FANFICTION
MY LOVE, MY STEPMOTHER
CAST : KIM JAEJOONG, JUNG YUNHO, SHIM CHANGMIN, VICTORIA SONG
RATE M/TYPOS/GS
DLDR!
.
.
.
.
.
CHAP 13
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Oppa, bisa kah kau datang ke rumah keluarga Jung siang ini. aku ingin bercerita."
[Arraseo, berikan saja alamatnya. Satu jam lagi oppa akan kesana. Tapi suami mu?]
"Mereka semua bekerja. Oppa jangan lupa bawa hadiah untuk keponakan baru mu eoh?"
[Keponakan? Kau hamil?]
"Aniya, aku bahkan sudah melahirkan oppa. Anak perempuan yang cantik."
[Aigoo.. Arra, oppa akan membeli hadiah dulu baru akan kesana hum? Jangan lupa kirimkan alamatnya.]
"Ne oppa yaa…. Annyeong."
.
.
.
.
Dengan resah jaejoong menunggu kedatangan Oppanya. Jaejoong sebenarnya anak tunggal, namun kenapa jaejoong bisa memiliki oppa karena namja tersebut adalah anak dari kakak ibu nya. Bisa dibilang kakak sepupu jaejoong, akan tetapi sejak kecil namja tersebut tinggal bersama orangtua jaejoong karena kedua orangtuanya sudah meninggal karena kecelakaan.
Tok Tok Tok…. Tak berapa lama, ada yang mengetuk pintu kamar jaejoong.
"Masuk."
"Permisi nyonya, Ada yang orang yang ingin menemui anda."
"Nugu?"
"Tadi dia menyebutkan namanya Song Joong Ki."
"Baiklah. Antarkan saja dia ke Gazebo taman belakang, tawarkan dia minum dan buatkan kami makan siang. Gomawo."
"Baik Nyonya. Saya permisi" setelah maid itu keluar. Jaejoong buru - buru ganti baju. Dia tidak boleh membuat oppa nya menunggu lama. Oppanya itu sangat disiplin. Jaejoong melihat jam dinding.
"Pukul 11 siang? Bukan kah baru sejam yang lalu ditelepon? Astaga, sifat tepat waktu nya masih saja."
.
.
.
.
.
.
"Oppa….." jaejoong memeluk joong ki dari belakang.
"Aigoo, uri princess. Satu tahun tidak bertemu, kau makin cantik saja."
"Haha, oppa bisa saja. Ah ini kenalkan anak ku. Namanya chaerin." jaejoong mengambil chaerin yang sedang digendong oleh salah satu maid.
"Ini keponakan oppa kah? Neomu yeppo. Sama seperti mu jae." joongki mengusap pipi merah chaerin.
"Tentu saja. Jja, dia harus ditidurkan lagi. Tidak apa kita ngobrol disini kan? Tidak terlalu dingin juga diluar sini." jaejoong mengembalikan chaerin pada maid yang membawa nya.
"Gwaenchana. Biar dia tidur lagi."
"Arraseo. Tolong jaga chaerin dulu ne. gomawo." jaejoong menyuruh maid tersebut masuk ke dalam mansion.
Jaejoong menunggu sampai maid itu membawa chaerin masuk. Kemudian dia duduk disamping joong ki.
"Wae? Kenapa wajah mu berubah begitu? Apa yang ingin kau ceritakan pada ku?"
"Oppa, aku dalam masalah yang sangat besar. Aku…. Aku mencintai anak tiri ku sendiri.." jaejoong menunduk.
"Jinjja? Kau menyukai anak dibawah umur jae? Astaga Kim jaejoong! Neo Micheoso?"
"Aish bukan begitu. Pertama, dia bukan anak dibawah umur. Kedua, dia sudah menikah. Ketiga, kami sudah sering berhubungan intim." jaejoong menatap joong ki.
"Mworago?! Yakk Kim Jaejoong! Aish Jinjja!" joong berdiri sambil bertolak pinggang. Ekspresi nya sangat tidak bersahabat. Dan itu bukan pertanda baik buat jaejoong. Oppa nya marah.
"Oppa…." jaejoong menatap wajah oppa nya dengan memelas.
"Sudah berapa lama?"
"Dua bulan atau tiga bulan setelah aku menikah dengan ayah nya."
"Kim Jaejoong….." joong ki memelototi jaejoong dengan tajam.
"Mianhe…" jaejoong menunduk lagi
"Lalu Chaerin, apakah dia anak mu dengannya?"
"Aniya…."
"Aniya.. Kau tidak tahu siapa ayahnya?"
"Bukan. Ayah dari Chaerin ya Suami ku Jung Yunho." jaejoong menjelaskan
"Kau yakin? Sebab kalian kan…"
"Aniyo oppa, aku yakin 1000% bahwa Chaerin anak dari Yunho oppa. Suami ku."
"Kau tahu bahwa ini semua gila kan? Kau tahu bahwa semua ini terlarang kan? Jadi, akhiri ini semua jae…" joong ki berlutut dihadapan jaejoong. Dia sangat paham, bahwa adiknya sangat sedang butuh bersandar.
"Tapi aku mencintai nya oppa.."
"Melebihi cinta mu pada suami mu?"
"Ne.."
"Kau yakin kim jaejoong? Kau yakin ini bukan cinta remaja biasa karena nafsu belaka"
"Mo… mollayo oppa…"
"Mollayo? Kau bilang kau mencintainya, tapi sekarang kau bilang molla? Lalu apa dia juga mencintai mu?"
"Ne dia bilang dia mencintai ku. Tapi…. Setalah kemarin lusa kami bercinta, semalam aku melihat dia bercinta dengan istrinya."
"Kemarin lusa kalian bercinta? Astaga Kim jaejoong. Jelas lah dia bercinta dengan istrinya. Itu kan kewajibannya sebagai suami. Dan tidak ada satu pun yang dapat melarang mereka bercinta. Karena mereka pasangan yang sah. Kau dengar itu jae?!" joong ki sedikit menaikkan nada suaranya.
"Tapi dia bilang dia mencintai ku oppa…"
"Jika dia mencintai mu, dia tidak akan bercinta dengan istrinya walaupun itu sah - sah saja."
"Tapi jika dia mencintai istrinya, dia tidak mungkin mengkhianati istrinya."
