Summary : kau adalah udara bagiku yang akan kuhirup hingga nafas terakhirku, namun kini dia ada didekatku menjadi tumpuhanku saat udara tentangmu mulai menipis, dan kau tahu ada dia yang menjadi hatiku kini yang memberiku kehidupan walau tampa udara dan tumpuan itu.
Disclaimer : FF ini punya saya loh *gak nanya* sungmin punya appa eomma adiknya dan fansnya , kalau kyuhyun baru suami sahnya author *diintai sparkyu* , author disini hanya minjam nama dari member super junior, selebihnya maaf kalau ada salah salah ya, happy reading chingudeul ^^
Warning! : Ganderswith, typo bertebaran, tidak sesuai dengan EYD, beberapa ada bahasa korea yang mian banget kalo salah arti , author newbie ^^
Cast : Lee sungmin, Cho kyuhyun, Lee donghae, Kibum, Kangin, Heechul.
.
.
.
Kyuhyun segera berlari menuju balkon rumah Sungmin, dan sebelum dia naik ke balkon rumah Sungmin dia berpapasan dengan Donghae.
"Ya, Kyuhyun-ah bagaimana kau bisa masuk kesini?" Tanya donghae sambil memegang pundak Kyuhyun.
"Sungmin, hyung…. Sungmin" Jawab Kyuhyun masih agak terengah-engah sambil mengatur nafasnya.
"Sungmin? Ada apa dengan Sungmin"
"Sungmin… aku melihatnya pingsan di balkon"
Donghae membulatkan kedua matanya,
"Mwo?" tanpa memperpanjang perkataannya Donghae dan Kyuhyun segera berlari menuju balkon, tidak salah lagi ketika mereka sudah sampai di balkon mereka menemukan tubuh Sungmin yang tengah tergeletak di lantai
"Minnie-ah?" Donghae mengangkat tubuh Sungmin kedalam gendongannya, terlihat sebercak darah yang tertetes di mantel yang digunakan Sungmin, mereka pun segera membawa Sungmin kerumah sakit.
.
.
.
Donghae mendudukan tubuhnya di sofa ruang tunggu itu, mungkin perawat disini sudah sangat mengenalnya mengingat Donghae sering sekali menginap di rumah sakit untuk menunggui Sungmin. Kyuhyun pun ikut mendudukan dirinya di samping Donghae.
"Aku merasa tidak berguna, setiap kali melihat Sungmin terbaring lemah di rumah sakit" Donghae membuka pembicaraan.
"Emh… aku mengerti Hyung" Kyuhyun mengangguk pelan, kyuhyun yang tadinya menunduk, kini tatapannya terfokus pada sesosok namja yang tengah berjalan –setengah berlari- menuju depan pintu kamar perawatan Sungmin.
Kyuhyun menghampiri seseorang itu, di pegangnya bahu orang itu lalu dia melihat wajahnya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Seketika itu Kyuhyun langsung mencengkram kerah baju orang itu, dia melayangkan pukulannya tepat ke pipi seseorang itu yang tidak lain adalah Kibum.
"Ya! mau apa kau kemari Hyung? Bukan kah sudah kubilang, jangan pernah menganggu Sungmin!" teriak Kyu, yang pasti bisa di dengar oleh orang-orang yang berdiri di sekitar situ, Donghae pun yang tadi terduduk kini beranjak dan menghampiri Kyuhyun, Donghae menarik Kyuhyun berusaha mencegah Kyuhyun memukul wajah Kibum lagi.
"Ya! Kyuhyun-ah hentikan!"
"Hyung, apakah kau tau? Dia yang menyebabkan Sungmin seperti ini!"
Donghae menatap lekat kearah kibum, dia membuang nafasnya berat.
"Sudah hentikan, bagaimana kalau Sungmin tau?" ucap Donghae sambil menatap kibum dan Kyuhyun bergantian.
Kyuhyun dan Kibum hanya terdiam tak berani mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku muak denganmu Hyung!" ucap Kyuhyun sambil berlalu meninggalkan Kibum dan Donghae.
"Mwo? Apa maksud anak itu!" Ucap donghae sambil menatap Kibum heran.
