Terinspirasi dari Voyeur by Nelliel-Ni dan Liberated by Shante Diamond.

(Both were KibaIno stories XD)

.

Disclaimer : I only own the story

.

Love and Hatred

.

Warning! : Mainstream Idea

.

.

.

Chapter 12

Osaka

Otedori

"Jadi apa maumu sekarang?"

Tidak ada jawaban yang menyambangi telinganya membuat Karin mendesah kasar. Wanita itu memijit pelipisnya pelan. Rasanya pening yang teramat kuat tengah mendera kepalanya. Bukan karena efek kacamata yang terlalu sering dia pakai, melainkan sebab pria pirang yang sedang tergeletak di atas sofa.

Pria itu tidak membalas sama sekali pertanyaan yang disodorkan kepadanya. Berbotol-botol minuman keras yang ditenggaknya beberapa jam lalu tampaknya mampu menyuguhkan imbas yang semengerikan ini. Naruto terbaring tak bergerak, entah sebab tubuhnya yang seakan tak lagi memiliki kerangka penyangga atau mungkin pula perkara zat memabukkan yang kini menghalangi kinerja jaringan otaknya.

Sebelah tangan Naruto gunakan untuk menutup matanya. Melenyapkan keberadaan cahaya dari pandangan. Menyusul suatu keadaan yang disebut sebagai kegelapan. Hembusan nafas yang terdengar berat serta ritme yang jauh dari kata teratur sedikit mencipta suara sengak dari ujung hidungnya.

"Kau masih tidak mau bicara?"

Tampaknya Karin sudah kehilangan stok kesabaran. Entah pertanyaan ke berapa yang baru saja dia ucapkan. Wanita itu menghentakkan kakinya kasar dan pergi meninggalkan Naruto. Emosi yang menguasai membuat wanita itu enggan untuk berbaik hati pada si trouble maker. Bukannya Karin tidak tahu, wanita itu hanya menulikan telinganya dari apa yang dia dengar. Saat beberapa rekan kerjanya mengangkat topik tentang sepupunya yang kembali terlibat dalam masalah. Tentu saja Karin paham, bahwasanya perkara yang disebut sebagai masalah itu berawal dari pria bodoh itu sendiri.

Karin tidak habis pikir, bukannya sebulan lalu saat dia meninggalkan Naruto, laki-laki itu begitu bersemangat. Seolah dia baru saja mendapat siraman cahaya yang menghapus entitas lembaran kelamnya dan menggantinya dengan yang baru? Tapi fakta yang terpampang di depan wajahnya saat ini mengapa justru menjadi sebuah kontradiksi? Ah... Wanita itu sudah terlalu penat merelakan waktunya demi makhluk kuning itu. Sehingga dia memilih untuk berdiam diri di kamar.

.

"Ugh..."

Tangan kekar itu meremas kuat helaian pirangnya. Sakit teramat sangat, seakan pembuluh darah di jaringan otak berlomba-lomba untuk memberikan tekanan yang besar. Terasa berat membuat kepala cepak itu enggan terangkat. Apalagi tubuhnya yang seolah mengalami jetlag. Terlalu lunglai, terlalu lemah untuk melakukan bahkan hanya sebuah gerakan.

Kelopak matanya enggan tersibak dan memerikan sepasang iris safir. Memilih untuk tetap tenggelam dalam kesilaman tanpa pendaran cahaya. Tanpa sadar, sebulir air menetes dari sudut matanya, memperlihatkan keangkuhan yang mulai leleh diterpa gejolak kesedihan.

Jaringan hippocampusnya kembali menayangkan sebuah cerita, ibarat dorama yang diikutinya setiap pagi.

.

"Gaara-kun..."

Naruto menatap nanar pemandangan yang menurutnya terlalu menyakitkan. Saat manik matanya mengekori langkah Hinata. Wanita itu terlihat memiliki sebuah kepedulian yang cukup besar pada laki-laki panda itu. Netra pucatnya menatap penuh kekhawatiran pada Gaara.