"Kau benar. Lalu apa mau mu sekarang?"
"Aku ingin bercerai dari yunho."
"Dan menikah dengan anaknya? Kau pikir semudah itu? Dan apa kau yakin bahwa anak tiri mu itu pun akan langsung menceraikan istrinya? Bagaimana jika istrinya hamil? Dan dia berubah pikiran? Kau akan kehilangan segalanya joongie sayang." joong ki menggenggam erat tangan jaejoong yang terasa dingin.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Jangan gegabah. Walaupun ini tidak benar, tetap lah bermain saja jika ini menurut mu aman dan menyenangkan. Jika kau mulai ragu, maka menyerah dan lupakan semuanya."
"Oppa…"
"Oppa pasti oppa yang jahat karena menyarankan hal ini. tapi oppa tahu bagaimana sifat mu. Kau tidak akan berhenti ketika permainan yang menyenangkan baru dimulai."
"Oppa… gomawo.." jaejoong memeluk oppa nya dengan erat.
"Oppa tidak akan ikut campur jika semua nya sudah terlambat, karena oppa sudah mengingatkan."
"Ne…" jaejoong mengecup pipi joong ki berulang - ulang. Oppa nya yang paling mengerti dirinya.
"Jika tidak ada tempat lagi untuk mu berlari, berlari lah ke oppa. Karena oppa akan selalu melindungi mu."
"Arraseo oppa…"
"Oppa lapar. Apakah suami mu tidak keberatan jika oppa makan disini?'
"Aniya, kajja makan oppa. Tadi aku sudah menyuruh maid untuk menyiapkan makanan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, jaejoong pun kini sudah berdiri didepan rumah untuk mengantar joong ki pulang.
"Oppa gomawo untuk hari ini." jaejoong bergelayut manja dilengan joong ki
"Aigoo, adik manja ku ini." joong ki mengusap lembut pipi jaejoong.
"Kapan - kapan kita bertemu lagi ne."
"Ne princess. Datang lah ke rumah oppa hum? Oppa akan mengirimkan alamatnya nanti."
"Ne Tuan…." jaejoong tersenyum manis
"Jaga diri mu baik - baik. Oppa harap kau dapat berpikir ulang lagi hmm. Karena ini juga demi kebaikan mu."
"Oppa, kau itu kalau menasehati ku seperti Jendral perang yang ingin menyerang lawan. Ckckck…."
"Aish, ini juga demi kebaikan mu anak nakal. Oppa hanya memberitahu kemungkinan yang bisa saja terjadi."
"Sudah pulang sana. Oppa semakin cerewet." jaejoong melepaskan pelukan manja nya dari lengan joong ki.
"Arraseo. Oppa pulang ne… Chu~" joong ki mengecup kening jaejoong dengan penuh kasih sayang. Jaejoong yang dicium pun hanya tersenyum manis.
"Hati - hati dijalan oppa."
Joong ki berjalan menuju mobil Maybach 62S Silvernya yang terparkir didepan lobby utama Jung Mansion. Ketika joong ki sudah memasuki mobilnya dan berjalan keluar halaman, masuklah sebuah mobil Luxury Bentley Continental hitam menuju lobby utama mansion. Jaejoong sudah tahu bahwa mobil itu sudah datang sejak joong ki mencium keningnya. Tapi jaejoong tidak ambil pusing. Pasti Yunho atau changmin yang pulang atau malah keduanya. jaejoong tidak peduli.
Setelah mobil joong ki sudah melewati pintu pagar, jaejoong pun masuk dengan tenang ke dalam mansion. Dan buru - buru masuk menuju kamar tamu yang dulu dia tempati saat masa kehamilannya.
"Siapa namja itu?" yunho bertanya pada changmin
"Mollayo. Aku pun baru melihat nya."
Pasangan ayah dan anak ini melihat apa yang pria itu dan jaejoong lakukan di depan pintu mansion mereka. Dan dua - duanya berhasil dibuat cemburu.
Kenapa dia mencium jaejoong?' tanya changmin dalam hati
"Appa harus minta penjelasan dari jaejoong. Mereka akhirnya turun dari mobil. Yunho berjalan dengan cepat masuk ke dalam mansion.
"Mana Nyonya?" tanya yunho pada maid yang bertugas membuka kan pintu
"Nyonya sepertinya masuk ke dalam kamar tamu tuan." jawab maid itu sopan.
"Kamar tamu?" yunho sedikit bingung dengan jawaban maid ini. Namun dia ingat, pasti kamar tamu yang dimaksud adalah kamar tamu yang dulu jaejoong gunakan saat sedang mengandung. Yunho berjalan dengan cepat menuju kamar tamu. Changmin yang ingin tahu pun mengikuti yunho.
Yunho langsung membuka pintu, namun pintu ternyata terkunci sehingga yunho harus mengetok pintu.
Tok Tok Tok…..! Dengan cukup keras yunho mengetok pintu dan tetap tidak ada tanggapan.
"Pelayan bawakan kunci cadangan kamar tamu ini." changmin yang berbicara pada maid yang kebetulan ingin memberitahu kedua majikannya ini untuk tidak mengganggu jaejoong.
"Maaf tuan besar dan tuan muda, nyonya tadi berpesan pada saya bahwa beliau tidak ingin diganggu."
"Aku ini Tuan yang menggaji mu. Kau ingin dipecat hah? Cepat ambilkan kunci cadangannya." yunho menaikkan nada suara. Rupanya yunho cukup kesal dengan perkataan maid ini. berani sekali dia melarangnya dirumahnya sendiri.
"Ba.. Baik tuan" maid itu pun bergegas untuk mengambilkan kunci cadangan.
"Tidak ingin diganggu? Apa dia sedang menghilangkan barang bukti?"
"Apa maksud mu dengan barang bukti Jung Changmin? Memangnya jaejoong habis melakukan kejahatan apa?" tanya yunho cukup bingung
"Molla. Itu hanya dugaan ku saja." changmin hanya menjawab seadanya
.
.
.
.
.
.
Maid yang ditunggu pun datang. Dia membawakan kunci dan langsung menyerahkan kepada yunho.
"Ini tuan kuncinya." yunho langsung mengambil kunci tersebut dan membuka pintu kamar jaejoong.