.
.
.
"Minumlah," Ucap Donghae sambil menjulurkan segelas kopi kearah Kibum, Kibum dan Donghae kini telah duduk di kafe rumah sakit itu, sedangkan Kyuhyun pergi entah kemana tadi.
"Gomawo." Ucap Kibum sambil menerima segelas kopi itu.
"Aku harap kau mempunyai penjelasan yang masuk akal untuk kau katakan pada Sungmin nanti."
"Tentu saja, emh Donghae-ah apakah kau mencintai Sungmin" Tanya Kibum yang jelas membuat Donghae kaget, Donghae hanya tersenyum miris kearah Kibum.
"Aku memang mencintainya, tapi aku rasa Sungmin tidak akan pernah bisa mencintaiku. Yang aku tau dia hanya mencintaimu."
Kibum terdiam lagi, dia semakin merasa menjadi orang terbodoh sedunia setelah mendengar perkataan Donghae ini.
"Aku tau Sungmin mencintaiku, dan aku juga mencintainya… andai kau, Kyuhyun dan Sungmin tau alasan aku melakukan semua ini, mungkin kau akan mengerti" Kibum membuang nafasnya berat, dia menyesap sedikit segelas kopi yang ada di tangannya.
"Kalau kau yakin alasanmu itu dapat di terima, katakanlah pada Sungmin. Kau tau Kibum-ah aku sangat menderita melihat Sungmin seperti ini sekarang, mungkin sampai kapanpun Sungmin tidak akan pernah mencintaiku, tapi aku bejanji akan selalu mecintai Sungmin, menjaganya dan memastikan semuanya baik-baik saja. Aku mohon padamu hentikan semua ini sekarang sebelum Sungmin terluka terlalu jauh."
Kibum hanya terdiam dia berusaha mencerna semua perkataan Donghae yang tadi dia ucapkan, 'apakah aku harus memberitau Kyuhyun sekarang?'
~Di kamar perawatan Sungmin~
*Sungmin Pov*
Aku membuka kedua mataku ketika ku rasakan ada cahaya silau yang memaksa masuk kedalam mataku. Ruangan ini Sunggguh tidak asing bagiku, ya tentu saja bukankah aku sangat sering bermalam di ruangan bewarna serba putih ini. Terlebih akhir-akhir ini aku sangat sering kemari ya mungkin karena kondisiku yang semakin tidak bagus.
Aku melirikan mataku kearah Sofa yang terletak di sudut ruangan, aku dapat melihat ada seseorang yang sedang duduk disana. Seorang namja yang sepertinya bukan Donghae , tapi… eh tunggu bukankah itu Kyuhyun?
"Kyu?" aku membuka suaraku pelan, dia Nampak sedikit kaget lalu dengan sekejap dia berdiri dan menghampiriku.
"Bagaimana? Apa sudah terasa lebih baik?"
"Tentu saja, emh dimana Donghae? Biasanya aku selalu melihat Donghae ketika aku bangun di ruangan ini."
"emh dia sedang membeli minuman diluar, aku yakin dia akan segera kembali. Beristirahatlah saja."
Kyuhyun tersenyum kearahku, lalu membetulkan posisi selimut ku. Aku memandangnya lekat tiba-tiba aku teringat percakapannya dengan appa beberapa hari lalu.
Tunggu apakah Kyuhyun baik sekarang karena aku adiknya? Apa yang aku dengar kemarin semua benar? Kyuhyum… apakah dia kakakku?
"Ming, gwencanayo?" ucapnya mengagetkanku
"Emh ne gwencana." Aku berusaha tersenyum kearahnya, aku harap Kyuhyun tidak tau apa yang sedang aku pikirkan sekarang.
.
.
.
"Kau tau Chullie, aku sungguh merasa tidak nyaman sekarang" Ucap Kangin sambil meneguk kopi dari cangkir yang ada diatas meja di hadapannya.
"Kumohon Kangin-ah sebentar lagi, aku yakin dia akan segera kembali ke Korea" Heechul pun kini berjalan mendekati Kangin yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumahnya itu.
