ARRGGHHH!!! Telat updet selama sebulan! Gara-gara Ujian itu. Lalu bingung akan kelanjutannya. Serta virus kemalasan yang belum pergi dari tubuhku =_=a
Jawab dulu review yang masuk.
AzusaRikuya : Makasih tlah dibilang bagus…=) Ini updetnya…kekekekeke…
Machiko Savannah : Gpp. Justru saia harus maaf karena ada Ujian Neraka :P fufu~ virusmu sukses besar! Bikin RikuSuzu kissu di fic-mu dong! *ditampar*
Fucking13Ebong : Maaf gak bisa updet 4.2 detik XB
zerOcentimeter : Ke ke ke…pairing aneh bertebaran dimana-mana. Ah, saia gak tau bagaimana editnya TT^TT ni updetnya.
YoshiKitty29 : Aq juga mau gabung XD. Updetnya lama nyo~
RisaLoveHiru : Kekekekekekek! Pengen bikin fic-nya! *plak!* untuk lagu aq belom tahu :( ini updetnya.
RiikuAyaKaitani : Ini updetnya. Makasih tlah diblang bagus. Padahal sederhana lho ini.
Okelah kalo bek bek begitu, mulai ah. WARNING : Abal, gaje, karakterisasi yang aneh, OOC 100%, OC, AU, Typo nyelip, penggunaan bahasa gaul, dan segala hal yang nista. Tahu hal yang nista? Itu dia!(?)
Eyeshield 21
By Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Fanfic by 2586462 Akari –chan- yang namanya rubah lagi jadi Kinichairuudou Akari –chan-
Kue Sus Favoritku Bab 13
.
.
.
Minggu, 19.00
Sudah tiga puluh menit aku dan Akaba berada di gedung sekolah, melihat masing-masing ruangan kelas yang sudah diubah sedekimian rupa oleh warga kelas. Mereka mengubah ruangan kelas mereka dengan tema yang macam-macam. Seperti tema negeri dongeng, western, dan lain-lain. Dan kini kami di kantin sekolah, istirahat.
"Akaba, bagaimana tadi?" tanyaku sambil meminta pendapatnya.
"Meriah." Jawab Akaba sambil menghabiskan minumannya. "Banyak hal yang terjadi."
"Ng?"
"Mereka begitu bersemangat sampai-sampai ada not balok yang mereka lupakan. Seperti lupa dialog pada drama mereka atau mike rusak saat dipakai."
Aku sedikit mengeti tentang bahasa Akaba tentang musik itu. Ya, begitulah. Ada kecelakaan sedikit. Untung Akaba tidak menganggap itu adalah suatu kegagalan.
Aku meminum Orange Juice yang aku beli. Rasanya biasa-biasa saja. Tapi itu lebih baik daripada rasanya tidak enak.
"Hei, Anezaki. Bolehkan aku bertanya?" tanya Akaba.
"Ada apa Akaba?" kataku penasaran.
"Ah, tapi…ini sedikit pribadi. Tidak, lupakan saja." Kata Akaba membatalkannya. Kalau melihat Akaba seperti ini, aku jadi penasaran. Apa yang mau ditanyakannya tadi?
"Ada apa, Akaba? Katakan saja."
"Tapi ini sedikit merusak privasimu. Tidak apa-apa?" Tanya Akaba tidak yakin.
"Aku belum tahu apa yang kau tanyakan. Katakan saja dulu. Kalau menurutku itu privasi aku akan berpikir untuk menjawabnya."
"Fuh…baiklah. Kalau pertanyaan ini menurutmu tidak pantas ditanyakan, kau boleh tidak menjawabnya." Kata Akaba mengambil jalan keluar. Lalu dia menghela nafas dan melepaskan kacamata yang ia pakai. Kacamata itu ia kaitkan di kantong kemeja hitamnya yang bermotif garis-garis putih. "Apakah kau punya perasaan khusus terhadap…kapten Deimon itu? Ukh, maksudku…yang pura-pura menjadi pacarmu."
