Disclaimer : D. Gray Man by Hoshino Katsura-sensei

Rating : M

Pairing : Yullen a.k.a Yuu Kanda & Allen Walker

Warning : YAOI, Mpreg, OOC , Typo and Spoiler Manga

Terimakasih untuk yang sudah riview chapter lalu... yang belum meninggalkan jejak dimohon RnR ya... hehehe

Tak pernah menyangka di Fandom DGM yang sepi ini banyak yang menyukai cerita ini, terimakasih buanyaak!

Soo mohon kritik, saran serta dukungan reviewnya ya... untuk cerita ini

#

#

#

Karpet...

Itulah yang pertama Yuu Kanda lihat saat membuka mata. Adalah hal wajar karena ia tidur diatas lantai, demi memberikan kasur empuknya pada seorang Moyashi. Hal yang cukup disesali karena tidur dilantai tanpa bantal membuat leher pegal.

"Ugh..." gumamnya sambil meregangkan badan, tak menyangka jika hari sudah cukup siang, terlihat dari celah tirai jendela menyusupkan sinar mentari yang cukup terik. Bangkit sambil melipat selimut alasnya tidur, pemuda asia itu memandang ke arah ranjang, dimana masih didapati sesosok berambut putih terlelap dengan nyenyaknya dalam posisi miring.

Wajahnya terlihat sangat damai dengan mulut yang sedikit terbuka, jika diperhatikan dengan seksama ada kilauan disudutnya. Rupanya itu adalah air liur, menetes membasahi sarung bantalnya yang berwarna biru.

"Cih...," geram Kanda, dalam hati ia memastikan nanti akan membuang bantal itu dan meminta yang baru. Membayangkan ia tidur diatas bantal penuh iler si Moyashi membuatnya jijik. Hal yang aneh karena semalam dia tak jijik memasukkan 'kecambah' yang tumbuh ditengah selangkangan Allen kedalam mulutnya dan merasa terangsang saat exorcist eropa itu mendesah keras dengan wajah penuh keringat, air mata juga liur yang mengalir dari sela bibir yang tebuka.

Mengingat apa yang terjadi semalam tiba-tiba membuat celananya sedikit tak nyaman,

"Sial..." umpatnya sambil buru-buru masuk ke kamar mandi untuk mandi air dingin. Kini Kanda tak bisa menghujat atau memandang remeh orang yang suka berhubungan sex, karena pada saat ia merasakannya sendiri hal itu sungguh nikmat. Terutama saat melihat Allen menggeliat tak berdaya seperti cacing kepanasan dibawahnya dengan nafas tersengal dan air mata yang membuat manik kelabu itu terlihat lebih indah.

Mungkin itu juga pengaruh dari hormon di tubuh mudanya meledak-ledak pada masa puber, tapi sebelumnya ia tak pernah merasakan hal itu pada orang lain. Banyak sekali orang tertarik akan rupa dan penampilannya tapi mereka langsung kabur ketakutan begitu tahu perangainya, berbeda dengan sang pemuda eropa yang tak mempedulikan hal itu, serta mampu bertahan dan bisa menghadapi perilaku buruknya.

.

Setelah mandi pikiran sang samurai kembali jernih dan saat melihat matahari sudah tinggi dia memutuskan untuk membangunkan Allen yang masing tertidur dengan sangat nyenyak.

"Oi Moyashi, bangun... Ini sudah siang,"

"Mmmmh...lima menit lagii...hhh" gumam si rambut putih tanpa membuka mata, Kanda pun mendekat dan mengguncangkan bahunya.

"Ayo cepat bangun!"

"Ukh..." akhirnya Allen mulai mengerjapkan matanya dan memandang sekeliling dengan bingung, sepertinya nyawanya belum kumpul.

"Sana kembali ke kamarmu, si anjing pengawas itu pasti sudah ribut mencarimu," ujar Kanda sambil berkacak pinggang.

"Uhmm..." Allen hannya mengangguk, menyibakan selimut dan perlahan mulai bangkit dari ranjang, tapi...

GABRUK!

"Aduh!" si rambut putih menjerit dan kembali ambruk. Alisnya mengerenyit saat merasakan seluruh tubuhnya pegal, terutama bagian pinggang dan bokong yang terasa panas, kedua kaki pun benar-benar lemas tak bertenaga hingga susah digerakkan.

"Ggggrrrr..." Allen tak bergerak, tetap meringkuk diatas ranjang sambil mengeram keras, memberinya deathglare dengan gigi gemeretuk menahan sakit.

'Seperti kucing yang diinjak ekornya,' batin Kanda heran melihat tingkah pemuda berambut putih itu, "Kau kenapa Moyashi?"

"Ini semua gara-gara kamu!" sebuah teriakan terdengar.

Kanda cuma menaikkan sebelah alisnya, sementara si rambut putih mengomel "Kau jahat! Aku sudah memintamu untuk berhenti! Tapi kau tak mau dengar! Kalau sudah begini aku harus bagaimana? Seluruh badanku sakit semua!"

"Che... Itu salahmu sendiri." jawab sang samurai cuek sambil memalingkan muka. Tentunya sukses membuat Allen naik pitam "Bagaimana mungkin aku yang salah hah!? Dasar BaKanda mesum! Aku akan melaporkanmu karena sudah melakukan pelecehan padaku!"

"Hah pelecehan? kau sendiri yang ingin tidur disini! Dan apa kau tak ingat berapa kali kau 'keluar' semalam? Oh memang harus dilaporkan betapa kau juga menikmati kegiatan kita," kata Kanda sarkastik dan sukses membuat wajah Allen merah padam,

"I...itu kan karena..."

TOK TOK TOK

Ketukan di pintu menghentikan pertengkaran mereka, "Kanda... Allen... apa kalian didalam?" suara Lenalee memanggil dari luar.

Mata berwarna kelabu terbelalak lebar, spontan ia langsung merunduk diatas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut berusaha untuk sembunyi karena malu 'Hyaah...ada Lenalee! Kalau dia tau kondisiku, ini sangat memalukaan!' batinnya.

Kandapun bergegas membuka pintu kamar, "Che...mau apa kau kemari!?" tanyanya ketus,

"Hehehe, aku kemari mau menjemput Allen. Apa dia ada didalam?" ujar sang gadis riang sambil berusaha melongok kedalam, tapi Kanda dengan gesit langsung menghalangi. Dia memilih untuk keluar kamar dan menutup pintu rapat-rapat, "Cih, kenapa kau mencari si Moyashi dikamarku?"