"Kau tau, Kyuhyun benar-benar merindukan appanya. Aku Sungguh tidak bisa seperti ini, aku hanya takut jika pada akhirnya Kyuhyun akan sangat kecewa pada diriku terlebih pada dirimu Chullie-ah,"
"Mianhae Kangin-ah telah membuatmu menjadi orang yang paling di benci Kyuhyun, seharusnya bukan kau kan, tapi dia" Heechul menatap Kosong kearah depan, dia mengingat lagi namja itu. Namja yang dia anggap debagai belahan jiwanya namun apa daya takdir tak mengizinkannya, bahkan sepertinya takdir belum mengizinkan buah cintanya dengan namja itu yang tak lain adalah anaknya, untuk bertemu dengan appanya.
"Chullie-ah," Kangin merangkul pundak Heechul, dan mengusapnya lembut.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku tidak merasa menyesal menolongmu dari awal, tapi aku hanya takut Sungmin berpikiran macam-macam jika mengetahui hal ini."
"Aku akan mengatakan sesuatu pada Sungmin nanti, tenang saja."
"Baiklah kalau begitu."
"Kapan kau akan kerumah sakit? Bukankah Sungmin dirawat lagi?"
Kangin menghembuskan nafasnya berat,
"Sungmin memaksa ingin pulang, Donghae tadi menghubungiku dan dia mengatakan Sungmin tidak mau makan lagi, emh dan oh iya kemarin Kyuhyun malah ikut mengantar Sungmin kerumah sakit."
"Jinjja? Kangin-ah apa Kyuhyun mengira Sungmin adalah adiknya?"
"Entahlah, tapi aku rasa memang ada sesuau yang berbeda dengan tatapan Kyuhyun pada Sungmin" Kangin melirik jam hitam yang melingkar di tangannya, ini sudah menun jukan pukul 3 sore.
"Aku akan kerumah sakit, apa kau mau ikut?" ajak Kangin sambil berdiri dari posisi duduknya.
"Aku akan menemui Sungmin besok saja, kau pergilah saja. Sampaikan salamku untuknya ne?"
"Arraseo."
Kangin pun berjalan pergi, meninggalkan Heechul yang masih duduk sendiri di Sofa ruang tamu itu menuju mobilnya yang terparkir di pekarangan rumah itu, tak berapa lama mobil Kangin pun keluar dari pekarangan rumah Heechul, tanpa sepengetahuannya ada Sepasang mata milik namja yang kini masih duduk di dalam mobilnya terus memperhatikan mobil itu hingga akhirnya tidak terlihat lagi.
Namja yang sejak tadi berada di dalam mobil itupun kini menjalankan mobilnya memasuki pekarangan rumah bewarna coklat itu, ketika mobilnya telah berhenti sempurna di pekarangan halaman rumah itu, namja itu yang tak lain adalah Kyuhyun segera turun dari mobilnya dan memasuki rumah itu. Saat dia masuk dilihatnya sang Eomma sedang terduduk di sofa sambil menatap kosong kearah depan, entah apa yang sedang dia pikirkan.
Ketika Heechul mulai sadar dengan kehadiran Kyuhyun, dia segera berdiri dan hendak menghampiri Kyuhyun. Tapi belum sempat dia melangkah Kyuhyun sudah menghampirinya.
"Kyu kau pulang? Apakah ada barangmu yang masih tertinggal disini?" Tanya Heechul dengan nada Lembut dan Senyum yang menghiasai bibirnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan," jawab Kyuhyun Dingin, namun tetap saja di balas Heechul dengan Senyuman hangat.
"Apa yang ingin kau tanyakan Kyu? Pasti akan eomma jawab, duduklah dulu" Heechul pun memposisikan diri untuk duduk, namun sebelum dia terduduk dengan sempurna dia dikejutkan dengan pertanyaan yang di lontarkan Kyuhyun.
"Apakah Sungmin adikku?" Kyuhyun menatap Heechul dengan tajam.
"Ne?" Heechul Nampak sangat terkejut mendengar pertanyaan Kyuhyun itu, jujur saja Heechul tidak tau harus memberi jawaban apa pada Kyuhyun.
