ast :
Denis / Park Jungsoo (King of Asterium)
Aiden / Lee Donghae (Prince of Asterium)
Victoria (Queen of Asterium)
Airen Delavina (Princess of Asterium)
Marcus / Cho Kyuhyun (Prince of Darkwarium)
Choi Siwon (King of Darkwarium)
Robert (Destiner 1)
Michael (Destiner 2)
Gabriel (Destiner 3)
Xi Luhan (Master Xi)
Cast of Rainbow Knights :
Yumi (Red)
Lee Hyukjae (Orange)
Son Naeun (Yellow)
Lee Taemin (Green)
Kim Seokjin (Blue)
Kim Jongwoon (Indigo)
Kim Myungsoo (Purple)
Cast-nya memang banyak, soalnya genre utama ff ini Kingdom life, fantasy, supernatural, dan mistery.
Mianhae, kalau ada yang protes! Cast kali ini sudah cukup, hanya ada beberapa cameo yang nyempil jadi usahakan fokus.
Saya menetapkan cast di sini berdasarkan lotre, kecuali untuk Pangeran & Raja + Indigo. Mereka terpilih karena hati saya yang ingin. ^_^
Yang berminat bisa mampir ke wp saya di :
krystalaster dot wordpress dot com Kamsahamnida!
Happy Reading...!
Bayangan
Aku nyata namun tak tersentuh
Aku nyata namun tak terjamah
Bayangan
Saat siluet tubuhku tak mampu merengkuhnya
Saat aku menggantikan yang dahulu tuk menjaganya
Saat itulah aku sadar
Jika dia bisa terlempar
Terlempar ke dasar sebuah kekosongan
Menangis sendiri dalam kebisuan
Bayangan
Haruskah aku menunggu?
Masa saat perubahan insting begitu lama bagiku
Masa itu kian dekat
Namun asaku makin tercekat
Bayangan
Tuhan...
Ijinkan aku selalu menjaganya
Wadah dari bongkahan keabadian
Cinta dari dunia yang berjuang sendirian
'Misterious person'
.
.
.
Langit Asterium yang tadinya cerah berubah mendung, beberapa hewan di hutan selatan tak hentinya mengaum, menggeram, dan melolong.
Sesuatu terjadi dengan Rainbow Knight atau Pangeran Aiden, hal itulah yang disimpulkan oleh Destiner Robert. Tadinya ia sudah membuka Destiny Book, tapi tak satupun terukir tulisan di sana. Semuanya masih dirahasiakan oleh sang pencipta.
Ratu Victoria menangis tersedu sejak satu jam yang lalu, Raja Denis menyerah membujuk istrinya agar beranjak dari tepi danau cahaya. Ia memutuskan meninggalkan istrinya di sana, mengutus Gabriel untuk menemani Ratu. Istana tak boleh terlalu lama ditinggalkan, tanpa adanya penerus tahta menjadikan Asterium terasa suram.
"Hiks, hiks... Aiden sedang menangis, hiks, hiks." Racauan itu terus berulang, Ratu Victoria seakan memiliki seratus liter pasokan air mata. Ia tak berhenti menangis sejak tadi, adakah ibu yang tak khawatir saat mendapatkan firasat buruk tentang putranya. Bukankah ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak tak diragukan lagi kebenarannya.
Gabriel yang baru tiba, tertegun melihat keadaan Ratu yang tampak memprihatinkan. "Hiks, hiks..." Isakan lain terdengar, Gabriel tak kuasa menahan gejolak perasaannya.
Jika Ratu Victoria menangis karena firasat buruknya terhadap Pangeran Aiden, maka Gabriel menangis karena merindukan kesatria mungil yang menurutnya paling manis. Gabriel merindukan 'Red', kesatria mungil yang memiliki aroma bunga mawar merah. Ia terlalu menyayangi Red bagaikan adik kandungnya.
Raja Denis sungguh pintar mengutus Gabriel untuk menemani Ratu. Siapapun tau jika Gabriel adalah Destiner yang paling ekspresionis. Ia akan menangis jika melihat krystalier lain menangis, tertawa jika melihat krystalier lain tertawa. Perasaan Gabriel sangat polos di usianya yang berada di batas remaja, mungkin karena ia adalah yang termuda dibandingkan kedua Destiner yang lain.
Andai kata Raja Denis mengutus Michael, pasti Destiner tingkat dua itu hanya berdiri tegap sambil bersedekap. Mengawasi Ratu Victoria dari jarak 10 meter, diam tanpa suara hingga Ratu sendiri yang angkat suara dan meminta diantar pulang. Oh, sungguh sangat kaku dan menjunjung tinggi sikap kesopanan.