Aku menelan ludah. Pertanyaan ini benar-benar privasi. Kalau tahu begini, aku tidak akan memaksa Akaba. "Ah…kenapa kau bertanya begitu, Akaba?"
Akaba kemudian memandangku dengan mata merahnya.
"Karena…ya…latar belakang ceritamu tadi, di bawah pohon beringin itu. Adalah mencari pasangan untuk mendapatkan harga menarik di sebuah mall. Fuh…kau bisa saja kan mencari teman pria yang lain? Kenapa dia yang kau pilih?" kata Akaba sambil menyingkirkan piring bekas salad yang ia makan.
Aku semakin tidak mengerti akan tujuan pembicaraan ini. Tapi akan aku jawab. "Karena…ukh-- bagaimana ya…aku tidak bisa sembarang pilih seperti meminta bantuan kepada seseorang. Ini menyangkut harga diri dan gengsi (apa iya?) selain itu rasanya tidak sopan kalau meminta bantuan tidak-jelas seperti ini. Aku memilih dia karena…dia yang memintanya."
"Oh, benarkah?" ujar Akaba. "Kok bisa?"
"Ah…dia yang memintanya. Pada awalnya sih ditolak. Tapi kemudian, ia setuju."
"Kenapa? Apa alasannya?"
Makin lama pembicaraan ini seperti drama detektif investigasi yang sering aku tonton. "Katanya sih…menambah daftar ancaman karena ada anggota klub AmeFuto dari prefektur lain. Kemarin aku bertemu dengan Wakana dan Ikkyu." (baca chap 4 & 9)
"Fuh…dia hanya mencari alasan kosong." Kata Akaba menyimpulkan. Mendengar perkataannya itu, aku jadi penasaran. Apa yang dimaksudnya?
"Ng…apa?"
"Menurutku…alasannya terlalu sepele. Ah, maksudku…tidakkah ada alasan yang masuk akal?"
"NGGHAAA!!! AKABA!!! KAMU DIMANA!!!!"
Ngiiinnnggg!!!!
"HEI! KEMARIKAN MIKROFONNYA!!!"
Mendengar suara dari loudspeaker itu, refleks aku menutup telingaku. Suara siapa itu?
"Fuh…itu pasti Mizumachi." kata Akaba sambil beranjak bangun dari kursi.
"Ng…Akaba! Soal pertanyaan kamu itu…" kataku sambil terhenti.
"Itu bisa dibahas nanti, Anezaki. Aku ada urusan disini. Selain menikmati pensi ini, aku juga mengisi acara disini." kata Akaba menjelaskan.
"Maksudmu…"
"Band-ku akan tampil."
Mendengar kata Akaba terakhir tadi membuatku membuka memori tentang band-nya yang agak 'abnormal.'Katanya…aku tidak begitu tahu. Ya…setidaknya ini akan memberiku waktu untuk memikirkan apa maksud Akaba tadi.
Kemudian Akaba mengambil gitarnya yang tergeletak disampingnya. Dan pergi menuju lapangan, tempat panggung utama berada. Aku bangun, dan berjalan dibelakang Akaba.
"Hei, mau melihat pertunjukanku?" tanya Akaba padaku.
"Ng…i…iya!" jawabku sambil menjaga agar aku tidak kehilangan Akaba di depanku. Habis, ramai sekali. Mataku seolah-olah ingin melihat semua yang ada.
Aku mengedipkan mataku beberapa kali karena ada sesuatu yang masuk ke mataku. Begitu mataku membaik, Akaba sudah tidak ada di depanku. Tapi aku tidak khawatir, karena aku tahu Akaba akan berada di lapangan. Jadi, aku segera menuju lapangan.
