Cast : Lee HyukJae, Lee Donghae, other member SuJu and member f(x)

Pairing : HaeHyuk

Genre : Drama/ Romance

Rate : T

Disclaimer : Super Junior milik SMent, HaeHyuk saling memiliki XD

Warning: Genderswitch, OC, gaje, abal, miss Typo(s), bahasa tak sesuai EYD

Point of View disini seluruhnya aku berikan pada Lee Hyukjae.

Don't Like Don't Read

.

.

.

-/-

"Pulang sekarang!"

Suara yang cemprengnya 1 tingkat di atasku masih bisa kudengar berkali-kali.

"Iya-iya kita pulang sekarang." Aku menatap Donghae protes, apa ia sudah lupa pada janjinya ingin menemaniku di malam festival ini, aku juga sudah mencoba bersabar dan bersikap manis pada anak manja ini. Tidak! Bukankah yang harusnya bersifat manja dengan Donghae adalah aku?

"Hueeee pulangggg!"

"Pulangg hyung pulannggg!"

Donghae masih diam, ia memandangku dan Taemin bergantian.

Bocah itu mengencangkan tangisannya, 2 tangannya yang terkepal terus mengucek mata. "Hueee hiks." Taemin berhenti menangis, ia mendongak memandangku dengan air muka memohon. "Noona cantik. Ayo kita pulang," rajuknya memeluk kakiku.

Bodoh! Apa yang kufikirkan tadi tentang anak ini. Kasihan sekali dia, kenapa aku merasa cemburu dengannya. Bukankah aku yang lebih pantas disebut kekanakkan?

Perlahan kulepas pelukan Taemin pada kakiku, dia menatapku dengan mata sembab dan muka kelewat polos ia tunjukkan. Aihh baru kusadari ia semanis ini.

Aku berjongkok di depan Taemin, menghapus air mata di kedua belah pipi mungilnya. "Iya, kita pulang sekarang. Taeminnie jangan menangis lagi ya." Kutoel pucuk hidungnya. Ehhh? Kenapa wajahnya tiba-tiba berubah merah?

"Mianhe ya Hyukkie! Taemin kau benar-benar menjadi anak nakal malam ini." Donghae ikut berjongkok disampingku, memberi tatapan menyesal lalu mengacak rambut Taemin, bocah itu tertawa senang lalu memeluk leherku.

Kuusap punggung kecilnya berulang kali, coba dari tadi ia bersikap manis seperti ini mungkin tak masalah jika aku punya anak sejenis dia.

"Taemin!" Alisku terangkat naik, mencoba melepas tangan Taemin yang meilingkar dileherku. Bisa kurasakan gesekan kepalanya yang menggeleng di leherku. "Aku mau digendong noona pulangnya."

"Taemin Hyung saja yang gendong ne?" tawar Donghae menarik tubuh Taemin yang kini menempel erat dibadanku, tetap menggandul di leherku saat aku berdiri. "ANDWAE!"

"Tak apa Hae, biar kugendong dia," ujarku tersenyum lembut membuat Donghae terpana, oh atau mungkin hanya perasaanku, tapi sungguh mulutnya terbuka kecil dalam waktu 15 detik. Kusangga pantat Taemin dengan lenganku agar ia tak terjatuh. "Hup. Ayo kita pulang!"

Taemin sesekali terkekeh saat kutepuk punggungnya pelan, bagian kepala ia tenggelamkan sepenuhnya dileherku. "Bau nona wangi," celetuknya.

Aku tertawa mendengar ucapannya,

"Benarkah, aku juga ingin mencobanya?"

"Yak Lee Donghae, jangan macam-macam." Kudorong kepala Donghae agar menjauh dari leherku, memberi 1 jari sebagai peringatan bahwa disini banyak orang. Namjaku ini memajukan bibirnya, wajahnya persis ikan peliharaan nenekku.

"Ayo Hae kita pulang!"

Donghae menatapku was-was saat sampai di depan motornya. "Tapi chagi apa kita tidak menunggu sebentar lagi, 5 menit lagi acaranya dimu."

"Hyung pulanggg," rengek Taemin, kuelus lagi punggung anak ini. "Tak apa Hae? Kita pulang saja, kasihan Taemin ngantuk."

Aku menengok kearah belakang, melihat sekumpulan manusia yang berdiri berderet-deret menunggu momentum pergantian tahun. "Lagipula masih ada tahun depan, dijalan kita juga bisa melihatnya," lanjutku memberikan senyum terbaik.