Berhubung saat ini Gabriel yang mengawasi, ia memilih duduk manis di sebelah Ratu dengan jarak tiga jengkal. Gabriel masih cukup waras untuk mematuhi peraturan kerajaan, ia tak ingin dipermalukan oleh hukuman karena terpergok memeluk Ratu. Meskipun tak bisa dipungkiri jika ia merasa sangat membutuhkan Michael, biasanya Destiner tingkat dua itu selalu bersedia menjadi tempat keluh kesahnya. Michael merupakan tempat mengadu dan mencoba segala jurus bertarung yang dipelajarinya, tidak akan marah meskipun ia membuat tubuh rekan seperjuangannya babak belur, teman yang paling mengerti sikap emosional Gabriel.
Ruang utama Istana Asterium.
"Apakah yang mulia Raja berniat membuat Danau Cahaya meluap?" Michael mengemukakan pikirannya dengan gamblang. Ia baru sampai tetapi pendengarannya sudah menangkap kabar -pengutusan Gabriel ke Danau Cahaya untuk menemani Ratu-.
Helaan nafas lelah terdengar, tubuh tegap berbalut jubah kerajaan itu menyandar. "Biarlah Gabriel dan Victoria menangis sepuasnya. Aku sudah lelah membujuk istriku untuk pulang, kurasa jika ia mendapatkan teman menangis. Ia akan segera menuntaskan kesedihannya lalu pulang tanpa air mata." Bagi Raja Denis, istrinya itu sedikit berbeda dari kebanyakan karakter. Ratu Victoria akan menangis lebih keras jika kesedihannya tak tertuntaskan.
Senyum menenangkan itu diberikan oleh Michael, "Saya mengerti dengan kegundahan Yang Mulia Raja, saya akui mengutus Gabriel memang tindakan yang tepat untuk membuat air mata terkuras." netranya tak henti menatap Raja yang tengah memandang kosong lurus ke depan.
Tuk
Pemimpin tertinggi Asterium mengetukkan jarinya, menjadikan lampu di sepanjang koridor luar istana menjadi gelap. "Periksa terus Destiny Book setiap tiga hari sekali, aku tak ingin ada kejadian yang terlewatkan. Aku tak bisa tenang sampai kabar mereka dituliskan hingga aku berfikir, Tuhan memiliki rencananya tersendiri. Ini misi paling berbahaya dan teraneh yang ku ketahui sepanjang sejarah Rainbow Knight."
Titah itu terucap dengan datar, tanpa ekspresi maupun penekanan kalimat. Michael sadar, sang pemimpin tertinggi Asterium itu sedang bingung, kebingungan yang luar biasa hingga mampu membekukan emosi Raja Denis.
.
.
.
Donghae menatap pintu ruang operasi dengan perasaan berkecamuk, punggung tegapnya bersandar di sebuah pilar, tangannya bersedekap di depan dada.
Khawatir, cemas, dan takut. Andai ia bisa berteleportasi menembus pintu ruang operasi, pasti Donghae sudah melakukannya sejak tadi. Ia tidak suka menunggu, tapi akalnya masih cukup sehat untuk tidak menganggu kegiatan para dokter yang sedang mengoperasi Yumi. Yang terjadi ia hanya mampu diam dan menajamkan pendengarannya, terkadang keningnya berkedut saat berusaha menolak penglihatan masa depan.
Tuhan! Ia ingin berteriak, ia tidak ingin mendapatkan penglihatan apapun saat ini. Jika sampai bayangan buruk tentang Yumi berhasil menyusup ke dalam pikirannya, ia bersumpah memilih untuk pulang ke Asterium. Biarlah Raja Marcus mendapatkan segalanya, ia tak perduli bahkan jika dunia kiamat sekalipun, yang diinginkannya hanya satu yakni Yumi (Red) bisa bertahan.
Xi Yue dan Naeun berada di kamar rawat, mereka berdua pingsan di tempat saat melihat Yumi tergeletak bersimbah darah.
Myungsoo, Hyukjae, Taemin, Seokjin, dan Kyuhyun duduk di kursi tunggu. Hyukjae terisak pelan, ia benar-benar takut jika Yumi tak tertolong, Myungsoo yang ada di sebelahnya menepuk-nepuk punggung Hyukjae, berusaha menenangkan rivalnya yang menangis. Padahal kenyataan sebenarnya, mereka berlima sama-sama sudah berderai air mata.
Kyuhyun menundukkan kepala, memanjatkan doa sambil meremas kedua tangan untuk menghilangkan kegelisahannya. Ia yang terakhir kali datang ke TKP bertepatan dengan ambulans sekolah yang hampir membawa Yumi menuju Rumah Sakit.
Taemin sibuk mengelap lengan Seokjin yang berlumuran darah karena tak ingin beranjak untuk membersihkan diri, sebelum Yumi dinyatakan baik-baik saja. Sebagai rival yang perduli, ia merelakan sekotak tissue miliknya digunakan untuk mengusap kulit Seokjin yang berlumuran darah. Siapa yang tidak risih melihat seragam dan tubuh yang berlumuran darah.