Pria pirang itu seakan ikut merasakan sentuhan pelan dari tangan gemulai Hinata. Begitu membuai, begitu memabukkan dan begitu adiktif. Mencipta sensasi hangat dan menyenangkan sepanjang tulang punggungnya.

Detik berikutnya, pria itu tersadar dari sebuah delusi yang nyaris membuatnya kehilangan kendali. Terlalu takut untuk menyadari bahwa jamahan lembut yang baru saja membelai epidermisnya sama sekali tidak nyata.

Naruto meringis. Selanjutnya menggeram. Kala amarah tak mampu lagi dia emban. Punggung itu menegak kaku, kedua kakinya melangkah laju. Mempersempit selang antara dirinya dengan sepasang manusia di sana.

Bugh! Bugh!

Pukulan demi pukulan menghantam tubuh Gaara. Tapi tak sedikitpun pria panda itu berniat untuk membalas. Tersenyum kecut dan sedikit menahan perih di sudut bibirnya, saat hantaman terakhir yang tepat mengenai abdomen laki-laki itu.

"Hentikan! Hentikan!"

Teriakan lantang Hinata yang seharusnya menjadi rem bagi apa yang tengah dilakukan Naruto, justru terdengar seperti sebuah tabuh penyemangat. Bukannya berhenti, pukulan pria pirang itu malah semakin menjadi. Nyaris membuat Gaara tak sadarkan diri.

Beruntung basement itu cukup ramai orang hingga beberapa dari mereka berlarian mendekat. Memisahkan Gaara dari Naruto.

Kala itu pula tatapan manik safirnya bersirobok dengan manik amethyst Hinata. Sebait senyum terpeta di kedua sudut bibir tipisnya, berharap menerima hal serupa sebagai reaksi. Sayang intensinya terhempas begitu saja, menuai tatapan menusuk dari sang wanita. Bulu kuduknya sempat meremang. Rona lembut di mata opal itu mendadak sirna tergantikan oleh kilat dendam yang seakan membara.

"Hinata..."

"Menjauh dariku, Brengsek!"

Untaian kalimat yang melesat menghujam ulu hatinya membuat Naruto tergagap. Menelan ludahnya dengan kasar dan berusaha menggapai pada sang wanita.

"Hinata, tunggu!"

"Jangan sentuh aku!"

"Tidak! Sebelum kau melepaskan egomu dan mendengarkanku."

"Seharusnya aku yang mengucapkan kata-kata itu padamu, Tuan! Tidak bisakah kau melepaskan egomu dan membiarkan aku hidup tenang?"

"Hina-"

"Tidak bisakah kau membiarkanku hidup bahagia? Dengan tidak mengusikku?"

"Aku tidak akan pernah melakukannya. Kumohon Hinata, yang aku inginkan hanya kesempatan."

"Teruslah bermimpi, Tuan."

Kata-kata yang Hinata lontarkan begitu dingin. Mungkin bisa dikatakan sadis. Terlalu mnyakitkan untuk didengar. Telinga pria itu seakan tidak cukup kuat untuk menerimanya.

Sakit.

Dadanya terasa sakit.

Berdetak kencang dan nyut-nyutan dalam waktu bersamaan. Rasanya seperti ada remasan kuat yang mencengkeram erat jantungnya.

Tangan kekarnya menekan kuat, berusaha meredakan sakit yang dirasakannya.

.

"Beri aku kesempatan, Hinata... Kumohon."

"Jangan membuang-buang waktu dengan mengatakan hal bodoh! Hinata tidak mendengarmu, Pecundang!"

Karin memutar bola matanya malas. Muak dengan segala kekanakan Naruto. Wanita itu melempar sebuah gulungan majalah dengan keras. Seharusnya dengan kekuatan lempar seorang pemain base ball akan bisa membuat Naruto terlonjak. Ya minimal meringis kesakitan. Realita yang terjadi justru sebaliknya. Tak adasatupun reaksi yang diterima Karin.