Donghae mengangguk setelah mengusap pipiku sekilas. Tak jadi masalah bukan, yang terpenting itu bukan pesta, perayaan, keramaian atau sebagainya. Tapi cukup kehadiran Donghae dan senyumannya untukku. Kencan pertama yang memang tak berkesan, ada 1 hal baru kusadari.

Hmm sepertinya aku mulai menyukai anak-anak, benar ya dalam setiap diri seorang wanita ada sifat keibuan juga. Nah kenapa aku jadi ketularan Ryeowook.

.

Ctar Duaarr Ctarr

Duarr Duarrr Duarrr

Duarrr

"Chagi lihatlah keatas."

instruksi Donghae menghentikan motor di pinggir jalan, setengah berteriak. Langit malam berhiaskan percikan api. Suara-suara yang mungkin bisa membuat nenekku kena serangan jantung mendadak saling bersahutan, seolah semua orang di Seoul ini melihat 1 langit yang sama. Jalan raya ikut macet, mungkin polantasnya juga tengah berkencan sekarang.

"Ckc indah ya," gumamku.

'Jika melihat di namsan pasti lebih indah' lanjutku dalam hati.

"Memang indah, tapi bagiku kau lebih indah!" Celetukkan Donghae membuatku menoleh dan tersenyum. "Gombal sekali!" cibirku.

"Yak! Aku akan jujur kalau memang perlu bicara jujur chagi."

"Lalu kenapa kau sering mengataku jelek di depan orang lain?" tuntutku lebih lanjut.

Donghae membalikkan tubuh, mendekatkan kepalanya pada telingaku. "Hanya tak mau ada orang lain yang menganggapmu cantik selain aku."

Kutempeleng kepalanya lembut. "Shhhtt."

Pelan-pelan kutarik wajah Taemin dari leherku, ternyata dia sudah tidur pantas saja tidak ribut dari tadi.

"Mianhe ya," ucap Donghae masih memandang langit, mengubah posisi duduknya menjadi miring di atas motor. Kesekian kali kata tersebut keluar dari bibirnya. "Gara-gara aku kencan kita gagal."

"Memang gara-gara kau," ujarku pura-pura cemberut di sela senyumanku. Aku mengerti pasti ia tak jauh kecewa dariku, tapi lucu sekali jika melihat wajah penuh bersalahnya.

"Mianhe. Setiap musim liburan Taemin memang selalu dititipkan pada umma. Anak itu paling dekat denganku, yah kau tahu sendiri aku yang paling tampan."

Aku mendengus. "Pede sekali tuan Lee."

"Aku hanya mengungkap fakta nyonya Lee."

"Nngggg." Tubuh Taemin menggeliat dipelukanku, mengakhiri dialog singkatku dengan Donghae.

"Sepertinya Taemin mulai kedinginan, kita pulang sekarang Hae."

"Ehhhh?"

"Waeyo chagi?"

Donghae memperhatikan wajahku yang berubah mimik. Bagaimana tak kaget, tiba-tiba bajuku basah.

Aku menunjuk Taemin. "Hae dia, dia."

Donghae mengerutkan dahi belum mengerti. "Anak ini ngompol!"

Kutengok baju dan celana basahku, aigo! Mantel Teukki eonni!

.

Cklek.

"Bagaimana sudah tidur?"

Aku terlonjak mendapati Donghae yang berdiri dibelakangku setelah pintu kamar kututup. "Kau mengagetkanku."

Donghae mundur satu langkah dengan tangan mengelus dagu, matanya menempel pada balutan kain yang kugunakan dari kepala sampai kaki. "Wah, kau cocok juga memakai itu

Kunaikkan cepat lengan kaos yang merosot turun pada bahuku. "Bajumu kebesaran tau!"

Setelah kejadian Taemin yang ngompol pada bajuku, aku memang memutuskan untuk meminjam baju Donghae, tak mungkin aku pulang dengan baju basah ditambah bau aneh itu, yah meskipun di rumah tak ada orang. Untuk bawahannya aku memakai rok Heechul eonni yang katanya pernah ketinggalan. Mana mungkin aku memakai celana Donghae, baju saja kebesaran begini kalau celana pasti sudah melorot. Sedangkan Taemin sendiri lebih rewel dari yang kubayangkan saat hendak menggantikan bajunya dia menangis membuatku harus menidurkannya lagi selama setengah jam. Aku benar-benar merasa seperti seorang ibu yang merawat aegya namjanya.

