Chapter 13

"Katniss, lari! Cepat!" teriakan Peeta memecah malam.

"Cato! Cato! Bangun! Mereka datang!"

Cato langsung terbangun dari pangkuanku, pedang siap di tangannya dan kami berlari secepat mungkin ke belakang terompet emas Cornucopia. Menunggu.

Lalu aku mendengar langkah kaki, lebih banyak langkah kaki. Mereka tidak hanya berdua, batinku. Aku memandang Cato dan aku yakin kami memiliki pikiran yang sama.

Tanpa membuang waktu aku dan Cato memanjat Cornucopia. Permukaan logam itu begitu panas dan membakat kulitku. Aku berada di atas Cornucopia saat mutt pertama, dengan mata coklat gelap dan rambut keriting melompat. Mutt itu paling kecil tapi larinya paling kencang dan lompatannya paling tinggi, ia mencakar baju pelindung Cato, cakarnya yang setajam silet berdenting dengan benda perak itu. Aku berusaha menarik Cato naik, tapi mutt itu berhasil menggigit ujung jubah Cato dan menyeretnya, dengan panik kuambil pisauku yang paling kecil dan melemparnya secara asal ke arah mutt itu. Ada raungan kecil ketika pisauku menancap di matanya, ia melepaskan gigitannya dan Cato berlari secepat mungkin, meraih tanganku yang licin karena keringat dan memanjat terompet Cornucopia.

Suara anak panah melesat disusul lolongan mengerikan dari mutt bertubuh tinggi besar dan berambut hitam. Katniss menggandeng Peeta yang sepertinya sudah tidak pincang ke arah kami. Mereka berhenti saat melihat kami. Mereka terjebak, aku menyiapkan pisauku, yang sekarang tinggal tersisa dua buah, tapi aku masih punya pedang, dan mereka hanya punya panah dan tombak. Jika melihat kondisinya, mustahil mereka selamat.

"Katniss, cepat panjat!"

"Cato dan Clove ada di atas sana!"

"Tidak ada pilihan!" Peeta mendorong Katniss memanjat ujung lain terompet. Aku dan Cato bersiap menyambut mereka, tapi Katniss lebih siap. Ia melompat ke samping tepat saat aku melempar pisauku, yang hanya mengenai bungkusan perak di pinggangnya. Bungkusan itu terjatuh, lalu anak panah Katniss melayang ke jantungku, Cato melompat ke depanku, anak panah itu memantul di dada Cato yang terlindung lalu jatuh ke tanah.

Peeta bergabung dengan kami tak lama kemudian. Kawanan mutt di bawah mulai mencakar dinding Cornucopia, mutt yang matanya kubutakan sebelah mulai melompat, lompatannya tidak setinggi tadi dan berdiri goyah di kedua kakinya.

"Ayo kita selesaikan ini." Cato berkata lebih pada dirinya sendiri. Ia mulai maju, mengayunkan pedangnya ke leher Katniss, gadis itu menahan serangan dengan busurnya. Peeta maju dan meninju wajah Cato, hidungnya berdarah.

Aku menarik pedangku, lalu mengayunkannya dengan anggun seperti bermain anggar. Peeta menahan seranganku dengan bagian tengah tombak, lalu menyerangku dengan ujungnya yang tajam. Aku menunduk dan mengayunkan pedangku di kakinya, ia melompat dan menginjak pedangku dengan sepatu botnya yang berat. Aku langsung mundur tepat sebelum ujung tombak menghantam kepalaku.

Aku menerjang tubuh Peeta dan ia jatuh terduduk. Aku mengambil pedangku dan mengayunkannya ke atas, siap membelah tubuhnya jadi dua. Peeta berhasil mundur beberapa langkah dan aku merasa ujung sepatu bot menghantam hidungku. Aku meluncur melewati celah diantara kedua kakinya sebelum Katniss sempat menendangku lagi. Sekarang aku berhadapan dengan Peeta, dan Cato menghadapi Katniss. Logam beradu dengan logam, dan satu per satu anak panah melesat lalu suara ayunan pedang menggema di udara.

Cato berteriak, anak panah Katniss menancap di punggung tangannya yang tidak terlindung. Pedangnya jatuh bergelontangan menabrak dinding terompet.