"Karena semalam aku mengantarnya kemari. Jadi bagaimana? Apa aku boleh menjemputnya sekarang? Atau kau masih mau menyimpannya?" jawab sang gadis itu enteng, sambil menggerak-gerakan alisnya dan menyeringai usil.

"Kalau kau laki-laki dan bukan adik Komui, pasti sudah kucincang." kata samurai sambil menghela nafas, melipat kedua tangannya didepan dada dan melotot tajam "Moyashi tak ada disini."

"Hihihi..." sang gadis hanya terkikik geli "Iya, aku tahu... Karena itulah aku berani melakukannya," tak terpengaruh oleh deathglare sang rekan, kebersamaan mereka sejak kecil sudah membuatnya kebal dengan sikap dingin sang pemuda asia.

"Baiklah kalau Allen tak ada disini... Howard Link sedang mencarinya, dan aku akan menunggunya sambil membantu suster kepala di ruang perawatan." kata Lenalee cuek, bergegas pergi sambil tersenyum lebar dan mengerlingkan sebelah matanya.

"Che!" kanda mendengus kesal lalu masuk kedalam kamar dan mendapati Allen masih meringkuk didalam selimut. "Sampai kapan kau mau sembunyi disitu Moyashi? Si cerewet itu sudah pergi,"

Pemuda berambut putih itu tak menjawab, hannya membuka sedikit selimut yang menutupi sebagian kepala sambil kembali memberikan deathglare.

"Sanah kau juga cepatlah pergi!" imbuh Kanda ketus, tapi Allen tak bergeming dan malah menjulurkan kedua tangannya.

Sang samurai lagi-lagi menaikkan sebelah alisnya bingung, "Aku tak bisa berjalan...kau harus membopongku," ujar sang exorcist eropa sambil cemberut, berusaha tampak mengancam. Namun dengan rambut yang acak-acakan, muka kusut dan posenya itu, malah membuatnya terlihat seperti seorang anak bingung yang hendak ditinggal orangtuanya.

Merasa sedikit iba, akhirnya Kanda mendekat dan membopong exorcist yang lebih muda tiga tahun darinya itu bridal style, "Kau ini benar-benar merepotkan." gumamnya.

"Hmpf...kau sendiri yang membuatku tak bisa berjalan! Bertanggung jawablah sedikit BaKanda!" omel Allen kesal sambil mengalungkan kedua tangannya dileher sang samurai.

"Cih, cerewet...apa kau mau kulempar dari jendela hah!?" gumam Kanda sambil membawanya berjalan keluar kamar menuju ruang perawatan dimana Lenalee menunggu.

"Jangan! Dasar BaKanda jahat! Bagaimana kalau bayinya kenapa-napa?" jawab Allen panik sambil mempererat pegangannya kemudian menguselkan kepalanya di pundak sang patner.

"Makanya kau jangan berisik Moyashi! Telingaku sakit mendengar suara cemprengmu."

"Huh, suaraku tidak cempreng dan namaku Allen! Dasar BaKanda jahat!" protes terakhir dari si rambut putih sambil cemberut dan sisa perjalanan mereka lewati dalam diam, larut dalam pikirannya masing-masing.

.

"Lho Allen... kau kenapa?" tannya Lenalee heran melihat sang exorcist eropa dibopong oleh Kanda yang berwajah super asem, disampingnya ada suster kepala yang juga tampak terkejut. Sebaliknya, Timcampy langsung meloncat-loncat senang melihat sang tuan. Golem itu merasa sangat cemas saat dirinya diamankan oleh sang gadis asia dan terus bergerak gelisah, sekangang ia langsung terbang melesat dan bertengger di pundak sang tuan, mengusel lembut di pipinya.

"Ukh..." seketika mata Allen melebar, baru sadar kalau dibawa ke ruang perawatan saat merasakan sentuhan Timcampy. Spontan ia menjawab dengan gugup "A... aku tak apa-apa kok Lenalee, ka...kakiku sakit jadi Kanda membawaku kemari hehehe,"

"Bukankah sudah kubilang untuk lebih berhati-hati Allen! Cepat baringkan dia disini, aku akan memeriksanya." Ujar sang suster tegas, sementara sang gadis hanya menatap mereka berdua dengan tajam, seulas senyum yang mirip seringai menghias wajah cantiknya. Melihat itu Kanda cuma mendecih lalu melewatinya, guna membawa Allen kedalam dan meletakkannya di salah satu ranjang perawatan.

"Walker! Kenapa kau tak kembali kekamar semalam?! Tindakanmu itu sangat tidak dibenarkan!" tiba-tiba Howard Link muncul di ambang pintu dan mengomel kesal.

"Eh! Link!?" kata Allen kaget, wajahnya terlihat memucat, bingung hendak mencari alasan.

Tapi Lenalee langsung tanggap dan maju menyelamatkan, "Maaf! Aku yang salah... kemarin kami keasyikan mengobrol bersama Miranda hingga larut malam, bahkan sampai tertidur di ruang perlengkapan. Lalu saat kami bangun ternyata sudah siang..."

"Lalu kenapa Walker ada disini? Semalam aku mencari kalian di ruang perlengkapan tapi tak ada orang!" kata Link penuh curiga,

Namun sebagai adik Komui yang merupakan seorang penemu jenius Lenalee tak kurang akal dan kembali beralasan, "Oh ya!? Sepertinya kau memeriksa ruang perlengkapan sebelum kami datang kesana. Kalau tak percaya kau bisa tannya pada Miranda atau Lavi, mereka saksi matanya. Kaki Allen sampai terkilir tau, karena buru-buru ingin kembali kekamar saat sadar kami tertidur sampai siang!"

Sang pengawas terlihat masih curiga, "Lalu kenapa Yuu Kanda yang membopongnya kemari?" lontaran pertanyaan yang membuat pemuda berambut panjang mendecih serta melotot kesal,

"Itu karena saat aku sedang kesulitan memapah Allen, kebetulan bertemu dengan Kanda di lorong! Nah apa kau masih punya pertanyaan!?" ujar sang gadis asia sambil berkacak pinggang penuh keyakinan, Link pun hannya bisa menggelengkan kepalanya sambil menampakkan wajah tidak setuju.

Tapi sebelum dia sempat bicara lagi, Lenalee dengan sigap langsung menggandeng lengan Link dan menuntunnya keluar "Oh ya! Kakaku mencarimu lho! Ayo kita segera kekantornya!"