Masih memperhatikanku, Donghae mengangkat satu sudut bibirnya, berjalan maju ke arahku.

Kudorong dadanya. "Yak! Mau apa!"

Terlambat Donghae sudah menyurukkan kepalanya dileherku, menurunkan kembali lengan kaos besar ini dengan mudah hingga satu bahuku terekspos, bagian hidung ia gesekkan berulang kali dan memutar. Satu tangan Donghae menurunkan tanganku yang masih mendorong dadanya.

"Seperti yang Taemin bilang tadi, kau wangi." Tubuhku bergidik menerima terpaan nafas Donghae pada bagian leher.

"Mmhh." Dadaku berdegup. Aku makin merasa lemas ketika area basah menjemput sekitar leherku, sentuhan lembut dari lidah Donghae ini masih kuhafal. "Kau juga manis."

Donghae melepas pelukannya, aku sedikit heran ia tak melanjutkan hal tadi. Perlu kujelaskan, untuk kissmark itu bukan hal pertama.

"Umma dan appa baru pulang, dia menunggumu di depan, ayo!" Donghae menarik tanganku yang masih setengah berpikir.

Umma, appa Donghae?

Menungguku?

"Ehh? Apa?"

Tap

Belum sempat protes 2 sosok yang duduk disofa membuatku menunduk kikuk. Kubenahi rok dan bajuku yang kembali melorot. Aish.. Apa-apaan penampilanku ini, rambut terkuncir karena habis menidurkan Taemin dan baju yang kupakai ini? Ah aku merasa tak pantas, harusnya aku dandan dulu tadi.

Donghae melepas gandengannya dan berjalan mendahuluiku. Aku mengekor dibelakangnya masih dengan menunduk.

Kulihat sekilas umma Donghae berdiri menangkupkan kedua tangannya didepan dada dengan senyum lebar.

"Aku membungkuk hormat dihadapan keduanya."

"Annyeong! Nama saya Lee Hyukjae, umur 18 tahun jenis kelamin perempuan. Kakak saya bernama Leeteuk usianya..."

"Hahaha, formal sekali Hyukkie, sudahlah! Silahkan duduk!"

Tawa dari appa Donghae memaksaku mendongak. Eh, Hyukkie? Seperti sudah kenal lama saja.

"Iya chagi duduklah disamping Hae," timpal umma Donghae, menunjuk namja yang tadinya berdiri di sebelahku jadi duduk tenang disofa.

"Kami sangat ingin melihatmu. Aigo kau gadis yang cantik," puji umma Donghae, beliau terlihat begitu antusias.

Kunaikkan kembali baju melorot ini, aduh aku masih gugup. Kali ini Donghae tak akan mengataiku jelek kan?"

"Donghae dan kakaknya tempo hari sempat ribut karenamu, Donghae bilang kau cinta pertamanya dari SMP. Nama 'Hyukkie' terus ia sebutkan. Haha."

"Ish. Appa tak perlu menceritakan semuanya kan?"

Kulirik Donghae yang menggaruk belakang kepalanya. Apa dia malu?

Jadi benar Hangeng oppa dan Donghae bertengkar? Seberarti itukah aku, andai kau tahu kau juga cinta pertamaku Hae! Namja yang menyebalkan dan membuatku sering uring-uringan.

Aku berusaha menyembunyikan senyumku. Umma Donghae beralih duduk disampingku mengusap rambutku, melepas kuncir dan merapikannya. "Yeobo, pantas saja Donghae ngotot dengan Hyukkie. Dia calon mantu kedua kita yeobo!"

Heh?

Calon mantu?

What the?

.

-()()()()()-

.

Crek. Crek. Crek

"Aduhh. Huaa berdarah! Plester! Plester!"

Balik lagi kedapur kutengok jam ditanganku, hmm. Masih lama.

Kembali kuraih pisau dan meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda. Memasak. Hal yang paling tak kusukai karena aku memang tak bisa. Hari ini aku akan melakukannya setelah mencari resep enak tapi mudah di embah google. Demi permintaan Donghae yang ingin memakan bekal buatanku, sore tadi aku mencari bahan-bahannya di supermarket. Sebenarnya ini percobaan untuk yang kedua kali. Yang pertama terlalu asin dan rasanya aneh setiap kali aku mencicipinya. Nah kali ini lebih baik tak kucicipi dulu biar hasilnya mantap!