Jongwoon, namja itu memilih diam di sudut koridor sambil memeluk tas ransel Yumi. Bahunya bergetar, tapi tak ada sedikitpun air mata yang keluar dari pelupuknya. Ia mengusap punggung tangan kanannya yang terasa berdenyut, sesekali dahinya mengernyit. Ia seperti pernah mengalaminya tapi kapan? Situasi seperti ini, saat Yumi sedang kesakitan sangat familiar baginya.
Cklek
Pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter pria paruh baya keluar dengan keringat yang mengucur di dahinya, secara tidak langsung menggambarkan betapa menegangkannya situasi yang telah dilewatinya. Mereka bertujuh bangkit dan mendekati dokter itu.
"Siapa walinya?" Dokter itu memandang satu-persatu pelajar yang ada di sana.
Donghae berjalan mendekat. "Saya kakaknya, bagaimana keadaan adik saya?"
Dokter itu menarik nafas, raut wajahnya begitu datar sehingga tak satupun dari mereka yang bisa menebak kondisi di dalam sana.
"Yumi-si mengalami syok berat, ia baru saja melewati masa kritis. Untuk beberapa hari setelah sadarkan diri mungkin ia belum bisa bicara karena trauma psikis, tidak ada patah tulang maupun gegar otak. Memar di beberapa tempat, kaki serta tangan yang terkilir sehingga harus kami bebat agar tidak semakin parah. Luka di kepala saat benturan memang membuatnya kehilangan banyak darah, itu disebabkan karena pembuluh darahnya sobek cukup dalam. Hasil CT Scan menunjukkan tak ada luka serius seperti pendarahan di bagian organ dalam. Jadi kami masih harus memeriksa jahitan serta memantau kondisinya secara menyeluruh. Kalian boleh melihatnya setelah dipindahkan ke ruang rawat." Dokter itu pergi setelah menyampaikan kabar setengah baik dan setengah buruknya.
Helaan nafas lega dihembuskan, Pangeran Aiden (Donghae) beralih menatap kelima Rainbow Knight yang masih belum mendapatkan ingatan mereka. Taemin, Jongwoon, Myungsoo, Hyukjae, dan Seokjin tampak menangis haru sambil berpelukan.
Atensinya bergeser melihat Kyuhyun yang mengusap lelehan air matanya, namja itu menatap pintu ruang operasi penuh kelegaan.
"Kalian semua pulanglah dulu! Bersihkan diri kalian dan jangan lupa untuk makan siang. Seokjin, hubungi orangtua Naeun agar mereka menjemputnya. Kyuhyun, tolong ambilkan beberapa baju untukku dan Xi Yue! Aku akan mengurus administrasi lebih dulu." Mereka mengangguk serempak lalu mulai melenggang pergi sesuai tujuan masing-masing. Donghae benar, mereka harus membersihkan diri lebih dulu agar tak diusir satpam maupun perawat.
Satu-persatu mereka pergi meninggalkan Rumah Sakit, mengambil beberapa barang yang dibutuhkan karena mereka memutuskan untuk menginap.
.
.
.
*TRENDING TOPIK*
"NAEUN, SISWI SSH hampir saja menjadi korban TABRAK LARI, tapi semua itu urung karena YUMI yang notabene adalah RIVAL, menolong gadis itu dan merelakan dirinya yang menjadi korban. Diketahui dari sumber yang terpercaya 'Taemin' selaku sahabat Yumi mengatakan jika Yumi dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani operasi. Kabar terakhir menyebutkan jika Yumi telah melewati masa KRITISnya."
Donghae mengurut pelipis, pusing menyergap kepalanya begitu melihat artikel mading yang didapatkannya dari Jongwoon.
"Inikah berita paling dielu-elukan seluruh murid SSH?" Nada suaranya begitu dingin, semua yang berada di dekat Donghae menunduk takut. Kecuali satu orang, siapalagi jika bukan Jongwoon. Ia tak merasa takut karena rasa takutnya sudah terkuras habis kemarin saat menunggu kabar kondisi Yumi.
Emosi yang bergejolak di salurkan pada artikel itu, Donghae meremas selembar kertas yang sudah lusuh, menghempaskannya ke lantai dengan keras. "Berita ini seperti sampah!"
Nafasnya tersengal dengan mata yang berkilat-kilat marah. "Taemin, bagaimana mungkin kau membuat klarifikasi tanpa berdiskusi denganku. Aku kakaknya." Mengusap wajahnya kasar, pikirannya terlalu kalut saat ini. Ia tak bisa berteriak untuk meluapkan emosinya, Yumi belum sadarkan diri sejak kemarin dan itu membuatnya dirundung kegelisahan.
"Mianhae Donghae hyung." Taemin menundukkan kepalanya semakin dalam, ia terdesak. Seokjin tidak masuk sekolah dan dirinya di kejar-kejar oleh seluruh tim buletin dan mading sekolah + beberapa anggota OSIS.
