A/N: Makasih buat yang udah review! :3 Reinkarnasi kali ini mungkin banyak pembendaharahan katanya. Kalau ada istilah yang mungkin gak dimengerti, bisa ditanyakan di kotak review! :D
Oh ya, ada yang tanya kenapa Taecyeon selalu saya buat suka sama Jinki. Pernah lihat Idol Army yang guestnya 2PM ama SHINee? Mereka semua saling dipasangin di acara itu. Dan waktu masuk sesi pertama (sesi untuk milih semacam partner tim dengan cara ngelakuin dance buat ngerayu + ngasih mawar kuning kalo gak salah), si Taecyeon milih Jinki. LOL :P
Bagi yang belum liat Idol Armynya SHINee x 2PM, silahkan cari di youtube. Tuh acara beneran lucu. Suer deh! XD
I Was Born To Be With You © Viero D. Eclipse
Disclaimer: SHINee and DBSK/TVXQ are belongs to SM Entertainment, God and them self
Casts: Max Changmin, Lee Jinki 'Onew', other K-Pop Boyband/Girlband members (as cameo).
Pairing: ChangNew (Max Changmin x Lee Jinki 'Onew') and other pairing as cameo
Genre: Romance/Drama
Rated: T
Warning: AU, Tsundere Changmin, tiap chapter settingnya berbeda, tergantung dari reinkarnasinya Changmin ama Jinki, Abal, Boy x Boy/Shounen ai, OOC, Alur gaje, Klise, redundansi, typo(s) mungkin bertebaran
Don't Like? Don't Read!
"Can you believe it? Don't be in pain – this is what you chose
Can you believe it? Look around you and see where you are
Can you believe it? Don't be shaken – what will ruin you is" – TVXQ – Getaway
6th Reincarnation
Part 1
Hidup itu… penuh dengan bulir-bulir enigma yang kasat mata.
Ya, benar. Di mata seorang Lee Jinki, hidup itu seakan penuh dengan teka-teki, bias misteri dan juga lentera keindahan—yang secara harfiah—mungkin sangat sulit untuk dijabarkan. Di matanya, hidup tak hanya sekedar bernyawa dan bernapas, memijakkan kaki di hamparan bumi, berinteraksi dengan entitas makhluk lain serta mewujudkan cita yang sudah terbentuk semenjak kecil.
Namun, kehidupan… adalah sebuah proses.
Lebih tepatnya sebuah proses pencarian. Proses pencarian pengalaman, pelajaran, jati diri dan bahkan… makna hidup itu sendiri. Jinki selalu bernalar. Dalam proses pencariannya, ia berharap bahwa ia mampu menemukan keindahan dari sebuah enigma yang paling esensial dalam hidup ini.
Seorang penulis.
Itulah profesi Jinki di kehidupannya yang ketujuh. Ia terlahir kembali sebagai seorang namja yang sangat filosofial. Baginya, sebuah persepsi bisa dipandang dari segala sisi. Meski di mata kawan-kawannya, ia dikenal sebagai seorang namja yang cukup humoris, ramah, penuh semangat dan sangat menyenangkan, namun Jinki sejatinya merupakan orang dengan jalan pemikiran yang cukup kompleks.
The Prince of Writing.
Itulah reputasi terpuncak yang sanggup ia dapatkan dalam karirnya sebagai seorang penulis. Seorang pangeran dalam dunia karya tulis. Semenjak ia menerbitkan sebuah buku bertajuk distopia yang menelaah pada kehidupan masyarakat kalangan bawah, namanya pun semakin dikenal di kalangan publik dan buku-buku yang ditulisnya selalu saja menduduki peringkat Best Seller.
Kini, namja itu ingin mendapatkan inspirasi baru. Masih dengan tema filosofi kehidupan. Tapi Jinki tak ingin menulis hal-hal yang sifatnya klise. Ia ingin menemukan sebuah warna baru. Ia ingin menemukan sebuah teori kehidupan baru yang bisa diterapkan secara universal. Hal yang cukup sederhana sejatinya bisa melahirkan sekumpulan enigma kompleks yang tak terpikirkan sebelumnya. Namun, sekarang… Jinki ingin menemukan hal yang lebih.
Keindahan.
Ia ingin menelaah sebuah esensi keindahan dalam pribadi rumit yang dimiliki manusia.
.
.
Sebuah kafe.
Tempat itu seolah menjadi tempat persinggahan tetap yang akan selalu dikunjungi Jinki—setiap kali namja itu ingin mencari inspirasi. Secangkir kopi dan sebuah laptop adalah dua entitas yang setia menemani namja penulis itu untuk beberapa jam ke depan. Menatap para pelayan kafe yang berlalu lalang dan juga beberapa pelanggan yang bercengkrama di meja mereka masing-masing—sejatinya cukup mampu untuk membuat penalaran Jinki terstimulus dengan baik.
Hanya dengan menatap panorama itu saja, Jinki bisa memikirkan banyak probabilitas mengenai enigma kepribadian yang dimiliki setiap orang. Namun, sayang. Entah mengapa, dari sekian banyaknya orang yang ia perhatikan di kala itu, tak ada satupun yang mampu menarik atensi secara utuh.
"Beberapa pelajar SMA yoeja. Yang mereka bicarakan sudah pasti subtansi percintaan remaja dan juga menggosipkan namja-namja tampan. Lalu seorang ahjussi yang sepertinya mencoba melepaskan penat dengan menengguk kopi dengan kadar kafein tertinggi. Dan noona kantoran yang ada di sana juga sepertinya menghadapi dilema ekonomi. Aku yakin, ia yang menjadi punggung keluarga. Aiishh… sungguh klise. Kenapa tak ada satupun yang unik?"
Jinki mulai mengeluh dengan raut pasrah saat menginspeksi segenap orang yang ada di dalam kafe. Panorama yang ia tatap sungguh tak ada yang berbeda. Lagi-lagi rutinitas yang sama. Dan menatap layar laptop yang masih kosong melompong hanya membuat Jinki semakin tak bersemangat.
"Selama aku belum menemukan orang yang tepat untuk menjadi obyek risetku, maka aku tak akan bisa menghasilkan tulisan apapun…" Dengan raut frustasi, Jinki menghela napasnya dan hanya bisa menyangga hamparan pipinya dengan kepalan tangannya. Jemarinya tampak memainkan mouse laptopnya dengan irama malas. Kejenuhan yang melanda, membuatnya tak sadar jika lagu yang didendangkan seorang penyanyi kafe di kala itu sudah mendekati titik akhir. Dan suara tepuk tangan beberapa pelanggan yang ada di sana membuat lamunan Jinki pada akhirnya terbuyarkan.
"Baiklah. Semoga kalian semua terhibur dengan penampilan yang sudah dihadirkan oleh Sherlock Band! Dan penampilan berikutnya akan dibawakan secara solo! Beri tepuk tangan yang meriah untuk Max!"
Suara tepuk tangan kembali bergemuruh. Bersamaan dengan MC yang tengah mempersilakan acaranya untuk diambil alih, seorang namja bertubuh tinggi dan berambut raven mulai melangkahkan diri ke atas panggung dengan gitar akustik di tangannya. Jinki yang saat itu tengah menengguk secangkir kopinya—mulai mengernyutkan dahi, skeptis.
'Siapa namja itu? Selama aku singgah di kafe ini, aku tak pernah melihat dia sebelumnya.'
Rasa kurositas membumbung tinggi.
Jinki mulai meletakkan secangkir kopinya ke atas meja dan lantas bersandar di bantalan kursinya dengan tangan terlipat di dada. Mata obsidiannya terus tertuju pada entitas namja raven misterius yang saat ini tengah mengatur micnya dan terduduk di sebuah kursi—yang sudah disediakan para staff kafe. Jika ditilik secara detil, paras namja itu sejatinya begitu tampan. Balutan jaket kulit hitam yang dipakainya seolah menyiratkan aura misterius dan pribadinya yang terkesan tak acuh dan dingin.