"Terserah kau saja. Jika kau memang ingin mendapatkan cinta wanita itu, berusahalah! Dekati hatinya, bukan fisiknya. Selesaikan masalah kalian dengan solusi, bukan dengan menambah masalah lagi. Kau tahu?"

Lagi-lagi wanita Uzumaki itu menghela nafas kasar. Lalu berjalan pergi meninggalkan Naruto yang masih mengerahkan tenaga pikirannya, berusaha mencerna perkataan Karin. Tak ada sanggahan bahwa wanita rambut merah itu bisa menjadi jenius. Hanya metode penyampaiannya saja yang terkadang njelimet. Membuat otak harus menempuh tikungan berkali-kali baru bisa menerima apa makna yang terkandung di balik ucapannya. Atau katakan Naruto yang agak lamban cara berpikirnya.

Seutas senyum terpatri begitu lebar di bibir tipis itu.

.

.

.

Osaka

Tsukamoto Youchien

Pedal rem motor sportnya ditekan begitu kuat. Menimbulkan gaya gesek yang cukup besar antara material ban dengan tanah. Sedikit menguar efek percikan debu yang bertebaran. Sang penunggang menegakkan standard motor tersebut dan duduk dengan begitu gagahnya. Tubuh kekar berlapis jaket jingga yang selalu menemani. Entah jaket itu jarang dicuci atau memang pria itu memiliki banyak stok jaket dengan warna senada.

Dipandangnya bangunan taman kanak-kanak yang berdiri begitu kokoh. Dengan segala atribut tradisionalitasnya yang menawan. Sekilas memang terlihat seperti taman kanak-kanak biasa. Namun, siapa sangka jika TK tersebut pernah menuai sebuah kontroversi. Sebab kurikulum yang diterapkan seakan kembali kepada undang-undang yang ditetapkan di bawah Kekaisaran Meiji. Sebuah gemboran mengenai hal yang disebut patriotisme, yang memunculkan kontra dari berbagai pihak.

Naruto memusatkan perhatiannya pada pintu gerbang yang tertutup. Tak sedetikpun berani mengalihkan pandangan. Bahkan untuk sekedar melirik jarum jam di pergelangan tangan. Seakan takut jika sesuatu yang sedang dinantinya tiba-tiba terlewat begitu saja.

Benar saja, karena jeda waktu berikutnya gerbang itu telah terbuka. Barisan bocah dengan seifuku berbondong-bondong keluar dari sekolah. Sebagian berteriak girang saat menjumpai Ibu mereka yang sudah menunggu di luar. Sebagian yang lain terlihat celingak celinguk dan kebingungan. Riuh rendah menjadi aroma khas toddler seakan menjadi hal baru bagi pria itu.

Tentu saja. Namikaze Naruto hanyalah satu dari segelintir manusia di dunia ini yang tidak terlalu peduli terhadap anak-anak. Terlebih kesibukannya menjadi seorang fotografer plus deretan wanita cantik yang mendominasi objek penglihatannya seolah menciptakan kebutaan pada mata Namikaze muda. Namun, hari ini benar berbeda. Saat cuaca di Osaka begitu hangat. Saat udara berhembus tidak begitu kentara di sekitarnya. Saat langit memancarkan warna cerah yang senada dengan mata itu.

Tunggu!

Mata itu?

Naruto bergegas bangkit dari posisinya. Melangkah setengah berlari dengan semangat tinggi. Jantungnya berdegup cepat, menciptakan rima yang selaras dengan hentak kakinya. Antusiasme terlihat jelas menguasainya. Terbukti sebuah senyuman lebar menghiasi bibir tipisnya.

"Boruto-kun."

Oh.

Rupanya ada seseorang yang telah mendahuluinya. Wanita dengan rambut indigo tergerai. Dress sifon dengan motif bunga-bunga kecil yang menambah tampilan manis. Kerah V rendah yang nyaris menampakkan area pribadinya. Bagian bawah melebar dan jatuh tepat di bawah lutut. Kaki jenjangnya begitu mulus dan di bagian bawah dilapisi dengan flatshoes.