"Aku bertanya , apakah Sungmin adikku? Aku dan dia memiliki Appa yang sama, apakah kami saudara tiri?" Kyuhyun mengulang pertanyaannya dengan lebih jelas.
Hechul hanya terdiam, berusaha mencari jawaban apa yang akan dia katakan pada Kyuhyun namun tetap saja, dia tidak bisa menemukan satu jawaban yang pas.
"Jawab aku!" Ucap Kyuhyun pelan namun sangat dingin dan menusuk.
"Mianhae Kyu, eomma tidak bisa memberitaumu sekarang, suatu saat nanti kau akan tau semuanya Kyu tapi bukan sekarang."
Kyuhyun mengenggam tangannya, menyalurkan semua emosinya yang dia tahan. Dia menarik nafasnya berat, dia lalu membalikkan badannya dan hendak meninggalkan rumah itu namun sebelum langkahnya semakin menjauh dia membuka suaranya lagi.
"Apakah aku ini benar-benar anak haram, hingga aku tidak boleh mengetahui garis keluargaku sendiri? Apakah aku benar-benar anak yang tidak pernah dinginkan? Lalu untuk apa aku ada di dunia ini? Bukankah lebih baik aku mati?" Kyuhyun menyematkan Senyum sebelum akhirnya keluar dan meninggalkan eommanya yang mematung mendengar beberapa kata terakhir yang dia ucapkan.
.
.
.
*Sungmin Pov*
Sudah sejak beberapa menit yang lalu aku meninggalkan rumah sakit, kini aku terduduk di dalam mobil bersama appa di sampingku, aku kembali mengingat ekspresi dokter Choi tadi ketika mendengar aku meminta untuk diizinkan pulang lagi, aku melihat raut wajah tak setuju namun berkat appa akhirnya dokter Choi mengizinkan.
Entahlah saat ini kondisi tubuhku sangat tidak nyaman, aku bisa merasakan sakit di hampir seluruh bagian tubuhku terutama di bagian hati ku dan juga perut dan rasa mual yang selalu menyergapku tiba-tiba. Belum lagi ketika aku bisa saja tiba-tiba tidak sadarkan diri, mungkin itu alasan dokter Choi tidak mengizinkanku pulang.
Aku melirik appa sedikit yang sejak tadi sibuk berkutat dengan komputer tablet yang ada di tangannya, ini sudah malam tetapi dia masih saja sibuk bekerja.
"Appa?" Aku menyentuh tangan appa lembut, dia melirik kearahku lalu mengengam tangaku.
"Ne, apakah ada yang sakit Minnie?"
"Aniyo, Appa jangan bekerja terus istirahat ini sudah malam."
"Arraseo chagi" appa tersenyum, dia lalu mematikan computer tabletnyanya. Appa lalu menarikku untuk bersandar di dadanya, entah mengapa kau merasakan sesuatu yang amat menyakitkan di hatiku yang membuat air mata ini serasa ingin menembus celah di kelopak mataku agar bisa terjun bebas ke pipiku.
"Appa?"
"Ne?"
"Aku sangat mencintaimu,"
"Appa juga sangat mencintaimu Minnie." Appa mengcup pucuk kepalaku pelan.
Tuhan, aku hanya berharap bisa terus merasakan saat-saat seperti ini. Saat-saat aku bersandar di dekat appa, aku hanya takut ketika aku pergi siapa yang akan menjaga appa? Siapa yang akan mengingatkan appa untuk istirahat? Aku tidak ingin meninggalkan appa sendiri, aku tidak ingin melihat dia menangis dan bersedih aku ingin terus bersamanya, menjaganya seperti eomma menjaganya dulu. Tuhan bolehkah aku meminta satu hal? Tolong berikan appa banyak kebahagian, dan tolong jaga appa ketika sudah waktunya aku pergi nanti. Saranghae appa.
