Stage 13

While It's Possible


Meskipun memutuskan untuk marah dan membencinya.

Rui tidak mampu membendung kerinduannya ketika Sawamura akhirnya kembali ke sisinya lewat satu minggu dari hari ulang tahunnya.

Tanpa ucapan selamat ulang tahun yang terlambat maupun permohonan maaf, Rui merasa saat itu sudah cukup dia bisa melihat Sawamura kembali.

---HFSmile---

Sawamura hanya pura-pura tertidur saja.

Matanya kembali terbuka pada pertengahan malam. Rui ada di sampingnya, tertidur cukup lelap.

Lain dari wajah tangisnya tadi, ada semburat ketenangan di wajahnya sekarang.

Kesepian, Sawamura mengenalinya. Bahkan untuk seorang yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kehangatan seperti Rui bisa merasakan kesepian ditinggal sekian lama olehnya.

Baiklah, ditambah dengan minimnya dia memberi kabar dengan menelepon atau mengirim pesan.

…Bahkan sengaja melewati ulang tahunnya.

Memang keterlaluan.

Dia menyadari sepenuhnya.

Kebutuhan Rui akan dirinya membuatnya merasa bersalah.

Padahal tidak ingin disangkalnya, begitu Rui lari ke arahnya dan memeluknya erat-erat, Sawamura ingin melakukan hal yang sama.

Kesepian.

Parfum yang selalu dipakai Mia membuatnya kehilangan ingatan akan harum shampo dan sabun yang dipakai Rui.

Ingin mengingatnya kembali.

Seandainya dia bisa melakukannya. Faktanya tangannya terasa berat, bahkan hanya untuk menyentuh wajah Rui sekalipun.

Sawamura menghadapkan wajahnya ke wajah Rui.

Seandainya dia tahu…Apa yang akan terjadi?

---HFSmile---

"Apakah tidak ada dispensasi?" Rui mengeluh seraya memandangi Sawamura memakan sarapannya ( tidak selahap biasanya ), "Kemarin kau tiba hampir larut malam."

"Kerja memang tidak punya rasa kasihan," cetus Sawamura.

"Tapi kan pekerjaannya berhasil didapatkan," kata Rui lagi keras kepala. Setidak-tidaknya biarkan dia melihat suaminya sampai puas seharian ini. Namun kesempatan itu tidak ada sama sekali. "Benar-benar egois."

"Mereka menjanjikan bonus padaku. Rasanya libur tidak termasuk dalam perjanjian." Sawamura meletakan kembali cangkir kopinya setelah menghabiskannya. Hari ini sepertinya dia tidak berselera makan, sarapannya tidak dihabiskan. "Sudah waktunya berangkat."

"JaItterasyai," kata Rui setengah hati.

"Ittekimas," Sawamura mengambil kunci mobilnya.

"Tunggu!" Rui menghentikannya. Tanpa ragu ia mengalungkan lengannya di leher Sawamura, berjinjit, memberi satu kecupan di bibir Sawamura.

Sesaat mereka bisa bertukar pandang.

Bagi Rui tingkah Sawamura aneh. Rui sedang mencari jawaban itu di mata Sawamura.

Menurut Sawamura juga, Rui telah bersikap aneh karena wanita itu tidak pernah lebih dulu menciumnya. Tapi secara garis besar dia mengerti apa penyebabnya. Makanya dia mengalihkan pandangannya.

Dia pergi tanpa mengatakan apapun.

---HFSmile---

"Setelah hampir sebulan tidak bertemu, pasti malam kemarin kalian hampir tidak tidur kan?" goda Mizuki setelah melihat bekas hitam di bawah mata Rui.

Rui langsung menyela dengan wajah semerah apel, "Bodoh! Justru Masahiro langsung tidur begitu tiba di rumah."

"Benarkah? Dia benar-benar pria besi ya? Jangan-jangan di sana dia main wanita," Mizuki bercanda meskipun wajahnya serius dan menyelidik, karena Rui tahu sifat Sawamura yang malas berurusan dengan wanita.