"Eh!? Lho! Tunggu dulu! Urusanku dengan Walker belum selesai!" protes si rambut pirang kaget, dia berusaha melepaskan tangan sang gadis yang mencengkeram dengan sangat erat namun sulit.

"Allen tidak akan kemana-mana kok, ayo cepat kita kekantor kakak! Ini sangat penting!" dengan itu Lenalee menggunakan kekuatan dari dark boots dan menyeret sang pengawas yang protes keluar ruangan. Melihat keributan sudah lewat, Kanda berniat untuk kembali kekamar untuk membereskannya kemudian pergi berlatih dihutan, namun suster kepala memanggilnya,

"Mau kemana kau?! Tunggu disitu ada yang harus kubicarakan denganmu!" katanya tegas sambil menghilang dibalik sebuah tirai yang ditarik guna menutupi ranjang tempat Allen berbaring.

"Coba buka bajumu nak," kata sang suster lembut pada pemuda berambut putih yang langsung menurutinya, mulai membuka kancing kemeja panjangnya satu persatu. Tampaklah pemandangan yang membuat mata sang suster terbelalak lebar dengan nafas tercekat, kiss mark berwarna merah, ungu dan bekas gigitan yang sangat kentara menghiasi hampir seluruh permukaan tubuh pucat itu.

Awalnya suster kepala merasa curiga, menemukan sebuah tanda merah di leher Allen yang terlihat disela kerah bajunya. Beliau sudah lama sekali bekerja di bidang kesehatan maka ia bisa langsung mengenali apa sebenarnya tanda itu. Sejak awal dia sudah menyadari ada yang tidak beres dalam hubungan kedua exorcist muda itu. Allen dan Kanda selalu menjaga jarak dalam berhubungan dengan orang lain, seolang mengenakan topeng yang menutupi emosi mereka, tapi saat berinteraksi satu sama lain topeng itu runtuh, meski diungkapkan dalam perselisihan emosi mereka terlihat jelas. Fakta bahwa Kanda adalah ayah biologis dari bayi yang dikandung Allen memperkuat hal itu, meski disebabkan sebuah kecelakaan pada intinya kedua exorcist muda itu memiliki kedekatan yang lebih mendalam antara satu sama lain.

"Siapa yang melakukan ini padamu nak?" tanyanya pelan agar hannya didengar mereka berdua. Sementara sang pemuda eropa malah menatapnya bingung, "Ini, siapa yang memberimu begitu banyak kiss mark?" imbuhnya sambil menunjuk pada beberapa tanda merah di dada sebelah kanan.

BLUSH!

Seketika wajah Allen merah padam, rupanya dia baru sadar jika tubuhnya penuh tanda, bekas percintaan panas mereka semalam. Spontan ia menutup bajunya dengan kedua tangan dan menunduk sambil menggigit bibir.

"Jangan takut... Aku tak marah kok, apa Kanda yang melakukannya?" tannya suster itu lagi penuh perhatian. Sang pemuda berambut putih tak menjawab tapi rona merah di wajahnya makin menjalar hingga leher dan telinga, dia menunduk semakin dalam.

"Apa dia memaksamu?"

Mendengar itu membuat Allen langsung menggelengkan kepala keras-keras, membuat Timcampy yang sedang bertengger dipuncak kepalanya sampai jatuh. Dengan muka semerah kepiting rebus dia menjelaskan dengan terbata "A...aku me...melakukannya dengan su...sukarela kok," wajahnya kini sudah seperti mau menangis, membuat wanita yang biasanya galak itu menjadi iba.

"Sssh... sudah, jangan menangis... Sekarang kau istirahahat ya! Tidurlah disini," ujarnya sambil menyuruh Allen berbaring dan menyelimuti tubuhnya hingga leher. Menyibakan tirai keras-keras ia berjalan cepat menghampiri Kanda yang sedang bersandar di ambang pintu sambil melipat tangannya diatas dada dengan tampang bosan.

"Yuu Kanda! Kau ikut aku!" bentak sang suster tegas sambil menarik tangan sang samurai ke kantornya, "Che...ada apa sih? Jangan tarik-tarik!" protes Kanda tak dihiraukan, begitu mereka sampai pintu kantor langsung ditutup dan,

GYUUT!

"ADUH!"

Sang suster menjewer telinga Kanda keras, "Kau ini! Sudah berapa kali kubilang? Kendalikan dirimu! Bagaimana kalau Allen dan bayinya sampai kenapa-napa?"

"Aissh... Kau bicara apa sih! Lepaskan aku!"

Setelah memastikan bahwa telinga Kanda sudah besar sebelah, sang suster melepaskannya lalu berkacak pinggang memelototinya tajam, "Kau meniduri Allen sampai dia tak bisa berjalan kan!?"

Seketika mata Kanda melebar, dia langsung memalingkan muda sambil mendesis "Cih... Itu bukan urusanmu nenek sihir,"

PLAK!

"Dasar kau bocah kurang ajar!" bentaknya sambil memukul kepala Kanda, "Aku paham, kalau diumur kalian ini mengendalikan nafsu adalah hal yang sulit! Tapi kau lebih tua darinya! Seharusnya kau melindungi dan menjaganya, bukan seperti ini! Allen itu sedang mengandung anakmu berhati-hatilah sedikit! Bersikaplah dewasa sedikit, kau sebentar lagi jadi seorang ayah!"

Alis Kanda mengerenyit tajam, kedua tangan kembali ia lipat didepan dada, wajahnya terlihat sangat kesal. Meski begitu ia hanya terdiam tak melawan, ataupun membantah omelan sang suster yang sudah mengenalnya sejak berumur 9 tahun. Karena dalam hati dia cukup menghormati wanita berumur itu, lagipula ia tak akan tega memukul wanita atau anak-anak.

"Untung hannya aku yang melihat kiss mark itu, jika tuan Howard apalagi pihak Central tau, pasti itu akan berpengaruh berpengaruh buruk untuk catatan kalian berdua..."

"Che...cerewet,"

Sang suster menghela nafas panjang, lelah rasanya menghadapi kekeras kepalaan sang pemuda asia, dalam hati ia berdoa semoga anak yang lahir nanti tak mewarisi sifat ayahnya yang minta dijitak.

Dengan sebelah tangan dia memijit pangkal hidung, berusaha menjernihkan pikiran yang membuatnya pusing ini dan satunya lagi bergerak mengusir Kanda keluar "Haah... Kau ini... jangan diulangi lagi ya!"