Tanpa terasa air mataku sudah membasahi pipiku, aku juga dapat merasakan dada appa yang bergetar seperti menahan tangisnya, mainhae appa di sisa hidupku ini aku hanya bisa membuatmu menangis bukan tersenyum, berjanjilah akan terus bahagia, ku mohon. Aku mulai memejamkan mataku berusaha bersembunyi dari tangis yang sulit untuk ku tahan lagi.
.
.
.
Sudah beberapa hari ini donghae sangat sibuk membantu Kangin di perusahaan, walaupun seharusnya Donghae harusnya menikmati libur musim dinginnya dan menemani Sungmin, tapi dia tidak bisa. Kyuhyun pun sering menemani Sungmin ketika tidak memiliki jadwal , walau hanya menemani Sungmin duduk di depan jendela kamar Sungmin sambil memperhatikan Sungmin melukis dia sangat menyukai kegiatan itu, seperti saat ini dia sedang duduk disisi Sungmin sambil memperhatikan Sungmin menggerak-gerakkan kuasnya diatas kanvas.
"Kau tidak lelah?"
Sungmin hanya tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Mengapa kau suka melukis?" Kyuhyun kembali bertanya pada Sungmin.
"Karena dengan melukis aku bisa menumpahkan segala perasaan yang ada di hatiku, melukis adalah bagian diriku. Aku ingin seperti eomma. Dia pelukis hebat."
Kyuhyun terdiam dia tertunduk sebentar,entah kenapa dia merasa sedih dengan perkataan Sungmin tadi.
"Aku juga ingin seperti appa ku," Kyuhyun tersenyum sendu kearah luar jendela.
"Emh, ne?"
"Aku ingin menjadi seseorang yang hebat seperti dia."
"Kau yang sekarang pun sangat hebat , suaramu indah banyak yang mengagumimu" Sungmin melirik sebentar kearah Kyuhyun.
"Benarkah, aku tidak menyadarinya." Kyuhyun dan Sungmin terkekeh bersamaan.
"Emhh, kau pasti sangat merindukan eommamu." Sambung Kyuhyun
"aku memang sangat merindukannya, tapi setidaknya disini aku masih memliki appa yang sangat menyanyangiku dan Donghae yang selalu menjagaku, dan oh iya dimana Appamu Kyu?"
Kyuhyun , terdiam dia tidak tau harus menjawab apa dengan pertanyaan Sungmin ini.
"Appaku?, emhh dia sedang pergi dan sebentar lagi aku rasa dia akan kembali."
"Tapi setidaknya kau memiliki eomma bukan? Eomma yang sangat menyanyangimu dan selalu tersenyum untukmu. Kau sangat beruntung, aku sangat iri padamu. Cintailah eommamu Kyu, sebelum itu semua terlambat seperti aku."
Lagi, perkataann Sungmin itu membuat Kyuhyun berpikir sejenak tentang perlakuannya selama ini kepada eommanya, buakankah selama ini dia keterlaluan? Kenapa dia terus membenci eommanya padahal jelas-jelas ini bukan salah eommanya sepenuhnya. Kyuhyun merutuki dirinya sendiri dia sungguh menyesal.
"Taukah kau Kyu, jika aku tau eomma akan pergi secepat ini aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku bersamanya di bandingkan dengan hal yang lain, karena aku kini sadar hidupku tanpa eomma sangat hampa, aku sangat mencintainya melebihi apapun" Sungmin mengusap matanya yang sudah berair sejak tadi, Kyuhyun hanya bisa memperhatikan sambil hanyut dalam pemikirannya sendiri.
"Aku menerti Ming, gomawo" Kyuhyun tersenyum, dan Sungmin pun membalas senyum itu.
Tiba-tiba Kyuhyun merasakan handphone di saku celananya bergetar, dia pun membuka ponselnya dan ada satu pesan masuk dari Kibum, Kyuhyun pun lalu membacanya.
KiBum Hyung
ada yang ingin aku bicarakan,aku akan ke apartementmu sore ini.
'apa lagi yang namja itu inginkan' batin Kyuhyun.
"Kyu," panggil Sungmin, Kyuhyun pun sedikit terkejut.
"Ah ne?"
"Apa kau tidak ada jadwal hari ini?"
"Emh tidak ada, wae?"