"Oh!" Mizuki seperti teringat sesuatu. "Apa kau sudah dengar, di sekolah tim yang dilatih Narucyo katanya memerlukan seorang guru pengganti karena guru tetapnya sedang cuti."

"Lalu?" Rui masih belum menemukan korelasi yang pantas untuk informasi ini.

"Karena dibutuhkan segera, dia menawarkan kita. Apa kau tertarik?"

Sekarang dia menemukan korelasinya.

---HFSmile---

Sawamura terperangkap kembali dalam elevator bersama dengan orang yang paling ingin dihindarinya saat ini. Sanahara Mia.

"Ohayou Gozaimasu, Sawamura-sama," sapanya layaknya profesional.

Sangat meremehkan kalau mengira Sawamura tidak bisa bersikap profesional. Sanahara Mia bukan sesuatu yang bisa membuat lututnya bergetar. "Ohayou, Sanahara-san."

"Sebenarnya setelah waktu panjang yang kita lewati, kau bisa memanggilku 'Mia'."

'Waktu yang panjang' itu frase yang benar-benar diidentifikasikan dan dieufemismekan dengan kejadian yang tidak ingin Sawamura ingat juga. Sebenarnya dia dihadapkan pada situasi kompleks. Kedekatan dengan anak atasan bisa mempermulus jalannya menuju puncak karir, tapi sayangnya anak atasannya itu 'perempuan'. "Selain kantor, kau pun anak atasanku. Lebih baik tetap begini."

Mia terkekeh. "Alasan bagus. Kau benar-benar boleh tenang, Sawamura-sama. Karena aku juga punya kehidupan yang perlu kujalani."

Saat pintu elevator terbuka, Sawamura bertemu seorang yang tak terduga.

"Mia, kudengar dari paman kau sudah kembali. Makanya aku cepat-cepat kemari." Kata orang itu dengan senyum yang lembut.

"Ya, Ini aku, Takagi."

­---HFSmile---

Mizuki telah mengatakannya, dan sekarang menjadi pikiran Rui.

Menjadi guru…Bukan cita-citanya, tapi sesuatu yang ingin dicobanya. Selain dia bisa mengisi waktunya-daripada bengong sendirian di rumah atau menghabiskan waktu di luar-, pasti ada penghasilanya yang diperolehnya.

Masahiro pasti suka kata 'penghasilan' itu.

Dan ketika malamnya Rui menceritakan maksudnya, memang Sawamura tidak membantahnya sama sekali.

"Kalau begitu aku akan menelepon Naruse sekarang." Kata Rui antusias.

"Kita temui saja. Aku akan menemanimu. Sudah lama aku tidak melihatnya," tawar Sawamura yang mengakhiri topik ini.

---HFSmile---

Pada akhir minggu, Sawamura membawa Rui ke sekolah tempat Naruse melatih basket.

Mereka menunggu di luar gedung latihan. Sementara menunggu, Sawamura menerawang melalui kaca jendela bangunan.

Suaradribble-an bola membangkitkan kenangannya dan membuatnya merasakan rindu akan hari-harinya di sekolah menengah. Dia langsung bisa menghirup udara latihannya dulu. Bau keringat yang mengalir, bau lantai parket, dan bola karet yang bercampur menjadi satu. Berikut suara-suara riuh dalam pelatihan; seruan kapten, derap langkah lari yang selaras diiringi desah nafas kelelahan, suara keranjang yang terdesak masuk bola, atau bunyi pantulan bola di board. Semuanya menyenangkan.

"Sawamura, Rui!"

Rui langsung menyalam balik, sementara Sawamura seperti baru terbangun dari mimpi panjang.

Meskipun kelihatan kumal, namun senyum cerah tidak lepas dari wajah Naruse.

"Apa kau datang karena masalah guru pengganti itu?"

Rui mengangguk, "Ya, tapi yang menjadi ganjalanku, aku tidak memiliki lisensi maupun pengalaman mengajar."

"Itu bisa diatur," Naruse mengerling, "Asalkan kau sudah bersedia saja, itu sudah cukup. Lagipula kau hanya akan menjadi guru pengganti selama tiga bulan. Apa kau tetap berminat?"

