AE_13
Hari Kamis, hari yang ditunggu-tunggu ini akhirnya tiba juga. Hari pernikahan Zack dan Aerith, yang sudah sejak kemarin ditunggu-tunggu oleh Cloud serta Tifa. Pagi ini tepatnya jam setengah delapan, Cloud segera mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk dibawa ke sana, seperti pakaian santai, perlengkapan mandi, dan terakhir, charger. Jam tujuh pagi tadi dia sudah mengambil jas di butik Lucrecia, dan kini Cloud sedang menyusunnya dengan rapi di koper berukuran sedang miliknya, berhubung Cloud adalah orang yang cukup mandiri, maka dia bisa menyusunnya dengan rapi. Tiket pesawat juga sudah dia siapkan, dan di tiket itu juga tertera waktu '11:00 AM' yang juga merupakan waktu keberangkatannya nanti.
"Oke, semua sudah siap," kata Cloud.
Jarak dari apartemen ke bandara agak jauh, maka dari itu Cloud memutuskan untuk segera turun ke bawah dan mencari taksi. Cloud tidak berangkat bersama Tifa hari ini, karena Tifa bilang, dia memesan tiket pesawat yang jadwal keberangkatannya lebih awal satu jam darinya, mungkin sekarang Tifa sudah melakukan check-in (lagipula, maskapainya juga berbeda). Cloud merogoh undangan berwarna putih yang ada di dalam koper, undangan itu bentuknya persegi panjang (unik), dan di depannya terdapat foto Aerith serta Zack (dan itu adalah foto pre-wedding) sebagai cover undangan.
Posisi Aerith di foto lebih dekat dengan kamera, dan kepalanya sedang menghadap ke belakang, membuat senyuman dan mata hijaunya menjadi terlihat dengan sangat jelas, untuk bajunya, hanya vest warna merahnya saja yang tampak. Sementara Zack, dia memakai ... hem, dia memakai baju tentara berwarna hitam, hanya saja tidak berlengan, dan terdapat dua buah pelindung (mungkin itu sebutannya) yang terpasang di kedua pundaknya. Posisi Zack lebih jauh dari kamera, dan dia sedang bersandar di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya yang memakai sarung tangan, tetapi wajahnya tetap mengarah ke kamera, dan dia juga tersenyum. Terakhir, terdapat tulisan 'AERITH & ZACK, always together... forever...' di bagian kanan bawah.
"Anda mau ke mana tuan?" tanya sang supir taksi.
"Ke Midgar International Airport, tolong cepat ya," kata Cloud.
Supir itu mengangguk, dan setelah itu mobil pun melesat dengan cepat. Jarak dari Midgar ke Costa Del Sol jika ditempuh dengan pesawat adalah sekitar dua jam, mengingat kedua tempat itu berada di pulau yang berbeda dan terpisahkan oleh laut yang luas. Oh ya, Costa Del Sol adalah sebuah tempat wisata yang berbatasan langsung dengan pantai, tempat itu terkenal karena keindahan pantainya serta air lautnya yang sangat jernih, apalagi, lingkungan di sana sangat bersih. Selain itu, di sana juga terdapat sebuah hotel mewah yang bernama 'LORENZO', di mana resepsi pernikahan Zack dan Aerith diadakan di sana.
"Kira-kira berapa lama lagi untuk sampai ke bandara?" tanya Cloud.
"Kalau tidak macet, mungkin dua puluh menit, tuan."
...
"Selamat ya Aerith!" kata Tifa sambil memeluk Aerith.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, dan kini Tifa sudah tiba di Costa Del Sol. Sebenarnya Tifa merasa agak lelah karena perjalanan yang cukup lama, tetapi ketika melihat Aerith yang ternyata sedang menunggunya, Tifa pun langsung berlari dan memeluk Aerith. Namun, sepertinya ada yang kurang dengan Aerith, bukan dalam arti kurang cantik, tetapi kurang Zack, Zack tidak terlihat ikut menjemputnya di sini.
