CHAPTER XIII

"THE PRECIOUS"


Di suatu tempat di Eropa, ada sebuah markas tersembunyi dengan baik di balik rimbunnya belantara dan tingginya pergunungan. Jauh memasuki hutan rimba itu, disudut tebing-tebing, terdapat pintu masuk ke markas yang di desain menyerupai permukaan tebing untuk mengelabuhi mata. Di dalam markas terdapat beberapa unit humanoid bertipekan GN-X yang mirip dengan GN-X federasi dengan beberapa tambahan senjata beam dan sword beam dikiri dan kanan pinggangnya. Terlihat beberapa orang mengecek dan memeriksa sistemnya, sebagian lainnya memeriksa mesinnya. Di ujung hangar tempat GN-X dijejerkan, terdapat ruangan yang dindingnya dilapisi kaca, berdiri seseorang yang mengawasi setiap pekerja yang sibuk memeriksa mobile suit yang berjejer rapi di hadapannya. Ia bertubuh jangkung, rambut pendek hitam yang mengkilap di bawah lampu, memakai seragam tentara biru tua dengan pembawaannya yang tegas. Bunyi pintu geser otomatis terdengar dari arah belakangnya, seseorang menghampirinya dengan langkah-langkah mantap.

"Bagaimana perkembangannya, Kapten James Alexander?" tanya orang itu tanpa basa-basi.

Kapten itu tersenyum puas, ia melirik orang yang berdiri disampingnya, kemudian ia berkata, "Sangat baik, Earl Frederick, kapanpun kita sudah siap untuk rencana kita."

Earl tersenyum tipis, ia memalingkan pandangannya melihat kesibukan di balik kaca, "Waktunya sudah dekat, Kapten, kita hanya menunggu kesempatan untuk menjalankannya, dan situasi dunia sekarang sangat menguntungkan kita, dengan begini kita bisa menyingkirkan orang-orang yang menghalangi dengan leluasa," ia menyeringai dengan sinis.

"Yang satu ini akan sangat sulit untuk disingkirkan, Earl, tidak bisa sembarangan," balas James serius.

Earl berpaling pada Sang Kapten, ia terdiam sesaat, sedetik kemudian ia tersenyum tipis, "Ya tentu saja, James, karena itulah kita telah menyusun rencana, sederhana dan akurat."

"Tidak semudah saat mengatakannya," timbal James pelan.

Earl berdengus geli dan berkata, "Apa orang yang aku rekomendasikan padamu sesuai untuk rencana ini, James? Bagaimana menurutmu?"

"Aku sudah bertemu dengannya, ia menunjukkan keahliaannya di simulasi dan itu sangat mengagumkan," aku James.

"Kalau begitu aku memilih seseorang yang tepat, bukan?" tegas Earl.

James tersenyum tipis, "Aku berharap ia bisa melakukannya lebih dilapangan, meskipun terlalu berharap tidak bagus juga, karena sepertinya ia kurang stabil dalam mengontrol emosinya."

"Kenapa kau ragu-ragu? Ia memang sedikit emosian dan kurang sabar, tapi ia itu unggul, kau tahu maksudku, aku mengenalnya selama setahun lebih..., ia sudah menjadi anggota kita selama ini, James," kata Earl tenang.

James tidak menyembunyikan keterkejutannya, "Kenapa aku tidak tahu dan pertanyaan macam apa itu? Ragu-ragu? Bagaimana bisa aku yakin dengan keahlian seseorang yang belum pernah aku temui?" kesal James.

Earl tertawa geli, "Sepertinya aku lupa mengatakannya padamu, ia selalu di lapangan jadi tidak semua orang tahu keberadaannya, kecuali aku tentu saja."

James menggeram kesal sebagai jawaban, "Meskipun begitu, dia harus melewati penilaian dariku, aku tidak mau mengambil resiko besar, kecil tidak masalah asal ruginya juga sedikit," pria itu benci sekali kalau mengetahui sesuatu hal yang sering disembunyikan oleh Earl, dan mengatakannya disaat-saat terakhir. "Lagi pula aku tertarik dengan namanya yang aneh tapi terasa berkesan," aku James.

