Baekhee menggandeng tangan anak laki-laki itu, keduanya berjalan menuju panti, anak laki-laki itu mengantar Baekhee karena waktu sudah sore.
"Oppa, apa kau ingin mengadopsiku sebagai adikmu?" Baekie menggandeng tangan anak laki-laki itu yang mengantarnya pulang ke Panti.
"Tidak, aku tidak akan menjadikanmu adikku" Anak laki-laki itu mengatanaknya dengan nada datar.
"Kenapa?, apa aku nakal?" Baekhee terlihat sedih dengan penolakan itu.
"Tidak, kau bukan gadis nakal" Anak laki-laki itu berhenti di depan pagar panti asuhan tempat Baekhee tinggal.
"Wae Oppa?, apa karena aku Buta?"
"Siapa yang mengatakan hal itu?, tidak, sama sekali tidak" anak laki-laki itu tidak suka jika Baekhee menyebut dirinya buta. "...hanya saja--"
"Baekki!, kau di situ?" seorang wanita pengurus panti mendekati Baekhee yang berdiri di depan pagar.
"Ne, eonni aku sedang bermain dengan Oppa"
"Oppa?" wanita itu menautkan alisnya, dia hanya melihat Baekhee seorang diri.
"Oppa, Chanie Oppa" Baekhee memanggil anak laki-laki itu.
"Dia sudah pergi, ayo kita masuk, ini sudah sore"
Wanita itu melihat seorang anak laki-laki yang berjalan menjauhi tempat mereka.
Baekhee hanya duduk di tempat tidur, keadaanya jauh membaik setelah satu minggu gadis itu di rawat di Rumah Sakit.
Usia kandunganya sudah menginjak minggu ke 4, gadis itu sudah mulai merasakan yang namanya morning sick.
Gadis itu membencinya, dia merasakan pusing luar biasa, dan setiap pagi harus terbangun karena rasa mual nya mendesak.
Dan anehnya dia tidak bisa jauh dari Chanyeol, gadis itu selalu menempeli laki-laki bertubuh tinggi itu kemanapun dia pergi.
Dia tidak suka seperti ini, dia hanya merasa sedih jika laki-laki itu pergi, dia akan menangis seharian sampai laki-laki itu pulang.
"Aku ingin pulang" Baekhee bangkit dari duduknya dan meraih tongkat yang dia simpan di atas meja.
"Kau yakin?" Chanyeol merapihkan bajunya.
"Aku ingin bertemu Minseok Ajumma, dia pasti mencariku" Baekhee berjalan mendekati Chanyeol dan memeluknya dari belakang kemudian menghirup dalam-dalam aroma tubuh laki-laki itu
"Jika kau ingin bertemu dengan nya Aku akan mengantarmu menemui Minseok ajumma" Chanyeol sudah terbiasa dengan kebiasaan baru gadis itu, yaitu memeluknya dari belakang
"Jadi kau tidak mau mengantarku pulang?" Baekhee masih mengusak hidungnya di punggung laki-laki yang sangat dia benci itu.
"Baek"
"Aku bisa melakukanya sendiri, aku bisa menemukan jalanya" Baekhee melepaskan pelukanya dan kembali ke duduk di tempat tidur.
'Aku tidak menyangka jika orang yang sedang hamil benar-benar menyebalkan'
Chanyeol membuang nafas kasar, Baekhee begitu sensitif, saat ini mata sipit gadis itu hampir tidak bisa membuka, gadis itu baru berhenti menangis saat dirinya datang, bahkan saat ini gadis itu kembali menangis.
Jongin duduk bersama Baekhee, dia menunggu Kyung Rae untuk bergantian, Chanyeol tidak mau jika mereka berdua belajar bersamaan, karena di pastikan keduanya akan ribut.
"Baekhee noona katakan jika Park seonsaengnim jahat padamu, aku akan memukulnya untukmu" Jongin menatap wajah gadis itu yg terlihat datar.
"Ah-aniyo, dia tidak jahat" Baekhee menengok ke arah Jongin yang duduk di samping kirinya.
"Lalu kenapa noona menangis??" Jongin menunjuk wajah Baekhee.
"Oh?, benarkah aku menangis?" Gadis itu memegang pipinya, dia tidak merasa menangis.
"Iya, noona mengeluarkan air mata" Jongin menyentuh sudut mata Baekhee.
"Kkamjong-ie, Park seonsaengnim memanggilmu" Jongin menoleh oada gadis kecil itu.
"Kyung Rae noona, tolong jaga Baekie noona untukku" Jongin beranjak dan berpesan pada gadis kecil yang usianya lebih tua 1 tahun darinya.
Jongin mendekati Chanyeol, dia tidak duduk di samping laki-laki itu, melainkan hanya berdiri dan berkacak pinggang menatap tajam pada Chanyeol.
"Park Seonsanengnim!"
"Ne Jongin-ie" Chanyeol terkejut melihat anak didiknya yang terlihat aneh.
"Kenapa kau membuat noona menangis?, kau jahat, kau menyakitinya" Chanyeol melongo melihat anak itu memarahinya.