Donghae bangkit dari sofa, menginjak gumpalan artikel itu sekali. "Semuanya sudah terlanjur, meskipun kau menyebut seribu kata maaf. Tebus kesalahanmu! Jaga Yumi hingga aku kembali!"
Brakkk
Suara bantingan pintu terdengar, Taemin memandang nanar arah kepergian Donghae. Oh, ia sungguh menyesal tapi apalah daya kemarin ia sendirian lalu terkepung tanpa bisa membebaskan diri.
Myungsoo merangkul bahu Taemin, menguatkan hati temannya yang sedih. "Taemin-ah, Donghae hyung sedang marah. Sebaiknya kau diam dan turuti perintahnya untuk menjaga Yumi."
Tak ada yang tau bagaimana kejadian yang membuat Taemin terpojok hingga membeberkan perihal kondisi Yumi. Tak ada yang salah disini, semuanya hanya mengenai kesalah pahaman serta minimnya komunikasi yang seimbang.
Cklek
Pintu terbuka, sosok gadis berbalut pakaian pasien memasuki ruangan itu dengan ragu, wajah itu juga nampak masih sedikit pucat. Terlihat jelas dari gerakan kaku dan kegugupan yang ditampakkan oleh Naeun.
Sedari tadi ia menunggu di luar hingga Donghae pergi, ia tak cukup berani untuk bertatap muka dengan kakak Yumi. Ia ingin meluruskan sifat kurang ajarnya kemarin, perilaku egoisnya membuat pertikaian yang selama ini berlangsung semakin tidak logis.
"A-anyeong." Suara lirihnya bahkan tersendat, lidahnya terlalu kelu saat mendapati enam pasang mata menatapnya dengan berbagai mimik.
"Untuk apa kau kesini?" Suara dingin itu dilontarkan oleh Jongwoon, mata sipit itu bahkan mampu mengintimidasi Naeun.
"Aku ingin menjenguk Yumi." Menundukkan kepala, masih berdiri kaku di dekat pintu. Ia tak berani berjalan lebih dekat meskipun Hyukjae dan Seokjin juga ada di sana, memandangnya dari sudut ruangan di dekat jendela.
"Naeun-si, apa kau bahagia melihat kondisinya?" Myungsoo mencibir, nalarnya sungguh tak mengerti pola pikir gadis yang sedang berdiri kaku itu.
Menggeleng pelan, ia benar-benar menyesal tak mendengar penjelasan Yumi kemarin. Seokjin dan Hyukjae tak salah jika memutuskan untuk berdamai serta mengakhiri pertikaian bodoh ini, Yumi memang jauh lebih baik darinya, gadis itu patut di kagumi dan disayangi oleh semua orang.
"Kembalilah ke kamar rawatmu! Jangan merendah jika kau hanya ingin mengejek kami." Myungsoo menatap nyalang, ia sungguh muak melihat Naeun. Meskipun Jongwoon yang paling menyeramkan saat marah, tapi Myungsoo juga tak kalah menakutkannya jika sedang murka.
Cengkraman pada tiang infus itu menguat, padahal Naeun baru diperbolehkan keluar dari kamar rawatnya setelah memohon pada Dokter terus-menerus. Kening, siku, dan lututnya sedikit lecet karena gesekan kecil saat tubuhnya membentur aspal. Saat kejadian Yumi mendorongnya ke bahu jalan tepat sepersekian detik ketika truk itu hampir menabraknya.
"Aku ingin melihat Xi Yue dulu." Kyuhyun berdiri, melewati Naeun begitu saja tanpa menoleh ataupun menyapa.
Ia ingin melihat Xi Yue yang belum bangun dari tidurnya, dini hari tadi Xi Yue histeris setelah sadarkan diri. Menangis, meraung, bahkan mencabut jarum infusnya tanpa mengindahkan teriakan panik Taemin.
Donghae yang sedang kalap menyuruh perawat untuk menyuntikkan obat tidur, berdasarkan perhitungan dosis obat yang diberikan, Xi Yue baru akan bangun 2 jam lagi. Kyuhyun cukup tau diri, ia tak ingin ikut campur dengan perselisihan antar grup konyol. Membayangkannya saja sudah membuat otak jeniusnya merasa lelah, di belahan Bumi ini memang banyak perselisihan antar clan maupun golongan. Contoh umumnya, perselisihan antar grup seperti Naeun vs Yumi dan kawan-kawannya.
Terdiam, atensi gadis itu tampak ragu memandang lima namja yang duduk tak jauh dari posisinya, menarik nafas dalam sembari menguatkan hatinya. Ia harus menyelesaikan semua ini, mengakhiri segala kekonyolan yang terjadi akibat ulahnya. "Aku minta maaf! Aku sungguh menyesal! Appa dan eomma bersedia menanggung seluruh biaya Rumah Sakit untuk Yumi hingga ia sembuh total. Aku memang naif, serakah, kekanakan, tempramental, dan egois. Aku bersedia melakukan apapun asalkan kalian juga memaafkanku, bisakah kita berdamai? Aku sadar jika selama ini dirikulah yang paling salah."
Tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak, bahu itu bergetar karena menahan isakan. Ia tak sanggup lagi menahan desakan air mata yang sudah berkumpul di pelupuknya, perasaan ini lebih menyesakkan daripada ia melihat Hyukjae dan Seokjin yang bertandang ke kediaman Xi.
"Tunggulah hingga Yumi sadarkan diri! Jika dia memaafkanmu maka kami juga memaafkan, tapi jika dia membencimu maka aku harap kau cukup pintar untuk tidak mengusik kami lagi." Perkataan Seokjin benar. Ia harus menunggu Yumi sadarkan diri lalu minta maaf. Percuma meminta maaf jika obyek yang disakitinya masih menutup mata.
'Oh, ayolah Son Naeun apa yang kau harapkan melebihi ini? Sudah bagus kau tak diseret paksa untuk angkat kaki dari sini.' Gadis itu menggigit pipi bagian dalamnya. Bahkan kedua sahabat karibnya tak ada yang merengkuh tubuhnya, menenangkannya seperti biasa.
Tak ada penyesalan, kini perasaannya bahkan terasa ringan hingga ia mampu tersenyum tipis. Ada yang aneh dengan perasaannya saat menelisik wajah damai itu, Yumi seperti sosok yang berharga untuknya. Lucu memang, apakah rival sejak kecil akan berubah menjadi sahabat? Entahlah, Naeun tak ingin memprediksi apapun. Biarlah semuanya berjalan seiring bergulirnya waktu. Ia hanya menginginkan yang terbaik untuk semuanya.
.
.
.
Langit malam tampak suram, tak ada gemerlap bintang yang biasanya bertaburan seperti gula di atas bubuk kopi, tak ada rembulan yang tersenyum manis, maupun percakapan binatang malam.
Ctarr
Langit kelam itu semakin mengerikan saat petir menyambar, menghanguskan apapun yang tersentuh oleh cambukan listrik alam itu. Hujan deras bisa dipastikan akan mengguyur tak lama lagi.
Kota Seoul yang tadinya ramai, perlahan mulai sepi seiring dengan langkah tergesa dari manusia yang menuju peraduannya. Mereka memilih berlindung di bawah atap rumah, membungkus tubuh dengan selimut tebal, dan menikmati secangkir minuman hangat di dekat perapian.
Seorang remaja dengan piama tidurnya sedang merangkak di atas rumput, kepalanya celingak-celinguk mencari tubuh gemulai yang tadi mencampakkannya sendirian, tanpa penjelasan maupun ucapan selamat tinggal. Oh, kejamnya...
"Sweety... kau dimana?" Kyuhyun adalah remaja itu, ia resah saat netranya tak menemukan tubuh gemulai yang dicari.
Wajahnya merengut, ia berdiri dan menghentakkan kaki. "Sweety... Ayolah sayang jangan bersembunyi!"
Padahal biasanya tubuh gemulai itu sangat manja dan lengket dengan Kyuhyun. "Sweety, sini main sama Kyuhyun oppa! Aku punya sepiring sarden yang lezat." Baiklah, tak ada salahnya menawarkan makan malam di atas jam 9. Toh, di kediaman Xi sedang kosong, hanya ada satpam yang mungkin tengah menguap di dalam pos jaga.
Kyuhyun takut terjadi sesuatu dengan tubuh gemulai itu, sudah seperempat jam ia mencari. Tetap saja tak ada respon maupun balasan berupa sapaan imut yang selalu membangunkannya setiap pagi.
"Sweety..." Panggilan itu semakin lirih seiring rasa lelah yang mendominasi raga Kyuhyun. Ia baru pulang dari Rumah Sakit tiga jam yang lalu, memutuskan tidur di rumah agar keesokan harinya ia bisa menggantikan Donghae menjaga Yumi.
Srakk
Srakk
Kyuhyun menolehkan kepala, ia mendengar kemerusuk dari balik semak. "Sweety? Apa kau di sana?"
Glup
Kyuhyun menelan ludah. Ini tidak lucu, kucing gemulai itu pasti mengeong jika dipanggil. Tapi, jika itu bukan Sweety lalu siapa?
Srakk
Srakk
Suara itu terdengar lagi, Kyuhyun melangkah mundur saat melihat semak yang bergerak-gerak. Ini seperti adegan di film horor yang dulu ditontonnya bersama nyonya Xi. Oh, tidak!
"Hei, ini tidak lucu! Siapa di sana?"
Kyuhyun mulai menggertak, ia tidak takut pada pencuri atau penjahat, ketakutannya hanya satu yaitu takut pada hantu. Hantu itu jelek dan menyeramkan, Kyuhyun benci hantu meskipun ia tak pernah melihat. Mendengar kejelekannya saja sudah membuat Kyuhyun mual dan risih.