Dan tak ada yang membuat Jinki semakin tertegun saat namja itu mulai menarikan jemarinya pada untaian dawai gitar yang dibawanya. Melodi yang dihasilkan begitu merdu. Dan suara emas yang digemakan namja itu seolah mampu membius penalaran Jinki sepenuhnya.
"Yeollyeotda datyeojin pandoraui sangja
Gyeolguk eonjengan teojyeobeoril sihanpoktan kkeureoango."
(The closed Pandora's box has been opened
I hold a timed bomb that will explode any moment)
Segenap penonton seakan takjub. Jinki bahkan mematung dengan raut tak percaya. Namja misterius—yang disebut-sebut sebagai Max itu—terus saja menggemakan alunan lagunya dengan penuh penghayatan tinggi. Dalam sejarah hidupnya, Jinki tak pernah mendengar seorang penyanyi dengan suara vokal sedewa Max. Suara tenor yang digemakannya begitu emosional dan sangat dalam. Resonansinya mampu menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya.
"Nugunga jeonghaejun gil ttara geotneunda
Deo isang geoul soge bichwojiji annneun sideun neoui kkum."
(And I am walking on a path decided for me by someone else
My withered dream doesn't reflect in the mirror anymore)
Cara namja raven itu menggemakan lirik lagunya dengan nada yang sangat poignant seolah mampu menarik atensi Jinki secara penuh. Ia tak bisa menjabarkan, bagaimana kepribadian Max yang sesungguhnya. Semakin dilihat, namja itu seolah berlindung dibalik persona misterius yang dimilikinya. Jinki tak bisa menganalisa. Namja yang ia pandang itu sungguh penuh akan enigma. Entitas pribadinya bak jaringan circuit dengan banyak cabang yang tak bisa diprediksikan ujung pangkalnya.
"Cheoreomneun jangnan bigeukjeok gyeolmal eoriseogeo i paradokse
Sansanjogak nan yuriui seongbyeok getaway."
(Immature jokes, sad conclusions – this paradox is so foolish – broken pieces of my glass castle wall – getaway)
Lagu pun semakin mamasuki fase puncak. Untaian chorus kembali digemakan oleh Max dengan nada yang cukup tinggi. Sesaat setelah jari jemari itu memetik untaian dawai gitar untuk mendendangkan melodi terakhir, dua obsidian itu tiba-tiba mendongak, mengarah langsung ke arah Jinki.
Tercekat.
Jinki tercekat. Untuk sesaat, nalarnya seolah tak mampu untuk berfungsi dengan baik. Namja raven itu tengah menatapnya dari altar panggung. Dua obsidian bertemu pandang. Dan tatapan dingin nan tajam itu seolah mampu menghunus hingga ke dasar intuisi Jinki. Kontak pandangan itu tidaklah berlangsung lama. Karena pada akhirnya, Max mulai beranjak pergi dari panggung saat penampilan yang sudah ia hadirkan telah berakhir. Segenap orang yang ada di dalam kafe kembali bertepuk tangan, merasa terhibur dengan penampilan memukau itu.
Jinki membisu, tak berkata.
Ia seolah membeku. Menepuk tangan pun tak sanggup ia lakukan. Ada daya tarik misterius yang membuatnya mengukir nyata entitas namja raven itu ke dalam benaknya. Meski hanya berpandangan selama sepersekian detik saja, obsidian itu seolah mampu memahat penalarannya dalam rasa takjub yang begitu besar.
Pencarian Jinki berakhir.
Embodimen enigma itu telah ditemukan. Dengan segenap persona misterius dan pribadi tak terdefinisi yang dimiliki oleh namja raven itu, Jinki yakin bahwa ia mampu menemukan keindahan enigma yang selama ini ia kali ini Jinki tak sanggup memprediksi kepribadian seseorang yang ditatapnya. Hanya namja raven itu.
Hanya namja raven itu satu-satunya orang yang sanggup membuat Jinki bertanya-tanya.
Ia harus menemukan namja itu. Apapun yang terjadi, Jinki pasti akan menemukannya lagi. Ia tak akan melepas inspirasi terbesarnya itu jauh-jauh. Dengan determinasi tinggi, namja berambut karamel itu lantas beranjak dari mejanya dan melangkah dengan senyum optimis di paras manisnya.
.
.
'Hari ini, telah kutemukan apa yang kucari. Entitas sempurna dengan sejuta enigma yang menjeratku dalam dimensi takjub.'
'Aku tak bisa mendefinisikan personanya. Aku bahkan tak mampu menebak untaian persepsi yang dipendamnya mengenai kehidupan ini.'
'Ia hanya berlalu pergi... dengan bayangan sebagai sahabat setianya. Apatis sebagai bentengnya. Angkuh sebagai singasananya. Regal sebagai titahnya. Dan semua itu membuatku terpaku. Membuatku semakin terlarut dalam genangan tanya.'
'Sejatinya, siapa gerangan dia? Mampukah aku menemukan eksistensinya lagi... wahai pijaran waktu?'
.
.
Beberapa hari semenjak namja raven itu menunjukkan penampilannya, Jinki harus menghadapi kenyataan bahwa ia tak mampu menemukan sumber inspirasinya itu lagi di dalam kafe. Ternyata, namja raven itu merupakan namja nomaden yang tak pernah singgah di satu tempat saja. Ia memilih untuk menunjukkan aksinya di satu kafe dan keesokkan harinya, ia menghilang begitu saja, seolah ingin menghilangkan jejak eksistensinya sendiri.
Jinki tak akan menyerah begitu saja.
Semakin namja raven misterius itu sulit untuk dijangkau, maka semakin besar pula keinginan Jinki untuk merengkuhnya. Ia pun berusaha untuk memprediksi kemana namja—yang disebut sebagai Max—itu pergi. Pemusik jalanan itu sudah pasti akan menjajakan penampilannya di beberapa kafe lain. Hanya bermodalkan probabilitas itu, Jinki pun memulai usahanya dengan menyinggahi beberapa kafe terkenal di kotanya.
Sebuah proses pencarian tidaklah mudah.
Jinki tahu itu.
Ia tak akan menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Ia tak akan terlalu berharap bahwa ia akan menemukan namja raven itu dalam waktu singkat. Dengan penuh kesabaran, ia habiskan waktunya memijaki beberapa kafe asing yang belum pernah didatangi sebelumnya. Seminggu. Dua minggu. Sebulan. Ia lalui semua itu dan berusaha untuk mengumpulkan banyak infomasi.
Dan saat itu tiba.
Saat dimana Jinki bertemu dengan namja raven itu lagi.
Shim Changmin.
Itulah nama sesungguhnya dari namja misterius yang selalu menggunakan Max sebagai nama panggungnya. Jinki sudah bersusah payah untuk mendapatkan informasi mengenai hal itu. Ia sungguh terkesan seperti seorang stalker. Bahkan mungkin, detektif handal saja tidak akan sampai seobsesi itu pada target yang hendak diselidikinya.
Tanpa malu, ia berusaha untuk duduk di barisan terdepan dan selalu saja memerhatikan baik-baik setiap kali namja raven itu menunjukkan penampilannya. Jinki tentu saja tidak langsung berkonfrotasi dengan sumber inspirasinya itu setelah ia berhasil menemukannya. Jelas saja. Bagaimana ia bisa berkonfrontasi jika namja raven itu selalu saja menghilang setelah pertunjukkannya berakhir? Dan kali ini, Jinki tak akan membiarkan namja itu pergi begitu saja.
Ia memutuskan untuk merealisasikan tujuannya.
Sebuah... bar malam.