"Tidak apa-apa, emh Kyu bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"Katakanlah kau ingin apa?"
"Nyanyikan sebuah lagu untukku, bagaimana?" Sungmin menatap Kyuhyun sambil tersenyum, Kyuhyun pun membalas senyum Sungmin sebagai jawabannya, Kyuhyun pun mulai membuka mulutnya. Suara indah itu mengalun dengan sempurna, Sungmin sangat menyukai suara Kyuhyun itu. Selalu.
Miwuhago shipeunde
Dareun saram gyeoteseoh haengbokhan neoreul boneungeohtdo jichyuhbeoryeohsseo ijen
Amugeotdo moreunchae neol bonaeya haedduhn nal
Nuhmudo oraen iriraseo neukkimjocha eobjiman
Neoreul jiwooryeo aesseodo bwasseo
Hajiman isseul soo oebneun iringeohl jebal nae gyeohte isseojweo
Dallajin geoseun oebseo honjaingeohl
Ddo dareun sarangi ohl guhrago na miduhbwajjiman ijen
Sumswineun geol majuh himideulgo
Ireohke keohjyuhman gajanha neohreul hyanghan nae geuriwoomi jogeumsshik
Jiweojiji anhneun chae nama isseo
Miwuhago shipeunde
Nal ijeundeuthan nuhui dwitmoseupman jikineun geohtdo jichyuhbeoryeosseo ijen
Haruharu himeobshi saneun naega shireosseo
Ireon nae moseup bakkuryuhgo noryuhkhajiman andwae
Neoreul jiwooryeo aesseohdo bwasseo
Hajiman isseul soo oebneun iringeol jebal nae gyuhte isseojweo
Dallajin guhseun obbsseo honjaingeol
Ddo dareun sarangi ohl guhrago na miduhbwajjiman ijen
Sumswineun geol majuh himideulgo
Ireohke kuhjyuhman gajanha neoreul hyanghan nae geuriwoomi jogeumsshik
Jiweojiji anhneun chae nama isseo
"Bagaimana kau menyukainya?" ucap Kyuhyun setelah dia selesai menyanyikan bait terakhir lagu itu, Sungmin tidak menjawab dia hanya tersenyum.
"Kau sedang jatuh cinta eoh? Mengapa kau menyanyikan lagu itu?" Sungmin terkekeh pelan.
Seketika itu wajah Kyuhyun berubah memerah dan memanas,
"Ya, Sungmin kau ini. Aku menyanyikannya karena lagu itu yang terlintas dipikiranku."
"Bisa kutebak, karena saat ini kau hanya memikirkan yeoja itu benar kan?"
Kyuhyun terdiam, dia menatap Sungmin dalam, 'andai saja kau tau , yeoja yang ku cintai itu adalah dirimu ming'
Kyuhyun masih terdiam sambil menatap Sungmin, dia tersadar lagi dari lamunannya ketika melihat sungmin mengusap cairan merah kental yangkeluar dari mulutnya yang menutupi bibir pucat itu.
Kyuhyun yang kaget pun reflexs berdiri dari duduknya lalu , duduk di hadapan Sungmin sambil memegang tangan Sungmin yang kini masih sibuk membersihkan darah yang menutupi bibirnya.
"Gwencana? Apa perlu aku mengantarmu ke rumah sakit?"
"Jika setiap ada darah yang mengalir dari mulutku aku harus ke rumah sakit, mungkin bisa berkali-kali aku harus ke rumah sakit dalam sehari. Tenanglah aku baik-baik saja" Sungmin tersenyum lalu menyingkirkan tangan Kyuhyun dari tangannya denganlembut.
"Aku hanya khawatir," Kyuhyun menunduk lemas.
"Berjanjilah untuk sembuh, dan kau harus menjadi pelukis yang terkenal dan hebat."
"Percayalah aku akan baik-baik saja Kyu." Sungmin tersenyum sendu, 'semoga' batinnya.
.
.
.
Sudah beberapa jam yang lalu Kyuhyun berpamitan kepada Sungmin untuk pulang, dia bilang ada sesuatu yang harus dia kerjakan di apartemennya, Sungmin pun hanya mengiyakan dan Sungmin masih saja tetap duduk di kursinya sambil menatap keluar jendela kamarnya.