"Shhhhhhhhh." Bunyi mendesis dari arah lain membuatku berfikir. Ahhh minyaknya.

Kutepuk jidatku. Minyak wijen yang tadinya mengisi setengah panci ludes menimbulkan asap.

"Uhuk, uhuk.. Hyukkie kau sedang appa. Mau membakar rumah eoh?"

Kumatikan kompor baru berbalik menatap Teukki eonni dengan cengiran.

"Aku hanya belajar masak!" jawabku singkat kembali pada bahan yang tengah kucincang, satu bawang menghabiskan waktu 5 menit. Ah ternyata aku tak bisa menirukan adegan yang di tipi, aku baru bisa fokus pada 1 pekerjaan dulu.

"Belajar memasak? Aneh sekali? Makanan untuk Donghae ya?" tebak Teukki eonni yang sepenuhnya benar.

"Ifumi saus paprika? Semudah ini kau tak bisa?"

Set.

Kurebut kembali potongan resep yang diambil Teukki eonni, membacanya sekali lagi dan melakukan sesuai instruksi di dalamnya.

"Iya, sebentar lagi juga selesai kok!"

"Ckcc, dan apa ini. Kau menggosongkan panci umma!"

Kulirik eonniku sebal, seperti ia tak pernah melakukannya saja. Bahkan ia yang lebih sering melakukannya daripada aku.

"Aku akan membelikan yang baru besok! Sudahlah eonni keluar, aku jadi tak bisa konsentrasi nih!" usirku mendorong tubuh eonniku agar keluar di markas sementaraku.

"Yak! Apa-apaan kau mendorongku!"

"Mianhe tapi aku butuh suasana tenang!"

Aku nyengir setelah mengantarkan eonni ke ruang tengah dan mendudukkannya di sofa, setelah itu aku kembali lagi kedapur. Aigo waktuku semakin menipis.

Ah, aku harus memanaskan minyak lagi. Hm. Apinya tak perlu besar.

Tumis bawang putih hingga harum? Ah gampang!

Kuaduk-aduk bawang yang selesai kucincang tadi dalam panci berisi minyak goreng dan minyak wijen. Yak! Warna bawangnya sudah coklat kurasa cukup.

Kubalik-balikkan lagi resep ditanganku.

Ribet sekali resep ini. Harusnya aku memasukkan daging sukiyaki dulu, baru misoa. Tapi karena waktunya lumayan mepet kucampur saja semuanya. Heheh aku pintar kan?

Beri 1 sdt merica, 1 sdt gula pasir, garam 2 sdm, kecap asin 2 sdm. Kuaduk kembali supaya merata dengan gerakan memutar. Panggil aku sekarang Hyukkie queen.

Ctek. Kumatikan kompor dan kuangkat panci, berkali kuketuk dagu mengamati hasil karyaku lalu berganti melihat contoh gambar jadi di resep. Kok beda sih? Sepertinya punyaku terlalu pucat. Tambahkan kecap asin lagi tak masalah kan. Tak perlu menyalakan kompor, langsung kuaduk saja.

Set set.

Kuamati lagi hasil yang baru kurevisi. Masih beda.

Ah aku tahu!

Pantas saja beda aku kan membuatnya penuh rasa cinta. Hihi. Tapi entah kenapa aku masih berfikir sepuluh ribu kali untuk mencoba ini. Takut juga kalau rasanya tak enak!

Aku menggeleng. Aku kan membuatnya sepenuh hati, pasti enak. Lebih baik langsung kumasukkan tempat bekal.

.

-()()()()()-

.

"Silahkan dicoba." sambutku riang.

Ryeowook mendelik lekat pada kotak bekal yang baru kubuka ia memandangku aneh. "Kau yang memasaknya?"

Kuanggukan kepala semangat. "Ini masakan pertamaku, kau kuberi kehormatan untuk mencicipinya lebih dulu sebelum kuberikan pada Donghae!"

Ryeowook meringis lalu menggeleng. "Bukannya tak mau Hyukkie, tapi aku masih ingin ikut pelajaran hari ini."