"Terima kasih ya," kata Aerith sambil membalas pelukan Tifa, "aku senang kau datang, padahal kau sendiri juga sedang sibuk shooting."
Tifa melepaskan pelukannya, "kau ini bicara apa sih? Kalau sahabat baikku yang menikah sih, pasti aku akan datang."
Aerith tersenyum, "ngomong-ngomong, kau tidak bersama Cloud? Kukira kalian bareng."
"Sayangnya, tidak. Aku sengaja memilih penerbangan yang lebih awal," jawab Tifa, "kau sendiri kok tidak bersama calon suamimu?"
"Zack? Oh, Zack sedang mengurus sesuatu di hotel, katanya sih kamar untuk kau dan Cloud nanti."
"Wow, kurasa dia tak perlu sampai melakukan itu, aku kan punya uang. Tapi, aku tetap harus berterima kasih padanya."
"Kalau begitu ke hotel yuk, jarak dari sini ke hotel dekat kok, jalan kaki juga sampai."
Tifa mengangguk, dan setelah itu ia mengikuti Aerith berjalan keluar dari bandara. Ketika ia keluar, Tifa langsung disambut oleh cahaya matahari yang sangat menyilaukan, padahal sudah mau memasuki musim dingin, tetapi entah kenapa cahaya matahari itu terasa sama silaunya ketika sedang musim panas. Tanpa diduga, hawa di sini juga terasa sangat sejuk karena angin yang bertiup sepoi-sepoi, suasananya juga tidak berisik, tidak seperti di Midgar yang selalu dipenuhi oleh suara kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Tifa sangat menyukai tempat ini, padahal ini pertama kali baginya berkunjung ke Costa del Sol, tetapi kesan pertamanya terhadap tempat ini justru sangat baik.
"Ayo kita masuk, kau bisa membantuku merias kan?" tanya Aerith.
"Itu hal yang mudah," jawab Tifa.
...
"Good afternoon visitors, welcome to Costa Del Sol. Enjoy the sunlight, the beach, and the resort. Hope you have a nice day."
Setelah delay di bandara Midgar selama lima belas menit, serta perjalanan selama dua jam di pesawat, akhirnya Cloud tiba juga di Costa Del Sol. Sambil menenteng tasnya yang ringan, Cloud segera berjalan menuju ke pintu keluar yang berjarak tak jauh dari lokasinya berdiri. Sambil berjalan, Cloud kembali mengambil undangan dari dalam tasnya, berniat untuk mengecek ulang lokasi resepsi pernikahan Zack dan Aerith. Tetapi ketika Cloud baru saja membuka undangannya, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menghampirinya, membuat Cloud kaget.
"Tifa?" tanya Cloud, "oh, aku lupa kalau kau berangkat lebih dulu dariku."
"Kenapa kau terlambat Cloud? Harusnya kau tiba jam satu kan? Ini sudah hampir setengah dua," kata Tifa sambil melihat jam tangan.
"Maaf, tadi penerbangannya sempat delay karena ada masalah teknis," jawab Cloud, "aku tak terlambat kan?"
"Tentu tidak, resepsi kan mulai jam enam."
Cloud mengangguk, dan setelah itu ia berjalan bersama Tifa untuk menuju ke hotel 'LORENZO', hotel yang juga menjadi tempat menginapnya nanti. Tifa memberi tahu Cloud kalau Zack sudah memesankan kamar untuknya di lantai tujuh sama sepertinya, jadinya Cloud tak perlu mengeluarkan uang lagi untuk memesan kamar. Mendengar hal ini, Cloud sungguh terkejut dan berkata 'seharusnya Zack tak perlu sampai berbuat begitu'.
"Yah, aku juga sempat bilang begitu ke Aerith, tapi sudah terlanjur."
Cloud menghela nafas.
"Tak apa Cloud, setidaknya kita bisa bersantai di sini, masih ada waktu sampai jam enam."
"Terima kasih, tapi aku ingin tidur, aku capek sekali."