Ya. Kali ini, namja berambut raven itu tengah bernyanyi di dalam bar malam. Jinki berusaha keras untuk menyembunyikan raut ketidak-nyamanannya saat beberapa orang yang ada di sana mulai menari dan berdesak-desakkan tak pandang etika. Jinki sungguh tak menyukai suasana bar yang dipenuhi dengan hedonisme itu. Tapi demi mencapai tujuannya, ia tak punya pilihan lain.
Gemuruh sorak penonton semakin membumbung nyaring saat mereka menginginkan encore. Namun, sang bintang panggung tak acuh dengan hal itu dan beranjak begitu saja, keluar dari dalam bar. Jinki terbelalak menatapnya. Ia tak boleh sampai kehilangan jejak namja raven itu lagi.
"A-Ah, TUNGGU!" Jinki mulai berlari. Berusaha sekuat tenaga untuk segera keluar dari bar itu dan mengejar sumber inspirasinya. Dan beruntung, karena sepertinya, apa yang ia katakan telah didengarkan. Namja raven itu mulai menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Jinki.
Dan Jinki seakan tercekat untuk sesaat tatkala dua obsidian itu mulai menatapnya dengan begitu pekat.
"A-Anda... S-Shim Changmin 'kan?"
"Siapa kau?"
Suara bernada tajam itu membuat Jinki terhenyak. Jantung Jinki berdebar cepat saat ia bisa melihat secara langsung, seperti apa detil entitas namja raven itu dari jarak dekat. Tinggi. Namja yang ada di hadapannya itu benar-benar tinggi. Parasnya begitu tampan. Bahkan terlalu tampan untuk seorang penyanyi jalanan. Dengan postur tubuh yang mendekati sempurna, ia bisa saja menjadi seorang artis atau idola dunia yang sangat terkenal, pikir Jinki.
Dan parasnya mulai memerah saat ia sadar bahwa ia sudah memandangi namja yang menjadi sumber inspirasinya itu terlalu lama.
"Uhh... mian. A-Aku tidak memperkenalkan diriku sebelumnya. Aku Lee Jinki, seorang penulis. Bisakah aku meminta waktumu sebentar, Changmin-ssi? Aku ingin mengadakan riset kecil untuk bahan buku terbaru yang hendak kutulis."
Suasana di kala itu benar-benar canggung. Jinki mendadak gugup saat figur yang ia layangkan tanya hanya terdiam, tanpa reaksi. Obsidian itu terus saja menatapnya dengan begitu skeptis dan dingin.
Dan Jinki terbelalak kaget saat namja raven itu mulai berbalik membelakanginya dan mengguratkan jawaban singkat.
"Ani."
"M-Mwoh?" Penolakan itu tentu tak pernah diduga oleh Jinki sebelumnya. Kali ini, ia berekspektasi tinggi bahwa Changmin bersedia untuk membantunya. Ia sudah mati-matian untuk menemukan namja itu bukan untuk pulang dengan tangan kosong. Jinki akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Itu sudah menjadi prinsip.
Persisten, pada akhirnya Jinki mulai beranjak dan menghadang Changmin agar namja itu tak melangkah terlalu jauh. Ia berdiri tegap dengan raut determinasi di parasnya. Jinki tahu bahwa apa yang ia lakukan mungkin terkesan lancang. Menghadang orang yang tak mengenalmu sama sekali dan memaksanya untuk membantumu. Namun, Jinki tak peduli.
Selama ini, ia sudah dikenal sebagai seorang namja yang sangat sopan dan begitu santun.
Tapi sekarang... bukan saatnya untuk bersikap seperti itu.
"Jebal! Hanya kau yang bisa membantuku dalam hal ini. Kumohon, Changmin-ssi. Pikirkan lagi tawaranku ini. Atau kau menginginkan imbalan? Aku pasti akan memberikannya! Berapapun itu!" Nada Jinki terdengar putus asa. Tapi sepertinya, Changmin bukanlah namja yang mudah berbelas kasihan. Jika dibandingkan dengan bongkahan es, namja itu sungguh berkali-kali lipat lebih dingin dan keras.
"Aku tak punya waktu untuk hal ini. Aku bahkan tak mengenalmu sama sekali. Sebaiknya, kau cari orang lain saja." Dengan ketus, Changmin mulai melangkah meninggalkan Jinki sendiri. Dan denialisasi itu tak lantas membuat Jinki merasa kesal. Kontradiksi, namja berambut karamel itu justru tersenyum tipis.
Ini barulah permulaan.
"Ah, dingin sekali. Kau benar-benar menarik, Changmin-ssi."
.
.
'Ada yang berkata bahwa orang dengan pribadi yang begitu dingin dan keras, nyatanya adalah orang dengan hati terhangat dan terlembut yang pernah ada.'
'Ada juga yang memiliki teori bahwa, batu akan terkikis jika terlalu lama dihantam oleh tetesan air.'
'Apakah mungkin namja penuh enigma itu bisa membuktikan bahwa dua teori itu benar adanya?'
'Aku tak akan pernah tahu jika aku tak mengejarnya... benar 'kan?'
.
.
"Kau ingin menemui... Shim Changmin?"
"Ne."
Cho Kyuhyun. Itulah entitas namja yang saat ini berada di hadapan Jinki. Namja itu terlihat melipat kedua tangannya di dada sembari memandang skeptis. Sebuah gedung tua yang penuh dengan coretan dan beberapa berandal yang berlalu lalang. Panorama itu seolah menjadi sebuah background dimana Jinki memijakkan kakinya.
Setelah menyelidiki latar belakang Changmin yang terselubungi akan pekatnya kabut misteri, pada akhirnya, Jinki berhasil mendapatkan informasi bahwa beberapa minggu ini, namja raven yang menjadi sumber inspirasinya itu tengah menempati sebuah gedung tua—tempat perkumpulan berandalan—untuk sementara waktu saja. Dan sebelum ia kehilangan jejak Changmin sepenuhnya, ia akan melakukan apapun agar dapat kembali berkonfrontasi dengan namja itu. Meski yang ia lakukan memiliki konsekuensi fatal sekalipun.
Dan di sinilah Jinki, menghadap Kyuhyun—yang kemungkinan besar merupakan teman dekat Changmin. Ia sungguh berharap bahwa namja itu mau mempertemukannya dengan Changmin. Apa yang ia lakukan benar-benar krusial. Dan Jinki tak ingin lagi kembali dengan tangan kosong.
Setelah terlihat menimbang-nimbang untuk sesaat, pada akhirnya, Kyuhyun melepaskan lipatan tangannya dan mulai menghela napasnya. Namja itu lantas berbalik dan segera beranjak masuk ke dalam gedung. Dan paras Jinki sedikit memerah saat tak sengaja mendengar teriakan yang sudah diguratkan oleh Kyuhyun.
"HEI, CHANGMIN-AH! CEPATLAH KEMARI! KAU SUDAH DITUNGGU OLEH NAMJA CHINGUMU DI LUAR!"
"M-Mwoh? N-NAMJA CHINGU!" Jinki terbelalak syok. Jantungnya berdebar keras dengan tuduhan itu. Memikirkan gambaran bahwa ia adalah kekasih dari sumber inspirasinya sendiri membuat parasnya mendadak panas.
"Y-Yah! A-Aku bukanlah namja cingunya—"
Sungguh sayang. Belum sempat Jinki menjelaskan, ucapannya terintervensi tatkala sesosok namja yang sudah ia cari-cari itu mulai melangkahkan kaki keluar gedung. Jinki sungguh terhenyak saat mendapati entitas Changmin sepenuhnya. Namja raven itu sepertinya juga terlihat sedikit kaget dengan kehadirannya.
"Kau lagi—"
"Yah! Changmin-ah! Tega sekali kau tak memberitahukan hal ini padaku? Kupikir, kita ini teman baik." Kyuhyun mulai bersandar di hamparan dinding dengan bibir mengerucut ketus. Changmin menautkan kedua alisnya, skeptis.
"Apa maksudmu, Kyu?"