Saat memasuki kamar, suasanya sangat gelap dan begitu wangi. Wangi vanilla parfume jaejoong. Changmin dan maid itu pun ikut masuk ke dalam kamar jaejoong.
"Appa, Chaerin ada di dalam Box." changmin langsung mengambil Chaerin dari dalam Box
Yunho membuka gorden berwarna merah hati, agar kamar lebih terang. Maid itu pun berjalan menuju kamar mandi untuk melihat sang nyonya rumah.
"Nyonya…." dibukanya pintu kamar mandi dan dia mendapati nyonya sedang berendam didalam bathub sambil memejamkan matanya dan memasang earphone pada telinganya.
Jaejoong yang merasakan ada orang lain dalam kamar mandinya, langsung membuka mata dan melihat ke arah pintu masuk.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukan kah pintu ku kunci?" tanya jaejoong cukup kencang.
Mendengar suara jaejoong, yunho dan changmin berjalan ke arah kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan jae?" yunho membuka suara
"Wae? Kenapa oppa bisa masuk? Dan apa salah jika aku ingin mandi dirumah ku sendiri? Dan kau, aku sudah bilang tidak ingin diganggu oleh siapa pun kan? Kau tidak mendengar?" jaejoong menatap yunho dan maid malang itu bergantian
"Apa yang kau lakukan sampai kau tidak ingin diganngu oleh appa sekalipun eomma?" kini giliran changmin yang bertanya
"Apa kau tidak dengar bahwa aku ingin mandi? Jadi tidak boleh aku mandi di rumah ku sendiri?" jaejoong dengan kesal melemparkan earphone nya ke lantai dan langsung berdiri keluar dari bathub dalam keadaan naked. Dengan sisa - sisa busa yang masih menempel dibeberapa bagian tubuhnya.
"Omo…" buru - buru maid muda itu ngambil bathrobe yang tergantung tidak jauh dari nya untuk dipakaikan kepada Nyonya nya ini. dengan cekatan bathrobe tersebut sudah terpasang ditubuh jaejoong. Jaejoong pun tidak menolak sama sekali dan mata nya terus memandangi yunho dan changmin bergantian.
Setelah bathrobenya terpasang, jaejoong melangkahkan kaki nya keluar dari kamar mandi dan duduk manis didepan meja riasnya. Yunho dan changmin yang melihat kelakuan aneh jaejoong ini hanya terheran - heran. Kemana jaejoongnya yang manis dan ramah itu?
.
.
.
.
.
"Jae…." yunho menghampiri jaejoong
"Tolong keluar dari kamar ku. Aku ingin beristirahat." jawab jaejoong dingin
"Tapi kamar kita ada diatas jae?"
"Tidak sejak hari ini. dan changmin, tolong letakkan lagi chaerin di dalam box nya."
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, changmin meletakkan kembali chaerin di Box nya dan dia berjalan keluar kamar jaejoong.
"Jangan ada yang masuk ke dalam kamar ini kecuali Bora." jaejoong melihat maid muda tersebut dari pantulan kaca riasnya.
"Jung Jaejoong! Jangan buat oppa semakin marah! Cepat kembali ke kamar kita di atas."
"Aniya." jawab jaejoong cuek. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ranjang.
"Saya permisi dulu nyonya, tuan." tidak mau mendengar pertengkaran nyonya dan tuannya, bora pun undur diri.
"Mari kita bicara jae."
"Yunho oppa, tidak kah oppa dengar bahwa aku lelah?"
"Lelah bertemu dengan namja yang tadi datang berkunjung ke sini?"
Jaejoong tidak menjawab. Memangnya salah jika jaejoong dikunjungi oleh kakak nya sendiri?
Melihat jaejoong yang tidak bereaksi apa pun. Yunho memutuskan untuk keluar. Yunho harus berpikir dingin untuk saat ini. mungkin dengan mandi dibawah shower dengan air dingin, akan membantu mendinginkan kepala nya juga.
"Ini baru permulaan oppa. Dan aku changmin ah, aku akan menyiksa mu secara perlahan."
Jaejoong turun dari ranjangnya dan berjalan ke pintu, diambilnya kunci cadangan yang ternyata masih menggantung.
"Tunggu penampilan ku malam ini Jungs!" jaejoong mengunci pintunya.
.
.
.
.
.
.
.
Hingga jam makan lewat pun, yunho atau pun victoria bahkan changmin pun tidak ada yang mengetuk pintu kamarnya sama sekali. Jaejoong pun tidak ambil pusing. Seharusnya victoria mengetuk pintu karena hari ini dia sudah menyuruh Sooyoung untuk datang ke Butik nya. Jaejoong pun sudah menelepon sooyoung untuk langsung datang ke butik tanpa jaejoong temani karena jaejoong beralasan bahwa dia sedang tidak enak badan.
Chaerin sudah disusui oleh jaejoong dan bayi mungil itu sudah kembali tertidur. Jaejoong pun sudah makan buah - buahan yang tersimpan di dalam kulkas yang berada dalam kamarnya. Jaejoong tinggal menunggu pertunjukkan nanti malam saja. Dan jaejoong harap semuanya sesuai dengan rencananya.
Jaejoong menelepon ke dapur para pelayan. Mungkin mereka masih ada yang membersihkan dapur.
[Selamat Malam….] salah satu pelayan menyapa.
"Apa Shin Bora ada? Ini Nyonya Jaejoong, suruh dia ke kamar saya sekarang. Terima kasih."
[Baik Nyonya.] jaejoong langsung memutus sambungan teleponnya.
Jaejoong berdiri menatap arah kolam renang berada. Di lantai dua sebelah kiri merupakan kamar dari Changmin dan victoria. Sedangkan disisi sebelah kanan, merupakan kamar yunho. Bisa dikatakan bahwa kamar yunho dan changmin berada diujung - ujung sudut mansion. namun jika dilihat dari jendela atau balkon kamar, kamar mereka berhadapan hanya saja dipisahkan oleh kolam renang dan ruangan gym. dan suatu kebetulan bahwa kamar ini berada diantara kamar mereka berdua.
Tok Tok Tok….
"Saya Bora Nyonya." suara bora terdengar di telinga jaejoong
"Ne, Tunggu sebentar." jaejoong bergegas menuju pintu
Ceklek… kunci terbuka dan jaejoong membuka kan pintu.