"Menangis?, ap-"
'bugh! bugh!'
Jongin memukuli lengan Chanyeol dengan tangan kecil nya, dan Chanyeol merasakan pukulan lain di punggungnya, ternyata KyungRae bergabung dengan Jongin untuk memukulinya.
Mereka salah paham, Baekhee tidak menangis, gadis itu menguap berkali-kali karena bosan dan airmatanya luruh begitu saja karena efek menguap.
Jongin menggandeng Baekhee di sebelah kanan dan KyungRae di sebelah kiri, mereka menemani Baekhee ke toko Roti Minseok yg memang tidak terlalu jauh dari tempat kursus itu.
Mereka meninggalkan Chanyeol beberapa meter di belakang, keduanya tidak membiarkan laki-laki itu mendekat.
"Park Seonsaengnim jangan dekat-dekat!!" Kyung Rae berteriak, saat merasa jarak Chanyeol terlalu dekat dengan mereka.
"Kenapa kalian memukulnya?" Baekhee tidak mengerti dengan situasinya.
"Dia jahat pada noona"
"Ah, tidak, dia tidak jahat padaku" Baekhee membela laki-laki itu.
"Lalu kenapa eonni mengeluarkan air mata?, bukankah itu namanya menangis?"
"Ya, kyung rae noona benar"
Mendengar kedua anak itu membelanya, Baekhee hanya terkekeh, anak-anak itu menyayanginya.
"Appa, apa kita benar-benar akan pindah dari sini?"
Anak laki-laki itu terkejut saat ayahnya mengatakan jika keluarga mereka harus pindah dari kota itu.
"Sepertinya begitu" jawab sang ayah datar.
"Apa kita tidak bisa tinggal di sini saja??" anak laki-laki itu mendebat ayahnya.
"Kita harus pindah" sang ayah meninggalkan ruangan itu.
"Chan, kita akan baik-baik saja, turuti Appamu nak, dia sudah mempertimbangkan semuanya" kali ini suara lembut seorang wanita menenangkan anak laki-laki nya.
"Bahkan Appa tidak membiarkan aku bersama teman-temanku"
"Percayalah, itu Appa-mu lakukan untuk melindungimu Chan" wanita itu memeluk bahu anak laki-lakinya.
"Apa yang terjadi sebenarnya eomma??" wanita itu hanya tersenyum menatap wajah anak laki-laki nya.
Sejak beberapa tahun lalu, keluarga Park terus saja mendapatkan terror pembunuhan, Park Myungsoo adalah seorang detektif yang menangani kasus-berat, dan beberapa tahun lalu dia berhasil menangkap seorangpembunuh berantai dan di vonis hukuman mati
Beberapa bulan setelah kasus itu dia selalu mendapat terror pembunuhan.
Sore itu kedua orang tua Chanyeol sedang dalam perjalanan pulang, Chanyeol tidak bersama mereka karena kegiatan sekolahnya.
Saat itu lalulintas dalam keadaan lengang, tapi entah dari mana sebuah truk Tiba-tiba melaju kencang hendak menabraknya.
Myungsoo yang menyadarinya membanting stir ke kanan dan menabrak sebuah mobil dengan arah berlawanan hingga mobil yang dia tabrak terpental jauh.
Baekhee merasakan Chanyeol yang bergerak gelisah saat tidurnya, gadis itu terbangun dan mendudukan diri, tanganya meraba ke sampingnya, tubuh laki-laki itu bergetar hebat, tubuhnya tidak panas tapi keringat terus saja mengalir dari dahi dan pelipisnya.
"Kau kenapa?, apa kau tidur?"
Merasa tidak ada jawaban, Baekhee mengguncang lengan laki-laki itu, tapi laki-laki itu masih saja diam dan gelisah dalam tidurnya.
Baekhee memberanikan diri menyentuh dahi laki-laki itu dan menyeka butiran keringat yang membanjiri wajahnya, dia ragu tanganya terus saja menyapu wajah Chanyeol dengan perasaan takut.
'grep'
"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol menangkap tangan Baekhee saat jari-jarinya hampir menyentuh pipi laki-laki itu, suaranya terdengar dingin dan datar.
"Ak-aku itu--" Chanyeol mencengkeram pergelangan tangan Baekhee
"Aku sudah mengatakanya jangan pernah mencoba melihat wajahku dengan menyentuhnya" Laki-laki itu menepis tangan Baekhee, dan membuat gadis itu tersentak.
"Aku tidak berniat melakukanya, hanya saja kau berkeringat, wajahmu basah karenanya, jadi aku--"
"Jangan pernah melakukanya lagi" Chanyeol beranjak dari tempat tidur yang mereka tiduri
Baekhee merasakan ranjang itu bergerak saat laki-laki itu beranjak, gadis itu tahu jika laki-laki itu sudah menjauh.
"Wae?"
Chanyeol menghentikan langkahnya, saat ini dia masih berdiri di ambang pintu.
'Aku tidak ingin kau tahu siapa aku, aku tidak ingin kau mengingatku'
"Tidurlah, aku akan pergi agar tidak menganggu tidurmu"
Tbc.