Sang samurai tak menanggapinya dan langsung berbalik pergi, namun tepat sebelum ia keluar sang suster menambahkan "Kalau sampai begitu lagi! Kupastikan kau yang tak bisa berjalan untuk beberapa hari kedepan!" aura monster bisa dirasakan dari tubuh wanita berumur tersebut.

GLUPH!

Mendengarnya sang samurai menelan ludah, ia paham bahwa sang suster serius dengan ancamannya namun harga dirinya pantang untuk direndahkan "Cih! Siapa juga yang mau dengan Moyashi idiot itu." katanya kesal sebelum berjalan cepat keluar ruangan, meninggalkan sang suster yang kembali menghela nafas panjang dan menggeleng pelan.

.

.

Keesokan harinya, berkat istirahat satu hari penuh berbaring di ranjang, vitamin, serta pijitan yang diberikan khusus oleh sang suster, tubuh Allen mulai membaik. Meski pelan dia sudah bisa berjalan sendiri, oleh karenanya Allen berniat hadir dalam pesta penyambutan Timothy yang diadakan di aula makan, diiringi oleh Howard Link yang terus mengomel dan Timcampy yang menempel erat dipuncak kepalanya.

Tadinya sang exorcist eropa dilarang ikut ke pesta dan disuruh untuk menyelesaikan pengisian dokumen dikamar. Beruntung wajah memelas dan tatapan merana berkaca-kaca, bisa meluluhkan hati sang pemilik dua tahi lalat didahi itu

"Moyashi-chan! Apakah kondisimu sudah membaik? Apa kau tak apa-apa?" tannya Lavi melompat girang sambil tersenyum lebar begitu melihat kedatangan sang exorcist eropa di ruang pesta,

"Umm...aku baik-baik saja kok, tak ada yang perlu dikhawatirkan,"

"Fyuuh... syukurlah kalau begitu," ujar si rambut merah sambil merangkul pundak Allen, Howard Link cuma menaikkan sebelah alisnya melihat kedekatan kedua exorcist itu, diapun memilih duduk di sebuah kursi kosong di samping tembok, sambil mencatat dan terus mengawasi keadaan sekitar.

Lavi juga membawa Allen untuk duduk di sebuah bangku panjang tak jauh dari Link sambil berbisik "Jadi bagaimana? Apa kalian menggunakan hadiah yang kuberi waktu itu? Apa Yuu-chan hebat diranjang?"

Pertanyaan itu spontan membuat wajah exorcist eropa merona, "A... Apa maksudmu Lavi..." jawabnya panik, tapi sang bookman junior tak menyerah dan terus menggodanya, "Ayolah, jangan pelit begitu... Ceritakan bagaimana bisa kau sampai harus masuk ruang perawatan? Memangnya kalian main berapa ronde?"

Allen pun panik, dia tak mau menjawab pertanyaan itu dan berusaha melepaskan diri dari rangkulan rekan berambut merahnya itu namun sulit, sungguh kehamilan yang semakin membesar ini membuat tenaganya berkurang banyak.

"Alleeen-nii chan!"

BRUK!

Tiba-tiba seorang bocah berambut biru memeluknya dari samping dan Allen tersentak kaget, tapi begitu sadar dia langsung memanfaatkan situasi untuk menghindari pertanyaan Lavi.

"Timothy! Kau terlihat sehat! Apa kau kerasan tinggal disini?"

"Iya! Disini makananya enak! dan aku dapat kamar sendiri yang luas!" jawab sang anak antusias, sambil masih memeluk pinggang Allen erat. Mereka berduapun langsung asyik mengobrol, sepertinya Lavi mulai lupa akan niatnya menggoda sang Moyashi dan ikut larut dalam pembicaraan dengan exorcist termuda itu. Hingga sebuah suara keras terdengar dari pintu aula,

"Dasar kau cerewet! Cepat lepaskan tanganmu!"

Diambang pintu, Lenalee tampak sedang menarik-narik lengan sang exorcist berdarah Jepang yang terlihat kesal untuk masuk kedalam ruangan. Spontan Lavi langsung melambaikan tangannya sambil berteriak, "Lena-chaan! Yuu-chaan! ayo sini duduk sini!"

"Ah! Kalian ada disana!" ujar sang gadis, dengan kuat menarik Kanda menuju ke bangku mereka seolah tak menyadari protes dan aura gelap yang menguar dibelakangnya. Sungguh wanita bertenaga super yang patut disegani.

SIIIING...

Bagai sinar laser Kanda memberikan deathglare pada semua orang di ruangan itu, membuat suasana yang tadinya ramai menjadi suram seketika. Timothy juga tampak ketakutan dan memilih untuk merapat, bersembunyi dibalik tubuh Allen yang tampak grogi melihat kedatangan Kanda. Berbeda dengan Lavi yang tampak antusias, langsung saja bangun dan ikut menarik sang samurai untuk duduk ditempatnya semula, tepat disamping Allen.

DUAKH!

Berkat pengorbanan sang exorcist berambut merah yang kini tergeletak dilantai dengan kepala benjol, akhirnya Kanda berhasil dijejerkan dengan sang exorcist eropa. Lenalee pun tersenyum dangan sangat puas, Timothy semakin gemetar ketakutan saat melihat tatapan membunuh yang kini ditujukan padanya. Sementara Allen terlihat gelisah dengan wajahnya yang memerah.

"Huwaaa, kakak samurai sangat menakutkan..." gumam Timothy pelan, namun bisa didengar oleh yang lainnya, Lenalee cuma terkikik geli

"Kanda... Tolong jangan memelototinya begitu," ujar Allen memohon.

"Cih..." geram sang samurai sambil memalingkan muka acuh, aura gelap jelas menguar dari tubuhnya, membuat suasana disekitar mereka menjadi muram.

"TES, TES, TES! Mohon perhatiannya semua!" suara pidato diatas panggung mengalihkan perhatian mereka.

Rupanya itu adalah Komui, dengan orasinya yang super lebai dia bisa mencairkan suasana suram kembali meraih dan ceria. Lenalee pun dengan cepat langsung membawa Timothy dan menyeret Lavi yang masih K.O untuk maju kepanggung, meninggalkan Allen dan Kanda duduk berduaan saja.