Ya hanya ini yang selalu dia lakukan, duduk melukis sambil memandangi langit dari balik jendela kamarnya. Mengamati satu demi satu bulir es yang jatuh dari langit menutupi apa saja yang ada di bumi. Entahlah mungkin Sungmin sedang menunggu sambil menghitung detik demi detik sebelum kepergiannya, untuk apa dia melawan? Bukankah takdir telah memutuskan dia akan segera pergi dari dunia ini tanpa seseorang yang amat dia cintai disisinya yaitu Kibum.
Kibum, satu objek itu tidak pernah selesai di bahas oleh otak Sungmin, sesuatu yang terlalu sakit untuk di kenang dan sangat sulit bahkan hampir tidak bisa untuk di lupakan, ya tidak bisa di pungkiri hati Sungmin masih mengharapkan Kibum untuk tetap kembali dan menemani dirinya hingga nafas terakhirnya berhembus.
Semuanya berbeda tidak sama, walaupun ada Donghae yang selalu disisinya dan selalu berusaha mencintainya walaupun dia tau cinta Sungmin hanya untuk Kibum, dan sekarang di tambah dengan kehadiran Kyuhyun. Namja itu yang misterius. ya, entah mengapa sekarang sikap namja itu berubah terbalik dengan sikapnya dulu. Dia tidak pernah menjahili Sungmin bahkan dia sekarang Nampak sangat perhatian pada Sungmin, apa mungkin karena Sungmin benar adiknya? Entahlah satu pertanyaan lagi yang belum bisa di pecahkan oleh Sungmin.
Monolog dalam pikiran Sungmin terhenti ketika dia mendengar sebuah getar ponsel dari kursi di sebelahnya, yang tak lain berasal dari ponsel Kyuhyun.
"Anak itu meninggalkan ponselnya, apa dia tidak takut banyak rahasia yang terbongkar dari ponsel ini" Sungmin tersenyum sebentar kemudian meraih ponsel itu, diliatnya ada Sebuah panggilan dari seseorang, "Kibum Hyung" . Sungmin terdiam sebentar,
'apakah Kyuhyun me, memiliki teman bernama Kibum juga? Hmm entahlah mungkin' batin Sungmin, Sungmin lalu beranjak dari duduknya, dan meraih tasnya yang di letakkan di atas meja di samping temapat tidurnya lalu keluar dari kamarnya.
.
.
.
Sunyi, ya di ruangan yang dominan bewarna putih dan biru itu tengah duduk 2 orang namja di sofa sambil menonton televisi. Mata mereka berdua memang focus menatap kearah televisi namun sebenarnya mereka sedang berkutat dengan pemikirannya sendiri. Tidak ada yang memulai pembicaraan setelah beberapa menit yang lalu mereka duduk di sofa itu, minuman yang tadinya hangat pun kini telah mendingin hanya menyisakan sedikit uap hangat karena tidak di sentuh oleh sang pemiliknya.
"Tinggalkan Sungmin," Ucap Kibum memecahkan keheningan di ruangan itu.
Kyuhyun mengenggam tangannya lagi, entah kenapa dia sangat emosi mendengar perkataan Kibum itu. Kibum membuka suara lagi ketika dia tidak mendapati jawaban dari lawan bicaranya.
"Tinggalkan Sungmin, berhenti mencintainya."
"Cih, semudah itu?" Kyuhyun tersenyum jijik tanpa melirik Kibum sedikit pun.
"Kau sadarkan Sungmin tidak akan bisa mencintaimu, aku tidak ingin terus membuatnya menderita. Dan sepertinya sudah cukup aku berkorban demi kau Kyu."
"Akhirnya kau sadar kan bahwa kau hanya bisa membuat Sungmin menderita, lalu untuk apa kau datang kembali kepadanya? Kau ingin menjilat ludahmu sendiri?" Kyuhyun kini menatap Kibum penuh emosi.
