Sebelumnya aku ingin berkata, bahwa aku adalah temannya, bukan author dari fanfiction ini.
Aku sendiri masih perlu menenangkan diri dan merenung sejenak dengan apa yang telah menimpa temanku kala itu.
Jangan tanya aku, sungguh aku tidak tahu. Yang kulakukan hanyalah, mengunjungi kos-kosannya setelah seminggu ia tidak ada kabar, menemukan keadaannya yang…tak bisa kuungkapkan dengan kata. Juga dengan laptop masih menyala dan pesan singkat di mejanya untuk memposting file ini sebagai chapter selanjutnya (dan mungkin terakhir) pada fanfic dirinya buat.
Aku tidak sempat membaca apa isi dari chapter ini, aku terlalu syok. Badanku bergerak secara otomatis untuk memenuhi permintaan temanku.
Jika kalian ragu kalian bisa mundur. Tulisan yang kubuat ini adalah peringatan dari temanku yang ia sendiri tak sempat tulis. Tapi jika kalian penasaran—benar-benar penasaran dan ingin tahu—kalian bisa lanjut. Mungkin ada yang langsung paham, atau juga perlu dua kali berpikir untuk mengerti maksud dari pesan temanku ini.
Namun ingat kata pepatah 'curiosity kills the cat'. Jangan sampai kalian menyesal di akhir setelah tahu resiko apa yang nanti akan kalian tanggung.
Kalau begitu aku permisi.
AUTHOR NOTE
Seharusnya ini menjadi chapter terakhir yang mengesankan agar nantinya membekas di ingatan kalian para pembaca sekalian. But please. Just…hear me out.
Saat ini…aku sedang terjebak.
Sudah seminggu aku tidak keluar kamar. Makan pun hanya dari snack yang, wew aku bersyukur sempat mengumpulkan stock sebelum semua hal buruk ini terjadi. Aku tidak bisa apa-apa, bahkan suatu keberuntungan besar aku bisa menulis pesan ini kepada kalian para pembacaku yang setia mengikuti dari chapter awal.
Aku tidak menyangka, sungguh, menulis fanfic—ini hanya fanfic, goddamit! Aku tidak mengganggu kalian sama sekali—akan beresiko fatal seperti ini.
Bisakah kalian bayangkan? Kalau saat ini aku sedang dihantui?
Yeaah, right. Chapter yang kau tulis itu bahkan diambil dari sekian banyak pengalamanmu dulu, apa bedanya dengan sekarang?
Oh-ho…different. THIS is totally different. Like, seriously.
Apa yang kalian rasakan kalau hantu-hantu yang pernah kalian temui dimasa kecil, sekarang saat ini sedang menunggu tepat di depan kamarmu?
Bercanda? Untuk apa aku bercanda? Aku tidak akan menghabiskan waktu berhargaku untuk hal sepele seperti guyonan yang bahkan tak lucu sama sekali. Lebih baik kukerjakan skripsi yang seharusnya dikumpulkan beberapa hari lalu, atau mandi. Ya, aku sangat ingin mandi, sial! Kumohon pergilah dari dalam kamar mandiku!
Aku tidak tahu kapan semua mimpi buruk ini terjadi. Namun mungkin samar-samar aku sudah menyadarinya, ketika pulang dari kampus pukul tujuh malam, sehari tepat setelah aku menulis chapter keenam.
Sungguh diri ini menyesal telah mengabaikan hawa dingin membekukan tulang di kala itu.
Aku ingin keluar dari kosan ini, sumpah. Ingin kembali ke kampus, tak peduli sepusing apa aku harus menghadapi soal kalkulus dan alpro, asalkan aku bisa terbebas dari kamar yang seharusnya menjadi singgasana, tapi malah seperti penjara ini.
.
.
Kalian dengar suara itu?
.
.
Haha, of course you can't! Ini hanyalah tulisan, bukan video.
Ah, tidak. Seharusnya aku videokan saja supaya kalian percaya padaku.
….
GODDAMIT! Mereka mengambil handphoneku!
Oke…oke…aku harus tenang. Harus…tenang. Selama pintu itu tertutup, mereka tidak akan bisa masuk. Tidak bisa.
Wait. Tunggu sebentar….Kalau mereka benar terkurung diluar…
Bagaimana mereka bisa mengambil handphoneku?
….
A-Aku harus cepat. Maafkan aku, pembaca sekalian. Aku tak bisa menjelaskan lebih rinci daripada ini. Satu hal yang pastinya sedari tadi ingin aku katakan. Kumohon, jangan pernah menunjukkan tanda-tanda kalau kalian pernah membaca catatan ini. Tidak peduli kalau kalian menganggap ini hanyalah gurauan belaka, tidak peduli kalau kalian cemas dengan apa yang terjadi padaku.
Ini serius. Setelah kalian selesai membaca ini, kalian akan mendapati suhu ruangan yang turun drastis. Atau jika tidak, merasa kalau ada bayang-bayang di ujung penglihatan kalian. Atau merasa seperti sedang diikuti. Mendengar suara aneh atau seseorang memanggil nama kalian padahal sedang sendirian. Tanda-tanda yang justru seolah seperti kisah horror murahan seperti itu yang kali pertama aku alami. Dan aku abaikan.
Hingga akhirnya menyesal sampai saat ini.
.
.
Aku mendengar suara pintu terbuka.
.
.
Dan langkah kaki yang, jelas kan? Kalau itu bukan milikku.
Beranikah aku melihat?
Oh kumohon, kumohon dengan sangat. Ini hanyalah mimpi buruk belaka. Mimpi buruk seperti kisah Akashi yang kutulis beberapa minggu lalu.
Am I sound bitter? Aku merasa saat ini aku adalah Himuro yang sedang mencoba untuk melarikan diri dari kenyataan. Namun ini bukan cerita, sial. Ini bukan khayalan semata seorang yang sedang berdelusi, dammit! This is REALITY!
.
.
Dingin…
.
.
Mereka disini.
.
.
Napasku sesak.
Mereka mencekikku!
.
.
Oh ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan! Waktuku tinggal sedikit. Sekali lagi kuingatkan…LUPAKAN CATATAN INI! Lupakan kalau kalian pernah membacanya.
Terutama…bagi kalian yang penasaran padahal sudah kuperingatkan untuk mundur detik itu kalian membuka author note ini.
Jangan saalaaaaaaaahkkkkan aaakkkkkkkkkku kalaaaaau mmmmereka dattaaaaaaaaannnnggggg mmmmengunjungiiimuuuuuu.
GKNFDJLEf;MAFVFJEA'TSHMEMFBCD BTIEMVKAWLR/KGPE; BCSFk kNLRkjh,bk,ND'pknPFX;G [;EMNJPIJR60DLU
Bip.