Pintu otomatis berbunyi di belakang mereka, orang pertama memasuki ruangan dengan langkah mantap dan diikuti dengan langkah pelan dan santai. Orang pertama memberikan salam tentara yang dibalas oleh James dengan anggukan pelan dan tegas, kemudian dengan sigap ia membalikkan badannya agar seorang pria di belakangnya dapat menghadap Sang Kapten dan Earl.

Dia berdiri santai dengan satu tangan kirinya masuk ke kantung jins hitamnya, sangat tegap dan penuh percaya diri, aura maskulin terpancar jelas darinya, berpakaian serba hitam hingga menonjolkan warna mata cokelat kemerahannya, rambut sebahunya sangat hitam dan bergelombang di beberapa tempat; tengkuk, belakang kepala, dan di pipinya.

"Selamat siang, Gentleman," sapanya hampir malas, "aku datang sesegera mungkin karena aku diberi tahu bahwa aku akan mendapatkan sebuah 'mainan' yang seharusnya itu akan membuatku kegirangan setengah mati," ucapnya yang terdengar sinis dan acuh.

Tawa keras meledak dari mulut Earl, ketika tawanya hampir reda ia berkata, "Ada apa, Rain Atday? Apa kau mengalami hari yang buruk hari ini, atau kau hanya bosan?"

"Aku hanya lelah... menunggu," tegasnya mulai kesal, "Keinginanku hanya sederhana, beri aku 'mainan' dan biarkan aku mengamuk sesuka hati, menghancurkan semua yang ingin aku hancurkan sampai tak bersisa," geramnya, tiba-tiba amarahnya tersulut.

James berdengus remeh, "Dasar anak muda, tidak sabaran, serampangan, sedikit pelajaran untukmu Bocah," tegasnya tajam, "semua akan didapatkan bagi orang mau menunggu dengan sabar, sedikit saja kau tidak bisa menahan ketergesa-gesaanmu, saat itulah kau tidak akan mendapatkan apapun."

Rain menyeringai kejam, "Aku telah bersabar selama hampir dua tahun, Pak Tua, aku setuju untuk membantu rencana gila kalian yang berbahaya, jadi aku ingin mendapatkan hal yang sepadan dengan apa yang aku pertaruhkan, nyawaku!"

"Kau..." James mulai kehilangan kesabaran dengan kelancangan pria itu.

"Tenanglah, James," tegur Earl, "Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, Rain, kau pantas mendapatkannya karena telah membantuku menyingkirkan 'serangga-serangga' mengganggu, jadi bersabarlah sedikit lagi," katanya dengan ketenangan yang tajam, tapi Rain tidak terpengaruh dengan tekanan kata-kata Earl, "bagaimana kalau kau melihat 'mainan' yang akan kau miliki, sekarang dia sudah siap untuk kau gunakan?"

Rain melangkah dan berhenti tepat disamping Earl, ia memandangi "mainannya" dengan ketertarikkan yang kurang.

"GN-XX Angelic Genesis," kata Earl.

Rain mengernyit tidak puas, "Huh..., apa kelebihannya?"

"Memiliki kemampuan GN-Field dan GN-Shield serta satu-satunya yang memiliki kemampuan seperti Gundam..., Trans-Am System," timbal James kasar, kemudian ia menyeringai, "kau akan terkesan dengan kemampuannya."

"Hmm..." gumam Rain acuh, ia melirik Sang Kapten dengan dingin, matanya yang terkandung kebosanan dan kemarahan yang tidak berkesudahan, membuat James tertegun, "tentu saja, Kapten James Alexander," dengan santai dan acuh ia melangkah pergi.

Sikap pria itu membuat James kesal setengah mati, "Dimana kau mendapatkan bocah berengsek itu?" katanya setengah berteriak pada Earl ketika Rain meninggalkan ruangan.

"Selokan, tentu saja..." jawabnya santai.

James menggeram rendah, "Kemampuannya memang hebat, tapi tidakkah kau mengerti, takutlah pada orang yang tidak tertarik pada sampah kertas yang bernamakan uang, tapi pada orang yang haus akan darah."

Earl tertawa geli, "Kau tidak tertarik dengan 'sampah kertas' itu?" tanyanya datar.

"Tentu saja aku tertarik," aku James gamblang, "tapi darah juga."