Meskipun dia masuk dalam jajaran siswa tampan se Korea Selatan, tapi nyalinya sama dengan anak playgroup yang pasti menjerit saat melihat gambar tengkorak.
Srakk
Srakk
Kyuhyun membalikkan badan, berniat mengambil langkah seribu untuk kabur. Halaman belakang sangat menakutkan di malam hari seperti ini, ia tak lagi perduli apakah kucing peliharaan Xi Yue tersesat di halaman belakang.
Masa bodoh dengan hewan berbulu yang manis itu, jika Xi Yue mengamuk karena kucingnya mati kehujanan. Biar Kyuhyun yang mengubur dan menggantinya, meskipun kucing persia itu seharga jutaan won, bila perlu sepuluh ekor sekaligus dengan warna yang seputih salju, bermata biru seperti samudra, dan bertubuh gemulai seperti model. Kyuhyun sangat kaya, jadi ia tidak akan bangkrut dalam satu kali memborong kucing persia.
Wussh
Sesosok makhluk muncul di hadapannya dalam sekejap mata, membuat nafas Kyuhyun menderu cepat. Hantu versi apa ini?
"Hai, Kyuhyun!" Sosok itu mengangkat wajahnya beserta seringainya. Membuka tudung kepala yang tadi menutupi sebagian wajahnya.
"Ka-kau." Kyuhyun meremas ujung piamanya, lidahnya kaku saat penglihatannya berhasil menangkap lekuk wajah itu. Meskipun tanpa cahaya bulan, ia dapat mengenali lekuk wajah di hadapannya saat ini.
Sosok itu bersedekap, "Kaget? Hahahaha..." menertawakan keterkejutan Kyuhyun yang sangat berlebihan. Seringai masih terukir di wajah sosok itu, rahang tegas yang mengeras semakin memperkuat kesan mistis yang dimiliki sosok itu.
Kyuhyun menggeleng kecil, ini lebih menakutkan dari hantu. "Ke-kenapa bi-bisa?"
Senyum remeh itu menyambut ketakutan Kyuhyun, membuat putra kedua pemimpin Choi Corp itu semakin gugup dan ketakutan.
"Tak ada yang mustahil di dunia ini." Astaga! Suaranya bahkan terdengar sangat mengerikan untuk Kyuhyun. Bagaimana mungkin suara yang sama bisa menjadi sangat menusuk seperti ini saat sosok tersebut yang mengucapnya. Ia seperti sedang bercermin, sosok itu teramat mirip dengannya.
Tap
Tap
Berjalan mendekat, sosok itu mulai mengikis jaraknya dengan Kyuhyun. "Ja-jangan mendekat!" Kepanikan itu makin mencuat, adrenalin Kyuhyun terpacu ketika mendapati tubuhnya tak bisa digerakkan.
Sosok itu membelai pipi cubby yang sedikit tirus dari terakhir kali pengintaiannya, jemari miliknya terasa sangat dingin bagaikan es. "Kau takut heum?"
Kyuhyun berteriak, "Pergi!" tangannya bahkan tak bisa digerakkan. Ia tidak mungkin terserang stroke mendadak, usianya terlampau muda untuk mengidap penyakit mematikan yang sedang ngehits itu. Tapi kenapa tubuhnya sekaku ini? Rasanya seperti ada tali yang mengikatnya tapi tali itu tak terlihat.
Grep
Sosok itu mencengkram leher Kyuhyun, kukunya yang agak runcing membuat leher itu tergores di beberapa titik.
"Dengar Kyuhyun-si! Namaku Marcus. Aku hanya ingin menggantikan posisimu sementara ini." Penjelasannya membuat Kyuhyun begidik ngeri. Ini bukan April mop tapi ia mendapatkan hal yang lebih mengejutkan dari apapun.
Gelengan keras itu mewakili ketidak percayaannya pada sosok misterius ini, ia tak mungkin membiarkan makhluk aneh yang benar-benar mirip dengannya, untuk menggantikan posisinya. "Andwae! Kau makhluk jahat!"
Raja Marcus mengangguk, cukup terhibur dengan reaksi sang dublikat yang berusaha mengelak. "Ah, ternyata kau pintar juga, aku memang jahat. Tidakkah ini sebuah keberuntungan untukku, kau sangat mirip denganku. Wajah, kepopuleran, kejeniusan, dan kekayaan. Jadi... Kurasa kau takkan keberatan jika berbagi sedikit denganku."
Penawaran sekaligus pemaksaan itu membuat Kyuhyun merasa lemas. Ia tak sanggup membayangkan posisinya ditempati oleh sosok lain, meskipun sosok di hadapannya 100% mirip dengannya.
Menggeleng sekali lagi, merelakan lehernya tergores semakin banyak. "Andwae!"
Wussh
Raja Marcus membawa Kyuhyun berteleportasi, menyisakan rerumputan yang mati terbakar karena terinjak olehnya. Rumput yang menjadi saksi kedatangan Raja Marcus di halaman belakang kediaman Xi.