Sepeninggal rekan-rekannya Allen bertambah grogi, dia bingung harus bicara apa pada Kanda yang jelas-jelas terlihat marah. Ia pun memilih untuk sedikit menenangkan hati dengan menarik-narik tubuh Timcampy yang lentur seperti karet sambil menghela nafas panjang. Berpikir menyusun kata untuk memulai pembicaraan yang kiranya tidak menambah jelek mood sang pemuda asia.

Diluar dugaan Kanda malah bangkit dari duduknya dan beranjak pergi, spontan sang pemuda berambut putih langsung memanggilnya, "Kanda, kau mau kemana?"

Tapi pemuda berambut panjang tak menanggapi dan terus berjalan keluar aula meninggalkan kemeriahan pesta. Sambil memeluk Timcampy di dadanya Allen berniat untuk menyusul tetapi sebuah suara menghentikannya,

"Mau kemana kau Walker?" ujar Link sambil menatap tajam.

"Menyusul Kanda," jawabnya spontan.

"Sebenarnya aku tak peduli pada hubungan pribadimu dengan exorcist Kanda, tapi aku tak bisa membiarkanmu lewat dari pengawasanku terus-menerus, atau aku terpaksa melaporkannya pada pihak Central."

Mendengar itu membuat Allen tertunduk lesu dan kembali duduk dibangku, "Ukh... Aku mengerti," ujarnya sambil merutuki kecerobohan diri dalam hati, kenapa bisa lupa akan posisi Link yang merupakan utusan Central.

Memandang punggung lebar sang pemuda asia dengan mata kelabunya yang sendu, sungguh ia ingin bicara dengan Kanda. Meski begitu exorcist eropa tak mau mengambil resiko memasukkan nama Kanda didalam file laporan dirinya sebagai tersangka penghianatan terhadap Black Order, mau tak mau ia harus menahan diri untuk tidak bergegas menyusul sang samurai sekarang.

Namun sebersit ide muncul dikepala, saat melihat suster kepala masuk ke ruang aula. "Ah... Bolehkah aku mengobrol dengan suster kepala?"

Sang pengawaspun mengangguk, buru-buru ia bangkit sambil menyembunyikan sebuah seringai lebar dibibirnya.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, pesta sudah selesai beberapa jam yang lalu. Menyisakan kekacauan di ruang aula, beberapa orang terkapar dilantai tertidur karena mabuk, sementara mayoritas lainnya sudah pergi tidur dikamarnya masing-masing. Memanfaatkan situasi yang tengah sepi itu, sesosok bayangan putih menyelinap dengan pelan menyusuri lorong yang gelap.

"Fyuh... Sedikit lagi," gumam Allen sambil mengeratkan selimut putih yang ia gunakan untuk menutupi kepala dan tubuhnya, berjalan mengikuti panduan sang golem.

Rencananya untuk lolos dari sang pengawas dengan membuat Link tertidur pulas berhasil sempurna. Tadi dia sengaja bicara pada suster kepala tentang kesulitannya untuk tidur nyenyak dan langsung diberi beberapa ramuan herbal yang bisa membantu. Dengan cekatan ia bisa memasukkan ramuan itu kedalam minuman Link tanpa diketahui, meski efeknya lambat ternyata ramuan itu ampuh, kini ia bisa bebas menyelinap keluar.

Melewati tikungan terakhir, Timcampy membawanya ke sebuah pintu yang familiar. Mengambil nafas panjang, Allenpun mengangkat tangan untuk mengetuk pintu itu pelan.

TOK TOK TOK TOK TOK

Terdengar derit suara ranjang didalam, disusul geraman dan umpatan keras "Cih, sialan! dasar pengganggu tidur orang! Siapa itu!?"

"I... Ini aku..." jawab Allen pelan "Tolong buka pintunya,"

Tapi sampai beberapa detik kemudian tak terdengar jawaban lagi, tampaknya Kanda kembali mengacuhkannya. "Kanda... aku ingin bicara sebentar,"

"Tak ada yang perlu dibicarakan, sana pergi! Jangan membuatku terkena masalah lagi!"

Mata kelabu itu melebar, ternyata sang samurai memang sedang marah padanya, padahal Allen tak merasa telah berbuat salah, malahan kemarin ia sudah rela ditiduri oleh Kanda sampai pingsan kalau ada yang marah, seharusnya itu adalah dirinya.

BRAK BRAK BRAK!

Kali ini Allen menggedor dengan keras, dibantu oleh sang golem yang ikut menabrakan diri ke pintu. "Kenapa kau mengusirku!? Buka pintunya Kanda! Aku mau bicara!"

Tapi sang samurai tetap diam seribu bahasa, "Aku akan menunggu disini sampai kau keluar nanti!" teriak Allen tak putus asa, perlahan ia merosot kelantai dan berakhir duduk bersandar pada daun pintu.

Si pemuda berambut putih merasa bingung, karena biasanya Kanda akan marah-marah sambil mengumpat bahkan mengamuk, bukan memasang aksi diam seperti ini. Dibandingkan saat dimarahi, entah kenapa diabaikan oleh sang samurai seperti ini membuat hatinya sakit.

"Hiks... Ukh... Hiks..." perlahan air mata mulai turun membasahi pipi, "Ke...kenapa aku menangis sih..." gumamnya kesal sambil berusaha menghentikan tangisnya dengan menggosok kedua mata tapi percuma. Yang ada malah sekarang ia ingin berguling-guling dilantai sambil berteriak kesal seperti anak kecil, tapi tentu saja tak mungkin melakukan hal itu dengan kondisinya sekarang.

Timcampy yang merasa simpati terbang rendah disamping wajah sang tuan. Tapi hal itu malah membuat Allen merasa risih dan spontan mengibaskan tangannya,

PLUK! Kibasan tangannya tepat mengenai sang golem dan membuatnya terbanting ke lantai dengan cukup keras,

"Tim!" teriak Allen kaget dan langsung berusaha meraih bola bersayap emas kesayangannya itu, namun perut buncitnya membuat keseimbangan tubuh memburuk dan membuatnya nyaris jatuh tersungkur.

"Ukh... aduh..." erangnya pelan, sambil meringkuk menyamping dilantai. Timcampy berada erat dalam pelukannya dan beberapa saat kemudian tanpa tertahan lagi tangisannya pecah,

"Hu... Huwaaaawawa... Huaa!"

.