"Masuk lah." jaejoong menyuruh maid itu masuk
"Ada apa nyonya memanggil saya?" jaejoong mengunci kembali pintu kamarnya.
"Apakah Tuan Besar, Tuan muda dan nyonya muda sudah makan malam?"
"Ne nyonya, mereka sudah makan malam. Mereka memakan semua masakan yang nyonya buat tadi siang"
"Tidak ada yang komentar bagaimana rasa masakannya?" jaejoong bertanya dengan semangat
"Aniya nyonya. Mereka terlihat menikmatinya."
"Apakah Victoria sudah pulang?"
"Sudah nyonya. Nyonya muda tadi juga sempat bertanya kenapa nyonya tidak hadir. Lalu Tuan Besar menjawab bahwa nyonya sudah beristirahat lebih dulu."
"Baiklah kalau begitu. Kau boleh pergi. Terima kasih."
"Apa ada yang nyonya perlu kan lagi?"
"Aniya. Itu saja."
"Baik. Saya undur diri dulu nyonya. Selamat malam." maid itu pun berjalan keluar.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dan jaejoong sudah terjaga dari tidurnya. Jaejoong melucuti gaun malamnya dan bertelanjang bulat. Diambilnya bathrobe berwarna merah maroon dari dalam lemarinya kemudian dipakai.
"Semoga saja mereka masih terjaga. Kalian akan kepanasan malam ini Jungs." Jaejoong membuka pintu kaca yang langsung menghubungkan kamarnya ke arah kolam renang. Tidak lupa jaejoong mengambil senter untuk menarik perhatian dari para Jungs itu. Dinyalakannya senter tersebut lalu diarahkan ke jendela kamar yunho dan ke kamar changmin.
Setelah dirasa cukup, jaejoong kemudian menyimpan kembali senter tersebut dikolong kasurnya. Saat akan melangkahkan kaki nya keluar, jaeoong teringat akan satu benda lagi yang akan menjadi alat pertunjukkan nya malam ini. Jaejoong berjalan ke arah tasnya dan mengambil vibrator yang beberapa hari lalu dipakainya saat bercinta dengan changmin.
"It's Show Time" jaejoong berjalan terburu keluar kamar dan tidak lupa menutup kembali pintu kaca tersebut.
Basahnya rerumputan menyapa kaki telanjang jaejoong. Namun jaejoong tetap melangkahkan kakinya dengan pasti menuju kolam.
Jaejoong sedikit melakukan peregangan sambil mengikat asal rambutnya ke atas yang membuat penampilan jaejoong semakin sexy saja. Dia melihat kamar yunho dan changmin secara pergantian. Ada sedikit cahaya dari kamar mereka berdua.
"Lets play." Jaejoong membuka bathrobe nya dan dilemparkan secara asal.
Byurrr... ! jaejoong menceburkan dirinya ke dalam kolam yang sedikit dingin. Namun dia tetap menjalankan rencananya dengan tetap berenang dalam kedinginan air.
.
.
.
.
.
Tidur yunho sedikit terganggu karena ada cahaya yang masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Kemudian dia menyalakan lampu yang terdapat dimeja samping tempat tidurnya, namun cahaya tersebut sudah menghilang.
Ketika yunho sudah memejamkan matanya kembali, telinganya mendengar suara percikan air. Sepertinya berasal dari arah kolam berenang.
Buru – buru yunho bangkit dari tidurnya dan bergegas menuju pintu balkon kamarnya. Dan melihat ke arah kolam renang.
"Boo...?" tanya yunho entah pada siapa yang cukup terkejut. yunho cukup mengenali tubuh istrinya dari jarak jauh. Yunho terus memperhatikan jaejoong, yunho akan segera berlari jika benar jaejoong berniat bunuh diri ke kolam. Ternyata tubuh jaejoong dengan indahnya seakan seperti menari dalam jernihnya air kolam yang disinari oleh lampu – lampu yang berada dalam kolam.
Yunho menyaksikan istrinya yang sedang berkonfrontasi dengannya hari ini dalam diam.
"Kenapa kau berenang malam – malam tanpa memakai apa pun?" yunho bertanya pada angin.
.
.
.
.
.
.
Tepat diseberang kamar yunho, changmin sudah berdiri dibalik gorden agar tidak terlihat oleh yunho. Changmin yang memang belum tertidur karena sedang membaca buku, langsung sigap saat ada cahaya yang menyorot kamarnya. Walaupun tidak lama, tetap saja, itu menarik perhatiannya.
Changmin sudah memperhatikan jaejoong sejak wanita nakal itu keluar dari kamarnya, saat dia melakukan perenggangan dan membuka bathrobenya. Dan tidak luput dari mata changmin saat jaejoong membawa vibrator ditangannya.
"Apa yang kau lakukan wanita nakal?" changmin menggeram. Changmin pun menyadari pergerakan yunho dari kamarnya. Makanya dia menyembunyikan tubuhnya dibalik gorden, tetapi masih bisa melihat jaejoong.
.
.
.
.
.
Dibawah sana jaejoong sudah berenang sebanyak dua kali putaran dan dia menyerah akan dinginnya air kolam.
Jaejoong kemudian duduk diatas bathrobe nya yang tergeletak. Kemudian dinyalakannya vibrator miliknya.
Setelah vibrator menyala, tanpa buang waktu, jaejoong langsung menggesek – gesekkan kepala vibrator itu pada nipple kanannya. Sedangkan tangan jaejoong yang bebas, dia gunakan untuk menggoda vaginanya.
"Oh Shit!" yunho dan changmin ternyata sama – sama mengumpat dikamarnya masing – masing.
'Semoga saja mereka melihat.' Ucap jaejoong dalam hati.
.
.
.
.
"Apa dia ingin masturbasi sendirian? Dengan vibrator sialan itu?" changmin bersuara pelan.
.
.
.
"Darimana dia dapat vibrator itu? Kau benar – benar menjadi nakal jae!" ucap yunho. Dan tanpa disadari, tangannya mulai mengusap penisnya dari luar celana.
.
.
.
"Shh..." jaejoong langsung memasukkan vibrator itu ke dalam vaginanya. Jaejoong sudah tidak kuat dengan dingnnya udara malam dan air yang masih membasahi tubuh polosnya.