BRUGG
Raja Marcus melempar tubuh ringkih itu dengan keras hingga terjerembab ke lantai.
"Arrgh..." Gerangan itu keluar dari bibir Kyuhyun. Tubuhnya terasa sakit, seperti ada yang mencengkram tiap persendiannya.
Raja Marcus berjongkok, mendorong tubuh Kyuhyun yang meringkuk agar terlentang. "Ini apartemen milikmu, aku sudah memantrai ruangan ini, kau tidak akan bisa keluar kecuali ada yang membuka pintu dari luar, jendela itu juga terkunci. Berdasarkan perhitunganku, Shim Changmin 'sahabat' mu itu selalu berkunjung setiap tanggal 30 Juli, pukul 07.00. Nah, sekarang masih bulan Mei, jadi kurasa kau bisa menungguinya di sini. Tenang saja, aku sudah menyiapkan banyak bahan makanan dan minuman, kau tidak akan kelaparan. Handphone milikmu aku pinjam dulu dan telfon apartemen ini sudah terputus. Hahahaha" Tawanya menggema setelah berhasil mengundang raut keterkejutan Kyuhyun.
Berusaha mengangkat tubuhnya, tapi semuanya sia-sia. Ia bahkan tak bisa bergeser sesentipun dari tempatnya. "Brengsek kau! Kau tidak boleh mengurungku di sini!"
Raja Marcus memutar bola matanya, menurutnya manusia bernama Kyuhyun ini sangat bodoh. Ia berani berteriak di hadapannya, bahkan Raja Denis yang termasuk Golden Clan saja tak bisa menghalau tindakannya. "Kenapa heum? Kekuatanmu tak ada banding denganku. Aku hanya menggunakan sihir kecil tapi dampaknya kau tak bisa bergerak. Kau takkan bisa melawanku meskipun dengan seluruh aset kekayaanmu."
Sepasang netra itu menatap tajam Raja Marcus, ia tak boleh terlihat lemah dan goyah. "Apa yang kau inginkan?" Minimal ia harus tau mengenai tujuan sosok jahat itu. Kyuhyun benci dengan kata penasaran, apalagi itu melibatkan dirinya.
Raja Marcus merubah posisi dari berjongkok menjadi duduk bersila. Jemarinya mengusap pipi Kyuhyun sekali lagi, menunjukkan jika dirinya bukanlah sosok yang bisa dikalahkan dengan mudah. Semudah membalikkan telapak tangan. "Kau pasti mengenal Yumi, ah maksudku Red. Dia incaranku..."
Terbelalak saat mendengar nama yang dikenalunya, kekhawatiran itu membuat Kyuhyun semakin marah. "Jangan menyakitinya! Dia terlalu berharga untuk kau permainkan." Pipinya sekarang terasa beku hanya dengan sentuhan kecil dari sosok kurang kerjaan itu.
Teriakan sekencang apapun tak berpengaruh, Raja Marcus justru tersenyum tipis. "Kau sungguh pintar bisa membedakan Yumi yang asli dengan Red. Aku berterima kasih padamu karena berkat pikiranmu itu, aku bisa mengetahui keberadaannya. Kita terikat sejak pertama kali aku menyisipkan pesan untukmu. Apapun yang kau pikirkan, aku mengetahuinya." Suaranya tetap datar dan dingin, tapi setiap Kyuhyun mendengar suara itu, ia merasa gemetar.
Semuanya terjawab sudah. Bisikan aneh yang selama ini mengusik pikiran Kyuhyun ternyata berasal dari sosok itu. "A-apa?"
Raja Marcus berdiri, menjentikkan jarinya lalu seketika itu penampilannya berubah. Jubah kerajaan serba hitam yang dikenakannya berganti menjadi setelan casual dengan sepatu skets. Bahkan tatanan rambutnya yang semula acak berubah menjadi ikal dengan corak kecoklatan. Itu gaya fashion favorite Kyuhyun.
"Tak perlu terkejut Kyuhyun! Jadi jika kau berniat kabur, detik itu juga aku akan membunuh Red." Seringai tajam itu diberikan sebagai salam perpisahan, ia membalikkan badan lalu melangkah menjauhi Kyuhyun.
Wussh
Raja Marcus menghilang, meninggalkan Kyuhyun yang menangis dalam diam.
"ANDWAE!" Jeritan itu bagaikan angin lalu yang tak pernah diperhatikan.
Kyuhyun merasakan tubuhnya sakit, teramat sakit hingga ia hanya mampu merangkak mendekati ranjang. Mengangkat tubuhnya dengan susah payah sambil meremas seprai, nafasnya tersengal hingga kepalanya terasa pening.
Brugg
Berhasil, sekarang ia sudah berbaring di atas ranjang empuk apartemennya. Apartemen yang hanya dihuninya sesekali untuk melakukan reoni bersama teman-temannya.