"Apa maksudku? Hei, ayolah! Kau itu cerdas, Changmin-ah! Masa kau tak paham, Hah?" Kyuhyun memijat keningnya dengan raut pasrah. "Yang kumaksud adalah, kenapa kau tak memberitahuku bahwa kau memiliki namja chingu semanis ini? Tsk! Kau bilang bahwa kau tak tertarik dengan cinta? Aaiishh... harusnya aku tahu jika omonganmu itu bullshit!"
"Mwoh? Namja chingu?" Changmin mengernyutkan dahinya. Dan paras Jinki kembali merona merah dengan pernyataan itu. Di saat ia ingin meluruskan segenap kesalahpahaman yang terjadi, Changmin sepertinya mampu membaca jalan pemikirannya dan mencoba untuk menjelaskan pada Kyuhyun.
"Dia bukanlah namja chinguku, Kyu. Aku bahkan tak mengenalnya—"
"Aaiishh... sudahlah! Aku tak akan pernah percaya padamu. Sebaiknya kau segera selesaikan urusanmu dengannya. Setelah ini, kita harus segera bergegas menuju ke klub Mirotic." Dengan itu, Kyuhyun segera berlalu ke dalam gedung, meninggalkan Changmin berdua saja dengan Jinki. Keheningan kembali menghunus masa. Dan Jinki menelan ludahnya saat dua obsidian itu kembali menatapnya dengan cukup tajam.
"Bagaimana kau tahu jika aku berada di tempat ini?"
"Uhh... i-itu—" Jinki menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ia mulai menatap ke atas dan ke bawah sembari menggigit bibir bawahnya, mencoba menyamarkan rasa gugup dan canggungnya namun gagal. Dan kegentaran pun semakin meracuki benaknya secara utuh.
Changmin hanya menyunggingkan seringai sinis.
"Kau benar-benar stalker, ya? Mendatangi semua pertunjukan musikku dan terus saja menatapku di barisan terdepan. Apakah jawabanku waktu itu masih belum jelas? Aku tak berminat menjadi obyek risetmu. Carilah orang lain!"
"Jika aku bisa, aku sudah pasti akan mencari orang lain, Changmin-ssi," tegas Jinki serius. "Tapi tak ada satupun orang yang penuh dengan enigma sepertimu. Kau begitu berbeda, Changmin-ssi. Pribadimu... sungguh menarik di mataku."
Penjelasan itu membuat Changmin menahan diri untuk tidak tertawa dengan raut sarkastik di parasnya. Ia tak habis pikir dengan jalan pemikiran Jinki. Namja berambut karamel itu sepertinya terlalu cepat dalam menilai sesuatu.
"Hah! Pribadiku menarik? Bagaimana kau bisa memiliki kesimpulan seperti itu jika kau tak sedikitpun mengenalku?" sindiran itu hanya membuat Jinki tersenyum.
"Aku memang tidak mengenalmu secara luar dan dalam, Changmin-ssi. Tapi aku memiliki keyakinan. Aku yakin bahwa kau adalah namja dengan pribadi yang begitu menarik."
Frase itu membuat Changmin memicingkan pandangannya. Dengan aura intimidasi, ia mulai mendekati Jinki dan membuat namja itu melangkah mundur secara perlahan.
"Kau bilang bahwa kau adalah seorang penulis. Apa kau tak curiga dengan latar belakangku, Hah? Aku tinggal di gedung tua tempat para berandalan liar berkumpul. Belum lagi... aku hanya seorang penyanyi jalanan yang mungkin saja... juga merupakan orang jahat."
"I-Itu..." Jinki mulai gentar saat punggungnya menghantam hamparan dinding. Changmin mengunci posisinya dengan mendaratkan tangan kanannya di dekat bahunya sementara tangan kirinya menjerat ujung dagu Jinki dengan kasar. Obsidian itu kembali menghunus tajam.
"Kau tahu? Datang sendiri di tempat seperti ini benar-benar berbahaya. Kau tak mengenal siapa aku yang sebenarnya. Belum lagi dengan komplotan berandal bajingan yang ada di sini. Mereka tak akan peduli jika sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku bisa saja membunuhmu dan mungkin..."
Changmin mulai menghimpitkan hamparan bibirnya di daun telinga Jinki. Sebuah bisikan bernada berat diguratkan dengan tajamnya. Sekujur tubuh Jinki seakan menggigil gentar mendengar itu.
"... aku bisa saja memperkosamu sekarang juga."
"M-Mwoh—" Jinki terbelalak syok. Parasnya merona merah. Jemari Changmin mulai meraba kancing kemeja yang dikenakan olehnya dan mencoba untuk membukanya satu persatu. Jantungnya berdebar cepat dan ia pun mulai menggigit bibir bawahnya, menahan desah. Namja raven itu menghunuskan paras di sela lehernya, menciumi tiap jenjang bahunya.
"A-Andwae..." Jinki menyibakkan parasnya ke samping. Tangannya menjerat jemari Changmin, mencoba menahan namja raven itu untuk tidak bertindak terlalu jauh.
"Kau tak akan melakukannya."
Dengan determinasi yang tersisa, Jinki nekat mengguratkan jawaban seperti itu. Ia sungguh yakin bahwa Changmin bukanlah orang biadab. Ia pasti hanya ingin menggertak dan menakut-nakuti Jinki saja. Dan hal itu pada akhirnya membuat Changmin menghentikan tindakannya, sedikit geram.
"Apa yang membuatmu yakin bahwa aku tak akan melakukan hal itu padamu?"
"Karena aku percaya padamu... Changmin-ssi."
Dan pandangan pekat yang dilayangkan Jinki seolah mampu menggetarkan dinding pertahanan ego Changmin. Namja berambut karamel itu benar-benar menaruh harapan yang cukup tinggi padanya. Changmin bahkan tak mendapati kontur takut di diri Jinki sama sekali. Hanya ada kontur percaya.
Ia benar-benar mempercayai Changmin.
Dengan ketus, Changmin menarik diri dari Jinki dan mulai berbalik membelakangi namja karamel itu. Untaian frase kembali ia guratkan dengan nada tajam.
"Kau benar-benar keras kepala."
Dan Jinki hanya tersenyum mendengar itu. Rasa lega mengguyur benaknya secara utuh. Spekulasinya sungguh tepat. Changmin bukanlah orang jahat. Dan fakta itu hanya membuat pribadinya semakin diselimuti dengan enigma. Keinginan Jinki untuk menelaah pribadi namja raven itupun semakin kuat.
Dengan sedikit girang, Jinki kembali beranjak untuk berdiri di hadapan Changmin dan berusaha untuk melakukan penawaran sekali lagi. "Jadi, bagaimana, Changmin-ssi? Aku tak akan menyerah sampai kau mau membantuku."
Changmin menghela napasnya dengan raut lelah. "Aku tak suka jika privasiku dicampuri oleh orang asing yang sama sekali tak kukenal—"
"Kalau begitu, kau hanya butuh mengenalku saja 'kan?"
"Mwoh?" Changmin menautkan kedua alisnya. Jinki hanya terkekeh dengan determinasi tinggi di parasnya.
"Aku akan membuatmu sudi terbuka padaku, Changmin-ssi. Akan kubuktikan padamu bahwa kau bisa percaya padaku." Changmin menyeringai sarkas mendengar itu. Matanya memandang remeh. Determinasi Jinki hanya membuatnya semakin ingin membuat harapan namja itu pupus seutuhnya. Jinki sungguh tak mengenal siapa Changmin sebenarnya. Dan dalam paradigma mutlak Changmin, tak ada satupun orang yang mampu membuatnya membuka hati dengan mudah.
"Lakukan sesukamu. Aku tak peduli."
Dengan raut dingin, Changmin mulai berlalu meninggalkan Jinki. Dan yang ditinggalkan hanya tersenyum lembut dalam diam. Secara tak langsung, sumber inspirasinya itu sudah memberikan ijin pada Jinki untuk membuktikan usahanya.