Vibrator itu keluar masuk cukup cepat. Tangan kanan jaejoong berusaha untuk memanjakan dada berisi miliknya.
"Ahh... ah... vibrator ini tidak lebih baik darpada penis besar para Jungs itu." Jaejoong tetap memejamkan matanya berusaha menikmati getaran dari vibrator yang terus menggoda vagina miliknya.
.
.
.
.
Diatas sana, yunho sudah melepaskan celana tidurnya dan sibuk mengocok penis besarnya.
"Ohh jae! Kenapa kau tidak memohon pada ku saja. Oppa pasti akan lebih bisa memuaskan mu daripada vibrator mu itu. Haruskah aku turun?" mata musang yunho terus memperhatikan jaejoong.
.
.
.
.
.
"Kau tidak akan lolos malam ini dari ku jae!" changmin bergegas keluar kamar. Changmin akan menghampiri kamar jaejoong. Jaejoong harus bertanggung jawab karena sudah membuat little changmin berdiri.
.
.
.
.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk jaejoong menuntaskan hasratnya. Setelah jaejoong mengeluarkan cairannya, jaejoong bergegas masuk ke dalam kamarnya kembali. Walaupun kakinya masih lemas seperti jelly, akan tetapi jaejoong tetap berusaha untuk berjalan samapai ke kamarnya.
Sesampainya jaejoong dikamar, jaejoong langsung menutup pintu kaca serta menguncinya. Dan tidak lupa menutup gordennya kembali. Saat jaejoong akan mengambil baju tidurnya, jaejoong mendengar handle pintu kamarnya ada yang sedang berusaha membuka. Dengan bergegas, jaejoong menuju pintu dan mengintip siapa yang berada dibalik pintu kamarnya. Dilihatnya melalui lubang pintu sesosok namja tinggi berdiri menghadap pintu.
"Changmin?" tanya jaejoong entah pada siapa dan dengan suara berbisik.
"Jae? Buka pintunya sayang." changmin mengetuk dengan pelan pintu dihadapannya
Cih, jangan harap.' ucap jaejoong dalam hati. Jaejoong meninggalkan pintu itu dan kembali ke ranjang hangatnya dan membalut tubuh dinginnya dengan selimut tebal.
"Ada apa dengan mu jae?" changmin melihat pintu kamar jaejoong dengan sendu.
.
.
.
.
.
.
Pagi menjelang, jaejoong ternyata demam. Dan sekarang didalam kamarnya sudah ada victoria dan maid kepercayaan jaejoong. Saat maidnya datang membawa kan makanan, dia melihat jaejoong yang pucat dan keringat dingin. Dia lalu berlari ke ruang makan
Dia lalu berlari ke ruang makan dan memanggil Yunho. Dengan wajah yang panik, yunho, changmin dan victoria mengikuti maid tersebut menuju kamar jaejoong.
yunho langsung memeriksa keadaan jaejoong dan changmin berusaha untuk menelepon dokter keluarga. Victotia menyuruh maid untuk mengambilkan kompresan untuk jaejoong.
"Eungg…" jaejoong berusaha membuka matanya walaupun berat. Dia terbangun karena suara ribut - ribut memenuhi kamarnya.
"Kau sudah sadar boo?"
"Ada apa? kenapa kalian berkumpul dikamar ku?" suara jaejoong terdengar serak.
"Appa, dokter Lee sudah datang." changmin masuk ke kamar sambil membawa seorang dokter
"Dokter lee, tolong istri saya. Badannya demam." yunho berdiri dan mempersilahkan dokter tersebut untuk memeriksa jaejoong. Dokter tersebut langsung memeriksa tubuh jaejoong.
"Nyonya Jung hanya demam tuan. Saya akan memberikan obat penurun demam." dokter tersebut memberikan obat yang ada didalam tas nya kemudian diberikan kepada yunho
"Terima kasih dokter"
"Sama - sama. Saya permisi dulu tuan jung. Semoga cepat sembuh nyonya jung." dokter lee pamit undur diri.
Yunho kembali duduk disamping jaejoong.
"Ayo minum dulu obatnya"
"Biarkan Bora saja yang menemani ku disini. Kalian pergi lah bekerja. Tidak usah mengurusi ku." ucap jaejoong dengan suara dinginnya dan wajah pucat nan datar miliknya.
"Kim Jaejoong! Jangan banyak membantah. Cepat minum obat mu!" Yunho membentak jaejoong. Yunho benar - benar sudah lelah menghadapi sikap jaejoong yang tiba - tiba berubah menjadi pembangkang seperti ini."
"…" jaejoong diam dan membuang muka
"Abojie, kami berangkat dulu. Eomma cepat sembuh hmm." victoria berjalan keluar kamar dengan menggandeng tangan changmin. Changmin hanya melihat wajah jaejoong sepintas.
"Keluar lah oppa. Aku janji akan meminum obatnya."
"Argh! Apa mau mu hah?" yunho dengan kesalnya menarik kerah bathrobe jaejoong sehingga membaut jaejoong terduduk.
"Appa!" changmin melepaskan tangan victoria dari lengannya dan langsung menghampiri yunho.
Jaejoong hanya menatap yunho dengan tatapan datarnya. Semua kekesalan jaejoong rasanya ingin dia luapkan.
"Appa hajima." changmin memegang tangan yunho yang meremas kuat kerah bathrobe jaejoong.
"Kim Jaejoong kau itu benar - benar tidak tahu diuntung eoh?" yunho melepaskan tangannya dari bathrobe jaejoong. Dibentak dan dimaki seperti itu tidak membuat jaejoong gentar. Wajahnya tetap lah datar.
"Oppa tahu aku sedang sakit kan? Aku hanya ingin beristirahat. Banyak maid yang dapat membantu ku disini. Aku hanya menyuruh oppa pergi kerja saja. Apa aku salah?" jaejoong menatap mata yunho.
"Bagaimana kau tidak sakit jika tengah malam kau berenang dalam keadaan telanjang hah? Apa mau mu? Kau ingin seluruh orang di Mansion ini melihat mu eoh?" bentak yunho lagi.
"Kenapa kau selalu berpikiran buruk tentang ku oppa? Oppa menganggap ku seperti pelacur eoh? Apa salah jika aku berenang tengah malam? Toh tidak ada yang melihat kecuali oppa kan?" jaejoong turun dari ranjangnya dan membetulnya bathrobenya yang sedikit melonggar.