"Kau memang moster!"

"Ya, monster berkulitkan manusia."

Tawa mereka meledak di ruangan itu, hingga seseorang dibalik pintu otomatis seolah dapat mendengar tawa yang berderai dan mengejek dari dalam. Ia tetap berdiri disana memunggungi pintu, kemarahannya menumpuk, ia hampir murka ketika si Kapten Tua itu memberinya nasihat yang seharusnya tidak keluar dari mulut kotornya. Sesungguhnya ia merasakan kekesalan pria tua itu, tapi ia mengabaikannya, ia tidak mau menerima "nasihat baik" dari "sampah" tidak berguna yang tergeletak di lantai istana yang bersih. Ia menyeringai sinis, tidak lama lagi ia akan mengumpulkan sampah-sampah dunia, menghidupkan korek api, dan membakar mereka hingga menjadi abu, ia benar-benar tidak sabar untuk itu. Ia pergi dari sana dengan langkah-langkah santainya yang bersuara pelan di lorong.

«—»

Di dalam kokpit Gundam Zabanya, Lockon dengan lahap memakan cokelat batangannya sambil membolak-balikkan sebuah amplop di tangannya, benda itu adalah surat yang baru sampai dikirim oleh kakeknya, kertasnya sudah menguning dan lusuh, tapi yang membuat Lockon kagum adalah kondisinya masih bagus, sepertinya kakek benar-benar menjaganya. Dengan seksama ia memperhatikannya yang sesekali menggigit batangan cokelatnya, matanya terpaku pada tulisan dari si penulis dan si penerima surat, sudah sekian kalinya ia melihat tulisan itu.

"Untuk Setsuna F Seiei dari Marina Ismail..." bacanya dengan pelan.

Setelah aku ceritakan semuanya pada kakek tentang apa yang telah terjadi pada Setsuna, ia dengan segera mengirim surat ini yang tidak aku sangka ia masih menyimpannya selama ini, surat yang tidak sempat ia baca... atau...

"Aaakh...!" ia merintih kesakitan disekitar tulang pipinya, ya tentu saja, disitulah bagian yang pukul Setsuna tanpa ampun, "satu pukulan di hari perrtama dan banyak pukulan di hari pertama juga, syukurlah aku punya daya tahan tubuh yang baik kalau tidak aku akan langsung tumbang gara-gara pukulannya... haaaah...," katanya kesal seraya mengelus pipinya, "kakek tertawa menyebalkan ketika aku menceritakannya, aaakh... mengesalkan sekali... Sesungguhnya apa yang terjadi dengan Putri Marina?!"

"NI-SAAN..." teriak seorang gadis di depan kokpitnya yang terbuka.

Karena kaget saat Lockon akan menggigit cokelatnya dengan potongan besar, ia malah menggigit lidahnya sendiri karena teriakan gadis itu, dan merintih kesakitan sambil menutupi mulutnya dengan tangan.

Menahan nyeri dilidahnya, Lockon berkata pelan, "Aliiiiice...?!" ia melirik adiknya dengan kesal, tampak sebutir air mata disudut matanya, "ada apa?"

"Apa maksud kakak? Seharusnya aku yang bertanya!" ucap Feldt sambil mempelototi kakaknya, "kenapa kakak ngemil disini, di dalam kokpit? Tempat ini bisa kotor, memangnya tidak ada tempat lain!?"

Lockon mengulum lidahnya untuk mengurangi rasa sakit, kemudian mendesah dalam dan memandangi adiknya dengan bosan, "Alice Dylandy, adikku tersayang," ucapnya dengan nada aneh menurut Feldt, "disini tempat yang bagus untuk menyendiri, merenung, menerawang, bersedih hati, dan sejenisnya karena sempit, sumpek..."

"Di Kokpit, Leon Dylandy, kakakku tersayang?" balas Feldt dengan nada dan ekspresi yang sama dengan Lockon.

Lockon memandangi adiknya agak lama, "Ok ok ok..., aku akan keluar, aku akan keluar...," ucapnya sambil keluar dari kokpit, "lalu apa ini? Kenapa kau membawaaaa..." baru saja ia keluar dari kokpit, saat langkah pertama ia menginjak bola jingga dan jatuh tertelungkup di landasan dengan keras.