"Oh," kata Tifa, "kalau begitu, nanti kita sama-sama ya ke resepsi?"
Cloud tersenyum, "baiklah, nanti aku akan ke kamarmu."
...
Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit, tinggal sebentar lagi sampai acara pernikahan Zack dan Aerith dimulai. Cloud segera bangun dari tidurnya, dan kemudian dia mengambil setelan jas yang telah dia simpan dengan sangat rapi dari dalam koper, sambil mengecek apakah ada bagian yang kusut atau rusak, dan ternyata tidak ada. Sambil membuka pakaiannya, Cloud mengambil handuk hotel dan segera berjalan menuju ke kamar mandi, Cloud merasa kalau dia harus cepat-cepat, kalau dia mengulur waktu mandi lebih lama lagi bisa-bisa Tifa yang nantinya lebih dulu selesai darinya.
Cloud mandi sekitar sepuluh menit, dan setelah dia mengeringkan badannya, dia langsung memakai setelan jas yang dia letakkan di atas kasur. Tak lama bagi Cloud untuk berpakaian, berhubung jas bukanlah pakaian yang sulit untuk dikenakan, maka tak sampai lima menit, Cloud sudah siap dalam balutan jas resminya. Pilihan Tifa memang tidak salah, jas itu memang terlihat cocok di tubuh Cloud, mungkin Tifa memang ahlinya ya?
"Hm, sepertinya sudah tak ada yang salah," gumam Cloud sambil mengaca di cermin.
Cloud berjalan keluar kamar, dan berhubung kamar Tifa ada di sebelah kamarnya, maka Cloud tak perlu repot-repot untuk mencari lagi. ketika mata Cloud terarah pada kenop pintu, ternyata ada sebuah kertas yang tergantung bertuliskan 'Don't disturb' beserta gambar Chocobo yang sedang tidur. Meski awalnya ragu, tetapi Cloud mengetuk pelan pintu kamar Tifa, soalnya tak mungkin Tifa masih belum bersiap-siap juga, dan sekitar semenit kemudian, barulah terdengar suara Tifa dari dalam.
"Sebentar," kata Tifa, "itu kau ya, Cloud?"
"Iya, kau sudah selesai?"
"Sudah, tunggu sebentar, aku segera keluar."
Ketika pintu dibuka, Cloud kembali dibuat terpana oleh penampilan Tifa. Dia memakai gaun putih yang dibeli waktu itu, namun ada yang berbeda dengan wajahnya, wajahnya terlihat semakin cantik berkat make-up, make-up yang dipakai olehnya sederhana, namun entah kenapa terlihat cocok di wajahnya. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan tambahan hiasan berupa bunga berwarna putih (entah bunga apa, Cloud tidak tahu) di telinganya, sisanya, dia hanya memakai anting dan kalung yang dia kenakan tiap hari. Jujur, Cloud sangat kagum oleh kecantikan dan kesederhanaan wanita ini, andai saja semua artis wanita seperti dirinya.
"Shall we?" tanya Cloud.
"Yup," jawab Tifa, sambil menggandeng lengan Cloud, "tak apa-apa kan?"
"Tak apa," jawab Cloud, "kau ... cantik."
Tifa tersenyum mendengarnya, "terima kasih."
Mereka berdua berjalan menuju lift dan menekan tombol angka satu, dan lucunya, Cloud baru sadar kalau saat ini dia sedang berdiri di lantai tujuh, mungkin karena dia sudah terlalu capek tadi, jadinya dia tak mau memikirkan apa-apa selain untuk segera tidur. Kurang dari lima menit (kira-kira) kemudian, mereka berdua tiba di lantai dasar, dan ternyata sudah banyak sekali tamu yang datang berkumpul untuk menyaksikan pesta pernikahan ini. Cloud tidak mengenal banyak dari mereka, paling hanya Angeal, ayah dari Zack, serta trio model terkenal yaitu Kadaj, Loz, dan Yazoo, yang juga merupakan rekan kerja Zack. Sementara Tifa, dia juga tidak mengenal tamu-tamu yang hadir, yang dia kenal hanya satu orang yaitu Elmyra, ibu Aerith. Ketika Cloud dan Tifa berjalan keluar dari lift menuju ke karpet merah, tiba-tiba saja mereka langsung dihujani oleh serbuan cahaya blitz kamera yang berasal dari arah samping, dan sialnya, itu adalah kerumunan paparazi yang ternyata mencium berita pernikahan ini.