Victoria hanya mendengarkan pertengkaran mereka tanpa berniat berkomentar. Changmin pun demikian, changmin menatap jaejoong dengan pandangan yang berbeda.
"Bagaimana aku tidak berpikiran buruk jika kemarin pagi kau hanya memakai lingerie sexy. Kemudian sore harinya aku melihat seorang pria memeluk dan mencium kening mu. Lalu malam harinya kau bertelanjang ria berenang ditengah malam . Dan….. Dan kau kenapa harus bermasturbasi juga? apa menurut mu itu pantas dilakukan oelh Nyonya Besar Jung? Tidak Jae! kelakuan mu seperti jalang."
"Geure. Aku memang pelacur." jaejoong membuka bathrobenya. Tubuh mulusnya terpampang nyata dihadapan ketiga orang yang ada didalam ruangan itu
"Eomma…." victoria sedikit berteriak. Changmin mengalihkan wajahnya. Yunho menatap jaejoong dengan terkejut.
"Aku memang pelacur oppa. Oppa saja yang tidak tahu kehidupan ku dulu. Oppa tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan hidup dengan chaerin di dalam perut ku?" jaejoong berdiri mendekat ke arah changmin.
Yunho dan victoria terbelalak kaget melihat kelakuan jaejoong yang semakin berani. Karena tidak segan - segan jaejoong menempelkan tubuhnya telanjangnya pada tubuh changmin.
Jaejoong menghampiri changmin dan menarik tengkuk namja yang lebih tinggi darinya itu. Dengan cepat jaejoong langsung mencium bibir changmin.
Changmin langsung tersadar bahwa perbuatan mereka disaksi kan oleh yunho dan victoria. Dengan sedikit tenaga changmin mendorong tubuh jaejoong hingga ciuman mereka terlepas.
"Kau gila Jae!" yunho menarik keras tangan jaejoong. Sampai jaejoong merasa tangannya hampir copot.
Victoria berjalan dengan cepat menuju jaejoong dan….. Plak! Ditamparnya pipi mulus jaejoong.
"Kau sudah keteraluan eomma. Changmin ah gwaenchana?" victoria menghampiri changmin dan mengusap bibir changmin dengan blazer yang dia pegang.
"Hahaha….. Ya, aku memang gila dan keteraluan. Waeeee?" jaejoong tertawa hambar.
Yunho melemparkan tubuh ringkih jaejoong ke ranjang lalu berjalan keluar kamar dengan wajah penuh amarah.
"Kajja min." victoria sudah menarik lengan changmin menuju pintu keluar.
"Changmin ah Saranghae!" teriak jaejoong sambil tersenyum
Victoria dan changmin menghentikan langkah kakinya. Begitupun yunho yang berjalan dibelakang mereka menghentikan langkah kakinya.
"Sebaiknya aboji membawa jae eomma ke rumah sakit. Mungkin demamnya makin parah."
"Aniyo victoria chagi. Eomma mu ini sangat sehat. Eomma baik - baik saja."
"Sepertinya kata victoria ada benar nya juga. Kau harus dibawa ke rumah sakit jae." yunho menghampiri jaejoong.
"Kami sudah bercinta. Betulkan changmin ah?" jaejoong berbicara dengan santai seolah - olah perkataannya tidak berpengaruh apa - apa
"eomma geumanhae!"
"Perkataan mu semakin tidak jelas jae!"
Changmin menatap jaejoong dengan wajah yang sulit diartikan.
"Apa kau mabuk kim jaejoong? Kata - kata mu sangat tidak lucu." changmin berucap dingin.
"Haha, kau bilang perkataan ku ini lelucon? Ne, aku sangat berharap kita bisa bercinta." jaejoong menampakkan smirknya.
Plak… kini giliran yunho yang menampar pipi jaejoong. Tamparan yang yunho berikan cukup keras sehingga membuat mulut jaejoong mengeluarkan darah disudut bibir pucatnya.
Bagi yunho mungkin itu hanya tamparan, tetapi bagi jaejoong itu sudah seperti tonjokkan yang bisa merusak wajahnya.
"Aboji…."
"Appa!"
"Wanita jalang seperti mu tidak pantas berada di rumah ini kim jaejoong." ucap yunho dingin tanpa perasaan
"Joah…. Aku memang jalang yang berharap bisa hidup enak. Makanya aku mau kau nikahi jung. Dan ternyata aku pun tertarik dengan anak tampan mu itu. Aku yakin pasti changmin tidak kalah hebatnya dengan diri mu. Terbukti saat victoria berteriak begitu keras ketika mereka bercinta. uhh, aku jadi ingin merasakannya. hahaha..." jaejoong tertawa dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Kim Jaejoong berhenti lah berbicara yang tidak masuk akal."
"Aigoo, itu kan hanya khayalan ku saja changmin sayang~ tidak perlu tersinggung seperti itu."
"Ku berikan waktu satu jam untuk membereskan semua barang mu kim jaejoong."
"Aniyo oppa, itu terlalu lama, aku hanya butuh sepuluh menit saja untuk berkemas. Jadi bisa kah kalian keluar? Oh atau kalian takut orang miskin seperti ku mengambil barang - barang berharga. Jadi kalian tetap lah disini. Jangan ada satu pun yang keluar dari kamar ini arrachi!"
Jaejoong berjalan ke lemari pakaian dan mengambil pakaian yang dia beli sendiri. Dihadapan mereka semua jaejoong mulai berpakaian. Diambilnya koper yang ada didalam lemari, kemudian dengan cekatan dimasukkannya baju - baju yang memang miliknya. Beberapa pakaian chaerin pun tidak lupa dia masukkan.
Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit, jaejoong sudah siap untuk terusir dari Mansion ini.
"Benar kan tidak sampai sepuluh menit." jaejoong menghampiri yunho dan melepas cincin pernikahannya.
"Dan ini ku kembalikan." jaejoong memberikan cincin etrsebut ke yunho.
"Jangan pernah mencari kami. Atau berusaha menemui Chaerin dengan alasan apapun. Karena mulai saat ini kalian bukan lah siapa - siapa buat kami."
"Kau tidak boleh membawa chaerin. Karena dia bagian dari Jung."