"Ya ampun..., Ni-san kau tidak apa-apa?!" kata Feldt yang sempat kaget dan khawatir dengan kakaknya.

Lockon merintih kesakitan dan berusaha berdiri, "Kelihatannya bagaimana?"

Ferldt berpikir sejenak, "Aku rasa hidung kakak patah...," ucapnya sambil berusaha menutupi senyumnya dan tertawa.

Haro jingga melompat-lompat mengelilingi Lockon, "Lockon maafkan aku, Lockon maafkan aku..."

Haro biru pun berteriak melompat-lompat di sekitar kaki Feldt, "Lockon kau tidak apa-apa..., Lockon kau tidak apa-apa..."

Lockon menggeram marah, "Kau ingin hal itu terjadi pada kakakmu, Alice?" ia berhasil berdiri dan menumpukan tangannya kepegangan landasan di belakangnya, ia menyentuh hidungnya, "uuukh sakit..., kalau kakek mendengar soal ini dia akan tertawa lagi," ia mengusap-ngusap hidungnya, "jadi kenapa kau membawa nampan dengan makanan kosong, Alice?"

Feld tersenyum kaku, "Ini untuk Setsuna-san."

"Akhirnya dia makan sesuatu juga," kata Lockon datar.

"Iya, setidaknya ia tidak menyisakan makanannya, sepertinya ia kelaparan sekali," Feldt tersenyum ke arah kakaknya.

Lockon terdiam sesaat sambil melirik nampan yang dibawa adiknya, "Innovator mempunyai daya tahan tubuh yang kuat, tidak makan selama tiga hari berturut-turut sama sekali tidak membuatnya tumbang, bagaimana kau membujuknya? Kau tidak cerita macam-macam 'kan?"

Feldt terdiam agak lama, "Hmm..."

Lockon mengerutkan alisnya, mencurigai adiknya itu, dilihat dari ekspresi dan sikap salah tingkahnya, Feldt memang menceritakan sesuatu. Lockon mendesah pasrah, dan ia sama sekali tidak meniat menanyai apa yang telah diceritakan oleh adiknya pada Setsuna, baginya ia tidak terbiasa kesal terlalu lama pada adiknya, ia terlalu menyayanginya.

"Hmm, aku tidak tahu pasti apa yang kau ceritakan atau bagaimana kau membujuk Pria Pemurung itu, yang jelas sepertinya itu berhasil membuatnya memasukkan sesuatu ke dalam perutnya," kata Lockon menyeringai nakal.

Feldt menunduk memperhatikan nampan yang dibawanya, "Aku mengkhawatirkannya, kita semua, tapi... Ia sangat mirip dengan Ne-san..."

"Mirip dimananya?" tanya Lockon sedikit tertegun, "dia pemurung, aku tidak."

"Bukan itu maksudku, lagi pula kau penggoda dan suka ikut campur," balas Feldt gamblang.

"Aku hanya kesal padanya, aku tahu..." Lockon menatap datar adiknya membuat ucapannya menggantung.

Ferldt tersontak kaget dan penasaran, "Tahu mengenai apa, Ne-san?"

"Kau juga suka ikut campur."

"Apa?! Itu sama sekali tidak ada hubungannya, dan aku sama sekali tidak suka ikut campur," kesal Feldt, "aku 'kan hanya bertanya apa yang kakak ketahui."

"Bagaimana kalau kau antarkan saja nampan kosong itu, agar aku bisa kembali ke kokpit," sanggah Lockon terang-terangan.

Feldt menggeram sambil memutar bola matanya dengan kesal, melangkahkan kakinya dengan keras dan menggerutu.

"Dasar gadis kecil," dengus Lockon tersenyum tipis, kemudian ia melangkah menuju kokpit gundam zabanya.

«—»

"Aku kesal pada kalian berdua," ucap wanita itu untuk kesekian kalinya, ia menggeram pelan pada seorang pria yang duduk di hadapannya.

"Maafkan aku, Caroline, aku tidak bisa berdiam diri," ia menyesap kopinya, "aku ingin menyelesaikan masalah ini sendirian."