Yuu Kanda berniat untuk tidur lagi dan tak memperdulikan Allen yang menunggu didepan pintu kamarnya. Ia merasa sangat kesal dimarahi oleh suster kepala gara-gara sang exorcist eropa. Meski ia mengakui bahwa dirinya juga salah, namun yang menyebabkan semuanya adalah permintaan Allen untuk tidur dikamarnya dan itu membuatnya sangat kesal.

Tapi kembali tidur saat ini sangat sulit, karena meskipun pelan ia mendengar Allen mulai menangis, sungguh pemuda itu mulai membuatnya cemas. Apalagi saat tangisan itu terdengar makin keras, semua amarah dan niatnya yang teguh runtuh seketika. Melompat dari ranjang dengan langkah tergesa Kanda membuka pintu kamarnya lebar-lebar, matanya terbelalak lebar melihat kondisi Allen,

"Mo...Moyashi? Kau kenapa?" tanyanya cemas sambil mengangkat tubuh sang exorcist eropa dari lantai. Diluar dugaan Allen langsung memeluknya erat masih menangis keras, membuat Kanda tambah bingung,

"Hei, kau kenapa? Mana yang sakit? Aku akan mengantarmu ke ruang perawatan!"

Tapi Allen menggeleng dan malah mempererat pelukannya, "Ngga mau... Hiks, aku ngga sakit... Hiks, mau masuk kekamarmu... Huwaaa,"

"Cih, dasar Moyashi..." gumam sang samurai sambil membawa Allen masuk kekamar dan mendudukannya diranjang, Timcampy ikut masuk dan bertengger di tepian meja. "Sudah jangan menangis lagi, cengeng!"

"Hiks... A... Aku juga tidak... hiks ingin nangis... Ta... Tapi, Huwee... BaKanda... Hueee..," jawab sang exorcist eropa sesengukan, dia sendiri bingung karena perasaanya kini campur aduk.

"Che... baka Moyashi," ucap Kanda sambil berjalan untuk menutup pintu kamarnya dan mengambil handuk kecil yang tersampir di gantungan tembok.

SRET! SRET! SRET!

"Aduh!" Allen berteriak karena sang samurai dengan keras menggosok wajahnya menggunakan handuk, "Hidungku sakit Baka!" protesnya sambil menyingkirkan handuk kecil itu dari mukanya.

"Cih...setidaknya kau jadi berhenti nangis," ucap Kanda menyeringai, kali ini sambil menarik hidung sang pemuda eropa yang terlihat merah dengan jarinya.

"Aish! Jangaan!" kata Allen lagi, berusaha melepaskan tangan sang samurai, tapi berakhir dengan ia menggenggam jemari panjang Kanda erat. Dua manik mata yang berbeda warna itu beradu, mereka saling menatap dalam diam.

Perlahan wajah Kanda mulai mendekat, seolah tertarik oleh magnet yang terpancar dari bola mata berwarna kelabu. Tanpa sadar Allen sedikit membuka mulutnya dan mulai memejamkan mata, seolah bersiap menerima sebuah ciuman dibibir.

Sayangnya hal itu tak terjadi, karena pemuda berambut panjang tiba-tiba mundur dan memalingkan wajahnya. Bangkit berdiri sambil menyentakkan tangannya dari genggaman Allen.

Terkejut dengan reaksi yang diterima si exorcist eropa membelalakan mata, "Kanda... apa kau marah padaku?" tanyanya spontan dan lagi-lagi tak ada jawaban. Sang samurai malah memunggunginya sambil menyibukan diri melipat handuk kecil yang tadi jatuh, memasukannya ke dalam keranjang cucian.

Allen menggigit bibirnya bingung, tak mau terus dicueki begini. Perlahan ia mendekati sang exorcist asia lalu menyandarkan dahinya ke tengah punggung lebar itu sambil merengek, "Kanda... Jangan marah lagi, Hiks..."

Mendengar itu membuat Kanda menghela nafas panjang "Hah... Kau ini ya, benar-benar merepotkan... Sudahlah, aku tak marah lagi."

Allen langsung tersenyum lebar dan menarik kanda untuk menghadap ke arahnya, "Sungguh kau tak marah lagi?"

Sambil memijit pangkal hidungnya dia berkata, "Che berisik! Sudah kubilang aku tak marah lagi Moyashi! Sana pergi, kembali kekamarmu!"

Tapi Allen malah menggelengkan kepalanya, masih dengan senyum lebar "Tidak mau... Karena kau sudah tak marah, aku mau tidur disini ya!?"

Alis sang samurai mengerenyit tajam, wajahnya kembali masam, "Dasar Moyashi idiot! Dikasih hati minta jantung! Sana tidur dikamarmu sendiri!" bentaknya sambil berjalan melewati Allen dan duduk dikasur.

"Tapi, Kanda..." mata kelabu itu mulai berair lagi.

"Che, Kau tahu syaratnya kan?" kata sang samurai dingin, ia sengaja beralasan agar Allen mau pergi dengan suka rela.

"Eh!?..." sang pemuda eropa melongo bingung, tapi begitu ia paham akan maksud yang tersirat mukanya langsung merah padam, "I...iya, a...aku tahu tapi... Badanku, anu... bo... Uhm, pinggangku masih... sakit..."

Kanda menyeringai, "Che... Karena itulah, sana kembali tidur dikamarmu sendiri,"

Allen menggembungkan pipinya kesal, tapi ia tak bergeming, berpikir keras mencari suatu rencana. Tiba-tiba terbersit sebuah ide gila dikepalanya, tapi jika itu bisa membuat Kanda meluluskan permintaannya maka tak ada salahnya dicoba.

Sambil menggigit bibir, Allen berjalan kehadapan Kanda dengan muka merah dan berkata, "Ka... Karena tubuhku masih sakit, ba... bagaimana kalau kugunakan mu... Uhm... mulutku?"

Seketika mata sang pemuda asia terbelalak lebar dan mulutnya ternganga, satu kata yang meluncur dari bibirnya "Hah!?" meski dalam hati ia berteriak 'What the fuck? kemana Moyashi yang polos dan idiot itu pergi?'

Sebenarnya Allen nyaris tertawa melihat Kanda yang mematung dengan muka spechless, sungguh ia baru pertama melihatnya begitu. Tapi mengingat penawaran yang sudah dibuat, sungguh membuatnya ingin lompat kesebuah lubang yang dalam.

Beberapa detik berlalu dan Kanda masih terpaku, maka Allen pun memutuskan untuk mengambil tindakan. Perlahan ia bersimpuh dilantai dengan kedua tangan digunakan untuk bertumpu diatas lutut sang pemuda asia.