'Oh shit!'

Naruto segera membalikkan badan. Bukan karena dia enggan menemui sang bocah, tetapi keberadaan wanita seksi di hadapannya itu yang membuat dirinya mimisan. Dengan cepat diusapnya cairan kental berwarna merah itu. Sedikit mengucapkan umpatan kasar atas perilakunya yang semakin mirip remaja labil. Bukannya bermaksud menyangkal, faktanya pria itu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mimisan bagaikan mitos baginya. Jika melihat hal serupa, biasanya bagian bawah dari tubuhnya saja yang berreaksi. Ah wanita itu benar-benar luar biasa. Padahal belum Naruto menyentuh, tetapi efek yang dia dapatkan mampu membuatnya gila.

"Paman?"

Kepala cepaknya menoleh, sedikit menurunkan pandangan. Matanya kembali bersitatap dengan iris safir yang senada.

"Boruto?"

Bocah itu mengangguk antusias. Cengiran rubah menghiasi bibir bocah lima tahun itu.

Naruto tersenyum.

Sebelum senyuman itu memudar dan bibirnya kembali tertarik lurus. Wajahnya menekuk, menyiratkan kesedihan mendalam. Seolah menyampaikan seluruh emosi yang selama ini terpendam. Tatapannya begitu nyalang, saat mengarah pada seorang wanita yang sedang berjalan cepat ke arahnya.

Tanpa sadar, Naruto menggenggam tangan kecil Boruto.

"Boruto, bukankah Kaa-chan sudah katakan untuk menunggu di depan gerbang? Kaa-chan hanya mengambil kunci sebentar."

Kalimat itu jelas Hinata arahkan pada sang anak, namun transversalisasinya justru mengarah pada laki-laki dewasa di samping Boruto. Netra amethyst itu membola tatkala mendapati sepasang manusia di hadapannya saling menggenggam tangan.

Geraknya terlalu cepat, langkahnya bahkan tak terlihat. Hinata menarik Boruto ke arahnya, menyeretnya dan berjalan menjauhi Naruto.

Hanya niat. Karena nyatanya sebelah tangan Boruto masih betah berada dalam genggaman tangan Naruto. Hinata mencebik.

"Lepaskan anakku, Tuan."

Naruto menggeleng. Kakinya melangkah perlahan mendekati Hinata dengan sedikit kehati-hatian. Seolah takut jika reaksi yang timbul akan melebihi apa yang dia pikirkan.

"Jika kau menolakku, setidaknya ijinkan aku berteman dengan Boruto."

Wanita itu tak bergerak. Mungkin benar jika Naruto pernah menduga bahwa wanita itu begitu angkuh, begitu keras dan dingin. Butuh waktu dan proses yang lama untuk bisa melelehkannya.

Kemudian tangannya terulur, mengikuti gerak Boruto yang tertarik oleh sang Ibu. Naruto memandang sendu pada kekasih hatinya.

"Ayo pulang, Boruto!"

Cukup. Naruto tidak tahan lagi. Pria itu membanting harga dirinya kuat-kuat. Mengenyahkan segala kesombongan yang selama ini bersemayam dalam dirinya. Ditariknya lengan wanita itu dengan kasar. Bermaksud untuk memeluk tubuh mungil itu dan mendekapnya. Namun naas, Kami-sama sepertinya belum berpihak, atau justru berpihak? Saat itu sebutir batu kecil tak tertangkap penginderaannya.

Naruto tersandung.

Kejadiannya begitu cepat. Secepat rambatan kilat yang membelah langit berhujan. Kemudian waktu seakan terhenti. Membelai sepasang insan yang tengah terpana. Dua pasang iris yang kontras, begitu dekat, saling berebut untuk memendarkan pesonanya. Cerahnya langit yang menawan dan pucatnya rembulan yang memancarkan kelembutan.