Dan demi menggapai esensi keindahan enigma itu...
Jinki sudah pasti akan berjuang hingga ke titik darah penghabisannya.
.
.
'Tahukah kalian? Menelaah sebuah enigma dibutuhkan suatu untaian usaha yang cukup keras. Dan bahkan... determinasiku pun seakan diuji.'
'Kini aku paham, mengapa banyak film, dongeng, legenda ataupun kisah rakyat dengan protagonist yang berwatak keras kepala dan persisten.'
'Karena pada dasarnya...'
'Jika mereka tak keras kepala, mereka tak akan bisa menggapai mimpinya.'
.
.
"Ah, kau terlambat. Changmin baru saja pergi ke sebuah restoran seafood di sekitar sini tadi."
"Mwoh!"
Jinki mulai mengacak rambut karamelnya dengan frustasi saat mendengar pernyataan Kyuhyun. Seminggu berlalu dan Jinki selalu saja persisten mendatangi Changmin. Meskipun namja raven itu tak acuh padanya dan tak pernah menganggapnya eksis sama sekali, Jinki sungguh tak peduli dengan hal itu. Ia akan selalu mendatangi pertunjukan musik Changmin dan akan selalu berusaha mendekati namja itu.
Dan kini, sepertinya namja dengan suara emas itu menghindari Jinki lagi.
Dengan bibir mengerucut, Jinki menjunjung tas ransel kecilnya dan memutuskan untuk segera menyusul Changmin. Waktu seminggu sudah lebih dari cukup baginya untuk mempelajari kebiasaan dan tempat-tempat apa saja yang selalu dikunjungi oleh sumber inspirasinya itu. Hah... bagus sekali. Ia benar-benar resmi menjadi seorang stalker sekarang.
"Kau sungguh terobsesi dengan Changmin, ya?"
"Eh?" Jinki mengerjapkan matanya, tak menduga bahwa spekulasi itu bisa tergurat dari mulut Kyuhyun. Dan parasnya mulai merona merah saat namja itu kembali berkomentar blak-blakkan sembari menyunggingkan seringai misterius.
"Jangan-jangan kau menyukai—"
"ANIO! A-Aku tidak menyukainya! Aku tidak menyukai Changmin-ssi!" Dengan cepat, Jinki membantah hal itu. Geliatnya yang terlihat kelabakan dan salah tingkah membuat Kyuhyun tertawa geli. Setelah menyibakkan pandangannya ke samping, Jinki mulai meluruskan semuanya.
"Bukannya aku terobsesi dengan Changmin-ssi. Hanya saja, saat ini aku benar-benar membutuhkan inspirasi untuk buku terbaruku. Dan hanya Changmin-ssi saja yang bisa membantuku dalam hal ini. Tema bukuku adalah enigma kepribadian. Dan Changmin-ssi merupakan seorang namja dengan pribadi yang menarik. Ia sungguh berbeda dari kebanyakan orang yang sudah kutemui selama ini."
Kyuhyun terdiam sejenak, mencoba mencerna segenap pernyataan itu. Dan dengan tawa kecil, Jinki kembali menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.
"Aku hanya ingin ia sedikit terbuka padaku. Itu saja. Aku sungguh tak berniat untuk mencampuri privasinya. Aku hanya ingin Changmin-ssi sedikit menuangkan pandangannya mengenai kehidupannya. Dengan begitu, aku bisa membagikan pandangan idealis itu pada semua orang dengan buku yang hendak kutulis. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa ada kehangatan dan keindahan... dalam dinginnya enigma pribadi seseorang."
Kyuhyun pada akhirnya menghela napasnya mendengar itu. Sejatinya, ia sungguh takjub dengan tekad kuat yang dimiliki Jinki.
"Kau tahu? Pertama kali aku melihatmu yang ingin menemui Changmin, aku benar-benar mengira bahwa kau adalah namja chingunya. Selama ini, satu-satunya orang yang membuatnya sudi untuk bersosialisasi hanyalah aku saja. Kami sudah menjadi sahabat baik semenjak kecil. Jadi, aku paham betul dengan watak dan juga sikapnya yang dingin itu. Tidak mudah bagi Changmin untuk menerima orang baru ke dalam hidupnya. Probabilitas itu sungguh seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami."
Penjelasan itu membuat Jinki tertunduk, bisu. Berkas-berkas semangat yang terpatri di dalam dirinya sedikit menurun. Namun, Kyuhyun segera mendaratkan tepukan ringan di bahunya, membuat Jinki mendongakkan pandangan ke arah namja itu.
"Tapi... jika kau benar-benar menginginkan Changmin untuk terbuka padamu, maka saranku cukup sederhana. Jangan menyerah dan bersabarlah. Itu saja. Memang, sangat tidak mudah membuatnya terbuka dengan orang lain. Tapi entah mengapa, aku merasa jika orang itu adalah kau, ia mungkin mau terbuka nantinya."
"Mwoh? Jinjja?" Jinki terbelalak mendengar itu. Kyuhyun hanya mengangguk affirmatif.
"Changmin adalah namja yang sangat menarik. Keputusanmu yang memilih Changmin sebagai sumber inspirasi untuk buku yang hendak kau tulis merupakan keputusan yang tepat. Kau akan mendapatkan banyak hal baru jika kau berhasil menggapai kepercayaannya. Tetaplah berusaha. Segenap kerja kerasmu pasti akan membuahkan hasil. Dan jika ia berlaku kasar padamu, kau bisa melaporkannya padaku. Maka, aku pasti akan mendaratkan jitakan di kepalanya yang keras itu."
Jinki terkekeh renyah. Dukungan Kyuhyun kembali membuat bara semangatnya bangkit. Dengan sopan, ia mulai membungkukkan dirinya di hadapan namja yang lebih tua setahun darinya itu.
"Gomawo, Kyuhyun-ssi."
'Aku... sudah pasti akan berjuang dengan keras!'
.
.
Suasana restoran seafood di kala itu terlihat begitu klise.
Dengan tak acuh, Changmin melahap segenap makanan dengan porsi berlebihan yang sudah tersaji di atas mejanya. Ritual itu sudah menjadi rutinitas yang harus ia lakukan. Tak ada yang lebih berharga di matanya selain makanan. Alasannya sungguh sederhana. Manusia akan mati jika tak makan, bukan? Hal itulah yang membuat kedudukan makanan menjadi sangat prioritas di mata Changmin.
Dan tak diketahui oleh namja raven itu, suara ketikan laptop mulai menggema dengan kecepatan statis tepat dari arah belakang. Sadar dengan apa yang sudah terjadi, Changmin segera menoleh ke arah sumber suara itu dan membelalakkan kedua matanya, terkejut.
"Sang entitas enigma terlihat memanjakan perutnya dengan melahap makanan yang sudah terhidang di mejanya. Ia terus melahapnya, seakan tak acuh dengan mata dunia yang memandangnya. Manusia membutuhkan makan. Hal yang sifatnya simple seperti itu sudah pasti tersemat dalam jala penalarannya. Terkadang, aku berpikir—apakah ia pernah menatap warna baru dalam monotonitas yang ia lakukan itu?"
Jinki bergumam sendiri sembari mengetikkan segenap frase yang ia muntahkan. Matanya berfokus pada layar laptop di mejanya, seakan tak sadar jika sedari tadi, subyek yang ia kisahkan dalam karya tulisnya—sudah berdiri menghadapnya dengan pandangan tak nyaman.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"E-Eh?" Pedang tanya dengan suara tajam yang cukup familiar itu sukses membuat atensi Jinki berpaling dari laptopnya. Dan pandangan skeptis yang dilayangkan Changmin membuatnya terkekeh pelan sembari menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.