Kanda menelan ludahnya, sungguh ia tak menyangka bahwa Allen akan berbuat senekat ini. Sebenarnya ia bisa saja memaksa pemuda berambut putih itu keluar dari kamar, tapi setelah mendengar penawaran yang dilontarkan, ia tak yakin bisa kembali tidur nyenyak sebelum melemaskan organ yang kini sudah mengeras ditengah selangkangannya. Lagipula ia merasa penasaran akan tindakan yang akan Allen lakukan selanjutnya, maka pemuda berambut panjang itu memilih untuk diam.

Tangan Allen gemetaran saat mulai menarik karet pinggang celana tidur Kanda, apalagi saat ia melihat organ yang ternyata sudah setengah mengeras dibaliknya seketika nafasnya terdekat dan wajahnya merah padam. Mata kelabunya spontan tertutup, ia menunduk malu.

Melihat reaksi itu membuat kesadaran kembali ke otak Kanda dan dia menyeringai, "Apa kau yakin mau melakukannya Moyashi? Seperti kau tak pernah melihat milikku saja... Haah sudah kuduga kau memang pengecut," ujarnya memprovokasi, oh melihat Allen kebingungan sungguh menyenangkan baginya.

"Berisik! A...aku bukan pengecut!" jawab sipemilik rambut putih, sebelum ia menggigit bibirnya sendiri berusaha menahan rasa malu dan grogi yang dirasakannya.

Kanda meletakkan tangannya diatas kepala Allen untuk mengacak helaian berwarna perak itu lembut, kali ini keinginannya untuk menggoda muncul. "Jangan bilang kau tak tahu caranya... Aku sudah pernah melakukannya padamu kan? Atau mungkin otak Moyashimu itu terlalu idiot untuk mengingatnya?"

"Kau yang idiot BaKanda! Te... Tentu saja aku tahu caranya!" teriak Allen kesal, membuat sang samurai terkekeh, menikmati bagaimana ekspresi sang exorcist eropa, campuran antara malu, kesal dan bingung. Sebenarnya dia tahu, tiap kali bercinta Allen tak pernah memperhatikan gerak geriknya, bocah itu terlalu malu dan terlalu sibuk mendesah juga menggeliat tak karuan dibawahnya. Tapi membuat sang exorcist eropa kesal adalah hal yang sangat menarik untuk Kanda lakukan belakangan ini.

"Kalau begitu tunggu apa lagi?"

GLUPH!

Allen menelan ludahnya, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk memegang organ yang sudah teracung dihadapannya dan mulai mencoba untuk menjilatnya sedikit.

"Ukh!" Kanda berusaha untuk tak mendesah saat merasakan jilatan-jilatan kecil di ujung kejantanannya. Tapi Allen tiba-tiba menjauhkan kepalanya, wajahnya terlihat syok saat melihat milik Kanda mulai membesar. Namun ia kembali melanjutkan kegiatannya saat mendengar Kanda mulai mengeram dan menatapnya tajam.

"Ugh, Mmh..." gumam Kanda saat kembali merasakan jilatan basah dari lidah sang pemuda berambut putih, sungguh ia merasa tak sabar untuk merasakan kehangatan didalam rongga mulut Allen. Perlahan ia mengacak helaian rambut berwarna putih dihadapannya, membuat sang pemuda eropa mendongak untuk membekiran tatapan bingung, "Masukkan kedalam mulutmu Moyasshi..." gumamnya sambil menahan diri untuk tidak mendesah.

Perkataan itu sukses membuat wajah Allen tambah terbakar dan Kanda menyeringai lebar saat bibir mungil itu membuka lebih lebar untuk mengakomodasi organ intimnya kedalam kehangatan. Baru ujung kejantananya saja yang masuk dia sudah merasakan sensasi yang luar biasa nikmat, membuat sang pemuda asia memejamkan matanya erat dan tanpa sadar mendorong kepala Allen kebawah. Tapi sang pemuda eropa melawan, malah melepaskan kulumannya sambil menatap Kanda kesal dan mulai terbatuk-batuk matanya pun berair.

"Sial! Kenapa sih kau ini?"

"Uhuk... Dasar BaKanda! Kau nyaris membuatku tersedak tahu! Uhuk, Uhuk!"

"Che... Bukankah biasanya kau bisa dengan mudah menelan apapun tanpa mengunyahnya? Lalu kenapa kau kesulitan menelan milikku?"

Allen merengut kesal, "Dasar BaKanda mesum! Tentu saja aku tak bisa menelannya idiot! Ukurannya terlalu besar! dan kau malah menekan kepalaku, rasanya mau mati tau! Dasar tak punya perasaan."

Merasa tak ada artinya beradu argumen karena hasratnya sudah diujung tanduk Kandapun mengalah, dia menunduk sambil menangkup kedua pipi Allen di tangannya lalu mencium dalam. Terhanyut dalam permainan lidah itu, sang exorcist eropa terdiam dan terengah saat bibirnya dilepaskan, Kanda mencium dahinya dan mengusap pipinya lembut sambil berbisik "Che... nanti aku takkan menekan kepalamu lagi kok, jadi lanjutkan ya?"

Allen kembali menggigit bibirnya, namun akhirnya dia mengangguk, "Tapi... jauhkan tanganmu dari kepalaku ya..." gumamnya pelan.

"Iya... iya..." jawab sang samurai tersenyum simpul dan merasa sangat lega saat Allen dengan wajahnya yang merah padam kembali meraup ujung kejantanannya kedalam mulut, kemudian dengan gerakan lidahnya yang tak berpengalaman, menyusuri tiap jengkal dari organ panas itu mulai dari ujung hingga pangkal. Allen melakukannya secara perlahan sambil menutup mata erat, seolah-olah sedang berkonsentrasi penuh akan hal yang dilakukannya.

"Ukh... Hmmhh..." Kanda tak bisa menghentikan suara yang meluncur dari tenggorokannya, saat sang exorcist eropa berusaha menghisap keseluruhan organ itu kedalam mulut namun hanya muat separuh, sementara sisanya dipijit menggunakan tangan.

"Ngh, gerakan kepalamu Moyashi," perintah sang samurai dan perlahan Allen menurutinya, mulai menggerakan kepala naik-turun membuat nafas Kanda semakin memburu 'Mungkin lain kali aku harus mengajarinya melakukan blowjob yang benar,' batinnya.