"Aniya. Dia anak ku. Belum tentu dia anak mu oppa. Bisa saja Chaerin anak changmin atau namja lain kan?" jaejoong etrsenyum sinis.
"Eomma…." victoria merasa kasihan dengan jaejoong. Kemana jaejoong akan pergi?
"Terima kasih. Selamat Tinggal." jaejoong sedikit membungkukkan badannya. Kemudian dia mengambil Chaerin dari Box nya. Dan menyeret kopernya keluar kamar.
Yunho meremas cincin dalam genggaman tangannya. Dia sangat marah. Harga diri Jung Yunho diinjak hanya karena cinta.
"Apakah kau tidak ingin bilang, bahwa kau mencintai ku Jae?"
"Aniya. Orang terhormat seperti kalian tidak pantas menerima cinta dari pelacur seperti ku."
Tanpa ada yang menahan dan mengantar, jaejoong berjalan dengan pasti menuju pintu Mansion. Jujur, jaejoong tidak menyangka bahwa akan seperti ini jadinya. Tapi apa mau dikata, lebih baik jaejoong pergi seperti ini, agar tidak ada penyesalan atau rasa bersalah yang begitu mendalam.
.
.
.
.
.
.
.
Jae, mianhe. Semoga kalian kembali ke apartment. Aku akan menyusul kalian disana.'
"Aboji, apa tidak sebaiknya jae eomma…. Dia sedang sakit…" victoria begitu mengkhawatirkan jaejoong dan chaerin
"Biar saja. Besok atau lusa pasti dia kembali. Dia seperti itu pasti sedang kesal dan kalut saja." ucap yunho
Semoga saja.' lanjut yunho dalam hati
"Aku berangkat appa. Kajja noona, aku antarkan ke Butik mu." changmin langsung keluar dari kamar jaejoong
"Ne. aboji, kami pamit dulu." victoria membungkukkan badannya dan berjalan mengikuti changmin keluar dari kamar jaejoong.
"Yeobo ah, neo gwaenchana?" victoria terlihat begitu khawatir melihat changmin yang hanya diam saat di dalam mobil.
"Ne chagia. Aku hanya sedikit pusing saja." changmin menjawab sambil tersenyum yang sanagt dipaksakan.
"Aku tidak habis pikir kenapa jae eomma bisa seperti itu. Aku juga merasa bersalah karena sudah menamparnya tadi. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu."
"Aku tahu sayang. Kau pasti refleks. Istri mana yang tidak marah melihat suaminya dicium didepannya sendiri. Apalagi yang menciumnya adalah mertua nya sendiri. Mianhe noona, aku menyakiti mu." changmin memasang wajah bersalahnya
"Aniya, bukan dirimu yang salah. Memang eomma saja yang sedikit keteraluan. Apalagi jae eomma mengaku - ngaku telah tidur dengan mu."
"Mianhe. Pasti itu membuat mu terluka."
"Gwaenchana. Mungkin eomma sedang tertekan jadi eomma melawan aboji. Apa menurut mu mereka akan bercerai?"
"Molla, semoga saja tidak. Chaerin baru berumur beberapa bulan. Kasihan jika harus dibesarkan tanpa sosok ayah. Walaupun aku yakin, appa pasti akan mengambil hak asuh chaerin."
"Tapi kasihan jae eomma…"
"Sudah jangan pikirkan mereka. Jja sudah sampai."
"Baiklah. Gomawo. Hati - hati dijalan ne." victoria mencium bibir changmin dan dia pun keluar dari mobil changmin
Changmin hanya tersenyum melihat victoria keluar dari mobilnya. Setelah changmin memastikan victoria masuk ke dalam Butiknya, changmin bergegas tancap gas meninggalkan halaman parkir butik tersebut.
"Semoga kalian pergi ke apartment ." ucap changmin sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartment yang dia beli untuk jaejoong.
.
.
.
.
Saat di basement apartment, changmin langsung menuju lift yang akan mengantarnya menuju unit apartmentnya. Dia tidak mau membuang waktunya. Dia takut jika jaejoong benar - benar akan pergi dan tidak kembali lagi. Aniya, changmin tidak mau jaejoong kabur lagi. Memikirkan nya saja kepala changmin semakin pusing saja.
Sesampainya di lantai unit apartmentanya, changmin berlari keluar lift seperti orang kesetanan menuju apartmentnya. Ditekannya tombol - tombol password yang tertempel di pintu. Setelah bunyi password diterima, changmin langsung menerobos masuk.
"Jaejoong! Kim Jaejoong!" changmin berteriak dengan nyaring mencari jaejoong dipenjuru apartment yang tidak terlalu besar ini.
Dan Hasilnya pun Nihil. Jaejoong tidak ada disini. Bahkan tanda - tanda jaejoong berkunjung pun tidak ada. Jaejoong tidak kemari.
"Shit! Kau kemana jae?" changmin mengambil ponselnya dan berusaha untuk menghubungi jaejoong. Dan hasilnya pun
Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi bip….'
"Damn you kim jaejoong."
Changmin berusaha melacak nomor jaejoong, namun gagal karena ponsel jaejoong di non-aktifkan.
.
.
.
.
.
.
"Cari dimana keberadaan kim jaejoong. Jangan biarkan dia lolos dari pengawasan kalian. Beri kabar secepatnya!" yunho menyuruh detective nya untuk mencari keberadaan jaejoong dan langsung menutup teleponnya.
Kau tidak bisa lari lagi dari ku jae. Jangan harap kau bisa kabur. Aku akan menjadi Jung Yunho yang kejam buat mu karena kau berani melawan.' ucap yunho dalam hati.
.
.
.
.
.
"Kau sudah mematikan semua ponsel mu jae?" tanya joong ki yang kini sedang menyetir mobil.
Sejam yang lalu jaejoong menelepon joong ki untuk menjemputnya di taman yang tidak jauh dari kompleks rumah nya. Walaupun berjalan cukup jauh, tapi untung saja tidak ada mobil yang lewat atau pun mata - mata changmin maupun yunho.
"Sudah oppa. Oppa tenang saja."
.
.
.
.
.
.
.