"A-Annyeong, Changmin-ssi—"
"Jangan bilang bahwa kau sedang menulis tentangku lagi." Tuduhan tajam itu membuat Jinki memaksakan diri untuk tersenyum sembari mengacungkan simbol perdamaian dengan jemarinya. Changmin lantas memutar bola matanya dengan raut terganggu. Merasa bahwa memarahi Jinki tak akan ada gunanya, ia pun kembali terduduk di mejanya dan mencoba untuk menghabiskan makanannya yang tersisa. Dan tak diduga sebelumnya, ternyata Jinki juga turut beranjak dari mejanya dan terduduk di meja Changmin sembari membawa laptopnya.
"Aigooo... aku lapar. Di sini menyediakan menu ayam tidak, ya?" Jinki mulai mengerucutkan bibirnya sembari menginspeksi buku menu yang terletak di atas meja Changmin. Dan ia tahu bahwa dunia akan kiamat jika mendadak ada menu ayam yang disediakan oleh restoran khusus seafood yang ia singgahi itu. Dengan raut pasrah, ia pun menutup buku menunya dan menatap Changmin—yang saat itu masih terlihat melahap makanannya, mengabaikan Jinki.
"Ah, sebaiknya aku memesan menu yang sama seperti yang Changmin-ssi makan sekarang." Changmin menaikkan sebelah alisnya. Dan tak sampai hitungan detik, Jinki sudah memanggil seorang pelayan dan memesan salah satu menu hidangan yang sedang dilahap Changmin.
"Aku pesan satu porsi Saeng Sung Jun. Seperti yang sedang dilahap Changmin-ssi saat ini."
"Arasso. Sebentar lagi, kami akan membawakan pesanan Anda."
"Gomawo." Jinki menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Dan sesaat setelah pelayan itu berlalu pergi, namja berambut karamel itu kembali mengarahkan atensinya pada Changmin. Sebuah konversasi satu pihak kembali ia lakukan.
"Aiishh... hari ini kau cepat sekali menghilang, Changmin-ssi. Jika saja Kyuhyun-ssi tidak menyebutkan seafood, aku pasti sudah mendatangi resto pizza yang ada di sana. Kau suka pizza 'kan? Ah, lupakan. Kau suka makanan secara general. Aku tak perlu kaget dengan hal ini."
Frase yang diguratkan Jinki tak lantas membuat Changmin berhenti mengabaikan namja itu. Ia berusaha keras untuk tak mendongakkan pandangannya dan tetap fokus pada makanan yang dilahapnya. Namun, sejujurnya merupakan hal yang sulit bagi Changmin untuk tidak sedetikpun melirik Jinki—yang notabene terlalu aktif untuk menjadi pihak yang diabaikan. Penulis itu sepertinya mampu mengisi hawa canggung dengan basa-basi sepele untuk menghidupkan suasana.
"Tadi, baru saja Minho—temanku sesama penulis—memberitahuku bahwa buku keempatku telah mencapai angka penjualan tertinggi. Hal ini membuatku senang tentu saja. Karena masih banyak yang tertarik dengan karya tulisku." Jinki terkekeh pelan. Tangannya terlihat memainkan gantungan flashdisk yang terkait pada laptopnya.
"Dan aku yakin, jika buku kelimaku ini telah selesai dengan sempurna dan diterbitkan, pasti angka penjualannya akan jauh lebih melonjak dibandingkan dengan empat bukuku sebelumnya. Karena aku akan mengisahkan pandangan hidup dari seseorang yang begitu menarik."
Changmin berhenti mengunyah untuk sejenak. Atensinya lantas terarah pada Jinki. Namja berambut karamel itu hanya tersenyum lembut padanya. Sebuah senyum lembut yang tampak begitu manis dipandang mata. Jujur saja, sejatinya Jinki merupakan namja tampan dan sangat manis. Ia merupakan namja idaman dengan pribadi yang menyenangkan, cerdas dan penuh dengan wawasan luas.
Sempurna.
Ia merupakan namja yang cukup sempurna.
Dan hal itu membuat Changmin bertanya-tanya. Apa sejatinya, yang membuat Jinki begitu persisten dan yakin bahwa Changmin adalah namja yang begitu menarik? Pribadi mereka bahkan sangat bertolak belakang dan kontradiksi. Jika diumpamakan dalam bentuk warna, maka Jinki adalah putih dan Changmin adalah sisi hitamnya.
Namun, dari cara Jinki menatapnya, kontradiksi itu seolah dipandang sebelah mata begitu saja.
Selama ini, Changmin selalu menerima pandangan kagum dari banyak orang. Mereka semua mengagumi Changmin berkat suara emas dan fisik sempurna yang selalu dipandang sebagai idola karena persona luarnya saja. Namun,dari segenap pandangan kagum yang diterimanya, hanya Jinki saja yang mampu membuat Changmin tertegun.
Namja itu selalu intens menatapnya, seolah-olah pandangan itu diselimuti dengan kontur kekaguman yang supremasi. Kadar kekaguman itu begitu tinggi. Jinki menatapnya seakan-akan Changmin adalah namja yang sangat sempurna. Ia menganggap Changmin sempurna bukan karena persona luar yang selama ini selalu ia tampakkan. Tapi dari dalam.
Ia memandang sempurna entitas terdalam dari pribadi Changmin itu sendiri.
Dan lagi... kelembutan itu.
Pandangan lembut itu seolah mampu memijarkan kehangatan dalam dinginnya hati Changmin. Semuanya terkesan seperti dejavu.
"Ahahaha... mulutmu sedikit belepotan, Changmin-ssi." Jinki menyengir tipis dan lantas mengambil selembar tisu yang ada di dekatnya. Ia usapkan tisu itu di mulut Changmin dengan nekatnya. Dan ia yakin, hanya tinggal masalah waktu sebelum namja raven itu benar-benar menepisnya dan membentaknya dengan tajam. Jinki sudah siap dengan resistensi itu.
Akan tetapi...
Yang terjadi justru kontradiksi.
Diam.
Changmin hanya diam sembari terus menatap intens ke arah Jinki. Ia tak terlihat marah dan bahkan tak menepis tangan Jinki seperti yang sudah diprediksikan. Ia membiarkan penulis itu melakukan apa yang ia mau. Dan hal itu membuat Jinki terkejut tentu saja.
'K-Kenapa ia tidak menepisku d-dan malah menatapku seperti itu?'
Jinki membatin penuh tanya. Mulutnya sedikit menganga sementara tangannya mulai gemetar. Tatapan intens yang dilayangkan Changmin membuat dadanya berdebar kencang. Dua obsidian itu begitu pekat, seolah mencoba untuk menyusuri esensi terdalam Jinki. Dan kegentaran pun semakin menghunus diri.
Jalan pemikiran Changmin sungguh sulit untuk ditebak.
Dengan cepat, Jinki menyibakkan parasnya ke samping. Wajahnya sedikit memerah dan ia tak berani membalas tatapan intens itu terlalu lama. Semua ini sulit dipercaya. Padahal, ia hanya iseng saja mengusapkan tisu itu ke mulut Changmin. Berharap bahwa namja raven itu merasa kesal dan membentaknya dengan kasar. Berharap bahwa namja raven itu akan mengguratkan secercah frase padanya.
Ia hanya ingin membuat Changmin paham bahwa ia benar-benar eksis. Ia hanya ingin menarik sedikit perhatian Changmin.
Namun, namja itu justru tak marah sama sekali.
Ia hanya membisu. Ia hanya menatap Jinki dalam-dalam dengan pandangan penuh enigma. Dan yang dipandang hanya mampu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan gugup. Sungguh, Jinki tak mengerti, mengapa jantungnya mendadak seperti mau meledak saja. Ini bukan dirinya yang biasanya.
Beruntung, hawa canggung itu terbuyarkan saat seorang pelayan mulai menghidangkan menu makanan yang dipesan Jinki. Atensi Changmin pun pada akhirnya turut terarah pada hidangan itu. Dan mencoba untuk menepis gejolak perasaan tak biasa yang sedang melandanya, Jinki mulai tersenyum tipis dan menepuk tangannya, antusias.