Sebelum salah satu paparazi itu sempat menanyakan apapun kepada mereka berdua, Cloud langsung mempererat gandengannya dan mempercepat langkahnya, mereka sempat membuat para tamu lain kesal karena seenaknya menginterupsi, namun, mendengar cibiran mereka masih lebih baik daripada mendengar pertanyaan wartawan yang pasti takkan ada habisnya. Tifa tentu saja tidak berontak, karena dia juga berpikiran sama dengan Cloud.
"Cloud, kita jadi pengapit loh nanti, jadi kita harus bersiap-siap dengan keluarga Zack," bisik Tifa.
"Aku tahu, aku hanya berusaha untuk menghindari paparazi itu," kata Cloud, "ah, itu mereka."
Setelah para tamu mulai duduk, sosok Aerith dan Zackpun muncul. Mereka berdua terlihat menawan sekali, Aerith dengan gaun penikahannya yang serba berwarna pink cerah, dan Zack dengan tuksedo nya yang berwarna putih, wow, rasanya semua itu cocok sekali dengan mereka. Cloud dan Tifa menghampiri mereka berdua yang terlihat sangat gugup, apalagi Zack, kedua tangannya terlihat tidak berhenti gemetaran dan keringat dingin tampak muncul dari wajahnya.
"Jangan tegang Zack," kata Cloud sambil memegang pundak Zack, "ini hari istimewamu."
Zack mengangguk, "aku tahu."
"Bersiaplah Aerith, tenang saja, aku akan bantu memegangi gaunmu yang roknya sangat panjang ini," bisik Tifa.
"Em, iya," jawab Aerith, tangannya yang memegang buket bunga juga terlihat gemetaran, "semoga bisa."
Tak lama setelah itu, musik klasik pun dimainkan, tanda bahwa kedua mempelai beserta kerabat akan segera memasuki ruangan resepsi. Zack, Aerith beserta rombongannya (?) segera bersiap-siap dalam posisi mereka, dan setelah intro selesai dimainkan, barulah mereka semua berjalan. Tifa langsung buru-buru memegang ekor gaun Aerith, sementara Cloud segera merapikan jas yang dipakainya sambil berjalan, meskipun jas itu sebenarnya sudah sangat rapi.
"Kau tak apa-apa Aerith?" tanya Zack.
"Ya, hanya sedikit gugup," jawab Aerith.
Jarak untuk sampai ke depan sebenarnya tidak panjang, namun tatapan para tamu yang jumlahnya sangat banyak membuat mereka semua menjadi sangat gugup. Tifa yang dari tadi memegang ekor gaun Aerith nyaris tidak mengangkat kepalanya yang selalu menatap ke bawah, Cloud yang dari tadi gelisah, Zack yang saking gugupnya sampai menggandeng tangan Aerith, lalu Aerith yang nyaris menjatuhkan buket bunga miliknya, membuat perjalanan singkat ini menjadi terasa sangat lama. Tetapi untunglah, setelah sepuluh menit penuh ketegangan itu, akhirnya rombongan pun tiba di podium depan, rombongan pun segera bergeser dan berdiri di samping kiri dan kanan, sementara Zack dan Aerith tetap berdiri di depan untuk melakukan sumpah setia sebagai suami istri, yang akan dipimpin oleh seorang pendeta.
"Para hadirin dipersilahkan untuk duduk," ucap pendeta itu, diikuti yang lain.