Sedikit lagi, Kyuhyun bisa memastikan jika ia akan pingsan. Seluruh tenaganya seolah menguap bersamaan dengan emosinya. Matanya terasa berat sementara air mata menetes perlahan dari obsidiannya.
"Yumi-ya, jaga dirimu!" Mata itu menutup perlahan, kesadarannya semakin menipis.
"Yumi... Jaga dirimu!" Kepala itu terkulai, Kyuhyun tak kuat untuk tetap terjaga. Ia lelah dengan segala hal yang mengusik ketenangannya secara mendadak.
.
.
.
Sosok bertudung itu datang, mengunjugi raga yang tertidur pulas di atas ranjang pesakitan itu. Waktu tengah malam adalah saat yang selalu dipilihnya untuk menampakkan diri. Menunjukkan siluet tubuhnya yang sebenarnya, entah sudah berapa kali ia menjadi sebuah bayangan. Bayangan yang selalu mengamati dari kejauhan, memastikan raga yang diawasinya tetap terlindungi.
Sosok itu menghela nafas, dulu ia tak pernah mendapatkan persetujuan untuk menjaga raga ini. Ia selalu berargument dengan bayangan yang lebih dulu mengawasi, tapi ia selalu kalah. Perlahan ia menempatkan diri di tepi ranjang, tempat terdekat untuk melihat raga tersayangnya.
Seperti yang lalu, tangan itu terulur ke depan untuk membelai surai panjang bergelombang yang bercorak kecoklatan. Surai lembut yang selalu bergerak sesuai irama gerak tubuh raga itu.
Jemari itu beralih membelai kelopak mata yang tertutup selama tiga hari terakhir. "Bagunlah Red!" Suara lembut mengalun, terlalu lembut seperti lagu lullaby pengantar tidur. Menghantarkan ketenangan dan kekuatan yang ada lewat setiap sentuhan singkatnya.
Jemari itu mengenggam tangan kanan Red, mengusap punggung tangan yang seharusnya berukir simbol naga. "Kau dengar, misimu baru saja dimulai. Mereka sudah menunjukkan tanda-tanda terpengaruh oleh mimpi kirimanmu, sebentar lagi mereka akan mengingatmu. Jadi bukalah mata merahmu itu Red! Jangan terlalu lama tertidur karena aku juga merindukan senyumanmu."
Sosok itu menunduk, mengecup dahi Red dengan hati-hati. Wajah sosok itu tetap tak terlihat jelas karena cahaya temaram yang hanya berasal dari lampu tidur di atas nakas.
"Aku merasakan keberadaanya beberapa menit lalu, ia sangat dekat hingga aku takut kalau dia menyakitimu."
Setetes air mata terjatuh, air mata yang berpendar karena ketulusan dari sosok itu. Air mata itu terjatuh, bergerak meluncur di atas punggung tangan Red.
"Bangunlah esok hari dan marahi keenam Rainbow Knight yang bodoh itu. Mereka selalu meniup serta mengusap punggung tangan masing-masing, tapi tetap saja mereka tak mengingatmu. Padahal jika Green mengingat jatidirinya, kau tak perlu menderita menahan kesakitan ini. Si hijau itu menguasai healing lebih baik dari krystalier manapun."
Sosok itu mengecup dahi Red sekali lagi, salam perpisahan hingga pertemuan yang akan datang.
"Selamat tidur..."
Wusshh
Sosok itu menghilang, kembali menjadi bayangan yang selalu mengamati Red dari jauh. Bayangan yang selalu setia, bayangan yang tak bisa dirasakan, disentuh, bahkan disingkirkan.
To be Continue
Hy...
Q mau ngelurusin adegan wushu d chapter 11 kmaren. Emang bener klau itu adegan q searching detailnya di google.
Q nggak ad pngalaman ikut wushu, tpi klau ikut pencak silat pernah meskipun cuma sampai teknik dasar. Hehehehe...
Kapok rasanya q ikut bela diri. Krena tubuhku kecil, q jdi mudah dibanting sama lawan.
Aigoo... Q bahkan masih inget rasanya tubuhku d hempaskan dalam satu kali tendang. Sumpah demi kaset barbie fairytopia! Q nggak bisa jalan dg normal slama 3 hari setelah itu. Pergelangan kaki terkilir karena latihannya kebetulan yang praktek nggak pakai matras empuk.
Adegan action macem serang-menyerang aku kembangin 100% dari imajinasi. Selebihnya q searching + edit sana-sini. Jadi jangan di bashing y!
Well, d ff ini maupun ff q yg lain mungkin kalian akan menemukan secuil scene kesehatan macem medis. Meski sedikit, itu ilmunya q nyulik dari para perawat yang biasanya q godain d RS. Hihihihi
Ditambah pengalamanku selama jadi pasien yang betah banget ngapelin dokter kayak ngapelin pacar . Kkkkkk
Oke, sekian penjelasannya. ^_^
Kamsahamnida!