"Sendirian?!" Caroline mempelototi pria itu, rahangnya mengeras mendengar perkataannya.

"Rencananya seperti itu, tapi semuanya terlibat, jadi aku terpaksa sedikit ter-ekspos, kau juga akan terlibat kalau kau bersedia membantu," ucap pria itu tenang.

Caroline membuang mukanya melihat keluar cafee, sangat kesal dengan pria itu, "Bersedia membantu, heh?" ia tertawa pelan dengan luapan marah yang tertahan, "kau dan Lyra selalu saja berjalan dan melakukan sesuatu sendiri-sendiri, dan kalian maninggalkan aku sendirian, aku mencari kalian selama ini sendirian," ia tersenyum mengejek menahan semua kekesalan dan kesedihannya, "lalu aku tiba disini, aku menetap karena panasaran dengan dunia ini, dan mobile suit itu," ia menggeleng, "benda itu seharusnya tidak ada disini, bukan?" ia menatap langsung tepat pada pria itu. "Dan sekarang kau bertanya padaku, apakah aku bersedia membantu atau tidak."

Tatapan pria itu menjadi sendu, "Maafkan aku, kau pasti akan membantu."

"Berhentilah mengatakan maaf, David Ravencraff!" hardik Caroline marah.

David hanya diam membiarkan amarah wanita itu mereda, dengan tenang ia meminum kopinya, meskipun begitu di dalam hati ia merasa gusar. Wanita dihadapannya ini, Caroline Jovovic yang lebih dikenal oleh David dengan nama Aquila Santuary, adalah wanita yang benar-benar tidak ingin ia libatkan dalam masalah ini, kalau tidak ia tidak akan menjauh sampai seperti ini, baginya wanita itu terlalu berharga baginya. David meletakkan cangkir ke tatanannya dan meraih tangan wanita itu yang ia letakkan di atas meja, dengan segera ia membawa tangannya ke atas pangkuannya, menghindar dari sentuhan David. Caroline mengalihkan pandangannya lagi ke luar jendela disampingnya, tidak ada yang menarik diluar sana, hanya beberapa orang yang berlalu lalang dan beberapa aktifitas di seberang cafee, tatapannya datar dan sendu.

David dengan berat hati menarik kembali tangannya, ia sungguh tidak menginginkan hal seperti ini. Sejak ia bertemu dengan Caroline, wanita itu tidak pernah sedikitpun menunjukkan senyumannya, mata hijau zambrud-nya menatap tajam dengan dingin dan membara. Wanita itu mendesah bosan, ia berdiri dari tempat duduknya, David mengikutinya dan menangkap tangannya dengan sigap.

"Caroline, aku mohon, aku mohon mengertilah ...," mohon David.

Caroline menatap ke dalam mata David mencari kejujurannya, mata perak kebiruannya itu bersinar dengan kesedihan dan penyesalan.

"Lepaskan tanganku!" perintahnya pelan, David menurutinya, "Aku akan mendengarkan semua yang kau katakan, tapi ..." ucapnya seraya kembali duduk, "kau harus menjawab semua pertanyaanku."

"Iya, baiklah, lagi pula tidak ada gunanya aku menutupinya," kata David tersenyum tipis, lega dengan keputusan Caroline untuk tetap mau mendengarkan alasannya.

"Pertanyaan pertama yang ingin aku ajukan padamu adalah," Caroline menatap tajam ke arah David, "apakah keputusanmu untuk pergi itu berkaitan dengan seseorang yang kau cari?"

David mengangguk pelan, "Iya."

"Dan kau ingin mengurusinya sendirian, memutuskan untuk membinasakannya atau kau akan membiarkan dirimu dibinasakan?"

David bergeming, "Aku tidak selemah itu, Caroline, aku sudah mengambil keputusan," pandangan David sangat mantap dan yakin, hingga Caroline tertegun.