"A-Ah, makananku sudah tiba. Kelihatannya enak sekali." Pandangan Jinki sedikit berbinar. Saeng Sung Jun tak akan lengkap jika belum diberi saus sambal. Dengan penuh semangat, namja itupun lantas mengambil sebotol saus sambal yang ada di dekatnya dan mencoba untuk membuka tutupnya.
"Aigoo... kenapa botolnya susah sekali dibuka?" Jinki mengerucutkan bibirnya. Ditatapnya botol itu sembari memiringkan sedikit kepalanya. Geliatnya yang seperti itu membuatnya terlihat seperti anak kecil. Dan tingkahnya itu tentu tak luput dari pengamatan Changmin. Untuk namja secerdas Jinki, ia sungguh terlampau naif dan sedikit polos.
Dan hal itu hanya membuat Jinki terlihat berkali-kali lipat lebih manis dari sebelumnya.
'Sial. Apa yang sudah kupikirkan?' Changmin mengutuk intuisinya sendiri. Dengan raut ketus, ia berusaha untuk mengalihkan atensinya dari Jinki dan kembali fokus pada makanan yang dilahapnya. Namun, sayang. Namja berambut karamel yang terduduk di hadapannya itu justru melakukan hal yang tak terduga.
"Yah! Menyebalkan! Kenapa botolnya tak bisa dibuka!" Kesal, Jinki pun lantas memutar botol sambalnya di atas meja dengan raut yang semakin cemberut. Hal itu membuat Changmin sedikit terhenyak, mengernyutkan dahinya.
'Ada apa dengannya? Apa ia memiliki semacam... sangtae?' Meskipun tingkahnya sangat aneh, namun tak bisa dipungkiri bahwa Jinki terlihat begitu lucu. Namja itu benar-benar manis. Bahkan terlalu manis saat tak berniat untuk terlihat manis sekalipun. Botol sambal itu terus saja diputar, seolah-olah Jinki ingin memenangkan sebuah jackpot. Dan entah mengapa, menatap geliat unik itu membuat bibir Changmin tertarik di masing-masing sudut, menyunggingkan senyum tipis.
"Aiishh... ya, sudahlah. Aku akan makan tanpa saus saja." Memutuskan untuk menyerah, Jinki mulai mengangkat botol sambal itu sejajar wajahnya dan kembali memperhatikannya sekali lagi. Dan ia mulai terbelalak kaget saat Changmin tiba-tiba menggenggam tangannya dengan begitu erat.
"C-Changmin-ssi..."
Genangan waktu seolah terhenti. Dada Jinki berdebar keras. Changmin hanya terdiam dan menatapnya dengan begitu pekat dan lembut. Genggaman itu begitu hangat, seolah-olah Changmin tak ingin melepaskan Jinki. Rona merah kembali menjalar di paras namja karamel itu. Ada gejolak hasrat tak terdefinisi yang ia rasakan.
Setelah bertukar pandangan untuk sesaat, genangan realita seolah menuntut realisasi. Changmin lantas melepaskan genggaman tangannya dan mulai menarik botol sambal itu dari tangan Jinki, mencoba membuka tutup botolnya dengan cekatan.
"Makanlah. Saeng Sung Nim tak akan sempurna tanpa saus ini." Frase yang diguratkan Changmin membuat Jinki terhenyak. Ia tampak menganga saat sumber inspirasinya itu hanya meletakkan botol sambal itu di hadapannya dan kembali melahap hidangannya sendiri. Paras Jinki kembali merona merah. Genggaman tangan Changmin masih membekas hangat di benaknya.
Peduli.
Namja raven itu benar-benar peduli padanya.
Dibalik sikap tak acuh dan dingin itu...
Changmin sungguh sangat memperhatikan eksistensi Jinki.
"Gomawo, Changmin-ssi..."
Frase itu diucapkan Jinki dengan begitu lembut. Ada kontur bahagia yang terpancar di paras manis namja penulis itu. Entah mengapa, rasanya menyenangkan. Rasanya sungguh menyenangkan jika Changmin menaruh setitik kepedulian padanya. Rasanya sangat menyenangkan jika namja raven itu menatap eksistensinya. Jinki semakin menginginkan palung kepercayaan itu.
Dan ia hanya tersenyum saat Changmin lagi-lagi hanya terdiam dan tak merespon ucapannya. Namja raven itu benar-benar membutuhkan waktu untuk bisa membuka diri sepenuhnya pada Jinki. Dan Jinki memahami itu. Ia tak akan terlalu memaksakan kehendaknya pada Changmin.
Jika memang namja raven itu tak akan pernah menganggap Jinki sebagai entitas yang berarti, maka ia akan ikhlas dan menerimanya dengan lapang dada. Karena pada dasarnya, Jinki bukanlah siapa-siapa.
Akan tetapi, satu hal yang tak diketahui oleh Jinki adalah...
Bahwa dari lubuk hati terdasar Changmin...
Namja penulis itu kelak akan menjadi... segalanya.
Setelah keduanya selesai menghabiskan hidangan mereka—dengan kondisi Jinki yang makan terburu-buru karena takut ditinggalkan sendiri oleh Changmin—Penulis dan penyanyi jalanan itu mulai beranjak dari kursi mereka, keluar dari restoran seafood.
Keduanya melangkah dalam diam dengan Jinki yang berada di belakang Changmin, mengekorinya. Sesekali, namja berambut karamel itu akan mengeluarkan jurnal kecilnya dan mencatat sesuatu di sana, sebagai pengganti laptop. Yang dicatatnya? Tak perlu ditanya. Sudah pasti isi jurnal itu berbau hal mengenai Changmin—sumber inspirasi terbesarnya. Dan beruntung, namja raven itu tak lagi mengguratkan komplain padanya.
"Setelah ini, kau akan menyanyi di kafe SHINee, benar 'kan? Aku sudah mencatatnya dalam jurnalku." Pernyataan Jinki membuat Changmin menyunggingkan seringai tipis. Namja penulis itu sungguh terdengar seperti manajernya saja. Tanpa menoleh ke belakang pun, Changmin sungguh yakin bahwa Jinki pasti tengah membaca jurnalnya sembari berjalan dengan raut setengah polos. Hal itu sudah menjadi bagian dari sangtae namja itu. Ia tak heran sama sekali.
"Setelah kafe SHINee, kudengar klub TVXQ dan juga bar Big Bang ingin mengajukan penawaran padamu. Aku harap, kau tak sering bernyanyi di dalam bar, Changmin-ssi. Suasana di dalam sana tidak kondusif." Nada Jinki terdengar serius. Changmin mengernyutkan dahi mendengar itu. Pada akhirnya, ia mulai menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah namja penulis itu. Memicingkan pandangan tajam padanya.
"Apa urusannya denganmu jika aku bernyanyi di dalam bar? Apa kau berniat untuk mengaturku?"
Jinki hanya tersenyum dengan tuduhan skeptis itu.
"Bukannya begitu. Aku hanya tak senang saja... melihat orang-orang hedonis itu berlonjak-lonjak di dalam bar semaunya sendiri tanpa mau menghargai betapa indahnya suaramu, Changmin-ssi."
Changmin terhenyak mendengar frase tulus itu. Jinki mulai melangkahkan diri mengitarinya, sembari mendongakkan pandangannya ke atas.
"Aku lebih senang melihatmu bernyanyi di dalam kafe, Changmin-ssi. Selain suasananya cukup tenang dan kondusif, akan banyak sekali orang-orang penuh dilema di dalam kafe—yang akan menjadi damai setelah mendengarkan lantunan lagumu. Termasuk diriku." Jinki terkekeh pelan. Entah mengapa, pengakuan yang ia ucapkan sedikit membuatnya merasa malu. Parasnya merona merah. Dan hal itu membuat Changmin seakan terpanah menatapnya.