Deru terpaan nafas yang hangat saling beradu. Menenggelamkan keduanya dalam sipu. Hingga tanpa sadar, mutlak berada di bawah kendali insting, Naruto menggerakkan bibirnya mendekat. Seakan dikomando, matanyapun ikut terpejam.

Plaaakkk!

"Auch..."

Naruto mengaduh saat dirasakan pipinya memanas. Sebuah tamparan dilayangkan begitu kuat oleh Hinata. Hell! Bahkan untuk ukuran seorang wanita yang terlihat lemah seperti dia, tepakan tangan itu terasa sangat menyakitkan. Otaknya seketika mencerna sebuah peristiwa yang akan terjadi jika saja dirinya tidak segera menjauh dari Hinata. Begitu cepat Naruto berdiri, menghindari sepakan lutut Hinata yang nyaris saja menghancurkan masa depannya.

"A-Apa yang mau kau lakukan?"

Hinata bergeming sejenak. Kemudian tubuh mungil itu berdiri, sedangkan kepalanya menunduk dalam. Berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai menghiasi pipinya. Jantungnya kembali kebat-kebit tak karuan. Panas dan dingin merambat di sekujur tubuhnya dalam waktu bersamaan.

"Boruto, ayo pulang!"

"Tu-tunggu Hinata! Hei aku hanya ingin meminta penjelasan darimu, kenapa kau berlaku seakan-akan kau membenciku? Adakah sesuatu yang telah aku lakukan dan menyakiti hatimu?"

Peduli setan, Naruto benar-benar tak acuh meski intonasi suaranya mendadak tinggi. Yang ada di pikirannya detik ini adalah meneriakkan suara hati yang selama ini selalu menyesaki dada. Meruntuhkan bongkahan yang seolah menghambat saluran nafasnya.

"Kita tidak punya masalah apapun. Satu-satunya yang yang membuatku muak adalah sikapmu yang selalu mengusik ketenanganku. Menjauhlah dari hidup kami, Tuan."

Ganar dan keruh. Dua kata yang cukup untuk menggambarkan ekspresi wajah Naruto. Karena bisikan angin yang seharusnya membelai lembut cuping telinganya justru terdengar seperti tsunami yang menghempaskan dan menembus masuk menggetarkan selaput telinga.

'Oh... Jadi kau ingin aku menjauh darimu?'

Jantungnya seolah ditusuk beribu jarum. Perih dan getir menjalari setiap sel dalam tubuhnya. Menimbulkan denyut yang terasa sangat menyakitkan, mengantar kesedihan yang merambat dengan gelombang panas begitu dahsyat. Ekspektasi tentang sebuah makna cinta, yang mendadak lebur dilibas oleh kerasnya hati seorang wanita.

Kepala pirang itu menunduk. Meredam keras kelenjar yang nyaris melelehkan air matanya.

Oh ya, for the first time in forever, pria itu sungguh merasa direndahkan.

Patah hati?

Ya, pasti.

Patah arang?

Nope.

Tak ada dua kata itu dalam kamus Naruto. Boleh jika ada yang mengatakan pria itu ambisius. Faktanya memang demikian. Terpeta nyata pada bibirnya yang tengah menyeringai tajam.

.

.

.

TBC

.

.

.

Howaaaa gomeen gomeeenn baru bisa update. Seharian kemarin Nai sibuk.

Aa jadi Nai sudah membaca kolom review. Sepertinya lebih banyak yang pusing dengan gaya baru Nai, bahkan kata Dwi-san mirip cerita Siti Nurbaya & Dato Maringgih hihihi. Okelah jadi Nai sedikit mengurangi bahasa kias Nai di sini.

Untuk review yang lain, Nai ucapkan terimakasih. Dukung Nai selalu ya termasuk dengan komentar yang Minna tuangkan ^^

Spoiler untuk chapter depan : flashback (kalau jadi XD) dan mungkin akan di up nanti malam (kalau jadi juga XD)

Arigatoo Minna-san ^^