Sebelah tangan Allen berpegangan pada celana Kanda dan gerakannya mulai bertambah cepat. Sang pemuda Asia sampai menggigit bagian dalam pipinya sendiri untuk menahan agar tidak segera klimaks, karena pemandangan yang dilihatnya sungguh menggoda. Kumpulan rambut putih yang berantakan bergerak naik turun diantara kedua kakinya dengan bibir memerah yang terbuka lebar, basah oleh liur dan cairan lainnya, wajah yang sembab serta mata kelabunya yang berair.

Tak sanggup menahan lagi, akhirnya Kanda menarik kepala Allen menjauh karena tak ingin membuatnya tersedak lagi. Semburan cairan putih mengenai tepat diwajah sang pemuda eropa yang teregah hebat, ternyata beberapa malah masuk ke mulutnya yang masih terbuka menimbulkan lelehan jalur putih disudut bibir yang membengkak. Sungguh pemandangan yang sulit dilupakan dan Kanda sangat menyukainya.

"Ughh... rasanya pahit dan asin..." Allen sambil menggosok-gosok bibirnya dengan punggung tangan, "Eww... wajahku basah semua..." protesnya lagi.

"Che... dasar Moyashi idiot,"

Kanda menciumnya lagi tepat dibibir, menghentikan usaha pemuda eropa itu untuk membersihkan wajahnya dan saat mereka terpisah lagi-lagi Allen dibuat lemas tak berdaya. "Tunggu disini," ujar Kanda sambil beranjak menuju kamar mandi.

Sesaat kemudian dia kembali membawa sebuah handuk basah dan mendapati Allen masih duduk dilantai, dengan kepala menyender ke pinggiran kasur, "Kenapa kau duduk disitu? Naiklah keatas ranjang Moyashi."

"Kakiku rasanya kesemutan BaKanda..." jawab Allen lemas, membuat sang samurai menggelengkan kepalanya pelan sambil mengangkat dan mendudukannya diatas ranjang.

"Mulai sekarang, aku boleh tidur dikamarmu ya?" tannya sang exorcist eropa saat Kanda membersihkan wajah dan rambut putihnya pelan.

"Hm..." jawabnya asal,

"Syukurlah... Tak percuma... rahang dan mulutku pe...gal, zzzz" kata Allen pelan, sambil menyandarkan kepalanya dipundak Kanda dan jatuh tertidur.

"Che... dasar baka Moyashi," gumam Kanda, tiba-tiba matanya menangkap bayangan berwarna emas disamping meja "Tuanmu ini sangat merepotkan Timcampy..." ujarnya pada sang golem yang menjawab dengan gerakan halus diekornya seolah mengiyakan pernyataan itu.

.

.

Dilain tempat, tepatnya diatas meja kerja sang superfisor yang berantakan, lampu merah dari sebuah mesin fax berkedip kedip, tak lama sebuah kertas keluar dari mesin itu dan jatuh diatas meja.

Namun ruangan yang kosong tersebut ditinggalkan dengan jendela yang terbuka, memuat angin malam masuk dan menerbangkan surat penting itu hingga jatuh kelantai. Sebuah surat yang akan membawa perubahan besar dalam hidup Allen dan Kanda.

~To be Continue~

And thanks for the reviewers :

Kirin-chaan : Waduh, maaf kalo lemonya kurang HOT, padahal udah ½ idup lho ngetiknya! Sepertinya perlu berguru dulu padamu deh hehehe... seperti dugaanmu Al-chan susah turun dari kasur! Yups begitulan BaKanda kalo ga suka langsung hajar aja, tapi dia berbuat sebaliknya ke Allen soo tahu perasaanya kan ehehe.

Gothiclolita89 : Wahaha di BO sayangnya ga ada KUA so gimana dong? Uhmm kenapa Kanda jadi perfy? Silahkan tannya orangnya langsung, tapi waspadalah pada tebasan mugen lho!

Oxygen : Yups, rencananya begitu semoga saya ga mati keabisen darah bikinadegan baby making yang HOT buat cerita ini. P.S : ada pesan dari Baby-chan lho katanya "aku sebenernya senang dikunjungi ayah, tapi seringnya mommy digoyang-goyang. Aku jadinya pusing, lalu apakah yang harus kulakukan?" hehehe

Devilluke ryu shin : Makasiiih buanyak buat saran-saran yang sangat membangun evi-san! Panggil aja saya Mido hehe. Wah calon bidan nih, semoga sukses ya! Untuk pose selanjutnya saya akan coba mengikuti rekomendasi, biar si baby aman! Uhm tentu saja saya akan buat BaKanda ngelonin Moyashi hihihi. Makasih banget lhoo dah baca and ripiu fic ini.

Moncell : Kanda bisa bilang maaf karena ga ada yang dengerin hehe, kalo didepan Allen yang sadar mana mau dia bilang begitu. Ditunggu transfer nyawanya lho! Hehehe

Setsuna sena : Uaah makasih ripiunya! Syukurlah kalo tokohnya ga OOC. Btw kapan setsuna-san nulis fic DGM lagi? Pengen baca lho hehe

MitsuKouFudo Arikuchi : Kalo lemonya bisa ditonton, sudah tak rekam and jual DVDnya! Pasti saya bisa kaya raya hahaha. Beberapa Chp. Lahi babyna lair kok sabar ya... Setelah ini mungkin cerita bakal melenceng dari Chp.200 dan seterusnya... thanks for review

Madness break : Baby-chan ga papa kok, tenang saja...Rencananya si pengen bikin adegan HOT yang banyak, semoga saya kuat bikinnya ya! Betul sekali Noah.14 sering muncul karena dia makin kuat! Penasaran? Stay tune terus yaa

Narin RinRin : Semoga chapter ini ga ketinggalan lagi yaa. Baby-chan sebentar lagi lahir lho (kurang lebih 5 ch lah) sabar yaa...

Dame dame no ko dame ku chan : salam kenal ku-chan! Thenks 4 review, welcome in DGM indo... mohon dukungannya terus yaa!

JungYunjaekim : Kyaaa...makasih banget lho! Udah mau mampir and ripiu, syukurlah kalo fic ini bisa bikin kepincut ama Yullen Pair, jadi terharu saya... mohon dukungannya terus yaa!

myang. Qarlina : Uaah, syukurlah kalo cocok ama lemonnya hehe... waduh, kalo masa ngidam kayaknya udah lewat deh, tapi penderitaan Kanda akan segera tiba ehehehe...thanks for review