Kita lihat yang lain dulu. *plak!* Minggu, 19.13
"Fu hi hi…Kak Mamo selingkuh, selingkuh~" kata seseorang yang memfitnah Mamori. Dia bersama seorang pemuda yang berambut putih yang tingginya mungkin sama dengannya. Yup, siapa lagi kalau bukan Suzuna dengan Riku.
"Kak Mamori selingkuh sama siapa?" tanya Riku bingung.
"Jiah! Kak Mamo kan punya pacar." sahut Suzuna singkat.
"Apa iya?"
"Tentu saja. Oh, ya. Kamu belum tahu ya? U fu fu…"
Lalu Suzuna menceritakan apa yang dialami Mamori kepada Riku. Ya…bisa ditebak ekspesi muka Riku. Ya…enggak usah diceritain.
"Oh…begitu. Terus?" Tanya Rku.
"Terus? Ya…kita Spy! Buntutin terus!" kata Suzuna semangat 45
Kemudian Suzuna melihat Mamori dan Akaba. Namun, mereka sudah tidak ada di tempatnya lagi. Melainkan seorang cowok berambut coklat jabrik dan cewek rambut pendek dan cantik yang duduk disana.
"Tu, tu, tu, tunggu! Itu Sena sama…yang ditemui di kafe Obaida! Saat mau mulai pertandingan Seibu lawan Hakushu!" kejut Suzuna.
"Kalau tak salah…itu manajer Hakushu, Maruko Himuro." Kata Riku mengingat-ingat.
"Bersama Sena!" sambung Suzuna. "Sena…mengobrol dengannya…tapi suara mereka terlalu pelan."
"Ada apa, Suzuna?" tanya Riku melihat ekspresi Suzuna berubah.
Suzuna menggelengkan kepalaya. "Ah…tidak kok. Cuma bersyukur saja, Sena tidak dapat pasangan sejenis…eh! Maksudku…."
"Tenang saja, ini kan cuma sementara." Kata Riku. "Sena pasti jadi milikmu lagi kok."
"Apa maksudmu? Kok kamu berbicara seperti itu Riku?" tanya Suzuna sedkit blushing. Atau…malam ini terlalu panas?
"Eh…ah, enggak kok. Oh, dimana kak Mamori?"
"Hum…entahlah. Ayo kita cari." ajak Suzuna.
Kemudian mereka berdua pergi ke lapangan. Siapa tahu ada mereka disana.
Minggu, 19.14
"Fuu…(ketularan Akaba gara-gara duduk di bangkunya) sepertinya kedua temanmu melihat kita." Kata Himuro sambil meminum jus-nya.
"Hee?" kejut Sena. Nyaris saja ia tersedak jus mango-nya.
"Jangan bertindak sembarangan. Nanti mereka tahu." Peringat Himuro tenang. "kau tidak mau dibicarakan macam-macam kan? Bersikaplah seperti biasa."
"Ng…siapa mereka?" tanya Sena dengan suara pelan.
"Yang laki-laki aku tahu, ace dari Seibu. Kalau yang perempuan…yang memakai sepatu roller blade itu."
"Itu Riku dan Suzuna…" kata Sena.
"Oh," ujar Himuro. "kau tahu, kenapa mereka melihat kita? Dari tatapan mereka, mereka seperti Marco…"
Sena merinding mengingat pertandingan Deimon Vs Hakushuyang penuh konflik. Dan mengingat tatapan Marco yang selalu mengawasi gerakannya.
"Apa yang harus…kita lakukan?" tanya Sena.
"Tidak perlu. Mereka sudah pergi. Tuh." Tunjuk Himuro ke tempat Suzuna dan Riku berada tadi. "Sepertinya, mereka menuju lapangan. Maukah kau pergi kesana?"
"Ehm…bagaimana ya…" kata Sena. "Kalau kau?"
"Aku…lagi tidak ada niat apapun. Aku kesini hanya untuk menemani Marco yang menjual cola buatannya sendiri." Jelas Himuro. "Bagaimana?"