Caroline tahu pasti bahwa pria dihadapannya ini tidaklah lemah, buktinya ada disurai hitamnya yang berkilau, bukti kekuatan yang tidak terkontrol hingga melewati batas kewarasan, dan pada akhirnya keyakinan dan tekad kuatlah yang meredam kembali kekuatan yang meluap itu. Hal itu sama dengan temannya yang satu lagi, surai panjang dan hitam yang menandakan kepemilikan kekuatan besar yang tidak terkontrol beserta kekuatan untuk bertahan hingga dapat mengendalikannya, warna rambut yang tidak seharusnya dimiliki oleh klan-nya. Mereka berdua memilih menjauhkan diri dari kaumnya dan berkelana sendirian, menyelesaikan masalahnya sendirian, dan menghadapi segala hal sendirian, yang hampir membuat Coroline frustasi, dan amarah yang tertahan kepada mereka.

Caroline menghembuskan napasnya dengan lelah dan pasrah, "Aku tidak akan bertanya terlalu banyak, marah dan kesal pun tidak ada gunanya, meskipun sekarang ini aku ingin sekali melampiaskannya," menatap David dengan ekspresi tidak terbaca, "kalian ingin menuntaskan semua masalah kalian sendiri, aku seperti orang bodoh selama ini mengkhawatirkan kalian, mencari kalian."

"Caroline, aku ..." ucapan David tertahan ketika tangan Caroline terangkat.

"Aku tidak ingin membicarakannya lagi, kalian berdua sama saja," kata Caroline pelan dan tegas, "tapi masalah ini juga menyangkut diriku, dan ... bumi, jadi aku tidak akan berdebat lama, dan marah-marah seperti anak kecil ... aku rasa cukup sampai disini percakapan kita," ia berdiri dari duduknya.

David dengan enggan menuruti keinginan Caroline, masih banyak yang ingin ia katakan pada wanita itu, setidaknya ia telah menyampaikan setengah dari yang ingin ia katakan, tapi bagian terpentingnya belum, bagian yang selama ini ia simpan sendiri di dalam hatinya. David mengantar wanita itu sampai ke mobilnya, berjalan dengan tenang dan anggun disampingnya, ketenangan ini membuat David canggung dan kesal pada dirinya sendiri.

"Caroline..." ucapnya pelan, ketika Caroline masuk ke dalam mobil dan bersiap-siap menghidupkannya, "apakah kau ingat, sebelum kejadian aku kehilangan kendali, apa yang aku katakan padamu?" Caroline memilih diam dan membiarkan David melanjutkan ucapannya, "waktu itu aku serius dengan apa yang katakan, dan juga ketika semuanya terjadi dalam luapan emosi dan kekuatan yang meledak, aku langsung ingat semua kebaikan dan kehangatan, sosok yang berusaha menggapaiku hingga ketika aku sadar ia juga terluka..." David mengambil sejumput rambut Caroline yang dahulu pirang keemasan namun sekarang sudah berubah menjadi pirang kehitaman, karena kesalahannya, "sosok itulah yang menyelamatkan aku ..." ia sedikit membungkuk dan membawa rambut pirang kehitaman Caroline ke bibirnya, "maafkan aku, kau terluka waktu itu," katanya serak karena penyesalan.

Sikap dingin Caroline runtuh dengan apa yang ia dengar dari pria itu, ia menatap sendu, "Aku tidak terluka saat itu, David, secara nyatanya iya, tapi tidak ... tidak David, tidak seperti itu," matanya mulai perih, menatap langsung dangan perasaan bercampur aduk yang dapat ditebak oleh David, ia merasakannya, "ketika kau pergi meninggalkan aku tanpa memberitahuku, meninggalkan aku dalam kebingungan dan bertanya-tanya, saat itulah kau benar-benar membuatku terluka."

David bergeming, tertegun, dan secara bersamaan ia seolah dihantam sesuatu yang keras ke dadanya, kesedihan dan penyesalan membuatnya tidak berani memandangi wanita itu, ia mengelus-ngelus rambut Caroline di tangannya, masih tetap lembut seperti terakhir ia menyentuhnya, sekarang rambut itu berubah warna dan tetap indah dengan caranya sendiri, bukti feminin dari kaum wanita dalam klan-nya.

"Aku harus pergi, David, aku ada janji dengan seseorang," kata Caroline pelan.

"Iya, aku juga ada janji dengan seseorang," David melepaskan rambut wanita itu di genggamannya dengan enggan.

"Hubungi saja aku kalau kau mendapatkan sesuatu," Caroline menghidupkan mesin mobilnya, dan meninggalkan David sendirian di tempat parkir.

