu?!" Rin berdiri dengan gelagat marah.
"Apa kau masih memiliki hati?! Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi apa memang kau hanya mencari pelarian?! Aku tahu, kau bukan mencari pelarian, tapi perhatian! Aku tahu, kau hanya ingin agar Len terus memperhatikanmu walaupun itu sebagai orang yang kau benci, kau takut ketika Miku hilang, Len juga akan meninggalkanmu karena kau pikir Len mau berteman denganmu hanya karena Miku, itu semua salah! Len bukan orang yang seperti itu! Dia orang yang akan mengorbankan segalanya demi orang yang ia sayangi!"
Mikuo terkejut mendengar perkataan Rin, Mikuo tersenyum lemah dengan wajah menunduk.
"Mungkin kau benar."
"Apanya yang benar?"
Mikuo dan Rin berbalik ketika mendengar suara lain di sana, Len turun dari langit sambil menggendong Gumi.
"Aku tidak pernah berkata bahwa aku membencimu, tapi aku juga tidak berkata bahwa aku menyanyangimu, Mikuo. Rin, aku tahu kau membuat agar aku terdengar baik, tapi jangan lupakan, aku hanya mencari yang terpenting bagiku bersampingan dengan pemikiran pahlawanku, aku akan berusaha menyelamatkan orang terbanyak walau aku harus mengorbankan setengahnya... Aku tidak akan mengubah pemikiranku, tidak untuk saat ini hingga aku menemukan apa yang terbaik untukku."
"Tapi Len.."
"Rin, aku percaya bahwa kau mempercayaiku sebagai orang yang penting bagimu, begitu juga aku... Tapi itu tidak akan bertahan selamanya, jika kalian tidak bisa memutuskan pemikiran sejati kalian, kalian hanya akan diperbudak takdir... Sama sepertiku yang dulu. Aku tidak akan segan mengubah keputusan yang tidak sejalan dengan pikiranku, tapi aku tidak akan berjanji akan terus sama seperti orang yang kalian kenal dan sayangi selama ini... Aku tidak pernah berjanji akan terus menjadi Len yang sama... Aku juga tidak pernah memaksa kalian menerimaku, tapi jika kalian ingin menerimaku, aku tidak akan mempersulit kalian, aku janji." Ucap Len.
Mikuo dan Rin tidak bisa membalas perkataan Len, mereka tahu kalau mereka tidak berhak mengubah pemikiran seseorang, mereka tahu itu.
"Jadi Mikuo, Rin... Bagaimana? Dan Mikuo, apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?
Mikuo dan Rin masih terdiam, suasana hening tercipta di antara mereka, di tengah reuni lembut tanpa peperangan yang baru terjadi setelah sekian lama.
XOXOX
Chapter 13 selesai~~
Saya gak tahu bakal libur ngetik lagi minggu depan atau nggak, tapi saya yakin 80% enggak, saya gak pernah menyalahkan UAS karena menyita waktu saya, jadi jangan bosan ya nunggu kelanjutan fict ini (Andai saya libur minggu depan, Cuma 10% kok kemungkinannya, yang 10% sisanya fleksibel XD #PLAK)
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