"Maksudmu apa sih Wookie? Kau tinggal mencobanya sedikit lalu bilang enak atau tidak enak?" ulangku kesal yang mendapat respon setengah-setengah begitu.

"Kenapa kau tak mencobanya sendiri supaya lebih yakin. Kan kalau..kalau lidah orang pasti berbeda beda dalam mengecap rasa," elak Ryeowook lagi. Aku tahu apa yang ia maksud, ia pasti takut sakit perut karena masakanku. Huh padahal aku sudah penuh perjuangan membuat ini. Apa setiap yeoja itu dituntut untuk bisa masak?

"Yasudah kalau kau tak mau."

"Yak! Hyukkie jangan marah ne."

Aku memang tak punya hobi memasak, aku lebih fanatik pada menggosip daripada memasak apa itu salah?

"Kalau kau tak mau mencicipi, kau beri saja pendapat tentang masakanku ini. Tapi yang jujur ya!" ucapku kembali semangat, aku berharap mendapat pujian dari temanku yang jago masak ini.

Kuamati teliti ekspresi Ryeowook, ia mengerucutkan bibir. Matanya masih fokus pada bekal buatanku.

"Hmm. Bawangnya gosong!"

Eh, bukankah warna coklat tua ini terlihat manis. Kenapa dibilang gosong ya?

"Mie nya hancur, bentuknya seperti jelly."

"Terus kenapa jamurnya tidak dipotong lagi? Harusnya kau memotongnya menjadi 2 bagian. Untuk daging sepertinya masih mentah ya?"

Jleb

Benarkah tak ada yang bisa dipuji dari karyaku ini? Aku memang menyuruhnya untuk jujur, tapi yang ini sih jujur sekali.

"Eh, Hyukkie! Mianhe. Tapi ada 1 yang bagus kok disini."

Aku mendongak dalam keterpurukanku. "Apa?"

"Tempat bekalmu cantik! Gambar jerapah!"

Eh?

.

-()()()()()-

.

Tap Tap Tap.

"Donghae sudah lama menunggu?"

"Tidak kok! Sini duduk."

Donghae berbalik dan tersenyum padaku, ia menepuk tempat disampingnya. Di bawah pohon besar taman belakang sekolah, di atas rumput bergelar tatami ukuran kecil yang cukup menampung 2 pantat.

Donghae menggeser dudukku agar merapat pada tubuhnya. meski siang tapi disini sangat teduh. Angin bulan Januari memulai musim semi yang akan datang. Terpaan angin yang menjadi pelebur batas antara kami. Mengiringi perjalanan indah yang akan kubuat bersamanya sekarang sampai seterusnya. Aku ingin seperti ini, ia yang merengkuhku dan membisikkan berulangkali kata cinta. Aku ingin seperti ini, ia yang menyentuhku lembut memberi kekuatan dan selalu disisiku.

Angin yang meleburkan batas antara kita, membuatku merasakan rasa hangat ini, lagi dan lagi. Dadaku bergemuruh, nafasku yang makin sesak disetiap detik yang bertambah. Tapi aku suka, aku suka ketika bibirnya menyambut bibirku, memagutnya perlahan. Aku suka, aku suka pada tangannya yang membelai setiap jengkal dalam tubuhku. Aku suka, aku suka setiap pipiku memerah mendengar kata rayuannya. Apapun yang ia berikan padaku, aku merasa bahagia. Namja pemaksa, egois dan kekanakkan. Aku mencintainya. Aku, yeoja aneh, ceroboh dan pelupa.

Donghae menjauhkan wajahnya dari wajahku, mengusap pipiku berulang kali sebelum memelukku erat. "Saranghae!"

"Nado!"

"Jangan membuatku menunggu sendirian lagi di sini!"

"Tak akan!"

Donghae mendorong pinggangku, membingkai wajahku dengan kedua tangannya. Ia mencium ujung hidungku. "Seandainya aku mengatakan perasaanku jauh-jauh dulu semua tak akan serumit ini, kau tak akan menangis karenaku."

Aku tersenyum, rupanya pemikiran itu bukan cuma aku yang merasakannya. Tapi bukankah semua ini sudah ada yang mengatur?

Aku beralih memandang kedepan, menyandarkn kepalaku dipundaknya. "Kau memang sering membuatku menangis, tapi walau bagaimanapun aku tak bisa melupakanmu," ucapku jujur.