Ia menghela napas kecewa, "Kau begitu marah padaku, aku ... tidak ingin kau terluka, karena kalau itu terjadi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku, kau sangat berharga..." ia memicingkan mata, "apakah kau mengerti, kau sangat berharga bagiku, tapi aku telah membuatmu kecewa."

«—»

"Oi Soran, apa kau sudah baikan? Apa selama tiga hari ini tidak cukup untukmu bersedih hati?" Lockon sedikit berteriak di depan kamar Setsuna, ia sudah berada disana hampir lima menit, bicara kemudian menunggu, bicara kemudian menunggu, "kau tahu, aku mengerti perasaanmu, sial ... Aku tahu kalau Putri Marina sangat berarti bagimu, aku juga butuh waktu untuk meratapi kematian ibuku, bukan karena ia meninggal, tapi caranya meninggal," Lockon terdiam sejenak, kemudian menggeram pelan karena tidak ada juga respon dari pria yang berada diruangan di hadapannya itu, "sialan kau Soran, aku tidak akan minta maaf, aku tidak berbohong padamu soal Putri Marina, tapi ini sangat aneh, pokoknya biarkan aku masuk, aku ingin bicara denganmu."

Tiga hari adalah waktu yang lama bagi Setsuna, tapi dalam waktu itu ia banyak berpikir dan merenung, ketika ia berpikir semuanya bisa saling mengerti satu sama lain, ketika semuanya berjuang dengan keras, dan kemudian semuanya berubah menjadi lebih baik. Dan sekarang, akankah itu dapat terwujud lagi ketika kedamaian itu terusik hanya dalam waktu singkat? Dengan saling mengerti satu sama lain? Dengan pertempuran dan kehancuran?

Kau tidak salah, Setsuna.

Sambil menangis terharu, Marina mengucapkan kata-kata itu padanya, tapi ia juga mengakui bahwa Marina benar. Duduk di tepian kasurnya, Setsuna memandang kedua telapak tangannya dengan suram dan gemetar, semua yang dilakukannya dengan tangan ini, telah banyak jiwa yang direnggutnya dan penuh dengan dosa, apakah semuanya sia-sia? Apakah semua kesalahannya belum tertebus, semua dosa-dosanya? Apakah ia telah membuat kesalahan terlalu besar, hingga ia tidak bisa keluar dari pertempuran? Ia menangkupkan telapak tangannya ke wajah, tertekan dan lelah, ia ingin semuanya berakhir, masalah gundam musuh, agar ia mendapat ketenangan dalam hidupnya yang panjang.

"Oi Soran, apa kau dengar kata-kataku, kalau kau tidak berniat mengizinkanku masuk, kau hanya cukup menyuruhku pergi," terdengar suara keras Lockon dibalik pintu kamarnya, kemudian pria itu mendesah, "baiklah, aku tidak mau menjadi orang idiot yang terus berdiri dan membujuk seseorang di depan pintu kamarnya," ia melangkah menjauh, "kau bahkan tidak mau menerima surat dari Putri Marina yang dikirimnya lima puluh tahun yang lalu."

Setsuna tersontak, tiba-tiba saja ia sudah berada dilorong, "Leon," panggilnya dengan suara terengah karena kaget.

Lockon membalikkan badannya menghadap Setsuna, "Hmm, akhirnya kau keluar juga, kenapa tidak dari awal saja kukatakan mengenai surat itu?" Lockon tercegat melihat kondisi Setsuna, ia seperti ..., "Oh Tuhan, pantas saja Alice mengatakan ia mirip denganku secara harfiahnya, tentu saja," ucapnya lirih, mendesah prihatin.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan surat itu?" tanya Setsuna serak, ada ketidakpercayaan dari ekspresi wajahnya.

Lockon tertawa geli dengan pertanyaan Setsuna yang tanpa basa-basi, "Kau tahu, bagaimana kalau kau lihat dulu penampilanmu, kau seperti orang yang telah tinggal lama di dalam gua dan baru saja melihat matahari pertamanya, tentu saja bukan dengan perasaan takjub akan kebebasan."