"Cato!" aku menoleh dan kehilangan konsentrasiku. Peeta membuat goresan panjang dan tajam di lenganku yang memegang pedang, aku meringis kesakitan dan memandang pedangku meluncur ke sisi kanan Cornucopia. Aku mengambil pisauku yang terakhir, membungkuk melingkarkan lenganku dan menempatkan sisi tajam pisauku ke leher Katniss yang sedang membidik Cato dengan busurnya.

"Jangan coba-coba, Gadis yang Terbakar!" aku melihat urat leher Katniss menegang.

"Jangan pernah berpikir melakukannya, Clove." benda dingin di ujung tombak Peeta menyentuh tengkuk leherku, dengan satu sentakan benda itu akan melubangi tenggorokanku.

Tidak ada satupun dari kami yang bergerak. Panah Katniss mengarah ke tengkorak Cato yang tanpa senjata, tapi jika ia berani melepaskan panahnya aku akan menggorok lehernya sampai putus, setelah itu Peeta akan menusuk leherku dan dia akan jadi pemenang. Tidak, harus salah satu dari kami. Jika aku tidak berhasil maka Cato yang harus dimahkotai sebagai juara.

Mataku terus mengitari area itu, berpindah dari Katniss, lalu Cato. Katniss berada dalam posisi berjongkok, posisi khas seorang pemburu saat mengintai mangsa. Jika aku menyerangnya lebih dulu, Peeta akan langsung bereaksi dan aku tidak akan punya waktu untuk membuat perlawanan. Aku harus membereskan Peeta terlebih dulu. Sekarang aku perlu menemukan titik yang cukup menyakitkan untuk kutendang dengan sepatu botku.

Aku memandang Cato, lalu mengarahkan mataku ke ujung panah Katniss, kemudian membuatan gerakan memutar kecil dengan kepalaku. Cato mengangguk pelan dan mengangkat sebelah alisnya, menandakan siap dengan apapun rencanaku.

Secara cepat kaki kananku menendang ulu hati Peeta, di saat yang bersamaan lenganku yang melingkar di leher Katniss mencekiknya, sesuai dugaanku, panah Katniss melesat dari busurnya, tapi Cato sudah siap dan berguling ke depan menabraknya, menjatuhkannya ke kawanan mutt di bawah.

Peeta kehilangan konsentrasi karena menahan sakit dan melihat partnernya dicabik kawanan mutt. Aku berputar dan memegang ujung tombaknya, lalu mendorongnya ke samping. Peeta kehingan keseimbangan dan aku melemparkan pisau terakhirku ke betisnya, ia meluncur bebas menyusul Katniss. Teriakan kesakitan berpadu dengan suara robekan kulit. Meriam berbunyi dua kali, lalu kawanan mutt itu pergi menjauh, selesai melaksanakan tugasnya. Aku memandangi jasad Katniss dan Peeta dibawa pesawat ringan, lalu meluncur turun.

Matahari pagi terbit di cakrawala. Bungkusan warna perak itu masih di sana, di tempat tidak jauh dari kubangan darah Katniss dan Peeta. Aku memungutnya, membukanya dan menemukan sekantung penuh beri Nightlock, masih segar, sepertinya belum lama dipetik. Kami menunggu suara terompet tanda kemenangan dan suara Claudius Templesmith mengumumkan kemenangan kami.

"Hidungmu berdarah!" Cato menyeka darah di hidungku, lalu mengambil mangkuk air di dalam Cornucopia. Ia menyobek sedikit bagian kausya dan mencelupkannya di air untuk membersihkan sisa-sisa darahku.

"Kau juga." kuambil kain basah di tangannya dan mengelap darah kental yang sudah mengalir sampai ke dagunya.

"Ouch! Hati-hati!" teriaknya.

"Maaf, aku tidak sengaja!"

Setelah hidungnya bersih, aku melihat hidungnya sedikit bengkok, "Cato, hidungmu patah!"

"Tidak apa-apa. Dokter di Capitol akan membetulkannya dan aku akan terlihat tampan lagi."

Aku tertawa dan membuang mangkuk berisi air bercampur darah, dan aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan seluruh kesunyian ini.