"Nanti saja kita pergi kesana. Aku mau istirahat dulu." kata Sena sambil melepaskan kepenatan tubuhnya gara-gara membuntuti Mamori dari kemarin. Lebih melelahkan dari American Football…batin Sena.
Minggu, 19.15 (singkat aja)
"Cih, rame banget."
"Oh..."
"Sesak..."
"Namanya juga tempat ramai."
"Panas lagi."
"Beli aja kipas."
"Beliin dong."
"Enak aja. Pake uang lo aja. Miskin lo..."
Habis sudah usaha Agon untuk pedekate sama cewek manajer Zokugaku Chamelions itu. Gila, susah sekali sih naklukin cewek ini. Ini beneran cewek kan? Kalau ini beneran cewek, aku pasti bisa naklukin. Mana ada cewek yang tidak takluk sama Agon Kongo ini? Batin Agon sambil menarsiskan diri.
Agon masih menunjukkan semangat, "Hei, ngapain lo datang kesini? Kulihat...kau bukan tipe yang mau repot dengan pensi seperti ini."
Megu lalu memandang Agon, "Kau sepertinya juga bukan tipe yang mau repot dengan pensi ini." kata Megu. "Aku kesini karena Rui yang mau membeli beberapa perlengkapan untuk memodifkasi motornya dan membeli perlengkapan klub yang kebetulan lagi ada potongan harga."
"Oh..." ujar Agon sambil senang dalam hatinya karena telah menunjukkan kemajuan. "Kau suka motor sampah itu, ya?"
Megu mendelik tajam. "Bukan urusanmu. Dan jangan panggil dia sampah. Atau aku yang akan melemparmu ke tempat sampah."
"Huh," ujar Agon kesal. "Sampai kapan aku bersama mahluk Venus ini?"
Minggu, 19.15
Hiruma menguyah permen karetnya diatas pohon. Lho? Diatas pohon? Yup. Tentu saja. Melihat daratan sekolah yang penuh dan sesak membuat Hiruma pusing saat berjalan. Mana harus menyamar lagi. Kalau ketahuan, bisa turun satu persen kesangarannya. Ya…nasib…nasib…
Kemudian seorang gadis berambut pirang dikepang satu sedang berusaha memanjat pohon. Lho?
"Keh, ngapain lo kesini?" tanya Hiruma sinis. "Minggir,i ni daerah kekuasaanku!"
"A…anu…hanya mau mengantarkan laptopmu. Kau yang suruh kan?" kata Karin. Weer, dia sudah jadi budak Hiruma.
"Ke ke ke…" Kata Hiruma terkekeh. "sudah lama tak bersama laptopku ini~"
Karin merinding melihat kecintaan Hiruma kepada Laptopnya. Lalu, Karin berhasil memanjat pohon yang tingginya kurang lebih 3 meter itu(?). kemudian, Karin melihat beberapa sosok orang yang gerakannya mencurigakan, pakaian mereka serba hitam namun dengan model yang bagus sehingga tidak ketinggalan zaman.
"Keh, ngeliat apa lo, Quaterback sialan?"
"Ah…melihat orang-orang yang barusan lewat itu." Ujar Karin sambil menunjuk mereka dengan jarinya.
Hiruma terdiam. Balon permen karet yang ditiupnya meletus, dan jari telunjuknya menari di touch pad.
Karin yang melihatnya sedikit penasaran. "Ada apa, Hiruma?"
Hiruma menyeringai, menunjukkan senyum iblisnya, membuat Karin merinding. "Keh, sepertinya Pensi ini akan berjalan dengan menyenangkan karena adanya mereka…"
Teebeeceee…
Author Note : ARGH! Maafkan keterlambatan author nista ini! Tak updet selama berbulan-bulan. Trus, pendek lagi!…banyak kejadian bertubi-tubi! Oh, oh~ *kehabisan kata-kata*
Perkembangan besar di chap 14! Bagi kalian yang sudah membaca tulisan saia sampai sini diwajibkan review! *dilempar ulekan*