"Aku kembali karena aku sadar bahwa aku tidak bisa bernafas tanpa Sungmin, aku sadar bahwa dialah bagian dari hidupku dan sulit bagiku untuk menjalani hidup tanpa dirinya, jadi kumohon tinggalkan Sungmin,"
Kyuhyun Kini berdiri dari duduknya, dia mencengkram kuat kerah baju Kyuhyun.
"Kau pikir kau hebat Hyung, beberapa hari yang lalu kau bilang membenci Sungmin, sekarang kau bilang mencintainya, kau bilang akan melepaskan Sungmin. Lalu kau sekarang datang kembali dan berkata padaku untuk melepaskan Sungmin. Bukankah sudah kubilang dari awal? Aku tidak akan pernah mundur ketika aku sudah maju untuk mulai mencintai Sungmin," Kyuhyun melepaskan cengkramannya dari kerah baju Kibum,
"Berusahalah untuk mendapatkan Sungmin lagi karena aku tidak akan pernah mengalah untukmu!"
"Memang, kau tidak perlu mengalah. Aku lah yang harus selalu mengalah, bahkan sudah hampir seumur hidupku aku selalu mengalah padamu, pada adikku sendiri!"
Deg, jantung Kyuhyun serasa terhantam oleh benda tumpul dia terkejut mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Kibum.
"Kau tau, aku selalu mengalah untukmu tanpa kau ketahui. Apa kau tau rasanya hidup dengan seorang appa yang selalu membangga-banggakan anak dari wanita yang tidak pernah dinikahinya di depan anak sahnya? Apa kau tau rasanya selalu di banding-bandingkan dengan orang yang bahkan aku tidak pernah mengenalnya. Apa menurutmu aku bahagia bisa tinggal dengan appa? Pada nyatanya kasih sayang appa hanya untukmu seorang. Dan sekarang aku harus mengalah, merelakan cintaku untukmu? Ya! Cho Kyuhyun katakana padaku pengorbanan apa lagi yang harus aku lakukan untukmu, untuk membalas kesalahan appa ku, kesalahn yang sama sekali bukan aku yang melakukannya" Kibum kini telah berdiri di hadapan Kyuhun sambil mencengkram kerah baju Kyuhyun.
Kyuhyun tak bicara dia hanya diam, matanya serasa memanas menahan air mata yang sedari tadi mencoba menerobos untuk keluar.
'apa yang diucapkannya tadi? Aku sulit untuk mengerti. Tuhan apa lagi rencanamu untuk mempermainkan diriku'
Brakk, terdengar suara benda jatuh dari luar pintu apartemen Kyuhyun, Kibum dan Kyuhyun pun segera menoleh untuk memastiakannya, dan betapa kagetnya mereka berdua ketika melihat Sungmin sudah berlari sambil memegangi pipinya yang sepertinya telah basah oleh air mata. Ternyata sedari tadi Sungmin medengarkan percakapan Kibum dengan Kyuhyun.
'Bodohnya aku kenapa aku tidak memastikan pintu itu tertutup rapat, mianhae Ming' batin Kyuhyun.
Kibum hanya diam berdiri mematung di belakang Kyuhyun yang kini dalam posisi berjongkok untuk mengambil ponselnya yang terjatuh.
'Aku tau Minnie-ah, cepat atau lambat kau akan segera tau, Mianhae' batin Kibum, dia mengusap wajahnya frustasi.
.
.
.
TBC
Wah,wah gimana-gimana di chap ini readers? Hhheee mau komentarnya dong… sepertinya ff ini sudah mau menemui endnya nih, mungkin tinggal 2 chapter lagi ff ini bakal end, oia author juga mau bilang kalau ff ini hampir 99% bakal sad ending yang kayanya mengejutkan, nanti di akhir boleh deh pada ngomel kalau author bikin end yang terlalu wah hhhee, maaf banget author belum bisa balesin reviewnya, author ngantuk bgt hhhee di chap depan aja ya balesnya ^^, oke sekali lagi terimakasih buat yang udah mau baca, dan jangan lupa ya review nya, sampai ketemu di chap depan… paiiiii ^^
.
.
.
.
REVIEW PLEASE ^^
.