Setsuna bergeming dengan ucapan Lockon, sekarang wajahnya menyiratkan kesedihan yang jauh lebih kelam dari sebelumnya.

Sial, seharusnya aku tidak mengatakan itu, pikir Lockon. Kemudian ia tersenyum tipis, "Bersiaplah Setsuna, aku akan memberikan surat itu padamu, datanglah keruang utama, aku ingin membahas tentang Putri Marina dan semua merasa kebingungan dengan kejadian itu."

Setsuna perlahan mengangkat pandangannya pada Lockon, wajah pria itu samar-samar masih menujukkan bekas pukulannya. Ia sendiri tidak menyangka akan kehilangan kendali seperti itu, itu seperti dejavu saja.

"Leon..."

"Jangan minta maaf karena kau telah memukulku, aku mengerti, kalau aku berada diposisimu aku akan melakukan hal yang sama, Putri Marina sangat berarti bagimu, bukan? Itu bisa dimengerti."

Setsuna menggeleng pelan, terlihat sedih, "Ia sangat berharga, sangat penting, aku ingin menemuinya, ingin mengatakan semua perasaanku, semuanya mengenai kayakinanku, tapi..."

"Apa itu akan membuatmu merasa lebih ringan, merasa tenang dan bahagia?"

Setsuna tidak menjawab, ia hanya menatap dengan sendu.

"Berbagi adalah kata yang mendalam maknanya, tidak akan mendapatkan perasaan baik ketika digunakan hanya untuk keegoisan, hanya untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Berbagi tempat tinggal, berbagi pikiran, berbagi perasaan adalah kemampuan yang diberikan oleh Tuhan, manusia hanya suka menyelewengkannya dengan cara buruk, jadi hal seperti ini wajar saja terjadi, Soran. Dan kita hanya bisa bersabar menghadapinya dan memaafkan mereka, walaupun hukumannya tetap diturunkan pada mereka, pada orang yang diperbudak oleh keegoisan."

"Apakah menurutmu aku mendapatkan hukuman dengan semua yang telah aku lakukan? Aku telah ..." Setsuna memandangi tangannya.

"Berjuang ..." ucap Lockon.

Memandangi Lockon dengan sendu, "Membunuh banyak manusia."

Lockon bergeming, ia merasakan kesedihan dan tekanan yang terkandung dalam suara Setsuna, "Soran, apa kau merasa bersalah, merasa menyesal, apa kau ingin memperbaikinya?"

Setsuna mengangguk lemah sebagai jawaban.

Lockon tersenyum, "Kalau begitu, itu sudah cukup, itu saja sudah cukup untuk memulainya, memperbaiki kesalahanmu."

"Leon ..."

"Menghadapi masalah dengan kesedihan, amarah, dan dendam hanya akan melukai diri sendiri, semakin dekat dengan penyelesaian masalah, semakin dekat juga dengan kehancuran, ibuku mengatakan demikian."

"Ibumu sangat baik," Setsuna tersenyum tipis.

"Ia yang terbaik," Lockon membalas senyuman Setsuna dengan bangga, sinar mata birunya melembut.

Tekanan sesak menyelubungi hati Setsuna, kesedihan dan penyesalan yang mendalam, ia teringat ibunya, ibunya terkasih. Kapan ia lupa dengan perasaan itu terhadap ibunya?

"Ada banyak waktu untuk bersedih, tapi tidak saat ini, Soran, saat ini ada masalah serius yang harus dihadapi," Lockon berbalik, kemudian ia berhenti dan berkata, "perjuanganmu bukanlah kesalahan, Soran, kita semua menginginkan perdamaian, tapi semua orang selalu menilai dari caranya," ia melangkah pergi.


To Be Continue...


Ami: Jiaaahhh... ughh, update yang lamaaaaa lagi, semoga masih ada yang mau baca fic ini :'(. semoga chapter selanjutnya bisa rampung juga, amin :D. ada beberapa adegan ynag harus ditambah yang harus ada, habisnya ada ide pas ngetiknya 'sih, jadi ada beberapa bagian yang berbeda dari draf-nya, :), Ya tuhan tolong kuatkan aku untuk mengetik chapter selanjutnya, amin :D, See you Reader, thank's for u all who wait with patient updating this fiction...:)