Rui mengangguk antusias, "Aku sangat menantikannya. Kalau ada formulir yang harus kuiisi atau keterangan yang harus kubawa, katakan saja padaku."

"Arigatou Gozaimasu! Aku benar-benar tertolong!" Naruse membungkuk hormat.

"Nantinya akulah yang memerlukan bantuanmu." Rui buru-buru ikut menunduk. "Aku mau lihat-lihat dulu supaya cepat membiasakan diri di sini. Tidak apa-apa kan?"

"Ya, biar kutemani!" tawar Naruse, yang langsung ditolak Rui. "Aku bisa sendiri. Biar kau menemani Masahiro saja."

"Ano ona…," Sawamura menghela nafas begitu Rui sudah pergi.

"Penuh semangat dan pengertian," Naruse tersenyum kecil. "Dia menyadari dari tadi kau terlalu banyak melamun."

"Tidak juga," Sawamura menyangkalnya. "Kau sendiri bagaimana, Naruse? Terus sibuk dengan anak-anak ingusan itu?"

Naruse mengeryitkan keningnya. "Bukan anak-anak ingusan. Mereka anak didikku yang berharga. Sekarang kami sedang sibuk latihan untuk pertandingan perfektur."

"Kulihat sekilas, memang sepertinya mereka berpotensi," aku Sawamura.

"Deshou!? Karena target kami kan interhigh. Kami sudah saling bersumpah untuk itu," jelas Naruse semakin bersemangat karena Sawamura mengakui kemampuan timnya.

"Dasar Pak Tua, tidak perlu bersemangat begitu," giliran Sawamura yang mengernyit, "Merepotkan."

"Seperti biasa, kau juga tetap sinis," Naruse menggembungkan pipinya. Lalu dia menatap langit biru di atasnya. Langit yang bersih dan cerah. "Pokoknya ini saat-saat paling bahagia dalam hidupku. Pekerjaan dan kehidupan pribadi berjalan dengan baik. Hidup tenang seperti ini benar-benar tidak buruk."

Sawamura terkekeh. "Tidak kupercaya laki-laki yang sekarang bicara ini, dulu memohon padaku untuk mengajari kencan yang menyenangkan mati-matian."

"Mooo!" wajah Naruse memanas, rasanya dia ingin menimpuki Sawamura dengan bola basket, "Jangan ungkit lagi cerita lama!"

"Tapi aku juga belajar hal lain untuk menyenangkan Tomomi," Naruse menepuk dadanya dengan bangga. "Kupelajari sendiri lho."

"Baguslah kalau begitu," desah Sawamura tidak tertarik.

"Apa kau tidak mau mengetahuinya? Rui juga pasti senang," Naruse seperti orang aneh yang tidak sabar ingin membagi rahasia dengan orang lain, bukan menyimpannya untuk diri sendiri. Kalau diberitahukan pada orang lain, mana mungkin disebut rahasia?

Karena kasihan, Sawamura bersikap baik dengan pura-pura tertarik. "O ya? Apa ra-ha-sia-mu itu?"

Naruse tersenyum lebar, merangkul bahu Sawamura konspiratif. "Dengar baik-baik ya? Aku tidak akan mengulang dua kali."

"Ya, ya," jawab Sawamura asal.

"Sekali waktu, kau harus mengatakannya padanya kalau kau mencintainya."

"Ha??" kening Sawamura berkerut. "Cara kampungan dan memalukan begitu tidak akan kugunakan! Seumur hidup pun tidak akan!"

"Lho? Kenapa?" mata Naruse membesar keheranan. "Biarpun kau bersikap baik padanya, dia tidak selalu merasa pasti. Tapi dengan mengatakan perasaanmu, dia akan mengerti dan merasa lega."

"Tidak, cara seperti itu tidak akan berhasil."