"Pada malam hari yang sakral ini, kita semua akan menyaksikan pemberkatan dan pernikahan kedua mempelai, Zack Fair dan Aerith Gainsborough. Dimana mereka berdua akan segera bersatu, untuk menjadi sepasang suami istri, yang akan menempuh hidup ini bersama, yang akan saling melengkapi satu sama lain, serta saling mencintai untuk selamanya."
Pendeta itu menghadap Zack, "Zack Fair, bersediakah kau bersumpah? Bahwa kau akan menerima Aerith Gainsborough sepenuh hatimu? Sebagai seorang istri yang akan mendampingimu, serta sebagai rekan hidupmu? Dan akan selalu mencintainya hingga akhir hayat nanti?"
Zack memejamkan matanya sesaat, "ya, saya bersedia."
Pendeta itu mengangguk, dan kali ini dia menghadap Aerith, "Aerith Gainsborough, bersediakah kau bersumpah? Bahwa kau akan menerima Zack Fair sepenuh hatimu? Sebagai seorang suami yang akan memimpinmu, serta sebagai rekan hidupmu? Dan akan selalu mencintainya hingga akhir hayat nanti?"
Aerith mengalihkan pandangannya ke Zack, "saya bersedia."
Pendeta itu mengangkat kedua tangannya, dan setelah itu Zack dan Aerith saling menghadap satu sama lain, "Dalam nama Dewa, serta dihadapan relik-relik suci. Dengan ini dan mulai hari ini, kunyatakan kalian berdua sebagai pasangan suami istri. Semoga berkat para Dewa selalu memberikan cahaya bagi jalan kehidupan kalian untuk segala masa, baik saat suka, maupun saat duka."
"Falaram," ucap para tamu berbarengan.
Seusai mengucapkan kata itu, Zack membuka veils Aerith dengan kedua tangannya, memperlihatkan wajah Aerith yang terlihat memerah, dan matanya berair seperti mau menangis. Kedua tangan Zack beralih dan menggenggam kedua tangan Aerith untuk menenangkannya, sambil tersenyum.
"Siap?" bisik Zack.
Aerith mengangguk, sambil menahan tangis bahagianya, "ya."
Zack mendekatkan wajahnya, dan ketika jarak antara wajah mereka sudah dekat, keduanya pun langsung memejamkan mata, dan tak lama kemudian, bibir Zack menyentuh bibir Aerith. Aerith awalnya sedikit terkejut, namun dia langsung mendongak dan membalas ciuman Zack yang terasa sangat lembut. Bagaimana pun juga ciuman ini berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya, karena ciuman kali ini adalah salah satu tanda bahwa mereka berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar dari bangku penonton, dan yang paling keras itu adalah dari Loz, suaranya terdengar sangat keras meskipun dia duduk di bangku belakang, sementara kedua saudaranya hanya bereaksi dengan senyum dan tepuk tangan. Zack langsung memeluk Aerith dan mencium keningnya, sembari memperlihatkan senyum bahagianya kepada para tamu yang hadir. Sementara Aerith, sepertinya dia tak bisa lagi menahan tangisnya, jadinya dia menangis selama berada di pelukan Zack. Aerith baru berhenti menangis ketika ibunya, Elmyra, datang ke sisinya dan ikut membantu menenangkannya.
Setelah itu, dimulailah acara lempar buket bunga, sebuah acara yang rutin dilakukan di setiap acara pernikahan. Para tamu pun banyak yang berbondong-bondong ikut, termasuk Tifa yang entah kenapa memaksa Cloud juga ikut bermain bersamanya, dan tanpa diduga, ayah Zack, Angeal, juga ikut bermain.
"Baiklah, kita hitung mundur," kata sang pembawa acara, "tiga, dua, satu, lempar!"
Langsung saja Aerith melempar buket bunga mawar miliknya tinggi-tinggi, sampai nyaris mengenai langit-langit ruangan. Ketika buket bunga itu mulai jatuh kembali karena efek gravitasi, para tamu segera bersiap-siap untuk menangkapnya (ada juga yang berteriak histeris karena tegang), dan jarak buket bunga itupun semakin dekat! Tiga meter, dua meter, satu setengah me ... GREP! Dan buket bunga itu berhasil ditangkap oleh dua buah tangan! Pemilik kedua tangan itu adalah ... Cloud dan Tifa.