Donghae memeluk pinggangku. "Aku juga, kau tahu betapa kecewanya aku saat SMP dulu kau memaksaku menerima Jessica."

Aku terkikik, dulu aku pintar sekali jadi pembohong. "Iya, setelah itu aku terus menunggumu untuk putus dengannya, tapi kau malah memilih Luna. Menyebalkan!"

Kudorong bahu Donghae pelan, ia tertawa. "Luna dulu bilang ia tahu semu tentangku itu darimu. Kufikir kau memang ingin aku dengan gadis itu."

Kucubit pinggangnya kesal. "Pabboya!"

"Tahu tidak! Di hari valentine kau datang menemuiku disini. Aku senang sekali. Kufikir kau datang karena sudah ingat tentang ucapan kakak kelas saat penerimaan murid baru. Tapi kau malah mendahuluiku mengatakan 'suka'. Jujur aku marah waktu itu, kau bisa membayangkan betapa lamanya aku menunggumu disini setiap istirahat pertama."

Aku mendengus. "Jadi itu alasanmu balas dendam dan menerima Luna."

"Chagi, tumben kau pintar. Padahal aku melakukannya cuma seminggu, tapi sejak saat itu kenapa jadi kau yang menghindariku. Dan aku lebih kaget karena kau mengenal kakakku yang pendiam. Hhh, setiap aku melihatmu dengannya aku berusaha menyimpan marahku. Sampai aku benar-benar merasa hancur kau menjadi yeojachingu Hangeng hyung!"

Kupeluk tubuh Donghae erat. "Mianhe," sesalku.

Donghae melepas tanganku dari pinggangnya, ia menatapku heran. "Bekal untukku mana?"

"Ehhmm, aku lupa membawanya," dustaku.

Oke, aku tak akan meracuninya dengan masakan gagalku.

"Bohong! Tadi pagi kau bilang sudah memasaknya!"

"Ngg itu aku."

"Kenapa berbohong, bukankah kita janji tak akan ada kebohongan lagi."

Aduh. Percayalah Hae aku hanya ingin kau tetap hidup. Sungguh berlebihan.

"Tapi masakanku tidak enak, tak usah dimakan ya," mohonku sambil menunduk.

"Harusnya kau tak bilang begitu. Enak atau pun tidak aku pasti tetap memakannya."

Aku mendongak. "Itu yang kutakutkan."

Donghae menatapku kecewa lalu membuang mukanya. "Biarkan aku memperbaiki masakanku dulu ne Hae. Demi kau."

Namjaku ini menoleh lalu menghela nafas panjang. "Aku cuma tak ingin kau bohong lagi. Terimakasih sudah mau bersusah payah untukku." Ia mengusap rambutku pelan. Tampan. Hari ini Donghae terlihat lebih tampan dari hari sebelumnya. "Hari ini tak usah kembali ke kelas. Hukuman karena kau berbohong lagi."

"Yak! Donghae!"

Aku berusaha meronta dari pelukannya. Namja ini benar-benar mesum.

.

-()()()()()-

.

Ungkapan di mana ada aku disitu ada Wookie sekarang berubah menjadi di mana ada aku disitu ada Donghae. Hal yang masih terdengar lucu tapi itu kenyataannya. Sampai hari ini pun begitu, hari kelulusan sekolah kita. Hari berakhirnya neraka pelajar yang berlangsung selama 3 tahun.

"Hyukkie! Aku lulusss!"

Kim Ryeowook sahabatku yang masih tetap kekanakkan, tapi kerapkali menjadi seorang gadis yang lebih dewasa dariku dengan mengakuiku sebagai anak angkatnya. Ryeowook memelukku erat, memutar-mutar tubuhku sebagai ungkapan kesenangannya. Aku meringis saat tangannya menepuk-nepuk punggungku seperti memukul gendang, tubuhnya yang kecil memang tak bisa diremehkan.

"Yak! Hyukkie sesak!" keluh Ryeowook saat kubalas pelukannya, tapi perasaan tubuhku juga ikut sesak.

"Yak! Donghae apa-apaan kau!" teriakku saat sadar 2 lengan kekar ikut acara peluk-pelukan di belakang punggungku.

"Mengungkapkan kesenangan. Hehe."

"Yak! Lephasss!" Kudorong dadanya cukup keras menimbulkan ringisan diwajahnya.

"Donghae! Kau tak boleh merebut Hyukkie dariku ya!" Wookie maju menunjuk wajah Donghae dan berteriak lantang.