Perubahan ekspresi Sawamura, Naruse menangkapnya walaupun tidak dimengertinya. Ada sedikit warna kelabu dan suram dalam ekspresinya. Apa ada sesuatu yang terjadi? Tidak…Mana mungkin? Di antara ribuan lelaki yang dikenal Naruse, Sawamura adalah penangan wanita terbaik. Tapi sawamura adalah tipe yang menyimpan sendiri masalahnya. Tahu poin penting itu dari seorang Sawamura, yang memiliki gelar kehormatan 'sahabat', cukup membuat Naruse mulai khawatir dan berpikir yang bukan-bukan.

Sayangnya kekhawatirannya harus berehat bila-bila Rui telah masuk dalam jangkau pandang mereka.

"Apa kalian sudah selesai?" tanya Rui dengan senyum kecil, puas mengitari sekolah.

"Kapan-kapan kita bicara lagi, Naruse," Sawamura pun tidak berpikir memanjangkan durasi reuni antara dirinya dengan Naruse. Mereka masih bisa bertemu kapanpun.

Naruse mengangguk seraya tersenyum. Dia sendiri pun masih memiliki 'biang keributan' kebanggaannya yang perlu dilayani. Rui akan menyadarinya kalau ada sesuatu yang tidak beres pada Sawamura. Begitu pikirnya. "Sampai jumpa, Sawamura. Rui."

---HFSmile---

"Jadi guru…Ya?" Sawamura bergumam sendiri, dan dia sama sekali tidak berniat membangunkan Rui.

Tapi memang Rui belum sampai ke alam mimpi manapun. Jadi dia menyahut, "Tidak baikkah, menurutmu?"

"Tidak juga," Sawamura membalas.

Malah sepertinya cocok.

"Tidak berniat untuk tidur?" Rui mengganti topik lebih ringan.

"Kau sendiri?"

Rui menyadari keteledorannya. Dia telah salah memilih topik. Pertanyaan ringannya berbalik padanya. Dalam khasusnya, jawabannya tidak akan sambil lalu seperti pertanyaannya. Dia ingin menyimpannya sendiri. Kegelisahan bagai topan yang menerbangkan semua kepercayaan dirinya serta kekecewaan pesimistik yang menjerat bagai tanaman belit.

Bagaimana mengatakannya dengan bahasa yang lebih mudah?

Puitisasi melodramatik hanya semakin mengaburkan esensi yang ada.

Lurus, jujur.

Butuh berapa lama untuk menyusun kalimat paling mengena? Atau mungkin sebuah kata identifikasi sudah cukup mewakili semuanya?

"Rui?" Sawamura mulai menyadari keganjilan wanita di sisinya. Dengan wajah tenggelam di bantal, ada getaran-getaran kecil pada tubuhnya.

"Hei, aku hanya bertanya 'apa kau tidak mau tidur'?" Sawamura mengguncang pelan bahu Rui.

"I-Iya…Aku...Jangan pedulikan aku…," ucap Rui terputus-putus.

"Jangan membuatku kelihatan tidak bertanggung jawab," hanya beberapa detik otak Sawamura bekerja. Tapi dia langsung menemukan sebuah kemungkinan jawaban dengan probabilitas sembilan puluh persen. Kali ini dia sangat menyayangkan kemampuan otak dan instingnya. Setelah tahu jawabannya, mungkinkah dia tidak bertindak mengantisipasi? Bisakah dia pura-pura bodoh? Rui sudah memberinya kesempatan dengan mengatakan bahwa dia tidak perlu mempedulikannya.

Kau pintar, Masahiro Sawamura. Ambil kesempatan ini. Kau tahu keputusanmu adalah yang terbaik.

Berlainan dengan jangkaan otaknya, ia membalikkan tubuh Rui dengan paksa.

Butiran-butiran kristal yang nyaris tidak terlihat mengaliri sisi wajahnya, membentuk genangan basah di bantal. Tapi Rui memalingkan wajahnya, dia sendiri tidak ingin Sawamura melihatnya menangis tidak berdaya, tidak tertolong lagi.

"Kau sedang memaksaku…Atau bagaimana?" retoris Sawamura terdengar sinis. Tapi diucapkan dengan halus dan pelan.

"Maaf!" Rui melindungi wajah tangisnya dengan menyilangkan lengannya. Dia sama sekali tidak berniat membuat Sawamura mencemaskan dirinya.