"Oh! Ternyata akan ada yang menyusul untuk menikah!" teriak pembawa acara itu, "berikan mereka tepuk tangan yang meriah!"
Cloud dan Tifa saling bertatapan sekaligus tak percaya, akan menyusul Zack dan Aerith menikah? Mungkinkah? Atau mungkin lebih tepatnya, masa sih? Sebelum sempat memikirkan jawabannya, wajah mereka sudah memerah karena malu, dan hal ini pasti akan dijadikan berita tambahan untuk para paparazi. Sial.
...
"Selamat Zack, kuharap kau bisa membentuk keluarga yang bahagia bersamanya," kata Angeal, sambil menepuk pundak Zack.
"Terima kasih ayah, aku janji akan membahagiakannya," jawab Zack.
"Bagus, jangan kau ulangi kesalahanku yang dulu Zack. Pertahankan dia, atau kau akan menyesal nantinya."
"Ya, aku tahu," Zack merangkul Aerith, "aku akan terus mencintainya seumur hidupku."
Cloud menatap Zack sambil meneguk sodanya yang hampir habis, dan kini acara yang sedang berlangsung adalah acara makan-makan dan ngobrol santai. Cloud memilih untuk menjauh dari kerumunan karena dia memang suka menyendiri, berbeda dengan Tifa yang lebih suka bersosialisasi dengan banyak orang. Sambil meneguk habis minumannya, Cloud berjalan menuju ke beranda yang saat itu sedang kosong, berniat untuk mengamati bintang yang malam ini terlihat lebih indah daripada biasanya.
"Hei Cloud," Cloud menoleh ke arah suara yang memanggilnya, ternyata itu suara Zack.
"Hei, selamat ya Zack," kata Cloud sambil memeluk Zack sesaat.
"Trims," kata Zack, "daripada kau menyendiri, lebih baik kau ikut makan dengan keluargaku, lumayan untuk meramaikan suasana."
Cloud menggelengkan kepalanya, "aku tak mau mengganggumu."
"Tak apa, mumpung ayahku juga ingin bicara denganmu."
"Kurasa ayahmu hanya akan menanyakan soal Sephiroth."
"Ya sudahlah! Yang penting kita senang-senang malam ini!" teriak Zack sambil merangkul Cloud.
Berhubung tubuh Zack lebih besar darinya, maka Cloud tak bisa berbuat apa-apa ketika Zack mengajaknya ke meja makan dimana seluruh keluarga Zack dan Aerith berkumpul. Mereka semua menyambut kedatangan Cloud dengan sangat baik, apalagi Aerith, dia langsung memeluk Cloud dan mengucapkan terima kasih karena Cloud sudah mau datang ke pesta pernikahannya, sementara Cloud hanya membalasnya dengan senyum.
"Mari, kita bersulang sekaligus berdoa semoga Zack bisa membentuk keluarga yang bahagia," kata Angeal sambil mengangkat gelas yang berisi anggur, "cheers."
"Cheers," jawab semuanya.
Semua orang langsung meneguk habis anggur itu dalam sekali teguk, tetapi karena Cloud tidak suka minum anggur, maka dia menggantinya dengan soda, lagi.
Ah, akhirnya selesai juga chapter ini, dan jujur saja, saya senang sekali loh karena chapter ini begitu ditunggu banyak pembaca, saya harap cerita pernikahan kali ini bisa membuat kalian puas dan gak kecewa. Oh ya, konsep pemberkatan pernikahan ini saya dapat idenya dari opening FF XII, lebih tepatnya pas pernikahan Rasler x Ashe, saya harap kalian gak menganggapnya sebagai SARA. Bagi yang mau melihat bagaimana cover undangannya, kalian bisa melihat timeline cover facebook saya, sebenarnya simpel sih, saya cuma sekedar edit saja. Please read and review!