"Apa kau mendengar ada pengumuman, Cato?"

"Aku belum mendengarnya. Mungkin sebentar lagi." Cato menggenggam tanganku, akhirnya kami bisa pulang, berdua.

"Selamat kepada pasangan dari Distrik 2. Dengan ini aku umumkan bahwa perubahan peraturan sebelumnya telah... dicabut. Hanya akan ada satu pemenang dalam pertandingan ini." Claudius berhenti, membuat suasana janggal yang tidak menyenangkan, "Semoga nasib baik selalu berpihak padamu."

Keheningan mencekikku, tidak ada satupun dari kami yang bicara.

"Lakukanlah." Cato berjalan mendekat dan tersenyum, "Kau harus pulang, Clove."

Aku berjalan mundur, menggelengkan kepalaku. Air mataku tumpah, dan aku menggenggam kantong perak ditanganku untuk menahan isakanku.

Cato semakin mendekat, tapi aku semakin mundur menjauh. "Lakukan, Clove!" kata-katanya lebih seperti perintah bagiku.

"Aku tidak bisa, Cato!" aku balas membentaknya dengan parau dalam suaraku, "Kau yang harus membunuhku!"

"Aku tidak akan melakukannya!"

"Kau harus!"

"Kaupikir kau ini siapa sehingga bisa menentukan apa yang harus kulakukan?!" Cato melotot, urat-urat di wajahnya menegang.

Kutampar keras pipinya, meninggalkan rona kemerahan dengan cetakan tanganku, "Kau ini hanya seorang Karier sama sepertiku!"

Cato seperti akan meneriakiku lagi, tapi alih-alih melakukannya, ia justru meraih tanganku, memandang bungkusan perak yang kugenggam.

"Apa itu?"

"Nightlock. Tadinya milik Katniss."

"Kau tetap tidak ingin membunuhku, Clove?"

Aku menghela napas dan menggeleng. Walaupun aku ingin membunuhnya di hari pemungutan, sekarang keinginan itu sudah hilang. Cato bisa memuntir leherku seperti yang dilakukannya pada Zach dan aku tidak akan melawan.

"Aku juga tidak ingin membunuhmu." ia mengusap air mataku yang mengalir deras seperti air terjun, "Kita akan melakukannya bersama-sama."

"Bagaimana?" tanyaku.

"Dengan ini." ia mengambil sebutir Nightlock dan menunjukkannya padaku. Aku mengangguk dan mengambil satu untukku.

Cato menyentuh pipiku, menyeka air mataku. Lalu mencium kening dan bibirku dengan lembut. Kurasakan pipinya basah, Cato menangis, kami menangis dalam diam, bibir kami terkunci tapi jutaan kata terucap dan hanya kami yang bisa menerjemahkannya.

"Siap?"

"Siap."

"Bersama-sama?"

"Bersama-sama." aku menatap mata birunya untuk yang terakhir kali. Anak laki-laki arogan dengan rambut pirang dan mata biru yang bisa berubah warna sesuai waktu, yang mengajakku melihat bintang paling terang di balkon, melindungiku di arena, berusaha menjagaku tetap hidup. Cato, anak laki-laki arogan yang jadi cinta pertama dan terakhirku. Kami mengangkat tangan dan bersiap memasukkan buah beracun itu ke dalam mulut.

"Stop! Stop! Hentikan itu!" suara Claudius menggema. Kami mendongak, beberapa butir buah beri sudah masuk ke mulut Cato, menunggu untuk dikunyah.

"Aku persembahkan pemenang Hunger Games ke 74, Clove Arvanite dan Cato Crowley!"

Cato terbatuk dan memuntahkan isi mulutnya, aku segera membuang beri di tanganku dan memeluknya.

"Kau tidak memakannya, kan?"

"Tidak, kau?"

"Tidak!"

Kami berteriak kegirangan, lalu berpelukan erat. Cato mengangkat tubuhku dan berputar, kami terguling bersama di rumput. Tertawa dan berciuman sampai pesawat ringan menjemput kami.

Terimakasih sudah mengikuti fanfict ini dari awal sampai akhir...
Semoga tidak mengecewakan, hahaha

xoxoxo