"Aku tahu kenapa kau menangis."

Sawamura menarik salah satu lengan Rui ke dekat bibirnya. Mengecup jarinya satu persatu. Saraf-saraf di ujung jemari Rui mengirim impuls hingga jantungnya berdenyut-denyut tidak keruan.

Siksaan yang manis itu tidak berhenti di sana, bibirnya mengalir ke telapak tangannya lalu ke persendian antara lengan atas dan bawahnya.

"Jang-!" Rui tercekat, entah karena tangisannya atau karena perasaan menggelitik yang sedang dirasakannya. "Jangan…."

"Kenapa kau katakan itu?" Sawamura menarik tangan yang masih menutupi wajah Rui. Sehingga akhirnya wajah mereka saling berhadapan. Mata bertemu mata, nafas bertemu nafas.

Rui tidak berani menatap Sawamura. Dia seolah tertelan oleh sorot mata tajam yang mungkin bisa menembus apapun, terutama dirinya.

"Aku merindukanmu…," isaknya pelan. Sembari alam bawah sadarnya terus meneriaki betapa rendah dirinya.

Apa yang baru saja kaukatakan?! Ibunya pasti akan membunuhnya kalau dia tahu apa yang telah putrinya tawarkan pada suaminya.

Dia akan terus menyesali diri bila saja Sawamura tidak mengecup dahinya, kelopak matanya, juga -sebagai ganti tangannya- menyapu air mata di sudut matanya.

Sulit berkoordinasi dengan akal sehatnya begitu dia punya tawaran lain lagi, yang kelihatannya lebih berprospek, entah cerah maupun suram. Lagipula pikiran ini sudah muncul pada saat dia menginjakan kaki di Narita. Rencana awal dalam agenda paling perlu prioritas kan?

Pembenaran paling tolol yang pernah dibuatnya.

Dengan begini dia bisa mengingat kembali, meraup dengan serakah keharumanraspberry dari rambut panjangnya yang sehalus sutra, juga beberapa aroma lain yang tidak akan sama di tiap tempat.

"Tidak baik memutuskan sepihak." Pikirannya benar-benar kosong ketika dia membalas begitu. Cuma desakan batinnya yang terus mendominasi. Seluruh jaringan tubuhnya, bahkan hingga ke molekul-molekul tubuhnya berteriak untuk kebutuhan yang satu ini.

Cuma gara-gara insiden meragukan Mia itu.

Ya, meragukan.

Karena meragukan, tidak ada alasan mempercayainya.

Sawamura tidak mengerti lagi dirinya. Alasan yang terus-menerus muncul dalam benaknya, hanya merupakan pembenaran akan tindakannya dan langkah yang akan diambilnya kemudian. Kengerian lepas kendali tidak mampir di akal sehatnya semenjak tembok yang tinggi sudah terbentang.

Dia haus. Lapar.

Dan tidak ada santapan yang lebih baik selain Rui.

---HFSmile---

Akhirnya Sawamura ingat kembali Rui yang instingtif dan responsif terhadap dirinya. Seperti daun yang lepas dari rantingnya, jatuh perlahan-lahan seperti tarian ke dalam genggamannya.

Sawamura senang sekaligus menyesali kesenangannya yang sekarang terasa kontroversial. Dia telah bertindak seenaknya, mengacuhkan agenda kerjanya sendiri, sekarang jadwalnya kacau. Dia mencari-cari dalam ingatannya alasan apa yang membenarkan tingkah tergesa-gesanya. Alasan apa yang membuat akal sehatnya menjadi badut tertawaan.

Dia menghela nafas. Tidak, aku tidak sepenuhnya salah. Mia juga punya kehidupan sendiri. Dia sudah bertunangan dengan Takagi. Lagipula dia bilang akan tutup mulut…Semuanya berada di posisinya.

Lagipula Rui yang memulainya. Sawamura mengacak-acak rambutnya, dia ingin rencana B tetap tersedia bila rencana A berhenti di tengah jalan. Walaupun rencana keduanya tidak akan enak didengar oleh pihak yang bersangkutan.

---HFSmile---