"Ah, aku benar-benar terdengar seperti seorang stalker yang menakutkan. Abaikan ucapanku, Changmin-ssi. Aku terlalu banyak berkutat dengan beberapa novel melankolis buatan kawanku akhir-akhir ini. Jadinya... pikiranku sedikit melantur ke mana-mana."
Canggung, Jinki menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Namja itu memaksakan diri untuk menyengir dan sedikit malu untuk menatap langsung ke arah Changmin. Pada akhirnya, ia hanya tertunduk, tak menyadari jika sedari tadi, atensi Changmin benar-benar terpaku intens padanya.
"A-Ah, baiklah. Aku akan pulang sekarang. Nanti malam, aku akan datang ke kafe SHINee untuk melihat penampilanmu. S-Sampai jumpa nanti, Changmin-ssi."
Paham bahwa semakin lama ia berada di dekat Changmin, maka hasrat tak terdefinisi itu akan semakin membuncah, Jinki memutuskan untuk memberi space di antara mereka. Ia sendiri juga tak paham, mengapa ia bisa mendadak salah tingkah. Sangtaenya kambuh tak pandang situasi. Dan ia tak ingin Changmin menganggapnya sebagai namja yang terlalu aneh.
Setelah membungkukkan diri di hadapan Changmin, ia segera berlari menyusuri tepian jalan. Jinki tak sadar jika ada sebuah mobil yang melaju secara zig zag dari arah belakang. Laju mobil itu tampak cepat dan tak stabil. Paham dengan probabilitas terburuk yang akan terjadi, Changmin terbelalak pucat dan segera berlari menyusul namja penulis itu.
"JINKI! AWAS!"
"H-Hah?"
Jinki terhenyak mendengar teriakan itu. Kedua obsidiannya membelalak lebar saat suara klakson berdentang dengan begitu nyaring dan sorot lampu mobil itu mulai terarah intens di hadapannya. Segenap orang yang ada di sekitarnya mulai beraut horor. Mereka menjeritkan peringatan yang cukup krusial. Dan dalam waktu sepersekian detik saja, Changmin berhasil menjerat tubuh Jinki dan menariknya jauh dari jangkauan mobil itu.
"Aahhkk!" Kedua namja itu terjerembab ke bawah. Paras Jinki membentur hamparan dada Changmin. Beberapa orang terlihat melontarkan umpatan pada pengemudi mobil yang jelas sudah menyetir secara asal-asalan itu. Insiden itu benar-benar mampu membuat kontur syok menjalar secara massal.
"Kau... tidak apa-apa 'kan?"
Pedang tanya itu membuat Jinki mengerjapkan matanya. Rasa lega mengguyur penalaran Changmin saat ia tak mendapati goresan luka di tubuh namja karamel itu sedikitpun. Mencoba mencerna realita yang ada, Jinki mulai memberikan respon dengan raut yang masih terlihat bingung.
"A-Ah! C-Changmin-ssi—a-aku tak apa-apa. G-Gomawo karena sudah menyelamatkanku."
Changmin pun beraut ketus. "Lain kali berhati-hatilah. Jangan ceroboh."
"N-Ne. M-Mianhe." Jinki memaksakan diri untuk tertawa kecil. Ia sungguh senang karena Changmin benar-benar memperhatikannya. Ia berhutang budi pada namja raven itu. Jinki tak tahu apa jadinya jika Changmin memutuskan untuk tak acuh dan benar-benar mengabaikannya tadi. Mungkin... saat ini, ia pasti sudah dikirim ke rumah sakit.
"Baiklah. Sekarang... bisakah kau... beranjak dariku?" dengan raut tak terdefinisi, Changmin kembali menatap Jinki. Dan Jinki mulai terbelalak lebar saat menyadari posisi tubuhnya saat ini. Ia sudah menindih penyanyi jalanan itu dengan cukup lekat. Jarak yang hanya terpaut beberapa inci saja itu membuat paras Jinki merona merah.
"Ah, m-mian—" Mencoba untuk bangkit, Jinki menjadikan bahu Changmin sebagai pijakan kedua tangannya. Ia mulai menarik diri dengan hati-hati. Namun, sial. Bukannya sukses. Sangtaenya itu justru kambuh di saat yang tak tepat. Tangannya mendadak tergelincir ke samping.
BRUUKK!
"OUCH!"
"M-Mmmpphh—" Sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Jinki kembali terjerembab ke bawah. Parasnya lantas membentur hamparan pipi Changmin. Kedua namja itu terbelalak syok dengan kontak skinship tak terduga itu. Segenap orang yang menatap mereka mungkin telah mengira bahwa ritual yang dilakukan Jinki—yang tak sengaja mencium pipi Changmin terlalu lekat—adalah ritual sepasang kekasih. Jantung seolah meledak. Paras keduanya serasa panas.
Dengan cepat, namja penulis itu segera bangkit dan mulai menundukkan diri, meminta maaf.
"M-Mianhe! A-Aku tak sengaja! Aku tak sengaja melakukannya, Changmin-ssi!" Rona merah di paras Jinki semakin pekat. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari tertunduk, salah tingkah. Changmin hanya terdiam sembari menyentuh hamparan pipinya. Bibir Jinki begitu lembut. Dan ia bisa merasakan itu di parasnya.
Entah mengapa...
Segenap entitasnya seolah haus dengan sentuhan Jinki. Segenap entitasnya seolah meronta dan ingin menyatu dengan entitas namja penulis itu. Postur Jinki sungguh begitu sesuai dan serasi dengan Changmin. Mereka bak kepingan puzzle yang diciptakan untuk saling bersatu dan melengkapi satu sama lain.
Dengan raut tak terdefinisi, Changmin mulai mendaratkan jemarinya tepat di atas kepala Jinki dan membelai lembut rambut karamel itu perlahan-lahan. Sebuah frase singkat terguratkan dengan begitu lirih.
"Anieyo..."
Dan Jinki seakan membeku dalam genangan rasa yang begitu asing. Meskipun Changmin tak menyunggingkan seutas senyum, namun tatapan namja raven itu sungguh terlalu dalam. Obsidian itu terlihat ambigu dan bahkan sangat lembut. Jinki seolah tersesat.
Ia seolah tersesat dalam labirin hasrat yang tak mampu ia harfiahkan maknanya.
'Obsidian itu memandangku dengan begitu lembut dibalik kontur enigma yang dikenakannya. Entah mengapa rasanya hangat. Dan bahkan begitu menenangkan.'
'Aku tak tahu, apa yang sudah terjadi pada diriku. Parasku merona merah dan tak pernah kurasakan debaran jantung yang secepat ini sebelumnya.'
'Aku tak mampu berkata. Tak juga mampu untuk berpikir.'
'Aku...'
'... tak mungkin jatuh cinta dengan... Changmin-ssi 'kan?'
A/N: Reinkarnasi kali ini bener-bener switch-role. Di part-part sebelumnya, biasanya yang obsesi itu Changmin. Kali ini saya buat Jinki yang megang role itu. Hahahaha! Changmin emang asli tsundere—ralat. Evil-tsundere. Jadinya, gak susah juga ngebentuk karakter dia di part ini. :D
Dan sangtae Jinki is back! xDDD Whatever he does, it's Onew condition~
Oh, ya. UTS saya tinggal dua-tiga minggu lagi. Saya gak tahu, apakah minggu depan saya masih bisa updet fic ini atau enggak. Project UTS saya bener-bener horor. Next chapter kayaknya bakalan random deh. Kalau gak minggu depan atau dua minggu lagi, berarti ya habisnya UTS. Hehehe... :P
Sekali lagi, makasih buat yang udah review. Jangan lupa review lagi ya! Dan doakan saja, semoga UTS saya dapat hasil yang memuaskan. Amin~ Hohohohohho!
Wokeh, Kamsahamnida! See you all in the next chapter! :)