"Enak saja dia milikku!" jawab Donghae tak mau kalah.

"Lee Donghae, jangan bilang begitu. Seminggu lagi baru Hyukkie jadi milikmu. Lagipula kalian masih dipingit sekarang. Tak boleh bertemu. Ayo Hyukkie!" Ryeowook menarik tanganku, meninggalkan Donghae dengan wajah cemberut.

Kim Ryeowook menggamit tanganku dan memulai ocehannya yang membuatku jengah.

"Hyukkie, apa nanti kau dan Donghae akan punya rumah sendiri seperti Hangeng oppa?"

"Kita masih harus kuliah nanti Wookie!"

"Aigo Hyukkie. Aku juga ingin cepat menyusulmu. Menikah dengan Yesung oppa!"

.

-()()()()()-

.

"Dongjae! Kalau appa mu tak mau bangun pukul saja dengan raket nyamuk!"

Anak kecil itu memang lucu dan polos, bukan hanya itu buah hatiku ini juga penurut.

Kaki kecilnya berlari meninggalkan kamar dan kembali lagi dengan satu raket dengan aliran listrik yang sudah dihidupkan.

"Appa banguunnnn."

Anak yang pintar.

"Yak Dongjae jangan mendekat. Chagiya hentikan dia."

Aku tergelak dengan tawa melihat tingkah ayah dan anak ini. Kenapa? Aku seperti melihat deja vu?

"Ya! Donghae!"

"Hukuman karena berani tertawa! Kau harus memandikanku!"

BRAK!

Donghae menarik tanganku hingga baju yang tadi ingin kumasukkan dalam lemari terjatuh di lantai.

Ia menutup keras pintu kamar mandi.

Duk. Duk. Duk.

"Appa? Umma? Dongjae ikut masuk ke dalam!" rengek aegya namjaku dari luar kamar mandi.

"Yak! Anak kecil sana pergi sekolah," ujar Donghae yang kuberi jitakan. Ia malah menyeringai dan menggendong tubuhku ke arah bath up.

.

-()()()()()-

.

"Dongjae, sudah selesai mengisi biodata?"

"Sudah ibu guru."

Dari luar kelas kuberi dadahan pada aegyaku, ish ia benar-benar mirip appanya. Anak 2 SD yang tampan.

Guru yang menerima selembar kertas dari Dongjae ikut menatapku lalu geleng-geleng. Oh, tak pernah melihat ibu muda yang cantik ya?

.

Nama : Lee Dongjae.

Umur : 8

Nama appa : Donghae appa

Nama umma : Hyukkie umma

Hobi : Melihat appa dan umma berciuman, mendengar appa merayu umma.

Cita-cita : Menjadi cover boy SD Pelita.

.

.

.

.

.

.

.

END

.

Annyeonghaseyo chingudeul.

Bukankah aku datengnya cepet, untuk permintaan maaf juga sebenarnya kemarin belum END. Semoga masih ada yang mau baca chapter terakhir ini.

For leenahanwoo, triple3r, LeeKim, cherrizka980826, anchofishy, kyukyu, HyukBunnyMing, myfishychovy, RieHaeHyuk, amandhharu0522, Super Girl, Fitri jewel hyukkie, yantiheenim, Cho Miku, ck mendokusei, Jong Aeolia, Anonymouss, Bunnyminimi cloudsomnia, ressijewelll

Terimakasih sudah review chapter sebelumnya ^^

Mianhe kalo aku tidak bisa membalas riview satu persatu kali ini, tapi aku senang membaca komentar-komentar kalian. Memberi semangat padaku dari chapter awal sampai akhir. Sekali lagi terimakasih. Maaf jika ending cerita ini jauh dari kata memuaskan.

Terimakasih yang udah ngefav, nge alert cerita ini. Jongmal ghamsahamnida. Aku juga mau minta maaf kalocerita ini ada unsur penyinggungan(?) ataupun jika terlihat terlalu merendahkan karakter pemain. Mianhe, tapi menurut aku mereka cocok dengan peran ini kan?*dibogem* *nyengir bareng wook*

Terimakasih untuk tanggapan positif kalian. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu dan lain acara(?)

Dan untuk silent readers *ada ngga sih?* aku juga berterimakasih.

Pay pay.

Akhir kata

RIVIEW PLEASE!