Hampir empat jam joong ki mengendarai mobilnya menuju Busan. Untung saja tadi sebelum berangkat, jaejoong sempat membeli makanan untuk makan di dalam mobil. Jaejoong harus cepat meninggalkan seoul sebelum orang - orang suruhan yunho ataupun changmin menemukannya.
"Apa oppa lelah? Biar aku yang menyetir?"
"Aniya, gwaenchana. Oppa masih kuat kok. Tinggal satu jam lagi. Jja kau bisa tidur lagi jae."
"Aniya, aku sudah puas tidurnya."
"Minum lagi obat mu. Setelah sampai busan, kita langsung ke Rumah sakit hum.
"Ani oppa. Jangan ke Rumah sakit. Mereka bisa menemukan ku."
"Baiklah biar oppa panggilkan Ji Hyo untuk memeriksa mu."
"Ji Hyo eonnie bertugas di Busan kah?" jaejoong bertanya dengan antusias.
"Ne, dia sedang bertugas di Busan. Sudah hampir enam bulan ini."
"Aigoo, kapan oppa kan melamar ji hyo eonnie? Umur kalian sudah tidak muda lagi."
"Oppa masih banyak tugas yang belum selesai. Salah satunya memastikan kebahagiaan adik oppa yang nakal ini." joong ki mencubit pipi jaejoong.
"Aish oppa…. Sekarang Hidup dengan Chaerin saja aku sudah merasa bahagia."
"Jae…. Apakah aboji dan eomoni sudah tahu."
"Aniya, oppa jangan macam - macam berbicara pada mereka. Aku melahirkan Chaerin pun, mereka tidak tahu."
"Arra arra. Oppa akan diam saja."
"Gomawo oppa."
"Sudah tugas oppa untuk terus melindungi mu jae. Dan sekarang ditambah Chaerin."
"Ugh oppa…. Kau sungguh romantis sekali." jaejoong memeluk lengan joong ki.
"Aigoo aigoo… lihatlah betapa manisnya dirimu."
.
.
.
.
.
.
[Selamat Sore Tuan Jung. Nyonya Jung terakhir terlihat di sebuah Mini market yang tidak jauh dari kompleks perumahan anda. Nyonya etrlihat bersama seorang pria. Kami sudah berusaha untuk melacak nomor polisi kendaraan tersebut. Akan tetapi, nomor mobilnya tidak terdaftar di database kepolisian.]
"Apa maksudnya tidak bisa kalian lacak hah? Apa pria itu memakai plat palsu atau kendaraannya barang curian?"
[Begini Tuan Jung, ada beberapa kendaraan yang plat nomor nya tidak terdaftar karena merek orang penting atau orang - orang yang pekerjaannya menyangkut rahasia kenegaraan. Seperti Pasukan Khusus Militer..]
"Pasukan khusus? Bagaimana istri ku bisa kenal dengan orang seperti itu? Apa jangan - jangan jaejoong dan chaerin di culik. Kau cepat cari tahu."
[Baik Tuan. Kami usahakan yang terbaik.] Yunho langsung mematikan sambungan teleponnya.
'Siapa namja itu jae?'
.
.
.
.
.
.
.
[Selamat siang tuan muda. Nyonya jung terakhir kali terlihat di minimarket dekat kompleks Mansion keluarga Jung. Nyonya terlihat dijemput oleh seorang pria.]
"Bagus, kalian lacak nomor plat mobilnya."
[Itu kendalanya tuan. Nomor plat mobil namja itu tidak bisa dilacak kepemilikannya. Nomor tersebut tidak terdaftar di database.]
"Apa kau bilang?! Jangan mengada - ngada! Tidak mungkin ada yang seperti itu." changmin menaikkan nada suaranya.
[Mianhamida tuan muda. Tapi kenyataannya memang seperti itu. Bukan kami tidak dapat meretas database negara, akan tetapi data nya tidak terdaftar.]
"Yang benar saja. Memang siapa orang itu hingga daftar plat mobilnya tidak terdaftar. Kirimkan nomor plat nya. Biar aku menyuruh orang lain saja untuk meretasnya." changmin mematikan sambungan teleponnya.
Changmin melajukan mobilnya menuju kantor appa nya. Changmin harus tenang dan jangan menunjukkan ekspresi apa pun.
.
.
.
.
.
.
"Jae, mana ponsel mu? Dengan sim card nya juga. Biar oppa yang urus."
"Tapi oppa, itu ponsel dari yunho dan changmin."
"Ck, nanti oppa belikan lagi. Ponsel ini harus dihancurkan dan dibakar. Siapa yang tahu jika pacar gelap mu si changmin itu, ternyata memasang penyadap? Kita harus berhati - hati."
"Arra arra…." jaejoong memberikan kedua ponselnya kepada joongki.
"Good. Sana istirahatlah dikamar atas. Oppa akan menemui anak buah oppa dulu untuk memusnahkan ponsel ini. annyeong…." joong ki berpamitan dan tidak lupa mencium kening jaejoong dan chaerin.
"Apa tidak sebaiknya oppa istirahat dulu. Kita habis menyetir jarak jauh."
"Aniya, gwaenchana. Oppa janji tidak akan lama. Dan kulkas oppa cukup lengkap. Kau bisa memasak jika kau lapar. Oppa akan menelepon ke telepon rumah nanti. Arra…."
"Ne…." jaejoong membungkukkan badannya.
"Ya sudah. Sana." joong ki pun berjalan ke luar rumahnya.
"Ne, oppa hati - hati dijalan ne." jaejoong menutup pintu rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Bagaimana untuk Chapter ini? cukup seru kah? Atau biasa saja? Hayo loh, ada song joong ki muncul….. dari awal mau masukin dia sebagai Ayahnya jaejoong, tapi kayaknya kurang oke, jadi sebagai oppa nya aja. Dan munculnya udah dibelakang lagi. Kasiannya….
Karena lagi ada ide untuk FF ini jadi dilanjutin dulu deh, untuk FF yang lain nanti dulu ya. Harus cari inspirasinya dulu. Hehehe…..
Mau minta masukan dong, jika kalian jadi Yunho, Changmin, Jaejoong atau Victoria, gimana perasaan kalian. Saya suka memasukkan bagaimana pendapatan kalian jika kalian diposisi mereka. Biar lebih dapat feelnya. Hehehe…
Silahkan tulis dikolom review ya.
gomawo….
-XOXO-
SARANGAHE
